III METODE PENELITIAN
G. Analisis Optimalisasi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Pada Usahatani Bawang Merah Varietas Bima
Hasil analisis efisiensi ekonomi menunjukkan bahwa kombinasi penggunaan faktor-faktor produksi pada usahatani bawang merah varietas Bima belum mencapai efisiensi ekonomi tertinggi. Hal ini mengindikasikan adanya kendala dalam melakukan usahatani bawang merah varietas Bima. Oleh karena itu, perlu adanya analisis optimalisasi untuk mengetahui apakah kombinasi penggunaan faktor-faktor produksinya sudah optimal atau belum. Kombinasi optimal dicapai apabila perbandingan antara produk fisik marjinal (PFMxi) dengan harga faktor produksi (Pxi) mempunyai nilai yang sama untuk semua faktor produksi. Berdasarkan jumlah faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produksi bawang merah varietas Bima, maka analisis optimalisasi penggunaan faktor-faktor produksi pada usahatani
commit to user
bawang merah varietas Bima musim tanam Oktober-Desember 2010 di Kabupaten Brebes dapat dilihat pada Tabel 26.
Tabel 26. Analisis Optimalisasi Penggunaaan Faktor-Faktor Produksi Pada Usahatani Bawang Merah Varietas Bima Musim Tanam Oktober- Desember 2010 di Kabupaten Brebes
No. Faktor Produksi PFMxi Pxi
PFMxi Pxi 1. 2. 3. 4. Luas Lahan (X1) Benih (X2) Tenaga kerja (X3) Pestisida cair (X7) 1821,095940 1,567651 2,986744 240,403290 18.7200.000 15.000 30.000 918.000 0,000097 0,000104 0,000100 0,000262 Sumber: Analisis Data Primer (Lampiran 16, Halaman 112)
Berdasarkan Tabel 26, diketahui bahwa perbandingan antara produk fisik marjinal dengan harga untuk semua faktor produksi mempunyai nilai yang tidak sama. Dengan demikian:
7 7 3 3 2 2 1 1 Px PFMx Px PFMx Px PFMx Px PFMx ¹ ¹ ¹
Hal ini berarti kombinasi penggunaan faktor-faktor produksi pada usahatani bawang merah varietas Bima di Kabupaten Brebes belum optimal, sehingga hipotesis ketiga diterima. Dengan demikian, yang dapat dilakukan petani adalah mencapai kondisi optimal.
Kondisi optimal adalah kondisi terbaik yang dapat dicapai sesuai dengan kemampuan petani untuk menghadapi kendala yang ada. Kondisi optimal dapat dicapai dengan mengoptimalkan penggunaan faktor-faktor produksinya dengan menggunakan pendekatan Least Cost Combination (LCC). Pada penelitian ini sebagai faktor pembatasnya (constraint) adalah luas lahan (X1) karena ketersediaannya terbatas dengan rata-rata kepemilikan luas
lahannya 0,78 ha. Analisis penggunaan faktor-faktor produksi kondisi kenyataan (existing) dan kondisi optimal dapat dilihat pada Tabel 27.
commit to user
Tabel 27. Analisis Rata-Rata Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Kondisi Existing dan Kondisi Optimal dengan Luas Lahan 0,78 ha Pada Usahatani Bawang Merah Varietas Bima Musim Tanam Oktober- Desember Di Kabupaten Brebes
No. Faktor Produksi Kondisi Existing Kondisi Optimal
1. 2. 3. Benih (X2) Tenaga Kerja (X3) Pestisida cair (X7) 1.323,33 546,37 7,64 1.421,68 559,16 20,57 Sumber : Analisis Data Primer (Lampiran 17, Halaman 113)
Pada kondisi kenyataan (existing) penggunaan faktor-faktor produksi pada luas lahan 0,78 ha adalah 1.323,33 kg benih, 546,37 HKP tenaga kerja dan 7,64 liter pestisida cair. Pada kondisi optimal penggunaan faktor-faktor produksi pada luas lahan 0,78 ha adalah 1.421,68 kg benih, 559,16 HKP tenaga kerja dan 20,57 liter pestisida cair. Dengan demikian, untuk mencapai kondisi optimal dilakukan dengan peningkatan penggunaan faktor-faktor produksi tersebut. Hal ini sejalan dengan analisis efisiensi ekonomi, dimana nilai perbandingan nilai produk marjinal (NPMxi) dengan harga faktor produksi (Pxi) untuk faktor produksi benih, tenaga kerja dan pestisida cair mempunyai nilai lebih dari satu, sehingga penggunaannya perlu ditambah.
