• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.5 Analisis Data

Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Nama Ilmiah tumbuhan diperiksa melalui Plantlist.org. Data yang diperoleh dikelompokkan menjadi data spesies tumbuhan obat dan pemanfaatan tumbuhan obat. Data pemanfaatan tumbuhan obat meliputi bagian tumbuhan yang digunakan sebagai obat, kelompok penyakit / kegunaan tumbuhan obat dan cara pemanfaatan tumbuhan obat tersebut oleh masyarakat.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Karakteristik Responden

Desa Buluh Cina terdiri dari 4 dusun dimana diperoleh 8 responden yang diwawancarai. Dusun I yaitu ketua adat dan 2 orang pengguna obat. Dusun II yaitu pengguna obat. Dusun III yaitu ketua adat, bidan anak dan pengguna obat.

Sedangkan dusun IV yaitu pembudidaya TOGA. Dari masing-masing responden memiliki perannya masing masing. Seluruh responden adalah pengguna obat tradisional di Desa Buluh Cina. Untuk mendapatkan informasi awal terkait pemanfaatan tanaman obat di Desa Buluh Cina, di dapat dari ketua adat dusun I.

Sehingga ketua adat dusun I kemudian memberikan rekomendasi responden yang bertugas sebagai pengobat dan juga masyarakat yang menggunakan tumbuhan sebagai obat tradisional.

Kisaran umur responden terbanyak 31-50 tahun, yang menunjukkan bahwa responden dengan usia 31-50 tahun mengetahui banyak jumlah spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat dibanding dengan kisaran umur responden lainnya. Responden termuda berumur 23 tahun sedangkan responden tertua berumur ≥ 60 tahun. Hal tersebut menunjukkan bahwa penggunaan tumbuhan obat ternyata dimanfaatkan dari oleh kalangan muda hingga tua. Meskipun frekuensi pemanfaatan dan pengetahuan tanaman obat berbeda oleh masing masing umur.

Umumnya, responden dengan usia muda mempunyai pengetahuan yang terbatas dibanding dengan responden usia tua. Namun responden dengan usia lanjut pun banyak memanfaatkan tanaman obat walaupun penggalian pengetahuan mengenai pemanfaatan tanaman obat terkendala dengan ingatan responden yang berkurang.

4.2 Keanekaragaman Tumbuhan Obat

Hasil wawancara dari 8 responden yang terdiri dari beberapa tokoh masyarakat terdapat 27 spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Buluh Cina, seperti terlihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Spesies-spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Buluh Cina Kabupaten Kampar Provinsi Riau

No Tumbuhan Obat Penyakit yang

diobati

Cara pengolahannya 1 Spesies : Zingiber officenalle

Family : Zingiberaceae

Ambil 1 buah rimpang jahe yang sudah dibersihkan. Rebus dengan 2 gelas air.

Tambah secukupnya pada bagian yang sakit kemudian dibalut dengan kain.

2 Spesies : Curcuma domestica Family : Zingiberaceae Lokal : Kunyit

Bagian yang digunakan : Rimpang

garam, minum selagi hangat.

3 Spesies : Kaempferia galanga Family : Zingiberaceae 4 Spesies : Costus speciosus

Family : Costaceae sapu pada kulit yang luka

Kemudian di blender, saring dan diminum.

Konsumsi rutin hingga tidak sakit lagi

5 Spesies : Bryophyllum pinnatum sebanyak 7 lembar + jahe secukupnya. Lalu minum air rebusannya 6 Spesies : Ricinus communis

Family : Euphorbiaceae

2-3 lembar daun sirih yang sudah bersih ditumbuk, kemudian tempelkan pada gigi yang sakit

Penawar Racun : 2-3 lembar daun sirih dibersihkan dan langsung di kunyah atau dimakan

8 Spesies : Alpinia galanga 10 Spesies : Areca catechu

Family : Arecaceae

11 Spesies : Psidium guajava yang luka lalu dibalut dengan kain

12 Spesies : Piper ornatum Family : Piperaceae Lokal : Sirih Merah

 Diabetes Bagian yang

digunakan adalah daun 7 lembar daun direbus, saring kemudian diminum selagi hangat 13 Spesies : Gluta renghas

Family : Anacardiaceae Lokal : Rengas langsung setiap hari 14 Spesies : Terminalia catappa

Family : Combretaceae

15 Spesies : Helminthostachys zeylanica

dengan kuning telur.

