6 HASIL DAN PEMBAHASAN
6.2 Analisis Kondisi dan Status Perikanan Tangkap Kabupaten
Untuk mengetahui kondisi dan status perikanan tangkap di Kabupaten Indramayu, dilakukan analisis terhadap enam dimensi keberlanjutan sumber daya, yaitu: ekologi, ekonomi, sosial, teknologi, etika, dan kelembagaan. Dengan menganalisa keenam dimensi tersebut maka didapatkan indeks keberlanjutan perikanan tangkap di Kabupaten Indramayu. Sebagaimana yang tersaji pada Tabel 1 Bab 2, keenam dimensi tersebut memiliki 60 atribut. Hasil pengkajian terhadap status perikanan tangkap berkelanjutan di Kabupaten Indramayu yang terdiri atas dimensi ekologi, ekonomi, sosial, teknologi, etika, dan kelembagaan diuraikan sebagai berikut:
6.2.1 Dimensi ekologi
Hasil analisis dengan menggunakan perangkat lunak RAPFISH menunjukkan bahwa indeks dimensi ekologi sebesar 25,07. Nilai indeks dimensi ekologi tersebut berada pada kisaran 25 - 50 (Gambar 13). Kondisi demikian menjelaskan bahwa berdasarkan krtiteria status keberkelanjutan, indeks dimensi ekologi di Kabupaten Indramayu berada pada kategori kurang berkelanjutan.
Masalah utama yang dihadapi perikanan tangkap pada umumnya adalah menurunnya hasil tangkapan, yang disebabkan oleh eksploitasi berlebihan (over fishing) terhadap sumber daya ikan dan degradasi kualitas fisik, kimia serta biologi lingkungan perairan. Dari segi dimensi ekologi menunjukkan kondisi sumber daya ikan di Kabupaten Indramayu dalam keadaan kurang berkelanjutan. Hal ini disebabkan tingkat pemanfaatan sumber daya ikan belum memperhatikan kelestarian sumber daya yang berdampak pada terjadinya peningkatan degradasi.
RAPFISH Ordination 25,07 DOWN UP BAD GOOD -60 -40 -20 0 20 40 60 0 20 40 60 80 100 120
Dimensi Ekologi Berkelanjutan
Other Distingishing Features
Real Fisheries References Anchors
Gambar 13 Hasil ordinasi RAPFISH: indeks ekologi Kabupaten Indramayu.
Dengan telah diketahuinya nilai indeks dimensi ekologi dari analisis menggunakan perangkat lunak RAPFISH mengenai kondisi dan status perikanan tangkap, selanjutnya dapat dilakukan analisis leverage (pengungkit). Kegunaannya adalah untuk mengetahui atribut yang sensitif terhadap indeks kondisi dan status perikanan tangkap. Perhitungan leverage ini didasarkan pada perbedaan standard error antara skor dengan atribut atau sebaliknya skor dengan tidak adanya atribut. Hasil analisis atribut pengungkit (leverage attributes) RAPFISH untuk dimensi ekologi ditunjukkan pada Gambar 14. Pada Gambar 15 ditunjukkan hasil analisis Monte Carlo untuk dimensi ekologi.
Leverage of Attributes 0,20 2,02 1,37 1,95 1,83 4,90 3,22 0,58 1,26 1,02 0 1 2 3 4 5 6 Status pemanfaatan Abrasi Perubahan ukuran ikan Jarak migrasi keragaman rekruitment Tekanan lahan mangrove Sedimentasi Kedewasaan ikan tertangkap Jumlah spesies Tekanan terumbu karang Attribute
Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100)
Gambar 14 Hasil analisis atribut pengungkit (Leverage Attributes) RAPFISH dimensi ekologi.
Pada Gambar 14 tersebut di atas menunjukkan bahwa indikator yang menjadi pengungkit utama (leverage attributes) dimensi ekologi, yaitu :
1) Tekanan terhadap lahan mangrove
Produk yang paling memiliki nilai ekonomis dari ekosistem mangrove adalah perikanan pantai. Banyak jenis ikan yang bernilai ekonomis tinggi menghabiskan sebagian siklus hidupnya pada daerah mangrove, kakap (Lates calcalifer), kepiting bakau (Scylla serrata) serta beberapa jenis ikan lainnya merupakan jenis ikan yang secara langsung bergantung kepada habitat mangrove. Ikan menjadikan areal mangrove sebagai tempat untuk pemijahan, habitat permanen atau tempat berkembang biak. Sebagai tempat pemijahan, areal mangrove berperan penting karena menyediakan tempat berlindung dari serangan predator.
