3.2 Analisis Pemakaian Boneka Daruma Dalam Dunia Politik Jepang
3.2.1 Analisis Pemakaian Boneka Daruma Dalam Dunia Politik Jepang Sesuai
3.2.1.1 Analisis Pengaruh Agama Buddha Pada Pemakaian Boneka Daruma
Dalam Dunia Politik Jepang Dengan Ciri Fisik Tanpa Mata.
Boneka Daruma bagi masyarakat Jepang selain sebagai simbol semangat dan
simbol pengharapan dalam mencapai kesuksesan, dipakai juga sebagai simbol
kemenangan dalam dunia politik Jepang. Boneka Daruma biasanya dijual pada awal
tidak tercapai. Dalam dunia politik Jepang, membeli boneka Daruma sudah menjadi
hal yang lumrah dilihat di kantor-kantor masing-masing pemimpin maupun
politisi-politisi. Hal ini sesuai dengan pendapat Conway ( 2006 ) yang
mengemukakan bahwa:
At New Year time, many Japanese individuals and corporations buy a Daruma doll, make a resolution, and then paint in one of the eyes. If, during the year, they are able to achieve their goal, they paint in the second eye. Many politicians, at the beginning of an election period, will buy a Daruma doll, paint in one eye, and then, if they win the election, paint in the other eye. At year end, it is customary to take the Daruma doll to a temple, where it is burned in a big bonfire.
Terjemahan:
Pada saat Tahun Baru, banyak masyarakat Jepang dan perusahaan-perusahaan membeli boneka Daruma, membuat pengharapan, kemudian melukis sebuah mata pada boneka tersebut. Jika dalam tahun tersebut, mereka dapat meraih kesuksesan, mereka akan melukis mata yang satunya. Banyak politisi-politisi, pada awal masa pemilihan, akan membeli boneka Daruma, melukis pada sebuah matanya, kemudian jika mereka memenangkan pemilihan, melukis mata yang satunya lagi. Pada akhir tahun, sudah menjadi suatu kebiasaan untuk membawa boneka Daruma ke kuil, dimana akan dibakar di api suci yang besar.
Pada gambar 3.4 Yuriko Koike melukis sebelah mata boneka Daruma dalam
pengharapannya untuk memenangkan kedudukan sebagai Menteri Lingkungan dalam
parlemen di Jepang pada tahun 2005. Menurut analisis saya, selain sebagai
pengharapan Yuriko Koike akan kemenangannya sebagai Menteri Lingkungan
dalam parlemen tersebut, melukis sebelah mata pada boneka Daruma juga
mengingatkan dirinya serta menyampaikan kepada masyarakat yang mendukung
bahwa dirinya ketika menang sebagai Menteri Lingkungan nanti akan melakoni
kesejahteraan bangsa dan negaranya.
Pada gambar 3.5 Shintaro Ishihara melukis bola mata yang kedua pada boneka
Daruma pada 8 April 2007 ketika ia mendapat laporan bahwa ia akan ikut pada
pemilihan berikutnya dalam pemilihan Gubernur Tokyo. Menurut analisis saya,
menggambar bola mata yang kedua pada boneka Daruma tersebut, merupakan
simbol keberuntungan bahwa Ishihara telah masuk dalam pemilihan ulang Gubernur
Tokyo dan berharap dapat menang dalam pemilihan yang akan datang tersebut. Pada
pemilihan ini mengingatkan dirinya maupun masyarakat kota Tokyo yang memilih
dirinya untuk melakoni Dharma melalui kedudukannya sebagai Gubernur untuk
kemajuan kota Tokyo.
Pada berita The Right Eye of Daruma ( 2007 ), Perdana Menteri Eisaku Sato
melukis sebelah mata pada boneka Daruma pada Pesta Perayaan Demokrasi Liberal
mengharapkan agar dirinya terpilih menjadi Perdana Menteri untuk periode
berikutnya. Menurut analisis saya, hal ini mengingatkan dirinya sebagai Perdana
Menteri pada periode sekarang, yang telah melihat dengan matanya bagaimana
kehidupan dan berbagai masalah-masalah yang menghadapi negaranya, apabila ia
terpilih pada periode berikutnya dapat lebih mempertajam penglihatannya
menggunakan mata batin untuk memajukan bangsa dan negaranya setelah apa yang
belum selesai ia laksanakan pada periode sekarang ini.
