PENGURUS YAYASAN
B. Penyajian Data dan Pembahasan
3. Analisis Pembahasan
a. Penerapan Metode Mengajar yang diterapkan pada Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di kelas XI Madrasah Aliyah Asasus Salam Lupak Dalam Kabupaten Kapuas
Ada 2 kali observasi yang dilakukan oleh penulis dalam penelitian ini, denga rencana awal yaitu 4 kali observasi tetapi waktu yang tidak memadai karena proses pembelajaran yang penulis teliti sudah berada hampir diakhir pembelajaran sehingga pertemuan selanjutnya ialah ujian akhir smester ganjil.
Pada proses pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam pada tanggal 23 Nopember 2015 di kelas XI meteri tentang perkembangan Islam pada periode klasik berlangsung dengan baik dan berdasarkan RPP guru mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam metode jigsaw yang mendasarinya, yang mana guru mata pelajaran membagi siswa menjadi beberapa kelompok, dilanjutkan dengan memaparkan sedikit tentang materi yang dipelajari dan memberikan materi tersebut kepada masing-masing kelompok,
pada saat itu siswa melakukan diskusi dengan anggota kelompoknya masing-masing dan pada saat itu berlangsunglah penerapan metode diskusi.
Setelah masing-masng kelompok memahami bersama materi yang diberikan, ditunjuklah salah satu perwakilan kelompok untuk memaparkan materi kelompoknya dengan cara guru pertama kali melemparkan gumpalan kertas kepada siswa, siswa yang terkena lemparanlah yang bertugas memaparkan materi mewakili kelompoknya, setelah itu dilanjutkan oleh siswa yang terkena lemparan kertas untuk melemparkan kertas ke kelompok lain sampai semua kelompok mendapatkan kesempatan bagi anggota kelompoknya untuk memaparkan materi yang dipelajarinya bersama.
Metode jigsaw ialah metode utama yang diterapkan oleh guru mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam sekaligus mempelopori metode-metode lainnya. Pada penerapan metode jigsaw yang mengharuskan pembagian siswa menjadi beberapa kelompok menjadikan pembelajaran menggunakan metode kooperatif yaitu metode belajar berkelompok, setelah kelompok terbentuk terjadi permainan yang mengharuskan anggota kelompok memaparkan materi, dari pemaparan materi tersebut secara alami terjadi tanya jawab antara siswa kelompok lain dengan siswa kelompok yang memaparkan dan dibantu oleh guru untuk
menjawab pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh siswa, terjadilah pembelajaran menggunakan metode tanya jawab.
Pemaparan materi yang dilakukan oleh guru mata pelajaran mengenai, baik sebelum memulai pembelajaran maupun menjawab pertanyaan-pertanyaan siswa yang belum dapat dijawab oleh siswa yang memaparkan materi, guru mata pelajaran menghubungkan materi pembelajaran dengan mengambil kisah yang terdapat pada materi tersebut dengan keadaan saat ini dan kehidupan nyata para siswa baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan menghubungkan materi pembelajaran dengan dunia nyata, guru mata pelajaran secara jelas menggunakan metode CTL dalam penyampaiannya.
Pada proses pembelajarannya guru mata pelajaran dapat dikatakan berpondasi pada metode jigsaw yang menjadi pelopor utama dalam melakukan pembelajaran, karena dari metode jigsaw dilakukannya pembagian siswa menjadi beberapa kelompok sehingga metode kooperatif, diskusi, ceramah, CTL, dan tanya jawab berjalan sampai akhir pembelajaran. Tetapi terdapat kesenjangan antara pemahaman guru mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam mengenai metode jigsaw dan bagaimana seharusnya cara menerapkannya. Sebagaimana teori mengenai metode jigsaw sebagai berikut:
Metode jigsaw dalam pembelajaran kooperatif didesain dan dikenalkan oleh Elliot Aronson dan sejawatnya dari University of Texas dan University of California at Santa Cruz. Terdapat dua metode jigsaw.
