• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Pencapaian Sasaran 4

Dalam dokumen IKHTISAR EKSEKUTIF LKIP DISPERTAPA (Halaman 73-81)

AKUNTABILITAS KINERJA

4. Analisis Pencapaian Sasaran 4

Menurunnya produk pangan segar yang tercemar

No Indikator Kinerja Satuan

Tahun 2014 % Tahun 2015 % Target Reali sasi Target Reali sasi

1 Jumlah pangan segar yang tercemar kasus 50 0 200 50 20 160

Catatan : Perhitungan indikator ini semakin persentasenya mendekati 0 itu menunjukan capaian yang baik.

Salah satu tugas pokok dan fungsi pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan adalah mengawasi dan memeriksa komoditi pangan segar yang terdiri dari komoditi peternakan (daging, susu, telur), perikanan dan komoditi tanaman pangan dan hortikultura ( sayuran, buah-buahan, beras dan palawija).

Untuk itu sangat diperlukan adanya beberapa cara/metode untuk pengawasan dan pemeriksaannya, agar dihasilkan pangan segar yang aman dan layak untuk di konsumsi.Pangan segar yang aman dan layak untuk

LKIP DISPERTAPA 2015 74 dikonsumsi adalah pangan yang bebas dari bebagai cemaran, baik itu cemaran secara fisik, zat kimia berbahaya, cemaran mikroba dan cemaran residu antibiotic, residu hormone, residu pestisida dan juga logam berbahaya (logam berat).

Untuk Mengetahui adanya cemaran pada produk pangan segar maka perlu dilakukan pemeriksaan, baik secara Organoleftik (untuk pemeriksaan fisik Ph, suhu, dan adanya pembusukan/kualitas produk), pemeriksaan cepat dengan menggunakan screening tes antara lain untuk pemeriksaan zat pengawet (formalin borak dll), pemutih (khlorin, hydrogen

peroksida/H2O2) dan pemeriksaan laboratorium untuk memeriksa cemaran

mikroba,residu antibiotic, residu hormone, residu pestisida dan logam berat.Keamanan pangan menjadi isu penting dalam perdagangan bebas. Jaminan keamanan pangan merupakan syarat dalam memenangkan persaingan di pasar bebas.Indikator ini penting karena indikator ini mendukung Penyelenggaraan SPM Ketahanan Pangan.

Selama tahun 2015 ditemukan adanya pangan segar yang tercemar dari target 50 kasus,ternyata kejadian kasusnya 20 kaus. Perhitungan indikator ini berbeda dengan indikator yang lain, semakin sedikit terjadinya kasus pencemaran pangan segar maka kinerjanya semakin baik. Oleh karena perhitungannya berbeda dengan indikator yang lain, seperti halnya indikator kasus penyakit zoonosa, maka perhitungan untuk indikator ini juga dipisahkan dengan perhitungan yang lain.

Pada tahun 2013 terjadi beberapa kasus tercemar yaitu 34 kasus (7 kasus beras berklorin, 3 kasus Ikan/Ikan Teri berformalin, pencemaran arsenik diatas ambang batas 9 kasus,15 kasus formalin pada komoditi pertanian (jeruk,kacang hijau, apel dan pear)), sedangkan tahun 2015 ditemukan adanya 20 kasus cemaran, namun demikian masih bisa menekan target kejadian maksimal 50 kasus berarti kinerjanya masih dikatakan baik.

Kalau kita membandingkan adanya kasus cemaran bahan pengawet formalin pada komoditi pangan segar dengan kabupaten/kota di Propinsi Jawa Barat pada bulan Maret 2014 adalah sebagai berikut :