Pada kondisi optimal akan didapatkan produksi yang optimal, sehingga selisih antara biaya dan penerimaan lebih besar dibandingkan dengan kondisi kenyataan (existing). Hal tersebut dibuktikan dengan mengetahui besarnya produksi yang dihitung berdasarkan fungsi produksi usahatani bawang merah varietas Bima. Pada perhitungan disertakan penggunaan faktor produksi pupuk urea (154,33 kg), pupuk NPK Mutiara (89,33 kg) dan pupuk ZA (157,67 kg), baik pada kondisi kenyataan (existing) maupun pada kondisi optimal.
Berdasarkan perhitungan pada Lampiran 18 (halaman 114), maka produksi pada kondisi kenyataan (existing) sebesar 5.631,99 kg, sehingga besarnya penerimaan Rp 67.583.929,73 dan biaya yang dikeluarkan untuk penggunaan faktor-faktor produksi sebesar Rp 47.446.030,50; maka selisih
antara penerimaan dan biaya pada kondisi kenyataan (existing) sebesar Rp 20.137.899,23. Produksi pada kondisi optimal sebesar 7.629,56 kg,
commit to user
sebesar Rp 61.174.720,50; maka selisih antara penerimaan dan biaya pada kondisi optimal sebesar Rp 30.380.005,13. Dengan demikian terbukti bahwa pada kondisi optimal, selisih antara biaya dan penerimaan lebih besar dibandingkan pada kondisi kenyataan (existing).
H. Pembahasan
Usahatani bawang merah varietas Bima di Kabupaten Brebes, merupakan usahatani yang dilakukan secara monokultur dilahan sawah. Varietas Bima sebagai varietas yang banyak digunakan mempunyai keunggulan, yaitu umur panen yang cepat sekitar 50-60 hari. Hal ini menjadi alasan utama untuk memilih varietas Bima, karena petani ingin cepat mendapatkan keuntungan dari usahataninnya. Keuntungan yang didapat dari suatu usahatani berkaitan dengan produksi yang dihasilkan dan penggunaan faktor produksi yang berdampak pada besarnya biaya yang dikeluarkan. 1. Biaya, Penerimaan, Pendapatan dan Keuntungan Usahatani Bawang
Merah Varietas Bima
Macam dan jumlah faktor produksi yang digunakan akan mempengaruhi besarnya biaya yang dikeluarkan untuk usahatani. Konsep biaya yang digunakan untuk analisis usahatani bawang merah varietas Bima adalah biaya eksplisit dan biaya implisit. Biaya eksplisit merupakan biaya yang secara nyata dikeluarkan oleh petani selama usahatani bawang merah varietas Bima. Komponen biaya ini terdiri dari biaya untuk pembelian pupuk, pestisida, perata, upah tenaga kerja luar dan tenaga kerja borongan, serta pengeluaran untuk pembayaran bunga modal pinjaman, pajak tanah, biaya irigasi dan biaya transportasi.
Rata-rata besarnya biaya eksplisit untuk usahatani bawang merah varietas Bima, yaitu biaya eksplisit yaitu Rp 23.186.082,41/UT/MT atau Rp 29.725.746,68/Ha/MT. Biaya terbesar dikeluarkan untuk biaya tenaga kerja. Usahatani ini membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah banyak, karena jumlah anggota keluarga yang aktif dalam usahatani sedikit dan kepemilikan lahan yang cukup luas. Biaya tenaga kerja terdiri dari biaya untuk tenaga kerja harian luar sebesar Rp 8.009.405,56/UT/MT
commit to user
atau Rp 10.268.468,66/Ha/MT dan tenaga kerja borongan sebesar Rp 7.346.666,67/UT/MT atau Rp 9.418.803,42/Ha/MT. Biaya tenaga kerja
harian luar lebih besar dibandingkan tenaga kerja borongan, karena tenaga kerja harian luar merupakan tenaga kerja yang dibayar berdasarkan lamanya bekerja (hari), sedangkan untuk tenaga kerja borongan dibayar secara langsung dan tanpa memperhitungkan jumlah hari kerja. Rata-rata upah tenaga kerja harian adalah Rp 30.000,00/HKP, sedangkan tenaga kerja borongan perhitungannya berdasarkan luas lahan. Rata-rata biaya
untuk tenaga kerja borongan pada pengolahan tanah adalah Rp 3.333.333,33/Ha.
