BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
E. Analisis Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Permukiman
Kecamatan Mariso termasuk dalam kawasan pusat kota, adalah kawasan yang tumbuh sebagai pusat kota dengan percampuran berbagai kegiatan, memiliki fungsi strategis dalam peruntukannya sepertikegiatan pemerintahan, sosial, ekonomi, dan budaya serta kegiatan pelayanan kota. Secara wilayah, Kawasan Pusat Kota berada pada bagian tengah barat dan selatan kota mencakup wilayah Kecamatan Wajo, Bontoala, Ujung Pandang, Mariso, Makassar, Ujung Tanah, dan Tamalate. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada peta berikut:
E. Analisis Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Permukiman Kumuh
pendidikan 60% responden hanya lulus SMP (Sekolah Menengah Pertama), 20% lulus SD (Sekolah Dasar), 10% lulus SMA (Sekolah Menengah Atas) dan sisanya 10% tidak sekolah. Tingkat pendapatan atau penghasilan responden, sebanyak 80% dibawah Rp. 2.500.000,-per bulan. Sedangkan untuk jenis pekerjaan, mayoritas responden atau sebesar 70% bekerja sebagai buruh (buruh bangunan, buruh pelabuhan), 20% responden bekerja sebagai tukang becak dan bentor, 10% bekerja sebagai sopir pete-pete (sopir angkutan kota) Kondisi diatas menunjukan bahwa Permukiman Kumuh Lette masih mempunyai persoalan sosial dan ekonomi.
Berdasarkan hasil wawancara diatas maka analisis deskripsi terhadap persoalan sosial ekonomi di Permukiman Kumuh Lette adalah :
1. Meskipun mayoritas penduduknya adalah pendatang (kaum migran kota) yang hanya lulusan SD, SMP dan SMA akan tetapi semua responden memiliki pekerjaan yaitu sebagai buruh, tukang becak, bentor dan sopir pete-pete, artinya mereka adalah orang-orang memiliki pekerjaan (produktif).
2. Secara ekonomi mereka mampu untuk bertahan hidup karena punya penghasilan, meskipun hanya dibawah Rp.
2.500.000,/bulan.
3. Akan tetapi kenyataan belum adanya azas keadilan dalam memiliki rumah dan lingkungan (hunian) yang memenuhi standar layak huni.
Hal ini menunjukan bahwa pendapat para ahli tentang faktor demografi yang berhubungan dengan sosiologi masyarakat perkotaan adalah benar adanya. Dimana diwilayah perkotaan, dampak migrasi merupakan masalah pokok yang harus dihadapi, oleh karena akibat-akibatnya seperti urbanisasi atau pemusatan penduduk di dalam kota dianggap sebagai suatu cara hidup individu, serta interaksi antara individu. Lahirnya corak hidup kaum urban dimana sifat individualis yang ekstrim, penuh perhitungan dan sifat bersaing, mementingkan penampilan luar, menekankan hal-hal yang bersifat pribadi, sifat acuh tak acuh dan sifat agresifitas warga kota, sangat menonjol.
Pertentangan-pertentangan disekitar konsumsi kolektif, perampasan tanah kota atau pengusiran-pengusiran penghuni-penghuni liar, konflik budaya dan lain sebagainya. Benturan-benturan inilah yang menyebabkan penduduk pendatang merasa asing dan frustrasi disamping mereka harus terus mempertahankan hidup, dilain pihak mereka merasa tidak mampu menghadapi persaingan yang keras untuk hidup di perkotaan. Penduduk kota yang semakin membengkak ini sudah barang tentu akan menyebabkan timbulnya berbagai kerawanan sosial di perkotaan. Terjadinya benturan dari kebiasaan
lama ke kebiasaan baru yang pada akhirnya menimbulkan krisis identitas yang merupakan manifestasi dari ketiadaan norma (anomie), yakni kesenjangan antara ditinggalkannya norma tradisional yang mereka hayati sewaktu tinggal di desa dengan diterimanya norma baru di kota.
Hal ini sesuai dengan pendapat Nasikun (1980) keadaan ini akan memudahkan para migran melakukan perbuatan yang melanggar norma (perilaku menyimpang) ataupun terjerumus ke dalam tindakan-tindakan kejahatan.