Tekanan thd mangrove Sedimentasi
Seiring dengan terjadinya tekanan terhadap lahan mangrove, maka masyarakat nelayan merasakan telah terjadi penurunan produksi tangkapan sumber daya ikan di Kabupaten Indramayu. Hal ini disadari oleh para nelayan bahwa penurunan hasil tangkapan dipengaruhi oleh adanya deforestasi hutan mangrove di wilayah pesisir Kabupaten Indramayu.
Kabupaten Indramayu termasuk salah satu wilayah yang memiliki tingkat kerusakan hutan mangrove terparah di Jawa Barat. Tercatat dari 17.782 ha hutan mangrove, 50% diantaranya tergolong rusak berat dan sekitar 8.233 ha lahan yang tercakup dalam delapan kecamatan dikategorikan sebagai daerah kritis. Sebagai tinjauan kasus konversi hutan mangrove menjadi lahan tambak pada tahun 1997, lahan tambak Kabupaten Indramayu seluas 10.944 ha meningkat 9,10% dari tahun 1996, sedangkan pada tahun 1998 luas areal tambak meningkat 5,23% (604 ha). Tahun 2000 meningkat 11.55% (1.558,26 ha) dari tahun 1999 sebesar 11.939 ha. Daerah mangrove yang banyak dijadikan tambak terdapat di sekitar blok Karangkaji Desa Cangkring dan Cantigi (DKP dan PKSPL, 201). Berdasarkan kecenderungan perkembangan luas lahan tambak di wilayah Kabupaten Indramayu, diduga pada tahun 2005 luas lahan budidaya tambak di wilayah Kabupaten Indramayu akan bertambah menjadi 16.154,12 hektar (Satria, 2002).
Penyusutan hutan mangrove berdampak negatif pada ekosistem dan kenyataannya dampak tersebut sering dilupakan dalam pembangunan perikanan berkelanjutan. Fauzi (2001) mengungkapkan bahwa pemanfaatan sumber daya haruslah tidak melebihi daya dukung ekologis. Untuk itu dilakukan sedemikian rupa untuk tidak merusak keberadaan sumber daya yang ada.
Kawasan hutan mangrove yang ada di Kabupaten Indramayu merupakan habitat buatan, sehingga jenis mangrove yang ada di sana relatif terbatas, yaitu hanya mencakup jenis-jenis Rhizopora spp (Tabel 10). Jenis mangrove yang
ditemukan dengan kerapatan jenis tertinggi adalah bakau (Rhizophora macronata) dan api-api (Avecenia alba). Di Muara Sungai Cimanuk ditemukan jenis mangrove jeruju (Acanthus ilicifolius. L) yang tumbuh dominan di hutan mangrove rusak.
Tabel 10 Jenis mangrove yang tumbuh di Kabupaten Indramayu
No Nama Pulau Jumlah
Jenis Nama ilmiah
1 Pulau Biawak
(Pulau Rakit) 11
Rhizopora stylosa, Rhizopora Muncurota, Sonneratia alba, Brugueria exirtata, Avicennia marina, Ceseolaris tagal, Nipa spp, Achanthus spp, Ceriops spp, Aegicera dan Lumnitzera. 2 Pulau Gosong 2 Rhizopora stylosa, dan Avicennia marina
3
Pulau Rakit Utara
(P.Candikian)
4 Rhizopora stylosa, Sonneratia alba, Avicennia
marina, dan Ceseolaris tagal
4 Muara Sungai
Cimanuk 11
Rhizopora mucronata, Rhizopora conjugata, Rhizopora stylosa, Avicennia marina, Bruguiera parviflora, Bruguiera gymnorrhiza, Ceriops candoleana, Onchospermae filamentosa, Excoecaria agallocha, Ceras corniculatum, dan Sonnerataria alba
Sumber Data : Dinas Perikanan Provinsi Jawa Barat, 2004
2) Sedimentasi
Indikator dari dimensi ekologi yang menjadi faktor pengungkit utama kedua adalah sedimentasi yang tinggi di perairan Kabupaten Indramayu.