Menurut analisis saya, mata merupakan indra yang utama dalam hidup
manusia dan memiliki arti yang sangat penting. Menggambar bola mata pada boneka
kehidupan ini dengan kedua matanya, tetapi juga melihat dengan mata batin manusia
tersebut untuk melakoni Dharma dalam kehidupan sesama manusia. Hal ini sesuai
dengan latar belakang boneka Daruma dibuat tanpa bola mata dalam ajaran agama
Buddha, dalam What is Daruma? yang mengatakan bahwa ada beberapa alasan
mengapa boneka Daruma dibuat tanpa bola mata, antara lain:
1. Pada saat melakukan meditasi, Bodhidharma tidak menggunakan kedua matanya
untuk mencapai penceraham, melainkan mamakai mata batinnya.
2. Gambaran dari Sang Buddha mengatakan bahwa untuk datang dalam kehidupan
adalah pada saat mata diwarnai.
Jepang telah menjadikan agama Buddha sebagai agama besar setelah agama
Shinto, sesuai dengan Shinto dalam Allaboutsikh ( 2007 ), di Jepang, ada dua agama
besar yang dianut oleh masyarakatnya. Agama Buddha disebut sebagai agama yang
datang dari luar Jepang atau Gairaishukyo dan agama Shinto disebut sebagai agama
tradisional atau Dentotekishukyo. Oleh karena itu menurut analisis saya, dibutuhkan
seorang pemimpin atau politisi yang dapat melakoni Dharma dalam pemerintahan di
Jepang.
Pemakaian boneka Daruma dalam dunia politik Jepang sudah menjadi hal
yang lumrah. Akan tetapi hal ini pernah ditentang oleh sekelompok lembaga
masyarakat di Jepang. Pada Daruma Doll dalam Wikipedia, the free encyclopedia
( 2007 ) mengemukakan bahwa pada akhir tahun 1990, beberapa kelompok
boneka Daruma tanpa mata berarti mendiskriminasi melawan orang-orang buta,
walau siapapun yang melakukan hal ini bisa diperdebatkan. Beberapa media dan
organisasi ingin sekali menunjukan dukungan mereka pada kebenaran politik untuk
berhenti mempertunjukan keadaan boneka Daruma tanpa mata. Hal ini tidak
berlangsung lama, karena boneka Daruma mempunyai arti akan ajaran Buddha yang
dibawa oleh Bohidharma dan dapat dimengerti oleh masyarakat Jepang, sehingga
boneka Daruma masih tetap eksis sampai hari ini dalam dunia politik Jepang.
Menurut analisis saya, kelompok perwakilan dari HAM di Jepang akhirnya
menyadari bahwa praktek-praktek membuat boneka Daruma tanpa mata tidak
memiliki arti diskriminasi melawan orang-orang buta. Setelah dapat memahami
bahwa boneka Daruma mempunyai arti akan ajaran Buddha yang mengajarkan
nilai-nilai serta ajaran-ajaran agama Buddha, yakni melalui ajaran cinta kasih atau
Bodhisatvas. Hal ini sesuai dengan pendapat Jordan ( 2007 ), mengatakan bahwa
boneka Daruma dibuat dengan bentuk yang menyerupai ciri-ciri fisik serta
mengandung arti akan sifat-sifat dari Bodhidharma selama menyebarkan
pencerahannya dalam ajaran Buddha.
Melalui pemakaian boneka Daruma di setiap pemilihan-pemilihan pemimpin
dan politisi-politisi di Jepang dengan mewarnai mata boneka Daruma, selain sebagai
simbol pengharapan dan kemenangan pada kampanye-kampanye yang diadakan,
namun juga mengingatkan kepada para pemimpin dan politisi-politisi untuk
mengingat pesan-pesan Sang Buddha supaya melakoni Dharma sesuai mata batin
maupun praktek-praktek dari sebuah sistem yang telah ada selama ini dan kemudian
diharapkan agar mewujudkan aspirasi rakyat tanpa melihat keuntungan untuk diri
pribadi. Hal ini sesuai dengan pendapat Clearly ( 1988 : xv ) yang mengemukakan
bahwa :
Setelah beberapa generasi bereksperimen dengan Buddhisme, para guru Zen menemukan bahwa pencerahan tidak dapat dicapai hanya dengan ketaatan harafiah kepada dogma atau dengan praktek- praktek mekanis dari sistem baku. Dengan kembali ke sumber Buddhisme lewat pengalaman pencerahan pribadi, ajaran Zen menekankan pada pemerdekaan kapasitas mental yang haus dari kungkungan kebiasaan berpikir yang terkondisikan dan dari kecenderungan psikologis yang dangkal.
