• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Analisis Pendapatan Usahatani Wortel di Desa Surbakti

5.1.1 Penggunaan Sarana Produksi Usahatani Wortel di Desa Surbakti

Jumlah petani responden di Desa Surbakti yang menjadi pemilik lahan sendiri, yaitu 61 petani sedangkan 21 petani mengunakan lahan melalui kontrak atau sewa. Luas lahan usahatani wortel paling kecil adalah 500 meter dan yang paling besar 3 hektar. Sarana produksi untuk usahatani wortel yang digunakan petani yaitu bibit, pupuk, obat-obatan dan tenaga kerja. Frekwensi pemberian pupuk di desa Subakti 2 atau 3 kali sekali panen.

Tabel 5. Sarana Produksi Pupuk untuk Usahatani Wortel

No. Jenis Pupuk Jumah pupuk per

Sumber Hasil Penelitian (Data diolah 2019)

Tabel 5. Menunjukkan jumlah pupuk per petani dan per hektar untuk usahatani wortel. Jumlah pupuk per petani paling rendah adalah urea sebesar 5,36 kg atau per hektar sebesar 7,66 kg, sedangkan teringgi adalah KCL dimana jumlah KCL per petani sebesar 72,70 atau 103, 92 kg per hektar. Jumlah pupuk urea per hektar untuk usahatani wortel lebih rendah dari jumlah pupuk urea per hektar yang direkomendasikan yaitu 100 kg/ha, demikian juga untuk pupuk TSP per hektar dibawah 100 kg/ha. Waktu pemberian pupuk susulan dilakukan bersamaan dengan kegiatan penyiangan, yakni pada saat tanaman wortel berumur 1 bulan (https://simdos.unud.ac.id). Demikian juga pemberian pupuk Mutiara per hektar lebih rendah dari dosis anjuran yaitu 200 kg/Ha.

Tabel 6. Sarana Produksi Pestisida untuk Usahatani Wortel No Jenis Obat-obatan Jumlah Obat per

petani

Jumlah obat per Ha

1 Fungisida (ml) 1.695,42 2.423,30

2 Pestisida (ml) 1.097,86 1.569,19

3 Insetisida (ml) 1.019,81 1.457,64

Sumber Hasil Penelitian (Data diolah 2019)

Tabel 6. Menunjukkan jumlah obat per petani palin rendah adalah insektisida sebesar 1.019.81 ml dan jumlah inseksida per hektar sebesar 1.457,64 ml.

Penggunaan obat-obatan terbesar yaitu fungisida sebesar 1.695,42 ml dan per hektar sebesar 2.423,30 ml.

Tabel 7. Penggunan Tenaga Kerja untuk Usahatani Wortel

No Aktivitas Tenaga Kerja

Petani (hari)

Tenaga Kerja per Ha (hari)

1 Mempersiapkan lahan 11.79 16.85

2 Menanam 10.03 14.34

3 Memupuk 8.07 11.53

4 Merawat 10.36 14.81

Sumber Hasil Penelitian (Data diolah 2019)

Tabel 7. Menunjukkan aktivitas tenaga kerja per petani paling rendah adalah memupuk sebesar 8.07 hari dan biaya memupuk per hektar jumlah sebesar 11.53 hari. Mempersiapkan lahan adalah aktivitas dimana invetasi biaya per petani sebesar 11.79 dan biaya per hektar 16.85. Petani pemilik menjual produksinya kepada pedagang perantara, berarti kegiatan memanen oleh pedagang perantara.

5.1.2 Biaya Produksi untuk Usahatani Wortel

Harga pupuk untuk Urea, TSP, KCL masing-masing yaitu Rp 2.200/kg, Rp 6.000/kg dan Rp 6.000/kg. Sedangkan Amapos, Mutiara dan Hidrokomplek, masing-masisng Rp 4.200/kg, Rp 8.500/kg dan Rp 9.000/kg.

