E. T EKNIK A NALISIS D ATA
3. Analisis Pendapatan
Pendapatan dari industri rumah tangga gula kelapa dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut :
NR = TR – TEC
Keterangan:
NR (Net Revenue) = Pendapatan TR (Total Revenue) = Penerimaan
TEC (Total Explicyt Cost) = Total Biaya Eksplisit 4. Analisis Keuntungan
Keuntungan dari industri rumah tangga gula kelapa dapat dihitung menggunakan rumus :
π = TR – TC
Keterangan :
π (Profit) = Laba
TR(Total Revenue) = Total Penerimaan TC (Total Cost) = Total Biaya 5. Analisis Revenue Cost Ratio (R/C)
Kelayakan dari industri rumah tanga gula kelapa dapat dihitung menggunakan analisis R/C sebagai berikut :
R/C=
26
Jika R/C = 1 , maka usaha industri gula kelapa di Dusun karang tidak mengalami kerugian maupun keuntungan. Jika R/C > 1 , maka industri gula kelapa tersebut layak untuk diusahakan dan jika R/C < 1 , maka industri gula kelapa tersebut tidak layak dijalankan.
6. Produktivitas tenaga kerja
Tingkat produktifitas tenaga kerja dari industri rumah tangga gula kelapa dapat dihitung menggunakan rumus :
Produktivitas Tenaga Kerja =
Keterangan :
NR = Net Revenue (Pendapatan) NSLS = Nilai Sewa Lahan Sendiri BMS = Bunga Modal Sendiri
TKDK = Tenaga Kerja Dalam Keluarga
Jika produktifitas tenaga kerja > dari upah buruh yang berlaku, maka industri rumah tangga gula kelapa layak diusahakan. Namun jika produktivitas tenaga kerja < upah buruh yang berlaku maka industri rumah tangga gula kelapa tidak layak diusahkan.
7. Produktivitas Modal
Produktivitas modal dari usaha industri rumah tangga gula kelapa dapat dihitung menggunakan rumus :
Produktivitas Modal = x 100%
Keterangan :
NR = Net Revenue (Pendapatan)
27
NSLS = Nilai Sewa Lahan Sendiri TKDK = Tenaga kerja dalam keluarga TC Eksplisit = Total biaya eksplisit
Jika produktivitas modal > bunga pinjaman bank yang berlaku, maka usaha industri rumah tangga gula kelapa layak untuk dijalankan. Namun apabila produktivitas modal < bunga pinjaman bank yang berlaku maka industri rumah tangga gula kelapa tidak layak untuk dijalankan.
IV. KEADAAN UMUM LOKASI
Kabupaten Bantul merupakan satu dari 4 kebupaten yang ada di Wilayah Istimewa Yogyakarta. Daerah Kabupaten Bantul terletak sebelah selatan Provinsi Wilayah Istimewa Yogyakarta yang terletak pada 07º4404" 08º0027" Lintang Selatan serta 110º1234"- 110º3108" Bujur Timur. Luas daerah Kabupaten Bantul 508, 85 km²( 15, 90% dari luas provinsi DIY). Keadaan alam daerah kabupaten ini terdiri dari daratan yang terletak pada bagian tengah serta wilayah perbukitan pada bagian timur serta selatan dengan persentase tiap- tiap 40% serta 60%, dan ada wilayah tepi laut yang terletak di bagian selatan. Keadaan bentang alam tersebut relatif membujur dari arah utara ke selatan. Batas-batas wilayah Kabupaten Bantul adalah sebagai berikut:
a. Utara: Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman b. Timur: Kabupaten Gunung Kidul
c. Barat: Kabupaten Kulon Progo d. Selatan: Samudera Indonesia A. Kondisi Geografis
Desa Poncosari merupakan salah satu desa yang terdapat di Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa Poncosari terletak di wilayah kecamatan Srandakan, kabupaten Bantul, DIY, terdiri dari 24 Pedukuhan, yang meliputi 120 RT. Desa Poncosari merupakan desa hasil penggabungan 5 Kelurahan “Saptokondo, Wonotingal, Trihudadi, Sambikerto, Mojourip“.dengan masing- masing mempunyai pedukuhan:
29
a. Saptokondo (Pedukuhan Singgelo, Talkondo, Godegan)
b. Wonotingal (Pedukuhan Bayuran, Besole, Gunturgeni, Polosiyo, Wonotingal)
c. Sambikerto ( Pedukuhan Sambeng I, Sambeng II, Sambeng III, Jragan I, Jragan II)
d. Mojourip ( Pedukuhan Bibis, Babakan, Kukap, Koripan, Jopaten, Bodowaluh, Karang)
e. Triudadi ( Pedukuhan Cangkring, Ngentak, Kuwaru)
B. Keadaan Penduduk
Penduduk sangat mempunyai peran penting dalam membangun suatu daerah, terutama pembangunan dibidang pertanian. Semakin banyak jumlah penduduk maka akan semakin banyak pula potensi yang dapat dikembangkan untuk pembangunan suatu wilayah.
