HASIL DAN PEMBAHASAN
3. Analisis Matriks SWOT
Rangkuti (1997) mengatakan bahwa analisis SWOT adalah indentifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (threats). Keunggulan yang dimiliki model ini adalah kemampuannya dalam memformulasikan strategi berdasarkan gabungan faktor eksternal dan internal tersebut. Empat strategi utamayang dihasilkan yaitu strategi S- O, W-O, S-T, dan W-T dapat dilihat pada gambar 2.
Berdasarkan hasil analisis matriks SWOT pada gambar 2, maka alternatif strategi yang dapat diterapkan untuk mengembangkan usaha pembibitan domba di peternakan Tawakkal adalah sebagai berikut : Strategi S-O merupakan strategi yang menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk memanfaatkan peluang atau strategi yang memanfaatkan kekuatan internal perusahaan untuk menarik keuntungan dari peluang eksternal (David, 2009). Strategi yang dapat dilakukan adalah mengadakan
46
kerjasama dalam hal penelitian dan pengembangan peternakan. Hal ini dengan memanfaatkan peluang yang ada yaitu adanya instansi pemerintah baik dinas maupun perguruan tinggi dan swasta yang mengajak kerjasama baik dari segi bertukar ilmu dalam kunjungan praktikum, pengamatan, dan penelitian yang dilakukan di peternakan. Hal ini didukung dengan adanya pembagian kerja yang jelas, antar pekerja, pekerja yang terampil, ramah dan mau belajar serta fasilitas di peternakan yang memadai seperti kantor, jaringan listrik dan mess, mushola dan fasilitas lainya sehingga proses penelitian maupun kerjasama ini bisa dilakukan. Hal ini dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi bagi mereka untuk mengadakan penelitian yang hasilnya dapat dimanfaatkan dan digunakan untuk mengembangkan usaha peternakan ini khususnya usaha pembibitan.
Menteri Pertanian menerbitkan Surat Keputusan No.315/Kpts/KP.150/2000 tanggal 28 Juni 2000 tentang Komisi Bibit Ternak Nasional (KBTN) yang bertugas memberikan saran dan pertimbangan kepada Menteri Pertanian dalam penetepan kebijakan sistem perbibitan ternak nasional, pengujian, penilaian dan pelepasan strain dan atau breed baru, sertifikasi bibit ternak, dan pengawasan mutu bibit ternak, melalui Direktur Jenderal Produksi Ternak. Selama ini, dalam menjalankan tugasnya, KBTN melibatkan perguruan tinggi peternakan. Dengan adanya program ini diharapkan antara perguruan tinggi, pihak peternak, dan komponen pelaku peternakan mempunyai kesempatan dalam membangun dunia peternakan sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.
Semua manajer tentunya menginginkan organisasi mereka berada dalam posisi dimana kekuatan internal dapat digunakan untuk mengambil keuntungan dari berbagai tren dan kejadian eksternal. Secara umum, organisasi akan menjalankan strategi WO, ST, atau WT untuk mencapai situasi dimana mereka dapat melaksanakan strategi SO. Jika sebuah perusahaan memiliki kelemahan besar, maka perusahaan akan berjuang untuk mengatasinya dan mengubahnya menjadi kekuatan. Tatkala sebuah organisasi dihadapkan pada ancaman yang besar, maka perusahaan akan berusaha untuk menghindarinya untuk berkonsentrasi pada peluang (David, 2009).
Strategi W-O adalah strategi yang memanfaatkan peluang untuk mengatasi kelemahan. Strategi yang dilakukan adalah meningkatkan kapasitas usaha
pembibitan dengan melakukan kerja sama dengan pihak swasta dalam segi penanaman modal. Kondisi keuangan sering dianggap ukuran tunggal terbaik dari posisi bersaing perusahaan dan daya tarik keseluruhan investor (David, 2009). Usaha pembibitan yang dilakukan sejauh ini menggunakan modal pemilik peternakan sendiri, sehingga untuk mengembangkan skala usaha pembibitan dalam segi jumlah produksi, lahan, kandang masih sangat sulit. Peternakan Tawakkal belum melakukan kerjasama dengan pihak swasta apalagi dengan pihak bank terkait modal karena pemilik mengatakan bahwa pinjaman dari bank adalah hutang dan beliau tidak mau melakukan kerjasama dengan bank. Namun, jika beliau mendapatkan dana hibah dari bank dan tidak harus membayar bunga, beliau bersedia. Kerjasama yang mungkin dilakukan dengan sistem bagi hasil yang sama-sama menguntungkan untuk kedua belah pihak dimana peternakan bisa mendapatkan modal lebih untuk memperluas usaha pembibitanya baik dari segi jumlah ternak, lahan dan kandang.
Kelemahan lain yang dimiliki usaha pembibitan ini adalah tekonlogi pembibitan yang tidak digunakan. Teknologi tersebut yaitu inseminasi buatan (IB). hal ini dikarenakan pemiliki peternakan telah mencoba menggunakan IB untuk memperbanyak jumlah induk yang bunting namun hal ini gagal dan malah mengalami kerugian sehingga pemilik pembibitan ini tidak lagi menggunakan teknologi pembibitan dan lebih percaya dan yakin dengan perkawinan secara alami.
