• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode pencatatan biasanya digunakan oleh toko yang menjual bermacam-macam barang secara eceran, termasuk toko serba ada PT.

Carrefour Makassar. Metode harga eceran ini memungkinkan dihitungnya jumlah persediaan akhir tanpa mengadakan perhitungan fisik. Metode harga eceran bisa digunakan untuk:

1. Menaksir jumlah persediaan barang untuk penyusunan laporan keuangan jangka pendek,

2. Mempercepat perhitungan fisik, karena jumlah yang dihitung dicantumkan dengan harga jualnya, maka untuk mengubahnya ke harga pokok dengan cara mengalikannya dengan persentase harga pokok tanpa perlu memperhatikan masing-masing fakturnya.

3. Mutasi barang dapat diawasi yaitu dengan membandingkan hasil perhitungan fisik yang dinilai oleh harga jual dengan hasil perhitungan dari metode harga eceran.

Metode penilaian, persentase harga pokok yang dihitung merupakan persentase harga pokok periode yang bersangkutan, sedangkan dalam metode laba bruto, persentase laba brutonya ditentukan dari tahun-tahun sebelumnya.Untuk menentukan jumlah persediaan akhir, pertama kali dihitung persentase harga pokok yaitu perbandingan barang yang tersedia untuk dijual dengan harga pokok dan harga jual. Kemudian barang yang

tersedia untuk dijual (dengan harga jual) dikurangi jumlah penjualan yang akan menunjukkan persediaan akhir menurut harga jual.Persediaan akhir dengan harga pokok dihitung dengan mengalikan persentase harga pokok dengan persediaan akhir menurut harga jual. Agar metode harga eceran dapat digunakan maka catatan harus menunjukkan data berikut:

1. Persediaan awal yang dinilai dengan harga pokok dan harga jual.

2. Pembeliaan yang dilakukan dengan harga pokok dan harga jual.

3. Perubahan-perubahan terhadap harga jual pertama misalnya, kenaikan harga, pembatalan kenaikan harga, penurunan harga, pembatalan penurunan harga dan potongan-potongan khusus.

4. Data penyesuaian lain seperti transfer antar bagian dalam toko, pengembalian dan barang-barang rusak.

5. Jumlah penjualan.

Berikut uraian metode penilaian persediaan terhadap peningkatan laba dan laporan laba rugi pada PT. Carrefour sebagai usaha retail yang menyediakan bahan pokok kebutuhan masyarakat.

1. Sistem pencatatan persediaan pada PT. Carrefour

Sistem pencatatan persediaan yang digunakan adalah sistem pencatatan perpetual.Sistempencatatan perpetual yaitu semua transaksi pembelian dan penjualan (pengeluaran) barang dicatat secara langsung ke akun persediaan pada saat terjadi.Selain itu, perusahaan juga telah menerapkan sistem pencatatan perpetual tersebut secara konsisten.

Setiap barang dagang yang dibeli dari supplier, langsung dicatatkan digudang dan ketika barang dagang akan dijual, dicatat kembali oleh PT.

Carrefour, Tbk. Persediaan barang dagang akan dihitung kembali ketika toko akan tutup, untuk disesuaikan dengan jumlah penjualan agar tidak terjadi salah pencatatan.

2. Pencatatan sistem perpetual (buku)

Semua pertambahan dan pengurangan barang dagang dicatat dengan cara yang sama yaitu dengan mencatat pertambahan dan pengurangan kas di buku maupun di komputer.

Akun persediaan barang dagang pada awal periode akuntansi mengidentifikasikan jumlah stock pada tanggal tersebut. Pada waktu membeli barang, dibuat jurnal dengan mendebet akun persediaan barang dagangan dan mengkredit akun kas. Pada waktu barang dagangan dijual, dibuat jurnal yaitu mendebet akun harga pokok penjualan dan mengkredit akun persediaan sehingga akun persediaan akan menunjukan harga pokok dari persediaan yang ada digudang.

Sistem perpertual mengikuti semua transaksi pada saatbarang bertambah atau berkurang dan persediaan di catat dalam kartu stock sehingga jumlah yang dicatat merupakan jumlah yang ada di gudang.

Sistem perpetual persediaan barang dagang ditentukan dengan membuat catatan yang berkelanjutan perihal kenaikan, penurunan, dan saldo persediaan barang dagangan.Setiap kali barang dagangan dibeli,

rekening persediaan meningkat dan saat barang dagangan dijual, rekening persediaan menurun.

Sistem perpetual menuntut akuntan untuk menyelenggarakan pencatatan secara kontinyu terhadap kuantitas atau phisik persediaan.

