BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
3. Analisis/ Pembahasan
Pada sub bab ini penulis akan menganalisis hasil aplikasi senam nifas dalam pelaksanaan asuhan keperawatan yang dilakukan pada tiga orang ibu nifas yakni NY. S, Ny. M, dan Ny. N. Pengaplikasian senam nifas ini dilaksanakan mulai tanggal 09 Juli sampai dengan 13 Juli 2015 di ruang tanjung II RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan.
Sebelum dilakukan pengaplikasian senam nifas dilakukan pengkajian. Pengkajian keperawatan merupakan salah satu komponen dari proses keperawatan yaitu suatu usaha yang dilakukan oleh perawat dalam menggali permasalahan dari klien meliputi usaha pengumpulan data tentang status kesehatan seorang klien secara sistematis, menyeluruh, akurat, singkat, dan berkesinambungan (Mutaqqin, 2010).
Penulis melakukan pengkajian secara head to toe mulai dari kepala sampai ekstremitas bawah. Dari hasil pengkajian, diperoleh data bahwa ketiga klien kelolaan belum pernah melakukan senam nifas, Ny. M dan Ny. N memang karena ini adalah kelahiran anak pertamanya sedangkan Ny. S ini adalah kelahiran anak ketiganya namun juga belum pernah melakukan senam nifas. Pada kenyataannya banyak ibu nifas yang tidak melakukan senam nifas karena ada tiga alasan. Pertama, karena tidak tahu bagaimana senam nifas Kedua, karena terlalu bahagia dan yang dipikirkan hanya si kecil. Ketiga, karena alasan sakit (Widianti, 2010).
Dua dari tiga ibu nifas yang menjadi klien kelolaan penulis pada studi kasus ini mengatakan tidak mengetahui tentang senam nifas yakni Ny. S dan Ny. M, sedangkan Ny. N mengatakan klien pernah mendengar tentang senam nifas tetapi tidak tahu bagaimana gerakannya. Tidak ada komplikasi pasca persalinan
yang dialami klien kelolaan, keadaan umum baik, TTV klien dalam batas normal, lochea dan TFU sesuai dengan hari nifas, dan klien mengatakan ingin melakukan senam nifas agar tubuhnya kembali ke bentuk semula seperti sebelum hamil secepat mungkin dan pulih secepat mungkin. Dari pengkajian maka dilakukan analisis masalah sehingga dapat dirumuskan diagnosis keperawatan.
Diagnosis keperawatan adalah pernyataan yang menguraikan respon aktual atau potensial klien terhadap masalah kesehatan yang perawat mempunyai izin dan berkompeten untuk mengatasinya (Potter & Perry, 2005). Adapun diagnosis keperawatan yang diangkat pada studi kasus ini adalah defisit pengetahuan: senam nifas berhubungan dengan kurangnya sumber-sumber informasi tentang senam nifas. Menurut Wilkinson (2009) diagnosis defisit pengetahuan dapat diangkat sebagai diagnosis ketika klien kurang pengetahuan dalam hal tertentu, bukan karena fungsinya yang berubah sehingga tujuan dari diagnosis keperawatan defisit pengetahuan ini adalah klien akan mendapat pengetahuan mengenai hal yang akan diajarkan. Dalam hal ini adalah pengajaran tentang senam nifas.
Senam nifas pada ibu nifas bertujuan untuk mengembalikan rahim pada posisi semula, memperbaiki elastisitas otot yang telah mulur, meningkatkan gairah hidup, mencegah kesulitan buang air besar atau buang air kecil, memperlancar keluarnya ASI, memperlancar sirkulasi darah, mengembalikan kerampingan, dan mencegah varises (Maryuni dan Sukaryati, 2011) dan juga memiliki manfaat yang sangat penting bagi ibu nifas yakni: membantu penyembuhan rahim, perut, dan otot pinggul yang mengalami trauma serta mempercepat kembalinya bagian-bagian tersebut ke bentuk normal, membantu menormalkan sendi-sendi yang menjadi longgar akibat kehamilan dan persalinan,
mencegah pelemahan dan peregangan lebih lanjut, serta menambah kemampuan menghadapi stress sehingga mengurangi depresi masa nifas. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi ibu nifas untuk mengetahui tentang senam nifas.
Dari diagnosis keperawatan akan disusun perencanaan keperawatan. Perencanaan adalah mengkomunikasikan tindakan keperawatan yang dilakukan untuk mencapai hasil yang klien diinginkan. Rasional untuk intervensi perlu logis dan dapat dikerjakan, dengan tujuan memberikan perawatan individual (Doenges, 2001).
Banyak intervensi yang dilakukan pada klien kelolaan dalam studi kasus ini. Yang pertama kaji keadaan umum klien dengan rasional untuk mengetahui keadaan umum klien pasca bersalin. Jika kondisi klien tidak dalam kondisi yang baik, seperti kelelahan, demam, dan sesak maka tidak dapat dilakukan senam nifas. Duffett dan Smith (1995) mengatakan tidak perlu memaksakan klien senam, jika tampak berat dan kelelahan, anjurkan untuk minum air putih jika diperlukan.