Menurut Hans-dieter Evers, bahwa sifat nyata dari keterbelakangan kota pun terlihat. Meskipun prasarana di kota telah ditingkatkan dan pendapatan umumnya sudah bertambah, namun angka-angka statistik pemerintah beserta data survey jelas menunjukkan jurang antara golongan kaya dan miskin telah melebar selama 15 tahun terakhir. Tampak ada penduduk inti yang relatif stabil didalam kelompok masyarakat yang pendapatannya lebih tinggi dan yang berukuran lebih kurang dari kalangan penduduk yang berpendapatan rendah. Inti ini dikelilingi oleh massa apung dari orang-orang yang sangat mobile sifatnya. Mereka boleh jadi adalah para pendatang musiman yang terus menerus berpindah-pindah diberbagai daerah permukiman.
Hubungan lain antar migrasi dan perilaku menyimpang juga terlihat dari kenyataan bahwa ketidakmampuan atau kegagalan para pendatang untuk menampilkan role performance dalam hubungan-hubungan sosial seringkali mendorong dipilihnya cara-cara menyimpang dalam berbagai bentuknya (Mulyana W. Kusumah, 1990).
Persoalan ini sesuai dengan teori sosiologi yang dikemukakan oleh Merton bedasarkan teori anomie Durkheim, anomie akan muncul dalam situasi dimana orang menyadari bahwa mereka tidak dapat mencapai aspirasi dan tujuan budaya yang dominan melalui cara yang sah. Individu mungkin menyadari misalnya saja, bahwa betapapun ia bekerja keras, ia tidak dapat mencapai tingkat kekayaan materi yang diharapkan. Dalam keadaan yang demikian ini, perilaku menyimpang mungkin akan timbul. Jadi kewajiban moral untuk mencapai keberhasilan menimbulkan desakan untuk berhasil, baik melalui cara yang layak maupun cara yang melanggar (Robert K. Merton, 1957).
Dikatakan pula oleh Kuncaraningrat (1992) bahwa nilai-nilai sosial budaya berfungsi sebagai pedoman dan pendorong perilaku manusia di dalam hidupnya. Jika terjadi ketidakseimbangan antara nilai-nilai sosial budaya dengan kaidah-kaidah, atau terjadi ketidakselarasan antara aspirasi-aspirasi dengan saluran untuk mencapai tujuan tersebut, maka hal inilah yang merupakan
gejala-gejal kriminalitas. Sebab setelah itu akan terjadi kelakukan-kelakuan menyimpang (deviant behaviour).
Disamping itu pula pada umumnya para pendatang baru itu adalah orang-orang yang tidak mampu dalam segi ekonomi (ekonomi lemah). Jika pada daerah yang baru (kota) mereka tidak cukup mempunyai bekal keterampilan dan kesanggupan untuk berjuang dalam berbagai kekerasan, persaingan hidup, maka kesukaran-kesukaran di dalam mencukupi kebutuhan hidupnya tidak bisa diatasi, sehingga dapat menimbulkan perilaku menyimpang dan bahkan kejahatan. Hal ini sesuai pendapat Bruce Smith, (dalam Zuryawan, 2008) bahwa kebanyakan kejahatan atau perilaku menyimpang itu berasal/banyak terjadi akibat migrasi atau urbanisasi dan tergantung pula pada daerah dimana terjadi pemusatan penduduk, disebabkan tidak dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat atau dengan pemikiran kota.
Masalah permukiman kumuh selalu menarik perhatian, karena dimensi kemanusiaan yang terkait padanya. Pemukiman ini sering diidentikkan dengan perkampungan orang miskin. Menurut Reksodiputro (1990), sekurang-kurangnya citra ini harus dinetralisir
bilamana kita ingin melakukan penelitian secara obyektif. Citra umum tetap yang sering dijumpai adalah bahwa mereka hidup dalam keadaan yang tidak terorganisasi (disorganized). Tidak mengenal
waktu atau jadwal tetap, tidak hemat dan tidak bisa menunda kepuasan. Mereka sering pula digambarkan sebagai cepat frustrasi, agresif dan mempunyai nilai dan norma yang berbeda dengan yang dimiliki budaya umum yang dominan. Gambaran yang kurang benar ini karena kita sebagai “orang luar” sering menilai mereka dengan tolok ukur yang cukup baik. Malah sering pula dikatakan adanya budaya kemiskinan (culture of poverty) yang diidap pemukim kumuh ini yang seolah-oleh mencengkeram penghuninya dan tidak akan dapat melepaskan diri kecuali dengan cara keluar dari daerah itu.
