BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PUTUSAN
2. Analisis Materil Putusan Mahkamah Konstitusi
Menurut Abdul Wahhab Khallap, prinsip-prinsip yang diletakkan Islam dalam perumusan Undang-Undang adalah jaminan atas hak-hak asasi manusia setiap anggota masyarakat dan persamaan kedudukan semua orang di mata hukum, tanpa membeda-bedakan strafikasi sosial, kekayaan, pendidikan, dan agama.
Pembahasan konstitusi juga berkaitan dengan sumber-sumber dan kaidah perUndang-Undangan di suatu Negara, baik sumber material, sumber sejarah, sumber pengundangan maupun sumber penafsirannya. Sumber material adalah hal-hal yang berkenaan dengan materi pokok Undang-Undang dasar. Inti persoalan dalam sumber konstitusi ini adalah peraturan tentang hubungan antara pemerintah dan rakyat yang diperintah.
Kemudian agar mempunyai kekuatan hukum, sebuah Undang-Undang yang akan di rumuskan harus mempunyai landasan atau dasar perundangan. Dengan landasan yang kuat maka Undang-Undang tersebut akan memiliki kekuatan pula untuk mengikat dan mengatur masyarakat dalam Negara yang bersangkutan. Sementara sumber penafsiran adalah
otoritas para ahli hukum untuk menafsirkan atau menjelaskan hal-hal yang perlu pada saat Undang-Undang dasar tersebut diterapkan.4
Sumber utama pembentukkan Undang-Undang dasar dalam Islam adalah al-Quran dan sunnah. Akan tetapi al-Quran bukan Undang-Undang, al-Quran tidak merinci lebih jauh tentang bagaimana hubungan pemimpin dan rakyatnya serta hak dan kewajiban mereka masing-masing, dan al-Quran hanya memuat konsep-konsep dasar atau prinsip umum pemerintahan Islam secara global saja, maka ayat-ayat tersebut yang masih global ini kemudian di jelaskan oleh Nabi dalam sunnahnya, baik berbentuk perkataan, perbuatan, maupun takrir atau ketetapannya. Namun dalam prakteknya al-Quran dan sunnah tidaklah kaku, sehingga menyerahkannya kepada umat Islam untuk membentuk dan mengatur pemerintahan. Serta menyusun konstitusi yang sesuai dengan perkembangan zaman dan konstitusi sosial masyarakatnya. Dalam hal ini, dasar-dasar hukum Islam lainnya, seperti Ijma, Qiyas, Ihtihsan, Maslahah
mursalah, dan Urf memegang peranan penting dalam perumusan
konstitusi. Hanya saja, penerapan dasar-dasar tersebut tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip pokok yang telah di gariskan dalam al-Quran dan Sunnah.
4
Muhammad Iqbal, Fiqih Siyasah: Kontekstualisasi Doktrin Politik Islam, Cet Ke- 2 (Gaya Media Pratama, 2007), h. 153-154
74
Mengenai materil Undang-Undang tentang tata cara pelaksanaan pidana mati, dalam hal ini menurut pemohon pengujian Undang-Undang tersebut bertentangan dengan UUD 1945. Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa ukuran yang harus di pedomani tentang penyiksaan harus mengacu kepada rumusan yang dianut dalam instrumen hukum Hak Asasi Manusia (HAM) dan Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan Kejam Atau Penghukuman Lain Yang Kejam, Tidak Manusia, Atau Merendahkan Martabat Manusia. Konvensi yang mengatur pelarangan penyiksaan baik fisik maupun mental, dan perlakuan atau penghukuman lain yang lain yang kejam, tidak manusia, atau merendahkan martabat manusia yang dilakukan oleh atau atas hasutan dari atau dengan persetujuan atau sepengetahuan pejabat publik (publik
authority) juga tidak dapat digunakan sebagi pembenaran atau suatu
penyiksaan.5 Adapun penyiksaan yang diatur dalam konvensi ini tidak
mencakup rasa sakit atau penderitaan yang timbul, melekat, atau diakibatkan oleh sanksi hukum yang berlaku.6