Siap diminum 16 Spesies : Galearia filiformis

Family : Pandaceae yang luka lalu dibalut dengan kain saring dan minum air rebusan setiap hari.

17 Spesies : Eurycoma longifolia Family : Simaroubaceae air sebanyak 2 gelas.

Tunggu mendidih hingga air rebusan menjadi 1 gelas.

Diminum pada pagi, siang dan malam hari 18 Spesies : Leea indica Merr

19 Spesies : Curcuma zedoaria di rebus kemudian air rebusan diminum setiap hari

20 Spesies : Euodia hortensis Forst pada perut yang sakit.

21 Spesies : Melastoma malabathricum L. pada kulit yang luka lalu dibalut dengan kain

22 Spesies : Cratoxylum arborescens pada kulit yang sakit 23 Spesies : Macaranga Triloba

Family : Euphorbiaceae

24 Spesies : Garcinia dibacok atau di kupas sehingga

mengeluarkan air.

Minum air yang keluar dari batangnya

25 Spesies : Spathodea campanulata 27 Spesies : Crinum asiaticum L.

Family : Amaryllidaceae

Dari 27 spesies diatas dapat lihat bahwa masyarakat menggunakan tanaman tanaman tersebut untuk kesembuhan penyakit penyakit ringan, seperti luka, panu, demam, masuk angina, sakit perut dan sebagainya. Pemanfaatan tanaman tersebut sudah menjadi bagian yang melekat pada masyarakat Desa Buluh Cina. Namun masyarakat Desa Buluh Cina sendiri selain menggunakan tanaman obat berkhasiat juga menggunakan obat obatan kimia yang berasal dari dokter.

Di Desa Buluh Cina Kabupaten Kampar terdapat hutan seluas 2500 Hektar.

Didalamnya banyak terdapat spesies-spesies tumbuhan yang berguna sebagai obat obatan. Masyarakat Desa Buluh Cina banyak memanfaatkan tanaman tanaman obat yang ada di dalam hutan, karena selain banyaknya tanaman tanaman yang tumbuh juga lokasi hutan sangat dekat dengan pemukiman Masyarakat Desa Buluh Cina.

Tidak hanya didalam hutan saja, namun perkarangan rumah juga dimanfaatakan.

Masyarakat Desa Buluh Cina Kabupaten Kampar Provinsi Riau keluar masuk hutan sudah menjadi biasa, sebab salah satu mata pencaharian masyarakat tersebut adalah petani dan nelayan.

4.3 Pemanfaatan Tumbuhan Obat

Pada umumnya Desa Buluh Cina telah mengalami peningkatan mutu kesehatan, dimana akses masyarakat untuk mendapatkan penunjangan kesehatan seperti puskesmas sudah mudah didapat, namun selain mengonsumsi obat-obatan dokter, masyarakat juga masih menggunakan obat obat tradisional yang dipercayai ampuh untuk mengobati berbagai penyakit.

Dari penelitian yang dilakukan di Desa Buluh Cina Kabupaten Kampar Provinsi Riau yang mewakili masing masing Dusun I, Dusun II, Dusun III dan Dusun IV, jumlah tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Desa Buluh Cina

Kabupaten Kampar Provinsi Riau berjumlah 27 spesies dari 20 famili. Spesies tumbuhan yang dimanfaatkan oleh Dusun Dusun secara umum tidak telalu berbeda.

Gambar 4.1 Jumlah spesies dan famili tumbuhan obat disetiap dusun di Desa Buluh Cina Kabupaten Kampar Provinsi Riau

Spesies tumbuhan yang berasal dari famili Zingiberaceae merupakan spesies tumbuhan obat yang paling banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Buluh Cina yaitu diantaranya Zingiber officinale, Curcuma domestica, Kaempferia galanga L.

Zingiberaceae merupakan salah satu tumbuhan yang banyak ditemukan pada kawasan hutan hujan tropis, terutama Indo-Malaya. Zingiberaceae dapat hidup dari dataran rendah sampai pada ketinggian lebih dari 2000 mdpl terutama di daerah

0 5 10 15 20 25

Dusun I Dusun II Dusun III Dusun IV

Jumlah

Lokasi Spesies Famili

dengan curah hujan yang tinggi (Washikah, 2016).