Kedua kaji ada/ tidak komplikasi persalinan. Maryunani dan Sukaryati (2011) mengatakan bahwa ibu yang menderita anemia tidak diperbolehkan untuk melakukan senam nifas. Demikian juga ibu yang mempunyai kelainan seperti jantung dan paru-paru.
Ketiga kaji ada/ tidak nyeri yang sedang dialami klien. Maryunani dan Sukaryati (2011) juga mengatakan anjurkan klien untuk menghentikan melakukan senam nifas untuk beberapa waktu jika terjadi kelelahan, pusing, kelemahan, nyeri, demam, sesak, atau perasaan tidak nyaman lainnya.
Keempat kaji lochea dan TFU sesuai dengan hari nifas. Jenis lokhea klien sesuai dengan hari nifasnya. Dimana pada hari terakhir peengaplikasian senam
nifas pada masing-masing klien kelolaan Ny. S (NH5), jenis lokhea serosa. Ny. M (NH4), lokhea rubra dan Ny. N (NH3) lokhea rubra. Lokhea rubra merupakan cairan bercampur darah, sisa-sisa penebalan dinding rahim (desidua), dan sisa-sisa penanaman plasenta (selaput ketuban). Lokhea rubra berwarna kemerah-merahan dan keluar sampai hari ke-3 atau ke-4. Sedangkan lokhea serosa, lokhea ini mengandung cairan darah dengan jumlah darah yang lebih sedikit dan lebih banyak mengandung serum dan lekosit, serta robekan plasenta. Lokhea serosa berwarna kecoklatan atau kekuning-kuningan dan keluar dari hari ke-5 sampai ke- 9 (Maryunani, 2009).
Pengkajian TFU dilakukan pada dua klien yaitu Ny. M. dan Ny.N, sedangkan pada Ny. S tidak dilakukan pengukuran TFU karena jenis sayatan luka SC longitudinal linea mediana (memanjang di garis tengah tubuh). TFU Ny.M dan Ny. N sesuai dengan hari nifasnya.
Uterus berkontraksi dengan kuat setelah kelahiran bayi, ukurannya mengecil lebih dari setengahnya (Stright, 2005). Segera setelah persalinan, TFU 2 cm dibawah pusat, 12 jam kemudian kembali 1 cm di atas pusat dan menurun kira-kira 1 cm setiap hari. Pada hari ke dua setelah persalinan TFU 1 cm dibawah pusat. Pada hari ke-3-4 TFU 2 cm dibawah pusat. Pada hari 5-7 TFU setengah pusat simpisis. Pada hari ke-10 TFU tidak teraba (Varney, 2004)
Kelima ukur tanda-tanda vital klien. Pemeriksaan tanda vital merupakan suatu cara untuk mendeteksi adanya perubahan sistem tubuh. Tanda vital meliputi tekanan darah, denyut nadi, frekuensi pernafasan, dan suhu tubuh. Tanda vital mempunyai nilai sangat tinggi pada fungsi suhu tubuh. Adanya perubahan tanda vital misalnya suhu tubuh menunjukkan perubahan sistem kardivaskuler,
frekuensi pernafasan menunjukkan fungsi pernafasan, dan tekanan darah dapat menilai kemampuan sistem kardiovaskuler yang dapat dikaitkan dengan denyut nadi. Semua tanda vital tersebut saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Perubahan tanda vital dapat terjadi bila tubuh dalam kondisi aktivitas atau dalam keadaan sakit dan perubahan tersebut merupakan indikator adanya gangguan sistem tubuh (Hidayat, 2005 dalam Handayani, 2014).
Keenam ajarkan gerakan-gerakan senam nifas pada klien dan keluarga. Ketiga klien mengatakan merasa senang, rileks, dan nyaman setelah melakukan senam nifas. Klien (Ny.N) juga mengatakan nyeri berkurang pada saat melakukan senam nifas hari pertama serta pegal pada tangan dan kakinya berkurang saat melakukan senam nifas hari ke-2. Ny. M mengatakan pinggangnya terasa lebih ringan saat melakukan senam nifas hari ketiga. Dan Ny.S mengatakan punggung dan pinggang klien terasa lebih enakan pada saat melakukan senam nifas hari keempat.
Hal ini sejalan dengan teori senam nifas yakni suatu latihan yang sederhana di rumah sakit, dan melanjutkan di rumah yang salah satu tujuannya adalah untuk menolong dalam meningkatkan tonus otot (Ladewing, London, Olds, 2006). Varney (2002) juga menyebutkan bahwa senam nifas adalah olahraga pemulihan pada masa nifas yang berfungsi untuk menguatkan otot dasar pelvis dan juga dapat membantu mengurangi depresi.
