ANALISIS LINGKUNGAN BISNIS
III.2 Analisis Lingkungan Eksternal
1. Ekonomi, Sosial, Politik dan Teknologi
Tahun 2013 Pemerintah menggulirkan Universal Coverage Assurance yang artinya jaminan kesehatan bagi seluruh penduduk Indonesia. Langkahnya dengan membentuk Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Universal Coverage merupakan system kesehatan dimana setiap warga di dalam populasi memiliki akses yang adil terhadap pelayanan kesehatan promotive, preventif, kuratif dan rehabilitative, yang bermutu dan dibutuhkan dengan biaya yang terjangkau. Cakupan universal mengandung dua elemen inti :
1. Akses pelayanan kesehatan yang adil dan bermutu bagi setiap warga
2. Perlindungan risiko finansial ketika warga menggunakan pelayanan kesehatan (WHO,2005)
Sejak diberlakukannya universal health coverage, biaya kesehatan seluruh masyarakat peserta Jaminan Kesehatan Nasional ditanggung oleh BPJS sehingga dapat dikatakan bahwa sumber pendapatan utama bagi rumah sakit pemerintah yang menerima pasien-pasien Jaminan Kesehatan Nasional adalah dari hasil pembayaran BPJS. Namun demikian, dalam beberapa tahun terakhir, BPJS mengalami defisit sehingga untuk dapat memenuhi seluruh tagihan dari fasilitas pelayanan kesehatan seyogyanya pemerintah melalui APBN/APBD membantu menanggulangi sehingga kebutuhan biaya operasional rumah sakit dapat dipenuhi tepat waktu.
Permasalahan lainnya adalah adanya perbedaan tarif antara BPJS dengan tarif yang dikenakan rumah sakit kepada pasien, dan juga rumitnya proses klaim tagihan rumah sakit kepada BPJS dibandingkan dengan perusahaan asuransi swasta lainnya. Kondisi tersebut mengakibatkan pendapatan RSUD Tarakan bersumber tagihan BPJS (>85%) kerap menurun. Pada era disruption seperti ini, RSUD Tarakan harus siap untuk mengalami perubahan model bisnis dan cepat menangkap peluang kolaborasi serta inovasi layanan. Solusi dapat dilakukan melalui peluang yang ada antara lain melalui pemanfaatan perkembangan digitalisasi yang saat ini terjadi pada seluruh aspek industri, termasuk industri pelayanan kesehatan di rumah sakit. Kompleksitas jenis layanan yang ada di rumah sakit seharusnya dapat diatasi dengan melakukan pengembangan sistem informasi manajemen rumah sakit.
Selain pengembangan sistem informasi maka teknologi terbaru yang dapat digunakan untuk menunjang pelayanan klinik (Clinical Service) dan penunjang pelayanan medis (Supporting Clinical Service) rumah sakit dimasa yang akan datang antara lain Advance in Digital Imaging, Hybrid Operating Rooms, Computer-Assisted and Robotic Surgery, Paperless Hospital dan Information Communication and Technologi (ICT). Namun jika melihat kondisi RSUD Tarakan saat ini, maka pengembangan Integrated Hospital Management Information System menjadi lebih prioritas dan realistis untuk dijalankan.
Kebijakan ASEAN – China free Trade Agreement (ACFTA) yang didukung dengan keputusan Menteri Kesehatan No.317 mengenai pendayagunaan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing di Indonesia, memungkinkan bagi rumah sakit untuk merekrut tenaga kesehatan asing yang memenuhi kualifikasi bekerja di rumah sakit.. Agar rumah sakit mampu memiliki kemampuan daya saing global maka Rumah sakit dituntut untuk mendapatkan akreditasi dari lembaga-lembaga khusus seperti komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS), International Organization for Standardization (ISO), maupun Joint Commission International (JCI).
2. Pemasok
Industri pelayanan kesehatan di rumah sakit sangat bergantung terhadap pasokan barang-barang dan jasa yang disediakan oleh pihak ketiga. Implikasi terhadap ketepatan waktu pembayaran tagihan RSUD Tarakan ke BPJS adalah tidak tersedianya dana untuk pembayaran barang/jasa pada saat jatuh tempo, sehingga suply bahan produksi untuk pemberian layanan kesehatan di rumah sakit misalnya obat menjadi tidak lancar.
Akumulasinya adalah pelayanan kepada pasien yang menjadi kurang optimal dan bermutu karena ketidak tersediaan obat/bahan pada saat dibutuhkan. Mengacu kepada UUD 1945 pasal 34 yaitu Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan pelayanan umum yang layak, maka mekanisme penanggulanan masalah melalui anggaran subsidi APBD atau APBN menjadi salah satu solusi yang efektif.