Dan selnjutnya Mahkamah memberikan ukuran yang perlu dipedomani untuk menghindari pelaksanaan pidana mati yang
5
Lihat pasal 1 angka 4 (empat) UU No 5 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
6
Lihat UU No 5 Tahun 1998 tentangPengesahan Convention Against Torture And Other Cruel, Inhuman Or Degrading Treatment Or Punishment (Konvensi Menentang Penyiksaandan Perlakuan Atau Penghukuman Lain Yang Kejam, Tidak Manusia, Atau Merendahkan Martabat Manusia)
menimbulkan penderitaan terpidana secara berkepanjangan, dan siksaan yang dirasakan, diukur bukan hanya dari subjektif terpidana sendiri, melainkan juga dari objektif masyarakat. Yang akan melihat pokok persoalan demikian dari hal-hal berikut, ukuran dalam menentukan apakah suatu tata cara pelaksanaan pidana mati merupakan sesuatu yang kejam, tidak manusiawi, dan tidak biasa, dapat dinilai dari pelaksanaan, yaitu: (i) jika cara yang dilakukan menimbulkan penderitaan yang panjang dan tidak diperlukan dalam menimbulkan kematian, (ii) bertentangan dengan ukuran kesusilaan yang dianut dalam masyarakat dan, (iii) tidak menjaga dan mempertahankan harkat mertabat terpidana sebagi manusia.
Bertolak dari sifat mulia manusia dalam syariat, tidak ada pertentangan anatara hukum Islam dan larangan umum penyiksaan, atau perlakuan kejam, tidak manusiawi dan merendahkan martabat atau larangan menjadikan manusia sebagai obyek percobaan medis dan ilmiah tanpa kerelaan subyek. Ada banyak ayat al-Quran dan hadis Nabi yang memerintahkan kasih sayang dan melarang kekejaman dan penindasan bahkan pada binatang. Dalam upaya mengikuti prinsip manusiawi syariat ini, Khlifah Umar Ibn Abdul Aziz, saat menjawab permintaan salah seorang gebenurnya yang ingin menyiksa mereka yang menolak
76
membayar pajak untuk perbendaharaan publik, pada saat itu khalifah menjawab sebagai berikut:7
”saya heran dengan permohonan izinmu padaku untuk menyiksa seolah-olah aku bisa menjadi pelindungmu dari amarah Allah, dan kepuasanku akan menyelamatkanmu dari kemarahannya. Begitu kau menerima surat ini, terimalah apa yang telah mereka berikan kepadamu atau mintalah sumpah dari mereka. Demi Allah, sungguh lebh baik bila mereka menghadapi Allah karena pelanggaran mereka dapripada aku mengahdap Allah karena menyiksa mereka”
Dan para Ulama fiqh pun sepakat bahwa penyiksaan atau perlakuan atau penghukuman yang kejam dan tidak manusiawi dilarang selama dalam proses penghukuman. Karena sesungguhnya Islam mengajarkan prinsip penghormatan kepada individu serta meletakkan nilai kemanusiaan yang tinggi di dunia yaitu sebagai khalifah, maka walaupun dalam menghukum pelaku kejahatan harulah tetap menganut prinsip-prinsip yang telah di ajarkan Islam.
Dari penjelasan di atas dapatlah dipahami dari beberapa pendapat Mahkamah Konstitusi sangatlah sesuai dengan prinsip-prinsip yang diajarkan Islam, yang mana pendapat Mahkamah menganut prinsip penghormatan dan menjaga mertabat manusiawi serta menolak hukuman yang kejam atau tidak manusia dan hukuman yang dapat menimbulkan penyiksaan. Dalam pedoman yang dianut oleh Mahkamah tentang penyiksaan mengacu kepada rumusan yang dianut dalam instrumen
7
hukum Hak Asasi Manusia (HAM) dan Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan Kejam Atau Penghukuman Lain Yang Kejam, Tidak Manusia, Atau Merendahkan Martabat Manusia, sangatlah bersesuaian dengan nilai-nilai dasar Islam.
B. Analisis Hukum Islam Terhadap Amar Putusan Mahkamah Konstitusi No