• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Peneliti Terhadap Terhadap Putusan Nomor 3819/Pid.B/ 2017/PN

Mdn

Untuk mencapai kebenaran materiil yaitu kebenaran yang selengkap-lengkapnya pada Putusan Nomor 3819/Pid.B/2017/PN. Mdn, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Medan, telah meneliti secara cermat dan seksama semua perbuatan, kejadian atau keadaan-keadaan yang berlangsung selama persidangan dimana fakta-fakta yang digali dari alat-alat bukti yang berupa saksi-saksi, keterangan terdakwa dan barang bukti, ternyata bersesuaian satu sama lainnya sehingga memperoleh keyakinan bahwa benar perbuatanya merupakan tindak pidana melakukan pencurian dengan pemberatan yaitu melanggar Pasal 363 ayat (1) ke 3e dan 4e KUHP.

Menurut peneliti penerapan unsur-unsur Pasal 363 ayat (1) ke 3e dan 4e KUHP:

1. Unsur barang siapa

Pada dasarnya yang dapat melakukan tindak pidana ialah manusia (naturlijk personen). Pengertian barang siapa adalah menunjukkan pengertian seseorang

sebagai subyek hukum penanggung hak dan kewajiban. Unsur barang siapa pada Pasal Pasal 363 ayat (1) ke 3e dan 4e KUHP adalah menunjuk pada orang yang melakukan tindak pidana dan ini menunjukkan perbuatan manusia. Dengan kata lain, unsur barang siapa adalah menunjukkan bahwa pelakunya adalah orang yang memenuhi semua unsur tindak pidana oleh karena itu unsur barang siapa dalam hal ini tidak boleh diartikan lain kecuali manusia.

Apabila dikaitkan dengan Putusan Nomor 3819/Pid.B/ 2017/PN. Mdn, unsur barang siapa dalam hal ini adalah Agus Suriadi, umur 21 tahun, kebangsaan Indonesia, agama Islam, pekerjaan wiraswasta, bertempat tinggal di Dusun Sidorukun Kecamatan Stabat Kabupaten Langkat. Dengan demikian unsur barang siapa dalam Putusan Nomor 3819/Pid.B/ 2017/PN. Mdn telah terpenuhi.

2. Unsur mengambil sesuatu barang

Tindak pidana pencurian adalah mengambil barang orang lain untuk memilikinya. Perbuatan mengambil sudah dimulai pada saat seseorang berusaha melepaskan kekuasaan atas benda dari pemiliknya. Mengambil artinya mengambil untuk dikuasainya, maksudnya waktu pencuri mengambil barang itu, barang tersebut belum ada dalam kekuasaannya. Pengambilan (pencurian) itu sudah dapat dikatakan selesai, apabila barang tersebut sudah pindah tempat. Bila

orang baru saja memegang barang itu, dan belum berpindah tempat, maka orang itu belum dapat dikatakan mencuri, akan tetapi ia baru “mencoba mencuri”.

Jika dihubungkan dengan Putusan Nomor 3819/Pid.B/ 2017/PN, berdasarakan fakta yang terungkap di persidangan bahwa pada hari Kamis tanggal 12 Oktober 2017 sekira pukul 21.00 WIB, terdakwa telah melakukan pencurian dengan keadaan yang memberatkan terhadap barang berupa 5 (lima) buah/potong besi di Jalan Sisingamangaraja Kelurahan Harjosari II Kecamatan Medan Amplas tepatnya di perusahaan PT. Baja Pertiwi Industri. Terdakwa telah mengambil dengan tanpa ijin dan dengan maksud ingin memiliki barang milik korban (PT.

Baja Pertiwi Industri), berupa 5 (lima) buah/potong besi. Berdasarkan hal-hal tersebut, maka unsur mengambil sesuatu barang telah terpenuhi.

3. Unsur yang sama sekali atau sebagian milik orang lain

Segala sesuatu yang meruakan bagian dari harta kekayaan (seseorang) yang dapat diambil (oleh orang lain) itu, dapat menjadi objek tindak pidana pencurian. Bila dikaitkan dengan Putusan Nomor 3819/Pid.B/ 2017/PN, 5 (lima) buah/potong besi telah diambil oleh terdakwa di Jalan Sisingamangaraja Kelurahan Harjosari II Kecamatan Medan Amplas yang bulan merupakan milik terdakwa, melainkan milik PT. Baja Pertiwi Industri Medan.