Tumbuhan dengan famili Zingiberaceae sangat banyak digunakan oleh masyarakat Desa Buluh Cina karena sangat mudah dijumpai, selain dipekarangan masyarakat juga tumbuh subur di Hutan Taman Wisata Buluh Cina dekat dengan pemukiman masyarakat setempat. Selain juga digunakan sebagai bumbu masakan tumbuhan dengan famili Zingiberaceae ini juga dimanfaatkan untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Bagian tumbuhan yang dimanfaatkan dari famili Zingiberaceae tersebut adalah bagian rimpang.

Jahe atau yang disebut dengan Zingiber officenale pada umumnya dimanfaatkan oleh masing masing dusun yang ada di Desa Buluh Cina untuk mengobati masuk angin, untuk mengobati bisul dimanfaatkan oleh dusun I dan dusun III. Cara pengolahannya sangat sederhana, untuk mengatasi masuk angin cukup direbus 1 rimpang jahe dengan gula aren secukupnya kemudian air rebusan diminum, sedangkan untuk mengatasi bisul, cukup ambil 1 ruas rimpang jahe, tumbuk lalu balut dengan kain.

Kunyit atau yang disebut dengan Curcuma domestica dimanfaatkan oleh seluruh dusun yang ada di Desa Buluh Cina sebagai penambah nafsu makan untuk anak-anak. 2-3 buah rimpang kunyit lalu dipotong-potong, kemudian di rebus dengan air secukupnya. Setelah mendidih, saring dan tambahkan sedikit garam lalu minum selagi hangat.

Kencur atau yang disebut dengan Kaempferia galanga L. juga dimanfaatkan oleh seluruh dusun yang ada di Desa Buluh cina untuk mengobati batuk. Bagian yang dimanfaatkan dari tumbuhan ini adalah rimpang. Cara pengolahannya adalah parut 2-3 rimpang kencur hingga halus, rebus dengan air hingga mendidih kemudia saring dan minum selagi hangat. Konsumsi setiap hari hingga sembuh.

4.3.1 Pemanfaatan Tumbuhan Obat Berdasarkan Bagian Tumbuhan Yang Digunakan

Organ tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Buluh Cina adalah buah, akar, getah, daun, batang, kulit batang, rimpang dan pucuk daun. Dari Gambar 4.2 dapat dilihat bahwa organ tumbuhan yang paling banyak digunakan sebagai pengobatan yaitu daun.

Gambar 4.2 Grafik bagian tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat tradisional Spesies tumbuhan yang digunakan untuk mengobati berbagai penyakit dapat memiliki satu atau lebih khasiat yang berbeda dari berbagai organ tumbuhan yang dimiliki, pada umumnya yaitu akar, rimpang, batang, daun, buah, biji, dan bunga. Adanya satu atau lebih khasiat yang berbeda dalam bagian tumbuhan obat menunjukkan kandungan zat-zat yang berbeda pula.

0 2 4 6 8 10 12 14 16

Buah Akar Getah Daun Batang Kulit

Batang

Rimpang Pucuk Daun

Jumlah Spesies

Bagian Tumbuhan

Ada beberapa tanaman obat yang memiliki lebih dari satu khasiat yaitu salah satunya pepaya (Carica papaya) dengan bagian tumbuhan yang dimanfaatkan adalah daun. Dusun I memanfaatkan daun pepaya untuk mengobati malaria dan maag. Dusun III memanfaatkan daun pepaya untuk mengobati malaria, maag dan sebagai penambah nafsu makan untuk anak anak. Sedangkan, Dusun IV memanfaakan daun pepaya untuk mengobati malaria dan maag. Untuk pengolahannya sendiri dengan cara bersih kan 5-7 lembar daun pepaya, tambah air secukupnya kemudian ditumbuk dan diperas. Minum air hasil perasan daun pepaya.