Metode I, pada metode jigsaw ini, siswa ditugaskan secara berelompok sekitar enam orang, ukuran anggota sebenarnya dapat bervariasi antara 3 hingga 7 siswa, namun 5 hingga 6 siswa merupakan ukuran yang ideal. Pada kelompok-kelompok yang lebih kecil, maka tantangan untuk belajar bersama dengan individu-individu yang bervariasi akan terkurangi, sedangkan dengan kelompok yang lebih banyak akan mengakibatkan siswa tidak memiliki banyak waktu untuk mengungkapkan pendapatnya. Para guru mendapatkan bahwa kelompok dari siswa-siswa yang bervariasi (haterogen) sebenarnya adalah lebih diinginkan dibandingkan dengan siswa yang lebih bersifat homogen.
Keberadaan kelompok akan menstimulasi siswa belajar, membuat siswa yang memiliki kemampuan cepat belajar sebagai peluang yang sangat bernilai dalam hal penciptaan tutorial yang efektif. Siswa akan tertantang untuk mengembangkan empati, toleransi, dan kemampuan untuk bekerja guna pencapaian tujuan dalam suatu kelompok yang memiliki keberbedaan. Materi dipilah- pilahkan menjadi beberapa bagian. Setiap kelompok mengkaji bagiannya yang unik. Anggota-anggota dari kelompok yang
berbeda bertemu dengan anggota dari kelompok-kelompok lain yang memiliki bagian atau bahkan kajian yang sama. Setelah itu, mereka kembali kepada kelompoknya dan mengambil posisi untuk menyampaikan apa yang telah dikajinya dari kelompok sebelumnya kepada teman-teman di kelompoknya.
Metode II, pada metode jigsaw ini, Slavin dari Jhon Hopkins University telah mengembangkan suatu modifikasi dari metode I di atas. Siswa bekerja dalam suatu kelomok yang beranggotakan antara 4 hingga 5 siswa dimana semua siswa membaca suatu narasi, misalnya bagian dari buku, cerita pendek, atau biografi. Setiap siswa memilih topik tertentu dari narasi
tersebut menjadikannya sebagai “siswa ahli.” Selanjutnya mereka bertemu dalam “kelompok siswa ahli” kemudian setelah selesai
masing-masing kembali kepada kelompoknya sebaimana pada metode I.103
Jigsaw II dapat digunakan apabila bahan yang dipelajari berbentuk naratif tertulis. Jigsaw II paling cocok diterapkan pada mata pelajaran seperti ilmu-ilmu sosial, sastra, beberapa bagian sains, dan bidang-bidang studi lain dimana tujuan lebih
103
menekankan pada konsep dari pada keterampilan. Bahan ajar untuk jigsaw biasanya merupakan bab, biografi, dan bahan deskriptif.104
Pada proses pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam pada tanggal 30 Nopember 2015 di kelas XI meteri tentang perkembangan Islam pada periode pertengahan guru mata pelajaran membagi siswa menjadi beberapa kelompok, dengan membagi siswa menjadi beberapa kelompok guru telah menerapkan metode kooperatif, setelah itu guru mata pelajaran menggunakan metode ceramah sebagai pembuka dengan menjelaskan sebagian materi yang akan dipelajari, dan dilanjutkan dengan metode jigsaw dan tanya jawab.
Guru mata pelajaran tidak memberikan kesempatan siswa untuk berdiskusi antar sesama anggota kelompok melainkan langsung melemparkan kertas sebagai tanda bahwa pelajaran sudah dimulai dan siswa yang terkena kertas diminta untuk memaparkan materi yang sudah dibagi kepada setiap kelompok pada saat pembelajaran sebelumnya berakhir.