1. Penduduk Desa Poncosari Berdasarkan Jenis Kelamin
Keadaan penduduk berdasarkan jenis kelamin dapat digunakan untuk mengetahui perbandingan jumlah penduduk laki-laki dan jumlah penduduk perempuan. Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Gambar.
30
Gambar 2.Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin di Desa Poncosari 2019 Sumber: Data Disdukcapil Kab. Bantul Semester 1 Tahun 2019
Jumlah penduduk di Desa Poncosari yakni sebanyak 13.078 jiwa. Terbagi oleh 6.466 jiwa untuk berjenis kelamin laki-laki dan 6.612 jiwa untuk berjenis kelamin perempuan. Jumlah penduduk antara berjenis kelamin laki-laki dan perempuan hampir seimbang, meskipun hanya selisih 0,04% sebanyak 146 jiwa.
2. Penduduk Desa Poncosari Berdasarkan Usia
Keadaan penduduk berdasarkan usia dapat menggambarkan kehidupan produktif penduduk dalam suatu wilayah. Jumlah penduduk berdasarkan usia dapat dilihat pada Tabel 4:
Table 4.Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia di Desa Poncosari Tahun 2019 Jenis Kelamin Jumlah Penduduk (Jiwa) Persentase (%)
<15 th (Belum Produktif) 2.616 20,00
15-64 th (Produktif) 8.744 66,86
>64 th (Tidak Produktif) 1.718 13,14
Jumlah 13.078 100
Sumber: Disdukcapil Kab. Bantul Semester 1 Tahun 2019.
Berdasarkan Tabel 4, keadaan penduduk di Desa Poncosari memiliki rentang usia 15 – 64 tahun. Umur tersebut dikategorikan dalam 3 kelompok, yakni
31
kelompok umur belum produktif, kelompok umur produktif, dan kelompok umur tidak produktif. Kelompok umur tidak produktif memiliki persentasi paling rendah yaitu 13%, sedangkan kelompok umur produktif memiliki persentasi yang paling tinggi yakni 67%. Jumlah umur produktif merupakan modal awal untuk melanjutkan usaha produk hasil pertanian dan jumlah umur belum produktif merupakan aset untuk melanjutkan pembangunan usaha produk hasil pertanian di Desa Poncosari.
3. Penduduk Desa Poncosari Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Pendidikan adalah penunjang kemajuan masyarakat suatu daerah. Pendidikan memiliki peranan penting bagi pengrajin, melalui pendidikan pengrajin dapat mendapatkan pengetahuan baru sehingga dapat mengembangkan pekerjaannya, terutama industri kerajinan.
Table 5.Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Desa Poncosari Tahun 2019
Jenis Mata Pencaharian Jumlah Penduduk (Jiwa)
Akademi/Diploma III/S.Mud 267 2
Diploma IV/Strata I 655 5
Strata II 47 0
Strata III 3 0
Jumlah 13.078 100
Sumber: Disdukcapil Kab. Bantul Semester 1 Tahun 2019.
Berdasarkan Tabel 5, dapat dilihat bahwa tingkat pendidikan penduduk Desa Poncosari bervariasi. Persentase pada tingkat pendidikan penduduknya didominasi
32
oleh pendidikan pada tingkat SMA/SMK/MA dengan persentase sebesar 33%.
