TRANSFER PRICING DALAM PT ASIAN AGRI GROUP (AAG) A.Analisis Kasus Transfer Pricing PT Asian Agri Group (AAG)
A. Analisis Penanganan Kasus
Meskipun pemerintah telah menargetkan kasus PT Asian Agri selesai akhir Maret 2008, tetapu kenyataannya sampai bulan Februari 2009 masih belum ada keputusan pengadilan mengenai penyelesaian kasus ini. Di lain pihak, upaya penyelesaian kasus-kasus perpajakan juga harus mempertimbangkan efisiensi waktu penyelidikian. Jika waktu penyelidikan terlalu lama, sementara bukti sulit ditemukan untuk dibwa ke pengadilan, tentunya upaya penyelesaian kasus ini akan tidak efisien.
Untuk kasus semacam ini, Direktorat Jenderal Pajak menyelesaikannya di luar pengadilan atau out of court settlement. Penyelesaian di luar pengeadilan tersebut dipertimbangkan mengingat aspek kecepatan waktu dan penyelamatan pendapatan negara.
Penyelesaian kasus penggelapan pajak yang dilakukan oleh PT Asian Agri akan membutuhkan waktu yang lama apabila diselesaikan melalui pengadilan. Hal ini dikarenakan adanya kesulitan dalam menemukan bukti tindakan transfer
pricing dengan menjual CPO dengan harga di bawah harga pasar dunia yang
berbuntut pada penggelapan pajak. jika kasus-kasus pajak yang sulit dibuktikan di pengadilan tetap dipaksakan, justru potensi penerimaan negara dapat hilang. Jalur pengadilan pajak sangat bergantung pada temuan-temuan kantor pajak. namun, jika sulir dibuktikan, bisa jadi pengadilan justri memutuskan tidak ditemukan unsure kerugian negara.
Dugaan atau indikasi adanya transfer pricing tersebut harus didukung dengan data-data secara detail dan akurat mengenai berapa harga pasti penjualan CPO dalam transaksi yang dilakukan PT Asian Agri—ini bisa dilakukan dengan menggunakan meode dan teknik pemeriksaan sebagaimana yang telah diberikan, misalkan dengan menggunakan metode harga pasar sebanding. Tidak dibenarkan tindakan asal tuding, melainkan harus ada data yang pasti. Harga CPO dunia ditentukan atau berpatokan dengan harga pasar dunia di Rotterdam. Kesulitan pembuktian transfer pricing ini disebabkan harga minyak sawit dunia selalu berubah-ubah sehingga sulit dicari patokan harga, termasuk membandingkannya dengan harga pasar CPO di Rotterdam. Ketika kontrak
31
ekspor terjadi, bisa saja harga pasar dunia di Rotterdam sedang tinggi, tetapi eksportir menjual lebih murah. Belum lagi biaya angkut, pajak ekspor, asuransi, dll.
Beberapa ahli, mengatakan bahwa permasalah kasus Asian Agri ini seharusnya dapat diselesaikanapabila PT Asian Agri mau membayra utang pokok pajak dan dendanya sebesar 400% atau senilai total 6,5 Triliun rupiah. Ancaman pidana hanyalah sebagai solusi terakhir jika WP tetap ingkar.
Kasus ini pada akhirnya tetap dilimpahkan ke pengadilan dan dirjen Pajak serta Kejagung setuju bahwa masalah ini adalah kasus pidana.
Berikut ini adalah history singkat kasus Asian Agri sejak awal :
Desember 2006
Vincentius A. Susanto menyerahkan data-data dugaan manipulasi pajak Asian Agri ke Komisi Pemberantasan Korupsi
16 Januari 2007
Tim pajak mengerebek kantor Asian Agri di Medan dan Jakarta
14 Mei 2007
Direktorat jenderal Pajak menyatakan telah menemukan bukti awal pidana pajak. kerugian negara Rp 786 M. lima direktur jadi tersangka. Tim pajak kemudian menemukan 1.133 dus dokumen Asian Agri di pertokoan Duta Merlin, Jakarta
25 September 2007
Direktorat jenderal Pajak mengumumkan telah menemukan bukti-bukti asli. Kerugian negara menjadi Rp 794 M. Pemanggilan tersangka dimulai.
25 April 2008
Tim pajak menyerahkan tiga berkas perkara ke Kejaksaan Agung
Tim pajak menetapkan 12 terssangka dan menyerahkan tujuh berkas pemeriksaan ke Kejagung. Total kerugian negara ditaksir Rp 1,3 T.
Mei 2008
Kejaksaan mengembalikan berkas perkara ke DJP. Alasannya, masih harus diperjelas soal pembuktian kerugian negara.
12 Juni 2008
Asian Agri mengajukan gugatan praperadilan ke Pengadilan Jakarta Selatan atas penyitaan yang dianggap tidak sah.
