BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
G. Analisis Penulis
Rescheduling (penjadwalan ulang) yaitu perubahan syarat pembiayaan hanya menyangkut jadwal pembayaran atau jangka waktu termasuk masa tenggang grace period dan perubahan besarnya angsuran pembiayaan. Bank BNI Syariah KC Bukittinggi akan memberikan keringanan dengan cara perubahan jadwal pembayaran kewajiban nasabah. Jika nasabah pembiayaan bermasalah tidak mampu membayar pada waktu jatuh tempo, maka langkah yang akan dilakukan oleh bank adalah memberi keringanan berupa mengubah jangka waktu pembiayaan, misalnya perpanjang jangka waktu dari 48 bulan menjadi 51 bulan atau 54 bulan. Sehingga nasabah yang menunggak dalam pembayaran mempunyai waktu yang lama untuk mengembalikan pembayaran pembiayaan yang kurang lancar tersebut.
Reconditioning ( persyaratan kembali) yaitu perubahan seluruh atau sebagian syarat- syarat pembiayaan, antara lain perubahan jadwal pembayaran, jumlah angsuran, jangka waktu dan atau pemberian potongan sepanjang tidak menambah sisa kewajiban nasabah yang harus dibayarkan kepada bank. Dalam hal ini, Bank BNI Syariah KC Bukittinggi
33Wawancara dengan Bapak Muhammad Irsyal karyawan AO Bank BNI Syariah KC Bukittinggi, Rabu 17 April 2019
melaksanakan persyaratan kembali dengan cara memberikan keringanan pembayaran angsuran tahun 1 dan 2. Misalnya, jangka waktu pembiayaan tersebut adalah 6 tahun dan sudah berjalan selama 2 tahun, kemudian mengalami macet, maka pihak bank akan memberikan keringanan angsuran pada tahun 3 dan 4 kepada nasabah tersebut, namun pada tahun-tahun berikutnya angsuran akan tinggi. Jadi, menurut analisis penulis, pihak bank sudah menjalankan prinsip reconditioning sesuai dengan ketentuan yang berlaku, seperti bank sudah memberikan keringanan kepada nasabah berupa perubahan jadwal pembayaran, perubahan jumlah angsuran, dan jangka waktu pembayaran.
Restructuring (penataan kembali), bank melakukan restrukturisasi atau penataan kembali guna membantu nasabah untuk menyelesaikan pembiayaan bermasalahnya berupa penambahan dana fasiltas pembiayaan bank, konversi akad pembiayaan, dan konversi pembiayaan menjadi penyertaan modal sementara pada perusahaan nasabah. Dalam hal ini, Bank BNI Syariah KC Bukittinggi tidak memberikan penambahan modal kepada nasabah pembiayaan bermasalah, biasanya pihak bank hanya memberikan kelonggaran dalam jangka waktu pembayaran atau jadwal pembayaran saja karena dengan memberi penambahan fasilitas dana kepada nasabah akan menimbulkan resiko bagi bank, pihak bank berpendapat, pembiayaan sebelumnya saja nasabah sudah tidak mampu melunasinya, jadi ada kemungkinan penambahan dana kembali hanya akan menambah beban bagi nasabah dan akan menambah resiko bagi
bank. Jadi, menurut analisis penulis, pihak bank belum melaksanakan prinsip restructuring sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Karena dalam prinsip dan teorinya, pihak bank membantu nasabah pembiayaan bermasalah dengan merestrukturisasi pembiayaannya dengan cara penambahan dana fasilitas pembiayaan bank, konversi akad pembiayaan, dan konversi pembiayaan menjadi penyertaan modal sementara pada perusahaan nasabah, tetapi pada prakteknya tidak demikian. Namun, pihak bank memiliki alasan tersendiri dalam hal ini, pihak bank tidak dapat memberikan penambahan fasilitas dana tambahan kepada nasabah dikarenakan hal tersebut akan menambah resiko bagi bank, resiko tersebut juga akan berdampak pada kesehatan bank nantinya.
Secara keseluruhan, Bank BNI Syariah KC Bukittinggi sudah melaksanakan proses 3R sesuai dengan prinsip- prinsip dalam perspektif Ekonomi Islam, yaitu dengan cara memberi tangguh, memberi kelonggaran, dan memberi kelapangan kepada orang yang kesulitan dalam membayar utangnya.
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian kualitatif dengan teknik wawancara dan dokumentasi yang dilaksanakan di Bank BNI Syariah Bukittinggi tentang penyelesaian Pembiayaan Bermasalah (berdasarkan 3R), maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
Jika terjadi pembiayaan bermasalah, maka pihak bank akan melakukan langkah restrukturisasi pembiayaan (langkah 3R) terhadap nasabah pembiayaan bermasalah. Restrukturisasi pembiayaan dapat dilakukan jika nasabah memang mempunyai itikad baik dan berniat ingin melunasi pembiayaannya. Kemudian pihak bank juga menganalisis kembali, apakah ada kemungkinan usaha nasabah (nasabah pembiayaan produktif ) tersebut akan kembali pulih atau tidak.
B. SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang telah peneliti lakukan pada bab sebelumnya, maka saran dari peneliti adalah sebagai berikut:
1. Bagi Bank BNI Syariah Cabang Bukittinggi
Untuk menghindari terus meningkatnya jumlah nasabah pembiayaan bermasalah, maka pihak bank/ AO diharapkan lebih teliti lagi dalam memberikan pembiayaan kepada calon nasabah.
2. Bagi Peneliti Selanjutnya
Disarankan untuk peneliti selanjutnya untuk dapat meneliti dan menganalisa lebih lanjut tentang penyelesaian pembiayaan bermasalah pada PT. BNI Syariah KC Bukittinggi
Marketing Communications. Yogyakarta: PT. Bentang Pustaka https://www.bnisyariah.co.id
Irsyal, Muhammad. 2019. Karyawan AO. Bukittinggi: Bank BNI Syariah KC Bukittinggi
Ismail. 2011. Perbankan Syariah. Jakarta: PrenadaMedia Group Karim, Adiwarman A. 2013. Bank Islam Analisis Fiqh dan Keuangan.
Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada
Kasmir. 2002. Dasar- Dasar Perbankan. Jakarta: Raja Grafindo Persada Kasmir. 2015. Bank Dan Lembaga Keuangan Lainnya Edisi Revisi 2014.
Jakarta: Rajawali Pers
Maulistina, Laili. 2017. Skripsi pada jurusan S1 Perbankan Syariah. Lampung: UIN Raden Intan Lampung
Moleong, Lexy J. 1995. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya
Muhammad. 2005. Bank Syariah Problem dan Prospek Perkembangan di Indonesia.Yogyakarta: Graha Ilmu
Muhammad. 2015. Manajemen Dana Bank Syariah. Jakarta: Rajawali Pers
Laina, Zahrotul. 2016. skripsi pada jurusan Hukum Ekonomi Islam/ Muamalah. Semarang: UIN Walisongo Semarang
Sudarsono. 1999. Kamus Ekonomi Uang dan Bank.Jakarta: Rineka Cipta Tanjung, Nursopiana. 2013.Tugas Akhir Pada Jurusan DIII Perbankan
Syariah. Bukittinggi: IAIN Bukittinggi
Teguh, Muhammad. 2001. Metodologi Penelitian Ekonomi Teori dan Aplikasi. Jakarta: PT Persada
Tiara, Canasa Realy. 2013. Tugas Akhir pada Jurusan DIII Perbankan Syariah. Bukittinggi: IAIN Bukittinggi
Tim Penyusun Pusat Pembianaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1994. Kamus Bahasa Lengkap Indonesia.Jakarta: BalaiPustaka
Hukum Unair
Utama,Alim. 2013. Tugas Akhir pada Jurusan DIII Perbankan Syariah. Bukittinggi: IAIN Bukittinggi
Wijaya, Tony. 2013. Metodologi Penelitian Ekonomi Dan Bisnis Teori Dan Praktik. Yogyakarta: Graha Ilmu
Wiroso, Muhammad Yusuf. 2007. Bisnis Syariah. Jakarta: Mitra Wacana Media
Yusuf, Muhammad danWiroso. 2007. Bisnis Syariah.Jakarta: Mitra Wacana Media
Z, A Wangsawidjaja. 2012. Pembiayaan Bank Syariah. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
Aspek yang dikaji
Sup aspek Indikator Metode
pengumpulan data Analisis Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah Pada PT. BNI Syariah KC Bukittinggi Penyelesaian pembiayaan bermasalah Penanganan/ Penyelesaian pembiayaan bermaslah berdasarkan prinsip 3R (PBI No. 13/9/PBI/2011 tentang restrukturisasi yaitu: 1) Rescheduling (penjadwalan ulang) 2) Reconditioning (persyaratan kembali) 3) Restructuring (penataan kembali) Wawancara
1. Akad- akad apa saja yang dipakai oleh pihak bank dalam pemberian pembiayaan? 2. Pembiayaan bermasalah seperti apa yang dapat dilakukan rescheduling?
3. Apa saja syarat untuk melakukan rescheduling?
4. Apa saja keringanan yang diberikan dalam proses melakukan rescheduling (seperti diberikan masa tenggang grace period) atau ada yang lainnya?
5. Pembiayaan bermasalah seperti apa yang dapat dilakukan reconditioning?
6. Apa saja syarat untuk melakukan reconditioning (persyaratan kembali) untuk nasabah yang memiliki pembiayaan bermasalah?
7. Pembiayaan bermasalah seperti apa yang dapat dilakukan restructuring?
8. Apa saja syarat untuk melakukan restructuring (penataan kembali) untuk nasabah yang memiliki kasus pembiayaan bermasalah?
9. Jika tahap 3R sudah dilaksanakan, namun belum ada kejelasan atau permasalahannya masih belum selesai. Maka langkah Apa saja yang dilakukan oleh bapak/ ibu (karyawan AO) dalam menangani/ menyelesaikan pembiayaan bermasalah tersebut?