Data profil kelembagaan perbenihan yang diperoleh ditabulasi selanjutnya dianalisis secara deskriptif.
10
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Dalam upaya memenuhi kebutuhan beras dari produksi dalam negeri, pada tahun 2007 pemerintah mencanangkan Program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN).
Upaya pemerintah daerah Bengkulu dalam mendukung program P2BN diantaranya adalah melalui pengadaan peralatan mekanisasi (pengadaan traktor), pencetakan sawah, pemberdayaan penyuluh dan penyediaan inovasi teknologi, bantuan benih (BLBU) dan pelaksanaan SL PTT.
Penggunaan benih unggul diyakini mempunyai kontribusi terbesar terhadap produksi, namun sebagian besar masyarakat tani masih menggunakan benih yang disisihkan dari sebagian hasil panen musim sebelumnya. Petani di Provinsi Bengkulu umumnya belum menggunakan benih padi berlabel jika tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah. Tingkat ketergantungan petani di Provinsi Bengkulu terhadap pembagian benih atau VUB padi masih cukup tinggi (63,75%). Kondisi ini menunjukkan bahwa kesadaran para petani dalam penggunaan benih unggul berkualitas perlu ditingkatkan.
Rendahnya kesadaran petani dalam penggunaan benih unggul baru yang berkualitas berhubungan erat dengan kondisi kelembagaan perbenihan di Provinsi Bengkulu. Kenyataan ini menggambarkan bahwa sistem kelembagaan perbenihan di Provinsi Bengkulu belum tangguh (produktif, efisien, berdaya saing, dan berkelanjutan). Kondisi dan kinerja lembaga perbenihan pemerintah di Bengkulu belum optimal yang ditunjukkan oleh rendah dan lemahnya produksi benih, sarana prasarana, SDM, infrastruktur, struktur organisasi, dan sistem pembiayaan. Kondisi lembaga perbenihan di Provinsi Bengkulu di tampilkan pada Tabel 1, Peta halaman 18-19 dan Lampiran 10-11.
11
Tabel 1. Ringkasan keragaan lembaga perbenihan padi di Provinsi Bengkulu.
BBI/BBU Alamat/Telp/Faxsimile KABUPATEN DAN
ORDINAT SAWAH
(HA) PRODUKSI /TAHUN
(TON)
SDM KELEMBAGAAN PERMASALAHAN
Balai Benih Induk (Dinas
Pertanian Provinsi) Jln. Raya Kepahiang-Curup Km 3,5 Kepahiang, Kode Pos : 39172 - Peralatan prosesing terbatas
- Saluran air irigasi rusak sehingga pemanfaatan lahan tidak optimal Balai Benih Induk Jln. Isnpeksi BBI Desa
Kabid. Pertanian - SDM sangat terbatas
- Peralatan prosesing dan laboratorium minim
- Sistem pengganggaran belum jelas - Kelembagaan masih di bawah Kabid.
Produksi Balai Benih Padi dan
Palawija Ds. Suka Bumi Kec. Lebong
Sakti Kab. Lebong Lebong S. 03.08.280
- Peralatan prosesing dan laboratorium minim
- Anggaran terbatas Balai Benih Padi dan
Palawija Ds. Lubuk Kembang Kec.
Curup Utara Kab. Rejang Lebong
dan
Ds Durian Mas Kec. Kota Padang Kab. Rejang Lebong
Rejang Lebong pemanfaatan lahan tidak optimal - Anggaran dan SDM terbatas
Balai Benih Pembantu Jln Irian Kel. Semarang Kec.
Sungai Serut Kota Bengkulu
S.03.27.111 E.102.29.804 Elevation 42 m
8,00 0,00 9 Masih di bawah
Kabid. Pertanian - Peralatan prosesing dan laboratorium minim
- Sistem pengganggaran belum jelas - Kelembagaan masih di bawah Kabid.
Produksi
- Anggaran tidak tersedia Balai Benih Pembantu Jln. Gerak Alam Manna Kab.
