• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PERBANDINGAN PEMIKIRAN IBNU TAIMIYAH DAN

A. Pemikiran Ibnu Taimiyah Tentang Transaksi Tawarruq

1. Analisis pemikiran Ibnu Taimiyah terhadap transaksi

Pengertian transaksi tawarruq adalah seseorang membeli barang dagangan secara diangsur, kemudian ia menjualnya kepada orang lain selain penjual secara kontan dengan harga yang lebih murah daripada harga pembelian, tujuannya untuk memperoleh uang kontan (bukan dalam bentuk barang)”.87

Adapun menurut Ibnu Taimiyah, tawarruq adalah seseorang membeli barang kepada seseorang dengan cara tidak tunai (cicilan) dan menjualnya kembali barang tersebut dengan cara tunai kepada pihak ketiga (bukan penjual pertama) dengan maksud ingin mendapatkan uang/modal, kemudian dia mengambil keuntungan dari penjualnya tersebut. Maka permasalahan ini disebut tawarruq karena orang membeli barang tersebut bukan bertujuan untuk memanfaatkan barang tersebut tapi digunakan untuk mendapatkan uang/modal dengan cepat.88

Ibnu Taimiyah juga mengatakan bahwa tawarruq adalah seseorang membeli barang secara samar-samar, lalu menjualnya kembali kepada yang lainnya. Hal ini disebut tawarruq karena pembeli tidak ada tujuan menyewakan dan tujuan jual beli.Ibnu Taimiyah telah menjelaskan beberapa argumennya tentang tawarruq dalam kitabnya yang berjudul Majmȗ’ Fatawȃ, salah satunya adalah sebagai berikut:

رق ىلارطضا لﺟر نع الله همحر لئﺳو

لا هضرﻘﯾ نﻣ ﺪﺠﯾ ملف ,مھارد ﺔض

حبرب هل ﺎهﻌيبﯾو ,نيسمخب هعﺎﻀب هل يرتشﯾ قوسلا ﻲتأيف ,ةﺪئﺎفلا ذخأﯾ لﺟر

,هنﻣ ﺎھارتشﺎف هل ىرشا اذا ,بﺟأف ؟ﺎبرا ﻲھ لهف ,ﺔنيﻌﻣ ةﺪﻣ ىلا نيﻌﻣ

.ﺎبر اذهف ,هنﻣ ضرﻘملا ﺎھارتشا يذلا ﺎهبحﺎص ثلﺎثلل ﺎهعﺎبوا

89

87 Enang Hidayat, Fiqih Jual Beli, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2015, cet ke-1), h.258.

88 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, penerjemah Amir Hamzah, (Jakarta: Pustaka Azzam), h.236.

89 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, penerjemah Amir Hamzah, (Jakarta: Pustaka Azzam), h.430.

Dalam pernyataan Ibnu Taimiyah diatas menjelaskan bahwa jika memperjualbelikan hutang maka hukumnya adalah riba, dan hal tersebut yaitu riba yang berarti haram. Ibnu Taimiyah menjelaskan lebih lanjut apabila barang tersebut tidak kembali kepada penjual pertama secara langsung, tetapi menjualnya kepada pembeli ditempat yang lain maka yang demikian tersebut dinamakan dengan tawarruq. Maka hal ini dihukumi makruh. Mengikuti perkataan Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang diambil dari salah satu riwayat Imam Ahmad bin Hanbal “berkata Umar bin Abdul Aziz bahwa: “Tawarruq adalah saudara riba, maksudnya adalah asal dari riba,” dan riwayat ini adalah riwayat yang kuat dari madzhabnya.”90

Ibnu Taimiyah sebagaimana dikutip Ali Ahmad Al-Salusi mengatakan: “Fuqaha Madinah dan Fuqaha hadits sepakat melarang bay’

al-tawarruq, karena termasuk rekayasa atau menyiasati riba. Mereka

memelihara tujuan dan pokok syariat yang terdapat dalam Al-Quran dan Sunnah.”91

Ibnu Taimiyah menjelaskan mengenai menyiasati riba. Inti dari siasat menurut beliau ada dua macam, yaitu menambah salah satu dari obyek pertukaran dengan sesuatu yang bukan merupakan tujuan dari akad, atau menambahi akad dengan akad lain yang bukan menjadi tujuan utama.

Pertama adalah masalah mudd’ajwah, kriterianya adalah seseorang menjual obyek yang ribawi dengan obyek sejenis, sedangkan keduanya atau salah satunya disertai sesuatu yang bukan termasuk jenisnya. Misalnya adalah seseorang bertujuan untuk menjual perak secara berbeda timbangannya, lalu salah satu pihak menambahi perak yang lebih sedikit dengan obyek pertukaran lain sehingga ia bisa menjual seribu dinar dalam sapu tangan dengan dua ribu dinar.92

90Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, penerjemah Amir Hamzah, (Jakarta: Pustaka Azzam), h.430.

91 Enang Hidayat, Fiqih Jual Beli, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2015, cet ke-1) h.262.

92 A.A Islahi, Konsepsi Ekonomi Ibnu Taimiyah, (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1997, cet ke-1), h.168.