Hal ini menandakan bahwa penduduk di Desa Poncosari menganggap bahwa pendidikan itu sangat penting sehingga dapat menjadi salah satu pedoman dalam perkembangan dan kesejahteraan hidup. Penduduk pada jenjang strata 1 dan 2 juga sudah banyak sehingga dapat membantu untuk mengadopsi teknologi di masa mendatang. Penduduk akan lebih mudah dalam melakukan penyerapan informasi dan pengetahuan, sehingga akan mudah untuk diterapkan dalam dunia keseharian terutama sebagai pekerja, apalagi pekerja dalam dunia industri kerajinan. Untuk itu, pendidikan penduduk Desa Poncosari perlu dipertahankan dan juga ditingkatkan agar mampu meningkatkan ilmu dan pengetahuan sehingga kesejahteraan hidup pun akan meningkat.
4. Penduduk Desa Poncosari Berdasarkan Mata Pencaharian
Mata pencaharian ialah aktivitas manusia dalam memperoleh suatu pendapatan sehingga bisa mencukupi kebutuhan dan mendapatkan taraf hidup yang baik. Penduduk di Desa Poncosari memiliki mata pencaharian yang berbeda-beda. Hal tersebut dipengaruhi oleh kondisi sosial budaya, ekonomi, sumber daya alam dan kemampuan penduduk dalam mengusahakan mata 12 pencahariannya.
Lebih jelasnya, jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian di Desa Poncosari dapat dilihat pada Tabel 6.
34
Table 6.Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian di Desa Poncosari Jenis Mata Pencaharian Jumlah Penduduk (Jiwa) Persentase (%)
Belum Bekerja 1.998 20
Sumber: Disdukcapil Kab. Bantul Semester 1 Tahun 2019.
Berdasarkan Tabel 6, dapat dilihat bahwa pekerjaan yang ditekuni oleh penduduk Desa Poncosari didominasi oleh pekerjaan dibidang pertanian yaitu sebanyak 3.528 jiwa. Kemudian di ikuti oleh wiraswasta di posisi ketiga dengan jumlah penduduk sekitar 1.460 jiwa. Walaupun tidak menjadi pekerjaan yang mendominasi, namun industri tetap menjadi salah satu pekerjaan utama yang menopang kehidupan penduduk Desa Poncosari.
C. Keadaan Pengrajin Gula Kelapa di Desa Poncosari
Industri Gula Kelapa di Desa Poncosari secara umum didominasi oleh pedukuhan Karang. Dusun Karang merupakan pedukuhan yang sejak lama sudah rutin memproduksi gula kelapa. Masyarakat di Dusun Karang secara turun temurun menjadi pengrajin gula kelapa dan menjadikan gula kelapa sebagai salah satu sumber pendapatan mereka. Dusun lainnya di Desa Poncosari juga ada yang memproduksi gula kelapa, namun hanya sesekali dan hanya untuk dikonsumsi pribadi. Berikut ini adalah data Pengrajin gula kelapa yang ada di Dusun Karang :
34
Table 7.Jumlah Pengrajin Gula Kelapa di Desa Poncosari
No. Dusun Jumlah Pengrajin (jiwa) Persentase (%)
1 Karang 84 93
2 Ngentak 1 1
3 Kuwaru 5 6
Jumlah 90 100
Sumber: Data Primer Desa Poncosari 2019
Berdasarkan Tabel 7, dapat dilihat bahwa jumlah pengrajin industri Gula Kelapa yang aktif ada sebanyak 90 pengrajin. Industri Gula Kelapa di Dusun Karang merupakan salah satu sektor industri di Desa Poncosari yang sudah rutin memproduksi gula kelapa sejak lama dan masih aktif memproduksi gula kelapa setiap harinya hingga saat ini.
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Identitas Pengrajin Gula Kelapa
Identitas pengrajin Gula Kelapa adalah gambaran keadaan dan latar belakang usaha gula kelapa. Penelitian ini mengambil pengrajin yang masih aktif memproduksi gula kelapa di Desa Poncosari yang tersebar di pedukuhan Karang.
1. Berdasarkan Jenis Kelamin
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, peneliti melibatkan 42 pengrajin gula kelapa yang ada di Dusun Karang Berikut data jenis kelamin pengrajin gula kelapa.