Bengkulu Selatan Bengkulu Selatan S.03.09.593 pemanfaatan lahan tidak optimal - Anggaran dan SDM terbatas - SDM Terb
Kabid. Pertanian - Peralatan prosesing terbatas
- Saluran air irigasi rusak sehingga pemanfaatan lahan tidak optimal - Anggaran dan SDM terbatas
12
Tabel 1 menunjukkan bahwa lembaga perbenihan di Provinsi Bengkulu masih belum tangguh dan sehat. Hal ini dikaitkan dengan produksi, efisiensi, daya saing, dan berkelanjutan belum tergambar secara jelas. Kondisi ini juga memberikan gambaran bahwa lembaga perbenihan belum mendapatkan perhatian yang cukup serius baik oleh pemerintah pusat maupun daerah.
Jika dicermati dari segi agroekosistemnya, terutama ketinggian tempatnya, lembaga perbenihan posisinya berada pada kategori dataran rendah hingga dataran menengah (14 -628 m di atas permukaan laut, dpl). Varietas spesifik lokasi yang adaptif juga perlu diketahui oleh pengelola lembaga perbenihan agar dapat memilih varietas yang adaptif, tepat dan sesuai dengan preferensi petaninya. Hal ini dilakukan agar tanaman dapat tumbuh dengan baik dan toleran terhadap cekaman lingkungan biotik dan abiotik sehingga dapat mengurangi resiko kegagalan dan produktivitasnya tinggi. Ke depan lembaga perbenihan daerah hendaknya tidak hanya berperan sebagai penyedia benih, tetapi juga bersinergi dengan para penyuluh berupaya untuk mendiseminasikan varietas-varietas yang dihasilkan agar ada akselerasi adopsi dan difusi antar petani.
Dari Tabel 1 juga diketahui bahwa dari 10 kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu ternyata baru ada 6 kabupaten/kota yang memiliki lembaga perbenihan (Lampiran 10).
Empat kabupaten yang tidak memiliki lembaga perbenihan adalah Kabupaten Seluma, Bengkulu Utara, Bengkulu Tengah dan Kepahiang. Bengkulu Utara dan Seluma merupakan sentra produksi padi di Provinsi Bengkulu tetapi tidak memiliki lembaga perbenihan. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah belum fokus dalam mengelola perbenihan, walaupun telah disadari bahwa benih merupakan salah satu komponen teknologi yang mampu mengungkit produktivitas dan produksi beras. Kondisi ini mungkin juga berkaitan dengan kebijakan ataupun regulasi pemerintah pusat, terutama dalam pengadaan benih unggul berbantuan seperti BLBU maupun benih bersubsidi. Regulasi penyaluran BLBU dan
13
benih bersubsidi membuat penangkar maupun lembaga perbenihan di daerah tidak bergairah, dikaitkan dengan harga dan sasaran pasar yang kurang terbuka. Sebagai gambaran, pada tahun 2013, sekitar 60-70% dari luas areal tanam sudah mendapatkan program SL-PTT, dengan benih bersubsidi. Sebagian besar benih dimasukkan dari daerah lain, dan belum bermitra dengan penangkar setempat.
Dilihat dari aspek kelembagaannya, penamaan lembaga perbenihan di tiap kabupaten berbeda-beda. Masing-masing lembaga perbenihan di Kabupaten dan provinsi masih terkesan menjalankan tipoksi lembaga secara parsial dan belum terjalin networking yang baik. Hal ini ditunjukkan dari asal benih sumber dan promosinya yang belum berjalan dengan baik. Tiap lembaga terkesan melaksanakan tupoksinya masing-masing tanpa atau dengan kadar koordinasi dan integrasi yang minim.
Dilihat dari aspek luas lahan sawah yang dimiliki oleh lembaga perbenihan juga beragam mulai dari 1 sampai dengan 8 ha, padahal ada ketentuan luas minimal yang dipersyaratkan untuk dapat mencapai output dan kinerja lembaga perbenihan. Dengan luas lahan yang hanya 1 ha, mungkin tidak akan efisien jika dibandingkan dengan jumlah ataupun infestasi infrastruktur, bangunan dan SDM. Sementara lembaga perbenihan dengan lahan yang cukup luas, 8 ha misalnya, tidak mempunyai anggaran yang memadai untuk operasional dalam rangka penyediaan benih berkualitas.
