ءاسنلا[
A. Analisis Pelaksanaan Program Pendewasaan Usia Perkawinan
109 BAB V
TEMUAN DAN ANALISIS
110
kenyataan nya masih banyak pelaku yang melaksanakan perkawinan dibawah usia yang sudah ditetapkan oleh Undang-Undang. Pada umumnya untuk ukuran sekarang, usia 19 tahun bagi laki-laki dan perempuan yang akan melaksanakan perkawinan minimal sudah menyelsaikan pendidikan Sekolah Menengah Atas.
Perkawinan yang dilaksanakan pada usia dibawah yang digagaskan oleh BKKBN secara psikis dipandang belum siap untuk melakukan pernikahan dengan segala akibatnya. Ketika psikis seseorang belum dipersiapkan dengan matang, menurut pengalaman ada persoalan sedikit saja akan berujung pada percekcokan yang berakhir pada perceraian.
Seseorang yang sudah memiliki kesiapan untuk menjalani kehidupan perkawinan akan lebih mudah dalam menerima dan menghadapi segala konsekuensi persoalan yang timbul dalam perkawinan. Sebaliknya, jika individu yang kurang atau bahkan tidak memiliki kesiapan dalam menuju kehidupan perkawinan belum dapat dan layak untuk melakukan perkawinan sehingga untuk menunda atau mendewasakan usia perkawinan pertamanya.
Pelaksanaan program pendewasaan usia perkawinan yang dilaksanakan oleh Lembaga BKKBN Kabupaten Bondowoso utama nya adalah memberikan kesadaran terhadap masyarakat khususnya remaja akan pentingnya merencanakan serta mempersiapkan perkawinan agar tercapai ketahanan keluarga yang baik. Program ini juga memberikan pengertian dan kesadaran kepada remaja agar didalam merencanakan keluarga, mereka dapat mempertimbangkan berbagai aspek yang berkaitan dengan
111
kehidupan berkeluarga, kesiapan fisik, mental, emosional, pendidikan, sosial, ekonomi serta menentukan jumlah dan jarak kelahiran.
Program PUP di Kabupaten Bondowoso dilakukan dengan cara mengumpulkan masyarakat di suatu tempat atau ruang lingkup dan bergabung bersama para insan genre lalu melakukan sosialisasi kepada masyarakat tersebut tentang program PUP. Salah satunya dengan mengadakan lingkungan positif bagi anak remaja dan BKR serta mengadakan konselor sebaya bagi remaja melalui pik-r (dibawah genre), dan juga mengadakan sosialisasi serta pengenalan-pengenalan bagi BKR (Bina Keluarga Remaja) agar lebih mengetahui pentingnya Pendewasaan Usia Perkawinan bagi ketahanan keluarga.
BKKBN Kabupaten Bondowoso selalu terus berupaya dalam mensosialisasikan program PUP yang dikemas dengan berbagai kegiatan menarik agar dapat diterima oleh sasaran yang menerima sosialisasi. Pada tahun lalu, selain melakukan penyuluhan di setiap kecamatan petugas penyuluhan program PUP ini melakukan penyuluhan program PUP dengan mendatangi beberapa pondok pesantren dan sekolah yang ada di Bondowoso. Selain itu, GenRe Bondowoso (di bawah naungan Lembaga BKKBN Kabupaten Bondowoso) mengadakan GenRre Religi yang mengundang seluruh perwakilan remaja SMA/SMK/MA untuk hadir di Gedung Olahraga Pelita guna mendapatkan edukasi terkait program pendewasaan usia perkawinan ini.
Dalam teori ketahanan keluarga, tingkat ketahanan keluarga ditentukan oleh perilaku individu dan masayarakat. Individu dan keluarga yang memiliki penegtahuan
112
dan pemahaman tentang ketahanan keluarga yang baik, akan mampu bertahan dengan perubahan struktur, fungsi dan peranan keluarga yang berubah sesuai dengan perkembangan teknologi dan informasi.