Dengan sistem ini persediaan barang dituangkan dalam bentuk buku pembantu baik dalam rupiah harga pokok maupun dalam kuantitas.

Penggunaan metode perpetual, maka tiap terjadi mutasi atas persediaanakan diikuti dengan pencatatan pada buku, dan akan dibuatkan kartu persediaan. Kartubarang dengan cara perpetual akan tampak sebagai berikut:

Tabel 4.Kartu Persediaan Barang

Tanggal Masuk (pembelian) Keluar (Penjualan) Saldo

Jumlah persediaan akhir dapat dilihat pada baris dan kolom terakhir, yaitu sebesar:

25 kg @Rp. 4.000 = Rp. 100.000

20 kg Rp. 3.800 = Rp. 76.000

30 kg Rp. 4.200 = Rp. 126.000

75 kg Rp. 4.000 = Rp. 300.000

150 kg = Rp. 602.000

Dari hasil perhitungan dilihat bahwa perhitungan persediaan akhir dan harga pokok penjualan sebesar Rp. 602.000

3. Pencatatan sistem periodik (fisik) PT. Carrefour

Pencatatan persediaan barang dagangan dilakukansecara periodik sesuai dengan kebutuhan. Lazimnya perhitungan fisik dilakukan setahun sekali pada akhir periode akuntansi.

Sistem periodik, di mana persediaan barang dagangan ditentukan dengan menghitung, menimbang, atau mengukur unsur-unsur persediaan yang ada di gudang. Sistem periodik menyesuaikan saldo persediaan hanya padaakhir periode akuntansi dan tidak mempengaruhi pembelian maupun penjualan persediaan selama periode berjalan.

Sistem perpetual digunakan untuk mengecek akurasi saldo akhir dalam rekening/akun persediaan, sedangkan sistem periodik digunakan untuk menentukan saldo persediaan akhir. Keunggulan utama

sistemperiodik adalah efisiensi pencatatan yang dilakukan secara berkala. Keunggulan efisiensi pencatatan dari sistem periodik ini haruslah dipertimbangkan dengan keunggulan pengendalian dalam sistem perpetual.

Tujuan pokok perhitungan phisik persediaan adalah untuk menetukan kuantitas persediaan pada akhir periode akuntansi, pada sistem perpetual tujuan pokok perhitungan phisik adalah untuk menguji akurasi pembukuannya. Dari perhitungan phisik persediaan akan dapat diketahui adanya perbedaan atau selisih antara kuantitas persediaan menurut catatan pembukuan dengan kuantitas persediaan yang sebenarnya.

Perbedaan kuantitas persediaan demikian itu, bisa terjadi karena adanya barang-barang yang menguap, susut, hilang, atau terjadinya kesalahan dalam pencatatannya.Jika hasil perhitungan phisik menunjukkan adanya perbedaan dengan catatan pembukuan, maka dibuatkan penyesuaian atau koreksi pembukuan.

Dengan sistem phisik, selama periode akuntansi berlangsung hanya diselenggarakan catatan pembukuan untuk transaksi yang berhubungan dengan aktivitas pengadaan atau pembelian seperti:

pembelian, biaya angkut pembelian, retur dan potongan, rekening-rekening pembelian dan biaya angkut pembelian didebit setiap kali terjadi pembelian.

Sementara itu, rekening retur dan potongan pembelian dikredit setiap kali terjadi retur pembelian dan diperoleh potongan pembelian.

Pada akhir akuntansi, saldo rekening pembelian, biaya angkut pembelian, retur dan potongan dipindah bukukan ke ikhtisar laba-rugi. Sedang persediaan hanya memuat informasi tentang saldo persediaan awal periode.

Pada setiap akhir periode, akuntan akan melakukan penyesuaian terhadap rekening persediaan untuk mencatat adanya kenaikan atau penurunan dalam persediaan dan harga pokok barang yang dijual.

Sebagian besar perusahaan menjual barang sesuai dengan urutanpembelianyaterutama untuk barang-barang yang tidak tahan lama dan produk yang modelnya dapatberubah dengan cepat sesuai dengan permintaan pasar.

Sebagai contoh, penjualan bahan makanan yang tidak tahan lama seperti ikan dan sayuran, PT. Carrrefour akan menyusun dan menjual produknya sesuai urutan kadaluwarsanya. Begitujuga barang dagangan seperti pakaian yang disusun akan memajang pakayan sesuai dengan musim, dan pada akhirmusim akan melakukan cuci gudang untuk menual pakaian yang ketinggalan mode.