Jenis siasat yang kedua adalah menggandeng akad yang diharamkan dengan akad lain yang bukan menjadi tujuan. Misalnya, adalah kedua belah pihak sepakat untuk menjual emas secara takaran, kemudian ia menjual setakarnya dengan harga yang lebih banyak daripada besar emas tersebut, atau keduanya sepakat dengan pihak ketiga agar salah satunya menjual barang, kemudian pembeli menjualnya kepada pelaku riba, kemudian pelaku riba menjualnya kepada temannya. Inilah siasat yang melibatkan tiga pihak. Diantaranya masalah al-‘inah, yaitu orang pertama menjual barang kepada orang kedua secara tempo, kemudian orang kedua menjualnya lagi kepada orang pertama dengan harga yang lebih rendah. Jika telah terjadi kesepakatan terlebih dahulu, maka kedua jual beli tersebut batal karena itu adalah siasat. Tetapi jika keduanya tidak bersepakat terlebih dahulu, maka keduanya berhak membatalkan jual beli yang kedua demi menutup celah kerusakan. Seandainya tujuan pembeli adalah memperoleh dirham dan membeli barang secara tempo untuk ia jual kembali dan memperoleh hasil penjualannya atau tawarruq. Siasat ini dan siasat semisalnya tidak menghilangkan kerusakan yang karenanya Allah mengharamkan riba. Siasat ini termasuk siasat yang dilakukan oleh Yahudi karena mereka menghalalkan riba dengan cara melakukan siasat, dan mereka menamainya mukṣand.93

Dalam menghukumi transaksi Tawarruq Ibnu Taimiyah melihat dari praktek transaksi tersebut yang menggunakan barang yang dijual hanya sebagai media transaksi dan rekayasa mendapatkan uang tunai bukan sebagai niat kepemilikian barang tersebut, hasil akhir dari tawarruq ialah untuk mendapatkan uang tunai sama halnya untuk mendapatkan riba. Sama halnya dengan transaksi ‘inah yang hasil akhir dari transaksi tersebut sama-sama untuk mendapatkan uang tunai.94

93 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, penerjemah Amir Hamzah, (Jakarta: Pustaka Azzam), h. 420.

94 Asep Dadan, “Analisis Teori Bai’ Tawarruq dalam Mu’amalah Maliyah”, Jurnal Islamiconomic, Vol.6, No.1 (Januari-Juni, 2015), h.8.

Ibnu Taimiyah mengambarkan sejumlah tipu daya praktek bunga, misalnya penjualan secara kredit (‘inah). Cara seperti jual beli ‘inah itu lazim terjadi di Eropa pada masa pertengahan dengan sebutan Mohatra. Tipe praktek seperti itu juga disebut tawarruq, berarti memperoleh uang (perak) dengan cara menipu.95

Dalam kitabnya Majmȗ fatawȃ Ibnu taimiyah melihat adanya sebuah keterpaksaan (رطضا( dari mustawariq (seseorang yang membutuhkan likuiditas), sehingga seorang pemberi likuiditas memanfaatkan hal tersebut dengan menjual suatu barang dan mengambil keuntungan. Hal ini yang dilarang oleh Ibnu Taimiyah karena mengindikasikan suatu sistem yang manipulatif, pihak yang membutuhkan likuiditas tersudut dalam keadaan terpaksa untuk mendapatkan uang tunai, disisi lain pemodal memanfaatkan momentum tersebut dengan memberikan harga yang lebih tinggi dari harga sewajarnya.96

Ibnu Qoyim yang merupakan murid Ibnu Taimiyah berpendapat sama mengenai tawarruq dengan Ibnu Taimiyah, adalah makruh. Disebutkan dalam kitabnya yang berjudul I’lȃmul Mu'aqain.97

Ibnu Taimiyah dalam Majmȗ fatawȃ, menghukumi transaksi

tawarruq itu makruh karena adanya keterpaksaan dari mustawȃriq yag

membutuhkan pinjaman, kemudian dijadikan kesempatan oleh seseorang dengan menjual komoditas dengan mengambil faedah.

Ibnu Taimiyah membagi transaksi dalam tiga kategori: Pertama, pembelian barang untuk kepentingan konsumsi, jual beli ini dibolehkan oleh Allah SWT. Kedua, pembelian barang untuk dijual kembali melalui dunia perdagangan dan komersial, yang juga dibolehkan oleh Allah SWT.

Ketiga, transaksi yang tak jelas dimaksud untuk pembelian maupun

perdagangan, tetapi dilakukan hanya untuk memperoleh uang. Khawatir

95 A.A Islahi, Konsepsi Ekonomi Ibnu Taimiyah, (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1997, cet ke-1), h.168.

96 Indah Arifatul, “Bai’ Tawaruq dalam Fiqih Muamalat (perspektif Hermeneutika Hukum)”, (Yogyakarta: Skripsi Universitas Islam Negeri Sunan Kali Jaga, 2017), h.66.

97 Wahbah Zuhaily, Mausulah Al-Fiqhiyah Al-Islamiy Wa al-qahdaya, (Beirut: Daarulfikr, 2013), h.60.

suatu ketika peminjam gagal mendapatkan uang, ia merencanakan sebuah transaksi lebih dulu. Bentuk terakhir ini disebut tawarruq (muslihat untuk memperoleh uang). Ia mengutip Umar bin Abdul Aziz yang menyatakan tawarruq itu berbasis pada sistem bunga.98

Ibnu Taimiyah sangat menentang secara langsung, juga berbagai praktik bunga yang dilakukan dengan berbagai muslihat. Selanjutnya ialah niat dari pembeli dalam transaksi tersebut terdapat upaya hillah atau rekayasa riba untuk memperoleh uang tunai bukan barang, dalam hal ini ditakutkan terjadinya jual beli dirham dengan dirham yang dilarang oleh syarȋ’at. sedangkan tujuan dalam transaksi tawarruq ialah bukan untuk jual beli tapi untuk mendapatkan uang tunai.