• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENERAPAN JUSTICE COLLABORATOR DALAM PERADILAN

C. Analisis Penulis

Penerapan Hukuman bagi Justice Collaborator di Indonesia masih terbilang belum memiliki kepastian hukum, dilapangan banyak sekali terjadi perbedaan tafsir yang ada sehingga pemberian hukuman kepada terdakwa yang telah memiliki peran sebagai saksi pelaku yang bekerjasama perlu mendapatkan perhatian yang sangat serius.

Ketidakhadiran kepastian hukum dalam penerapan hukuman bagi justice collaborator membuat penerapannya menjadi tidak sesuai dengan tujuan pembentukan peraturan hukumnya, setiap peraturan perundang-undangan haruslah bertujuan untuk memberikan kepastian hukum terutama untuk norma hukum yang sudah tertulis, hukum yang telah dibuat tanpa adanya nilai ,kepastian pasti akan kehilangan makna karena pasa dasarnya hukum yang sudah tidak memiliki nilai kepastian tidak dapat lagi digunakan sebagai pedoman perilaku bagi seseorang dan karena kepastian adalah salah satu tujuan dari hukum.

Ketidakpastian hukum yang terjadi terhadap seorang justice collaborator sangat sering terjadi di peradilan Indonesia, banyak sekali penerapan hukum yang masih salah kaprah terjadi menimpa saksi pelaku yang bekerjasama karena kepastian hukum belum hadir untuk menengahi ketidakpastian yang terjadi, penulis menemukan setidaknya ada 2 (dua) putusan yang masih mengandung penerapan hukum yang berbeda terhadap saksi pelaku yang bekerjasama, kedua putusan ini adalah putusan dari tindak pidana yang berbeda yakni tindak pidana narkotika dan tindak

pidana korupsi dimana dari kedua kasus ini sama-sama tindak pidana yang diatur dalam undang-undang nomor 31 tahun 2014 tentang perlindungan saksi dan korban untuk dapat mengajukan diri sebagai Justice collaborator, dan kedua mendapatkan persetujuan dari kejaksaan.

Penulis telah menemukan setidaknya 2 putusan hakim yang menurut penulis tidak memiliki kepastian hukum, dimana kedua putusan ini memiliki perbedaan dalam penerapan hukuman terhadap terdakwa yang memiliki status sebagai saksi pelaku yang bekerjasama, kedua putusan hakim itu antara lain :

Dalam Putusan pengadilan tindak pidana korupsi pada negeri Yogyakarta Nomor 2/Pid.Sus-TPK/2017/PNYyk terdakwa yang bernama Waluyo Raharjo bin Kasimun Wardoyo yang merupakan pejabat publik yang menjabat sebagai kepala Kantor SAR Yogyakarta terjerat dalam tindak pidana korupsi, tindak pidana korupsi ini bermula saat SAR Yogyakarta akan membangun sebuah gedung untuk selanjutnya dipakai oleh SAR Yogyakarta itu sendiri, melihat adanya peluang dalam pengadaan infrastruktur, terdakwa mencoba untuk mengambil keuntungan dalam proses pembangunan kantor tersebut yaitu dalam pengadaan tanah.

Terdakwa yang mempercayakan salah satu orang yang bernama Diaz Aryanto untuk mengurus pengadaan tanah ini ternyata sudah terlebih dahulu bermain mata untuk bersama-sama mengambil keuntungan dari proses ini, sampai akhirnya orang kepercayaan terdakwa ini yang bernama diaz aryanto lari dari pekerjaan membawa uang untuk pembelian tanah tersebut, sehingga proses pembelian tanah batal dan uang negara pun menghilang, terdakwa yang merupakan kepala SAR Yogyakarta akhirnya melaporkan diaz aryanto kepada aparat penegak hukum.

Terungkap fakta dalam pengadilan, bahwa terdakwa ternyata sudah menerima uang sebesar Rp. 160.000.000,- ( Seratus Enam Puluh Juta Rupiah ) dari diaz aryanto untuk memenuhi keperluan pribadinya, sehingga terjerat dalam tindak pidana korupsi.