Pelaksanaan program PUP, pada tahap awal BKKBN memberikan edukasi kepada masyarakat untuk menjaga budaya komunikasi yang baik antar keluarga, merevitalisasi Pendidikan ketahanan keluarga sejak dini, menginternalisasikan nilai-nilai transendensi, melakukan kampanye untuk mengubah gaya hidup keluarga konsumtif untuk meningkatkan produktivitas serta bagaimana meningkatkan pendapatan keluarga.
Program pendewasaan usia perkawinan yang dilaksanakan oleh BKKBN Kabupaten Bondowoso jika dikaitkan dengan teori dari Roscou Pound yaitu perubahan atau pembaharuan hukum yang bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat (yaitu hukum sebagai rekayasa sosial atau law is a tool of social engineering), Langkah yang dilakukan oleh BKKBN sesuai dengan langkah yang diambil dalam social engineering yang bersifat sistematis. Dimulai dari identifikasi masalah sampai kepada jalan pemecahan nya. Yaitu sebagai berikut:
Yang pertama, mengenal masalah yang dihadapi dengan sebaik-baiknya.
Temasuk di dalamnya mengenali seksama masyarakat yang hendak menjadi sasaran dari pelaksanaan program PUP ini. Masalah yang dihadapi BKKBN dalam hal ini ialah tinggi nya angka pernikahan pada remaja yang masih dibawah umur yang menyebabkan meningkatnya angka perceraian serta kurangnya menjaga ketahanan keluarga dengan baik karena kurangnya persiapan ketika akan membangun rumah
113
tangga. Adapun yang menjadi sasaran dari program ini adalah seluruh masyarakat Kabupaten Bondowoso khususnya para remaja yang akan membangun rumah tangga.
Kedua, memahami nilai-nilai yang ada dalam masyarakat, hal ini penting dalam social engineering Ketika akan diterapkan pada masyarakat dengan sektor-sektor kehidupan majemuk, seperti tradisional, modern dan perencanaan. Tingkat pendidikan dan ekonomi yang rendah serta keadaan sosial dan budaya yang masih melekat di kalangan masyarakat Kabupaten Bondowoso tentang pernikahan menjadi masalah yang sangat dipikirkan oleh BKKBN dalam melaksanakan program PUP ini sehingga BKKBN Kabupaten Bondowoso melakukan perencanaan yang matang untuk melaksanakan program ini agar tercapai tujuan pendewasaan usia perkawinan pertama.
Ketiga, membuat hipotesa-hipotesa dan memilih yang paling layak untuk bisa dilaksanakan. Dalam hal ini sebagai pendukung dari petugas yang melaksanakan program PUP, BKKBN mengembangkan program ketahanan remaja yang diperuntukan untuk melakukan pendekatan langsung kepada remaja yang akan membangun sebuah keluarga serta untuk mengatasi permasalahan remaja dengan slogan Generasi Remaja yang salah satunya adalah mengajak remaja agar tidak melakukan pernikahan dini. Program ketahanan remaja yang berupa yang berupa substansi program pendewasaan usia perkawinan (PUP).
Keempat, mengikuti jalannya penerapan hukum dan mengukur efek-efeknya.
Dalam Undang-undang No. 16 Tahun 2019 atas perubahan Undang-undang perkawinan No. 1 tahun 1974, telah disepakati bahwa usia minimum nikah bagi laki-laki dan perempuan menjadi 19 tahun. Akan tetapi BKKBN membuat gagasan
114
pendewasaan usia perkawinan dengan usia minimum nikah untuk laki-laki 25 tahun dan 21 tahun untuk perempuan. Sebelum melaksanakan program PUP, BKKBN sudah mengukur efek-efek apa saja yang akan ditimbulkan dari pelaksanaan program ini.
Salah satu efek yang terasa ialah masih kurangnya kesadaran masyarakat terutama para orangtua yang memiliki remaja untuk mempersiapkan secara matang sebelum melaksanakan perkawinan pertama. Setidaknya program pendewasaan usia perkawinan ini dapat diketahui oleh masyarakat Kabupaten Bondowoso yang utamanya oleh remaja dan orang tua yang memiliki anak remaja.
