• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2 Analisis Pendapatan Usahatani

Analisis pendapatan usahatani jeruk bersumber dari 45 responden pada tahun 2020 dengan jumlah luas lahan rata-rata 1,13–1,30 haktar per responden, pelaksanaan usaha memerlukan biaya dalam proses produksi begitu juga usahatani jeruk. Biaya tersebut terdiri atas biaya tetap dan biaya variabel. Berikut pemaparan tentang biaya, biaya variable, biaya tetap dan total pendapatan :

5.2.1 Biaya Usahatani Jeruk

Biaya adalah suatu pengorbanan yang harus dilakukan untuk melaksanakan suatu proses produksi yang dinyatakan dengan satuan uang sesuai harga pasar yang

39 berlaku, baik yang sudah terjadi ataupun yang akan terjadi. Namun, beberapa lainnya juga mengatakan bahwa biaya adalah sebuah bentuk pengeluaran yang dilakukan oleh suatu pihak, baik itu individu maupun petani dalam usahatani untuk mendapatkan manfaat lebih dari tindakan tersebut. Biaya produksi usahatani terbagi 2 yaitu biaya tetap dan biaya variabel atau tidak tetap. Adapun pola biaya usahatani jeruk berdasarkan “Analisis Pendapatan usahatani Jeruk di Desa Batangmata Sapo Kecamatan Bontomatene Kabupaten Kepulauan Selayar” sebagai berikut:

Gambar 2. Pola Usahatani Jeruk Berdasarkan Analisis Pendapatan usahatani Jeruk di Desa Batangmata Sapo Kecamatan Bontomatene Kabupaten Kepulauan Selayar

Pada Gambar 2. di atas tahun 2009 mulai dari proses pengolahan lahan, bibit dan proses penanaman yang merupakan biaya investasi selama 10 tahun sesuai dengan umur tanaman jeruk.sementara itu pada tahun 2019 tepatnya bulan Agustus dilakukan penyiangan dengan cara membersihakan tanaman-tanaman liar atau biasa disebut dengan gulma yang tumbuh disekitar tanaman jeruk, setelah itu dilakukan

2009 2019 2020

Agu Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul

Pengolahan Penyiangan Pestisida Penyiangan Panen Lahan

Bibit Pemupukan Pemupukan Penanaman

40 pemupukan. Pada tahun 2020 tepatnya bulan Maret dilakukan penyiangan dan pemupukan kembali, dimana penyiangan dan pemupukan dilakukan 2 kali dalam setahun kemudian pada bulan Juli dilakukan panenan jeruk.

5.2.2 Biaya Variabel

Biaya variabel merupakan biaya yang besar kecilnya tergantung dari volume usahatani atau sifatnya berubah sesuai dengan besarnya produksi. Biaya variabel adalah biaya yang mewakili jumlah biaya-biaya untuk faktor-faktor produksi variabel. Biaya ini dapat berbentuk tunai, barang atau jasa dan kerja sesungguhnya tidak dibayarkan. Yang termasuk kedalam biaya variabel yaitu benih, pemberian obat-obatan dan biaya tenaga kerja. Adapun rata-rata biaya variabel usahatani jeruk dapat dilihat pada Tabel 12 berikut:

Tabel 12. Biaya Variabel Usahatani Jeruk

No Rincian Biaya Harga

1 Bibit Rp. 107.544,89

3 Obat Tanaman Rp. 172.533,33 4 Tenaga kerja pengolah lahan Rp. 733.333,33 5 Pupuk Rp. 840.022,22

Jumlah Rp. 1.853.433,77

Sumber : Data Sekunder Setelah Diolah, 2020

Berdasarkan Tabel diatas menjelaskan bahwa biaya variabel usahatani jeruk terdiri dari biaya bibit dengan rata-rata Rp. 107.544,89 dimana biaya bibit tersebut merupakan biaya investasi selama 10 tahun sesuai dengan rata-rata umur tanaman jeruk yaitu 10 tahun dengan tingkat suku bunga 12% untuk mendapatkan biaya bibit yang digunakan setiap tahun, pupuk sebesar Rp. 840.022,22 dimana pupuk yang

41 digunakan petani jeruk yaitu pupuk urea dan pupuk kompos. Biaya obat tanaman sebesar Rp. 172.533,33 dan biaya tenaga kerja usahatani jeruk Rp. 733.333,33. Jadi total biaya variable yang digunakan untuk usahatani jeruk yaitu sebesar Rp. 1.853.433,77 per musim panen.