Pada mulanya, pemecahan kasus ini mengalami kebuntuan, karena banyak fakta yang belum terungkap, aktor-aktor lain pun belum bisa dibuka sepenuhnya agar bisa membongkar kasus ini dengan terang benderang, terdakwa akhirnya mengajukan diri sebagai saksi pelaku yang bekerjasama dan di kabulkan oleh kejaksaan, akhirnya terdakwa membuka dan memberikan kesaksian kepada penyidik hingga kasus ini bisa terbuka dengan selebar-lebarnya. Kesaksian terdakwa dalam persidangan sebagai seorang saksi pelaku yang bekerjasama untuk membantu aparat penegak hukum memecahkan tindak pidana korupsi tersebut membuat pemecahan tindak pidana tersebut menjadi lebih terang dan terarah sehingg mampu membuka semua orang yang terlibat dari hulu hingga ke hilir.

Peran terdakwa dalam membongkar tindak pidana korupsi tersebut tidak sama sekali mendapatkan hak sebagai mana yang diatur dalam undang-undang nomor 31 tahun 2014 tentang perlindungan saksi dan korban, dimana peran terdakwa seharusnya menjadi pertimbangan majelis hakim untuk memberikan keringan hukuman kepada terdakwa, sebagaimana yang tertuang dalam amar putusan nomor 2/Pid.Sus-TPK/2017/PNYyk dimana peran terdakwa sebagai seorang justice collaborator tidak dimasukkan dalam pertimbangan untuk meringankan hukuman yang didapatkan oleh terdakwa:

Hal-hal yang meringankan :

a. Terdakwa adalah orang yang melaporan dugaan tindak pidana yang terjadi dalam proses pengadaan tanah oleh kantor SAR Yogyakarta;

b. Terdakwa belum pernah dihukum ;

c. Terdakwa berterus terang mengakui kesalahannya ;

d. Terdakwa telah mengembalikan uang yang dinikmatinya sebesar Rp.160.000.000,- (seratus enam puluh juta rupiah) ;

e. Terdakwa bersikap sopan selama persidangan ;

f. Terdakwa merupakan tulang punggung keluarga dan mempunyai 2 orang anak dan satu orang isteri ;

g. Terdakwa menyesali perbuatannya dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi ;11

Penulis menganalisis bahwa kepastian hukum justice collaborator dalam peradilan pidana di Indonesia belum menemui kepastian hukum, dimana hakim berkeyakinan bahwa konsepsi justice collaborator belum dapat sepenuhnya diterapkan dalam peradilan pidana di Indonesia, hal ini juga berdasarkan keyakinan hakim bahwa Indonesia sedang giat-giatnya dalam memerangi tindak pidana korupsi.

Hal ini bermula dari adanya laporan dari terdakwa sendiri tentang tindak pidana korupsi pengadaan tanah untuk pembangunan posko SAR Yogyakarta di kabupaten Gunung Kidul tahun 2015 dimana tindak pidana ini dilaporkan sendiri oleh terdakwa kepada aparat penegak hukum, penuntut umum memberikan status justice collaborator kepada terdakwa dan terdakwa memberikan kesaksian dan juga alat bukti sampai semua pelaku termasuk pelaku utamanya sehingga kasus kejahatan tersebut bisa terselesaikan dengan didasari dari niat baik dari terdakwa.

Hakim memiliki keyakinan lain sehingga peran terdakwa sebagai justice collaborator tidak dipenuhi secara maksmimal seperti yang dalam undang-undang nomor 31 tahun 2014 tentang oerlindungan saksi dan korban dengan berkeyakinan bahwa konspsi justice collaborator belum signifikan dapat diterpkan dalam peradilan pidana Indonesia dengan berbagai macam problematika penerapannya.

11 Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Pada Negeri Yogyakarta nomor 2/Pid.Sus-TPK/2017/PNYyk H. 126

70 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Penerapan justice collaborator dalam peradilan pidana Indonesia belum menemui kepastian hukum, dalam Putusan pengadilan tindak pidana korupsi pada negeri Yogyakarta Nomor 2/Pid.Sus-TPK/2017/PNYyk majelis hakim berkeyakinan bahwa konsep justice collaborator belum signifikan dapat diterapkan dalam sistem peradilan pidana Indonesia dengan berbagai macam problematika dalam penerapannya, hal ini yang membuat terdapat perbedaan pertimbangan antara penuntut umum dengan majelis hakim, penuntut umum memberikan status sebagai justice collaborator kepada terdakwa dengan pertimbangan laporan tindak pidana korupsi tersebut berawal dari laporan yang ditandatangani dan dilaporkan langsung oleh terdakwa dan mengungkapkan alat bukti dan fakta-fakta yang diperoleh pada saat masa penyelidikan dan penyidikan yang kemudian dijadikan pembuktian dalam peradilan yang sangat efektif untuk dalam proses peradilan dengan didasari dengan niat baik dan kooperatif terdakwa dalam menjalankan statusnya sebagai justice collaborator.