Peran lembaga perbenihan sebagai penyediaan benih padi dan pengungkit peningkatan produksi beras secara regional maupun nasional perlu dibangun dengan komitmen yang baik dari berbagai pihak. Berdasarkan hasil FGD yang dilakukan di 4 lokasi, Kota Bengkulu untuk tingkat provinsi, Kabupaten Rejang Lebong, Lebong, dan Mukomuko untuk tingkat Kabupaten disepakati bahwa: (1) Benih berkualitas diakui menjadi syarat utama dalam peningkatan produktivitas dan produksi padi (2) Lembaga perbenihan di daerah perlu direvitalisasi. (3) Dinas Pertanian kabupaten akan berinisiatif untuk meningkatkan peran lembaga perbenihan melalui dana APBD. (4) Perlu disampaikan ke
14
pusat untuk meninjau regulasi bantuan benih. (5) Tindakan antisipatif daerah diperlukan dalam penyediaan benih berkualitas.
Berkaitan dengan kompotensi dari personalia pelaksana pada lembaga perbenihan di Bengkulu dapat dinyatakan bahwa kompetensinya masih perlu ditingkatkan. Berdasarkan pendidikannya personalia lembaga perbenihan masih didominasi oleh tamatan SLTA (43,58%), SMP (10,25%) dan SD (5,12%). Komposisi pengelola lembaga perbenihan berdasarkan tingkat pendidikan disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Jumlah dan tingkat pendidikan SDM pelaksana BBI/BBU/BBP Provinsi Bengkulu.
NO PENDIDIKAN JUMLAH %
1 Paska sarjana (S2) 2 5,12
2 Sarjana (S1) 14 35,89
3 SLTA 17 43,58
4 SLTP 4 10,25
5 SD 2 5,12
Total 39 100
Tabel 2 menunjukkan bahwa sumber daya di dominasi tingkat sarjana dan SLTA.
Berdasarkan komposisi tingkat pendidikannya sudah cukup baik, tetapi dilihat dari segi jumlah dan bidang keahliannya perlu ditingkatkan. SDM suatu lembaga juga menjadi salah satu indikator kinerja lembaga. Semakin baik komposisi dan kompetensi SDM sudah dapat diprediksi kinerjanya akan semakin baik.
Tabel 3 menunjukkan bahwa kebutuhan benih padi di Provinsi Bengkulu cukup tinggi yaitu 3.442,93 ton seharusnya dapat terpenuhi dengan kelompok petani penangkar yang ada di Provinsi Bengkulu yang juga cukup banyak yaitu 41 kelompok tani penangkar dengan jumlah anggota sebanyak 1.168 orang (Tabel 4). Namun pada kenyataannya kebutuhan benih di Provinsi Bengkulu belum terpenuhi, masih didatangkan dari luar provinsi.
15
Tabel 3. Sasaran luas tanam dan kebutuhan benih padi di Provinsi Bengkulu tahun 2013
No Kabupaten/Kota Sasaran Luas Tanam
(Ha) Kebutuhan Benih (ton)
Tabel 4. Jumlah Kelompok Petani Penangkar di Provinsi Bengkulu.