Penebangan hutan, perubahan tata guna lahan, dan praktek pertanian yang
buruk, semuanya menyebabkan peningkatan sedimentasi dan masuknya unsur hara ke daerah tangkapan air.
Sedimentasi dalam kolom air dapat sangat mempengaruhi pertumbuhan karang, atau bahkan menyebabkan kematian karang. Kandungan unsur hara yang tinggi dari aliran sungai dapat merangsang pertumbuhan alga yang
memanfaatkan energi matahari, tetapi juga menghambat kolonisasi larva karang dengan cara menumbuhi substrat yang merupakan tempat penempelan larva karang.
Selain itu, dampak yang ditimbulkan oleh sedimentasi di pesisir Kabupaten Indramayu adalah kesulitan nelayan dalam melabuhkan perahu/kapal. Misalnya yang terjadi di Pelabuhan Karangsong, nelayan yang biasa berlabuh di Pelabuhan Karangsong ini mengeluh karena terjadinya pendangkalan hebat di bagian muara sungai yang menjadi jalur utama keluar masuk kapal dan perahu nelayan. Pendangkalan yang diakibatkan menggunungnya pasir di bagian muara sungai, kapal dan perahu sulit berlabuh itu menjadikan para nelayan menderita kerugian ratusan juta rupiah. Hal ini terungkap dari pernyataan beberapa nelayan, dan salah satu diantaranya adalah Tholib, salah seorang nelayan setempat yang juga juragan kapal motor "Laju Suud" mengaku akibat kondisi tersebut dirinya menderita kerugian besar. Dalam sehari ia merugi antara Rp 5.000.000 - Rp 10.000.000. Hal ini dikarenakan, kapal motor miliknya yang berbobot di atas 15 GT, telah 15 hari lebih terdampar di Pelabuhan Karangsong (Pikiran Rakyat, 5 Juni 2006).
Dampak lain dari terjadinya pendangkalan di Muara Karangsong adalah sepinya Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Karangsong. TPI yang biasanya ramai oleh aktivitas pelelangan ikan, dalam dua pekan terakhir juga terlihat lengang karena tidak ada kapal atau perahu nelayan yang membongkar dan menjual ikan hasil tangkapan. Hal ini dibenarkan Tarika, Manajer TPI Karangsong KUD Mina Sumitra. Akibat terjadinya pendangkalan pasir di lokasi muara, menurut Tarika, aktivitas TPI terjadi penurunan begitu pula halnya dengan besar pendapatan, yakni pendapatan bulan sebelumnya yang mencapai Rp 7,9 miliar setelah muara mengalami pendangkalan, pendapatannya hanya berkisar Rp 4,7 miliar (Pikiran Rakyat, 5 Juni 2006).
Selain itu, di bagian utara Indramayu, sedimentasi telah menyebabkan lahan bermasalah sekitar 12.000 ha. Lahan tersebut setiap tahun terkena banjir dan kekeringan akibat dangkalnya sungai dan saluran pembuang. Oleh karena itu, gejala sedimentasi perlu mendapat perhatian, karena berdampak besar terhadap kehidupan sosial dan lingkungan. Proses-proses geologi yang sedang berlangsung di Kabupaten Indramayu dapat ditafsirkan dari peta geologi kuarter (Hanafi, M. 2005) yaitu :
(1) Proses pembentukan endapan dataran banjir yang menutupi sebagian besar wilayah bagian utara.
(2) Proses pendangkalan daratan ke arah laut, diperlihatkan oleh terjadinya endapan laut muda dan endapan dataran banjir di atas endapan laut, membentuk delta Sungai Cimanuk.
(3) Proses abrasi di daerah pantai Eretan, yang diperlihatkan oleh bentuk garis pantai dan endapan yang relatif tua, yang tidak tertutupi endapan dataran banjir.
RAPFISH Ordination (Median with Error Bars showing 95%Confidence of Median) -60 -40 -20 0 20 40 60 0 20 40 60 80 100 120 Fisheries Sustainability
Other Distingishing Features
RAPFISH Ordination - Monte Carlo Scatter Plot
-60 -40 -20 0 20 40 60 0 20 40 60 80 100 120 Fisheries Sustainability
Other Distingishing Features
Gambar 15 Hasil analisis grafik scatter simulasi Monte Carlo RAPFIS H dimensi ekologi.