3. Pelanggan
Seiring dengan pelaksanaan Undang-Undang Jaminan Kesehatan Nasional, saat ini mayoritas pelanggan RSUD Tarakan berasal dari masyarakat peserta asuransi BPJS.
Konsekuensi atas peningkatan kelas RSUD Tarakan menjadi tipe A sehingga pada sistem rujukan pellayanan BPJS menjadi fasilitas pelayanan kesehatan tingkat lanjut, menyebabkan pelanggan BPJS yang berkunjung ke RSUD Tarakan menjadi lebih terbatas pada kasus-kasus yang sudah tidak tertangani di fasilitas kesehatan tingkat primer dan sekunder. Dampak dari menjadi terbatasnya masyarakat peserta BPJS yang berkunjung ke RSUD Tarakan, menimbulkan penurunan pendapatan RS sehingga perlu dikembangkan pelayanan pelanggan non BPJS untuk meningkatkan pendapatan RS.
4. Pesaing
Lokasi RSUD Tarakan di wilayah Jakarta Pusat sesungguhnya merupakan faktor strategis yang memiliki peluang untuk dapat lebih dikembangkan dengan melakukan evaluasi dan analisis terhadap kesenjangan dari penyediaan kebutuhan pelayanan kesehatan bagi warga masyarakat dengan ketersediaan produk layanan beserta sumber daya yang dimiliki. Rumah Sakit tipe A milik Pemerintah Pusat yang merupakan pesaing bagi RSUD Tarakan seyogyanya dapat dioptimalisasi melalui kerjasama untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat di wilayah DKI Jakarta, terlebih di Jakarta Pusat.
Tabel III. 2 Data Jumlah Rumah Sakit dan Tempat Tidur di DKI Jakarta No Fasilitas
Kesehatan
Tahun
2013 2014 2015 2016 2017
A Rumah Sakit 159 159 159 182 Xxx
1 RS Umum 90 90 90 125 Xxx
2 RS Khusus 69 69 69 57 Xxx
B Tempat Tidur 22,398 22,818 22,890 - Xxx
TT Umum 17,461 17,707 17,763 Xx
TT Khusus 4,937 5,111 5,127 xxx
Tabel III. 3 Data Jumlah Rumah Sakit dan Tempat Tidur di DKI Jakarta
No Fasilitas Kesehatan Alamat Pemilik
1 RSB Budi Kemuliaan
Jl. Budi Kemuliaan No. 25
Swasta Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Indonesia
10110 2 RS Umum Pusat Nasional
Dr Cipto Mangunkusumo
Jl. Diponegoro No. 71 Senen
Kemenkes Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Indonesia
10430 3 Rumah Sakit Jakarta
Jalan Jenderal Sudirman Kav.49
Swasta Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Indonesia
12930
Jakarta Pusat, Jakarta, Indonesia 1041 5 Rumah Sakit AL dr.
Mintohardjo
Jl. Bendungan Hilir No. 17 - Tanah
Abang, Kemenhan
Jakarta Pusat, Jakarta, Indonesia 10210 6 Rumah Sakit St. Carolus Jl. Salemba Raya No. 41 - Senen,
Swasta
Jakarta Pusat, Jakarta, Indonesia 10440
7 Rumah Sakit MH Thamrin Salemba
Jl. Salemba Tengah, No. 26-28 - Senen,
Swasta Jakarta Pusat, Jakarta, Indonesia 10440
8 Rumah Sakit Umum Sawah Besar
Jalan Dwi Warna No. 6-8, Karang Anyar, Sawah Besar, RT.15/RW.9, Kartini, Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Jakarta 10240
07, RT.5/RW.7, Kb. Kacang, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10240
Pemerintah Daerah
10 RSUK Taman Sari
Jl. Madu No. 10, Kel. Mangga Besar, Taman Sari, RT.2/RW.3, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11150
Pemerintah Daerah
11 RS Husada
Jl.Mangga Besar No. 137 - 139, Mangga
Besar Swasta
Jakarta Pusat
Selain rumah sakit tipe A dan rumah sakit lainnya di wilayah Jakarta Pusat merupakan pesaing RSUD Tarakan, maka seiring dengan kebijakan yang dikeluarkan pada tahun 2015 dan 2016 oleh Dinas Kesehatan DKI Jakarta yaitu Puskesmas Kecamatan menjadi RSUD Tipe D. Untuk di wilayah Jakarta Pusat ada 6 puskesmas kecamatan yang menjadi RSUD Tipe D yaitu : RSUD Johar Baru, RSUD Kemayoran, RSUD Cempaka Putih, RSUD Sawah Besar, RSUD Gambir, dan RSUD Tanah Abang. Ke 6 RSUD tersebut memberikan pelayanan kesehatan spesialis rawat jalan 4 dasar, layanan rawat inap dan layanan unggulan nya masing – masing.