No Kabupaten Jumlah Poktan (Kelompok) Jumlah Anggota (orang)
16
Tabel 5. Kondisi Petani Penangkar di Provinsi Bengkulu
No Uraian Persentase No Uraian Persentase 1. Pendidikan Petani
Penangkar % 6. Faktor Penghambat %
Tanam serentak 100,0
Tidak Pernah 60,0 kegiatan pendampingan 100,0
Dari Tabel 5 diketahui bahwa kondisi petani penangkar masih sangat minim, hal ini disebabkan oleh masih kurangnya pembinaan maupun pendampingan melalui pelatihan -pelatihan tentang kegiatan penangkaran benih padi. Dari Tabel 5 terlihat bahwa baru 40 % petani yang telah mengikuti pelatihan mengenai kegiatan pengkaran benih padi sedangkan sebanyak 60 % petani penangkar belum pernah mengikuti pelatihan tentang kegiatan penangkaran. Dari hasil survey juga menunjukkan bahwa petani penangkar akan mengadakan kegiatan penangkaran apabila ada program dari pihak pemerintah dan pihak swasta (PT. Pertani, dll) melalui program kemitraan sehingga pemasarannya dapat langsung ditampung oleh pihak swasta yang merupakan mitra. Selain itu varietas yang ditangkarkan melalui program pemerintah maupun swasta juga masih merupakan varietas lama yaitu cigeulis (47%) dan masih sedikit yang menangkarkan benih padi VUB/Inpari ( 20%). Kondisi ini diprediksi varietas yang ditangkarkan sudah sangat rentan terhadap hama dan penyakit sehingga produksi benih padi menurun. Tabel 5 juga menunjukkan bahwa pemasaran merukan faktor penghambat (38,1%) dalam melakukan penangkaran khususnya mengenai jaminan harga. Hasil produksi petani penangkar tidak semuanya dibeli oleh pihak yang
17
membutuhkannya dengan harga yang lebih tinggi, sehingga petani penangkar masih banyak yang menjual hasil penangkarannya dalam bentuk beras yang siap dikonsumsi, karena perhitungan petani merasa lebih untung dari pada jual gabah/benih yang harga tawarnya sangat rendah.
18
19
20
V. KESIMPULAN
1. Kondisi dan kinerja lembaga perbenihan pemerintah di Bengkulu belum optimal yang tunjukkan oleh rendah dan lemahnya produksi benih, sarana dan prasarana, SDM, infrastruktur, struktur organisasi, dan sistem pembiayaan.
2. Lembaga perbenihan (BBI/BBU) hanya mampu menyediakan 10-15% benih berkualitas di Provinsi Bengkulu.
3. Belum terjalin koordinasi, sinergi dan networking yang baik antar lembaga perbenihan di tingkat Kabupaten maupun Provinsi.
4. Perlu ditinjau kembali regulasi dan penyaluran bantuan benih dari pemerintah pusat untuk penguatan lembaga perbenihan dan petani penangkar di daerah.
5. Perlunya ditingkatkannya pembinaan terhadap petani penangkar.
21
VI. PERKIRAAN DAMPAK HASIL KEGIATAN
Dampak hasil kegiatan dalam jangka pendek adalah kesadaran dari para stakeholders dan pengambil kebijakan bahwa lembaga perbenihan merupakan lembaga yang strategis dan penting dalam penyediaan benih berkualitas. Ada ungkapan siapa yang menguasai benih dialah yang akan menguasai dunia. Hal ini tidak berlebihan karena benih yang berkualitas merupakan salah satu titik ungkit peningkatan produktivitas dan produksi padi. Dengan kesadaran dan kemampuan yang ada akan berupaya untuk merevitalisasi perbenihan daerah melalui peningkatan status kelembagaan, penempatan dan pelatihan SDM yang kompeten, pembiayaan untuk meningkatkan kualitas infrastruktur, bangunan, dan peralatan prosesing benih, serta membina petani penangkar yang handal.
Dampak yang lainnya adalah meningkatnya kesadaran dari personalia lembaga perbenihan bahwa corporate dan kerjasama antar institusi dapat meningkatkan pencapaian organisasi melalui sinergisitas dalam memmenuhi permintaan benih berkualitas. Dengan koordinasi, sinergi, dan promosi akan dapat diperoleh jangkauan pemasaran yang baik dan menguntungkan. Dengan demikian dalam jangka panjang perbenihan dapat menjadi salah satu cabang agribisnis yang menguntungkan.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2011. Pedoman Umum UPBS. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta.
Daradjat, A.A., Agus S., A.K. Makarim, A. Hasanuddin. 2008. Padi – Inovasi Teknologi Produksi. Buku 2. LIPI Press. Jakarta.
Hanizar, M. dan Barianto. 2011. Persyaratan dan Tatacara Sertifikasi Benih Bina Tanaman Pangan. Makalah disampaikan dalam Temu Lapang Penangkaran Padi di Kota Bengkulu tanggal 12 Desember 2011. BPSB-TPH Provinsi Bengkulu.
Harini, R. 2003. Tingkat Efisiensi Perubahan Usahatani Padi di Kecamatan Seyegan. Majalah Geografi Indonesia 17(2): 81-94.