Other Disting
uishing Features
6.2.2 Dimensi ekonomi
Di kawasan Asia Tenggara, tujuan sosial dan ekonomi seringkali bertentangan dalam pengelolaan penangkapan ikan perairan pantai. Di negara dimana pemerintahnya menekankan tujuan-tujuan ekonomi, kebijakan ditujukan untuk menjamin persediaan ikan yang memadai dengan harga yang dapat dijangkau oleh para konsumen lokal, guna meningkatkan pendapatan valuta asing dari produk-produk perikanan seperti udang, dan untuk meningkatkan efisiensi ekonomi (tingkat keuntungan) dalam sektor perikanan (Bailey 1988).
Pengelolaan dimensi ekonomi dapat mengalokasikan sumber daya ikan dengan daya dukung ekonomi secara efisien yaitu bagaimana pemanfaatan sumber daya ikan dapat meningkatkan keuntungan dalam ukuran uang dan meningkatkan pendapatan nelayan secara merata dengan tetap mempertahankan pertumbuhan ekonomi serta produktivitas sumber daya secara terus menerus.
Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pendapatan nelayan antara lain dengan meningkatkan produksi hasil tangkapan melalui penggunaan unit penangkapan yang produktif dan efisien sesuai dengan kondisi wilayah setempat dan tidak merusak kelestarian sumber daya ikan. Pengelolaan perikanan tangkap diarahkan untuk peningkatan kesejahteraan nelayan, meningkatkan ekonomi masyarakat, menciptakan lapangan pekerjaan dan penerimaan pendapatan asli daerah dari sektor perikanan dan kelautan.
Peningkatan pendapatan nelayan merupakan dampak program kerja yang sangat berarti dari kegiatan pembangunan yang dilaksanakan. Pendapatan nelayan dapat meningkat melalui optimasi produktivitas usaha dan adanya daya serap produksi yang memadai secara berkelanjutan. Oleh karena itu fungsi pengaturan, pelayanan dan pembinaan secara komprehensif merupakan bagian terpenting untuk memfasilitasi tercapainya peningkatan pendapatan.
Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan perangkat lunak RAPFISH menunjukkan bahwa indeks dimensi ekonomi sebesar 39,72. Nilai indeks dimensi ekonomi ini berada pada kisaran 25 - 50 (Gambar 16). Kondisi demikian menjelaskan bahwa berdasarkan penilaian status pembangunan berkelanjutan, indeks dimensi ekonomi di Kabupaten Indramayu berada pada kategori kurang berkelanjutan.
Gambar 16 Hasil ordinasi RAPFISH: indeks dimensi ekonomi Kabupaten Indramayu.
Dengan telah diketahuinya nilai indeks dimensi ekonomi dari analisis RAPFISH, selanjutnya dapat dilakukan analisis leverage (pengungkit). Hasil analisis atribut pengungkit (leverage attributes) RAPFISH untuk dimensi ekonomi ditunjukkan pada Gambar 17. Pada Gambar 18 ditunjukkan hasil analisis Monte Carlo untuk dimensi Ekonomi.
RAPFISH Ordination 39,72 DOWN UP BAD GOOD -60 -40 -20 0 20 40 60 0 20 40 60 80 100 120
Dimensi Ekonomi Berkelanjutan
Other Distingishing Features
Real Fisheries References Anchors
Leverage of Attributes 1,13 2,73 4,01 2,98 2,37 4,58 1,29 0,95 2,67 0,30 0 1 2 3 4 5 6 Keuntungan GDP/orang (1000s) Kontribusi PAD Transfer keuntungan Besarnya pasar Besarnya subsidi Sarana ekonomi Penghasilan thd UMR Pendapapatan di luar tangkap Tekanan kerja Attribute
Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100)
Gambar 17 Hasil analisis atribut pengungkit RAPFISH dimensi ekonomi.
Pada Gambar 17 tersebut di atas menunjukkan bahwa indikator yang menjadi pengungkit utama (leverage attributes) dimensi ekonomi, yaitu:
1) Besarnya subsidi
Nelayan di Kabupaten Indramayu dapat dikelompokan menjadi tiga, yaitu (1) kelompok nelayan tetap, yaitu nelayan setempat yang seluruh waktunya digunakan untuk melakukan pekerjaan operasi penangkapan; (2) nelayan sambilan, yaitu nelayan setempat yang sebagian waktunya digunakan untuk melakukan operasi penangkapan ikan; dan (3) nelayan pendatang, yaitu nelayan dari daerah lain yang ikut melakukan operasi penangkapan di daerah tersebut.