4. Unsur dengan maksud untuk memiliki barang itu dengan melawan hak

Salah satu unsur dari perbuatan melawan hukum adalah perbuatan tersebut harus melanggar undang-undang yang berlaku dan merugikan orang lain. Berdasarkan

Putusan Nomor 3819/Pid.B/2017/PN, ditemukan fakta hukum di persidangan bahwa terdakwa mengambi 5 (lima) buah/potong besi adalah termasuk pencurian yang diatur dalam Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Sedangkan mengenai menimbulkan kerugian terhadap orang lain adalah akibat perbuatan terdakwa, PT. Baja Pertiwi Industri Medan menderita kerugian sebesar Rp.

20.000.000 (dua pukuh juta rupiah)

Untuk keyakinan Hakim itu sekurang-kurangnya harus ada dua alat bukti yang sah. Dalam sistem negatief wettelijk ada dua hal yang merupakan syarat yaitu wettelijk dan negatief. Wettelijk dimaksudkan dengan alat-alat bukti yang sah dan

yang ditetapkan oleh undang-undang, sedangkan negatief adalah dengan alat bukti yang sah ditetapkan oleh undang-undang saja belum cukup bagi hakim pidana menganggap bukti sudah diberikan, akan tetapi masih dibutuhkan adanya keyakinan hakim, dengan demikian antara alat bukti dan keyakinan hakim diharuskan adanya hubungan kausa (sebab-akibat).

Menurut Pasal 184 ayat (1) KUHAP alat bukti yang diakui adalah : 1. Keterangan saksi

2. Keterangan ahli 3. Surat

4. Petunjuk

5. Keterangan terdakwa

Rumusan tersebut di atas apabila dihubungkan dengan Putusan Nomor 3819/Pid.B/ 2017/PN, yang dijadikan pertimbangan yuridis oleh hakim adalah semua fakta yang terungkap dipersidangan. Fakta yang dimaksud adalah dalam bentuk alat-alat bukti seperti yang dikehendaki secara limitatif oleh Pasal 184 KUHAP. Dalam persidangan alat bukti yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum adalah keterangan saksi dan keterangan terdakwa serta barang bukti.

Kesaksian adalah suatu keterangan dengan lisan di muka hakim dengan sumpah tentang hal-hal mengenai kejadian tertentu yang ia dengar, lihat dan alami dan ia rasakan, ketahui dan dinyatakan di muka persidangan.

Untuk sahnya keterangan saksi menurut KUHAP adalah sebagai berikut : 1. Pasal 160 ayat (3) KUHAP, sebelum memberikan keterangan, saksi wajib

mengucapkan sumpah atau janji menurut cara agamanya masing-masing, bahwa ia akan memberikan keterangan yang sebenarnya dan tidak lain daripada yang sebenarnya.

2. Pasal 1 butir 27 KUHAP, keterangan saksi adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengan dan ia alami sendiri dengan menyebutkan alasan dari pengetahuannya itu.

Jika dihubungkan dengan Putusan Nomor 3819/Pid.B/2017/PN, untuk membuktikan kesalahan terdakwa hakim telah memeriksa 2 (dua) saksi yaitu,

Rahmat dan Zulham Efendi dengan terlebih dahulu disumpah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.

Pasal 189 ayat (1) KUHAP merumuskan tentang pengertian keterangan terdakwa yaitu sebagai berikut : “Keterangan terdakwa ialah apa yang terdakwa nyatakan di sidang pengadilan tentang perbuatan yang ia lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau ia alami sendiri”. Rumusan Pasal 189 KUHAP diketahui bahwa keterangan terdakwa itu adalah sama dengan artinya pengakuan dari terdakwa.

Guna menentukan kesalahan terdakwa tidaklah cukup hanya dari pengakuan terdakwa melainkan harus disertai dengan alat bukti yang lain. Dengan demikian keterangan terdakwa baru dapat menjadi alat bukti apabila keterangan terdakwa itu dibarengi dengan alat-alat bukti yang lain disamping keterangan-keterangan dari pihak si korban yang membenarkan tentang pengakuan dari terdakwa.

Jika dihubungkan dengan Putusan Nomor 3819/Pid.B/2017/PN, dapat disimpulkan bahwa keterangan terdakwa itu sama dengan arti pengakuan dari terdakwa. Pengakuan yang dimaksud di sini adalah ucapan dan perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa, dengan suatu tuduhan atas dirinya mengenai perbuatan dan kesalahan yang diucapkan di dalam maupun di luar sidang pengadilan.

