3 BAHAN DAN METODE
3.3 Komunitas Mangrove
3.11.1 Analisis Kualitas Perairan
Untuk menentukan kondisi kualitas perairan di setiap lokasi pengamatan digunakan cara skoring indeks kualitas lingkungan (IKL) yang dimodifikasi dari indeks kualitas air mengacu kepada Ramakrishnaiah et al. (2009). IKL merupakan perhitungan yang digunakan dalam upaya meringkas dan menyederhanakan data parameter kualitas lingkungan sehingga dapat memberikan informasi yang berguna tentang kondisi lingkungan. Hasil pengukuran parameter fisika-kimia dan biologi yang diperoleh dibandingkan dengan standar kondisi lingkungan optimum, sedangkan kondisi ideal kerapatan vegetasi berdasarkan Kriteria Baku dan Pedoman Penentuan Kerusakan Mangrove (KepMen LH 2004a).
Tahapan analisis data untuk menentukan indeks kualitas lingkungan dengan cara skoring yaitu data hasil pengukuran parameter kualitas air di lokasi pengamatan ditentukan nilai rataan minimum dan maksimum yang tercatat selama penelitian dan dibandingkan dengan parameter optimum (KepMen LH 2004b).
1. Skor yang didapatkan dikalikan dengan bobot skor yang ditentukan berdasarkan parameter yang diuji.
2. Untuk menghitung IKL dengan mengikuti beberapa tahap yaitu:
a. Seluruh parameter lingkungan (fisika, kimia dan biologi) diberikan bobot nilai berdasarkan tingkatan kepentingan terhadap habitat ikan belanak. b. Tahap selanjutnya, bobot relatif dihitung mengikuti persamaan berikut:
………(9)
Dimana:
Wi = Bobot relatif
wi = bobot masing-masing parameter ∑wi = jumlah bobot seluruh parameter
c. Pada tahap tiga, skala penilaian kualitas (qi) terhadap seluruh parameter dibandingkan dengan standar kualitas optimum mengikuti persamaan berikut:
………(10)
Dimana:
qi = skala kualitas Ci = nilai parameter
Si = standar nilai parameter optimum
Untuk menghitung IKL, perlu menentukan subindek masing-masing parameter terlebih dahulu mengikuti persamaan berikut:
………(11)
………(12)
Dimana:
SIi = Subindeks
3. Indeks kualitas lingkungan yang diperoleh, kemudian dibandingkan dengan skala indeks kualitas lingkungan (Ramakrishnaiah et al. 2009). Klasifikasi indeks kualitas lingkungan tersaji pada Tabel 2.
Tabel 2 Klasifikasi Indeks Kualitas Lingkungan
Nilai IKL Kualitas Habitat
< 50 Sangat baik
50 - 100 Baik
100 - 200 Kurang baik
200 - 300 Buruk
>300 Sangat buruk
3.11.2 Analisis Kerapatan Vegetasi Mangrove
Untuk analisis data kerapatan vegetasi mangrove digunakan rumus :
K = N/A………(13)
di mana:
K = adalah kerapatan vegetasi mangrove (ind./ha) N = Jumlah total individu
A = Satuan unit area yang diukur (ha)
3.11.3 Produksi serasah
Untuk mengetahui rata-rata produksi serasah digunakan rumus : n
X =
∑ x
i………(14)Dimana : Xi = rata-rata produksi serasah pada setiap transek (gram/bulan) Xj = bobot serasah plot ke-i pada selang waktu tertentu (gram)
3.11.4 Laju dekomposisi serasah
Laju dekomposisi serasah dinyatakan sebagai kehilangan bobot serasah selama masa dekomposisi dan dihitung dengan rumus Anderson dan Ingram (1993) dengan persamaan berikut :
W(ty) = W (to) –W(tx) .. . . ………(15) Dimana
W(ty) = bobot serasah yang hilang setelah waktu pengamatan (gram) W(to) = merupakan bobot serasah awal sebelum dekomposisi (10 gram) W(tx) = bobot serasah yang tinggal dari lamanya waktu pengamatan (gram). 3.11.5 Analisis Kelimpahan Fitoplankton
Cacahan fitoplankton dilakukan melalui fraksi sebuah Sedwick-Rafter Counting Cell dan dinyatakan dalam sel.l-1. Fitoplankton diamati di bawah mikroskop, kemudian dapat ditentukan jenis-jenis yang ditemukan dengan menggunakan bantuan buku identifikasi (Wickstead 1965). Data yang diperoleh dianalisa menggunakan rumus (APHA 1980).
Vc x Vs Va x ns N ………(16) Dimana :
N = Kelimpahan fitoplankton (sel.l-1)
ns = Jumlah fitoplankton pada Sedwick Rafter Counting Cell. (sel/individu)
Va = Volume air terkonsentrasi dalam botol contoh (ml) Vs = Volume dalam Sedgewick-Rafter Counting (ml) Vc = Volume air yang tersaring oleh jaring plankton (l)
3.11.5 Analisis Proksimat
Untuk mengetahui komposisi susunan kimia dan kegunaannya suatu bahan pakan dilakukan analisis kimia yang disebut analisis proksimat. Analisis Proksimat merupakan suatu metode analisis kimia untuk mengidentifikasikan kandungan zat makanan dari suatu bahan pakan atau pangan. Analisis proksimat menggolongkan komponen yang ada pada bahan berdasarkan komposisi kimia dan fungsinya (SNI 01-2891 1992), diacu dalam Musfiroh et al. (2007).
