BAB V PENYAJIAN DATA DAN PEMBAHASAN
5.8. Analisis Data
5.8.1. Analisis Pembangunan Desa Barusjulu
Todaro, Effendi (2002: 9) mendefinisikan pembangunan sebagai suatu proses yang dilakukan secara terus menerus, dilaksanakan secara bertahap dan berencana yang berorientasi pada suatu pertumbuhan dan perubahan yang lebih baik dari keadaan sebelumnya serta mencakup seluruh aspek kehidupan, baik lahiriah maupun batiniah. Siagian (2012: 57-127) dalam bukunya administrasi pembangunan menjelaskan bahwa bentuk-bentuk pembangunan bukan hanya fisik saja, namun mencakup hampir semua bidang diantaranya: politik, ekonomi, sosial-budaya, pertahanan dan keamanan.
Sejalan dengan pendapat di atas, pembangunan Desa Barusjulu dilaksanakan di berbagai aspek yang secara berkesinambungan terus dilakukan seperti infrastruktur, ekonomi, pendidikan dan kesehatan menjadi lebih efektif dan efisien dikarenakan adanya partsipasi masyarakat yang membangun. Walaupun masih banyak ditemui kekurangan dan masalah-masalah selama proses pelaksanaan pembangunan, namun semuanya masih bisa diatasi dengan baik melalui musyawarah yang justru semakin meningkatkan rasa toleransi antar pihak.
Berdasarkan definisi diatas, masyarakat Barusjulu dapat dikatakan telah melakukan proses pembangunan karna melakukan perubahan di berbagai aspek ke arah yang lebih baik dan masyarakatnya yang memiliki partisipatisi tinggi, dinilai dari mudahnya mengutip iuran pembanguan seperti pembuatan saluran air minum yang dibebankan kepada tiap rumah tangga, kerjasama yang baik antara masyarakatnya baik ibu PKK dan Karang Taruna setempat yang sangat terbuka menerima pelatihan dan sosialisasi yang diberikan serta terjun langsung ke lapangan saat ada pembangunan yang sedang berlangsung. Selain itu, laporan pembangunan yang terbuka untuk masyarakat umum membuat masyarakat desa Barusjulu bisa mengawasi dan menyumbangkan ide pikirannnya terhadap segala kebijakan dan implementasi pembangunan demi terlaksananya pembangunan yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat.
5.8.2. Analisis Peran Organisasi Kemasyarakatan Desa Barusjulu dalam Mewujudkan Pembangunan Desa
A. Peran Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa
Menurut Perda No. 21 Tahun 2006 Pasal 8 Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa adalah sebagai mitra kerja Pemerintahan, berfungsi:
1) Penyusunan rencana pembangunan yang partisipatif;
2) Pelaksanaan, pengendalian, pemanfaatan, pemeliharaan dan pengembangan pembangunan secara partisipatif;
3) Pemberdayaan
Sejalan dengan Perda tersebut, penelitian ini membuktikan bahwa fungsi Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa Barusjulu sesuai dengan yang tercantum pada Perda. Namun, pelaksanaan peran Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa Barusjulu belum maksimal. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman masyarakat mengenai fungsi dan peran Lembaga Pemberdayaan Masyarakat. Selain itu, masyarakat Desa Barusjulu lebih mempercayai Kepala Desa, sehingga setiap urusan yang harusnya ditangani oleh Lembaga Pemberdayaan Masyarakat justru langsung dilimpahkan kepada Kepala Desa.
Oleh karena itu, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa Barusjulu tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Peran LPMD sebagai penyalur aspirasi masyarakat dalam pembangunan adalah menampung segala keluhan-keluhan masyarakat dengan melalui musyawarah dusun tingkat pertama yang dimana rapat itu dihadiri oleh kepala dusun, RT, RW, dan tokoh masyarakat lainnya dengan memberikan usulan dan saran-saran terhadap perbaikan infrastruktur fisik sarana dan prasarana desa.
(Setiawan, 2016).