Keterangan terdakwa yang dapat diklasifikasikan sebagai keterangan terdakwa di luar sidang ialah keterangan yang diberikan dalam pemeriksaan penyidikan, keterangan itu dicatat dalam Berita Acara yang ditandatangani oleh penyidik dan tersangka. Dalam memberikan keteranganpun terdakwa harus diikuti

dengan alat bukti yang lain yaitu keterangan saksi di samping juga keterangan dari korban yang membenarkan tentang pengakuan dari si terdakwa.

Proses peradilan dalam putusan Pengadilan Negeri Medan, dengan Putusan Nomor 3819/Pid.B/2017/PN, apabila dikaitkan dengan rumusan tersebut di atas telah sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP, sehingga telah mengungkap fakta-fakta hukum yang terbukti benarnya bahwa telah terjadi tindak pidana melakukan pencurian dalam keadaan yang memberatkan, sebagaimana diatur dalam Pasal 363 ayat (1) ke 3e dan 4e KUHP, sehingga terdakwa Agus Suriadi dapat dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana melakukan pencurian dalam keadaan yang memberatkan.

Hakim dalam menjatuhkan terhadap Putusan Nomor 3819/Pid.B/2017/PN juga telah mempertimbangkan terhadap hal-hal yang memberatkan dan meringankan terdakwa sebagaimana diatur dalam Pasal 197 ayat (1) huruf f KUHAP. Dalam hubungannya dengan majelis yang menjatuhkan pidana penjara selama 1(satu) tahun dan 10 (sepuluh) bulan, hal ini menurut peneliti telah sesuai dengan tujuan pidana dan pemidanaan. Berdasarkan alat-alat bukti yang sah yang telah diajukan dalam perkara tersebut dan ditinjau dari persesuaian antara alat bukti yang satu dengan alat bukti yang lain, dengan mempertimbangkan nilai pembuktian masing-masing alat bukti, di samping itu juga telah mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan meringankan terdakwa, serta mendasarkan pada fakta di persidangan bahwa

perbuatan terdakwa telah memenuhi rumusan Pasal 363 ayat (1) ke 3e dan 4e KUHP, maka hakim berkeyakinan dan berpendapat bahwa terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan tindak pidana melakukan pencurian dalam keadaan yang memberatkan.

83 A. Kesimpulan

1. Penyebab terjadinya pencurian dengan pemberatan adalah faktor intern dan ekstern. Faktor intern adalah dorongan yang terjadi dari dirinya sendiri, sementara faktor ekstern adalah faktor yang tercipta dari luar dirinya, faktor inilah yang bisa dikatakan cukup kompleks dan bervariasi. Kesenjangan sosial, kesenjangan ekonomi, ketidakadilan, merupakan contoh penyebab terjadinya tindak kriminal yang berasal dari luar dirinya.

2. Sanksi pidana pencurian dengan pemberatan tertera dalam Pasal 363 KUHP:

(1) Dengan hukuman penjara selama-lamanya tujuh tahun, dihukum:

1e. Pencurian hewan

2e. Pencurian pada waktu kebakaran, letusan, kebanjiran, gempa bumi, atau gempa laut, letusan gunung merapi, kapal selam, kapal terdampar, kecelakaan kereta api, huru-hara, pemberontakan atau kesengsaraan dimasa perang.

3e. Pencurian pada waktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan yang tertutup yang ada rumahnya, dilakukan oleh orang yang ada di situ tiada dengan setahunya atau bertentangan dengan kemauannya orang yang berhak (yang punya).

4e. Pencurian dilakukan oleh dua orang bersama-sama atau lebih.

5e. Pencurian yang dilakukan oleh tersalah dengan masuk ketempat kejahatan itu atau dapat mencapai barang untuk diambilnya, dengan jalan membongkar, memecah atau memanjat atau dengan jalan memakai kunci palsu, perintah palsu atau pakaian jabatan palsu.

(2) Jika pencurian yang diterangkan dalam nomor 3 disertai dengan salah satu hal yang tersebut dalam nomor 4 dan nomor 5, dijatuhkan hukuman penjara selama-lamanya sembilan tahun.