Dalam putusan majelis hakim berehendak lain, dengan mengesampingkan peran terdakwa sebagai saksi pelaku yang bekerjasama, hal ini bertentangan dengan undang-undangn nomor 31 tahun 2014 tentang perlindungan saksi dan korban dimana seharusnya peran terdakwa sebagai justice collaborator menjadikannya berhak untuk mendapatkan keringanan penjatuhan pidana, majelis hakim mempetimbangkan bahwa Indonesia sedang giat-giatnya untuck memberantas tindak pidana korupsi dan berdasarkan keyakinan hakim itu sendiri serta pertimbangan bahwa konsep justice collaborator belum signifikan dapat diterapkan dalam sistem peradilan pidana Indonesia dengan berbagai macam problematika dalam penerapannya. Tetapi pengesampingan penerapan justice

collaborator tersebut bukan merupakan penolakan penerapannya terhadap terdakwa yang dapat menyebabkan gugurnya status terdakwa sebagai justice collaborator, oleh arena itu penerapan justice collaborator terhadap terdakwa tetap menjadi pertimbangan dalam penjatuhan hukuman kepada terdakwa.

B. Saran

Berdasarkan uraian bab-bab diatas dan juga kesimpulan yang telah diberikan penulis, rekomendasi yang berikan penulis dalam penelitian ini diantarannya, sebagai berikut:

1. Terhadap perbedaan pertimbangan yang terjadi antara penuntut umum dan majelis hakim adalah hal yang biasa terjadi dalam peradilan pidana asalkan hal tersebut dapat dijelaskan segara legis dan logis dalam pertimbangannya. Oleh arenanya da;am penerapan justice collaborator penuntut umum dan majelis hakim harus memahami benar tentang konsepsi justice collaborator agar bisa diterapkan dengan baik.

2. Direkomendiasikan untuk aparat penegak hukum untuk mempertimbangkan status terdakwa sebagai Justice Collaborator dalam memutuskan perkara

3. Direkomendasikan agar terjadinya keharmonisasian dalam peraturan hukum positif di Indonesia, sehingga tidak terjadi tumpang tindih antar peraturan hukum satu dengan lainnya sehingga terciptanya kepastian hukum.

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Asikin zainal, Pengantar Tata Hukum Indonesia, (Jakarta : Rajawali Press, 2012)

Barda Nawawi Arif, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana (Banding:

Citra Aditya Bakti, 2000)

Eva Brems, Human Rights : Universality and Diversity, (London :Martinus Nijhoff Publishers, 2001)

Febby Mutiara Nelson, Plea Bargaining & Deferred Prosecution Agreement, ( Jakarta : Sinar Grafika, 2020)

Firman Wijaya, 2012, “Whistle Blower dan Justice Collaborator dalam Perspektif Hukum”, Penaku, Jakarta,

Hanafi Arief, Pengantar Hukum Indonesia, (Yogyakarta: LKiS Printing Cemerlang, 2016)

Hari Sasongko dan Lili Rosita, Hukum Pembuktian Dalam Perkara Pidana untuk Mahasiswa dan Praktisi ( Bandung: Mandar Maju, 2003)

Komaruddin Hidayat, dkk, Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education):

Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani, Cet III, (Jakarta: ICCE, 2007)

Lili Rasjidi dan Ira Thania, Pengantar Filsafat Hukum,(Bandung : Mandar Maju, 2002)

Lilik Mulyadi, Putusan Hakim Dalam Hukum Acara Pidana : Teori, Praktik, Teknik Penyusunan dan Permasalahannya, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2007)

Mahkamah Agung Republik Indonesia, Kompilasi Penerapan Hukum Oleh Hakim dan Strategi Pemberantasan Korupsi (Jakarta : Biro Hukum dan Humas Badan Urusan Administrasi Republik Indoneisa, 2015) Manfred Nowak, Introduction to The International Human Rights Regime,

(Laiden : Martinus Nijhoff Publisher,2003)