Biaya implisit digunakan untuk menghitung besarnya biaya yang pada kenyataannya tidak dikeluarkan oleh petani selama usahatani, karena faktor produksinya merupakan milik sendiri dan digunakan untuk usahatani sendiri. Namun, perhitungannya tetap dilakukan untuk mengetahui besarnya total biaya usahatani bawang merah varietas Bima. Biaya implisitnya terdiri dari biaya pembelian benih, sewa lahan sendiri, upah tenaga kerja harian dalam, biaya penyusutan alat dan bunga modal sendiri. Rata-rata besarnya biaya implisit adalah p 28.600.634,34/UT/MT atau Rp 36.667.479,92/Ha/MT. Biaya pembelian benih merupakan biaya terbesar dari biaya implisit. Harganya yang mencapai Rp 15.000,00/kg membuat petani lebih memilih untuk menyisakan hasil panennya untuk dijadikan benih. Hal tersebut merupakan salah satu strategi petani untuk mengurangi besarnya biaya eksplisit. Selain itu, petani juga lebih mengetahui tentang asal usul benih.
Penjumlahan dari biaya ekplisit dan biaya implisit merupakan total biaya yang dikeluarkan untuk usahatani bawang merah varietas Bima, yaitu Rp 51.786.716,74/UT/MT atau Rp 66.393.226,59/Ha/MT. Biaya tersebut merupakan bentuk pengorbanan yang dikeluarkan petani dalam usaha untuk menghasilkan produksi bawang merah varietas Bima. Produksi menjadi penerimaan bagi petani setelah dijual dengan harga yang berlaku ditingkat produsen. Bawang merah varietas Bima dijual dalam
commit to user
bentuk ikatan yang sudah dijemur selama 10-14 hari (tergantung cuaca) atau disebut dengan bawang merah berat kering askip dengan harga jual Rp 12.000,00/Kg.
Penerimaan usahatani bawang merah varietas Bima sebesar Rp 63.401.200,00/UT/MT atau Rp 81.283.589,74/Ha/MT. Dengan demikian, penerimaan masih lebih besar dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan oleh petani. Penerimaan dapat langsung diterima oleh petani, karena hasilnya dibeli langsung oleh pedagang. Namun, penerimaan ini masih merupakan pendapatan kotor, karena belum dikurangi dengan biaya. Pada penelitian ini, dilakukan perhitungan pendapatan dan keuntungan. Pendapatan dihitung dengan cara penerimaan dikurangi biaya eksplisit. Pendapatannya diartikan sebagai nilai nominal yang diperoleh petani dari pengeluaran biaya yang hanya secara nyata dikeluarkan oleh petani untuk usahatani bawang merah varietas Bima. Berdasarkan hasil perhitungan, rata-rata pendapatan usahatani bawang merah varietas Bima
di Kabupaten Brebes adalah Rp 40.215.117,59/UT/MT atau Rp 51.557.843,07/Ha/MT. Pendapatan usahatani ini dapat dikatakan
sangat besar, karena besarnya 70,89% dari penerimaan dan 29,11% merupakan biaya eksplisit. Secara nyata pendapatan petani yang diterima oleh petani lebih tinggi karena benih yang digunakan berasal dari hasil panen sendiri, padahal besarnya biaya benih 38,18% dari total biaya usahatani. Oleh karena itu, dilakukan perhitungan keuntungan dengan tujuan untuk mengetahui besarnya keuntungan riil yang diterima petani.