Table 8.Penggolongan Pengrajin Berdasarkan Kelamin
Jenis Kelamin Jumlah Pengrajin (jiwa) Persentase (%)
Perempuan 28 67
Laki-laki 14 33
Jumlah 42 100
Tabel 8 menunjukkan bahwa mayoritas pengrajin gula kelapa adalah perempuan dengan 28 pengrajin, sedangkan pengrajin laki-laki yaitu 14 pengrajin.
Hal tersebut dikarenakan karena pengrajin perempuan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan memiliki banyak waktu luang untuk memproduksi gula kelapa dibandingkan pengrajin laki-laki. Sedangkan, pengrajin laki-laki yang mengusahakan gula kelapa dikarenakan para istri bekerja dalam bidang lain ataupun tidak memiliki anggota keluarga perempuan sehingga mereka satu satunya yang dapat meneruskan usaha dari orang tuanya.
2. Berdasarkan Usia
Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi tinggi atau randahnya pendapatan adalah umur. Jika umur pengrajin berada pada usia produktif, maka
36
hasil produksi juga akan meningkat sehingga berpengaruh terhadap pendapatan.
Berikut data umur pengrajin gula kelapa di Desa Poncosari pada tabel berikut.
Table 9.Identitas Pengrajin Gula Kelapa di Desa Poncosari Berdasarkan Usia No Usia Jumlah Pengrajin (Jiwa) Persentase (%)
1 28 - 36 8 19,05
Berdasarkan Tabel 9, menunjukkan bahwa mayoritas pengrajin gula kelapa berusia produktif yaitu sekitar 19 pengrajin yang telah berusia 55-63 tahun , hal ini dikarenakan pengrajin yang telah berusia di atas 50 tahun memiliki lebih sedikit kegiatan harian dibandingan dengan yang masih berusia muda. Mayoritas pengrajin yang telah berusia lanjut hanya melakukan kegiatan Bertani dan memproduksi gula kelapa, sedangkan pengrajin yang berusia lebih muda kisaran 28-36 tahun memiliki lebih banyak kegiatan lainnya seperti berjualan atau kegiatan rutin lainnya.
Pengrajin gula kelapa yang paling tua sudah memasuki kategori usia generasi X yaitu berumur 60 tahun dan mulai melakukan usaha gula kelapa sejak berumur 30 tahun. Sedangkan, pengrajin yang paling muda yaitu berumur 28 tahun termasuk kategori usia generasi Y dan sudah mulai melakukan usaha gula kelapa sejak berumur 20 tahun. Hal ini disebabkan oleh usaha gula kelapa ini merupakan usaha turun temurun dari orang tuanya. Pengrajin gula kelapa biasanya dilakukan oleh perempuan dengan usia dewasa dan merupakan pekerjaan bagi ibu rumah tangga selain melakukan pekerjaan disamping kegiatan rumah tangga dan bertani.
37
3. Berdasarkan Tingkat Pendidikan Formal
Pendidikan ialah salah satu aspek yang sangat penting untuk pengrajin dalam perihal menerima serta mempraktikkan teknologi baru, disamping keahlian dari pengrajin itu sendiri. Pendidikan mempengaruhi pola pikir pengrajin dalam melaksanakan aktivitas usahanya serta pengambilan keputusan dalam pemarasan gula kelapa yang dibuat. Pendidikan juga mempengaruhi pengrajin dalam meresap data terkini yang bisa diterapkan dalam aktivitas usahanya. Berikut informasi tingkatan pembelajaran resmi pengrajin gula kelapa :
Table 10.Identitas Pengrajin Gula Kelapa di Dusun Karang Berdasarkan Tingkat Pendidikan Formal
Pendidikan Formal Jumlah Pengrajin (Jiwa) Persentase (%)
SD/MI 10 24
SMP/MTs 29 69
SMA/SMK/MA 3 7
Jumlah 42 100
Sumber : Data Primer 2021
Pengrajin gula kelapa sebagian besar memiliki pendidikan pada tingkat pendidikan SD dan SMP. Berdasarkan hasil dari tabel diatas, pengrajin gula kelapa 24% berpendidikan SD dan 69% berpendidikan SMP. Pengrajin dengan tingkat pendidikan tersebut menunjukkan bahwa pengrajin berada pada tingkat pendidikan yang cukup rendah. Hal ini dikarenakan pengrajin gula kelapa masih kurang memahami pentingnya pendidikan, selain itu juga terkendala oleh biaya.