Melakoni Dharma tidak hanya dapat dilakukan melalui contoh-contoh
perbuatan. Bodhidharma selama menyebarkan agama Buddha melakoni Dharma
kepada masyarakat di China dan Jepang melalui perumpamaan-perumpamaan yang
dapat dengan mudah dimengerti dan diterima oleh masyarakat. Hal ini sesuai dengan
pendapat Chah ( 2006 : i ), yaitu:
Kita harus membahas Dharma dengan cara ini, menggunakan perumpamaan, karena Dharma tidak mempunyai bentuk. Apakah itu berbentuk persegi atau melingkar? Anda tidak bias mengatakannya. Satu-satunya cara untuk membahasnya adalah melalui perumpamaan.
Salah satu contoh perumpamaan tersebut dalam ajaran Buddha yang terdapat dalam
agama Buddha menurut Goodin ( 2003 ) adalah:
「 七転びやおき、人生はこれからだ。 」Artinya: Jatuh 7 kali, bangkit 8 kali,
hidup dimulai dari sekarang.
Yang dimaksud dengan melakoni Dharma di sini tidak lain mengamalkan
bahwa perilaku yang menimbulkan kebajikan sangat dibutuhkan dalam kehidupan
antar sesama termasuk dalam dunia politk di Jepang. Hal ini sesuai dengan Krishna
( 2005 : 5 ) mengemukakan bahwa Bodhidharma berarti Dharma Buddha. Kata
Dharma berarti kebajikan dan kata Buddha berarti kesadaran. Oleh karena itu
Bodhidharma dapat diartikan sebagai “ pedoman bagi hidup berkesadaran “ atau
“ pedoman untuk mencapai kesadaran “ atau “ perilaku orang yang berkesadaran “.
3.2.1.2 Analisis Pengaruh Agama Buddha Pada Pemakaian Boneka Daruma
Dalam Dunia Politik Jepang Dengan Ciri Fisik Bentuk Tubuh Yang
Bulat.
Pada gambar 3.4 Yuriko Koike melukis sebelah mata pada boneka Daruma
yang berbentuk sedikit bulat dan memiliki berat di bagian bawahnya sehingga tidak
akan jatuh apabila disenggol. Menurut analisis saya, hal ini dimaksudkan supaya
Yuriko Koike bersemangat untuk mendapatkan simpati masyarakat serta tidak akan
berputus asa untuk berusaha dalam mencapai kemenangan pada parlemen tersebut.
Kemudian juga mengingatkan kepada dirinya apabila menang sebagai Menteri
Lingkungan, dirinya akan berusaha sekuat tenaga untuk menciptakan lingkungan
yang baik bagi bangsa dan negaranya.
Pada gambar 3.5 boneka Daruma yang telah dilukis oleh Shintaro Ishihara pada
kedua matanya, menurut analisis saya hal ini mengisyaratkan bahwa Ishihara telah
mencapai kesuksesan akan pengharapannya untuk masuk dalam pemilihan ulang
diri bahkan harus lebih bersemangat lagi untuk mencapai kedudukan sebagai
Gubernur Tokyo serta melakoni Dharma dengan penuh semangat pantang menyerah
dan tidak pernah berputus asa demi kesejahteraan masyarakat Tokyo.
Pada berita The Right Eye of Daruma ( 2007 ), Perdana Menteri Eisaku Sato
memakai boneka Daruma yang berbentuk bulat dalam kampanye tahun 2007.
Menurut analisis saya, boneka Daruma yang berbentuk bulat tersebut merupakan
simbol pengharapan dan kemenangan, juga memberikan pesan bagi Perdana Menteri
Eisaku Sato untuk lebih bersemangat lagi pada periode berikutnya dalam
menjalankan tugas-tugasnya sehingga mencapai hasil yang lebih baik dari periode
sebelumnya.