Dalam situasi tanpa uang dan penghasilan, bagi pendatang baru di kota atau pun dalam keadaan berpenghasilan rendah, mereka terpaksa menggunakan permukiman itu sebagai tempat tinggal.
Dalam permukiman itu mereka menemukan rasa aman karena berkumpul dengan sanak keluarga atau orang sekampung atau setidak-tidaknya dengan mereka yang senasib terlantar di perkotaan.
Permukiman inilah yang hanya terjangkau kemampuan keuangan mereka. Ada kecenderungan selama arus urbanisasi masih berlangsung dan selama orang masih menganggap daerah perkotaan tempat untuk memperbaiki nasibnya, maka selama itu pula permukiman kumuh di perkotaan dianggap sebagai pilihan tempat tinggal yang paling tepat bagi pendatang pada umumnya. Cara hidup demikian itu merupakan jalan keluar terbaik untuk mengurangi beban
bagi para penghuni pemukiman kumuh yang pada umumnya berpenghasilan rendah dan tidak tetap.
Dalam setiap usaha atau perjuangannya dalam rangka memperoleh penghidupan yang lebih baik, terutama bagi keluarga dan anak-anaknya. Mereka senantiasa didorong oleh pemikiran dan sikap tindak (perilaku) yang relatif keras dan spekulatif. Disamping oleh karena mobilitas horizontal penduduk pemukim yang cukup tinggi dan tidak adanya waktu kerja yang teratur dalam mencari nafkah, maka nampak intensitas hubungan sosial dan perencanaan masa depan mereka terbatas dan tidak pasti adanya dalam suasasana yang penuh ketidakpastian (pekerjaan dan penghasilan), maka ada kecenderungan mereka lebih mengutamakan usaha pemenuhan kebutuhan waktu sekarang yang senantiasa mendesak. Jika mengalami kegagalan, pada umumnya mereka lebih cepat frustrasi, yang kemudian dapat mendorong mereka untuk melakukan penyimpangan-penyimpangan baik berupa pelanggaran nilai-nilai dan norma-norma hukum, maupun melakukan tindak kejahatan. Dalam menjawab tantangan hidup semacam ini para penghuni permukiman kumuh pada umumnya selalu dalam keadaan resah, penuh kecurigaan terhadap lingkungan sosial dan aparat pemerintah setempat.
Masalah yang terjadi akibat adanya permukiman kumuh ini, khususnya dikota-kota besar diantaranya wajah perkotaan menjadi memburuk dan kotor. Disisi lain bahwa kehidupan penghuninya terus merosot baik kesehatannya, maupun sosial kehidupan mereka yang terus terhimpit jauh dibawah garis kemiskinan (Sri Soewasti Susanto, 1974)
Menurut Merton, keadaan yang menghawatirkan pada masyarakat modern terjadi oleh karena warga-warga masyarakat ingin mencapai kemajuan dan keberhasilan yang menyertainya, akan tetapi untuk mencapai hal itu dengan cara yang benar bukanlah hal yang penting, dengan kata lain masyarakat ingin mencapai keberhasilan dengan berbagai macam cara walaupun dengan cara yang tidak sah (Soerjono Soekanto, 1984).