Guru mata pelajaran sengaja tidak memberikan waktu untuk para siswa berdiskusi, agar siswa terkejut dengan pembelajaran yang akan berlangsung, dengan cara itu guru mata pelajaran dapat mengetahui siswa yang tidak belajar dirumah dan sekaligus
104
Zainal Aqib dan Elham Rohmanto, Membangun Profesionalisme Guru Dan Pengawas Sekolah, h. 77
memberikan pelajaran kepada siswa akan ruginya apabila tidak belajar dirumah padahal sudah mengetahui materi yang akan dipelajari.
Seperti sebelumnya, pembelajaran menggunakan metode jigsaw melandasi penggunaan metode lainnya, akan tetapi pada pembelajaran kali ini guru mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam tidak hanya salah memahami mengenai konsep mengenai metode jigsaw tetapi juga hanya menggunakan metode ceramah, jigsaw dan tanya jawab sebagai metode pembelajaran yang diterapkan. Bahkan guru mata pelajaran tidak terlalu ambil peran dalam pembelajaran, guru hanya menjelaskan atau memaparkan materi pada saat pembelajaran dimulai saja selanjutnya diambil alih oleh siswa, pada akhir pun guru hanya beberapa menjawab pertayaan siswa dan penguatan materi pun tidak dilakukan oleh guru tidak seperti pembelajaran pada pertemuan sebelumnya.
Pembelajaran yang dilakukan oleh guru mata pelajaran terlihat dan dapat dirasakan tidak sama dengan pertemuan sebelumnya, apa pun sebabnya guru sebagai ujung tombak negara dalam mencerdaskan generasi bangsa harus tetap konsisten dalam melakukan pembelajaran sehingga dapat menciptakan lagi generasi penerus bangsa yang berilmu pengetahuan, cerdas, berakhlak dan budi pekerti yang mulia.
Berdasarkan observasi atau pengamatan dan dokumentasi berupa pengambilan foto-foto saat pembelajaran berlangsung dan pengumpulan arsip berupa RPP yang dilakukan, pembelajaran Sejarah kebudayaan Islam yang dilakukan pada 23 Nopember 2015 menggunakan beberapa metode yang tergolong dalam konsep pendekatan CTL dalam sebuah pembelajaran yaitu meliputi metode ceramah, kooperatif, diskusi, jigsaw dan tanya jawab dan selaras dengan metode-metode yang menjadi acuan dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam yaitu metode ceramah, pembiasaan, keteladanan, history, kisah, sosiodrama dan tanya jawab yang semuanya terpadu dalam konsep pendekatan CTL. Sedangkan pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam yang dilakukan pada 30 Nopember 2015 hanya menggunakan beberapa metode meskipun termasuk pada konsep pendekatan CTL yaitu metode ceramah, jigsaw dan tanya jawab saja.
Sedangkan dari wawancara yang dilakukan dengan KP sebagai subjek penelitian, Kepala Sekolah dan 3 siswa kelas XI sebagai informan dari hasil wawancara yang dilakukan diketahui bahwa metode pembelajaran yang diterapkan pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam adalah metode ceramah, cooperatif, diskusi, jigsaw dan tanya jawab yang mana metode-metode tersebut tergolong dalam konsep metode dalam pendekatan CTL dalam sebuah pembelajaran.
Dari observasi, dokumentasi dan wawancara yang telah dilakukan diketahui bahwa data yang di dapat dari 3 teknik pengumpulan data tersebut menunjukkan pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Aliyah Asasus Salam Lupak Dalam Kabupaten Kapuas menggunakan konsep pendekatan CTL dalam pembelajan yang di dalamnya terdapat metode-metode yaitu metode ceramah, kooperatif, diskusi, jigsaw dan tanya jawab yang mana konsep pendekatan CTL selaras dengan metode-metode yang harusnya diteraokan pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam yaitu metode ceramah, pembiasaan, keteladanan, history, kisah, sosiodrama dan tanya jawab.
b. Penerapan Metode Mengajar Pada Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Aliyah Asasus Salam Lupak Dalam Kabupaten Kapuas