Besarnya Subsidi
Kontribusi PAD
Penyerapan TK
Nelayan ini dikenal pula dengan nelayan musiman yang berpindah-pindah daerah penangkapannya. Sedangkan berdasarkan kepemilikan modal usaha penangkapan, maka nelayan Kabupaten Indramayu digolongkan menjadi dua, yaitu: nelayan pemilik dan nelayan buruh. Nelayan pemilik adalah nelayan yang memiliki usaha penangkapan ikan atau sering disebut sebagai juragan, sedangkan nelayan buruh yaitu nelayan yang bekerja di kapal dan diberi upah oleh nelayan pemilik atau sering juga disebut sebagai anak buah kapal (ABK).
Nelayan di Kabupaten Indramayu mengalami perkembangan setiap tahunnya. Hal ini dapat menggambarkan bahwa sektor perikanan dan kelautan dapat digunakan sebagai penghasil bagi nelayan. Nelayan sambilan dan nelayan pendatang pada tahun tertentu mengalami penurunan karena beberapa nelayan harus memilih pekerjaan. Beberapa diantaranya menjadi juragan yang hanya sesekali pergi melaut, mengurus tambak dan lain sebagainya. Adapun nelayan pendatang di daerah Indramayu untuk melakukan operasi penangkapan tergantung pada musim ikan yang terjadi di daerah tersebut (DKP Indramayu, 2003).
Nelayan di Kabupaten Indramayu dalam pengembangan usahanya senantiasa dihadapkan pada permasalahan-permasalahan. Fauzi (2005) mengungkapkan bahwa paling tidak terdapat dua faktor umum yang menjadi sandungan dalam pengembangan perikanan di luar konteks sumberdaya alam itu sendiri. Pertama adalah faktor struktural berupa hambatan kelembagaan bagi nelayan untuk melakukan mobilitas vertikal. Hal ini terlihat dari kelembagaan pemasaran maupun kelembagaan usaha produksi yang kurang kondusif bagi nelayan untuk berkembang. Kedua adalah faktor teknis yang terkait dengan lemahnya permodalan yang menyebabkan rendahnya produktivitas dan pendapatan nelayan. Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah telah mengeluarkan beberapa kebijakan yang bersifat pemberian bantuan kredit
(subsidi), seperti kredit investasi kecil/kredit modal kerja permanen (KIK/KMKP) yang merupakan kredit jangka menengah dan jangka panjang untuk keperluan rehabilitasi, modernisasi dan perluasan proyek. Kebijakan yang sekarang dilakukan oleh pemerintah adalah pemberdayaan eknomi masyarakat pesisir (PEMP). Pada awalnya program PEMP ini diinisiasi untuk memberdayakan masyarakat pesisir sekaligus mengatasi dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) terhadap perekonomian masyarakat pesisir, yang difokuskan pada penguatan modal melalui perguliran dana ekonomi produktif.
Secara umum, pemberian subsidi telah menyebabkan terjadinya over capacity di bidang perikanan. Fauzi (2005) mengungkapkan bahwa subsidi yang diberikan pada perikanan yang nota bene merupakan sumber daya yang bersifat
common property, justru hanya akan menimbulkan economic waste. Hal ini dikarenakan, dalam jangka pendek kredit di bidang perikanan memang dapat membantu industri perikanan tersebut untuk mencapai akselerasi dalam produktivitas. Termasuk juga kredit yang terjadi pada perikanan di Indonesia, seperti halnya program motorisasi perikanan dan kredit KIK/KMKP. Dampak jangka pendek dari kredit tersebut terlihat dari pesatnya pertumbuhan perikanan dan meningkatnya produksi perikanan secara aggregat. Namun demikian, dalam jangka panjang hal ini harus dicermati karena sifat sumberdaya ikan yang sangat khas, justru dikhawatirkan malah akan meningkatkan kapasitas perikanan yang berakibat pada penurunan manfaat ekonomi dan timbulnya over eksploitasi yang berlebihan. Hal ini sudah terlihat di perikanan yang padat seperti halnya perikanan pantai utara Jawa, termasuk didalamnya adalah Indramayu, dimana produktivitas nelayan terlihat mengalami tren yang menurun dan berkurangnya sumber daya ikan (trip yang makin lama dan daerah penangkapan yang makin jauh).