Perhitungan keuntungan dengan cara penerimaan dikurangi total biaya (biaya eksplisit ditambah biaya implisit). Berdasarkan perhitungan,
besarnya keuntungan usahatani bawang merah varietas Bima, yaitu Rp 11.614.483,26/UT/MT atau Rp 14.890.363,15/Ha/MT. Meskipun
demikian, pada dasarnya besarnya keuntungan dan pendapatan yang diperoleh tergantung pada pengeluaran biaya produksi dan harga jual bawang merah. Kendalanya ketika harga jual bawang merah mengalami penurunan, maka dikhawatirkan petani mengalami kerugian. Kenyataanya
commit to user
petani hanya sebagai price taker, sehingga yang dapat dilakukan adalah mengontrol besarnya biaya usahatani dengan mengkombinasikan penggunaan faktor-faktor produksinya seefisien mungkin, sehingga biaya yang dikeluarkan dapat ditekan serendah mungkin dengan harapan keuntungan yang diperoleh lebih besar.
2. Hubungan Penggunaan Faktor-Faktor Produksi dengan Produksi Bawang Merah Varietas Bima
Analisis hubungan faktor-faktor produksi dengan produksi menggunakan model kepangkatan modifikasi dari fungsi produksi Cobb Douglas. Faktor produksi yang dimasukkan ke dalam model fungsi produksi adalah luas lahan (X1), benih (X2), tenaga kerja (X3), pupuk urea
(X4), pupuk NPK Mutiara (X5), pupuk ZA (X6) dan pestisida cair (X7).
Berdasarkan hasil analisis diperoleh model pendugaan fungsi produksi: Y = 74,473. X10,215. X20,314. X30,247. X4-0,114. X50,164. X60,002. X70,278
Berdasarkan persamaan fungsi produksinya dapat diketahui bahwa return to scale sebesar 1,054. Jadi, usahatani bawang merah varietas Bima berada pada kondisi increasing return to scale. Artinya, proses produksi usahatani bawang merah varietas Bima berada pada tahap produksi dengan skala yang semakin meningkat atau proporsi kenaikan penggunaan faktor- faktor produksi memberikan proporsi kenaikan produksi yang lebih besar. Model fungsi produksi di atas didapatkan dari analisis regresi linier berganda, sehingga untuk memastikan modelnya tidak terdapat penyimpangan asumsi klasik, maka dilakukan uji asumsi klasik yang meliputi multikolinieritas, autokorelasi dan heteroskedastisitas. Uji multikolinieritas menggunakan matriks pearson correlation. Hasil pengujian menunjukkan bahwa semua matriks pearson correlation antar variabel bebas tidak ada yang bernilai lebih dari 0,8. Dengan demikian, disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas.
Pengujian autokorelasi menggunakan nilai DW (Durbin Watson). Berdasarkan hasil analisis nilai DW sebesar 2,161. Nilai tersebut terletak diantara 1,65 < DW < 2,35, sehingga disimpulkan tidak terjadi
commit to user
autokorelasi. Selanjutnya, untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas menggunakan scatterplot. Berdasarkan scatterplot diketahui bahwa titik-titiknya tidak membentuk pola tertentu dan menyebar di atas dan di bawah sumbu Y, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas. Dengan demikian, berdasarkan uji asumsi klasik model fungsi produksi usahatani bawang merah varietas Bima sudah memenuhi kaidah BLUE (Best Linier Unbiased Estimator).
Hubungan antara faktor-faktor produksi dan produksi bawang merah varietas Bima dapat diketahui dengan melakukan pengujian model yang meliputi uji adjusted R2, uji F, uji t serta uji standar koefisien regresi. Uji yang pertama adalah uji adjusted R2 untuk mengetahui ketepatan model fungsi produksi usahatani bawang merah varietas Bima dengan mempertimbangkan besarnya derajat kebebasan (df), karena pada penelitian ini terdapat tujuh variabel yang dimasukkan ke dalam model. Berdasarkan hasil analisis diperoleh nilai adjusted R2 sebesar 0,911 atau 91,10%. Hal ini menunjukkan bahwa sebesar 91,10% variasi produksi bawang merah varietas Bima dapat dijelaskan oleh variabel luas lahan, benih, tenaga kerja, pupuk urea, pupuk NPK Mutiara, pupuk ZA dan pestisida cair, sedangkan 8,90% sisanya dijelaskan oleh variabel lain di luar model. Variabel lain ini dapat berupa keadaan tanah, keadaan cuaca, pengalaman usahatani dan penggunaan faktor produksi lain seperti pupuk Kamas, pupuk KCL dan pupuk kompos.