Ilustrasi penerapan metode fisik dengan menggunakan data penjualan dan pembelianatas barang di bawah ini:

Tabel 5.KartuPersediaan Barang penjualan menggunakan metode FIFO dapat dihitung sebagai berikut:

Dari perhitungan fisik atas barang A yang ada digudang pada tanggal 31 Desember menunjukkan jumlah 150 Kg, jumlah ini terdiri dari:

Pembelian 31 Desember 75 kg @ Rp. 4.000 Rp. 300.000

Pembelian 20 Desember 75 kg @ Rp. 4.200 Rp. 315.000

Jumlah 150 kg Rp. 615.000

4. Metode Penilaian Persediaan padaPT. Carrefour

Metode penilaian persediaan yang digunakan adalah metode LIFO dimana persediaan akhir dinilai berdasarkan ketentuan harga beli yang lebih awal didahulukan. Sedangkan untuk penghitungan fisik persediaan barang dagang di PT. Carrefour, menggunakan metode FIFO,

tetapi tidak menerapkan metode FIFO untuk pencatatannya. Untuk fashion metode yang digunakan adalah metode LIFO (last in, first method). Metode ini mengasumsikan bahwa barang dagangan yang

dibeli atau diproduksi terakhir akan dijual atau digunakan terlebih dahulu.

Masalah-masalah akuntansi persediaan akan relatif sederhana apabila perusahaan senantiasa dapat menjual barang dagangan atau produknya dalam kuantitas atau volume yang sama dengan kuantitas dan volume pembelian atau produksi. Masalah akuntansi akan makin kompleks, karena tidak semua barang yang dibeli atau diproduksi dalam suatu periode akuntansi dapat dijual dalam periode yang sama atau sebaliknya. Sebagai akibat, hampir selalu terjadi kenaikan atau penurunan volume atau kuantitas persediaan.

Adanya kenaikan atau penurunan kuantitas persediaan ini menuntut harus dilakukannya alokasi harga pokok barang dijual dalam suatu periode akuntansi secara residual, yaitu dengan cara mengurangkan harga pokok persediaan pada akhir periode dari harga pokok barang yang tersedia dijual. Untuk dapat melakukannya,akuntan harus lebih dulu menentukan nilai persediaan akhir periode secara langsung dengan : (1) menentukan volume, kuantitas, atau phisik barang yang terdapat dalam persediaan (2) menentukan harga per unit barang dalam persediaan yang harus dipakai sebagai dasar penilaian.

5. Pengaruh metode penilaian persediaan terhadap tingkat labapadaPT.

Carrefour

Pengaruh metode penilaian persediaan yang digunakan terhadap tingkat laba adalah dapat memperkecil laba yang secara tidak langsung akan mempengaruhi jumlah pajak penghasilan yangdibayarkan oleh perusahaan karena metode LIFO dapat berpengaruhterhadap pengalokasian biaya, khususnya yang berkaitan dengan penyimpanan persediaan seperti:

a. Material cost yaitu biaya pembelian, seperti: biaya transportasi dan biaya bongkar muat.

b. Order cost yaitu biaya pemesanan barang termasuk biaya pengawasan mutu, dan biaya administrasi lainnya.

c. Carrying cost yaitu biaya penyimpanan seperti biaya gudang, biaya asuransi, barang rusak (spoilage) dan tidak laku dijual (absolescence), dan pencurian.

d. Biaya modal yang terikat pada persediaan.

e. Biaya akibat kehabisan persediaan.

Untuk persediaan yang tidak laku dijual, manajemen akan memberi potongan harga barang atau menjual barang kepada para karyawan dengan harga murah, untuk memenuhi penjualan dengan target tertentu. Metode LIFO mempermudah manajer untuk

memanipulasi apakah akanmenaikkan atau menurunkan keuntungan.

Sebaliknya, jika perusahaan sedang mengalami kelesuan, dan manajer inginmeningkatkan keuntungan, maka manajer dapat melakukan penundaan pembelian barang yang lebih mahal sampai periode berikutnya.

Bila persediaan turun sampai ke tingkat awal periode sebelumnya, keadaan itu dinamakan dengan likuidasi LIFO. Untuk menghitung harga pokok penjualan, perusahaan harus mengambil lapisan biaya persediaan yang lama dengan metode LIFO. Dalam kondisi adanya kenaikan harga, tindakan ini akan membuat biaya persediaan menjadi rendah. Akibatnya perusahaanakanmelaporkan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan bila likuidasi LIFO tidak terjadi.

