BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
B. SARAN
1. Demi menghindari banyaknya penafsiran mengenai sunrang, sebaiknya dalam hal persyaratan perkawinan itu sendiri kedua
belah pihak lebih mengutamakan sahnya sebuah perkawinan berdasarkan agama dalam hal ini perkawinan menurut Islam.
Khususnya untuk kedudukan sunrang sebagai mahar dalam sebuah perkawinan adat di Jeneponto yang diwajibkan dalam bentuk tanah atau emas sebagai tolak ukur tinggi dan rendahnya derajat seseorang yang tidak jarang memberatkan calon mempelai laki-laki. Untuk itu sebaiknya kedua belah pihak lebih mengutamakan tujuan dari perwakinan itu sendiri, yaitu untuk membangun rumah tangga yang bahagia. Perkawinan bukanlah ajang untuk menilai derajat seseorang meskipun hal ini merupakan suatu tradisi yang masih eksis di kalangan masyarakat khususnya suku bugis-makassar.
2. Besaran dalam pemberian sunrang itu sendiri seharusnya tidak ada batas bentuk maupun jumlahnya, karena sunrang tersebut diserahkan langsung kepada pihak keluarga mempelai perempuan sesuai dengan kesanggupan mempelai laki-laki.
Pada intinya, adat dan agama dapat berjalan beriringan dan diikat dalam hukum nasional. Adat tidak memberatkan agama, begitu pula agama tidak menghilangkan tradisi budaya yang ada. Dengan begitu, terwujudlah kekayaan khazanah Islam.
DAFTAR PUSTAKA
BUKU
Abdurrahman Ghazaly. 2003. Fiqih Munakahat. Kencana. Jakarta.
Abdulkadir Muhammad, 2004, Hukum dan Penelitian Hukum. PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.
Andi Suriyaman Mustari Pide. 2014. Hukum Adat Dulu Kini dan Akan Datang. KENCANA. Jakarta.
A. Hasan Walinono. 1979. Tanete: Suatu Studi Sosiologi Politik.
Universitas Hasanuddin. Ujung Pandang.
Amir Syarifuddin. 2006. Hukum Perkawinan Islam di Indonesia : Antara Fiqih Munakahat dan Undang-undang Perkawinan. Prenada Media.
Jakarta.
---. 2009. Hukum Perkawinan Islam. Kencana Perdana Media Group. Jakarta.
Christian Pelras. 2006. Manusia Bugis. Forum Jakarta-Paris. Jakarta.
Hadari Nawawi. 2000. Manajemen Sumber Daya Manusia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
H. Aqib Suminto. 1985. Politik Islam Hindia Belanda. LP3ES. Jakarta.
Hilman Hadikusuma. 2007. Hukum Perkawinan Indonesia. CV. Mandar Maju. Bandung.
Iman Sudiyat. 1981. Hukum Adat. Liberty. Yogyakarta.
Khairuddin. H.SS. 2008. Sosiologi Keluarga. Liberty. Yogyakarta.
Khoiruddin Nasution. 2005. Hukum Perkawinan. ACAdeMIA & TAZZAFA.
Yogyakarta.
M. Arfin Hamid. 2011. Hukum Islam : Perspektif Keindonesiaan (Sebuah Pengantar dalam Memahami Realitasnya di Indonesia). PT Umitoha Ukhuwah Grafis. Makassar.
Mahmud Yunus. 1990. Kamus Arab-Indonesia. PT. Hadikarya Agung.
Jakarta.
Muhammad Jawad Mughniyyah. 1999. Fiqih Lima Mazhab. Penerjemah Masykur A.B dkk. Lentera. Jakarta.
M. A Tihami dan Sohari Fahrani. 2009. Fikih Munahakat: Kajian Fikih Nikah Lengkap. Rajawali Pers. Jakarta.
Peunoh Daly. 2009. Hukum Perkawinan Islam: Studi Perbandingan Dalam Kalangan Ahlus-Sunnah dan Negara-Negara Islam. Bulan Bintang. Jakarta.
Sayuti Thalib. 1980. Receptio A Contrario. Bina Aksara. Jakarta.
---.2009. Hukum Kekeluargaan Indonesia. Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press). Jakarta.
Soemiati. 1892. Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang Perkawinan. Liberty. Yogyakarta.
Soerjono Soekanto. 1981. Hukum Adat Indonesia. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
---. 2010. Penelitian Hukum Normatif, Rajawali Pers, Jakarta.
Soerojo Wingjodipoero. 1983. Pengantar dan Asas-Asas Hukum Adat. PT.
Toko Gunung Agung. Jakarta.
Sudarsono. 1991. Hukum Kekeluargaan Nasional. PT. Rineka Cipta.
Jakarta.
Sugirah Wahid. 2010. Manusia Makassar. Pustaka Refleksi. Makassar.
Tholib Setiady. 2008. Intisari Hukum Adat Indonesia dalam Kajian Kepustakaan. ALFABETA, Cv. Bandung.
SKRIPSI
Imam Ashari. 2016. Makna Mahar Adat Dan Status Sosial Perempuan Dalam Perkawinan Adat Bugis Di Desa Penengahan Kabupaten Lampung Selatan. Skripsi. Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Rika Elvira. 2014. Ingkar Janji Atas Kesepakata Uang Belanja (Uang Panai’) Dalam Perkawinan Suku Bugis Makassar. Skripsi, Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Makassar.
INTERNET
Abd. Shomad, Dinamisasi Penormaan Hukum Islam, Vol. 15, 2010, hlm 272 http://jurnal-perspektif.org/index.php/perspektif/article/view/.
Anonim. “Adat Uang Panaik Dalam Pernikahan Mandar” di akses di, http://budaya-indonesia.org/Adat-uang-panaik- dalam-pernikahan-Mandar/.
Anonim. “rukun dan syarat nikah” di akses di https://www.scribd.com/doc/191954280/Rukun-Dan-Syarat-Nikah.
Anonim. “Tata Cara Pembayaran Mahar dalam Islam” diakses di https://media.ihram.asia/2016/04/14/tata-cara-pembayaran-mahar-dalam-islam/
LAMPIRAN
Instruksi Presiden RI Nomor 1 Tahun 1991
Tentang Kompilasi Hukum Islam
KOMPILASI HUKUM ISLAM *
BUKU I
HUKUM PERKAWINAN
BAB I KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Yang dimaksud dengan :
a. Peminangan ialah kegiatan kegiatan upaya ke arah terjadinya hubungan perjodohan antara seorang pria dengan seorang wanita,
b. Wali hakim ialah wali nikah yang ditunjuk oleh Menteri Agama atau pejabat yang ditunjuk olehnya, yang diberi hak dan kewenangan untuk bertindak sebagai wali nikah;
c. Akad nikah ialah rangkaian ijab yang diucapkan oleh wali dan kabul yang diucapkan oleh mempelai pria atau wakilnya disaksikan oleh dua orang saksi;
d. Mahar adalah pemberiandari calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita, baik berbentuk barang, uang atau jasa yang tidak bertentangan dengan hukum Islam;
e. Taklil-talak ialah perjanjian yang diucapkan calon mempelai pria setelah akad nikah yang dicantumkan dalam Akta Nikah berupa Janji talak yang digantungkan kepada suatu keadaan tertentu yang mungkin terjadi dimasa yang akan datang;
f. Harta kekayaan dalam perkawinan atau Syirkah adalah harta yang diperoleh baik sendiri-sendiri atau bersam suami-isteri selam dalam ikatan perkawinan berlangsung selanjutnya sisebut harta bersama, tanpa mempersoalkan terdaftar atas nama siapapun;
g. Pemeliharaan atak atau hadhonah adalah kegiatan mengasuh, memeliharadan mendidik anaka hingga dewasa atau mampu berdiri sendiri;
h. Perwalian adalah kewenangan yang diberikan kepada seseorang untuk melakukan sesuatu perbuatan hukum sebagai wakil untuk kepentingan dan atas nama anak yang tidak mempunyai kedua orang tua, orang tua yang masih hidup, tidak cakap melakukan perbuatan hukum;
i. Khuluk adalah perceraian yang terjadi atas permintaan isteri dengan memberikan tebusan atau iwadl kepada dan atas persetujuan suaminya;
j. Mutah adalah pemberian bekas suami kepada isteri, yang dijatuhi talak berupa bendaatau uang dan lainnya.
BAB V MAHAR
Pasal 30
Calon mempelai pria wajib membayar mahar kepada calon mempelai wanita yang jumlah, bentuk dan jenisnya disepakati oleh kedua belah pihak.
Pasal 31
Penentuan mahar berdasarkan atas kesederhanaan dan kemudahan yang dianjurkan oleh ajaran Islam.
Pasal 32
Mahar diberikan langsung kepada calon mempelai wanita dan sejak itumenjadi hak pribadinya.
Pasal 33 (1) Penyerahan mahar dilakukan dengan tunai.
(2) Apabila calon mempelai wanita menyetujui, penyerahan mahar boleh ditangguhkan baik untuk seluruhnya atau sebagian. Mahar yang belumditunaikan penyerahannya menjadi hutangcalon mempelai pria.
Pasal 34
(1) Kewajiban menyerahkan mahar mahar bukan merupakan rukun dalm perkawinan.
(2) Kelalaian menyebut jenis dan jumalh mahar pada waktu akad nikah, tidak menyebabkan batalnya perkawinan. Begitu pula halnya dalam keadaan mahar masih terhutang, tidak mengurangi sahnya perkawinan.
Pasal 35
(1) Suami yang mentalak isterinya qobla al dukhul wajib membayar setengah mahar yang
Pasal 36
Apabila mahar hilang sebelum diserahkan, mahar itu dapat diganti dengan barang lain yang sama bentuk dan jenisnya atau dengan barang lain yang sama nilainya atau dengan uang yang senilai dengan harga barang mahar yang hilang.
Pasal 37
Apabila terjadi selisih pendapat mengenai jenis dan nilai mahar yang ditetapkan,penyelasaian diajukan ke Pengadilan Agama.
Pasal 38
(1) Apabila mahar yang diserahkan mengandung cacat atau kurang, tetapi calon mempelai tetap bersedia menerimanya tanpa syarat, penyerahan mahal dianggap lunas.
(2) Apabila isteri menolak untuk menerima mahar karena cacat, suami harus menggantinya dengan mahar lain yang tidak cacat. Selama Penggantinya belum diserahkan, mahar dianggap masih belum dibayar.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974
Tentang Perkawinan
DENGAN RAKHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
Menimbang :
bahwa sesuai dengan falsafah Pancasila serta cita-cita untuk pembinaan hukum nasional, perlu adanya Undang-undang tentang Perkawinan yang berlaku bagi semua warga negara.
Mengingat:
1. Pasal 5 ayat (1), pasal 20 ayat (1) dan pasal 29 Undang-undang Dasar 1945.
2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor IV/MPR/1973.
Dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
M E M U T U S K A N:
Menetapkan:
UNDANG-UNDANG TENTANG PERKAWINAN.
BAB I
DASAR PERKAWINAN
Pasal 1
Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Pasal 2
(1) Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu.
(2) Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 3
(1) Pada asasnya seorang pria hanya boleh memiliki seorang isteri. Seorang wanita hanya boleh memiliki seorang suami.
(2) Pengadilan, dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristeri lebih dari seorang apabila dikendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan.
Pasal 4
(1) Dalam hal seorang suami akan beristri lebih dari seorang, sebagaimana tersebut dalam pasal 3 ayat (2) Undang-undang ini, maka ia wajib mengajukan permohonan ke Pengadilan di daerah tempat tinggalnya.
(2) Pengadilan dimaksud dalam ayat (1) pasal ini hanya memberi izin kepada suami yang akan beristri lebih dari seorang apabila:
a. istri tidak dapat memnjalankan kewajibannya sebagai isteri;
b. istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan;
c. istri tidak dapat melahirkan keturunan.
Pasal 5
(1) Untuk dapat mengajukan permohonan ke Pengadilan sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (1) Undang-undang ini harus memenuhi syarat-syarat berikut:
a. adanya persetujuan dari isteri/isteri-isteri;
b. adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan-keperluan hidup isteri-isteri dan anak-anak mereka.
c. adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap isteri-isteri dan anak-anak mereka.
(2) Persetujuan yang dimaksud dalam ayat (1) huruf a pasal ini tidak diperlukan bagi seorang suami apabila isteri/isteri-isterinya tidak mungkin dimintai persetujuannya dan tidak dapat menjadi pihak dalam perjanjian;atau apabila tidak ada kaber dari istrinya selama sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun atau karena sebab-sebab lainnya yang perlu mendapat penilaian dari Hakim Pengadilan.
BAB II
SYARAT-SYARAT PERKAWINAN
Pasal 6
(1) Perkawinan didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai.
(2) Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun harus mendapat izin kedua orang tua.
(3) Dalam hal seorang dari kedua orang tua meninggal dunia atau dalam keadaan tidak mampu menyatakan kehendaknya, maka izin yang dimaksud ayat (2) pasal ini cukup diperoleh dari orang tua yang masih hidup atau dari orang tua yang mampu menyatakan kehendaknya.
(4) dalam hal kedua orang tua telah meninggal dunia atau dalam keadaan tidak mampu untuk menyatakan kehendaknya, maka izin diperoleh dari wali orang yang memelihara atau keluarga yang mempunyai hubungan darah dalam garis keturunan lurus ke atas selama mereka masih hidup dan dalam keadaan menyatakan kehendaknya.
(5) Dalam hal ada perbedaan antara orang-orang yang dimaksud dalam ayat (2), (3) dan (4) pasal ini, atau salah seorang atau lebih diantara mereka tidak menyatakan pendapatnya, maka Pengadilan dalam daerah tempat tinggal orang yang akan melangsungkan perkawinan atas permintaan orang tersebut dapat memberikan ijin setelah lebih dahulu mendengar orang-orang yang tersebut dalam ayat (2), (3) dan (4) dalam pasal ini.
(6) Ketentuan tersebut ayat (1) sampai dengan ayat (5) pasal ini berlaku sepanjang hukun masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu dari yang bersangkutan tidak menentukan lain.
Pasal 7
(1) Perkawinan hanya diizinkan bila piha pria mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai usia 16 (enam belas) tahun.
(2) Dalam hal penyimpangan dalam ayat (1) pasal ini dapat minta dispensasi kepada Pengadilan atau pejabat lain yang diminta oleh kedua orang tua pihak pria atau pihak wanita.
(3) Ketentuan-ketentuan mengenai keadaan salah seorang atau kedua orang tua tersebut pasal 6 ayat (3) dan (4) Undang-undang ini, berlaku juga dalam hal permintaan dispensasi tersebut ayat (2) pasal ini dengan tidak mengurangi yang dimaksud dalam pasal 6 ayat (6).
Pasal 8 Perkawinan dilarang antara dua orang yang:
a. berhubungan darah dalan garis keturunan lurus ke bawah atau ke atas;
b. berhubungan darah dalam garis keturunan menyamping yaitu antara saudara, antara seorang dengan seorang saudara orang tua dan antara seorang dengan saudara neneknya;
c. berhubungan semenda, yaitu mertua, anak tiri, menantu dan ibu/bapak tiri;
d. berhubungan susuan, anak susuan, saudara dan bibi/paman susuan;
e. berhubungan saudara dengan isteri atau sebagai bibi atau kemenakan dari isteri, dalam hal seorang suami beristeri lebih dari seorang;
f. yang mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau praturan lain yang berlaku dilarang kawin.
Pasal 9
Seorang yang terikat tali perkawinan dengan orang lain tidak dapat kawin lagi, kecuali dalam hal yang tersebut dalam Pasal 3 ayat (2) dan dalam Pasal 4 Undang-undang ini.
Pasal 10
Apabila suami dan istri yang telah cerai kawin lagi satu dengan yang lain dan bercerai lagi untuk kedua kalinya, maka diantara mereka tidak boleh dilangsungkan perkawinan lagi, sepanjang hukum, masing-masing agama dan kepercayaan itu dari yang bersangkutan tidak menentukan lain.
Pasal 11
(1) Bagi seorang yang putus perkawinannya berlaku jangka waktu tunggu.
(2) Tenggang waktu jangka waktu tunggu tersebut ayat (1) akan diatur dalam Peraturan Pemerintah lebih lanjut.
Pasal 12
Tata cara perkawinan diatur dalam peraturan perundang-undangan tersendiri.