Irawan, B. 2011. Prosedur Penangkaran Benih Padi. Makalah disampaikan dalam Sosialisasi
22
Varietas Unggul Baru (VUB) Padi Kegiatan Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) di Kabupaten Bengkulu Utara tanggal 13 Desember 2011. BPSB-TPH Provinsi Bengkulu.
Ishak, A., Afrizon, Yahumri, Yesmawati, Y. Oktavia, dan T. Hidayat. 2011. Laporan Akhir Tahun Kegiatan, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu. Bengkulu: Kementerian Pertanian..
Kementerian Pertanian. 2010. Rencana Strategis Kementerian Pertanian Tahun 2010-2014.
Jakarta: Kementerian Pertanian.
Manuwoto. 1992. Sinkronisasi Kebijakan dalam Perencanaan dan Pelaksanaan Pembangunan, Suatu Upaya Pencegahan Alih Fungsi Lahan. Dalam: Utomo, M., E. Rivai, dan A. Thahar (Ed.). Pembangunan dan Pengendalian Alih Fungsi Lahan. Bandar Lampung: Universitas Lampung. p. 45-57.
Ruskandar, A. 2006. Varietas Unggul Baru Padi yang Banyak Ditunggu Petani.
http://pustaka.litbang.deptan.go.id/bppi/lengkap/st260706-1.pdf
Saryoko, A. 2009. Kajian Pendekatan Penanda Padi (Rice Check) di Provinsi Banten.
Widyariset 12(2):43-52.
Suprihatno, B., A.A. Daradjat, Satoto, Baehaki SE, Suprihanto, A. Setyono, S.D. Indrasari, IP Wardana, dan H. Sembiring. 2010. Deskripsi Varietas Padi. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Subang – Jawa Barat.
Wahyuni, S. 2011. Teknik Produksi Benih Sumber Padi. Makalah disampaikan dalam Workshop Evaluasi Kegiatan Pendampingan SL-PTT 2001 dan Koordinasi UPBS 2012 tanggal 28-29 November 2011. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi.
23
LAMPIRAN
24 Lampiran 1. Form isian BBI dan BBU
FORM ISIAN
MAPPING POTENSI BBI DAN BBU DALAM PENYEDIAAN BENIH BERKUALITAS
DI PROVINSI BENGKULU
PETUGAS : ………..
BIDANG PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN:
GOOD AGRICULTURE PRACTICES
BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN BENGKULU
2013
25
MAPPING BBI dan BBU PROVINSI BENGKULU
FORM DATA BASE INSTITUSI PERBENIHAN TANAMAN PANGAN PROVINSI BENGKULU
3) Temperatur : Tinggi/Sedang/Rendah*) 4) Jenis Tanah :
5) Ketinggian : m dpl 6) Ordinat :
2. POTENSI BALAI BENIH
A. LAHAN INSTALASI/KEBUN BENIH (Form 1)
(beserta denah/peta komplek & lahan balai benih) 3. KERAGAAN HASIL
PRODUKSI DAN DISTRIBUSI/PENYEBARAN BENIH YANG DIHASILKAN (Form 2) 4. KETERSEDIAAN SDM (Form 3)
5. STRUKTUR ORGANISASI A. DASAR HUKUM : B. BAGAN ORGANISASI : C. TUGAS POKOK DAN FUNGSI