LKIP DISPERTAPA 2015 75

No Kab/Kota Jumlah

Sampel Jenis Komoditi Negatif Formalin Positif Formalin

1 Kota Bandung 20 Buah-buahan dan ikan 20 0

2 Kab. Ciamis 6 Anggur (2), Apel (2) 2 2

3 Kota Banjar 4

Anggur, Jeruk, Apel Royal Gala, Peda Buntung

0 4

4 Kab. Subang 3 Anggur, Daging Ayam 1 2

5 Kab. Sukabumi 1 Ikan Tongkol 0 1

6 Kab.Cianjur 4 Apel, Anggur, Kangkung, Pindang Tongkol 0 4 7 Kab.Indramayu 4

Apel Merah, Jeruk Ponkam, Pear, Anggur Merah

0 4

8 Kab.Kuningan 1 Ikan Asin 0 1

Kab.Bogor 3 Bayam, Kangkung,

Apel 2 1

10 Kab.Garut 4 Apel, Anggur, Pear,

Bayam 0 4

11 Kab,Majalengka 2 Pear, Jeruk 0 2

12 Kota Cirebon 2 Apel Import 1 1

Sumber : Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Barat, 2014.

Dari hasil study banding ke daerah lain mengenai pengawasan mutu komoditi hasil pertanian diperoleh kesimpulan diantaranya : bahwa masih perlu ditingkatkan pengawasan dan pemeriksaan mutu komoditi hasil pertanian khususnya Bahan Asal Hewan/ Hasil Bahan Asal Hewan (BAH/HBAH); merencanakan kegiatan Sosialiasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV) pada pengusaha skala kecil sektor peternakan dan perikanan; dan penyempurnaan penyusunan Laporan Realisasi Pemasukan/Pengeluaran BAH/HBAH per bulan dan tahunan.

Faktor yang masih menjadi hambatan antara lain :

1. Kota Bandung bukan sebagai daerah produksi sehingga pangan segar yang dijual dan dikonsumsi masyarakatnya sebagian besar (95 %)

LKIP DISPERTAPA 2015 76 berasal dari luar wilayah Kota Bandung. Sehingga masih ditemukan produk pangan segar yang masuk ke kota bandung sudah tercemari. 2. Alat transportasi, penyimpanan, pada umumnya tempat penjualan

yang semestinya diperlukan untuk menyimpan produk pangan segar pada umumnya tidak dimiliki oleh para pedagang terutama yang berada di pasar tradisional .

3. Pelaku usaha dan konsumen masih kurang memahami tata cara penanganan dan penyimpanan produk pangan segar serta pengetahuan tentang bahayanya penggunaan bahan-bahan pengawet yang tidak semestinya (penyalahgunaan bahan kimia berbahaya). 4. Terbatasnya SDM pengawas mutu terutama petugas laboratorium

yang memiliki pendidikan khusus (analis kimia).

5. Luasnya cakupan pemeriksaan dan banyaknya lokasi yang harus di awasi dan diperiksa.

Saran/Solusi untuk capaian berikutnya antara lain adalah :

1. Mengadakan sosialisasi yang seluas-luasnya kepada pelaku usaha dan konsumen mengenai pentingnya pengawasan produk pangan segar yang HAUS (Halal, Aman, Utuh dan Sehat) dan bahayanya penggunaan bahan-bahan pengawet yang tidak semestinya, serta pentingnya memilih bahan pangan segar yang aman dan layak dikonsumsi

2. Meningkatkan pengetahuan para petugas pemeriksa,melalui

pelatihan ataupun magang di laboratorium sehingga dapat menambah pengetahuan tentang isu-isu yang baru

3. Menambah wawasan para petugas melalui study banding ke daerah yang bisa menghasilkan pengetahuan tambahan dan dapat diaplikasikan di Kota Bandung.

4. Menambah anggaran untuk pemeriksaan pangan segar ke laboratorium yang terakreditasi dan kebutuhan untuk pemeriksaan di lapangan ataupun di labratorium dinas.