Menurut analisis saya, sesuai dengan boneka Daruma yang dibuat dengan
bentuk yang bulat dan berat di bagian bawahnya, serta memiliki makna dan pesan
tersendiri yaitu supaya Daruma mengajarkan kepada kita untuk mau memberi dan
gigih, serta bangkit walaupun kita sudah tersandung hingga jatuh, tidak menyerah
dan tidak berputus asa, sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Bodhidharma selama
menyebarkan ajaran Zen, sehingga apabila kita mau berusaha dengan giat, kita akan
meraih kesuksesan, kesehatan dan kebahagiaan. Hal ini sesuai dengan pendapat
Goodin ( 2003 ), yaitu :「 七転びやおき、人生はこれからだ。 」Artinya: Jatuh
7 kali, bangkit 8 kali, hidup dimulai dari sekarang. Hal ini juga sesuai dengan
pendapat Nakayama ( 2007 ), yaitu:
A daruma doll whose bottom is round and weighted, is designed to regain an upright position even when pushed over. This falling and arising movement symbolizes his teachings. As they arise again and again, daruma dolls are considered to bring luck, happiness, health and goodness.
Terjemahan:
Boneka Daruma yang memiliki bentuk bulat dan berat dibagian bawahnya, dirancang untuk meraih posisi semula bahkan ketika ia di dorong sekalipun. Kejadian jatuh dan bangkit ini mensimbolisasikan ajarannya ( Bodhidharma ). Seperti halnya boneka tersebut bangkit dan bangkit lagi, boneka Daruma dipertimbangkan membawa keberuntungan, kebahagiaan, kesehatan dan kebaikan.
Hal ini juga sesuai dengan pendapat Gilles ( 1983 : 35 ), yaitu:
One more aspects to Daruma that bears mentioning is weighting at the base so that however much it veers to one side or the other, it always rights itself. Daruma of this type are also called Okiagari Koboshi, which literally means the bonze ( monk ) who gets up easily. The saying “ nana korobi yaoki” or 7 falls and 8 rises stands for the try, try again spirit synonymous, with the undaunted Daruma.
Terjemahan:
Satu lagi aspek dari Daruma yang penting adalah berat pada bagian bawahnya sehingga ketika sebanyak apapun boneka tersebut membelok ke satu sisi maupun sisi yang lainnya, boneka tersebut akan berdiri dengan sendirinya. Tipe boneka Daruma seperti ini disebut Okiagari Koboshi, yang berarti biarawan yang dapat bangkit dengan mudah. Ucapan “ nana korobi yaoki ” atau tujuh kali jatuh dan mencoba bangkit delapan kali, yang searti dengan semangat mencoba lagi, dengan boneka Daruma yang tak gentar.
Menurut analisis saya, seperti kita ketahui menjadi seorang pemimpin tidaklah
mudah dalam menghadapi berbagai tekanan baik dari bangsanya sendiri maupun dari
negara lain sehingga sebuah negara membutuhkan seorang pemimpin yang tangguh.
Oleh karena itu, pemakaian boneka Daruma di setiap pemilihan-pemilihan pemimpin
dan politisi-politisi di Jepang dengan bentuk tubuh boneka Daruma tersebut
melambangkan supaya para pemimpin dan politisi-politisi tangguh ketika
menghadapi cobaan atau musibah seberat apapun demi memajukan negaranya
masing-masing. Diharapkan supaya pemimpin dan politisi-politisi di Jepang
serta bangkit dari segala musibah dan keterpurukan sekalipun. Hal ini sesuai dengan
Japanese Daruma Doll Figures Red&White dalam Ebay.com yang mengemukakan:
Because of their low centers of gravity, some types of daruma doll return to the upright position after being tilted to one side. As such, the daruma has become symbolic for optimism, persistence, and strong determination.
Terjemahan:
Karena bentuk boneka Daruma yang berat pada bagian bawahnya, beberapa tipe dari boneka Daruma akan kembali ke posisi semula setelah disenggol pada salah satu sisinya. Oleh karena itu, boneka Daruma telah menjadi simbol untuk optimisme, ketekunan, dan keteguhan hati yang kuat.