3. Dasar pertimbangan hukum Majelis Hakim dalam putusan Nomor 3819/Pid.B/2017/PN. Mdn menjatuhkan putusan terhadap terdakwa Agus Suriadi dengan tindak pidana pencurian dengan pemberatan. Di mana dalam keadaan yang memberatkan perbuatan terdakwa sangat meresahkan masyarakat dan merugikan saksi korban. Sementara, keadaan yang meringankan terdakwa mengaku bersalah dan menyesali perbuatan yang telah dilakukannya serta berjanji tidak akan mengulanginya kembali, dan terdakwa belum pernah dihukum.

B. Saran

1. Hendaknya masyarakat maupun aparat penegak hukum perlu mengefektifkan upaya preventif maupun represif tindakan pencurian dengan memperhatikan gejela-gejala sosial dalam lingkungan masyarakat untuk menekan faktor penyebab pencurian.

2. Diharapkan pelaksanaan pengaturan tindak pidana pencurian dengan pemberatan dalam KUHP mengenai pelaksanaan hukuman atau sanksi yang di berikan kepada pelaku harus setimpal dengan bentuk perbuatannya.

Hukuman itu harus mengakibatkan efek jera kepada pelaku, sehingga pelaku tidak melakukan perbuatannya lagi.

3. Diharapkan para Majelis Hakim dalam menjatuhkan putusan perlu mempertimbangkan dengan seksama faktor-faktor yang meringankan maupun yang memberatkan dalam dakwaan.

A. Buku

Abdussalam dan Sitompul, DPM, 2012, Sistem Peradilan Pidana, Jakarta, Restu

Agung.

Adi, Rianto, 2010, Metodologi Penelitian Sosial dan Hukum, Jakarta, Granit.

Amiruddin dan Asikin, Zainal, 2014, Pengantar Metode Penelitian Hukum,

Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada.

Andrisman, Tri, 2009, Asas-asas dan Dasar Aturan Hukum Pidana Indonesia, Bandar Lampung, Unila.

Ali, Zainuddin, 2011, Metode Penelitian Hukum, Jakarta, Sinar Grafika.

Arief, Barda Nawawi, 2008, Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan

Penanggulangan Kejahatan, Bandung, Citra Aditya Bakti.

---, 2013, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, Citra

Aditya Bakti, Bandung.

Arikunto, Suharsimi, 2013, Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta, Rineka Cipta.

Asyhadie, Zaeni dan Rahman, Arief, 2014. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta, PT.

Raja Grafindo Persada.

Atmasasmita, Romli, 2013, Teori dan Kapita Selekta Kriminologi, Bandung, Reflika Aditama.

Bakhri, Syaiful, 2010, Pidana Denda dan Korupsi, Yogyakarta: Total Media.

Bounger, W.A., 2011, Pengantar Tentang Psikologi Kriminal, Jakarta, Ghalia

Indonesia.

Bungin, Burhan, 2017, Metodologi Penelitian Kualitatif: Aktualisasi Metodologi

---, 2010, Kejahatan Terhadap Tubuh dan Nyawa, Jakarta,

Friedrich, Carl Joehim, 2014, Filsafat Hukum Perspektif Historis, Terjemahan

Raisul Muttaqien, Bandung: Nusa Media.

Hamzah, Andi, 2015, Hukum Acara Pidana Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta.

---, 2013, Sistem Pidana dan Pemidanaan Indonesia, Jakarta, Pradnya

Harahap, M.Yahya, 2012, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP Penyidikan dan Penuntutan, Jakarta, Sinar Grafika.

Harahap, Zairin, 2014, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara. Jakarta, PT.

Raja Grafindo Persada.

Hartati, Evi, 2010, Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Sinar Grafika.

Haryanto, M. 2017, Bahan Ajar Hukum Pidana, Salatiga, Fakultas Hukum

Universitas Kristen Satya Wacana.

Hiariej, Eddy O.S, 2016, Prinsip-prinsip Hukum Pidana, Yogyakarta, Cahaya

Kansil, CST, 2010, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Jakarta, PN. Balai Pustaka.

Lamintang, P.A.F, 2011, Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia, Bandung, Citra

Aditya Bakti.

---, 2009. Delik-delik Khusus, Kejahatan-kejahatanTerhadap

Harta Kekayaan, Jakarta, Sinar Grafika.

---. 2012, Hukum Penitensier Indonesia, Bandung: Armico.

Lamintang, P.A.F dan Lamintang Theo, 2016, Hukum Penitensier Indonesia,

Sinar Grafika, Jakarta.