Uji selanjutnya adalah uji F dengan tingkat kepercayaan 95% dan berdasarkan hasil analisis faktor-faktor produksi yang berupa luas lahan, benih, tenaga kerja, pupuk urea, pupuk NPK Mutiara, pupuk ZA dan pestisida cair secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap produksi bawang merah varietas Bima (Ha diterima). Selanjutnya pengujian pengaruh masing-masing faktor produksi terhadap produksi dilakukan dengan uji t pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil analisis uji t, yaitu:
commit to user a. Luas lahan
Berdasarkan hasil analisis, faktor produksi luas lahan berpengaruh nyata terhadap produksi bawang merah varietas Bima (Ha diterima). Nilai elastisitas produksi luas lahan dalam fungsi produksi sebesar 0,215 yang artinya setiap penambahan luas lahan sebesar 1% akan meningkatkan produksi bawang merah varietas Bima sebesar 0,215% cateris paribus. Hal ini berarti faktor produksi luas lahan berpengaruh positif terhadap produksi bawang merah varietas Bima.
Lahan merupakan tempat dimana proses produksi usahatani berlangsung. Pada lahan yang lebih luas akan lebih banyak menampung benih daripada lahan yang sempit, sehingga semakin banyak benih yang ditanam maka akan diperoleh produksi yang semakin tinggi. Akan tetapi, usaha perluasan lahan di Kabupaten Brebes terkendala dengan ketersediaan lahan yang terbatas karena adanya kecenderungan berkurangnya lahan pertanian akibat alih fungsi lahan menjadi pemukiman, tempat industri dan baru-baru ini untuk pembangunan jalan tol Pejagan-Pemalang yang menghubungkan antara Jawa Barat dengan Jawa Tengah. Oleh karena itu, usaha untuk meningkatkan produksinya dengan cara lain, yaitu mengkombinasikan faktor-faktor produksi yang digunakan secara optimal, sehingga pada luasan lahan yang ada diperoleh produksi yang optimal.
b. Benih
Hasil analisis menunjukkan, faktor produksi benih berpengaruh nyata terhadap produksi bawang merah varietas Bima (Ha diterima). Nilai elasitisitas produksinya sebesar 0,314, yang berarti setiap penambahan 1% penggunaan benih, maka akan meningkatkan produksi sebesar 0,314% cateris paribus. Hasil analisis uji standar koefisien regresi juga menunjukkan bahwa faktor produksi benih mempunyai pengaruh terbesar terhadap produksi bawang merah varietas Bima dibandingkan faktor produksi lainnya, sehingga
commit to user
penambahan faktor produksi ini akan sangat berpengaruh pada peningkatan produksi bawang merah varietas Bima.
Penambahan benih pada usahatani bawang merah bukan berarti menambah jumlah benih, namun lebih ditekankan pada ukuran benih. Hal ini dikarenakan, ukuran benih berpengaruh terhadap hasil anakan. Benih dengan ukuran besar akan menghasilkan anakan yang lebih banyak dibandingkan dengan benih yang berukuran kecil. Ukuran benih bawang merah varietas Bima terdiri dari tiga, yaitu benih besar (5-7,5 gram/benih), benih sedang (2,5-4,0 gram/benih) dan benih kecil (< 2,5 gram/benih).
