• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV Analisis Putusan Cerai Gugat Akibat Suami Adalah Saudara

E. Analisis Penulis

Dalam Islam perceraian itu dibenarkan dan diperbolehkan apabila hal tersebut lebih baik dari pada tetap dalam ikatan perkawinan tetapi kebahagiaan

10

tidak dicapainya dan selalu berada dalam penderitaan. Dalam agama Islam, perkawinan tidak diikat dalam ikatan yang mati tetapi tidak pula mempermudah terjadinya perceraian, boleh dilakukan tetapi betul-betul dalam keadaan darurat atau karena terpaksa. Salah satu asas yang dianut oleh hukum perkawinan nasional adalah mempersulit terjadinya perceraian. Hal ini adalah sejalan dengan ajaran agama, (khususnya agama Islam), karena kalau terjadi perceraian berarti gagalnya tujuan perkawinan yang dicita-citakan yaitu membentuk keluarga bahagia dan sejahtera. Berlainan halnya dengan putusnya perkawinan karena kematian, sebab hal ini merupakan takdir dari Allah SWT yang tidak dapat dielakkan oleh manusia.11

Perceraian merupakan solusi terakhir yang dapat ditempuh oleh suami istri dalam mengakhiri ikatan perkawinan setelah mengadakan upaya perdamaian secara maksimal. Perceraian dapat dilakukan atas kehendak suami atau permintaan istri, perceraian yang dilakukan istri disebut cerai gugat.12

Berkaitan dengan perceraian, sebagaimana yang penulis temukan di Pengadilan Agama Batam, yaitu cerai gugat akibat suami adalah saudara sepupu/sedarah.

11

Abdul Manan, Penerapan Hukum Acara Perdata Di Lingkungan Peradilan Agama, (Jakarta: Kencana, 2008, cet. Ke-5, h. 444.

12

Mahmudunnasir, Islam Konsepsi dan Sejarahnya, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991), h. 509.

Setelah membaca duduk perkara dan pertimbangan hukum hakim Pengadilan Agama Batam, ada beberapa hal yang menarik penulis untuk disoroti lebih jauh yang akan dibahas berikut ini.

Dalam perkara cerai gugat di Pengadilan Agama Batam antara penggugat Tendri Sangka binti Abdul Rahman yang menggugat suaminya Sembari bin Darise menyatakan dalam gugatannya bahwa yang menjadi alasan utama gugatannya adalah setelah pernikahan tersebut rumah tangga penggugat dengan tergugat tidak rukun dan tidak harmonis sering terjadi percekcokan karena perbedaan pendapat dan pertengkaran yang disebabkan karena adanya pernikahan sedarah/sepupu sehingga rintangan dan halangan banyak terjadi.

Meski dalam surat gugatan istri menyatakan bahwa alasan cerai gugat adalah perselisihan dan pertengkaran terus-menerus akibat adanya pernikahan sepupu/sedarah, akan tetapi dalam pertimbangan hukum hakim tidak menyatakan bahwa perceraian ini disebabkan karena adanya pernikahan sepupu/sedarah, disini hakim telah menemukan fakta hukum bahwa terjadi perselisihan dan pertengkaran terus-menerus karena perbedaan pendapat dan diketahui bahwa dua tahun terakhir tergugat tidak bekerja sehingga ia tidak bisa memenuhi kebutuhan penggugat dan anak-anaknya.

Adapun diketahui bahwasannya tergugat tidak memberikan nafkah dalam dua tahun terakhir adalah dari bukti saksi, dua orang saksi ini menyatakan bahwa:

Bahwa setahu saksi awalnya rumah tangga penggugat dan tergugat

mereka mulai tidak harmonis lagi dan sering terjadi perselisihan dan

pertengkaran, penyebabnya sejak dua tahun lalu tergugat tidam mempunyai

pekerjaan tetap sehingga tidak bisa memberi nafkah kepada penggugat.

Akhirnya majelis hakim menemukan fakta hukum setelah mendengarkan keterangan saksi-saksi dan dihubungkan dengan keterangan penggugat sebagaimana yang terlihat diputusan bahwa:

Telah diperoleh fakta hukum yang intinya antara penggugat dan tergugat

telah terjadi perselisihan dan pertengkaran terus-menerus yang disebabkan oleh

sifat dan tindakan tergugat yang tidak berkenan bagi penggugat, dan hubungan

keduanya tidak lagi mencerminkan hubungan layaknya suami istri pada umumnya.