Secara umum, anomie dapat diartikan sebagai suatu keadaan sosial dalam mana keterikatan pada aturan-aturan normatif sangat lemah. Merton dalam pembentukan teori anomie mengemukakan anomie sebagai suatu keadaan dari struktur sosial dimana terdapat beberapa ketidak serasian antara nilai-nilai yang diakui secara budaya dalam cara-cara yang diakui untuk pencapaian nilai-nilai ini. Anomie terjadi dimana penekanan yang berlebihan diletakkan pada suatu pilihan dengan mengorbankan yang lain : penekanan pada pencapaian nilai-nilai budaya mungkin akan menyebabkan orang
mengambil cara apapun baik sah ataupun tidak. Pencapaian pada tujuan-tujuan ekonomi, misalnya, mungkin akan cenderung menyebabkan sedikitnya perhatian pada sah atau tidaknya cara-cara yang dipergunakan. Bagi beberapa kelompok sosial, dalam mencapai nilai tertentu seperti keberhasilan mungkin akan dipergunakan cara-cara yang kurang diterima secara-cara budaya dibanding pada kelompo-kelompok lainnya (Berry, 1995).
Marsall B. Clinard dalam Sociology of Deviant Behavior
berpendapat, anomie adalah salah satu pandangan sosiologi yang dikaitkan dengan kekacauan yang menjelaskan berbagai bentuk penyimpangan seperti kriminal, alkoholism, pemakaian obat-obatan, bunuh diri dan penyakit mental. Teori anomie menyebutkan bahwa penyimpangan hasil dari ketegangan struktur sosial tertentu yang menempatkan penekanan pada individu-individu.
Pandangan tersebut dikembangkan oleh Robert K. Merton pada tahun 1930-an, anomie adalah nama dari kondisi sosial dimana suatu tujuan untuk mencapai sesuatu (materi) ditekankan lebih banyak pada cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut, dimana konsekuensinya beberapa orang dipaksa untuk mencapai tujuan tersebut dengan cara yang tidak sah. Dalam menjelaskan perilaku menyimpang teori anomie mendasarkan pada fakta bahwa tingkat penyimpangan tertinggi adalah disebabkan karena kemiskinan dan
terjadi pada masyarakat kelas bawah, hal ini disebabkan karena kesempatan untuk mencapai keberhasilan materi terbatas hanya pada sejumlah kecil masyarakat yang mempunyai kesempatan untuk meraihnya (Clinard, 1989).
F. Upaya Penanganan Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Permukiman Kumuh Di Kelurahan Lette.
Pemerintah daerah setempat-dalam hal ini Kelurahan Lette, dapat melakukan kegiatan penyuluhan dengan bekerjasama dengan instansi terkait dengan materi yang berhubungan dengan konsep praktis tentang penyelesaian masalah utama yang dihadapi penduduk kawasan kumuh (kaum migran), khususnya tentang pemerataan atau pemulangan penduduk, peningkatan pengetahuan dan kesadaran hukum. Pendekatan yang dipakai untuk mengatasi persoalan sosial ekonomi di masyarakat permukiman kumuh adalah pendekatan sosial ekonomi (sosio ekonomi approach), tujuannya agar lebih fokus dan menyentuh kesadaran masyarakat serta tidak menimbulkan konflik sosial. Ada tiga (3) point penting yang menjadi konsen peneliti dalam menangani persoalan sosial ekonomi di permukiman kumuh Lette, yaitu :
1. Dalam mengangani dan meningkatkan kesadaran masyarakat di Kawasan Kumuh, dalam hal menjaga kebersihan dan ketertiban
persuasif dari pemerintah Kelurahan Lette. Oleh karena itu, dalam setiap langkah campur tangan mengatasi segala persoalan yang menyangkut pelanggaran disiplin lingkungan dan ketertiban umum bagi warga permukiman kumuh, baru dapat dilakukan dengan cara membimbing dan menegurnya secara kekeluargaan. Dengan demikian diharapkan dapat menumbuhkan partisipasi dan motivasi masyarakat dalam menyerap dan mematuhi berbagai imbauan tokoh masyarakat setempat, terutama dalam upaya menciptakan ketertiban, keamanan dan ketentraman masyarakat.
2. Mengenai upaya rehabilitasi oleh pihak pemerintah terhadap peningkatan dan pemanfaatan sumberdaya masyarakat, dapat dilakukan dengan pelatihan keterampilan, penyaluran tenaga kerja secara resmi atau penampungan terhadap warga-warga tuna karya. Upaya ini perlu disertai penyediaan modal kerja yang memadai, bidang kerja yang sesuai dengan minat dan bidang keahlian mereka itu, dan pemasaran produksi yang mendukung.