Ketujuh validasi pengetahuan dan kemampuan klien tentang senam nifas yang sudah diajarkan. Pengetahuan adalah hasil mengingat suatu hal, termasuk mengingat kembali suatu kejadian yang pernah dialami baik secara sengaja
maupun tidak disengaja dan ini terjadi setelah orang melakukan kontak atau pengamatan terhadap suatu objek tertentu (Mubarak, 2009 dalam Siahaan, 2014).
Pengetahuan merupakan kemampuan untuk mendapatkan fakta atau informasi baru dan dapat diingat kembali, sedangkan pemahaman adalah kemampuan untuk memahami materi yang dipelajari (Potter & Perry, 2005).
Kedelapan anjurkan keluarga membantu klien untuk melakukan senam nifas setiap pagi dan sore hari dengan rasional agar manfaat senam nifas yang didapatkan klien maksimal.
Sembilan ajarkan klien dan keluarga cara menghitung denyut nadi dan mengukur suhu tubuh dengan rasional agar klien dapat secara mandiri mengetahui kesiapan kondisi tubuhnya sebelum melakukan senam nifas saat petugas kesehatan tidak ada atau saat sudah berada di rumah.
Sepuluh ingatkan klien dan keluarga bahwa tidak perlu memaksakan klien senam, jika tampak berat dan kelelahan, anjurkan untuk minum air putih jika diperlukan. Dan intervensi kesebelas anjurkan klien untuk menghentikan melakukan senam nifas untuk beberapa waktu jika terjadi kelelahan, pusing, kelemahan, nyeri, demam, sesak, atau perasaan tidak nyaman lainnya.
Intervensi yang telah direncanakan kemudian diimplementasikan/ diaplikasikan. Implementasi adalah tahap keempat dari proses keperawatan yang terkait dengan pelaksanaan perencanaan yang telah dibuat dan mengacu pada rencana keperawatan yang telah dibuat (Ekasari, dkk, 2008 dalam Handayani, 2014).
Implementasi yang dilakukan penulis pada studi kasus ini adalah mengaplikasikan senam nifas dalam pelaksanaan asuhan keperawatan pada ibu
nifas sesuai hari nifas dan kondisi kesehatan ibu nifas, serta mengajarkan hal-hal yang perlu diketahui ibu nifas tentang senam nifas.
Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan dan merupakan cara untuk menentukan respon klien terhadap intervensi keperawatan yang diberikan serta sebatas mana tujuan atau kriteria hasil sudah tercapai (Ekasari, dkk, 2008 dalam Handayani, 2014).
Respon ketiga klien kelolaan setelah melakukan senam nifas berbeda- beda. Evaluasi pada hari terakhir dilakukan senam nifas dirumah sakit, Ny. S: klien mengatakan keadaannya sudah semakin baik, klien juga mengatakan merasa rileks dan nyaman setelah melakukan senam nifas, klien mengatakan punggung dan pinggangnya terasa lebih enakan setelah melakukan senam nifas hari ke-4, dan klien melakukan gerakan senam nifas hari 3 dengan bantuan dan gerakan senam nifas hari ke-4 dengan perlahan, lochea serosa, nyeri (-), dan TTV dalam batas normal.
Pada Ny. M: keadaan umum klien baik, klien sangat antusias melakukan senam nifas, klien mampu secara mandiri melakukan gerakan senam nifas hari 1 sampai hari ke-4 yang telah diajarkan, klien mengatakan pinggangnya terasa ringan setelah melakukan senam nifas hari ke-3, klien mengatakan otot perutnya dan otot-otot disekitar kemaluannya terasa lebih kencang setelah senam nifas. Hal ini selajan dengan pernyataan Manuaba (1999) dimana senam nifas adalah senam kesegaran jasmani setelah persalinan yang bertujuan untuk mengecilkan dan mengencangkan otot perut, serta mengembalikan ukuran liang senggama. Lochea rubra, TFU 3 jari dibawah umbilikus, TTV normal, dan klien dapat
melakukan gerakan tanpa kesulitan terlebih karena klien memang sudah mampu mobilisasi ke kamar mandi tanpa bantuan.
Sedangkan pada Ny. N: klien mampu melakukan gerakan senam nifas hari 1 dengan baik, klien merasa nyerinya berkurang setelah melakukan senam nifas hari 1, klien terlihat kaku saat melakukan senam nifas hari ke-2 dan melakukannya dengan perlahan, klien mengatakan setelah melakukan gerakan nifas hari ke-2 pegal-pegal di tangan dan kakinya berkurang, klien mengatakan masih takut melakukan gerakan senam nifas hari ke-3 karena terasa berat, klien mengatakan perutnya terasa tegang dan luka bekas operasinya seperti tertarik dan terasa berdenyut nyeri setelah melakukan gerakan nifas hari ke-3, skala nyeri 3, klien tampak rileks kembali setelah 1 jam beristirahat, lochea rubra, TFU 2 jari dibawah umbilikus, TTV normal.