Sejalan dengan pendapat ahli di atas, penelitian ini membuktikan bahwa peran Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa Barusjulu sebagai fasilitator
penyalur aspirasi masyarakat berjalan dengan cukup baik. Walaupun pada sebelumnya dijelaskan bahwa peran Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa kurang menonjol, tetapi perannya sebagai fasilitator terbukti berfungsi sebagaimana mestinya. Peran LPM sebagai fasilitator adalah memfokuskan pada mendampingi masyarakat didalam melakukan rencana-rencana pembangunan.
Pembangunan masyarakat harus selalu mencoba memaksimalkan partisipasi, dengan tujuan agar setiap orang dalam masyarakat bisa terlibat aktif dalam proses dan kegiatan masyarakat. Lebih banyak anggota masyarakat yang berpartisipasi aktif, lebih banyak cita-cita yang dimiliki masyarakat dan proses yang melibatkan masyarakat pun dapat direalisasikan. (Zubaedi, 2007)
Sejalan dengan teori diatas, penelitian ini membuktikan bahwa peran Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa sebagai motivator penggerak partisipasi masyarakat pun berjalan dengan cukup baik. Motivator ini dipandang sebagai ujung tombak dan pionir pembangunan maka tantangannya adalah bagaimana membentuk para motivator-motivator pemberdayaan masyarakat.
Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa mau memberikan motivasi kepada masyarakat maupun pemerintah desa untuk ikut berpartisipasi melaksanakan pembangunan di desa.
LPM sebagai mediator dalam pembangunan adalah mempunyai tugas mensosialisasikan hasil-hasil usulan rencana pembangunan yang sudah ditetapkan dan dijadikan rancangan pembangunan jangka menengah dan rancangan pembangunan kelurahan terpadu kepada semua elemen masyarakat. (Setiawan, 2016)
Sesuai dengan pendapat di atas, maka sudah tampak bahwa peran Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa sebagai mediator tidak berjalan sebagaimana mestinya. Hal ini dibuktikan karena seharusnya informasi mengenai rencana pembangunan jangka menengah maupun panjang disosialisasikan oleh Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa, tetapi di Desa Barusjulu hal ini dilakukan langsung oleh Kepala Desa. Kondisi ini menggambarkan bahwa peran Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa sebagai mediator tidak berfungsi.
Selain itu, penelitian ini membuktikan bahwa peran Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa lagi-lagi tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Perannya sebagai dinamisator tidak berfungsi dengan baik dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa belum mampu memberikan pelayanan publik secara nyata dan menjadi penengah bagi masyarakat Desa Barusjulu.
B. Peran Tim Penggerak PKK Desa
Dalam konteks pembangunan masyarakat (civil society) kegiatan fasilitasi dilakukan oleh pengurus PKK yang bertugas: Pertama, membina kelompok masyarakat yang terkena krisis sehingga menjadi suatu kebersamaan tujuan dan kegiatan yang berorientasi pada upaya perbaikan kehidupan; Kedua, sebagai pemandu atau fasilitator, penghubung dan penggerak (dinamisator) dalam pembentukan kelompok masyarakat dan pembimbing pengembangan kegiatan kelompok. (Shalfiah, 2013)
Sejalan dengan pendapat ahli di atas, penelitian ini membuktikan bahwa peran PKK sebagai fasilitator dalam pembangunan desa sudah berfungsi
sebagaimana mestinya. PKK telah menjadi fasilitator yang dapat menjaga komunikasi dan harmonisasi program-program dari pemerintahan kepada masyarakat ataupun sebaliknya memberikan masukan kepada pemerintah secara objektif, optimal dan berkesinambungan sesuai mekanisme yang berlaku. Selain itu, peran PKK sebagai dinamisator dalam pembangunan desa sudah berfungsi sebagaimana mestinya. PKK telah menjadi dinamisator peningkatan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan pelayanan pemerintahan, pembangunan, dan pemberdayaan masyarakat.