Strategi S-T adalah strategi yang menggunakan kekuatan untuk menghindari ancaman. Strategi yang digunakan yaitu pengadaaan kandang karantina untuk domba yang baru datang dari perjalanan jauh. Duldjaman dan Rahayu (1996) menyebutkan ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit antara lain: (1) memelihara kebersihan baik ternak, pakan, tempat minum, dan peralatannya, (2) tidak mencampur domba yang sakit dengan yang sehat sehingga tidak terjadi penularan, dan (3) melakukan vaksinasi dan pemberian obat pencegahan penyakit secara teratur. Pengadaan kandang karantina bisa dilakukan dengan menyekat kandang dan mencegah terjadinya kontak langsung antara domba yang baru datang dari perjalanan dengan domba yang telah ada sebelumnya karena kandang pembibitan yang dimiliki peternakan baru ada satu bangunan kandang.
48
Strategi W-T adalah strategi yang mengurangi kelemahan dan menghindari ancaman. Strategi yang dapat digunakan yaitu melakukan sistem kontrak yang jelas dengan pihak pemasok induk agar kapasitas kandang yang tersedia cukup sehingga penanganan domba bisa maksimal, kualitas tetap terjaga, dan harga yang jelas antara pemasok domba dengan pembeli domba dan kontinuitas ternak. Sistem kontrak ini dapat berupa jumlah domba yang akan dikirim dan waktu pengiriman yang jelas serta sistem pembayaran yang harus disepakati dan saling menguntungkan satu sama lain.
Strategi lain yang dapat dilakukan adalah melakukan kerjasama dengan masyarakat dalam pengadaan hijauan. Kerjasama penyediaan hijauan sebagai makanan ternak akan mengurangi biaya transportasi yang dikeluarkan untuk mencari rumput yang dilakukan selama ini dan tugas dari kepala kandang bisa terbantu dengan adanya pekerja yang berada di kandang. Keuntungan yang dapat diterima masyarakat dari kerjasama ini adalah masyarakat dapat meningkatkan pendapatannya dengan memasok bahan baku usaha ternak sehingga masyarakat juga merasakan keuntungan dari keberadaaan usaha ternak dan terjalinanya hubungan yang lebih baik dengan masyarakat.
Pengambilan keputusan atau pemilihan strategi dapat dilihat dari skor pembobotan pada strategi. Strategi yang memiliki nilai pembobotan yang paling tinggi dapat didahulukan dalam menerapkan strategi di usaha pembibitan ini. Strategi yang dapat diterapkan dalam waktu dekat (jangka pendek) adalah mengadakan kerjasama dalam hal penelitian dan pengembangan peternakan. Strategi jangka pendek ini dapat segera diterapkan karena melihat besarnya tingkat kepentingan kombinasi faktor-faktor tersebut dan memiliki prioritas yang tinggi pada usaha pembibitan ini sehingga bisa dapat diterapkan dalam waktu dekat. Sedangkan strategi jangka panjang yang dapat diterapkan adalah melakukan kerjasama dengan masyarakat dalam pengadaaan hijauan.
4
9
INTERNAL
EKSTERNAL
Strengths (S)
1. Bibit yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik (0,332) 2. Induk dan pejantan yang digunakan dipilih yang bagus (0,332) 3. Lokasi peternakan yang strategis (0,236)
4. Jumlah pekerja yang memadai (0,219)
5. Pekerja yang digunakan terampil, ramah dan mau belajar (0,219)
6. Adanya mess, mushola, saung dan fasilitas lainya di peternakan (0,219)
7. Adanya pembagian kerja yang jelas (0,256)
8. Kandang dan lokasi peternakan yang bersih dan tidak bau (0,332)
9. Lokasi peternakan yang aman dari pencurian (0,189)
Weakneeses (W)
1. Sistem recording yang tidak teratur (0,332)
2. Keterbatasan modal (0,269)
3. Teknologi pembibitan tidak digunakan (0,082)
4. Jumlah kandang masih terbatas (0,189) 5. Lahan yang masih terbatas (0,219)
Opportunies (O)
1. Permintaan bibit domba yang tinggi (0,404) 2. Persaingan usaha pembibitan masih sedikit (0,404) 3. Tingkat kepercayaan pelanggan yang tinggi (0,404) 4. Adanya dukungan masyarakat sekitar (0,267)
5. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan konsumsi daging (gizi) (0,102)
6. Instansi pemerintah maupun swasta banyak yang mengajak kerjasama (0,267)
7. Budaya masyarakat menjelang Idul Adha (0,228)
Strategi S-O
1. Mengadakan kerjasama dalam hal penelitian dan pengembangan peternakan
(S4, S5, S6,S7 O6) (1,18)
Strategi W-O
1. Meningkatkan kapasitas usaha pembibitan dengan melakukan kerja sama dengan pihak swasta dalam segi penanaman modal (W2, W4, W5, O6) (0,944)
Treaths (T)
1. Penyebaran penyakit dari induk yang dibeli dari Jawa (0,404)
2. Kenaikan biaya transportasi (0,267)
3. Dukungan pemerintah kabupaten yang rendah dalam segi modal dan administrasi (0,303)
4. Perjanjian kerjasama yang tidak kuat dan terikat dari pemasok indukan di Jawa (0,354)
Strategi S-T
1. Pengadaaan kandang karantina untuk domba yang baru datang dari perjalanan jauh (S6, S7, T1)
(0,879)
Strategi W-T
1. Melakukan sistem kontrak yang jelas dengan pihak pemasok induk (W2, W4, W5, T4)
(1,031)
2. Melakukan kerjasama dengan masyarakat dalam pengadaan hijauan (W5, T2)
(0,486) Gambar 3. Matriks SWOT Usaha Pembibitan Domba Tawakkal Farm dengan Skor Pembobotannya
50