Walaupun mayoritas pendidikan pengrajin SD dan SMP, namun pengalaman yang dimiliki pengrajin pun cukup lama karena usahanya sudah turun temurun dari orang tua. Akan tetapi ada juga yang mengenyam pendidikan hingga SMA yaitu 3 pengrajin. Tidak ada pengrajin yang menempuh Pendidikan hingga ke perguruan tingi dikarenakan persoalan ekonomi. Tingkat Pendidikan pengrajin dapat mempengaruhi pola berpikir dan penalarannya dalam mengambil sebuah
38
keputusan (Ardelia et al., 2020). Pendidikan yang diperoleh diharap menjadi modal dalam menjalankan usaha gula kelapa, sehingga gula kelapa yang dihasilkan juga bisa lebih berkembang dan lebih menginovasi produk gula kelapa lainnya.
4. Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga
Banyaknya anggota keluarga sangat mempengaruhi pengrajin dalam memproduksi gula kelapa. Jumlah anggota keluarga mendorong pengrajin untuk memproduksi gula kelapa lebih banyak agar pengrajin dapat ikut menambah pendapatan keluarga, sehingga kebutuhan keluarga dapat tercukupi. Berikut tabel jumlah anggota keluarga pengrajin gula kelapa.
Table 11.Identitas Pengrajin Gula Kelapa di Dusun Karang Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga
Jumlah Anggota Keluarga Jumlah Pengrajin (Jiwa) Persentase (%)
1 - 2 27 64,29
3 - 4 15 35,71
Jumlah 42 100
Tabel 11 menunjukkan sebagian besar jumlah anggota keluarga yang dimiliki pengrajin adalah 1 - 2 orang sebanyak 27 pengrajin. Jumlah anggota keluarga tersebut terdiri dari suami atau istri dengan 1 hingga 2 orang anak. Hal ini menunjukkan bahwa pengrajin gula kelapa di Desa Poncosari rata-rata adalah keluarga kecil.
5. Berdasarkan Lama Berusaha
Pengalaman usaha merupakan salah satu faktor keberhasilan dari usaha gula kelapa. Pengalaman memberikan pengajaran secara tidak langsung kepada para pengrajin. Semakin banyak dan lama nya pengalaman pengrajin dalam usaha gula kelapa maka akan semakin lihai pengrajin dalam memproduksi dan menjual hasil
39
gula kelapanya. Pengrajin yang sudah lama akan lebih terbiasa dalan segala proses usaha gula kelapa. Berikut tabel lama berusaha pengrajin gula kelapa.
Table 12.Identitas Pengrajin gula kelapa di Desa Poncosari Berdasarkan Lama Berusaha
Lama Berusaha (tahun)
Jumlah Pengrajin (Jiwa) Persentase (%)
10 - 20 14 33,33
Pengalaman pengrajin gula kelapa menunjukkan lamanya waktu pengrajin dalam mengusahakan gula kelapa. Keberhasilan pengrajin gula kelapa tidak hanya ditentukan oleh tingkat pendidikan, tetapi juga ditentukan oleh lamanya dalam memproduksi. Berdasarkan pengalaman yang dimiliki oleh para pengrajin gula kelapa, maka diharapkan pengrajin memiliki inovasi produk yang lebih baik lagi dan jangkauan pemasaran yang luas, sehingga dapat mempertahankan serta meningkatkan produksi dan pendapatan pengrajin.
B. Profil Usaha Industri Gula Kelapa 1. Peralatan yang digunakan
Peralatan yang digunakan pada pembuatan gula kelapa masih sangat sederhana dan mudah untuk didapatkan. Alat-alat yang digunakan antara lain sebagai berikut.
a. Tungku yang digunakan adalah hasil buatan tangan sendiri menggunakan batu bata dan sudah digunakan sejak lama untuk memanaskan nira kelapa.
b. Panci merupakan alat masak yang terbuat dari logam yang digunakan sebagai wadah untuk memasak nira kelapa.