2) Pendapatan asli daerah
Pasca dikeluarkannya Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang kemudian digantikan oleh Undang-Undang No. 32 Tahun 2004, Pemerintah Daerah, termasuk Pemerintah Daerah Kabupaten Indramayu “menggenjot” sumber-sumber pendapatan yang berbasiskan sumber daya seperti sumber daya pesisir dan laut untuk membangun daerahnya. Apabila fokus peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) melalui sumber daya pesisir dan laut ini tidak diiringi dengan konsep pengelolaan (konservasi) yang jelas, dikhawatirkan akan menimbulkan kerusakan lingkungan yang berujung pada
over fishing dan kemiskinan masyarakat nelayan.
Dalam Pasal 18 Undang-Undang No. 32 Tahun 2004, Pemerintah Daerah (Provinsi dan Kabupaten) memiliki wewenang ekonomi kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut paling jauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan untuk provinsi dan 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi untuk Kabupaten/kota. Adapun kewenangan daerah untuk mengelola sumber daya di wilayah laut tersebut meliputi: (1) eksplorasi, eksploitasi, konservasi, dan pengelolaan kekayaan laut, (2) pengaturan administratif, (3) pengaturan tata ruang, (4) penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh daerah atau yang dilimpahkan kewenangannya oleh pemerintah, (5) ikut serta dalam pemeliharaan keamanan dan (6) ikut serta dalam pertahanan kedaulatan negara.
Dengan dikeluarkannya Undang-Undang Pemerintah Daerah, maka ada beberapa implikasi terhadap eksploitasi sumber daya pesisir dan laut, khususnya dalam hal perwilayahan daerah penangkapan ikan, yaitu pemerintah daerah harus dengan lebih pasti mengetahui potensi perikanan serta batas-batas wilayahnya sebagai dasar untuk menentukan jenis dan tipe kegiatan perikanan yang sesuai di daerahnya. Apabila tidak, maka dikhawatirkan terjadi kerusakan
sumber daya yang berujung pada pemiskinan masyarakat setempat, khususnya masyarakat nelayan.
Kekhawatiran tersebut di atas nampaknya terjadi di Kabupaten Indramayu, sejak tahun 1999, angka perkembangan alat tangkap meningkat secara signifikan. Hal ini mencerminkan bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Indramayu lebih mementingkan tingkat produksi, sementara potensi sumber daya ikannya jauh di bawah angka tangkapan faktual. Dengan demikian, fokus peningkatan PAD hanya akan mendorong perikanan di Kabupaten Indramayu ke arah tidak berkelanjutan.
RAPFISH Ordination (Median with Error Bars showing 95%Confidence of Median) -60 -40 -20 0 20 40 60 0 20 40 60 80 100 120 Fisheries Sustainability
Other Distingishing Features
RAPFISH Ordination - Monte Carlo Scatter Plot
-60 -40 -20 0 20 40 60 0 20 40 60 80 100 120 Fisheries Sustainability
Other Distingishing Features
Gambar 18 Hasil analisis grafik scatter simulasi Monte Carlo RAPFISH dimensi ekonomi.
Other Distinguishing Features
6.2.3 Dimensi Sosial
Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan perangkat lunak RAPFISH menunjukkan bahwa indeks dimensi sosial sebesar 43,10. Nilai indeks ini berada pada kisaran 25 - 50 (Gambar 19). Kondisi demikian menjelaskan bahwa berdasarkan penilaian status keberlanjutan, indeks dimensi sosial di Kabupaten Indramayu berada pada kategori kurang berkelanjutan.
RAPFISH Ordination 43,10 DOWN UP BAD GOOD -60 -40 -20 0 20 40 60 0 20 40 60 80 100 120
Dimensi Sosial Berkelanjutan
Other Distingishing Features
Real Fisheries References Anchors
Gambar 19 Hasil ordinasi RAPFISH: indeks dimensi sosial Kabupaten Indramayu.