Tinggi nya pemanfaatan daun sebagai pengobatan karena produktivitas daun jauh lebih banyak dibanding dengan organ tumbuhan lainnya. Selain itu, daun juga mudah didapat dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Keberadaan senyawa aktif dalam tumbuhan yang memberikan efek sebagai obat dapat dimengerti mengingat tumbuhan pada tahap awal melakukan proses fotosintesis menghasilkan glukosa, yang selanjutnya melalui proses biokimia tumbuhan menghasilkan metabolit primer karbohidrat, protein, lemak dan asam nukleat. Metabolit primer ini melalui tiga macam alur biosintesis (alur asetil koenzim A, asam mevalonate dan asam sikimat) dan sifat genetika masing-masing dan dengan bantuan enzim dapat menghasilkan ratusan hingga ribuan macam senyawa kimia alami yang disebut dengan metabolit sekunder yang berguna bagi tumbuhan sendiri dan bagi lingkungannya (termasuk khasiat sebagai obat untuk manusia) (Supriyatna dkk., 2015).

4.3.2 Pemanfaatan Tumbuhan Obat Berdasarkan Jenis Penyakit

Terdapat 22 jenis penyakit yang dapat di obati oleh masyarakat dengan memanfaatkan tumbuhan obat, seperti yang terlihat pada Gambar 4.3. Pemanfaatan

tumbuhan obat yang paling banyak adalah pada jenis penyakit luka dengan 7 jenis tumbuhan obat. Adapun jenis tumbuhan yang dapat mengobati penyakit luka yaitu batang setawar (Costus speciosus), kulit batang geronggang (Cratoxylum arborescens), daun keduduk (Melastoma malabathricum L.), daun jambu biji (Psidium guajava L.), daun mali mali (Leea indica Merr), daun mahang (Macaranga Triloba) dan daun kayu tulang (Galearia filiformis).

Gambar 4.3 Grafik penyakit yang dapat diobati

0 1 2 3 4 5 6 7 8

Jumlah Spesies

Penyakit yang diobati

Pemanfaatan spesies-spesies tumbuhan tersebut merupakan pengobatan alternatif yang digunakan oleh masyarakat setempat. Selain dapat dijangkau, cara pengolahannya pun tidak memakan banyak waktu dan juga tidak memerlukan teknik kusus dalam pengolahannya. Dalam segi biaya, penggunaan tumbuhan obat pun relatif lebih murah dibanding penggunaan obat kimia.

4.4 Cara Pemanfaatan Tumbuhan Obat

Cara pengolahan adalah proses pemanfaatanan spesies tumbuhan obat untuk dapat siap digunakan. Roosita et al (2011) mengatakan bahwa cara pengolahan tumbuhan obat dari bahan segar merupakan proses terpenting dalam pengobatan secara herbal. Cara pengolahan tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Buluh Cina yaitu dibakar, direbus, dihaluskan, dikikis, ditumbuk/diperas dan dikunyah. Dapat dilihat pada Gambar 4.4.

Cara penggunaan tumbuhan obat merupakan suatu cara yang menjadikan suatu spesies tumbuhan obat atau ramuan tumbuhan obat yang telah diolah dapat dirasakan manfaatnya untuk pengobatan. Cara penggunaan dikategorikan ke dalam empat cara, yaitu cara penggunaan secara oral atau dimasukan ke dalam tubuh penderita, cara penggunaan pada bagian luar tubuh penderita, cara penggunaan dengan memandikan penderita dengan air atau uap dari ramuan tumbuhan obat dan gabungan dua atau beberapa cara penggunaan tersebut. Cara penggunaan spesies tumbuhan obat atau ramuan tumbuhan obat secara oral/dimasukan ke dalam tubuh penderita, yaitu dengan cara diminum dan dimakan. Cara penggunaan dengan pada bagian luar tubuh penderita dilakukan dengan cara dibalurkan, dioleskan dan ditempelkan/dikompreskan (Rahayu, 2011). Adapun cara penggunaan tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Buluh Cina yaitu ditempelkan, dimakan langsung , diminum dan digosok. Dapat dilihat pada Gambar 4.4.

(a)

(b)

Gambar 4.4 Grafik Cara pengolahan dan penggunaan tumbuhan obat : (a) cara pengolahan, (b) cara penggunaan.