3. Upaya di bidang penanggulangan permukiman kumuh, dengan cara yang lebih manusiawi dan mempertimbangkan jalan keluar terbaik dan memihak kepada kepentingan kaum migran.
Penganggulangan tidak dilakukan secara brutal dengan menggusur tanpa pemberitahuan dan batas waktu yang cukup. Perlakuan dan pemberian sanksi keras, seperti denda yang berlebihan, penyitaan
terhadap harta benda, atau pemberian ganti rugi yang menekan harus dihindari.
BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI/SARAN
A. Kesimpulan.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan tentang Analisis Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Di Permukiman Kumuh Kota Makassar (Studi Kasus : Kelurahan Lette) maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Kondisi Sosial Ekonomi Kawasan Kumuh Lette, sering diidentikkan dengan perkampungan orang miskin, karena tingkat pendapatan yang rendah, tingkat pendidikan yang juga rendah, jenis pekerjaan yang serabutan seperti buruh, tukang becak, tukang bentor dan sopir pete-pete. Mayoritas penduduk adalah pendatang (kaum migran) dari sekitar Kota Makassar seperti Jeneponto, Takalar dan Sinjai.
Selain itu rumah yang mereka huni tidak bersertifikat tanah atau illegal. Karena tingkat pendidikan yang rendah, maka pengetahuan mereka pun terbatas akan perilaku yang baik, mereka sering berperilaku menyimpang (anomie) seperti tindakan kriminal, mabuk-mabukan, dll.
2. Ada tiga (3) point penting yang menjadi konsen dalam menangani persoalan sosial ekonomi di Permukiman Kumuh Lette, yaitu
a. Meningkatkan kesadaran masyarakat di kawasan kumuh, dalam hal menjaga kebersihan dan ketertiban umum.
b. Upaya rehabilitasi oleh pihak pemerintah terhadap peningkatan dan pemanfaatan sumberdaya masyarakat, dapat dilakukan dengan pelatihan keterampilan, penyaluran tenaga kerja secara resmi atau penampungan terhadap warga-warga tuna karya disertai penyediaan modal.
c. Upaya di bidang penanggulangan permukiman kumuh, dengan cara yang lebih manusiawi dan mempertimbangkan jalan keluar terbaik dan memihak kepada kepentingan kaum migran
B. Saran.
Dari kesimpulan di atas, maka sebagai saran atau rekomendasi dalam penelitian ini, diharapkan :
1. Pemerintah Kota Makassar, sudah semestinya memperhatikan nasib masyarakat di permukiman kumuh kota, dimana Program Penanganan Kawasan Kumuh, sudah tidak lagi terfokus pada persoalan fisik semata, akan tetapi persoalah sosial ekonomi masyarakatnya yang harus diperhatikan.
2. Bagi peneliti selanjutnya yang ingin meneliti dengan topik yang sama, diharapkan agar lebih mengeksplore kasus yang berbeda.
DAFTAR PUSTAKA
Berry, David. 1983. Pokok-pokok Pikiran dalam Sosiologi (Penyunting Paulus Wirutomo). Rajawali : Jakarta.
Brotosunaryo, 2009. NVRP (Studi Kasus Kondominum/Apartemen di Kota Jakarta Pusat). Disertasi Tidak Diterbitkan, Program Doktor Arsitektur dan Perkotaan, Fakultas Teknik Universitas diponegoro : Semarang.
Budihardjo, E. 1998. Sejumlah Masalah Pemukiman Kota. Edisi Ketiga, Alumni : Bandung.
Badan Pusat Statistik (BPS). Kota Makassar Dalam Angka Tahun 2016.
BPS : Makassar.
Badan Pusat Statistik (BPS). Kecamatan Mariso Dalam Angka Tahun 2016. BPS : Makassar.
Clinard, Marshal B. 1968. Slums and Community Development. The Free Press, New York, Collier-Mac Millan : London.
Evers, Hans-Dieter. 1995. Sosiologi Perkotaan. LP3ES : Jakarta.
Handoko, Riwidikdo. (2013). Belajar Muda Teknis Analisis Data Dengan SPSS. Yogyakarta : Rohima Press.
Kuntjaraningrat, 1984. Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan.