Untuk menaksir persediaan perusahaan menggunakanmetode eceran karena metode persediaan eceran (retail method) dipakai guna memperoleh estimasi yang andal tentang posisi persediaan. Konsep yang mendasari adalah adanya hubungan yang dekat dan konstan antara harga pokok dengan harga jual. Oleh karena itu, hubungan antara harga pokok dan harga jual, yang biasanya dinyatakan dalam suatu persentase, harus ditetapkan terlebih dahulu. Untuk ini perusahaan perlu mempunyai catatan mengenai harga jual dari semua barang yang ada hubungan antara harga jual dan harga pokok.

Metode laba kotor, metode ini memungkinkan penghitungan fisik atau menyelenggarakan catatan persediaan perpetual yang rinci bagi masing-masing dari ribuan jenis barang dagangan yang tercakup dalam persediaan eceran. Jika metode ini digunakan, catatan atas barang yang dibeli dihitung berdasarkan harga pokok dan harga bagi ribuan barang dagang yang biasanya tercakup di dalam persediaan eceran.

Persentase harga pokok dihitung dengan membagi barang yang tersedia untuk dijual menurut harga pokok dengan barang yang tersedia untuk dijual menurut harga eceran. Kemudian persentase harga pokok ini dikalikan menurut harga eceran, dapat dihitungdengan mengurangkan penjualan untuk periode bersangkutan dari total barang seperti yang terlihat pada tabel dibawah.

Tabel 6.Persediaan Barang

Metode eceran ini merupakan teknik untuk memperkirakan harga pokok persediaan, tapi banyak perusahaan yang mempergunakan metode ini untuk menilai biaya persediaan akhir yang akan

tercantum di neraca. Perusahaan-perusahaan tersebut biasanya menghitung persediaan yang dimilikinya sepanjang tahun, tapi penghitungan tersebut dilakukan berdasarkan harga eceran. Meskipun metode ini memungkinkan penaksiran nilai untuk persediaan, namun kesalahan bisa saja terjadi dalam pertanggungjawaban harga ganda dan dalam penerapan metode eceran. Karena itu, penghitungan fisik persediaan harus dilakukan paling tidak setahun sekali untuk laporan keuangan tahunan.

Catatan persediaan eceran harus disesuaikan terhadap variasi yang ditunjukkan oleh hasil penghitungan fisik, sehingga mencerminkan status persediaan yang sebenarnya demi penaksiran dan pengendalian pada masa mendatang.

Markup dan markdown eceran yang digunakan perusahaan dalam menghitung persediaan kerap kali berubah, hal ini disebabkan karena adanya perubahan tingkat harga, pergeseran permintaan konsumen, atau faktor-faktor lainnya.

Persediaan yang dinilaidengan harga eceran akan bervariasi, jika perusahaan tergantung pada markdown bersih digunakan dalam penghitungan persentase harga pokok. Jika menerapkan metode eceran yang paling umum digunakan markup bersih ditambahkan ke barang yang tersedia untuk dijual yang dinilai dengan harga eceran sebelum

menghitung persentase harga pokok, akan tetapi markdown bersih tidak dikurangkan untuk mencari persentase tersebut.

Pengurangan harga memang merupakan alat pengelolaan barang dagangan, Carrefour sendiri jarang melakukan markup. Apabila terjadi markup hal itu tergantung dari supplier, artinya jika ada penaikan harga barang maka perusahaan ikut menaikan harga barang. Yang sering dilakukan oleh perusahaan adalah seringnya menurunkan harga markdown karena selain penurunan harga, hal tersebut dilakukan untuk menarik konsumen dalam memenuhi target penjualan.

6. Retur dan Potongan Pembelian pada PT. Carrefour

Bila barang dagang dikembalikan (returpembelian) atau penyesuaian harga (potongan pembelian) diajukan, pembeli (debitur) biasanya mengirimkan surat atau memorandum debit untuk memberikan informasi kepada penjual mengenai jumlah yang diajukan oleh pembeli untuk didebit ke hutang usaha yang harus dibayar kepada penjual dengan menjelaskan sebab-sebab retur atau potongan.

Pembeli bisa menggunakan salinan dari memorandum debit tersebut sebagai dasar untuk mencatat retur atau potongan, atau menunggu persetujuan dari penjualan (kreditor). Dalam hal ini pembeli akan mendebit utangusaha dan mengkredit persediaan barang dagang.