1 Juli 2008
Pengadilan Jakarta Seatan mengabulkan gugatan Asian Agri dan menganggap penyitaan tidak sah.
16 September 2008
Pajak menyita ulag tujuh truk dokumen ke kantor Asian Agri, tetapi ditolak.
Oktober 2008
Tim pajak kembali menyerahkan 14 berkas pemeriksaan , termasuk tujuh hasil revisi ke kejaksaan agung.
November 2008
Kejaksaan agung untuk kedua kalinya mengembalikan tujuh berkas perkara pertama ke DJP
Desember 2008
Tim pajak menyerahkan empat berkas perkara baru ke kejaksaan agung
Januari 2009
Tim pajak menyerahkan tiga berkas perkara terakhir ke kejaksaan agung
Maret 2009
Kejaksaan mengembalikan semua berkas hasil pemeriksaan ke tim pajak
30
Gelar perkara Direktorat Jenderal Pajak dan Kejaksaan Agung
Demikianlah pembahasan kami mengenai kasus Asian Agri yang telah diperiksa sekian lama dan telah berakhir 2009 silam.
Admin.2009.
http://artikelpaper-ekonomi.blogspot.com/2009/10/artikel-metode-penetapan-harga-transfer.html (diakses 13 Februari 2010)
Ahluwalia.2008.Mengkritisi Korporasi Multinasional.12 November 2008. http://www.ini
-lah.com/berita/politik/2008/05/01/25932/mengkritisi-korporasi-multinasional/ (diak- ses 13 Februari 2010)
Cox,James,F., Gerry Howe dan Lynn H Boyd.1997.Transfer Pricing Effects on Locally Measured
Organizations.Industrial Management
Departemen Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pajak.1993.Keputusan Di- rektur Jenderal Pajak Nomor : KEP-01/PJ.7/1993 tentang Pedoman Pemeriksaan
Pajak Terhadap Wajib Pajak yang Mempunyai Hubungan Istimewa.Jakarta: De-
partemen Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pajak
Departemen Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pajak.1993.Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-04/PJ.7/1993 tentang Petunjuk Penanganan
Kasus-Kasus Transfer Pricing.Jakarta: Departemen Keuangan Republik Indone-
sia Direktorat Jenderal Pajak
Departemen Keuangan Republik Indonesia.2007.Peraturan Menteri Keuangan Nomor 199/PMK.03/2007 tentang Tata Cara Pemeriksaan Pajak.Jakarta: Departemen Keuangan Republik Indonesia
Departemen Keuangan Republik Indonesia.2007.Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan.Jakarta: Departemen Keuangan Republik Indonesia
Departemen Keuangan Republik Indonesia.2008.Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan.Jakarta: Departemen Keuangan Republik Indonesia
Faisal.2008.Transfer Pricing.9 Oktober 2008.
http://faisalsmn.wordpress.com/2008/10/09/ transfer-pricing/ (diakses 14
Februari 2010)
Ikatan Akuntan Indonesia.1994.Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Nomor 7 Peng-
ungkapan Pihak-Pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa.Jakarta : IAI
International Tax Institute.2009.Transfer Pricing Methods.
http://www.itinet.org/transfer-pricing-methods (diakses 13 Februari
2010)
Natawisastra, Deden N.2006.Pengaturan Terhadap Pencegahan Praktik Penghindaran
Pajak oleh Perusahaan Multinasional Melalui Transfer Pricing dalam Kerangka Undang-Undang Perpajakan dan Undang-Undang Penanaman Modal.Jakarta
OECD Committee on Fiscal Affairs.1979.Transfer Pricing and Multinational
Enterprise.Paris: OECD
PERBANAS.2009.Penetapan Harga Transfer.
http://www.perbanas.org/penetapan-harga-transfer (diakses 13 Februari 2010)
Perkins, John.2007.Pengakuan Bandit Ekonomi Kelanjutan Kisah Petualangannya di In-
donesia dan Negara Dunia Ketiga.Jakarta:Ufuk Press
Putri, Rinella.2009.Kontroversi Transfer Pricing dan Pajak.10 Agustus 2009.
http://www.managementfile.com/column.php?page=tax&sub=column
(diakses 13 Februari 2010)
Santoso, Imam.2004.Advance Pricing Agreement dan Problematika Transfer Pricing dari
Perspektif Perpajakan Indonesia.http://puslit.petra.ac.id/puslit/journals/ (diakses
14 Februari 2010)
TAX GURU.2008.Transfer Pricing Methods. http://www.transferpricing-india.com/
(diakses 13 Februari 2010)
Yenni Mangonting.2000.Aspek Perpajakan dalam Praktik Transfer Pricing.http://puslit. petra.ac.id/journalist/accounting/ (diakses 14 Februari 2010)