40
c. Irus merupakan alat yang bentuknya kecil dan ringan, serta harganya murah yang digunakan untuk mengaduk nira kelapa yang berada di panci.
d. Saringan digunakan untuk menyaring air nira sebelum dimasukkan ke panci agar tidak kotor.
e. Batok kelapa/cetakan yang digunakan untuk membentuk gula kelapa agar hasil dan ukurannya lebih mudah untuk di pasarkan.
f. Arit/deres digunakan untuk mengambil nira kelapa di atas pohon.
g. Drigen merupakan wadah penampung yang digunakan untuk mengumpulkan nira kelapa dari beberapa pohon sebelum di proses.
2. Cara Pembuatan Gula Kelapa
Proses pembuatan gula kelapa di Dusun Karang masih menggunakan cara yang tradisional. Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan gula kelapa yaitu nira kelapa segar yang langsung di ambil dari pohon kelapa yang ada disekitar rumah pengrajin. Air nira diambil setiap pagi dan sore hari. Setelah dikumpulkan nira akan langsung di saring supaya lebih bersih kemudian langsung di masukkan kedalam wajan/panci dan kemudian langsung dimasak hingga berubah warna dan mengental. Setelah masak gula kelapa akan diangkat dan diaduk Kembali sembari diberikan gula pasir secukupnya. Gula pasir membuat hasil dari gula kelapa lebih keras dan tidak mudah rapuh atau pecah. Setelah itu gula kelapa di masukkan kedalam cetakan/batok kelapa yang sudah dibersihkan. Gula kelapa akan mengeras sekitar 10-20 menit. Setelah jadi gula kelapa akan dikemas dan langsung di antarkan ke tempat penjualan.
41
Gambar 3.Bahan baku berupa air nira kelapa segar
Bahan baku yang digunakan adalah nira segar yang langsung diambil dari pohon di sekitar rumah pengrajin. Harga nira segar yang dijual pada umumnya berkisar Rp. 1000 – Rp 1.500/ltr. namun pengrajin di Dusun Karang tidak ada yang membeli karna semua pengrajin memiliki pohon kelapa di pekarangan rumahnya.
Gambar 4.Proses Penyaringan Nira Kelapa
42
Penyaringan dilakukan langsung diatas panci saat nira kelapa akan di masak. Penyaringan dimaksud agar nira bersih dari daun atau bunga kelapa yang masuk kedalam nira pada saat penampungan nira di atas pohon. Setelah proses penyaringan, pembuatan gula kelapa dapat dilihat pada Gambar 5.
C. Pemasaran Gula Kelapa
Berdasarkan hasil penelitian di lapangan bahwa kondisi pemasaran pada usaha gula kelapa di Dusun Karang masih dilakukan dengan proses tradisional.
Pengrajin gula kelapa di Dusun Karang sejak dulu selalu menjual hasil gula kelapanya ke satu tengkulak yang ada di Desa Poncosari.
Pemasaran gula kelapa yang dilakukan oleh para pengrajin selalu langsung dari pengrajin ke tengkulak. Penjualan langsung ke tengkulak dikarenakan lebih mudah dijangkau dan proses yang cepat dibandingkan harus menjual langsung ke pasar. Para pengrajin mayoritas juga petani yang memiliki banyak kegiatan setiap harinya sehingga tidak sempat untuk berlama-lama berjualan di pasar. Selain itu, tengkulak mau membeli berapapun jumlah hasil produksi gula kelapa tanpa ada
Nira Kelapa Penyaringan
Gula Kelapa Pemanasan
Diangkat dan dicampur gula pasir Pencetakan
Gambar 5.Proses produksi gula kelapa
43
batasan. Harga yang ditawarkan tengkulak juga tidak jauh dari harga pasaran sehingga pengrajin tetap mendapatkan keuntungan. Harga yang ditawarkan tengkulak kepada pengrajin adalah sekitar Rp 26.000 – Rp 27.000 /Kg. Harga yang dijual dipasar berkisar antara Rp 20.000 – Rp 40.000 tergantung asal dan kualitas dari gula kelapa itu sendiri.
