• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Analisis Kualitas Air

Pertumbuhan panjang talus dan penambahan berat ganggang merah Gracilaria verrucosa tidak hanya dipengaruhi oleh pemberian padatan bioflok saja tetapi, juga dipengaruhi oleh kualitas air sebagai salah satu media pertumbuhan ganggang merah Gracilaria verrucosa (Alamsyah, 2016). Sebagai data penunjang, maka dilakukan pengamatan dan pengukuran beberapa parameter kualitas air yang meliputi salinitas, suhu, derajat keasaman dan oksigen terlarut.

Tabel 4.2. Hasil Monitoring Uji Kualitas Air Selama 3 Minggu.

Parameter Satuan Padatan Perlakuan

Optimal

Salah satu parameter kualitas air yang mempengaruhi pertumbuhan ganggang merah adalah suhu. Suhu air yang diperoleh selama penelitian berkisar

16 28 – 31 oC. Menurut Sahabuddin dan Tangko (2008) suhu mempengaruhi aktivitas metabolisme dan perkembangan suatu organisme. Secara prinsip suhu yang tinggi dapat menyebabkan protein mengalami denaturasi, serta dapat merusak enzim dan membran sel yang bersifat labil terhadap suhu yang tinggi.

Pada suhu rendah protein dan lemak membran dapat mengalami kerusakan sebagai akibat terbentuknya kristal di dalam sel. Menurut Mubarak dan Wahyuni (2010), temperatur merupakan faktor sekuder bagi kehidupan rumput laut dan fluktuasi yang tinggi akan dapat terhidar dengan adanya water mixing.

Menurut Arpriya (2006) rumput laut akan dapat tumbuh dengan subur pada daerah yang sesuai dengan temperatur di laut. Suhu air berpengaruh terhadap fungsi fisiologi pada organisme perairan, karena suhu yang ekstrim dapat menyebabkan kematian, sedangkan suhu yang optimal dapat mempengaruhi proses fotosintesis dan respirasi, serta pertumbuhan dan pembiaka (Rahayu dan Sutisna, 2001). Setiap pertumbuhan Gracilaria membutuhkan suhu yang berbeda untuk pertumbuhannya. Perubahan suhu yang nyata bagi Gracilaria dapat menghambat pertumbuhan baik berupa perubahan morfologi maupun fisiologinya bahkan dapat mematikannya (Sahabuddin, 2008)

Menurut Anggadiredja dkk. (2006) suhu optimum untuk pertumbuhan Gracilaria berkisar antara 20 - 28 oC, sedangkan menurut Amalia, (2013) suhu yang optimal untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan ganggang merah adalah kisaran 22 - 27 oC. Berdasarkan penelitian Mustafa dkk. (2008) suhu air 25 - 30 ºC merupakan kisaran suhu yang baik untuk budidaya ganggang merah Gracilaria. Meskipun demikian, suhu pada penelitian ini mencapai 34 oC tetapi masih dapat ditoleransi dan masih menunjang pertumbuhan ganggang merah.

Derajat keasaman (pH) merupakan faktor lingkungan kimia air laut yang turut menentukan baik buruknya pertumbuhan ganggang merah. Nilai pH selama penelitian berkisar antara 6 - 8. Menurut Anggadiredja dkk. (2006) pH optimun untuk pertumbuhan Gracilaria berkisar antara 6 - 9. Hal ini didukung oleh penelitian Alamnsyah (2016) bahwa umumnya pH yang cocok untuk pertumbuhan Gracilaria verrucosa berkisar antara 6,2 – 8,2 sedangkan pH optimal adalah 6 – 8. Apabila pH berada di bawah kisaran angka tersebut, maka laju pertumbuhan ganggang merah Gracilaria akan menurun (Badruddin dkk.,

17 2014). Menurut Zatnika (2009) hampir seluruh alga mempunyai kisaran daya penyesuaian terhadap pH antara 6 - 9. Apabila perairan berada pada kondisi sangat asam dan basa dapat mengganggu pertumbuhan organisme karena terjadinya gangguan pada metabolisme dan proses respirasinya (Papalia dan Hairati, 2013). Salinitas yang diperoleh selama penelitian 29 - 31 ppt.

Menurut Anggadiredja dkk. (2006) salinitas optimum untuk pertumbuhan Gracilaria berkisar antara 15 - 30 ppt. Menurut Chol (2010), parameter kualitas air yang sangat berperan terhadap pertumbuhan, pembentukan talus dan perkembangan morfogenetik ganggang laut adalah salinitas, karena terkait langsung dengan osmoregulasi yang terjadi di dalam sel. Kepekatan yang berbeda antara cairan di dalam dan di luar sel, mendorong badan golgi untuk terus berusaha menyeimbangkan hingga menjadi isotonis. Hal tersebut berdampak pada pemanfaatan energi yang lebih besar sihingga berpengaruh terhadap rendahnya pertumbuhan dan perkembangan ganggang laut laut (Xiong dan Zhu, 2002).

Hal ini diperkuat oleh Alamsyah (2016) salinitas yang berkisar antara 18 – 30 ppt merupakan angka salinitas yang baik untuk budidaya ganggang merah Gracilaria dimana kadar garam optimal adalah 20 – 25 ppt. Sementara, menurut Widyorini (2010) kemampuan adaptasi ganggang merah jenis Glacilaria verrucosa terhadap salinitas berkisar antara 15 - 35 ppt.