5.2.3 Biaya Tetap

Penggunaan alat pertanian yang digunakan dalam proses produksi jeruk dimaksudkan untuk mempercepat petani dalam melakukan proses usahataninya. Alat pertanian yang digunakan oleh para petani jeruk adalah cangkul, bajak, parang, sabit dan sprayer.

Biaya peralatan usahatani tergantung dari biaya peralatan yang digunakan setiap tahun. Biaya penyusutan adalah selisih antara harga beli dan harga jual saat dibagi dengan lama penggunaan alat tersebut. Adapun biaya tetap yang digunakan dalam kegiatan produksi jeruk dapat dilihat pada Tabel 13 berikut :

Tabel 13. Biaya Tetap Usahatani Jeruk

No Jenis Alat Jumlah Harga Penyusutan Lama Pemakaian 1 Cangkul 2 Rp. 179.888,89 Rp.16.675,30 8 Tahun 2 Bajak 2 Rp. 181.111,11 Rp. 17.775,31 7 Tahun 3 Parang 2 Rp. 184.444,44 Rp. 16.187,65 7 Tahun 4 Sabit 2 Rp. 87.777,78 Rp. 7.483,86 6 Tahun 5 Sprayer 1 Rp. 135.111,11 Rp.12.110,58 6 Tahun Jumlah Rp. 768.333,33 Rp. 70.232,7

Sumber : Data Sekunder Setelah Diolah, 2020

Berdasarkan Tabel di atas menjelaskan bahwa terdapat 5 jenis alat yang digunakan oleh petani sampel dalam melakukan usahataninya sehingga lebih

42 memudahkan petani jeruk dalam melakukan pekerjaannya. Total pengeluaran biaya tetap yaitu Rp. 768.333,33. Tingginya rendahnya biaya alat tersebut disebabkan oleh penggunaan dan keawetan alat pertanian yang digunakan petani sampel.

5.2.4. Total Pendapatan

Mengetahui jumlah pendapatan yang diperoleh petani dari petani jeruk yang dikelola perlu dilakukan analisis pendapatan. Analisis pendapatan dihitung berdasarkan jumlah keuntungan dikurangi semua biaya.

Berdasarkan hal tersebut diatas maka besarnya pendapatan yang diperoleh petani dalam satu kali panen di Desa Batangmata Sapo Kecamatan Bontomatene Kabupaten Kepulauan Selayar dapat dilihat pada Tabel 14 berikut:

Tabel 14. Pendapatan Rata-rata Petani Desa Batangmata Sapo

Uraian Rata-rata Produksi Jeruk (kg) 6.116,67 Harga Jual 2.5 Jumlah Penerimaan Rp. 15.291.675 Biaya Produksi Biaya Tetap(Rp) 768.333,33 Biaya Variabel(Rp) 1.853.433,77 Jumlah Biaya Rp. 2.621.767,1 Pendapatan(Rp)(1+2) Rp. 12.669.907,9

Sumber : Data Sekunder Setelah Diolah, 2020

Berdasarkan Tabel di atas menunjukkan bahwa jumlah penerimaan petani jeruk adalah sebesar Rp. 15.291.675, sedangkan jumlah biaya yang dikeluarkan untuk proses usahataninya adalah sebesar Rp. 2.621.767,1. Jadi jumlah pendapatan rata-rata yang diperoleh petani jeruk untuk satu kali panen adalah sebesar Rp. 12.669.907,9.

43

5.2.5. Penerimaan

Pendapatan menurut Suratiyah (2015) merupakan perkalian antara harga produksi dan harga jual, besarnya penerimaan yang diterima petani untuk setiap rupiah yang dikeluarkan untuk kegiatan produksi pertanian dipengaruhi oleh volume produksi dan harga unit produksi yang diproduksi. Semakin tinggi jumlah produksi dan harga satuan produksi yang dihasilkan maka penerimaan usahatani menjadi semakin besar sebaliknya, semakin rendah jumlah produksi dan harga satuan produksi yang dihasilkan maka penerimaan usahatani juga akan semakin kecil.

Berdasarkan hasil penelitian lapangan, rata-rata hasil produksi jeruk adalah 6.11667 kg dengan rata-rata harga Rp 2.500. Berdasarkan produksi dan harga jual satuan produksi didapat hasil rata-rata penerimaan usahatani jeruk pertahun adalah sebesar Rp. 15.291.675. Besar kecilnya penerimaan petani di Daerah penelitian bervariasi tergantung dengan banyaknya produksi jeruk yang dihasilkan serta harga jual yang berlaku saat itu.

Dokumen terkait