C. Peran Karang Taruna
Karang Taruna sebagai sebuah lembaga pembinaan generasi muda mempunyai berbagai karakteristik, adapun ciri dan karakteristik karang taruna adalah sebagai berikut : 1) Karang Taruna merupakan wadah pembinaan generasi muda; 2) Sebagai organisasi yang bergerak di bidang kesejahteraan sosial; 3) memiliki program yang mendukung program kegiatan pemerintah. (Ashari, 2013) Sejalan dengan teori di atas, penelitian ini menunjukkan bahwa Karang Taruna Desa Barusjulu sesuai dengan karakteristik diatas. Karang Taruna Desa Barusjulu bergerak di bidang kesejahteraan sosial, hal ini dibuktikan dengan program kerja yang dijalankan Karang Taruna Desa Barusjulu. Program kerja tersebut juga mendukung program kegiatan pemerintah.
Untuk mengetahui peran Karang Taruna dalam mewujudkan pembangunan di Desa Barusjulu, terdapat beberapa indikator yang dapat dilihat yaitu peran fasilitatif, edukasional, representatif, dan teknis.
Peran fasilitatif yakni animasi sosial (Social Animation) yaitu kemampuan Karang Taruna sebagai agen perubah (pemberdaya masyarakat untuk membangkitkan energi, inspirasi, antusiasme masyarakat, termasuk mengaktifkan, menstimulasi dan mengembangkan motivasi warga untuk bertindak); mediasi dan negosiasi (Mediation and Negotiation) yaitu kemampuan Karang Taruna sebagai pemberdaya masyarakat untuk menjalankan fungsi mediasi guna menghubungkan kelompok-kelompok yang sedang berkonflik agar tercapai sinergi dalam komunitas tersebut; membentuk konsensus (Builiding Consensus) yaitu mengembangkan setiap upaya untuk ”melawan” pendekatan konflik yang seringkali bersifat taken for granted pada beragam interaksi politik ekonomi dan sosial di masyarakat; fasilitasi kelompok (Group Facilitation) yaitu kemampuan memfasilitasi kelompok-kelompok warga masyarakat agar mau bertindak konstruktif dan bersinergi untuk meningkatkan kesejahteraannya secara lebih utuh, bukan sekedar membangun satu atau dua kelompok saja; serta mengorganisir (Organizing) yaitu kemampuan untuk berpikir dan melakukan hal-hal apa saja yang perlu dilakukan, hal-hal yang tidak perlu dilakukan sendiri, dan memastikan bahwa semua mungkin diwujudkan. (Ashari, 2013)
Sejalan dengan pendapat diatas, penelitian ini membuktikan bahwa peran Karang Taruna di Desa Barusjulu sudah berjalan sebagaimana mestinya. Karang Taruna juga berperan aktif dan selalu membantu proses pembangunan mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan sampai pengawasan pembangunan.
Sejalan dengan pendapat ahli di atas, penelitian ini membuktikan bahwa peran fasilitatif Karang Taruna Desa Barusjulu sudah berjalan dengan baik sebagaimana mestinya. Karang Taruna Desa Barusjulu mau memfasilitasi setiap
kegiatan pembangunan desa maupun masalah-masalah yang berkaitan dengan masyarakat.