5. Menambah SDM untuk pemeriksa khusus pangan segar di laboraturium dinas dengan latar belakang pendidikan analis kimia.

LKIP DISPERTAPA 2015 77 5. Analisis Pencapaian Sasaran 5

Bertambahnya pelaku usaha di bidang pertanian dan perikanan

No Indikator Kinerja Satuan

Tahun 2014 % Tahun 2015 % Target Reali sasi Target Reali sasi 1 Jumlah pelaku usaha di bidang

pertanian dan perikanan :

a. Budidaya pelaku usaha 690 695 100.72 750 755 100 b. Olahan pelaku usaha 195 240 123.08 370 600 162

Selama tahun 2015, jumlah pelaku usaha budidaya bidang pertanian dan perikanan sudah mencapai 755 pelaku usaha dari target 750 pelaku usaha atau 100,66%. Pada tahun 2014 jumlah pelaku usaha budidaya sebanyak 695, berarti pada tahun 2015 telah bertambah sebanyak 60 pelaku usaha. Penambahan jumlah pelaku usaha ini diantaranya terdiri dari pelaku usaha budidaya padi, tanaman palawija, peternak sapi, peternak domba maupun budidaya ikan hias dan ikan konsumsi.

Adapun pelaku usaha olahan bidang pertanian dan perikanan sudah mencapai 600 orang dari target 370 orang atau 162,16%. Pada tahun 2014 jumlah pelaku usaha olahan sebanyak 240, berarti pada tahun 2015 telah bertambah sebanyak

360 pelaku usaha. Penambahan

jumlah pelaku usaha ini

diantaranya terdiri dari pelaku usaha olahan keripik singkong, olahan pindang presto dan ikan bandeng, olahan nugget, baso, sosis sapi dan ayam, olahan

kerupuk kentang, olahan

rangginang, olahan abon ikan

LKIP DISPERTAPA 2015 78 satu kelompok usaha ada juga

kelompok usaha perorangan.

Lokasi pelaku usaha tersebar di beberapa kecamatan diantaranya

Kecamatan Andir, Kecamatan

Mandalajati, Kecamatan Bojongloa Kidul, Kecamatan Ujung Berung, Kecamatan Antapani, Kecamatan Buahbatu, Kecamatan Arcamanik, dan Kecamatan Regol.

Sasaran bertambahnya pelaku usaha di bidang pertanian dan perikanan dengan indikator jumlah pelaku usaha bidang pertanian dan perikanan merupakan sasaran strategis baru yang ada di tahun 2015, yang merupakan salah satu janji politik Walikota. Sehingga belum ada capaian kinerja untuk sasaran strategis ini di tahun sebelumnya.

Setiap daerah (kabupaten/kota) mempunyai kelebihan/kekurangan dalam pencapaian kinerjanya. Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas kinerja, akan diadakan study banding dengan daerah yang telah berhasil dalam pencapaian kinerja khususnya pada kegiatan penanganan pasca panen dan pengolahan hasil pertanian. Study banding ini dilakukan dalam rangka konsultasi, koordinasi dan pertukaran informasi.

Indikator jumlah pelaku usaha bidang pertanian dan perikanan

masuk dalam Program Peningkatan Ketahanan Pangan

(Pertanian/Perkebunan) Kegiatan Penanganan Pasca Panen dan Pengolahan Hasil Pertanian. Outcome kegiatan ini yaitu meningkatnya pengetahuan dan keterampilan petugas pertanian dan pelaku usaha olahan hasil pertanian, bertambahnya sarana usaha olahan hasil pertanian yang dapat meningkatkan skala usaha di bidang pengolahan hasil pertanian.Output kegiatan yaitu terselenggaranya pelatihan olahan hasil pertanian, tersalurkannya bantuan sarana pasca panen dan olahan hasil pertanian.

LKIP DISPERTAPA 2015 79 6. Analisis Pencapaian Sasaran 6

Meningkatnya keterampilan pelaku usaha yang menggunakan sarana teknologi pertanian dan perikanan.

No Indikator Kinerja Satuan

Tahun 2014 % Tahun 2015 % Target Reali sasi Target Reali sasi 1 Jumlah pelaku usaha yang

menggunakan sarana teknologi pertanian dan perikanan :

a. Budidaya pelaku usaha 600 603 100.5 630 640 101 b. Olahan pelaku usaha 100 120 120 160 162 101

Sasaran strategis meningkatnya keterampilan pelaku usaha yang menggunakan sarana teknologi pertanian dan perikanan ini mempunyai komponen indikator kinerja, yaitu jumlah pelaku usaha yang menggunakan sarana teknologi pertanian dan perikanan yang meliputi pelaku usaha budidaya dan pelaku usaha olahan.