1) Tugas Pokok :
2) Fungsi :
6. SARANA DAN PRASARANA YANG DIMILIKI (Form 4)
7. MASALAH, UPAYA PEMECAHAN DAN RENCANA PENGEMBANGAN (Form 5)
26 FORM 1
LAHAN INSTALASI/KEBUN
No Nama Instansi Kebun Benih Kabupaten/Kota
Luas Lahan (Ha)
Kapasitas Produksi Benih
Padi (Ha)
Potensi Produksi Benih
(T/thn) Sawah Tegalan Pekarangan Cekdam Bangunan Total
27 FORM 2
PRODUKSI DAN DISTIBUSI/PENYEBARAN BENIH YANG DIHASILKAN No Produksi Benih Tahun
2012 Rencana Produksi
Benih Tahun 2013 Produktivitas
(Ton/ha) Lokasi lahan Produksi
Benih
Dasar Penentuan Varietas yang
diproduksi
Peyaluran Benih
Varietas Volume Varietas Volume Sumber Benih Disalurkan ke
28 FORM 3
KETERSEDIAAN SDM
No Pendidikan Tenaga (orang) Status (orang) Golongan (orang) Kekurangan SDM (orang)
Kebutuhan SDM (orang)
Jabatan
Teknis Non Teknis PNS Honorer IV III II I 1 Sarjana (S2)
2 Sarjana (S1)
3 Sarjana Muda)D3) 4 SLTA
5 SLTP 6 SD 7 8 9 10 Jumlah
29 FORM 4
SARANA DAN PRASARANA YANG DIMILIKI
No Sarana/Prasarana Luas Yang
dimiliki (M2/Unit)
Kondisi Usula/Rehab (M2/Unit)
1 Prasarana Bangunan a. Gedung Kantor b. Gedung Laboratorium c. Green House
d. Rumah Dinas e. Rumah Jaga f. Gudang Benih g. Gudang Prosessing h. Gudang Work Lound i. Garasi
j. Ruang Komputer k. Ruang Pompa Air l. Bak Air
m. Saluran Irigasi n. Bangunan Irigasi o.
p.
q.
r.
30 s.
2 Sarana Penunjang Produksi a. RMU
b. Seed Cleaner (Pembersihs Gabah) c. Power Tresher (Perontok Padi) d. Mesin Penjahit Karung
e. Mesin Pompa Air f. Hand Prayes
g. Mesin Pemotong Padi h. Mist Blower
i. Mesin Rumput j. Mesin Penyiang k. Alat Pemotong Padi l. Alat Tanam (Caplak) m.
n.
3 Sarana Pengolahan a. Hand Traktor b. Kulti Factor c. Dryer d. Silo
e. Perontok Jagung f.
4 Sarana Laboratorium
31 a. Gedung & Alat Laboratorium
b. Alat pengukur PH Tanah c. Alat Pengukur Kadar Air Benih d. Alat Pengukur Bagan Daun e.
f.
g.
h.
i.
5 Sarana Mobilitas
a. Kendaraan Operasional Roda 4 b. Kendaraan Operasional Roda 2 c. Gerobak Dorong
d.
6 Sarana Kantor a. Laptop b. Komputer c. Printer d. Mesin Tik e. Photo Digital f. Pengeras Suara g. Kursi Tamu h. Meja Kantor i. Kursi Putar
32 j. Kursi Lipat
k. Kursi Plastik l. Lemari arsip m. Filing Kabinet n. Brankas
o. Radio Pemanggil
p. Dana Operasional Balai Benih q. Dana Operasional Tenaga Honorer r. Mushola
s. Pagar Keliling t.
u.
v.
w.
7 Prasarana Lain a. Jalan
b. Sumber Listrik c. Sumber Air d.
e.