Selanjutnya mengenai perkara ini, majelis hakim memberikan pertimbangan hukum bahwasannya rumah tangga penggugat dan tergugat telah pecah dan tidak ada harapan untuk hidup kembali membina rumah tangganya, maka jika perkawinan mereka diteruskan tidak akan tercapai tujuan perkawinan yaitu membentuk kehidupan rumah tangga sakinah, mawaddah dan rahmah sebagaimana maksud firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surah Ar-Rum ayat 21 dan maksud pasal 1 Undang-Undang No.1 tahun 1974 tentang Perkawinan jo pasal

3 KHI, bahkan akan mendatangkan kemudharatan yang lebih besar bagi kedua belah pihak.

Adapun pertimbangan hakim lainnya adalah selama proses persidangan berlangsung terlihat secara nyata bahwa penggugat tidak lagi mencintai tergugat, malah yang terjadi adalah sifat kebencian terhadap tergugat lantaran

sikap/perbuatan tergugat terhadap penggugat, untuk itu majelis hakim menyantumkan pendapat ahli fikih sebagai dalil untuk pertimbangan hukum hakim yaitu dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin halaman 223:

ﺔﻘﻠﻃ ﻰﺿﺎﻘﻟا ﺎﮭﯿﻠﻋ ﻖﻠﻃ ﺎﮭﺟوﺰﻟ ﺔﺟوﺰﻟا ﺔﺒﻏر مﺪﻋ ﺪﺘﺷا اذا

Artinya:“Apabila kebencian seorang istri sudah memuncak terhadap suaminya, maka hakim boleh menceraikannya dengan talak satu”

Dengan dasar pertimbangan inilah majelis hakim Pengadilan Agama Batam dalam perkara No. 104/Pdt.G/2013/PA.BTM memutus cerai dengan talak satu ba’in shugra.

Hemat penulis pertimbangan hakim ini sudah benar, karena jika dalam pertimbangan hukum hakim menyatakan bahwa perceraian ini beralasan antara suami istri terus-menerus terjadi perselisihan dan percekcokan disebabkan karena adanya pernikahan sepupu/sedarah berarti hakim tidak memenuhi maksud dari pasal 22 PP No. 9 tahun 1974 yaitu untuk mengacu pada alasan perselisihan dan pertengkaran terus-menerus hakim harus mengetahui sebab-sebabnya dengan jelas, sedangkan dari kalimat “sepupu/sedarah” ini tidaklah jelas, karena sepupu bukanlah sedarah, hal ini dapat disimpulkan dari Al-Qur’an surah An-Nisa’ ayat 23 yang tidak menyebutkan sepupu sebagai mahram kemudian sepupu tidak

tercantum dalam KHI tentang larangan kawin dan Undang-undang No. 1 tahun 1974 pasal 8 juga tidak ditemukan sepupu merupakan sedarah. Dalam buku kumpulan “Tanya Jawab Quraish Shihab” dijelaskan sebagai berikut: Sepupu atau

anak saudara lelaki ayah atau saudara ibu, bukan mahram, karena itu boleh

terjalin hubungan perkawinan antara sepupu. Mereka tidak disebut oleh ayat yang

berbicara tentang mahram (QS An-Nisa’:23, tidak juga dalam hadits-hadits

Rasulullah SAW).13

Penulis juga perbendapat bahwa majelis hakim sudah menjalankan apa yang ditentukan pasal 22 PP No. 9 tahun 1974 yaitu untuk alasan perselisihan dan pertengkaran terus-menerus maka harus didengarkan saksi-saksi dari orang-orang yang dekat dengan suami istri itu, dari keterangan dua orang saksi inilah akhirnya ditemukan bahwasannya tergugat tidak lagi memberi nafkah dalam dua tahun terakhir sehingga ditemukanlah fakta hukum bahwa telah terjadi perselisihan dan pertengkaran antara suami istri sesuai dengan pasal 19 PP No. 9 tahun 1974 huruf (f), kemudian sebabnya karena tindakan tergugat yang tidak berkenan bagi penggugat, terjadi perbedaan pendapat dan diketahui bahwa dua tahun terakhir tergugat tidak bekerja sehingga ia tidak bisa memenuhi kebutuhan penggugat dan anak-anaknya hal ini sudah memenuhi ketentuan pasal 22 point (2) PP No.9 tahun 1974 yang intinya harus jelas sebab-sebab perlesihan dan percekcokannya.

Selanjutnya penulis sependapat dengan hakim ketua Pengadilan Agama Batam yang menyatakan bahwa sepupu bukanlah sedarah, dalam wawancara yang penulis lakukan di Pengadilan Agama Batam, hakim ketua yang memutus perkara ini menyatakan bahwa sepupu bukanlah sedarah, meski beliau menyatakan bahwa

13

M. Quraish Shihab, Perkawinan Dengan Sepupu, diakses dari www.hukum online.com/ pada tanggal 19 Desember 2014 pukul 21:15 WIB.

pernikahan sepupu berakibat hukum, akibat hukum yang didapat sebagaimana pendapat yang beliau kutip dari kitab Bidayatul Mujtahid, Fiqh Sunnah dan

Wahbah Zuhaili diantaranya calon suami yang akan menikahi supupunya tidak

dapat menjadi wali dalam pernikahannya sediri, akan tetapi beliau tetap menyatakan bahwa sepupu bukanlah sedarah dan boleh melakukan perkawinan, hal ini dapat diketahui dari item-item yang secara jelas disebutkan dalam

Al-Qur’an surah An-Nisa’, kemudian sepupu tidak ditemukan dalam item-item yang

dilarang itu, artinya sepupu bukanlah sedarah dan boleh dinikahi. Oleh karena itu hakim menyatakan dalam wawancara, bahwa di putusan ini hakim tidak mengambil pernikahan sepupu/sedarahnya sebagai dasar perceraian, akan tetapi alasan utama dari perceraian ini adalah perselisihan terus-menerus karena perbedaan pendapat antara penggugat dengan tergugat dan tergugat yang tidak dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga, beliau juga menambahkan jika dalam putusan dasar perceraian dalam kasus ini difokuskan pada sedarahnya berarti putusan ini tidak berbentuk cerai, akan tetapi berbentuk pembatalan perkawinan, namun beliau kembali menjelaskan bahwasannya sepupu bukanlah sedarah artinya tidak bisa dilakukan pembatalan perkawinan.14

Kemudian dari apa yang majelis hakim putuskan didalam putusan yaitu mengabulkan gugatan penggugat dengan verstek, pada akhirnya majelis hakim

Pengadilan Agama Batam menjatuhkan talak satu ba’in shugra tergugat Sembari Bin Darise terhadap penggugat Tendri Sangka Binti Abdul Rahman.

14

87 A.Kesimpulan

Setelah mengkaji dan menganalisis putusan Pengadilan Agama Batam No. 104/Pdt.g/2013/PA.BTM, baik dari analisis dari perspektif hukum Islam maupun persepektif Undang-undang yang berlaku di Indonesia, penulis memberikan kesimpulan yaitu:

1. Tentang status perkawinan sepupu, bahwasannya menurut hukum Islam sepupu bukanlah sedarah, hal ini disimpulkan dari tidak ditemukannya kata sepupu dalam Al-Qur’an surah An-Nisa’ ayat 23 yang menjelaskan siapa-siapa saja orang yang haram untuk dinikahi/mahram, dari ayat ini juga ulama membagi

mahram kepada dua yaitu: mahram muaqqat (semenda) dan mahram muabbad

(pertalian nasab), sepupu juga tidak ditemukan dalam pembagian mahram ini,

baik dalam mahram muqqat maupun mahram muabbad,meski demikian para

ulama fikih berpendapat bahwa tidak dianjurkan untuk mengawini kerabat dekat termasuk sepupu, dikarenakan dua hal yaitu sebagaimana yang disyaratkan oleh ulama fikih bahwasannya kuatnya keturunan bergantung pada kuatnya dorongan kuatnya syahwat, pasangan suami istri akan semakin melemah syahwatnya bagi mereka yang memiliki hubungan kekerabatan dekat, kemudian sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh para dokter dan juga sudah menjadi hal yang biasa dikalangan masyarakat petani bahwa tanah yang

berulangkali ditanami satu jenis tanaman dapat menyebabkan menurunnya kualitas hingga lama kelamaan akan punah, begitu juga perempuan, dia diibaratkan lahan yang ditanami atau disemai hingga melahirkan anak, manusia ibarat biji-bijian dengan segala variantanya, karena itu seorang laki-laki dianjurkan agar menikahi perempuan dari keluarga yang bukan kerabatnya agar dia dapat melahirkan keturunan yang baik dan berkualitas.

Imam Ghazali menambahkan dalam kitabnya Ihya ‘Ulumuddin, beliau

mengatakan mengatakan, “salah satu hal yang perlu diperhatikan pada diri seorang perempuan yang akan dinikahi adalah hendaknya dia bukan dari kerabat dekat. Anak laki-laki yang dilahirkan dari pernikahan antar kerabat dekat pada umumnya memiliki postur tubuh yang lemah.

Meski sebagian ulama berpendapat bahwa pernikahan sepupu tidak dianjurkan akan ulama sepakat bahwa sepupu bukanlah termasuk dalam golongan yang haram dinikahi/mahram, hal ini didukung sebuah kaedah fikih

yaitu: َاْﻟَﺄ ْﺻ ُﻞ ِﻓ ْﻲ ُﻤﻟا َﻌ َﻣﺎ َﻠُﺔ ِﻟا َﺑﺎ َﺣﺎ ُﺔ ِاﱠﻟ َا ﺎ ْن َﯾُﺪ ﱠل َدِﻟ ْﯿ ٌﻞ َﻋ َﻠ َﺗ ﻰ ْﺤ ِﺮ ْﯾِﻤ َﮭﺎ

Artinya: “Hukum asal dalam semua betuk muamalah adalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya”

Dari kaedah fikih ini dapat disimpulkan bahwa tidak selama tidak ada dalil yang mengharamkan pernikahan antara sepupu, artinya sepupu boleh dinikahi dan bukan termasuk dalam golongan sedarah.

2. Dalam perkara ini meski dalam surat gugatan penggugat menyatakan bahwa dasar cerai gugat yang diajukan adalah dengan alasan perselisihan dan pertengkaran terus-menerus akibat suami adalah saudara sepupu/sedarah, akan tatapi majelis hakim dalam putusan mendasarkan pertimbangan perkara berdasakan berdasarkan ketentuan pasal 19 huruf (f) Peraturan Pemerintah No.9 tahun 1974 jo pasal 116 huruf (f) Kompilasi Hukum Islam yaitu perselisihan

dan pertengkaran terus menerus dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga yang disebabkan oleh tindakan tergugat yang tidak berkenan, yang kemudian didukung oleh saksi-saksi yang menyatakan tergugat tidak lagi memberikan nafkah penggugat dan anak-anak mereka. Dengan demikian majelis hakim menilai bahwa gugatan telah memenuhi ketentuan pasal 39 ayat (2) Undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, oleh karena itu gugatan penggugat dikabulkan.

B. Saran-Saran

Berdasarkan pada kesimpulan diatas, penulis akan membuat beberapa saran-saran yang akan penulis berikan kepada semua pihak yang terkait dalam permasalahan ini, antara lain:

1. Kepada pejabat pemerintah yang berwenang di bidang perkawinan agar dapat mensosialisasikan masalah perkawinan, terlebih lagi mengenai pemahaman tentang perkawinan antara sepupu, bagaimana pandangan ulama fikih terhadap perkawinan antara sepupu, apa akibat hukum yang timbul dari perkawinan

antara sepupu dan bagaimana hukum perkawinan antara sepupu baik dalam pandangan hukum Islam maupun Undang-undang yang berlaku di Indonesia. 2. Kepada para ulama, da’i, khatib agar dapat membantu peran pejabat pemerintah

yang berwenang dalam masalah perkawinan dalam mensosialisasikan masalah perkawinan, termasuk juga masalah perkawinan antara sepupu ini.

3. Kepada pihak Pengadilan Agama Batam agar dapat membantu dalam membuat surat gugatan para pihak yang ingin bercerai terkait masalah alasan-alasan untuk melakukan perceraian, agar alasan-alasan yang dibuat tidak malah bertentangan dengan hukum Islam maupun Undang-undang yang berlaku di Indonesia.

91

Djazuli. A, Kaidah-Kaidah Fikih: Kaidah-Kaidah Hukum Islam Dalam

Menyelesaikan Masalah-Masalah Yang Praktis, (Jakarta: Kencana), cet. Ke-1.

Harahap Yahya, Hukum Acara Perdata, (Jakarta: Sinar Grafika, 2010), cet. Ke-10.

http://kbbi.web.id

Khamimudin, Kiat dan Teknis Bercara di Pengadilan Agama, (Yogyakarta: Galeri

Ilmu, 2010), cet. Ke-1.

Kompilasi Hukum Islam, (Surabaya: Rona Publishing).

Kuzari Ahcmad, Nikah Sebagai Perikatan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,

1995), cet. Ke-1.

Latif Djamil, Aneka Hukum Perceraian Di Indonesia, (Jakarta: Ghalia Indonesia,

1985).