3.2.1.3 Analisis Pengaruh Agama Buddha Pada Pemakaian Boneka Daruma
Dalam Dunia Politik Jepang Dengan Ciri Fisik Tanpa Kaki Dan Tangan.
Meditasi yang dilakukan Bodhidharma selama sembilan tahun dapat diambil
hikmahnya bagi masyarakat Jepang terutama para pemimpin maupun politisi-politisi
untuk dapat menenangkan pikiran ketika menghadapi suatu masalah yang sulit,
sehingga dapat berpikiran jernih, membebaskan diri sendiri dari keserakahan serta
kebencian terhadap orang lain.
Pada gambar 3.4 Yuriko Koike melukis sebelah mata pada boneka Daruma
dengan ciri fisik tanpa kedua kaki dan tangan. Menurut analisis saya, hal ini
dimaksudkan supaya Yuriko Koike dalam pengharapannya tersebut menang dalam
pemilihan sebagai Menteri Lingkungan di Jepang, serta apabila menang nanti dirinya
mengambil makna dari meditasi Bodhidharma, melakukan Dharma dengan
kesadaran untuk mencapai pencerahan serta menjalankan sepuluh Paramita sesuai
Pada gambar 3.5 Gubernur Tokyo Shintaro Ishihara melukis mata kedua pada
boneka daruma di kantor kampanyenya karena ia mendapat kabar bahwa ia akan
masuk dalam pemilihan Gubernur Tokyo periode berikutnya. Pada hal ini, boneka
Daruma tersebut mengisyaratkan kepada Shintaro Ishihara untuk menjalankan
sepuluh Paramita dengan lebih penuh disiplin diri serta kebulatan tekad demi
memajukan kota Tokyo lebih dari periode sebelumnya sebagai Gubernur.
Pada berita The Right Eye of Daruma ( 2007 ), Perdana Menteri Eisaku Sato
memakai boneka Daruma dalam kampanye-nya pada Pesta Perayaan Demokrasi
Liberal untuk pemilihan kembali dirinya sebagai Perdana Menteri Jepang periode
berikutnya. Dalam situasi ini, boneka Daruma dengan bentuk tanpa kedua kaki dan
tangan ini mengisyaratkan kepada Perdana Menteri Eisaku Sato untuk mengemban
tugasnya tersebut dengan mengamalkan kebulatan tekad dan disiplin diri yang
dilakukan oleh Bodhidharma selama meditasi dan menjalankan ajaran-ajaran Buddha
dalam memajukan bangsa dan negaranya dengan lebih baik lagi pada periode
mendatang.
Menurut analisis saya, pemakaian boneka Daruma yang dibuat tanpa kedua
kaki dan tangan dalam dunia politik di Jepang di dalam gambar ini dimaksudkan
supaya para pemimpin maupun politisi-politisi di Jepang dapat menjalankan segala
tugasnya sebagai Menteri Lingkungan, Gubernur Tokyo dan Perdana Menteri dengan
penuh kebulatan tekad dan disiplin diri, seperti kebulatan tekad dan disiplin diri yang
dilakukan Bodhidharma selama meditasinya, serta dapat menenangkan pikiran ketika
membebaskan diri sendiri dari keserakahan serta kebencian terhadap orang lain, demi
kemajuan bangsa dan negaranya, tidak menganggap rivalnya dalam parlemen
sebagai musuh dalam kehidupan mereka. Hal ini sesuai dengan latar belakang
dibuatnya boneka daruma tanpa kedua tangan dan kaki menurut Goodin ( 2003 ),
yaitu:
Boneka Daruma dibuat tanpa kedua kaki dan tangan karena Bodhidharma ketika melakukan meditasi di Gunung Suuzan (嵩山) tepatnya di Kuil
Shourinji (少林寺)untuk mencapai pencerahan, ia mempraktekan posisi
duduk dalam meditasi atau yang dikenal dengan sebutan Zazen yang dilakukannya selama sembilan tahun, sehingga lengan dan kakinya melayu dan tidak dapat berfungsi lagi selamanya.
Hal ini juga sesuai dengan pendapat dalam buku Cerita-cerita Kebijaksanaan
Zen ( 2005 : 8 ) mengemukakan bahwa meditasi atau latihan pikiran merupakan satu
aspek penting dari praktik Buddhis. Meditasi bukan sekedar menenangkan pikiran
tetapi juga tentang membebaskan diri sendiri dari keserakahan, kebencian, dan delusi
yang telah berlangsung dari sekian lama.