Martiman Prodjohamidjojo, Sistem Pembuktian dan Alat-Alat Bukti, (Jakarta:

Ghalia Indonesia, 1983)

Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana (Jakarta:PT Renika Cipta, 1993) Mohd. Yusuf Daeng, HAM & Keadilan, (Pekanbaru : Alaf Riau, 2007)

Niniek Suparni, Tindak Pidana Subversi Suatu Tinjauan Yuridis (Jakarta:Sinar Grafika, 1991)

R.Soesilo, Teknik Berita Acara, (Bogor: Politeia, 1980)

Rhona K.M Smith, Textbook on International Human Rights, 2 nd edition, (New York : Oxford University Press, 2005)

Satya Arinanto, Hak Asasi Manusia dalam Transisi Politik di Indonesia, ( Jakarta : Pusat Studi Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2008)

Sigit Artantojati, Tesis: Perlindungan Terhadap Saksi Pelaku Yang Bekerjasama (Justice Collaborator) oleh Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (Jakarta; Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2010)

Sobirin Malian dan Suparman Marzuki, Pendidikan Kewarganegaraan dan Hak Asasi Manusia, (Yogyakarta : UII Press), 2002.

Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif (Satu Tinjauan Singkat), (Jakarta: Rajawali Pers, 2001)

Soeroso, Pengantar Ilmu Hukum, (Jakarta : Pt. Sinar Grafika, 2011)

Sofyan Andy, Hukum Acara Pidana Suatu Pengantar (Yogyakarta:

Rangkang Education, 2013)

Sudarto, Hukum Pidana I (Semarang: Yayasan Sudarto,1990)

Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengntar, (Yogyakarta, Liberty, 2007)

Surya Jaya, Perlindungan Justice Collaborator dalam sistem peradilan (Jakarta : Elsam, 2010)

Tolib Effendi, Dasar Dasar Hukum Acara Pidana (Perkembangan dan Pembaharuan di Indonesia) (Malang: Setara Press, 2014)

Ubaedillah A., Pancasila Demokrasi dan Pencegahan Korupsi, (Jakarta:

Kencana, 2015)

Wirjono Prodjodikoro, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia (Bandung:PT Refika Aditama, 2002)

Peraturan Perundang-Undangan

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.

Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Peraturan Pemerintah No. 99 Tahun 2012 tentang perubahan kedua atas Perturan Pemerintah No. 32 Tahun 1999 tentang tatacara dan syarat pelaksanaan warga binaan pemasyarakatan

Surat edaran mahkamah agung (SEMA) nomor 4 tahun 2011 tentang perlakuan bagi pelapor tindak pidana (Whistleblower) dan saksi pelaku yang bekerjasama (Justice Collaborator)

Peraturan bersama Komisi Permberantasan Korupsi (KPK), Kejasaan Republik Indonesia, Kepolisian Republik Indonesia, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) dan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. M.HH-11.HM.03.02.th.2011, No. PER-045/A/JA/12/2011, No. 1 Tahun 2011, No. KEPB-02/01-55/12/2011, No. 4 Tahun 2011 tentang perlindungan bagi pelapor, saksi pelapor dan saksi pelaku yang bekerjasama.

Peraturan Menteri No. 3 tahun 2018 tentang tatacara dan syarat pemberian remisi, asimilasi, cuti mengunjungi keluarga, pembebasan bersyarat, cuti menjelang bebas dan cuti bersyarat untuk pelaksanaan remisi, asimilasi dan pembebasan bersyarat.

Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana.

Pasal 1 International Convention on the Elimination of All Form of Racial Discrimination (CERD)

Pasal 5 Deklarasi Wina tentang Program Aksi menyatakan bahwa “all human rights are universal, indivisible, interdependent, and interrelated (semua manusia adalah universal, tak terbagi, saling bergantung dan saling terkait)

Republik Indonesia, Pasal 34A ayat (1), Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 99 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 Tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan, LN Nomor 225, TLN Nomor 5359.

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

Artikel Jurnal

Sucana Aryana, Justic Collaborator Penegakan Tindak Pidana Korupsi, Yusitia, Vol. 12 No. 1, 2018.

River Yohanes Manalu, Justic Collaborator Dalam Tindak Pidana Korupsi, Lex Crimen, Vol. IV No. 1, 2015.

