• Tidak ada hasil yang ditemukan

NO. PERINGKAT SIKLUS II

4. Analisis Lanjutan

Dari hasil penelitian siklus I dan siklus II didapatkan perbandingan nilai peringkat hasil belajar siswa pada prasiklus, siklus I, dan siklus II yaitu:

Tabel 10. Peringkat Hasil Evaluasi

No. Peringkat Prasiklus Siklus I Siklus II Jumlah

1. > 90 -

£

100 1 0 3 4 2. > 80 -

£

90 1 3 12 16 3. > 70 -

£

80 1 6 8 15 4. > 60 -

£

70 6 13 11 30 5. > 50 -

£

60 9 17 5 31 6. > 40 -

Nilai > 40 -

£

50 pada prasiklus sebanyak 3, pada siklus I sebanyak 1, dan pada siklus II sebanyak 1. Dan nilai

demikian hasil tersebut belum sesuai dengan yang diharapkan, oleh karena hasil tersebut perlu ditingkatkan lagi pada siklus berikutnya.

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa semua indikator kinerja belum tercapai pada siklus I, oleh karena itu perlu dilaksanakan pada siklus II dengan beberapa perbaikan, antara lain dengan cara memberikan penghargaan bagi siswa yang aktif dalam pembelajaran atau memberikan motifasi bagi siswa yang kurang aktif dalam pembelajaran. Ini diharapkan banyaknya siswa yang aktif dalam pembelajaran lebih banyak. Selain itu optimalisasi guru dalam menjelaskan tujuan metode pembelajaran. Ini diharapkan siswa tidak mengalami kebingungan terhadap metode yang digunakan sehingga siswa siap dalam menerima dan memahami apa yang harus dilakukan dalam pembelajaran.

Pelaksanaan model pembelajaran probing-prompting pada siklus II sudah menunjukan adanya peningkatan. Nilai rata-rata pelaksanaan untuk guru mendapatkan kategori baik sekali yaitu sebesar 87,5% sedangkan aktivitas siswa mendapat kategori baik yaitu sebesar 82,5 % .

Dari pengamatan pada siklus II ditemukan siswa telah mampu mengikuti pembelajaran dengan baik. Hal ini terbukti makin banyaknya siswa yang aktif dalam bertannya maupun menyampaikan pendapat. Pada siklus II ini, guru juga sudah mampu memperbaiki kekurangan-kekurangan pada siklus I antara lain: guru sudah menyampaikan tujuan metode pembelajaran yang digunakan, sehingga siswa merasa siap dengan apa yang harus dilakukan. Guru juga memberi motivasi kepada siswa agar selalu aktif dalam pembelajaran dengan cara memberikan penghargaan kepada siswa yang aktif dalam pembelajaran.

Hasil belajar siswa yang diperoleh pada siklus II meningkat. Hal ini dapat diketahui dari nilai rata-rata kelas sebesar 75,075 meningkat sebesar 10,125 poin dari

nilai rata-rata kelas pada siklus I yaitu sebesar 64,95. Persentase ketuntasan belajar juga meningkat dari 47,5 % pada siklus I menjadi 82,5% pada siklus II . Dari nilai rata-rata kelas dan ketuntasan klasikal tersebut dapat disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut:

Tabel 11.Hasil belajar siswa

Indikator Awal Siklus I Siklus II

Nilai rata-rata kelas 42,25 64,95 75,075

Persentase ketuntasan klasikal (%) 20 %. 47,5 % 82,5 %

Sumber: Data Penelitian Arief Sulistiyono.