c. Tenaga kerja
Berdasarkan analisis diketahui bahwa faktor produksi tenaga kerja berpengaruh nyata terhadap produksi bawang merah varietas Bima (Ha diterima). Faktor produksi tenaga kerja berperan penting dalam berbagai kegiatan usahatani dan mengalokasikan faktor-faktor produksi lain (pupuk, pestisida, benih) yang digunakan pada usahatani bawang merah varietas Bima. Elastisitas produksi tenaga kerja sebesar 0,247, sehingga setiap peningkatan 1% penggunaan tenaga kerja, maka akan meningkatkan produksi sebesar 0,247% cateris paribus. Hal ini berarti peningkatan produksi bawang merah dapat ditingkatkan dengan penambahan tenaga kerja misalnya melalui pemeliharaan tanaman yang lebih intensif. Meskipun demikian, penambahan tenaga akan menambah biaya tenaga kerja, karena upah tenaga kerja yang cukup tinggi, yaitu Rp 30.000,00 per HKP, sehingga dikhawatirkan keuntungan yang diperoleh petani semakin kecil. Oleh karena itu, peningkatan tenaga kerja pada usahatani bawang merah varietas Bima tidak hanya pada penambahan jumlah tenaga kerja (kuantitas), melainkan juga peningkatan kualitas tenaga kerja yang digunakan. d. Pupuk
Pemberian pupuk bertujuan untuk menambah unsur hara ke dalam tanah untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Pupuk yang
commit to user
dominan digunakan pada usahatani bawang merah varietas Bima di Kabupaten Brebes adalah pupuk anorganik yang berupa pupuk urea, pupuk NPK Mutiara dan pupuk ZA. Pupuk urea mengandung 47% unsur nitrogen, sedangkan pupuk NPK Mutiara mengandung tiga unsur hara utama yaitu 16% nitrogen, 16% phosphate dan 16% kalium serta tiga unsur hara tambahan, yaitu 16,5% magnesium, 28,5% calsium dan 2,10% sulfur. Pupuk ZA atau ammonium sulfat mengandung 21% nitrogen dan 23% sulfat.
Hasil analisis uji t menunjukkan bahwa faktor produksi pupuk urea, pupuk NPK Mutiara dan pupuk ZA tidak bepengaruh nyata terhadap produksi bawang merah varietas Bima, sehingga nilai elastisitas produksinya sama dengan 0 (Ho diterima) dan mengindikasikan bahwa nilai produk fisik marjinal (PFM) ketiga pupuk tersebut sama dengan 0. Hal ini berarti penggunaan pupuk urea, pupuk NPK Mutiara dan pupuk ZA mencapai tahap levelling off (titik jenuh), sehingga tidak terjadi peningkatan ataupun penurunan produksi, dengan kata lain terjadi stagnasi produksi usahatani bawang merah varietas Bima.
Keadaaan levelling off berkaitan pemberian pupuk anorganik secara intensif dan terus-menerus yang berakibat pada semakin rendahnya kadar bahan organik tanah (< 2 %) sehingga menyebabkan pemupukan anorganik tidak berpengaruh terhadap penambahan hara tanah karena tanah tidak respon terhadap penggunaan pupuk anorganik. Hal tersebut dikarenakan pada tanah dengan kadar bahan organik rendah maka Kapasitas Tukar Kation (KTK) rendah, sehingga apabila diberikan pupuk anorganik maka kation yang berasal dari pemupukan anorganik tidak dapat diikat koloid tanah. Upaya yang dapat dilakukan adalah melakukan soil management untuk mengembalikan kesuburan tanah dengan meningkatkan bahan organik tanah, dan diikuti dengan pemupukan dengan jenis dan jumlah yang tepat dan berimbang.
commit to user
Menurut Setyorini (2004) pemupukan berimbang merupakan pemberian pupuk ke dalam tanah dengan jumlah dan jenis hara yang sesuai dengan tingkat kesuburan tanah dan kebutuhan tanaman untuk mencapai hasil yang optimal. Penetapan dosis penggunaan pupuk secara berimbang dapat menggunaan Perangkat Uji Tanah Sawah (Paddy Soil Test Kit). Balai Penelitian Tanah (2005) mengembangkan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) sebagai alat yang digunakan untuk mengetahui status hara tanah. Hasil analisisnya dapat digunakan sebagai kriteria penentuan rekomendasi pemupukan unsur N, P, dan K spesifik lokasi. Perangkat Uji Tanah Sawah diharapkan mampu membantu petani yang berkaitan dengan ketepatan pemberian dosis pupuk N, P, dan K.
e. Pestisida cair
Penggunaan pestisida di Kabupaten Brebes yang berupa pestisida cair terdiri dari insektisida dan herbisida. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa faktor produksi pestisida cair berpengaruh nyata terhadap produksi bawang merah (Ha diterima). Nilai elastisitas produksi pestisida cair sebesar 0,278, sehingga setiap penambahan 1% penggunaan pestisida cair akan meningkatkan produksi sebesar 0,278% cateris paribus. Hal ini berarti penambahan penggunaan pestisida cair, akan menambah produksi bawang merah varietas Bima.