Hal ini juga sesuai juga dengan pendapat Krishna ( 2005 : 105 ) dalam tradisi
Buddhis akan kebaikan-kebaikan utama atau Paramita, yaitu:
1. Dana, yang berarti bukan sekedar amal saleh, tetapi amal saleh yang dilakukan
tanpa harapan akan imbalan. Dana berarti memberi dan melupakan. Dana juga
berarti mengingat setiap kebaikan yang dilakukan oleh orang lain terhadap diri
kita.
2. Shila, yang berarti disiplin atau beraturan dalam melunakkan jiwa; disiplin yang
kita terapkan atas kesadaran kita sendiri, bukan karena dipaksa; peraturan yang
3. Nishkama, yang berarti berkarya tanpa pamrih.
4. Pana atau Pragyaan yang berarti kebijaksanaan, kemampuan untuk menentukan
tindakan mana yang dan tindakan mana yang tidak tepat.
5. Virya, yang berarti energi, tenaga, semangat.
6. Khanti, yang berarti kemampuan untuk menahan diri, untuk bersabar.
7. Satya atau Sacca, yang berarti kebenaran. Mempersatukan pikiran, tindakan dan
ucapan adalah langkah pertama dalam kebenaran. Langkah berikutnya adalah
memperluas wawasan dan melihat kebenaran dari setiap sudut pandang, melihat
kesatuan dibalik perbedaan. Langkah terakhir adalah menemukan inti kebenaran
atau kasunyatan.
8. Adhitthana, yang berarti kebulatan tekad. Bulatkan tekad untuk tetap bertahan
pada kebenaran, apapun konsekuensinya.
9. Metta, yang berarti kasih sayang, kebersamaan, persahabatan. 10. Upekha, yang berarti keseimbangan.
3.2.1.4 Analisis Pengaruh Agama Buddha Pada Pemakaian Boneka Daruma
Dalam Dunia Politik Jepang Dengan Ciri Fisik Warna Merah.
Di Jepang warna merah merupakan warna yang suci. Warna merah dipakai di
Jepang diperkirakan pada abad ke-7 dan ke-8, karena mendapat pengaruh dari China.
Boneka Daruma pada awalnya dibuat dengan warna merah. Menurut analisis saya,
hal ini dikarenakan warna merah melambangkan kemeriahan, digunakan pada saat
warna merah digunakan dalam dunia politik Jepang, yakni dalam
pemilihan-pemilihan pemimpin maupun politisi-politisi. Hal ini sesuai dengan
pendapat Fukuda ( 2000 : 8 ) yang mengemukakan bahwa:
For many cultures, red is the color of ritual and the warding off of evil, of prayer and of congratulation. Psychologically speaking, it is warm color : the color too, of excitement and passion. In Japan as elsewhere, red is also the color of the sacred. In the 7th and 8th centuries, indigenous Japanese use of red came under Chinese influence.
Terjemahan:
Untuk banyak kebudayaan, merah adalah warna untuk ritual dan menangkal setan, berdoa dan ucapan selamat. Secara psikis mengatakan, warna merah merupakan warna yang hangat. Warna ini juga sebagai kegembiraan dan hasrat. Di Jepang seperti dimanapun, merah merupakan warna yang suci. Pada abad ke-7 dan ke-8, pemakaian warna merah pada masyarakat pribumi Jepang berasal dari pengaruh China.
3.6 Boneka Daruma
Sumber: http://www.jun-gifts.com/specialcollections/darumadolls/darumadolls.htm
Gambar 3.6 menunjukkan boneka Daruma warna merah yang belum dihiasi
pada kedua bola matanya, yang sering dipakai oleh para pemimpin maupun
Warna-warna pada boneka Daruma dibuat dengan lima warna, yaitu warna
kuning, hijau, putih, merah dan biru ( terkadang diganti dengan warna hitam ).
Menurut analisis saya, warna-warna pada boneka Daruma tersebut melambangkan
lima panca indera pada tubuh manusia, sesuai dengan Greve ( 2002 ) dalam filosofi
Buddhis, yaitu melambangkan mata, telinga, hidung, lidah dan kulit, dimana kelima