Marpaung, Leden, 2015, Asas, Teori dan Praktik Hukum Pidana, Jakarta, Sinar

Grafika.

Mertokusumo, Sudikno, 2013, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Yogyakarta, Liberty.

Moeljatno, 2012, Asas-asas Hukum Pidana, Jakarta, Rineka Cipta.

---, 2011, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Jakarta, Bumi Aksara.

Muhammad, Abdulkadir, 2010, Hukum Perusahaan Indonesia, Bandung, Citra

Aditya Bakti.

Muladi dan Arief, Barda Nawawi, 2012, Teori-teori dan Kebijakan Pidana, Alumni, Bandung.

Notoatmojo, Soekidjo, 2010, Etika dan Hukum Kesehatan, Jakarta, Rineka Cipta. Poernomo, Bambang, 2013, Asas-Asas Hukum Pidana, Ghalia Indonesia, Jakarta.

Prodjodikoro, Wirjono, 2010, Tindak-tindak Pidana Tertentu di Indonesia,

Bandung, Refika Aditama.

Raharjo, Satjipto, 2009, Penegakan Hukum suatu Tinjauan Sosiologis, Yogyakarta, Genta Publishing.

Remmelink, Jan, 2013, Hukum Pidana: Komentar Atas Pasal Pasal Terpenting dari KUHP Belanda dan Padanannya Dalam KUHP Indonesia, Jakarta:

Gramedia Pustaka Utama.

RM, Suharto, 2012, Hukum Pidana Materiil, Unsur-unsur Obyektif sebagai

Dasar Dakwaan, Jakarta, Sinar Grafika.

Saleh, Roeslan, 2010, Dari Lembaran Kepustakaan Hukum Pidana, Jakarta:

Sinar

Grafika.

Shat, Dellyana, 2014, Konsep Penegkan Hukum, Yogyakarta, Liberty.

Soekanto, Soerjono, 2010, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta, Universitas

Indonesia UI-Press.

---, 2010, Sosiologi Hukum dalam Masyarakat, Jakarta, Rajawali Pers.

Soersono, R, 2012, Pengantar Ilmu Hukum, Sinar Grafika, Bandung, 2012 Soesilo, R, 2013, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta

Komentar-komentarnya Pasal Demi Pasal, Bogor, Politeia.

Suharto dan Efendi, Jonaedi, 2013, Panduan praktis Bila Anda Menghadapi

Perkara Pidana, Surabaya, Kencana Prenadamedia Group.

Sunggono, Bambang, 2012, Metode Penelitian Hukum, Jakarta, PT.

Raja

Grafindo Persada.

Jakarta, Prestasi Pustaka. Limited Liability Company. International Journal of Law Reconstruction, Volume 1 No. 1, pp. 87-100.

Aspan, H. (2017). “Peranan Polri Dalam Penegakan Hukum Ditinjau Dari Sudut Pandang Sosiologi Hukum”. Prosiding Seminar Nasional Menata Legislasi Demi Pembangunan Hukum Nasional, ISBN 9786027480360, pp. 71-82.

Aspan, H. (2014). “Konstruksi Hukum Prinsip Good Governance Dalam Mewujudkan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik”. Jurnal Dialogia Iuridica Universitas Maranatha Bandung, Volume 2 No. 2, pp. 57-64.

Aspan, H., Fadlan, dan E.A. Chikita. (2019). “Perjanjian Pengangkutan Barang Loose Cargo Pada Perusahaan Kapal Bongkar Muat”. Jurnal Soumatera Law Review, Volume 2 No. 2, pp. 322-334.

Chaniago, Amran YS, 2014, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Bandung, Pustaka Setia.

Fikri, R. A. (2018). Analisis Yuridis Terhadap Tindak Pidana Pembunuhan Berencana Yang Dilakukan Oleh Anak Dibawah Umur Menurut Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Anak. Jurnal Abdi Ilmu, 11(1), 158-168.

Hasibuan, L. R. (2019). Hak Restitusi Terhadap Korban Anak Berdasarkan Undang Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Di Belawan. Jurnal Hukum Responsif, 7(2), 30-39.

Hasibuan, L. R. (2019). Implementasi Peraturan Daerah Kota Medan No. 3 Tahun 2014 Tentang Kawasan Tanpa Asap Rokok Pada Kota Medan. Jurnal Hukum Responsif, 7(7), 96-101.

Dokumen terkait