Pengolahan pemanfaatan tumbuhan oleh masyarakat Desa Buluh Cina lebih banyak direbus. Pengolahan dengan cara di rebus jauh lebih praktis dan lebih mudah untuk mengambil khasiat tumbuhannya dari pada pengolahan yang lain.

Penggunaan dengan diminum adalah cara penggunaan terbanyak oleh masyarakat Desa Buluh Cina, ini sebanding dengan banyaknya pengolahan dengan cara direbus.

4.5 Spesifikasi Tumbuhan Obat 4.5.1 Tumbuhan Jahe

Berdasarkan Plantamor (2019), kedudukan jahe dalam sistematika tumbuhan (taksonomi) diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta Kelas : Liliopsida Ordo : Zingiberales Famili : Zingiberaceae Genus : Zingiber

Spesies : Zingiber officenale Gambar 4.5 Jahe Jahe merupakan salah satu rempah rempah yang banyak digunakan untuk konsumsi dan juga untuk kesehatan salah satunya adalah untuk mengatasi mual muntah. Jahe merupakan bahan yang mampu mengeluarkan gas dari dalam perut.

Jahe juga merupakan stimulan aromatik yang kuat, disamping dapat meningkatkan gerakan peristaltic usus. Senyawa di dalam jahe telah terbukti memiiki aktivitas anti emetik yang manjur. Efek farmakologis jahe adalah menambah nafsu makan, memperkuat lambung, peluruh kentut, peluruh keringat, pelancar sirkulasi darah, penurun kolesterol, anti muntah, anti radang, anti batuk, dan memperbaiki pencernaan (Rofi’ah dkk., 2017).

Komponen dalam oleoresin jahe terdiri dari gingerol, zingiberen, shagaol, minyak aksiri, dan resin. Pemberi rasa pedas pada jahe yang utama adalah zingerol, Rimpang jahe juga mengandung flavonoid. Karakteristik hangat dari jahe berkhasiat menghangatkan tubuh dan membantu menstimulasi sirkulasi darah (Harmawati dkk., 2018).

4.5.2 Tumbuhan Kunyit

Berdasarkan Plantamor (2019), kedudukan kunyit dalam sistematika tumbuhan (taksonomi) diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta Kelas : Liliopsida Ordo : Zingiberales Famili : Zingiberaceae Genus : Curcuma

Spesies : Curcuma domestica Gambar 4.6 Kunyit Kunyit adalah tanaman tropis yang banyak terdapat di benua Asia yang secara ekstensif dipakai sebagai zat pewarna dan pengharum makanan. Kunyit juga digunakan sebagai bahan pewarna, obatan dan perasa sejak 600 SM. Kunyit dianggapkan sebagai salah satu herba yang sangat bernilai kepada manusia. Dalam sejarah perobatan rakyat India, kunyit dianggapkan sebagai bahan antibiotik yang terbaik sementara pada masa yang sama kunyit juga digunakan untuk memudahkan proses pencernaan dan memperbaiki perjalanan usus. Di India, secara tradisional kunyit telah digunakan sebagai pelawanan penyakit yang berhubungan dengan empedu maupun “hepato-biliary disorders”, batuk, diabetes dan penyakit hepatik, reumatik dan sinusitis (Shan dkk., 2018).

Kandungan kunyit mempunyai fungsi sebagai antibakteri dan antioksidan.

Kurkumin yang terkandung di dalam kunyit memiliki khasiat yang dapat mempengaruhi nafsu makan karena dapat mempercepat pengosongan isi lambung sehingga nafsu makan meningkat dan memperlancar pengeluaran empedu sehingga meningkatkan aktivitas saluran pencernaan (Muliani, 2015).

4.5.3 Tumbuhan Kencur

Berdasarkan Plantamor (2019), kedudukan kencur dalam sistematika tumbuhan (taksonomi) diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta Kelas : Liliopsida Ordo : Zingiberales Famili : Zingiberaceae Genus : Kaempferia

Spesies : Kaempferia galangal Gambar 4.7 Kencur Rimpang kencur (Kaempferia galanga L.) merupakan salah satu tanaman herbal dan sudah di kenal luas di masyarakat baik sebagai pengobatan, diantaranya adalah batuk, mual, bengkak, bisul, diare dan anti toksin seperti keracunan tempe bongkrek dan jamur. Selain itu dikenal juga untuk bumbu makanan. Minuman beras kencur berkhasiat untuk menambah daya tahan tubuh, menghilangkan masuk angin dan kelelahan. Komponen yang terkandung di dalamnya antara lain saponin, flavonoid, polifenol dan minyak atsiri (Fajeriyati dkk., 2017).