Dengan telah diketahuinya nilai indeks dimensi sosial, selanjutnya dapat dilakukan analisis leverage (pengungkit). Hasil analisis atribut pengungkit (leverage attributes) RAPFISH untuk dimensi sosial ditunjukkan pada Gambar 20. Sedangkan Pada Gambar 21 ditunjukkan hasil analisis Monte Carlo untuk dimensi sosial.
Leverage of Attributes 0,52 0,77 0,36 2,54 4,23 3,50 1,58 0,40 0,07 0,29 0 1 2 3 4 5 6 Sosialisasi thd isu perikanan Jumlah TK pemanfaat Pertumbuhan TK Pengetahuan Tingkat pendidikan Frekuensi konflik Partisipasi keluarga Peran masyarakat Waktu perbaikan Waktu Attribute
Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100)
Gambar 20 Hasil analisis atribut pengungkit RAPFISH dimensi sosial.
Pada Gambar 20 tersebut di atas menunjukkan bahwa indikator yang menjadi pengungkit utama (leverage attributes) dimensi sosial, yaitu:
1) Tingkat pendidikan
Sebagaimana yang terjadi pada masyarakat nelayan lainnya, rendahnya tingkat pendidikan ini menyebabkan rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat nelayan dalam bidang pengelolaan sumber daya ikan yang berkelanjutan. Hal ini dicerminkan dengan fenomena kerusakan lingkungan pesisir dan laut Kabupaten Indramayu tidak hanya disebabkan oleh aktivitas industrialisasi dan aktivitas Pertamina Balongan, akan tetapi juga disebabkan oleh penduduk miskin yang
Tingkat Pendidikan Frekuensi Konflik
Waktu untuk pekerjaan
Upaya perbaikan ekosistem dari Pemda
Pengetahuan thd lingkungan
Jumlah RT pekerja pemanfaat SDI
rendah pendidikan, yang karena terpaksa harus melakukan eksploitasi sumber daya yang secara ekologis rentan atau dengan cara-cara yang tidak ramah lingkungan seperti penggunaan bahan peledak (dinamit) dan racun sianida untuk menangkap ikan. Penggunaan racun sianida umumnya dilakukan oleh nelayan yang menangkap ikan hias.
2) Frekuensi konflik
Dalam dunia perikanan, khususnya kegiatan penangkapan ikan, konflik merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan nelayan. Konflik sosial antar nelayan telah terjadi sejak tahun 1970-an, misalnya konflik antara nelayan skala kecil (tradisional) dengan nelayan skala besar (modern) yang menggunakan alat tangkap pukat harimau atau yang lebih dikenal dengan istilah ‘trawl”. Akibat maraknya konflik yang disebabkan oleh penggunaan alat tangkap
trawl ini, maka pada tahun 1980, Presiden Republik Indonesia mengeluarkan Keputusan Presiden (Kepres) No. 38 Tahun 1980 tentang Penghapusan Trawl. Dengan demikian, konflik sosial antar nelayan sering disebabkan oleh perebutan sumberdaya ikan yang jumlahnya terbatas. Perebutan ini muncul karena karakteristik sumberdaya ikan yang bersifat terbuka (open acces).
Secara anatomis, sebenarnya konflik dalam masyarakat pesisir, khususnya nelayan, dapat dikategorikan ke dalam berbagai macam berdasarkan faktor-faktor penyebabnya. Kinseng (2006) membagi konflik sosial dikalangan nelayan menjadi tiga tipe, yaitu:
(1) Konflik kelas, adalah konflik yang terjadi antar kelas seperti antara buruh (anak buah kapal/ABK) dengan pemilik (majikan) dan antara nelayan kecil/tradisional dengan nelayan besar/modern.
(2) Konflik identitas, adalah konflik yang terjadi antar kelompok nelayan berbasis identitas seperti daerah asal dan etnis.
(3) Konflik alat tangkap, adalah konflik yang terjadi antar kelompok nelayan yang berbasis alat tangkap yang berbeda.
Berdasarkan pembagian tipe konflik nelayan di atas, ketiga jenis konflik tersebut di atas terjadi di Kabupaten Indramayu. Konflik yang umumnya terjadi adalah konflik antara nelayan kecil dengan nelayan besar di jalur tangkapan 1 (jalur satu) yang diperuntukan bagi nelayan kecil. Sedangkan konflik identitas,