33 FORM 5
MASALAH, UPAYA PEMECAHAN DAN RENCANA PENGEMBANGAN
No Aspek Permasalahan Upaya Pemecahan/Solusi
1 Kelembagaan
2 Sarana dan Prasarana Pertanian 3 Pembiayaan
4 Manajemen 5 Pemasaran
Arah/Rencana Pengembangan
34 Lampiran 2. Kuesioner petani penangkar
KUESIONER
IDENTIFIKASI PENANGKAR BENIH PADI PROVINSI BENGKULU
A. Data Penangkar Benih Padi
1. Nama penangkar : 13. Produksi benih (ton/thn) :
14. Pemasaran benih ke : a. b. c. d. Lainnya : 15. Harga jual benih (Rp/kg) :
a. Benih Dasar (FS)/putih : b. Benih Pokok (SS)/ungu : c. Benih Sebar (ES)/biru :
16. Mitra penangkaran :
17. Fasilitas pendukung :
Uraian Satuan/Unit Keterangan
Luas lahan penangkaran Ha
Luas lantai jemur (m2) M2
Kapasitas gudang penyimpan (ton) Ton
Power thresher (unit) Unit
Alat pengering gabah (unit) Unit
Seed cleaner (unit) Unit
Kipas angin (unit) Unit
Alat pengukur kadar air (buah) Buah
Penjahit karung (buah) Buah
Traktor (unit) Unit
Timbangan (buah) Buah
Lainnya :
Tanggal : Enumerator :
35 18. IP penangkaran padi :
19. Tujuan penangkaran padi : 20. Varietas yang ditangkarkan : B. Stock Opname / Standing Crops 1. Stok benih yang dimiliki :
No Varietas Kelas benih Jumlah (kg) Tanggal kadarluarsa 1
2 3
2. Penangkaran benih saat ini (Standing Crops)
No Varietas Kelas
C. Analisa Usahatani Produksi Benih Musim Tanam yang lalu
No Uraian Jumlah Harga
1 Luas lahan (ha) sesuai kondisi 2 Sarana produksi
Benih
Pupuk Urea ... kali pupuk
Pupuk NPK Phonska ... kali pupuk
Pupuk NPK Mutiara ... kali pupuk
Pupuk SP-36 (kg) ... kali pupuk
36 4 Tenaga kerja per hektar (HOK)
Pengolahan lahan/persemaian
Penanaman Sistem tanam
...
Penyulaman
Pemupukan ... kali
Penyiangan
Pembersihan CVL, tipe simpang,
tanaman terserang hama ... kali
Jaga burung 7 Distribusi benih
- ...
D. Identifikasi Faktor Pendorong dan Penghambat dalam Penangkaran Benih a. Faktor Pendorong/pendukung dalam penangkaran benih
1. ………
b. Faktor penghambat dalam penangkaran benih 1. …………...
37
Lampiran 3. Foto kondisi Balai Benih Padi dan Palawija Desa Lubuk Kembang Kabupaten Rejang Lebong
Akses masuk ke BalaiBenih Lubuk Kembang
Lahan produksi benih Balai benih Lubuk Kembang
Lantai jemur Balai Benih Lubuk Kembang
Alsintan dan gudang Balai Benih Lubuk Kembang
38
Lampiran 4. Foto kondisi Balai Benih Padi dan Palawija Kelobak Kab. Kepahiang
Perkantoran BBU Kelobak Kab. Kepahiang
Gudang dan Gedung Prosesing Benih BBU Kelobak Kab. Kepahiang
Lantai jemur dan rak tempat benih BBU Kelobak Kab. Kepahiang
39
Lampiran 5. Foto kondisi Balai Benih Padi Suka Bumi Kab. Lebong
Perkantoran BBP Kab. Lebong
Lahan produksi padi dan lantai jemur BBP Kab. Lebong
Peralatan prosesing benih BBP Kab. Lebong
40 Lampiran 6. Foto kondisi Balai Benih Padi Kab. Kaur
Akses masuk ke Balai Benih Utama Kab. Kaur
Kantor dan Rumah Dinas Balai Benih Utama Kab. Kaur
Gudang dan Gedung Prosesing Benih BBU Kab. Kaur
41
Lampiran 7. Foto Kondisi Balai Benih Padi dan Palawija Kota Medan Kabupaten Bengkulu Selatan
Kawasan Balai Benih Pembantu Kab. Bengkulu Selatan
Lahan produksi BBP Kab. Bengkulu Selatan
Gudang dan lantai jemur BBP Kab. Bengkulu Selatan
42 Lampiran 8. Kondisi BBI Kabupaten Mukomuko
Akses masuk ke Balai Benih Induk Kab. Mukomuko
Kantor, Gedung Prosesing dan Lantai jemur Balai Benih Induk Kab. Mukomuko
43
Lampiran 9. Kondisi Balai Benih Pembantu Kota Bengkulu
Kantor, Lantai jemur dan Lahan Produksi Balai Benih Pembantu Kota Bengkulu
Gudang dan Alsintan Balai Benih Pembantu Kota Bengkulu
44 Lampiran 10. Kondisi lembaga perbenihan di Provinsi Bengkulu
No Nama Alamat/Telp/Fax Luas Areal (ha)
Prasarana Produksi Benih dalam
Setahun (Tahun 2012) Rencana Produksi Benih
(Ha) Tahun 2013 Ordinat
Dasar
rusak berat Cigeulis, Ciherang
Rusak berat Inpari 13,
Mira 4 1,2 & 1,3 Inpari 20,
Induk Padi Jln. Isnpeksi BBI Desa Pondok
BBI Kelobak Petani & PT Pertani
4 Balai Benih
Palawija Jln. Gerak Alam Manna Kab.