Peran edukasional (Educational Roles) yakni membangkitkan kesadaran masyarakat (Consciousness Raising), yakni peran Karang Taruna dalam membantu masyarakat untuk dapat melihat beberapa alternatif solusi serta menyadarkan masyarakat tentang struktur dan strategi perubahan sosial serta dimensi multikultural sebagai modal partisipasi dan bertindak secara efektif;
menyampaikan informasi (Informing), yakni peran memberikan informasi yang relevan tentang suatu masalah yang sedang dihadapi atau program pembangunan yang sedang dijalankan; mengkonfrontasi (Confronting), yakni peran yang suatu waktu dibutuhkan dalam kasus tertentu untuk mengatasi permasalahan yang ada setelah adanya pertimbangan bahwa kalau kondisi yang sekarang terjadi tetap dibiarkan maka keadaan akan dapat semakin memburuk; pelatihan (Training), yakni peran spesifik yang secara mendasar berfokus pada pengajaran masyarakat cara untuk melakukan sesuatu. (Ashari, 2013)
Sejalan dengan teori diatas, penelitian ini menjelaskan bahwa peran edukasional Karang Taruna berfungsi sebagaimana mestinya. Peran edukasional Karang taruna ini lebih menekankan peran spesifik yang secara mendasar berfokus pada pengajaran masyarakat cara untuk melakukan sesuatu. Hal ini dibuktikan dengan kesediaan Karang Taruna untuk memberikan pelatihan dan pendidikan kepada masyarakat, khususnya pemuda dalam bentuk workshop.
Peran sebagai Perwakilan Masyarakat (Representational Roles) terdiri dari mencari Sumber Daya (Obtaining Resources); advokasi (Advocacy);
memanfaatkan media (Using The Media); hubungan masyarakat (Public
Relation); mengembangkan jaringan (Networking); membagi pengetahuan &
pengalaman (Sharing Knowledge & Experience). (Ashari, 2013)
Sejalan dengan pendapat tersebut, dapat dijelaskan bahwa peran Karang Taruna sebagai representatif atau perwakilan masyarakat sudah berfungsi sebagaimana mestinya. Hal ini dibuktikan dengan kesediaan Karang Taruna Desa Barusjulu mewakili masyarakat yang berkonflik maupun mengalami masalah yang berkaitan dengan hukum.
D. Peran Koperasi Non-Formal
Menurut Undang-Undang No. 25 tahun 1992 Pasal 1 tentang perkoperasian, Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum Koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip Koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan. Koperasi terdiri atas koperasi formal dan koperasi informal (non-formal).
Koperasi yang ada di Desa Barusjulu merupakan koperasi non-formal.
Koperasi non-formal adalah yang tidak memiliki keresmian usaha dan tidak memiliki izin dari pemerintah serta tidak terdaftar di lembaga pemerintahan.
Koperasi di Desa Barusjulu dibentuk di antara anggota PKK dan menjalankan program-program sebagaimana Koperasi pada umumnya. Namun program tersebut tidak tertulis.
Berbeda dengan Undang-Undang di atas, Koperasi di Desa Barusjulu tidak memiliki badan hukum. Namun penelitian ini membuktikan bahwa peran koperasi non-formal di Desa Barusjulu cukup baik. Koperasi di Desa Barusjulu
lebih berperan ke arah pembangunan masyarakat, dimana tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Walaupun program-program yang dijalankan tidak sama dengan koperasi formal, namun secara tidak langsung koperasi non-formal di Desa Barusjulu memberikan dampak yang positif dalam mewujudkan pembangunan desa melalui pembangunan masyarakat.
BAB VI
PENUTUP
6.1.Kesimpulan
Berdasarkan penyajian data dan analisis data, maka peneliti mengambil kesimpulan sebagai berikut ini :
i) Peran Organisasi Kemasyarakatan di Desa Barusjulu
Pelaksanaan peran organisasi kemasyarakatan di Desa Barusjulu sudah berjalan dengan cukup baik. Setiap organisasi kemasyarakatan seperti Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa, PKK Desa, Karang Taruna maupun Koperasi non-formal sudah menjalankan perannya masing-masing sesuai yang tercantum dalam Undang-Undang.