Tabel 8. Biaya Pengeluaran Untuk Pupuk

No. Jenis Pupuk Biaya Petani (Rp) Biaya per Ha (Rp)

1 Urea 11.804,88 16.872,93

2 TSP 268.829,26 384.242,63

3 KCL 436.243,90 623.531,46

4 Amapos 205.595,12 293.860,90

5 Mutiara 194.618,90 278.172,38

6 Hidrokomplek 438.640,24 626.956,59

Sumber Hasil Penelitian (Data diolah 2019)

Tabel 8. menunjukkan bahwa biaya pupuk terendah untuk kegiatan usahatani wortel yaitu pupuk urea sebesar Rp 11.804,88, per petani atau Rp 16.872,93 per hektar, sedangkan biaya pengeluaran yang tertinggi adalah pupuk hidrokomplek, dimana per petani sebesar Rp 438.640,24 atau Rp 626.956,59 per hektar.

Meskipun jumlah penggunaan pupuk hidrokomplek per petani atau per hektar lebih rendah dari pupuk KCL, tetapi biaya pengeluaran per petani atau per hektar hidrokomplek lebih tinggi dari biaya pengeluaran untuk KCL karena harga pupuk hidrokomplek lebih tinggi dari harga pupuk KCL.

Harga Inseksida, pestisida dan fungisida di Desa Surbakti berkisar antara Rp 130.000 sampai Rp 200.000 per liter. Frekwensi penggunaan obat-obatan (pestisida, insektisida dan fungisida) di Desa Surbakti sebanyak tiga kali.

Tabel 9. Biaya pengeluaran untuk Obat-obatan

No Jenis Obat-obatan Biaya Petani Biaya Per Ha

1 Pestisida 254.314 363.496

2 Insektida 142.722,6 203.996

3 Fungisida 203.963,41 291.529

Sumber Hasil Penelitian (Data diolah 2019)

Tabel 9. menunjukkan bahwa biaya pengeluaran terendah untuk obat-obatan adalah untuk insektisida yaitu Rp 142.722,6 per petani atau Rp 203.996 per hektar, sedangkan biaya pengeluaran tertinggi untuk obat-obatan adalah pestisida, yaitu Rp 254.314 per petani atau Rp 363.496 per hektar.

Tenaga kerja petani Desa Surbakti mayoritas orang dari luar keluarga petani, Kegiatan bekerja di Desa Subakti dikenal dengan kata “Aron,” dimana upah aron sehari adalah sebesar 100.000 (Seratus ribu rupiah). Upah per hari di Desa Surbakti tidak berbeda untuk kegiatan mempersiapkan lahan, menanam, memupuk dan merawat tanaman. Pada umumnya, peralatan untuk kegiatan usahatani wortel dipersiapkan oleh tenaga kerja upahan.

Tabel 10. Biaya Tenaga Kerja untuk Usahatani Wortel

No Aktivitas Total Cost bekejar

per Petani (Rp)

Total Cost bekejar per Ha (Rp)

1 Mempersiapkan lahan 1.179.268,29 1.685.549.93

2 Menanam 1.003.658.53 1.434.547.67

3 Memupuk 807.317.07 1.153.913.19

4 Merawat 1.036.585.36 1.481.610.59

5 Total 4.026.829.26 5.755.621.40

Sumber Hasil Penelitian (Data diolah 2019)

Tabel 10. menujukkan biaya tenaga kerja per petani terendah adalah memupuk sebesar Rp 807.317.07, atau Rp 1.153.913,19 per hektar, sedangkan biaya tenaga kerja per petani tertinggi adalah kegiatan mempersiapkan lahan yaitu Rp 1.179.268,29 atau Rp 1.685.549,93 per hektar. Biaya total tenaga kerja per petani sebesar Rp 4.026.829,26 atau Rp 5.755.621,40 per hektar.