Secara lebih jelas data hasil belajar siswa tersebut dapat disajikan dalam bentuk diagram sebagai berikut:

Gambar 1

Diagram nilai rata-rata kelas

Sumber: Data penelitian (Arief Sulistiyono 2011) 0 10 20 30 40 50 60 70 80

Pra siklus Siklus 1 Siklus 2

Nilai rata-rata kelas pada awal siklus (pra siklus) =42,25

Nilai rata-rata kelas pada siklus 1 =64,95

Nilai rata-rata kelas pada siklus 2 = 75,075

Gambar 2

Diagram persentase ketuntasan belajar siswa Sumber: Data penelitian (Arief Sulistiyono 2011)

Pertemuan diakhiri dengan membagikan angket kepada siswa. Setelah angket dibagikan dan hasilnya di analisis, diperoleh data sebagai berikut : dari 40 responden, 34 responden (85%) menyatakan model pembelajaran probing-prompting sangat menarik dalam pembelajaran sejarah, 33 responden (82,5%) menyatakan penggunaan model pembelajaran probing-prompting meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran sejarah. Secara umum dapat disimpulkan bahwa siswa telah memiliki sikap yang baik terhadap pelajaran sejarah, khususnya melalui penggunaan model pembelajaran probing-prompting.

Menurut peneliti, semua indikator kinerja dalam penelitian ini sudah tercapai pada siklus II. Walaupun sudah tidak ada penelitian lagi, guru mata pelajaran sejarah tetap melaksanakan model pembelajaran probing-prompting dalam pembelajaran. Hal ini dikarenakan dari hasil penelitian ini metode pembelajaran tersebut mampu meningkatkan hasil belajar siswa.

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90

Pra siklus Siklus 1 Siklus 2

Presentase pada awal (pra siklus)= 20%

Presentase ketuntasan pada siklus 1 = 47,5 Presentase ketuntasan pada siklus 2 =82,5

BAB V PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa pembelajaran sejarah dengan menggunakan model pembelajaran probing-prompting dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X.5 SMA Negeri 1 Bangsri Kabupaten Jepara. Hal ini ditandai dengan meningkatnya nilai rata-rata hasil belajar siswa, dapat terlihat dari hasil tes akhir pada setiap siklus. Sebelum dilakukan model pembelajaran probing-prompting atau pra siklus nilai rata-rata kelas X.5 SMA Negeri 1 Bangsri Kabupaten Jepara tahun ajaran 2010/2011 yaitu 42,25. Dengan model pembelajaran probing-prompting pada siklus 1 kelas X.5 SMA Negeri 1 Bangsri Kabupaten Jepara mendapat nilai rata-rata 64,95 dengan ketuntasan belajar 47,5% atau 19 siswa tuntas. Kenaikan hasil belajar pada nilai rata-rata siklus I mencapai 22,7 poin. Pada siklus 2 kelas X.5 SMA Negeri 1 Bangsri Kabupaten Jepara rata-rata kelasnya menjadi 75,075 dengan ketuntasan belajar 82,5% atau 33 siswa tuntas. Kenaikan hasil belajar nilai rata-rata meningkat mencapai 10,125 poin.

Indikator keberhasilan dari penelitian ini adalah apabila ada peningkatan yaitu ketuntasan hasil belajar siswa yaitu sekurang-kurangnya 75% dari jumlah siswa yang ada di kelas. Pada siklus II ketuntasan belajar mencapai 82,5%, maka pembelajaran dengan model pembelajaran probing-prompting dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

B. Saran

Berdasarkan pengamatan peneliti selama melaksanakan penelitian tindakan kelas pada kelas X.5 SMA Negeri 1 Bangsri Kabupaten Jepara, peneliti memberikan saran kepada guru sejarah sebagai berikut :

1. Model pembelajaran probing-prompting perlu dilaksanakan dalam pembelajaran di kelas, karena model pembelajaran tersebut dapat meningkatkan hasil belajar siswa, selain itu model pembelajaran probing-prompting merupakan salah satu tipe pembelajaran yang memberi kesempatan pada siswa untuk berfikir kritis serta berperan aktif dalam proses pembelajaran. Keunggulan teknik ini adalah optimalisasi partisipasi siswa.

2. Guru sejarah harus selalu kreatif dalam dalam proses pembelajaran agar memotivasi siswa untuk lebih semangat dalam mengikuti pembelajaran sejarah secara aktif.

Dokumen terkait