Dewi Sari Sihotang, Penerapan Undang-undang no 13 tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban dengan Undang-undang nomor 31 tahun 2014 Tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 13 Tahun 2006 dalam perlindungan Whistleblower oleh Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, Jom Fakultas Hukum, Volume III No.2, Oktober 2016.

Fadli Rajab Sanjani, Penerapan Justice Collaborator dalam sistem peradilan pidana di Indonesia, Jurnal, JOM Fakultas Hukum Vol II No 2 Oktober 2015.

Lamintang dan Franciscus Theojunior Lamintang, Op.Cit,

Ridwan Arifin, Analisis Hukum Internasional dalam Perampasan Aset di Negara Kawasan Asia Tenggara Berdasarkan United Nations Covention Against Corruption (UNCAC) dan Asean Mutual Legal Assistance Treaty (AMLAT), Jurnal Penelitian Hukum Volume 3, Nomor 1, Maret 2016

River Yohanes Manalu, Justice Collaborator Dalam Tindak Pidana Korupsi,Lex Crimen, Vol. IV No. 1 Maret, 2015.

Sucana Aryana, Justice Collaborator Penegakan Tindak Pidana Korupsi, Yusitia, Vol. 12 No. 1, 2018.

Supriyadi Widodo Ediyono, Prospek Penggunaan pelaku yang Bekerjasama, Jurnal LPSK Volume ke I, no.1, 2011

Karya Ilmiah

Diaz Riangga, Penerapan Saksi Pelaku yang Bekerjasama (Justic Collaborator) dalam tindak pidana korupsi (Studi Kasus di Kejaksaan Tinggi D.I.Yogyakarta dalam perkara pengadaan tanah untuk pembangunan posko SAR, (Skripsi S-1 Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga 2018)

Febriansyah, et all, 2011, “Laporan Penelitian : Penguatan Pemberantasan Korupsi Melalui Fungsi Koordinasi dan Supervisi Komisi Pemberantasan Korupsi KPK), Jakarta : Indonesia Corruption Watch-Kerjasama dengan Eropa Union (EU) dan UNODC (United Nations Office on Drugs and Crime)

I Gede Winasa, disampaikan dalam workshop “Best Pactices Reformasi Birokrasi”Surakarta, 25 April 2007,

Imam Thurmudhi, Tesis, Perlindungan Hukum Terhadap Whistle Blower Kasus Korupsi Berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006

Tentang Perlindungan Saksi dan Korban (Studi Kasus Susno Duadji), Program Studi Magister (S2) Ilmu Hukum Universitas Indonesia Juniarso Ridwan & Ahmad Sodik Sudrajat, Hukum Administrasi Negara dan

Kebijakan Pelayan Publik,

Lies Sulistiani, et. Al, tanpa tahun terbit, “Sudut Pandang Peran LPSK dalam Perlindungan Saksi dan Korban”, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, Jakarta,

Nurhikmah Saleh,Skripsi “Kajian Yuridis Terhadap Justice Collaborator dalam Mengungkap Tindak Pidana Korupsi”, Faultas Hukum Universitas Hasanuddin Makassar

Tiara Marisa, Peran Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Pasca Diterbitkannya Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 13 Tahun 2006 Tantang Perlidungan Saksi dan Korban, (Skripsi S-1 Fakultas Ilmu Sosial dan Imu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2018)

Riski Nurul Liandiana, Penerapan Justice Collaborator Pada Tindak Pidana Korupsi Ditinjau Berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban, (Skripsi S-1 Fakultas Hukum Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, 2019)

Media Online

Ebta Setiawan, arti atau makna pembuktian dalam http://KBBI.web.id/artiataumakna pembuktian diakses pada 26 Agustus 2021.

http://thezmoonstr.blogspot.com/2013/01/whistleblower-dan-justice-collaborator_24.html diakses 31 Agustus 2021 pukul 14.09.

http://www.hukumonline.com diakses tanggal 31 Agustus 2021, pukul 22.27 WIB.

United Nations General Assembly, “United Nations Convention against Corruption: Resolution adopted by the General Assembly” 21

November 2003, A/RES/58/4 http://www.un.org/ga/search/view_doc.asp?symbol=A/RES/58/4 diakses pada 1 September 16.35.

United Nations Office on Drugs and Crime, 2018, “Signature and

Ratification Status.”

https://www.unodc.org/unodc/en/corruption/ratification-status.html diakses pada 1 September 16.35.