Bila pembeli mengembalikan barang dagangan atau diberi potongan sebelum membayar faktur, maka jumlah memorandum debit dikurangkan

dari nilai faktur.Dalam jumlah tersebut diskon pembelian diperhitungkan.Retur pembelian adalah sejumlah barang dagangan yang telah dibeli oleh perusahaan yang oleh karena sesuatu hal, bisa karena kerusakan atau tidak sesuai dengan mutuyang diminta, untuk dikembalikan.

Barang yang dikembalikan ini akan dicatat dengan mengkreditrekening retur pembelian, sementara debitnya tergantung pada cara pembeliannya. Kalau pembeliannya tunai, maka debitnya adalah rekening kas, sedangkan kalau pembeliaannya secara kredit, ada yang dikembalikan karena tidak sesuai dengan pesanan senilai Rp. 1.000.000.00, maka jurnalnya adalah sebagai berikut:

Hutang Dagang Rp. 1.000.000.00

Retur Pembelian Rp. 1.000.000.00

(mencatat barang yang dikembalikakan PT. Carrefour kepada penjual).

Biasanyapotongan pembelian diberikan jika pembeli membayarnya lebih awal dari tanggal jatuh temponya. Pada pembelian secara kredit syarat pembelian akan tercantum dalam faktur, misalnya 3/10– n/60.

artinya setelah transaksi dan diberikan potongan pembelian sebesar 3%

jika dibayar 10 hari setelah transaksi dan pembayaran hutang paling lambat 60 hari. Apabila perusahaan memanfaatkkan diskon yang diberikan oleh pemasok, maka potongan pembelian ini akan dicatat

dalam rekening potongan pembelian setelah kredi, dengan jurnal sebagai berikut :

Hutang Dagang Rp. XXX

Potongan Pembelian Rp.XXX

Biaya angkut ini dilaporkan dalam laporan laba rugi pada bagian harga pokok penjualan sebagai penambah pembelian. Retur pembelian, potongan pembelian dan biaya angkut pembelian, ketiganya akan mempengaruhi pembelian, sehingga didapat pembelian bersih atau potongan pembelian yang diberikan pada jumlah yang masih terutang kepada pemasok.

7. Barang Yang Termasuk dalam Persediaan PT. Carrefour

Faktor lain yang harus dipertimbangkan dalam menentukan kuantitas persediaan adalah barang apa saja yang dapat dihitung sebagai persediaan. Kriteria umum harus digunakan dalam menentukan apakah suatu item barang termasuk dalam persediaan adalah kepemilikan atau hak milik atas barang tanpa memperhatikan di mana lokasi barang tersebut berada. Sebagai akibatnya, apabila hak milik atas barang sudah berpindah dari penjual kepada pembeli, maka pihak penjual harus mengakuinya sebagai penjualan dan tidakseharusnya memperhitungkan barang-barang tersebut sebagai bagian dari persediaan. Sebaliknya, pihak pembeli harus mengakui sebagai suatu pembelian dan sudah seharusnya

memperhitungkan barang-barang tersebut sebagai bagian dari persediaan.Berikut daftar barang masuk dalam persediaan.

Persediaan Awal

Gula Pasir Rp. 298.100.000

Terigu Rp. 76.500.000

Mentega Rp. 258.500.000

Sambal Saos Indofood Rp. 110.000.000 Kecap Sedap Rp. 166.400.000

Pronas Rp. 66.200.000

Sambal Bajak Rp. 209.000.000 Minyak Goreng Rp. 97.500.000

Snack Oreo Rp. 256.000.000

Sari Gandum Rp. 136.000.000

Nabati Rp. 543.500.000

Sunquick Rp. 310.400.000

Rp. 2.526.100.000

8. Barang Yang Berada di Gudang dan di Toko

Tidak semua barang-barang yang berada di gudang, merupakan persediaan bagi perusahaan yang bersangkutan, seperti: barang-barang titipan dari pihak lain dengan tujuan akan dijual untuk dan atas nama pihak lain dengan tujuan untuk mendapat sejumlah komisi, atau disebut barang komisi (cosigment in). Barangkomisi meskipun berada di gudang perusahaan, bukan merupakan persediaan bagi perusahaan yang

bersangkutan, karena hak milik atas barang itu tidak ada pada perusahaan.Berikut daftar barang masuk dalam gudang persediaan.

Pembelian

Gula Pasir Rp. 1.252.400.000

Terigu Rp. 1.604.000.000

Mentega Rp. 615.800.000

Sambal Saos Indofood Rp. 1.284.000.000 Kecap Sedap Rp. 1.155.500.000

Barang tersedia untuk dijual Rp. 14.032.188.000 Persediaan Akhir

77

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait