• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Pengukuran Kinerja dengan Balanced Scorecard

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Analisis Pengukuran Kinerja dengan Balanced Scorecard

sekunder yang telah dikumpulkan oleh penulis untuk mengukur kinerja perusahaan dengan keempat perspektif dalam balanced scorecard atau dengan mengkombinasikan aspek finansial dengan aspek non-finansial. Penulis mencoba melakukan pengukuran kinerja pada perusahaan dengan menggunakan data tahun 2008-2009. Adapun ukuran strategis balanced

scorecard yang telah ditetapkan PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan adalah sebagai berikut:

Tabel 4.1. Balanced Scorecard PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan

Tujuan Strategis Ukuran Strategis

Finansial

- Memenuhi harapan pemegang saham

- Meningkatkan kinerja operasi - Mencapai pertumbuhan yang

menguntungkan

Return on Investment (ROI), rasio operasi, pertumbuhan pendapatan, Current Ratio.

Pelanggan

- Memenuhi kepuasan pelanggan dalam hal lualitas, kuantitas, dan penyelesaian administrasi setelah instruksi penjualan diterima.

Akuisisi/retensi, survey kepuasan pelanggan

Internal

- Menciptakan produk inovatif

- Memahami pelanggan dan peningkatan pelayanan purna jual - Pelayanan responsif

- Minimalkan problem operasional

Tingkat inovasi produk, standar mutu, sertifikat internasional

Pertumbuhan dan Pembelajaran

- Akses kepada informasi strategis - Meningkatkan kompetensi SDM

Kepuasan karyawan, produktivitas karyawan, organizational karyawan.

Dalam prakteknya, PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan belum menetapkan secara keseluruhan skor ataupun target yang harus dicapai untuk setiap perspektif. Untuk perspektif pertumbuhan dan pembelajaran target yang ditetapkan hanya untuk produktivitas tenaga kerja (ton/orang) yakni dengan skor 5% dan untuk perspektif keuangan sudah ditetapkan skor untuk masing-masing ukuran kinerjanya, yakni:

Tabel 4.2. Tabel Kinerja Keuangan

Aspek Keuangan Target

Return on Investment (ROI) 5%

Rasio Operasi 3%

Current Ratio 5%

Pertumbuhan Pendapatan 3%

2.1 Pengukuran Kinerja pada Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan merupakan pengendali ketiga persektif lainnya. Untuk itu, dalam mencapai sasaran strategis dalam perspektif pembelajaran dan pertumbuhan PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan menetapkan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Meningkatkan kapabilitas karyawan

Dengan meningkatnya kapabilitas karyawan tentu akan berdampak positif pada meningkatnya jumlah pelanggan melalui pelayanan kepada pelanggan dan berujung pada meningkatnya profitabilitas perusahaan. Untuk itu, dalam

meningkatkan kapabiitas pelanggan, PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan mengadakan kegiatan pelatihan dan pengembangan yang dapat diikuti oleh karyawan seperti melalui seminar dan training.

b. Meningkatkan organizational karyawan

Pada umumnya perusahaan dalam upaya peningkatan kinerja kayawannya, berusaha untuk meningkatkan organizational capital untuk mendorong motivasi bagi karyawannya. Karyawan yang lebih termotivasi memiliki kinerja dan produktivitas yang baik dibanding karyawan yang memiliki sedikit motivasi. Untuk itu, PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan menciptakan motivasi yang baik pada karyawannya melalui komunikasi yang baik antara pimpinan dan karyawan (vertikal) maupun secara horizontal, menciptakan lingkungan kerja yang nyaman, pemberian gaji dan tunjangan, dan menyedikan fasilitas pada karyawan. Karyawan yang termotivasi berdampak pada kepuasan karyawan dalam bekerja akan semakin meningkat, dan berujung pada kinerja dan produktivias karyawan yang semakin baik.

c. Meningkatkan retensi karyawan

Tingkat retensi karyawan berhubungan positif dengan kepuasan karyawan. Semakin tinggi kepuasan karyawan mengakibatkan

tingkat retensi juga semakin tinggi. Untuk itu, dalam menekan perputaran karyawan dan meningkatkan retensi karyawan, PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan mengadakan pelatihan dan pengembangan karyawan dan menciptakan motivasi karyawan guna menghasilkan kepuasan kerja.

d. Meningkatkan produktivitas karyawan

Dengan meningkatnya kapabilitas karyawan, organizational capital, retensi karyawan, dan didukung dengan sistem informasi yang baik berakibat pada peningkatan produktivitas karyawan.

Adapun ukuran-ukuran yang digunakan dalam perspektif pembelajaran dan pertumbuhan adalah jumlah karyawan yang mengikuti pelatihan dan pengembangan, rasio beban pelatihan dan pengembangan terhadap laba operasi, tingkat perputaran karyawan, dan produktivitas karyawan.

a. Jumlah karyawan yang mengikuti pelatihan dan pengembangan Ukuran ini digunakan untuk mengetahui konsistensi perusahaan dalam memberikan kesempatan bagi karyawan untuk mengembangkan pengetahuan dan keahliannya. Hasil perbandingan berdasarkan data yang diperoleh adalah sebagai berikut:

Tabel 4.3. Jumlah Karyawan yang Mengikuti Pelatihan dan Pengembangan

Uraian 2008 2009 Selisih

Jumlah karyawan yang mengikuti pelatihan dan pengembangan

2.217 1.245 (972)

Sumber: Diolah oleh penulis berdasarkan informasi dari PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan

Dari hasil perbandingan di atas terjadi penurunan jumlah karyawan pelatihan dari tahun 2008 hingga tahun 2009 sebanyak 972 orang.

b. Rasio beban pelatihan dan pengembangan dengan laba operasi Ukuran ini digunakan untuk mengetahui kontribusi dari besarnya biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk mningkatkan keahlian karyawan terhadap laba operasi yang dihasilkan. Data perusahaan yang digunakan dalam ukuran ini adalah beban pelatihan dan pengembangan dan laba operasi. 1) Besarnya beban pelatihan dan pengembangan pada tahun

2008 adalah Rp 4.038.289.826, pada tahun 2009 adalah Rp 3.482.144.372.

2) Besarnya beban pelatihan dan pengembangan pada tahun 2008 adalah Rp 552.375.354.868, laba bersih pada tahun 2009 adalah Rp 417.858.799.917

Rasio Beban Pelatihan dan = Beban Pelatihan Pengembangan

Pengembangan Laba Bersih

Rasio Beban Pelatihan dan = Rp 4.038.289.826 Pengembangan Tahun 2008 Rp 552.375.354.868

= 0,08

Rasio Beban Pelatihan dan = Rp 3.482.144.372 Pengembangan Tahun 2009 Rp 417.858.799.917

= 0,07

Sumber: Diolah oleh penulis berdasarkan informasi dari PT.Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan

Dari perbandingan di atas dapat diketahui bahwa terdapat penurunan rasio beban pelatihan dan pengembangan terhadap laba operasi dari tahun 2008 hingga tahun 2009.

c. Tingkat perputaran karyawan

Ukuran ini digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam mempertahankan karyawannya. Data perusahaan yang digunakan adalah:

1) Jumlah karyawan yang berhenti/keluar dari PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan dari tahun 2008-2009. 2) Jumlah seluruh karyawan yang bekerja di PT. Perkebunan

Formulanya adalah sebagai berikut:

Tingkat Perputaran Karyawan = Jumlah karyawan yang keluar Jumlah seluruh karyawan Tabel 4.4. Hasil Pengukuran tingkat perputaran karyawan

Keterangan 2008 2009 Kenaikan/

Penurunan Jumlah karyawan yang

keluar (orang)

9 7 2

Jumlah seluruh karyawan (orang)

30.859 30.165 694 Tingkat retensi karyawan

(%)

0,024 0,023 0,001 Sumber: Diolah oleh penulis berdasarkan informasi yang

diperoleh dari PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan

d. Produktivitas Karyawan

Produktivitas karyawan PT. Perkebunan Nusantara IV meningkat dari tahun 2008 hingga tahun 2009 yang ditunjukkan melalui kuantum penjualan lokal kelapa sawit dan teh yang meningkat dari tahun 2008 hingga tahun 2009, yakni pada tahun 2008 kuantum penjualan kelapa sawit menunjukkan angka 521.691 ton sedangkan pada tahun 2009 kuantum penjualan menunjukkan angka 597.513 ton, hal ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kuantum penjualan meningkat dari tahun 2008 ke tahun 2009 sebanyak 75.822 ton. Untuk produk teh, kuantum penjualan menunjukkan angka

2.951 ton pada tahun 2008 sedangkan pada tahun 2009 kuantum penjualan menunjukkan angka 3.245 ton, hal ini menunjukkan adanya peningkatan kuantum penjualan lokal sebanyak 294 ton. Sedangkan untuk penjualan ekspor kelapa sawit dan teh mengalami penurunan, yakni kuantum penjualan ekspor kelapa sawit pada tahun 2008 sebanyak 173.835 ton menjadi 158.683 ton pada tahun 2009 dan untuk kuantum penjualan ekspor teh pada tahun 2008 sebanyak 8.032 ton menjadi 7.018 ton pada tahun 2009. Penurunan ini disebabkan adanya instruksi BUMN untuk memfokuskan pemenuhan kebutuhan produk dalam negeri atau berfokus pada penjualan lokal sehingga berakibat pada pengurangan kuantum penjualan ekspor. Namun total keseluruhan kuantum penjualan meningkat dari tahun 2008 hingga tahun 2009.

Tabel 4.5. Kuantum Penjualan Kuantum Penjualan (ton)

Uraian 2008 2009 Penjualan Ekspor Kelapa Sawit 173.835 158.683 Kakao - - Teh 8.032 7.018 Penjualan Lokal Kelapa Sawit 521.691 597.513 Kakao - - Teh 2.951 3.245

Sumber: PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan

2.2 Pengukuran kinerja pada perspektif proses bisnis internal

PT. Perkebunan Nusantara IV Medan telah melakukan perbaikan pada perspektif pembelajaran dan pertumbuhan melalui peningkatan organizational capital, pemberian motivasi kepada karyawan, dan pemberdayaan karyawan. Hal ini lah yang menghasilkan penurunan tingkat perputaran karyawan dan peningkatan produktivitas karyawan.

Adapun langkah-langkah yang diambil PT. Perkebunan Nusantara IV Medan dalam mencapai sasaran dalam perspektif proses bisnis internal adalah:

a. Melakukan inovasi dan menciptakan produk-produk berstandar internasional

Dalam proses pengembangan produk, PT. Perkebunan Nusantara berupaya menghasilkan produk yang memiliki nilai jual. Selama ini PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan telah melakukan inovasi produk dan menciptkan produk-produk berstandar internasional. PT. Perkebunan Nusantara telah mendapakan penghargaan dari Departemen Pertanian atas inovasi yang dilakukan karena dinilai mampu melakukan beberapa terobosan yang memacu nilai tambah. Selain itu, PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan juga mendapatkan akreditasi dari lembaga sertifikasi sistem mutu bahwa produk yang dihasilkan telah memenuhi stnadar internasional. Dengan adanya akreditasi internasional dapat menambah nilai jual produk PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan.

b. Meningkatkan efisiensi biaya

Setiap perusahaan selalu berupaya melakukan efisiensi biaya dalam proses operasionalnya. Dengan adanya efisiensi biaya dapat memaksimalkan laba dan akan menghasilkan keunggulan bersaing. Demikian halnya dengan PT. Perkebunan Nusantara IV yang juga melakukan peningkatan dalam efisiensi biaya seperti efisiensi biaya koordinasi dan lingkungan, biaya air, dan biaya pemupukan melalui pembinaan hubungan baik dengan produsen pupuk selain menghasilkan produk yang berkualitas internasional.

c. Meningkatkan layanan purna jual

Penanganan keluhan maupun pengaduan pelanggan pasca penjualan merupakan proses purna jual yang dimiliki oleh PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan. Penanganan keluhan pada tahun 2008 mencapai 89,94% dan pada tahun 2009 mengalami peningkatan menjadi 90,45%.

Ukuran-ukuran yang digunakan dalam mengukur kinerja dalam perspektif proses bisnis internal adalah jumlah sertifikat internasional, margin laba opersional dan rasio beban operasi terhadap pendapatan.

a. Jumlah sertifikat yang diraih oleh perusahaan

Ukuran ini digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam rangka menciptakan produk berstandar internasional. Hasil perbandingan yang dilakukan berdasarkan data yang diperoleh adalah sebagai berikut:

1) Pada tahun 2008, tidak ada sertifikat internasional yang diraih PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan. Hal ini menunjukkan pada tahun 2008 PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan belum mendapatkan akreditasi dari lembaga akreditasi sistem mutu.

2) Pada tahun 2009, PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan meraih sebuah sertifikat ISO 14001 dan ISO 19001 di mana ISO 14001 merupakan standar lingkungan yang

menyatakan bahwa sistem manajemen lingkungan PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan telah memenuhi standar internasional dan ISO 19001 merupakan standar mutu yang menyatakan bahwa kualitas produk yang dihasilkan PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan telah memenuhi standar internasional.

b. Margin laba operasional

Ukuran ini digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam melakukan efisiensi biaya dalam proses operasi. Data yang digunakan dalam ukuan ini adalah:

1) Laba operasi PT. Perkebunan Nusantara IV pada satu periode,

2) Total penjualan bersih PT. Perkebunan Nusantara IV pada satu periode.

Formulanya adalah sebagai berikut: Margin laba operasional= Laba operasi Penjualan bersih

Tabel 4.6. Hasil pengukuran margin laba operasional Keterangan 2008 2009 Laba operasi (Rp) 802.582.093.741 417.858.799.917 Penjualan bersih (Rp) 4.621.016.923.250 4.546.126.383.401 Magin laba operasional (%) 0,17 O,09

Sumber: Diolah oleh penulis berdasarkan informasi yang diperoleh dari PT. Perkebunan Nusantara IV.

c. Rasio beban operasi terhadap penjualan

Ukuran ini digunakan untuk mengetahui efisiensi beban-beban operasi perusahaan sehubungan dengan proses operasi perusahaan. Data perusahaan yang digunakan dalam ukuran ini adalah:

1) Beban operasi, yang tediri dari beban penjualan dan beban administrasi yang berasal dari penjualan produk dalam satu tahun periode.

2) Penjualan bersih PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan pada satu periode.

Formulanya adalah sebagai berikut: Rasio beban operasi = Beban operasi Terhadap penjualan Penjualan

Tabel 4.7. Nilai Penjualan (Rp Juta) Uraian 2008 2009 Penjualan Ekspor Kelapa sawit 943.701 729.985 Kakao - - Teh 98.663 104.791

Pungutan/Pajak Ekspor (PE) (84.862) (2.743)

Jumlah Ekspor 957.502 832.033 Penjualan Lokal Kelapa sawit 3.638.889 3.668.411 Kakao - - Teh 24.626 45.683 Jumlah lokal 3.663.515 3.714.094 Jum;ah Ekspor+Lokal 4.621.017 4.546.127

Sumber: PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan

Tabel 4.8. Hasil pengukuran rasio beban operasi terhadap penjualan Uraian 2008 2009 Keterangan Beban Operasi 872.127.185.073 1.002.060.994.024 129.933.808.951 Penjualan 4.546.126.383.401 4.621.016.923.250 74.890.539.849 Rasio beban operasi terhadap penjualan (%) 0,19 0,21 0,02

Dari hasil pengukuran di atas, diketahui bahwa terjadi peningkatan beban operasi terhadap pendapatan sebesar 0,02%.

2.3 Pengukuran kinerja pada perspektif pelanggan

Pada perspektif bisnis internal, dapat dilihat bahwa PT. Perkebunan Nusantara IV belum memberikan hasil yang baik. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan rasio beban operasi terhadap penjualan yang mengindikasikan belum tercapainya efisiensi biaya. Namun, PT. Perkebunan Nusantara IV telah berupaya menghasilkan produk yang berstandar internasional. Dengan adanya perbaikan kinerja pada perspektif bisnis internal akan meningkatkan kinerja pada perspektif pelanggan.

Adapun langkah-langkah yang dilakukan PT. Perkebunan Nusantara IV dalam mencapai sasaran-sasaran dalam perspektif pelanggan adalah:

a. Meningkatkan retensi pelanggan

Dengan menghasilkan produk yang berstandar internasional dapat meningkatkan kepercayaan dan kepuasan pelanggan. Semakin tinggi kepercayaan dan kepuasan pelanggan akan produk yang dihasilkan oleh PT. Perkebunan Nusantara IV maka semakin tinggi pula tingkat retensi pelanggan.

b. Menciptakan profitabilitas pelanggan

Selain meningkatkan kepercayaan dan kepuasan pelanggan, PT. Perkebunan Nusantara IV juga berupaya meningkatkan jumlah pelanggan yang akan memberikan profit pada perusahaan. Dengan profitabilitas pelanggan, perusahaan akan mengetahui besarnya profit yang dihasilkan oleh setiap pelanggan PT. Perkebunan Nusantara IV Medan.

Ukuran-ukuran yang digunakan dalam mengukur kinerja PT. Perkebunan Nusantara IV medan adalah melalui jumlah pelanggan perusahaan dan beban operasi per pelanggan.

a. Jumlah pelanggan perusahaan

Ukuran ini digunakan untuk mengetahui pertumbuhan jumlah pelanggan perusahaan dari tahun ke tahun. Adapun data perusahaan yang digunakan adalah jumlah pelanggan pada satu periode. Hasil perbandingan yang dilakukan berdasarkan data dan informasi yang diperoleh adalah:

1) Jumlah pelanggan PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan pada tahun 2008 sebanyak 33 pelanggan.

2) Jumlah pelanggan PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan pada tahun 2009 sebanyak 35 pelanggan.