Latif Djamil, Kedudukan dan Kekuasaan Peradilan Agama di Indonesia, (Jakarta:

Bulan Bintang, 1983), cet. Ke-1.

Mahkamah Agung RI Direktorat Jendral BADILAG 2010, Pedoman Pelaksanaan

Tugas Dan Administrasi Peradilan Agama Buku II Edisi Revisi 2010, Jakarta,

2010.

Mahmudunnasir, Islam Konsepsi dan Sejarahnya, (Bandung: Remaja Rosdakarya,

Manan Abdul dan M. Fauzan, Pokok-Pokok Hukum Perdata Wewenang Peradilan

Agama, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), cet. Ke-5.

Manan Abdul, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam Di Indonesia, (Jakarta:

Kencana, 2008), cet. Ke-2.

Manan Abdul, Penerapan Hukum Acara Perdata Di Lingkungan Peradilan Agama,

(Jakarta: Kencana, 2008), cet. Ke- 5.

Mukhlis, Hakim Pengadilan Agama Batam, Wawancara Pribadi, Batam, 3 Januari

2014.

Muljono Wahju, Teori & Praktik Peradilan Perdata Di Indonesia, (Yogyakarta:

Pustaka Yustisia, 2012), cet. Ke-1.

Munawwir Ahmad Warson, Al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia, (Surabaya:

Pustaka Progressif, 1997), cet. Ke-14.

Nuruddin Amiur dan Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia:

Studi Kritis Perkembangan Hukum Islam dari Fikih UU No 1/1974 sampai

KHI,(Jakarta: Kencana, 2006), cet. Ke-3.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 9 tahun 1975 Tentang Pelaksanaan

Undang-Undang-Undang No. 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan, (Surabaya:

Rona Publishing).

Prakoso Djoko dan Ketut Murtika, Azas-Azas Hukum Perkawinan di Indonesia,

(Jakarta: PT Bina Aksara, 1987), cet. Ke-1.

Putusan Pengadilan Agama Batam No.104/Pdt.G/2013/PA.BTM.

Rahman Abdur, Perkawinan Dalam Syari’at Islam, (Jakarta: PT. Rineka Cipta,

1992), cet. Ke-1.

Ramulyo M. Idris, Tinjauan Beberapa Pasal Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974

Dari Segi Hukum Perkawinan Islam, (Jakarta: Ind. Hill-Co,1990), cet. Ke-2.

Rosyid. A, Hukum Acara Peradilan Agama, (Jakarta: CV.Rajawali, 1991), cet. Ke-1.

Sabiq Sayyid, Fikih Sunnah 7, diterjemahkan oleh Moh. Thalib, (Bandung: PT.

Al-Ma’arif, 1990), cet. Ke-7.

Sabiq Sayyid, Fikih Sunnah, terjemahan Abdurrahim dan Masrukhin, (Jakarta:

Cakrawala Publishing), cet. Ke-2.

Sauqi Ahmad, Perselisihan Terus-Menerus Antara Suami Istri Akibat Campur

Tangan Orang Tua Sebagai Dasar Alasan Perceraian(kajian terhadap putusan

PA Jakarta Timur No. 116/pdt.G/2008/PA JT).

Soekanto Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum.

Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata, (Jakarta: Intermasa, 2003), cet. Ke-31.

Sudarsono, Hukum Perkawinan Nasional, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), cet. Ke-4.

Suharsismi Arikunto, Prosedur Penelitan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002).

Sutantio Retnowulan dan Iskandar Oeripkartawinata, Hukum Acara Perdata Dalam

Teori Dan Praktek, (Bandung: Mandar Maju, 1997), cet. Ke-8.

Syahrani Riduan, Materi Dasar Hukum Acara Perdata,(Bandung: PT. Citra Aditya

Bakti,2009), cet. Ke- 5, diakses dari http://lawfile.blogspot.com/2011/06/replik-dan-duplik.html.

Syarifuddin Amir, Hukum Perkawinan Islam Di Indonesia Antara Fiqh Munakahat

Dan Undang-Undang Perkawinan, (Jakarta: Kencana, 2009), cet. Ke-3.

Thalib Sayuti, Hukum Kekeluargaan Indonesia, (Jakarta: UI Press, 1986), cet. Ke-5.

Tihami. A dan Sohari Sahrani, Fikih Munakahat: Kajian Fikih Nikah Lengkap,

(Jakarta: Rajawali Pers, 2009), cet. Ke-1.

Undang-Undang No. 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan, (Surabaya: Rona

Publishing).

www.hukum online.com www.pa-batam.net

Dokumen terkait