Selain itu, organisasi kemasyarakatan tersebut juga saling berkaitan dalam menjalankan perannya masing-masing dalam penyelenggaraan pemerintahan Desa Barusjulu.
ii) Pembangunan di Desa Barusjulu
Pembangunan di Desa Barusjulu diwujudkan dengan melibatkan partisipasi masyarakat. Pembangunan ini disebut juga pembangunan partisipatif. Pembangunan
partisipatif adalah proses pembangunan yang menjadikan rakyat sebagai perhatian utama, baik sebagai sasaran pembangunan maupun sekaligus sebagai pelaksana pembangunan. Pembangunan partisipatif ini adalah pola pendekatan yang bersifat memberdayakan, artinya untuk mewujudkan keberhasilan pembangunan, inisiatif dan kreatifitas dari anggota masyarakat yang lahir dari kesadaran dan tanggung jawab sebagai manusia yang hidup bermasyarakat diharapkan dapat tumbuh berkembang sebagai suatu partisipasi yang mampu dikelola secara aktif dalam proses penentuan arah, strategi kebijaksanaan pembangunan yang dilaksanakan pemerintah. Cara inilah yang menjadi strategi Desa Barusjulu dalam mewujudkan pembangunan desa.
iii) Peran Organisasi Kemasyarakatan dalam Mewujudkan Pembangunan di Desa Barusjulu
Peran organisasi kemasyarakatan lebih luas jika dibandingkan dengan peran yang ditentukan dalam UU tentang organisasi kemasyarakatan. Organisasi kemasyarakatan dibentuk tidak hanya untuk berperan serta dalam pembangunan yang dilakukan, tetapi juga dapat berperan melaksanaan pembangunan itu sendiri. Di Desa Barusjulu, setiap organisasi kemasyarakatan menjalankan perannya masing-masing sesuai UU, mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan pembangunan.
Pelaksanaan peran tersebut terlihat memberikan dampak yang lebih baik dalam meningkatkan efektifitas pembangunan desa. Walaupun dalam melaksanakan perannya, tidak semua yang mampu dijalankan organisasi kemasyarakatan Desa Barusjulu dengan maksimal.
6.2.Saran
Pelaksanaan peran organisasi kemasyarakatan di Desa Barusjulu yang tidak berfungsi secara maksimal disebabkan oleh beberapa hal. Oleh karena itu, berdasarkan hasil penelitian, maka saran yang dapat diberikan adalah :
1) Mensosialisasikan tiap-tiap organisasi kemasyarakatan desa kepada masyarakat agar masyarakat lebih mengenal fungsi dan peranan dari masing-masing organisasi kemasyarakatan desa.
2) Dilakukan perombakan kembali anggota-anggota organisasi kemasyarakatan yang tidak mengetahui secara jelas perannya agar diganti dengan anggota baru yang lebih mengerti dan dapat menjalankan peran dengan sebaik-baiknya.
3) Mengaktifkan kembali organisasi-organisasi masyarakat yang tidak berfungsi agar dapat membantu pelaksanaan pembangunan desa secara maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Adisasmita, H.R. 2005. Dasar-Dasar Ekonomi Wilayah. Jakarta: Graha Ilmu.
Arikunto, Suharsini. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Arsyad, L. 1999. Pengantar Perencanaan dan Pembangunan Ekonomi Daerah. Yogyakarta:
BPFE.
Bintarto. 1989. Interaksi Desa-Kota dan Permasalahannya. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Bungin, Burhan H.M. 2007. Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan. Publik, dan Ilmu Sosial. Jakarta : Kencana Prenama Media Group.
Conyers, Diana. Perencanaan Sosial di Dunia Ketiga: Suatu Pengantar. Yogyakarta: Gadjah Mada University.
Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Karo. 2016. Keragaan Kelembagaan dan Usaha Koperasi Kabupaten Karo.
Ensiklopedia Indonesia. 1999.
Hasibuan. 2010. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.
Hayami dan Kikuchi. 1987. Dilema Ekonomi Desa: Suatu Pendekatan Ekonomi terhadap Perubahan Kelembagaan di Asia, Editor: Gunawan Wiradi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Kansil, C.S.T. 1983. Sistem Pemerintahan Indonesia.
Lemhanas. 1997. 1. Indonesia – Pembangunan Nasional 2. Garis-Garis Besar Haluan Negara Subyek. Jakarta: PT Balai Pustaka.