Tingginya persaingan usaha memacu para pelaku usaha untuk melakukan inovasi terhadap hasil usahanya. Salah satunya dengan penerapan teknologi.Dalam usaha bidang pertanian, penggunaan sarana

teknologi pertanian dibutuhkan

untuk meningkatkan produksi dan mempermudah para pelaku usaha

dalam memproduksi barangnya.

Jumlah pelaku usaha olahan hasil petanian diharapkan akan terus

tumbuh dengan diadakannya

program-program pelatihan dan

bantuan sarana prasarana alat olahan pertanian dan budidaya pertanian.

LKIP DISPERTAPA 2015 80 Selama tahun 2015, jumlah pelaku usaha budidaya yang menggunakan sarana

teknologi pertanian dan

perikanan sudah mencapai 640 pelaku usaha dari target 630 pelaku usaha atau terealisasi 101,59%. Pada tahun 2014 jumlah pelaku usaha budidaya yang menggunakan sarana teknologi pertanian dan perikanan sebanyak 603, berarti pada tahun 2015 telah bertambah sebanyak 37 pelaku usaha. Penambahan jumlah pelaku usaha yang menggunakan teknologi diantaranya terdiri dari pelaku usaha budidaya tanaman hias dan sayuran dengan menggunakan teknologi hidroponik, kultur jaringan; juga pelaku usaha budidaya ternak sapi dengan inseminasi buatan.

Adapun pelaku usaha olahan yang menggunakan sarana teknologi pertanian dan perikanan sudah mencapai 162 orang dari target 160 orang atau sebesar 101,25%. Pada tahun 2014 jumlah pelaku usaha olahan yang menggunakan sarana teknologi pertanian dan perikanan sebanyak 120, berarti pada tahun 2015 telah bertambah sebanyak 42 pelaku usaha. Penambahan jumlah pelaku usaha yang menggunakan teknologi ini diantaranya pelaku usaha olahan pindang presto menggunakan panci presto, olahan bakso menggunakan mesin pencetak bakso, dan olahan abon menggunakan mesin pengering abon (spinner). Para pelaku usaha ini ada yang tergabung dalam satu kelompok usaha ada juga kelompok usaha perorangan. Lokasi pelaku usaha tersebar di beberapa kecamatan diantaranya Kecamatan Andir, Kecamatan Mandalajati, Kecamatan Bojongloa Kidul, Kecamatan Ujung Berung, Kecamatan Antapani, Kecamatan Buahbatu, Kecamatan Arcamanik, dan Kecamatan Regol.

Sasaran meningkatnya keterampilan pelaku usaha yang

LKIP DISPERTAPA 2015 81

jumlah pelaku usaha yang

menggunakan sarana teknologi

pertanian dan perikanan

merupakan sasaran strategis baru yang ada di tahun 2015.

Indikator jumlah pelaku

usaha yang menggunakan

teknologi pertanian dan perikanan

masuk dalam Program

Peningkatan Ketahanan Pangan (Pertanian/Perkebunan) Kegiatan

Penanganan Pasca Panen dan Pengolahan Hasil Pertanian. Outcome kegiatan ini yaitu meningkatnya pengetahuan dan keterampilan petugas pertanian dan pelaku usaha olahan hasil pertanian, bertambahnya sarana usaha olahan hasil pertanian yang dapat meningkatkan skala usaha di bidang pengolahan hasil pertanian.Output kegiatan yaitu terselenggaranya pelatihan olahan hasil pertanian, tersalurkannya bantuan sarana pasca panen dan olahan hasil pertanian.

Dalam dokumen IKHTISAR EKSEKUTIF LKIP DISPERTAPA (Halaman 73-81)

Dokumen terkait