konsumen UPT Balai Benih,
45
Rusak berat Cigeulis
(BD), 1 Cigeulis
46
Lampiran 11. Ketersediaan Sumber Daya Manusia, masalah, upaya pemecahan dan pengembangan
No Balai Benih Kabupaten Ketersediaan
SDM Aspek Permasalahan Upaya Pemecahan/Solusi Arah/Rencana Pengembangan 1 Balai Benih Padi dan
Palawija Ds. Lubuk Kembang Kec. Curup Utara Kab. Rejang Lebong
Kurang/6 Kelembagaan
Untuk selanjutnya kami akan meningkatkan kualitas dan mutu SDM tenaga teknis di Balai Benih Padi Palawija, dan akan bekerjasama dengan BPTP untuk mendapatkan VUB dan kompenen Teknologi serta bekerjasama dengan pihak lainnya yang berkompoten dibidang perbenihan
Sarana dan
Prasarana Masih kurangnya peralatan pengolahan benih padi palawija
Tahun 2013 kita sudah mengusulkan Padi ke DINAS
Pembiayaan
Belum ada pihak Dinas Pertanian untuk membantu mengatasi
Dalam usulan ini akan ada pihak yang membantu
Manajemen Masih minimnya Teknologi
yang dimiliki oleh petugas BBPP
Sudah diusulkan untuk diberi pelatihan
Pemasaran Belum adanya pihak yang
berkompoten di bidang perbenihan
kita akan bekerjasama ke petani atau distributor
2 Balai Benih Padi dan
Palawija Ds Durian Mas Kec.
Kota Padang Kab.
Rejang Lebong
Kurang/1 Kelembagaan Kekurangan personil tenaga
teknis tetap (PNS) Memanfaatkan tenaga THL dan
Tenaga kerja ditempat Penambahan Luas lahan benih minmial 5 ha, maka diperlukan perluasan lahan. Pembangunan fisik gedung yang sesuai dengan spek
Sarana dan
Prasarana Sarana dan prasarana pendukung kurang memadai
memperbaiki kerusakan mesin, memaksimalkan pemanfaatan lahan
Pembiayaan Hanya dianggarkan satu kali
dalam satu tahun, tidak ada anggaran rutin, tidak disediakan modal
Swadana
Manajemen kurang efektifnya dan efisien
karena jarak ke kantor Dinas Pertanian jauh (75 KM)
mengandalkan tenaga THL
Pemasaran Belum pernah dipasarkan
dalam bentuk benih
47 Lampiran 11 (Lanjutan)
No Balai Benih Kabupaten Ketersediaan
SDM Aspek Permasalahan Upaya Pemecahan/Solusi Arah/Rencana Pengembangan 3 Balai Benih Padi dan
Palawija Ds. Suka Bumi Kec.
Lebong Sakti Kab.
Lebong
Kurang/7 Kelembagaan - - Berupaya menghasilkan benih
padi dan palawija bermutu dan bersertifikasi (berlabel) demi kesejahteraan masyarakat
Sarana dan
Prasarana Kurang memadai Sewa dan untuk kelanjutannya mohon diperbantukan
Pembiayaan Biaya operasional tidak
mencukupi Mohon diperbantukan
Manajemen - -
Pemasaran - -
4 Balai Benih Induk
Padi Jln. Isnpeksi BBI
Desa Pondok Panjang Kec. V Koto Kab. Mukomuko
Kurang/1 Kelembagaan Kelembagaan masih di Dinas
BP3K Diusulkan
Sarana dan
Prasarana Kurangnya sarana dan prasarana BBI khususnya luas lahannya masih sedikit
Prasarana Kurangnya sarana dan prasarana BBI khususnya luas lahannya masih sedikit