Moleong, Lexy J. 2006. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Mubyarto. 1989. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta: LP3ES.
Nurcholis, Hanif. 2011. Pertumbuhan dan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa. Jakarta:
Erlangga.
Pakpahan 1990 dalam Nasution 2002. Revleksi Diversikasi Dalam Teori Ekonomi dalam Suryana (penyunting) Diversifikasi Pertanian Dalam Prospek Mempercepat Laju Pembangunan Nasional. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Pratikno, Riyono. 1979. Komunikasi dan Pembangunan. Bandung: Alumni.
Prayudi. 1981. Hukum Administrasi Negara. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Rivai, Veithzal. 2006. Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Perusahaan: dari Teori ke Praktik. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Robert, J.Kodoatie. (2005), Pengantar Manajemen Infrastruktur. Edisi Revisi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Siagian, Sondang P. 1994. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.
. 2003. Teori & Praktek Kepemimpinan. Jakarta: Rineka Cipta.
Singarimbun, Masri. 1995. Metode Penelitian Survey. Jakarta: LP3ES.
Soekanto, Soerdjono. 2009. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Press.
Sudirwo, Daeng. 1981. Pokok-Pokok Pemerintahan Di Daerah Dan Pemerintahan. Desa.
Bandung: Penerbit Angkasa Bandung.
Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
Bandung: ALFABETA.
Suhardono, Edy. 1994. Teori Peran: Konsep, Derivasi dan Implikasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Sujanto. 1986. Beberapa Pengertian di Bidang Pengawasan. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Sumarti, T. dkk. (2008). Model Pemberdayaan Petani dalam Mewujudkan Desa Mandiri dan Sejahtera (Laporan Akhir). Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, IPB. Bogor.
Syafiie, Inu Kencana. dkk. 1999. Ilmu Administrasi Publik. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Sy, Pahmi. 2010. Politik Pencitraan. Jakarta: Gaung Persada Press.
Thoha, Mifta. 2002. Perilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya. Jakarta: Rajawali Grafindo Persada.
Tikson, Deddy T. 2005. Indikator-indikator Pembangunan Ekonomi.
Tjokroamidjojo, Bintoro. 1983. Pengantar Administrasi Pembangunan. Jakarta: LP3ES.
Todaro. M.P., 2000. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga (H.Munandar, Trans. Edisi Ketujuh ed.). Jakarta: Erlangga.
.1977. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Jakarta: Erlangga.
Wasistiono, Tahir. 2007. (Prospek Pembangunan) Desa. Bandung: Fokus Media.
Sumber Undang-Undang
Undang-Undang No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Undang-Undang No.21 Tahun 2006 tentang Pemerintah Daerah Undang-Undang No.6 Tahun 2014 tentang Desa
Undang-Undang No.5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa Undang-Undang No.25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian
Peraturan Daerah Kabupaten Kerinci No.23 Tahun 2007 tentang Lembaga
Peraturan Menteri Dalam Negeri No.5 Tahun 2007 tentang Pedoman Penataan Lembaga Kemasyarakatan
Peraturan Menteri Dalam Negeri No.51 Tahun 2007 Peraturan Pemerintah No.72 Tahun 2005 tentang Desa Peraturan Menteri Sosial RI No. 83/ HUK/2005
Sumber Jurnal
Ashari, Abu Hasan. Peran Karang Taruna Bakti Loka, Gejayan, Desa Condong Catur, Depok Sleman Yogyakarta dalam Pemberdayaan Masyarakat. 2010
Firana. Peranan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) dalam Program
Penyelenggaraan Pembangunan Pemerintah di Kelurahan Karas Kecamatan Galang Kota Batam Tahun 2011. 2014.
Setiawan, Mathias Fandy. Peranan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa dalam Meningkatkan Pembangunan Pedesaan Terpadu (Studi di Desa Pakatto Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa). 2016
Shalfiah, Ramandita. Peran Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dalam Mendukung Program-program Pemerintah Kota Bontang. 2013