Tabel 11. Biaya Produksi Total Usahatani Wortel

No Komponen Pengeluaran Biaya per Petani (Rp) Biaya per Ha (Rp)

1 Benih 1.593.170,732 2.277.148,335

2 Pupuk 1.117.092,073 1.596.680,321

3 Obat-obatan 601.000 859.020

4 Tenaga Kerja 4.026.829,268 5.755.621,59

5 Biaya Produksi 7.338.092,07 10.488.470,45

Sumber Hasil Penelitian (Data diolah 2019)

Tabel 11. Menunjukkan bahwa data penyusutan alat dan pajak tanah tidak ada dalam perhitungan. Biaya pajak lahan per hektar di Desa Surbakti sebesar Rp 100.000. Pada umumnya peralatan yang dimiliki oleh petani adalah alat semprot, sedangkan peralatan usahatani yang digunakan untuk kegiatan usahatani wortel dimiliki oleh tenaga kerja upahan (luar keluarga).

Komponen biaya terbesar yang dikeluarkan petani untuk usahatani wortel adalah biaya tenaga kerja sebesar Rp 5.755.621,59 per hektar sedangkan yang terendah adalah biaya pengeluaran untuk obat-obatan sebesar Rp 859.020 per hektar. Total biaya produksi untuk kegiatan usahatani wortel yaitu Rp7.338.092,07 per petani atau Rp 10.488.470,45 per hektar.

5.1.3 Pendapatan Usahatani Wortel

Penerimaan petani dari usahatani wortel merupakan hasil perkalian produksi wortel dengan harga wortel per kg. Produksi wortel per petani 18,08 ton atau 25,84 ton per hektar. Harga jual petani ke pedagang Rp 2.000 per kg, sehingga penerimaan per petani sebesar Rp 36,20 juta atau Rp 51,75 juta per hektar. Penerimaan petani dari usahatani wortel meningkat dengan kenaikan produksi wortel.

Tabel 12. Pendapatan Usahatani Wortel

No Variabel Per Petani Per hektar Sumber Hasil Penelitian (Data diolah 2019)

Tabel 12 menunjukkan bahwa pendapatan usahatani wortel adalah selisih penerimaan dengan biaya produksi untuk usahatani wortel. Pendapatan per petani dari usahatani wortel sebesar Rp 28.871.664,02 atau Rp 41.266.802,34 per hektar.

Hasil pendapatan yang dibandingkan dengan hasil penelitian terdahulu.

5.2 . Uji Asumsi

Tujuan uji normalitas adalah ingin mengetahui apakah distribusi sebuah data mengikuti atau mendekati distribusi normal, yakni distribuisi data dengan bentuk lonceng. Data yang baik adalah data yang mempunyai pola seperti distribuisi normal, yakni distribuisi data tersebut tidak menceng ke kiri atau menceng ke kanan. (Situmorang, 2008).

5.2.1 . Uji Normalitas (Kolmogorov-Smirnov Test)

Uji Kolmogovov- Smirnov untuk menguji apakah data yang diperoleh berasal dari populasi yang berdistribuisi normal atau tidak.(Gio, 2013). Hasil uji normalitas disajilan pada tabel 13.

Tabel 13. Hasil Uji Normalitas (Kolmogorov-Smirnov Test

Keterangan N Asymp. Sig (2-tailed)

Unstandarduzed residual 62 0,200

Sumber Hasil Penelitian (Data diolah 2019)

Pada Tabel 13 terlihat nilai Asymp sig sebesar 0,200 dan nilai signifikan sebesar 0.05. Hal ini menujukkan variabel residual berdistribusi normal.

5.2.2. Uji Heteroskedastisitas (Glejser Test)

Uji Glejser Test untuk menguji apakah sebuah grup mempunyai varians yang sama di antara anggota grup tersebut. Jika varians sama, dan ini yang seharusnya terjadi maka dikatakan ada homoskedastisitas. Sedangkan jika varians tidak sama dikatakan terjadi heteroskedastisitas.( Situmorang, 2008). Hasil uji Heteroskedastisitas para Tabel 14.

Tabel 14. Hasil Uji Heteroskedastisitas (Glejser Test)

Sumber Hasil Penelitian (Data diolah 2019)

Tabel 14. Menujukkan seluruh variabel bebas memiliki tingkat signifikan lebih besar dari 0,05 hal ini menujukkan bahwa H0 diterima dan H1 ditolak, tidak terjadi Heteroskedatisitas dalam model.