Nitrat dan fosfat merupakan unsur hara yang berperan dalam proses metabolisme pada ganggang merah. Nitrat dan fosfat ini dalam bentuk ion yang dapat meningkatkan aktivitas tanaman (Anton, 2017). Metabolisme dan sebagai unsur pendukung pertumbuhan hidup organisme (Alamsyah, 2016). Menurut Wahyuni dkk. (2012), pertumbuhan ganggang merah dipengaruhi oleh padatan nitrat. Kandungan nitrat dalam media pemeliharaan berasal dari proses nitrifikasi nitrit menjadi nitrat oleh bakteri nitrifikasi (Stickney, 2005).

Selama penelitian didapatkan hasil bahwa pada perlakuan dengan padatan bioflok 10 mL/L menunjukkan angka nitrat yang baik pada minggu 1 untuk minggu ke 2 dan minggu ke 3 mengalami penurunan. Penurunan jumlah nitrat ini diduga karena nitrat digunakan oleh tanaman untuk proses fotosintesis (Alamsyah, 2016). Kandungan nitrat di laut sangat penting dalam menunjang keutuhan ekosistem perairan. Hal itu terjadi karena nitrat merupakan unsur yang digunakan

18 dalam proses fotosintesis (Steven, 2011). Kadar nitrat yang banyak dalam suatu perairan dapat dikatan bagus atau subur karena dengan nitrat maka fitoplankton akan banyak disuatu perairan sehingga akan terjadi proses fotosintesis dimana O2

yang sangat dibutuhkan bagi orgnisme lain (Steven, 2011). Nitrat sebagai unsur hara utama Nitrogen dalam betuk NO3- digunakan sebagai substansi atau komponen dinding sel yang dibutuhkan dalam jumlah yang banyak. Oleh karena itu nitrat sebagai senyawa-senyawa nitrogen anorganik utama dalam air laut terdapat sebagai ion nitrat NO3 nitrit dan amonia (NH3).

Sementara itu, jika jumlah nitrat mengalami peningkatan, hal ini disebabkan oleh adanya peningkatan pembusukan sisa tanaman atau hewan (Kangkan, 2006). Menurut Kangkan (2006) kisaran nitrat yang layak untuk organisme yang dibudidayakan sekitar 0,2525 - 0,6645 mg/L, sedangkan menurut Hernanto dkk. (2015), kadar nitrat untuk ganggang merah berkisar 0,9 - 3,5 ppm.

Namun, angka nitrat pada penelitian selalu berada di atas kisaran standar. Hal tersebut menunjukkan bahwa media air pada penelitian mengalami eutrofikasi yang berpengaruh negatif terhadap ganggang merah yang dibudidaya, yaitu meningkatnya organisme penempel.

Bentuk lain dari fosfor adalah fosfat yang dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan. Fosfat merupakan unsur yang esensial bagi tumbuhan dan alga karena berpengaruh pada saat produktivitas ganggang merah (Armita, 2011). Energi yang dibebaskan dari hidrosis pirofosfat dan berbagai ikatan fosfat organik digunakan untuk mengendalikan berbagai reaksi kimia (Nonggle, 2001).

Kandungan fosfor dalam sel alga mempengaruhi laju serapan fosfor, yaitu berkurang sejalan dengan meningkatnya kandungan fosfat dalam sel. Berbagai jenis alga mampu menyerap fosfat pada konsentrasi yang sangat rendah serta mempunyai enzim alkalin. Dapat dikatakan bahwa kekurangan fosfat akan lebih kritis bagi tanaman akuatik termasuk tanaman alga, dibandingkan dengan bila kekurangan nitrat di perairan.

Dilain pihak fosfor walaupun ketersediannya dalam perairan sering melimpah dalam bentuk berbagai senyawa fosfat namun hanya dalam bentuk ortofosfat (PO42-) yang dapat dimanfaatkan langsung oleh tanaman (Fritz, 2002).

Penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil perbandingan jumlah fosfat

19 selama 3 minggu pada 3 perlakuan, kandungan fosfat yang memiliki angka baik yaitu pada perlakuan padatan 10 mL/L pada minggu ke 1, pada minggu ke 2 yaitu perlakuan 5 ml/L dan pada minggu ke 3 yaitu perlakuan 15 ml/L. Hal ini karena, nilai fosfat pada perlakuan selama 3 minggu, selalu berada pada angka yang menunjukkan media pertumbuhan dalam keadaan subur tingkat tinggi. Menurut Mustafa dkk, (2010) padatan fosfat pada perairan alami berkisar antara 0,005 - 0,020 mg/L. sedangkan pada air tanah biasanya berkisar 0,02 mg/L.

Menurut Simanjuntak (2006) perairan yang subur kisaran zat hara fosfat normal yaitu 0,10 - 1,68 ppm. Mustafa dkk. (2010) perairan diklasifikasikan menjadi tiga yaitu jumlah fosfat perairan kesuburan rendah memiliki padatan fosfat berkisar antara 0-0,02 mg/L, perairan kesuburan sedang memiliki padatan fosfat 0,021 - 0,05 mg/L dan perairan kesuburan tinggi, memiliki padatan fosfat 0,051 - 0,10 mg/L. Pada penelitian angka fosfat selalu berada pada kisaran yang baik untuk pertumbuhan ganggang merah yang dibudidaya.

Dokumen terkait