Gramedia : Jakarta.
Kusumah, Mulyana W. 1980. Kriminologi dan Masalah Kejahatan. Armico : Bandung.
Lee, Everett S. 1984. Suatu Teori Migrasi, terjemahan. Lembaga Kependudukan UGM : Yogyakarta.
Mangalam, J.J. 1968. Human Migration : a Guide to Migration Literature in English. Lexington : University of Kentucky.
Merton, Robert K. 1957. Social Theory and Social Structure, The Free Press : New York.
Nasikun. 1980. Urbanisasi Berlebih, Involusi Perkotaan dan Radikalisme Politik di Negara-negara Berkembang. Prisma 8 (6), LP3ES : Jakarta.
Reksodiputro, Marjono, 1990. Masalah Kejahatan di Daerah Perkotaan.
PAU-IIS : Jakarta.
Sanduan, V. 2016. Analisis Efektifitas Pembangunan Rusunawa Mariso Sebagai Alternatif Penanganan Permukiman Kumuh (Studi Kasus ; Kelurahan Lette, Kecamatan Mariso, Kota Makassar). Universitas Bosowa : Makassar.
Soekanto, Soerjono. 1983. Teori Sosiologi tentang Perubahan Sosial.
Ghalia Indonesia : Jakarta.
Soemadi. 1990. Kebijaksanaan Pembangunan Pemukiman di Perkotaan dan Peremajaan Pemukiman Kumuh. Kantor Menteri Perumahan Rakyat, Jakarta.
Sugiono, 2012. Memahami Penelitian kualitatif. Kualitatif & R&D.Bandung : Alfabeta
Susanto, Sri Soewasti. 1974. Sanitasi Lingkungan di Kota-kota Besar.
Prisma 5, 1974, LP3ES : Jakarta.
Young, Elspreth. 1984. Pengantar Kependudukan. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta.
Zoebir, Zuryawan, I. 2008. Perilaku Menyimpang Masyarakat Migran Pemukiman Kumuh Di Perkotaan, Studi Kasus : DKI Jakarta. Jurnal (diterbitkan). Universitas Indonesia:Depok.
PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN
Responden yang saya hormati, Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : Hendra Hardiyanto Suhardi
NIM : 45 013 042 024
Alamat : Perumahan BTP, Kelurahan Tamalarea.
Adalah mahasiswa Sarjana Strata Satu (S1) Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Bosowa Makassar akan melakukan penelitian tentang “Analisis Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Permukiman Kumuh Kota Makassar (Stud Kasus : Kelurahan Lette)”.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kondisi sosial ekonomi masyarakat di permukiman kumuh Lette dan bagaimana upaya (solusi) penanganan dari aspek sosial ekonomi.
Oleh karena itu, saya memohon kesediaan Ibu/bapak untuk menjadi responden serta menjawab pertanyaan-pertanyaan pada lembar angket yang telah saya sediakan. Jawaban Ibu/bapak akan saya jaga kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian.
Atas bantuan dan kerjasama yang telah diberikan, saya mengucapkan terima kasih.
Makassar, Oktober 2017 Peneliti,
Hendra Hardiyanto Suhardi
ANGKET PENELITIAN
ANALISIS KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DI PERMUKIMAN KUMUH KOTA MAKASSAR
(STUDI KASUS : KELURAHAN LETTE)
Data Responden
Nama :
Umur :
Jenis Kelamin : Pendidikan Terakhir :
Pekerjaan :
Jawablah beberapa pertanyaan dibawah ini,
1. Dari daerah manakah asal saudara/i?dan mengapa ke Makassar?
...
2. Berapa Penghasilan Saudara Tiap Bulan?
...
3. Sudah berapa lama anda tinggal disini (Lette)?
...
4. Apakah sering terjadi tindakan kejahatan (kriminal) disini?kriminal seperti apa?...
5. Dimana anda sering membuang sampah ?...
Terima Kasih Atas Partisipasinya Dalam Mengisi Angket Ini.
LAMPIRAN DOKUMENTASI KONDISI PERMUKIMAN KUMUH LETTE
GAMBAR : KONDISI FISIK LINGKUNGAN PERMUKIMAN KUMUH