D. Analisis Biaya, Penerimaan, Pendapatan, dan Keuntungan
Analisis yang digunakan pada penelitian ini yaitu analisis biaya produksi, analisis penerimaan, analisis pendapatan, dan analisis keuntungan. Analisis-analisis ini digunakan untuk menentukan berapa besar biaya yang di keluarkan dan keuntungan yang di dapatkan pada usaha industri rumah tangga gula kelapa di Dusun Karang.
1. Biaya
Biaya merupakan pengorbanan yang dikeluarkan untuk memperoleh input-input dalam usaha industri. Biaya pada industri rumah tangga gula kelapa meliputi biaya implisit yang terdiri dari sarana produksi, tenaga kerja dalam keluarga, biaya sewa tempat sendiri, dan biaya bunga modal sendiri. Biaya eksplisit terdiri dari sarana produksi, biaya penyusutan alat serta biaya lain-lain.
1) Biaya Eksplisit
Biaya eksplisit merupakan biaya yang benar-benar dikeluarkan dalam proses produksi seperti biaya sarana produksi, biaya penyusutan alat, dan biaya lain-lain.
a. Biaya Sarana Produksi
Biaya sarana produksi yaitu biaya yang dikeluarkan untuk membeli input produksi, input disini yaitu bahan pembantu dalam proses produksi gula kelapa adalah gula pasir.
44
Total biaya yang dikeluarkan oleh pengrajin gula kelapa di Desa Poncosari yaitu sebesar Rp 14.107 yang digunakan untuk membeli bahan pembantu dalam pembuatan gula kelapa. Penggunaan bahan pembantu berupa gula pasir yang digunakan pada pembuatan gula kelapa guna untuk mengeraskan dan membentuk gula kelapa sesuai cetakan.
b. Biaya Penyusutan Alat
Industri gula kelapa membutuhkan beberapa alat yang digunakan pengrajin untuk menunjang proses produksi. Alat-alat yang digunakan untuk proses produksi mengalami penyusutan tiap tahunnya, artinya harga beli alat saat masih baru berbeda dengan harga jual alat setelah dipakai dan juga pasti mengalami penurunan kualitas alat tersebut. Beberapa alat yang digunakan oleh pengrajin gula kelapa yaitu tungku, wajan/panci, cetakan/batok kelapa, saringan, arit, dan drigen.
Table 13.Rata-rata biaya penyusutan alat industri gula kelapa di Desa Poncosari
Alat-alat Penyusutan (Rp) Persentase (%)
Tungku 57 5,98
Panci 310 52,10
Irus 73 12,27
Saringan 37 6,22
Arit/Deres 68 11,43
Cetakan/Batok kelapa 3 0,50
Drigen 47 7,90
Jumlah 595 100
Sumber : Data Primer 2021
Berdasarkan Tabel 13, dapat diketahui bahwa total biaya penyusutan peralatan pada industri gula kelapa di Dusun Karang adalah sebesar Rp.595 per minggu. Biaya penyusutan alat tertinggi berada pada penyusutan alat panci dengan persentase 52,10%, panci merupakan alat penting dalam proses gula kelapa dan harga beli panci adalah harga tertinggi diantara alat-alat lainnya. Biaya
45
penyusutan alat terendah yaitu cetakan/batok kelapa yang terbuat dari tempurung kelapa dengan nilai rata-rata Rp.3 dan persentase 0,50% dari total biaya yang dikeluarkan selama proses produksi.
c. Biaya Transportasi
Biaya lainnya pada industri gula kelapa di Desa Poncosari yang harus dikeluarkan pengrajin hanya berupa biaya transportasi yaitu sebesar Rp 7.000 per minggu. Dari total responden sebanyak 42 pengrajin menggunakan sepeda motor untuk mengantarkan hasil gula kelapa ke tempat tengkulak yang berada tidak jauh dari rumah para pengrajin karna masih dalam satu lingkup desa.
d. Total Biaya Eksplisit
Total biaya eksplisit merupakan total keseluruhan dari biaya yang secara
Total biaya eksplisit merupakan total keseluruhan dari biaya yang secara