Kandungan kimia dalam ekstrak minyak atsiri dari kencur yang telah diteliti 3 diantaranya yaitu 1,21-dokosadin, asam tridekaoat, pentadekan, asam propionate, beta-sitosterol dan kandungan kimia terbesar didalam kencur yaitu Etil p- metoksisinamat, juga disebutkan bahwa kandungan eukaliptol, karvon, pentadekan dan metal sinamat. Salah satu zat kimia pada rimpang kencur bersifat antiinflamasi atau antiradang, yaitu kaempferol. Kaempferol mempunyai kemampuan menghambat proses inflamasi dengan cara menghambat ekspresi enzim cyclooxygenase-2 (COX-2) (Riasari dkk., 2018).

4.5.4 Tumbuhan Setawar

Berdasarkan Plantamor (2019), kedudukan setawar dalam sistematika tumbuhan (taksonomi) diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta Kelas : Liliopsida Ordo : Zingiberales Famili : Costaceae Genus : Costus

Spesies : Costus speciosus Gambar 4.8 Setawar Costus speciosus mengandung senyawa fenolik, diosgenin, sapogenin, tigogenin, steroids dan alkaloid yang dapat bersifat sebagai antibakterial, antifungal, antioksidan, antiinflamasi, antipiretik dan analgesik (Pawar, 2014).

Rimpang Costus speciosus memiliki sifat antifertilitas, anticholinestrase, antiinflamasi, antipiretik dan kegiatan antihelminthic. Dalam Ayurveda (Ilmu pengobatan tradisional di India), rimpang pahit dari Costus speciosus digunakan sebagai obat cacing, ekspektoran, tonik dan berguna dalam mengurangi rasa terbakar, sembelit, kusta, asma, bronkitis, anemia dan penyakit kulit lainnya.

Rimpang Costus speciosus memiliki sifat hepatoprotektor. Pasta rimpang digunakan untuk mengobati bisul dan juga untuk membuat hormon seksual dan kontrasepsi. Daun digunakan untuk kudis dan penyakit perut. Batang yang digiling menjadi pasta dan digunakan untuk mengobati lecet. Rimpang juga digunakan untuk mengobati gigitan ular, zat diuretik, dan bersifat antiseptik dan juga digunakan untuk membuat vata dan kapha dan untuk menghaluskan kulit. (Rani et al., 2012).

4.5.5 Tumbuhan Sedingin

Berdasarkan Plantamor (2019), kedudukan sedingin dalam sistematika tumbuhan (taksonomi) diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Plantae Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Rosales

Famili : Crassulaceae Genus : Kalanchoe

Spesies : Bryophyllum pinnatum Gambar 4.9 Sedingin Pada penelitian (Safitri, 2013) di dapat bahwa tumbuhan cocor bebek (sedingin) mengandung alkaloid, flavonoid, saponin dan tannin yang tanaman ini memiliki efek analgesik.

Bryophyllum pinnatum adalah ramuan sukulen liar yang biasanya digunakan sebagai obat tradisional yang di tumbuh di negara tropis seperti Afrika, Indonesia, dan India. Bryophyllum pinnatum telah digunakan untuk mengobati berbagai macam gangguan yang disebabkan oleh kondisi hiperaktif. Berbagai metabolit sekunder Bryophyllum pinnatum, terutama flavonoid dan bufadienolid, telah dilaporkan oleh beberapa studi farmakologis sebagai potensi terapi dengan spektrum luas seperti imunomodulator, sitotoksik dan antitumor, anti alergi, anti-inflamasi, antioksidan, analgesik, dan antihipertensi. Senyawa lain dari Bryophyllum pinnatum termasuk steroid, triterpen, fenantren, dan beberapa senyawa lainnya. Meskipun memiliki potensi terapi dengan spektrum luas, aktivitas imunomodulator dari Bryophyllum pinnatum secara umum dan sel B apoptosis berkhasiat menginduksi namun belum dieksplorasi (Handono dkk., 2017).