Dari hasil perbandingan di atas, diketahui bahwa terjadi pengingkatan pelanggan dari tahun 2008 hingga tahun 2009 sebanyak 2 pelanggan.

b. Beban operasi per pelanggan

Ukuran ini digunakan untuk mengetahui rata-rata beban operasi yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam melayani seorang pelanggan. Data perusahaan yang digunakan dalam ukuran ini adalah:

1) Beban operasi, yang terdiri dari beban penjualan dan beban administrasi pada satu periode

2) Jumlah seluruh pelanggan dalam satu periode. Formulanya adalah sebagai berikut:

Beban operasi per pelanggan = Beban Operasi Jumlah Pelanggan

Tabel 4.9. Hasil pengukuran beban operasi per pelanggan

Keterangan 2008 2009 Kenaikan/Penurunan Beban operasi 872.127.185.073 1.002.060.994.024 129.993.808.951 Jumlah pelanggan 33 35 2 Beban operasi per pelanggan 26.428.096.522 28.630.314.112 2.202.217.590

Sumber: Diolah oleh penulis berdasarkan informasi yang diperoleh dari PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan

Dari hasil pengukuran di atas, dapat diketahui bahwa terdapat peningkatan rata-rata beban operasi per pelanggan senesar Rp 2.002.217.590 per pelanggan.

2.4 Pengukuran kinerja pada perspektif keuangan

Ditinjau dari siklus hidupnya, PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan berada pada tahap bertahan (sustain). Hal ini ditandai dengan telah lamanya perusahaan bermain pada jenis produk kelapa sawit dan teh sehingga pangsa pasarnya telah teridentifikasi.

Adapun ukuran-ukuran yang digunakan oleh PT. Perkebunan Nusantara IV dalam mengukur kinerja pada perspektif keuangan adalah pertumbuhan pendapatan, Return on Investment (ROI), dan rasio operasi.

a. Pertumbuhan pendapatan

Untuk mengukur pertumbuhan penjualan, data yang digunakan adalah data penjualan bersih dari tahun ke tahun.

. Tabel 4.10. Hasil pengukuran pertumbuhan pendapatan

Keterangan 2008 2009 Kenaikan/Penurunan

Penjualan bersih (Rp)

4.621.016.923.250 4.546.126.383.401 184.790.361.401

Sumber: Diolah oleh penulis berdasarkan informasi yang diperoleh dari PT. Perkebunan Nusantara IV (persero) Medan

b. ROI (Return on Investment)

ROI merupakan rasio rentabilitas yang digunakan untuk mengukur kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan neto. Semakin tinggi nilai ROI maka semakin baik kinerja perusahaan yang dicapai. Data perusahaan yang digunakan dalam ukuran ini adalah: 1) Laba bersih PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan

dalam satu periode

2) Rata-rata total aktiva merupakan seluruh aktiva yang dimiliki PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan dan digunakan dalam aktivitas perusahaan.

Formulanya adalah sebagai berikut:

Return on Investment (ROI) = Laba bersih

Rata-rata total aktiva

Hasil pengukuran Retrun on Investment (ROI) Tahun 2008

ROI = Laba bersih

Rata-rata total aktiva = Rp 802.582.093.741 Rp 4.998.048.416.679 = 16,05%

Tahun 2009

ROI = Laba bersih

Rata-rata total aktiva = Rp 417.858.799.917

Rp 5872.748.418.129 = 7,11 %

Dari pengukuran di atas, dapat diketahui terdapat penurunan ROI dari tahun 2008 hingga tahun 2009 sebesar 8,94%.

c. Rasio operasi

Rasio operasi menggambarkan perputaran operating assets dalam hubungannya dengan penjualan bersih dan aktiva lancar yang dimiliki perusahaan. Semakin tinggi rasio operasi perusahaan menunjukkan bahwa perusahaan dapat memanfaatkan aktiva lancar yang dimiliki dalam mencapai laba bersih. Data perusahaan yang digunakan dalam mengukur rasio operasi perusahaan adalah:

1) Penjualan bersih PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan pada satu periode

2) Aktiva lancar PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan pada satu periode

Formula rasio operasi adalah sebagai berikut Radio operasi = Penjualan bersih

Aktiva lancar

Tabel 4.11. Hasil pengukuran rasio operasi

Keterangan 2008 2009 Kenaikan/Penurunan Penjualan bersih (Rp) 4.621.016.923.250 4.546.126.383.401 184.790.361.401 Aktiva lancar (Rp) 4.998.048.416.679 5.872.748.418.129 874.700.001.550 Rasio operasi (%) 92% 77,4% 14,6%

Sumber: Diolah oleh penulis berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dari PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan

Dokumen terkait