5.2.3. Uji Multikolinearitas.

Uji Multikolinearitas merupakan suatu kejadian di mana terjadi korelasi atau hubungan yang bersifat linier di antara variabel-variabel bebas. Hubungan linier yang terjadi di antara variabel-variabel bebas dapat berupa hubungan linier yang bersifat sempurna atau hubungan linier yang bersifat kurang sempurna.(

Situmorang, 2008). Uji Multikolinearitas dapat dilihat pada Tabel 15.

Model T Sig.

(Constant) .786 .436

LnX1 (Luas Lahan) -.241 .810

LnX3 (Inseksida) .715 .478

LnX4 (Fungisida) .351 .727

LnX5 (Tenaga Kerja) -.138 .891

LnX9 (Amapos) .896 .374

LnX11(Hidrokomplek) -.845 .402

Tabel 15. Uji Multikolinearitas

Collinearity Statistics

Model Tolerance VIF

1 (Constant)

Lnx1 (Luas Lahan) .509 1.965

Lnx3 (Insetsida) .911 1.097

Lnx4 (Fungisida) .939 1.065

Lnx5 (Tenaga Kerja) .530 1.887

Lnx9 (Amapos) .870 1.149

Lnx11 (Hidrokompleks) .875 1.143

Sumber Hasil Penelitian (Data diolah 2019)

VIF > 5 maka diduga mempunyai persoalan multikolineritas. VIF ≤ 5 maka tidak terdapat multikolineritas. Tolerance < 0,1 maka diduga mempunyai persoalan multikolineritas Tolerance ≥ 0,1 maka tidak terdapat multikolienaritas.

Oleh karena nilai VIF lebih kecil 5 ini berarti tidak terjadi multikolinearitas.

5.2.4 Uji Kebaikan Model.

Ketepatan fungsi regresi dalam menaksir nilai actual dapat diukur berdasarkan Godness of fit-nya yaitu nilai R2 atau koefisien derterminasi. Koefisien determinasi mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel independent. Nilainya adalah 0-1. Semakin mendekat nol berarti model tidak baik atau variasi model dalam menjelaskan amat terbatas, sebaliknya semakin mendekat satu model semakin baik. ( Situmorang, 2008). Hasil Uji koefisient determinasi dilihat pada Tabel 16.

Tabel 16. Uji R²

R R²

Adjusted R

Square F Sig.

.965a .932 .924 125.164 .000c

Sumber Hasil Penelitian (Data diolah 2019)

Bedasarkan hasil diperoleh nilai koefisien korelasi (R) adalah sebesar 0,965, dan nilai koefisien derterminasi (R Square) adalah sebesar 0,932.Hal ini menujukkan bahwa 93,2% variasi variabel bebas pupuk (amapos, hidrokomplek), obat-obatan (fungisida, Inseksida), luas lahan dan tenaga kerja telah mampu menjelaskan variasi variabel terikat produksi. Sedangkan sisanya 6,8% dapat dijelaskan oleh variabel lain yang belum dimasukkan ke dalam model.

Untuk menguji apakah hipotesis yang digunakan diterima atau ditolak digunakan statistic F (Uji F). Jika tingkat signifikansi di bawah sebesar 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima.

Tabel 16 menujukkan bahwa nilai F hitung adalah sebesar 125,164 dengan tingkat siginifikansi sebesar 0,000. Tingkat signigikansi sebesar 0,000 (< 0,05) menunjukkan bahwa hipotesis nol ditolak dan hipotesis satu diterima. Ini berarti secara serempak variabel bebas, pupuk (amapos, hidrokompleks), obat-obatan (insetisda dan fungisida), luas lahan dan tenaga kerja, berpengaruh nyata terhadap variabel produksi wortel. Variabel bebas X mempengaruhi variabel terikat Y secara linear atau terdapat hubungan linier antara variabel bebas X dengan variabel terikat Y, sehingga model regresi yang dihasilkan dapat digunakan untuk mengestimasi variabel terikat Y.

Dokumen terkait