Pestisida cair mempunyai peranan penting dalam pengendalian hama. Apabila hama tidak dikendalikan sedini mungkin dan dapat berdampak pada besarnya keuntungan yang diperoleh petani. Menurut Sulistiyono (2004), penggunaan pestisida dapat meningkatkan produksi pertanian secara signifikan. Cara kerja dari pestisida sangat efektif untuk mengendalikan hama maupun penyakit, sehingga pertumbuhan tanaman menjadi tidak terganggu dan memberikan hasil yang optimal.
commit to user
3. Efisiensi Ekonomi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Usahatani Bawang Merah Varietas Bima
Analisis efisiensi ekonomi menunjukkan perbandingan nilai produk marjinal dengan harga faktor-faktor produksi untuk luas lahan 1,167; benih 1,254; tenaga kerja 1,195 dan pestisida cair 3,143. Hal ini berarti kombinasi penggunaan faktor-faktor produksi pada usahatani bawang merah varietas Bima belum mencapai efisiensi ekonomi tertinggi, sehingga hipotesis kedua diterima. Kondisi yang belum mencapai kriteria efisiensi ekonomi tertinggi mengindikasikan adanya kendala pada usahatani bawang merah varietas Bima. Meskipun demikian, usahataninya harus dilakukan secara efisien dengan kombinasi optimal penggunaan faktor-faktor produksinya. Oleh karena itu, dilakukan analisis optimalisasi untuk mengetahui kombinasi penggunaan faktor-faktor produksi pada usahatani bawang merah varietas Bima sudah optimal atau belum.
Kombinasi optimal dicapai apabila perbandingan antara produk fisik marginal (PFMxi) dengan harga faktor produksi (Pxi) mempunyai nilai yang sama untuk semua faktor produksi. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa nilai perbandingan PFMx dengan Pxi untuk luas lahan 0,000097; untuk benih 0,000104; untuk tenaga kerja 0,000100; dan untuk pestisida cair 0,000262. Dengan demikian, kombinasi penggunaan faktor- faktor produksi pada usahatani bawang merah varietas Bima di Kabupaten Brebes belum optimal, sehingga hipotesis ketiga diterima. Meskipun demikian, usahatani tetap dilakukan karena petani ingin mendapatkan keuntungan, sehingga yang dapat dilakukan petani adalah berusaha mencapai kondisi optimal. Kondisi optimal adalah kondisi terbaik yang dapat dicapai sesuai dengan kemampuan petani dalam menghadapi kendala yang ada.
Pencapaian kondisi optimal dapat dilakukan dengan mengoptimalkan penggunaan faktor produksi dengan pendekatan Least Cost Combination (LCC) dan sebagai faktor pembatasnya (constraint) adalah luas lahan petani dengan rata-rata 0,78 ha. Hal ini dikarenakan
commit to user
petani mempunyai kendala untuk memperluas lahannya karena ketersediaan lahan yang terbatas akibat adanya alih fungsi lahan pertanian. Dengan demikian, petani harus mengkombinasikan penggunaan faktor produksinya secara optimal pada luas lahan 0,78 ha untuk mendapatkan produksi yang optimal, sehingga pada kondisi tersebut petani akan memperoleh keuntungan maksimal.
Hasil analisis kombinasi penggunaan faktor produksi pada kondisi optimal usahatani bawang merah varietas Bima dengan luas lahan 0,78 ha, yaitu sebagai berikut:
a. Benih
Faktor produksi benih yang digunakan pada usahatani bawang merah varietas Bima menunjukkan bahwa penggunaannya tidak efisien