Nilai dari komponen tersebut, selanjutnya dikalikan dengan equivalensi energinya yaitu menggunakan sistem Atwater, untuk protein sebesar 5.65 kcal/gram, karbohidrat 4.2 kcal/gram, dan lemak sebesar 9.4 kcal/gram (Sediatama 1987).
Kadar Lemak Total
Pengukuran kadar lemak total dilakukan dengan metode Soxhétasi. Sampel ditimbang sebanyak 2 gram lalu dimasukkan ke dalam kertas saring yang dialasi kapas. Kertas saring yang berisi sampel disumbat dengan kapas, lalu dikeringkan dalam oven pada suhu 80 °C selama kurang lebih 1 jam dan dimasukkan ke dalam alat Sokhlet yang telah dihubungkan dengan labu lemak berisi batu didih yang telah dikeringkan dan telah diketahui bobotnya. Setelah itu, diekstrak dengan pelarut petroleum eter selama lebih kurang 6 jam.
Petroleum eter disulingkan dan ekstrak lemak, selanjutnya dikeringkan dalám oven pada suhu 105 °C. Setelah didinginkan kemudian ditimbang untuk mengetahui bobotnya. Perhitungan kadar lemak dilakukan dengan membandingkan berat lemak dan berat sampel dikali 100.
Kadar Protein Total (Kjeldahl)
Pengukuran kadar abu total dilakukan dengan metode Kjehdahl. Sampel yang telah dihaluskan ditimbang 200-500 mg lalu dimasukkan ke dalam labu
Kjeldahl. Ditambahkan 10 ml asam sulfat pekat padat dan 5 gram katalis (campuran K2SO4 dan CuSO4.5H20 8 : 1) lalu dilakukan destruksi (dalam lemari
asam) hingga cairan berwarna hijau jernih. Setelah dingin larutan tersebut diencerkan dengan aquadest hingga 100 ml dalam labu ukur. Larutan tersebut dipipet 10 ml dan dimasukkan ke dalam alat distilasi Kjeldahl lalu ditambah 10 mL NaOH 30% yang telah dibakukan oleh larutan asam oksalat.
Distilasi dijalankan selama kira-kira 20 menit dan distilatnya ditampung dalam erlenmeyer yang berisi 25 ml larutan HC1 0,1 N yang telah dibakukan oleh boraks (ujung kondensor harus tercelup ke dalam larutan HC1). Kelebihan HC1 dititrasi dengan larutan NaOH 0,1 N dengan indikator campuran bromkresol hijau dan metil merah.
Kadar Karbohidrat Total
Pengukuran kadar karbohidrat total dalam sampel dihitung berdasarkan perhitungan (dalam %).
% karbohidrat = 100 % - % (protein + lemak + abu) ………(17)
3.11.6 Analisis karakteristik lingkungan perairan
Untuk menentukan variasi variabel fisika kimia perairan antar stasiun pengamatan digunakan Analisis Komponen Utama (Principal Component Analysis, PCA) (Lagendre dan Lagendre 1983; Bengen 2000).
Data variabel fisika kimia yang diperoleh tidak memiliki unit pengukuran yang sama, maka sebelum dilakukan Analisis Komponen Utama, data tersebut perlu dinormalisasikan terlebih dahulu melalui pemusatan dan pereduksian. pengolahan data menggunakan program komputer XL-STAT.
3.11.7 Analisis sebaran produksi detritus
Untuk mengetahui sebaran produksi detritus antar stasiun pengamatannya digunakan Analisis Faktorial Koresponden (Correspondent Analysis, CA) (Lagendre dan Lagendre 1983; Bengen 2000).
Analisis Faktorial Koresponden (AFK) merupakan salah satu bentuk analisis sidik peubah ganda atau analisis dimensi ganda yang didasarkan pada matriks data I baris (stasiun penelitian) dan J kolom (produksi detritus), dengan demikian matriks data ini merupakan tabel kontingensi produksi detritus x stasiun pengamatan. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program komputer XL-STAT.
Tahapan tahapan penelitian yang dilaksanakan dibuat dalam bentuk alur penelitian, yang terdiri dari masalah penelitian, pendekatan masalah, aspek yang dikaji, parameter yang diamati dan dianalisis serta luaran yang diharapkan dari penelitian ini, disajikan pada Gambar 9.
Gambar 9 Alur penelitian dari masalah hingga luaran yang diharapkan. Mangrove
Kerapatan Dominansi jenis Indeks Nilai Penting Dekomposisi serasah
Struktur vegetasi
MASALAH PENDEKATAN MASALAH KAJIAN ASPEK PARAMETER LUARAN
Lingk. Perairan
Fisika, kimia dan biologi
TSS, Suhu, pH , Salinitas BO, DO, Fosfat, Nitrat & Fitoplankton
kontribusi mangrove sebagai pemasok makanan
ikan belanak
Informasi kontribusi mangrove sebagai pemasok makanan ikan belanak (Liza subviridis)
Produksi detritus
Detritus & non detritus
Indeks Somatic Content GSI dan HSI
Makanan Kuantitas &
Kualitas
Pertumbuhan Faktor kondisi
Ikan belanak