Dalam kajian maqasid al-syari’ah, selain bertujuan untuk menyelamatkan kesehatan ibu dan keturunannya, penetapan batas usia dalam pasal tersebut adalah untuk memperoleh kematangan kedua calon suami-isrti. Kesiapan mental mutlak diperlukan dalam menjalankan rumah tangganya, sehingga pasangan suami-istri telah memiliki kesiapan mental dan psikis yang baik dan pada akhirnya keluarga yang harmonis dapat tercapai sebagai wujud dari kemaslahatan dalam perkawinan. Kesiapan mental mutlak diperlukan dalam menghadapi berbagai permasalahan yang akan dialami oleh pasangan suami-istri dalam perjalanan rumah tangganya. Kesanggupan dalam menghadapi berbagai permasalahan yang akan muncul dalam rumah tangga, akan sulit dilakukan manakala keduanya masih dalam kategori remaja yang berusia 19 tahun. Oleh karena itu, masa dewasa menjadi syarat bagi setiap orang yang akan melaksanakan perkawinan demi menjaga kesiapan mentalnya tersebut, dan masa dewasa itu baru terjadi ketika seseorang berusia 21 tahun.
115
Perlindungan terhadap kesiapan mental yang menjadi syarat tersebut, jika dikaitkan dengan maqasid al-syarī'ah maka termasuk dalam kategori pemeliharaan jiwa (Hifdz an-Nafs). Memelihara jiwa ialah memelihara hak untuk hidup secara terhormat dan terhindar dari tindakan penganiayaan, termasuk dalam menghadapi berbagai permasalahan yang akan muncul dalam rumah tangga.
Terjaminnya akal agar mampu berpikir dengan bijaksana dalam mengatasi permasalahan yang terjadi dalam rumah tangganya, tergolong perlindungan terhadap akal (Hifdz al-Aql). Akal adalah bagian penting dari tujuan syariat yang harus dilindungi dari kerusakannya.
Tujuan maqasid al-syari'ah selanjutnya dalam menciptakan kemaṣlahatan manusia adalah dalam hal memelihara harta (Hifdz al-Mal) Manusia termotivasi untuk mencari harta demi menjaga eksistensinya dan demi menambah kenikmatan materi.
Dalam hal ini, harta dapat dikaitkan dengan pekerjaan untuk memenuhi sandang, pangan, dan papan. Kebutuhan ini sifatnya sangat primer dan universal, artinya mutlak harus dipenuhi oleh siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, maka kelangsungan hidup manusia akan terancam.
Dari uraian maqasid al-syari'ah dalam menjaga unsur pokok di atas, dapat dicermati bahwa untuk mewujudkan tujuan perkawinan yaitu membentuk keluarga yang bahagia dan kekal, diperlukan tahap kedewasaan sebagai tanda kematangan seseorang dalam hal psikis maupun biologis, dan kedewasaan tersebut terjadi mulai usia 20-21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi lakilaki. Pada usia 19 tahun remaja
116
kemungkinan belum bisa menjalankan fungsinya dalam keluarga melalui hak dan kewajibannya masing-masing.
Pada usia yang digagaskan oleh BKKBN yaitu perempuan 21 tahun dan laki-laki 25 tahun, pasangan suami isteri kemungkinan besar akan bisa mewujudkan tujuan dari perkawinan yaitu mewujudkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Itulah yang merupakan inti dari maqasid syari’ah aspek ḍaruriyyah (hifz al-din, hifz al-nafs, hifz al-'aql, hifz al-nasab dan hifz al-mal).
Aspek hajjiyyah dalam pernikahan dapat diwujudkan dengan memperhatikan kesetaraan antar pasangan suami isteri dan memberikan mahar yang layak dalam menikahkan perempuan yang belum dewasa, sebab nikah tetap terwujud walau tanpa hal-hal tersebut. Disyaratkannya hal tersebut demi menyempurnakan proses nikah agar mencapai kelanggengan sehingga sakinah, mawaddah dan rahmah bisa tercapai.
Sedangkan aspek tahsiniyyah dalam pernikahan dapat terwujud ketika pasangan suami isteri dalam berumah tangga salah satunya sudah mempunyai alat transportasi yang bisa membantu mempermudah dalam melaksanakan pekerjaan. Atau dalam rumah tempat tinggalnya selalu dihiasi dengan bacaan ayat-ayat al Quran, yang menimbulkan ketenangan dalam hati penghuninya.
117