4.5.6 Tumbuhan Jarak

Berdasarkan Plantamor (2019), kedudukan jarak dalam sistematika tumbuhan (taksonomi) diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Euphorbiales Famili : Euphorbiaceae Genus : Ricinus

Spesies : Ricinus communis L. Gambar 4.10 Jarak Tanaman Ricinus communis L merupakan tanaman yang memiliki bagian daun, buah, batang dan akar sehingga dapat dimanfaatkan untuk mengatasi berbagai jenis penyakit karena mengandung senyawa kimia yang berperan sebagai sebagai tanaman obat. Penelitian terdahulu menunjukkan menunjukkan bahwa Ricinus communis L mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, senyawa fenolik, steroid dan terpenoid. Berdasarkan uji fitokimia yang dilakukan, diketahui bahwa daun jarak kepyar mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, fenolik dan terpenoid.

Senyawa flavonoid memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri (Sarfina dkk., 2017).

Minyak jarak yang diperoleh dari biji tanaman masih banyak digunakan secara tradisional dan herbal sebagai obat. Benih tanaman adalah digunakan sebagai pupuk setelah minyak diekstraksi dari biji dan dimasak untuk menghancurkan toksin dan dimasukkan ke pakan ternak. Itu Penggunaan utama minyak jarak adalah sebagai pencahar dan pencahar. Itu juga digunakan sebagai pelumas, lampu bahan bakar, komponen kosmetik dll (Jena dkk., 2012).

4.5.7 Tumbuhan Sirih

Berdasarkan Plantamor (2019), kedudukan sirih dalam sistematika tumbuhan (taksonomi) diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Piperales Famili : Piperaceae Genus : Piper

Spesies : Piper betle L. Gambar 4.11 Sirih Saat ini daun sirih hijau telah banyak dikenal dan digunakan sebagai obat antibakteri, serta merupakan tumbuhan dari jenis piperaceae. Umumnya daun sirih memiliki kandungan kavikol, karvakol, kavibetol, kariovilem, 1-4,2%

hidroksikavikol, terpene, asam askorbat, fenil propane, enzim diastase 0,8-1,8%, serkuiterpena, enzim katalase, metal eugenol, vitamin A, B, C, asam-asam lemak gula, dan pati. Berdasarkan hasil penelitian 82,8% kandungan minyak atsiri terdiri dari senyawa fenol dan 18,2% adalah kandungan senyawa non fenol, yang mana senyawa antibaktgeri yang dihasilkan dapat bersifat gemnisidal, fungisidal dan bakterisidal (Mangesa dkk., 2019).

Daun sirih dimanfaatkan sebagai antisariawan, antibatuk, astrigent, dan antiseptik. Kandungan kimia tanaman sirih adalah saponin, flavonoid, polifenol, dan minyak astari. Senyawa saponin dapat bekerja sebagai antimikroba. Senyawa ini akan mersak membran sitoplasma dan membunuh sel. Senyawa flavonoid diduga memiliki mekanisme kerja mendenaturasi protein sel bakteri dan merusak membran sel tanpa dapat diperbaiki lagi (Carolia dkk., 2016).

4.5.8 Tumbuhan Lengkuas

Berdasarkan Plantamor (2019), kedudukan lengkuas dalam sistematika tumbuhan (taksonomi) diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta Kelas : Liliopsida Ordo : Zingiberales Famili : Zingiberaceae Genus : Alpinia

Spesies : Alpinia galangal L. Gambar 4.12 Lengkuas Rimpang lengkuas mengandung minyak atsiri, minyak terbang, eugenol, seskuiterpen, pinen, metil sinamat, kaemferida, galangan, galangol, saponin, flaronoida, polifenol dan Kristal koning. Khasiat dari lengkuas dapat mengobati

Spesies : Alpinia galangal L. Gambar 4.12 Lengkuas Rimpang lengkuas mengandung minyak atsiri, minyak terbang, eugenol, seskuiterpen, pinen, metil sinamat, kaemferida, galangan, galangol, saponin, flaronoida, polifenol dan Kristal koning. Khasiat dari lengkuas dapat mengobati

Dokumen terkait