POTRET PENGADILAN AGAMA
C. Analisis Penulis
Putusan Pengadilan Agama Depok terhadap Herry Karnadi bin Drs. PG Hirwanto dan Sri Tuti Wartini binti Mo. Sjahrom dengan perkara Nomor.826/Pdt.G/2009/PA Dpk. Dan Putusan Pengadilan Agama Jakarta Timur terhadap Patah Yasin bin Abu Sujak dan Muawiyah binti Muhdi dengan perkara Nomor. 154/Pdt.G/2009/PA.JT Bahwa para hakim pada umumnya dalam memberikan putusan mengambil dasar hukum, di antaranya faktor-faktor penyebab perceraian diatas ini sesuai dengan peraturan pemerintah Nomor. 9
66
Tahun 1975 Tentang Perkawinan, merupakan puncak perselisihan dan pertengkaran dalam rumah tangga antara pemohon dan termohon.1
Persengketaan yang terjadi dikarenakan faktor ekonomi yakni pemohon tidak sanggup membayar hutang Termohon yang begitu besar sampai-sampai si pemohon telah menjual seluruh harta yang pemohon miliki dan juga meminjam uang ke saudara dan teman-teman pemohon, Sampai akhirnya pemohon tidak punya tempat tinggal lagi dan memiliki hutang. dalam kondisi seperti ini sering terjadi ketegangan antara suami dengan istri yang berakibat pada pertengkaran.2
Yang akhirnya di karnakan suami tidak sanggup lagi menanggung lagi perasaannya maka suami pun memilih untuk mengajukan permohonan perceraian ke Pengadilan Agama dikarenakan kondisi yang terjadi pada dirinya.
Dalam al-Qrur’an surat Ath-thalaq ayat 7 di jelaskan yaitu.
☺
)
قﻼﻄﻟا
/
6
:
7
(
Artinya: Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut
kemampuannya. dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang
1
Drs. Nasrul, SH., Wawancara Pribadi 2
Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.( Q.S. Ath-Thalaq/65:7)
Bahwa berdasarkan hal tersebut maka tidak lagi sesuai dengan Nomor. 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam (KHI), dan permohonan pemohon kiranya sudah dapat memenuhi ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975. Dengan kejadian tersebut di atas,rumah tangga antara Pemohon dan termohon sudah tidak dapat lagi dibina dengan baik sehingga untuk mencapai kehidupan yang sakinah mawaddah dan warahmah sudah tidak dapat dipertahankan lagi.
Dan dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 80 Ayat 2 dan 4 dinyatakan bahwa kewajiban suami terhadap istri adalah:
1. Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu kehidupan rumah tangga sesuai dengan kemampuannya.
2. Sesuai dengan penghasilannya suami menanggung: a. Nafkah, kiswah dan tempat tinggal bagi istrinya.
b. Biaya berumah tangga, biaya perawatan dan biaya pengobatan bagi istri dan anak.
c. Biaya pendidikan bagi anak.3
Berdasarkan ayat dan pasal tersebut, maka suami wajib memberikan nafkah kepada istri dan anak-anaknya ( biaya kehidupan ) akan tetapi ada suami yang melakukan kewajiban tersebut. Tidak semata-mata perceraian karena faktor
3
68
ekonomi yang menyebabkan perceraian, di antaranya: istri tidak merasa cukup dengan penghasilan suaminya sementara istri selalu menuntut dan ada juga karena usahanya bangkrut. Atau bisa juga disebabkan oleh istri tidak jujur dan tidak dapat memegang kepercayaan suami dalam hal masalah ekonomi dan dalam putusan Pengadilan Agama Depok Nomor 826/Pdt.G/2009/PA Dpk. Dan Pengadilan Agama Jakarta Timur Nomor 154/Pdt.G/2009/PA.JT. Yakni suami melakukan permohonan yang isinya sebagai berikut:
Pertama, adalah pemohon memohon kepada Majelis Hakim agar dapat
mengabulkan seluruh tuntutannya untuk dikabulkan.
Kedua, adalah pemohon memohon kepada majelis hakim untuk
mengucapkan ikrar talak terhadap termohon
Ketiga, adalah Pemohon memohon kepada majelis hakim menetapkan
biaya perkara sesuai dengan peraturan per Undang-Undangan yang berlaku dan menjatuhkan putusan perkara seadil-adilnya
Majlis Hakim di pengadilan Agama pun akan mengabulkan gugatan cerai yang diajukan oleh pihak suami maupun pihak dari istri. Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 ayat 2 Undang-Undang Nomor. 1 Tahun 1974.
“Untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan, bahwa antara suami istri itu tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami istri”.
Hal-hal yang meliputi dan menjadi pertimbangan hukum, hakim di Pengadilan Agama dalam menjatuhkan putusan perkara ketidaksanggupan suami dalam melunasi hutang istri sebagai sebab pengajuan perceraian yaitu bahwasanya
gugatan yang sudah dilayangkan oleh pemohon untuk termohon di Pengadilan Agama telah cukup jelas bagi Pengadilan mengenai sebab-sebab perceraian dan pertengkaran itu dan juga sudah mendengar pendapat-pendapat dari pihak ke dua keluarga yang dekat dengan kedua pasangan suami istri tersebut.
Dengan telah di perolehnya suatu fakta yang berkaitan dengan duduk perkara antara pemohon dengan termohon telah terjadi perselisihan yang tidak mungkin lagi dapat dirukunkan.4 Dinilai telah memenuhi alasan hukum baik berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagaimana yang tersebut pada Pasal 19 Huruf (f) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 maupun berdasarkan ketentuan Hukum Islam sebagaimana tersebut pada Pasal 116 Huruf (f) Kompilasi Hukum Islam.
Dalam pertimbangannya Majelis Hakim sudah dapat mendalilkan Pasal 9 Huruf (f) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 maupun berdasarkan ketentuan Hukum Islam sebagaimana tersebut pada Pasal 116 Huruf (f) Kompilasi Hukum Islam karena kalau dipaksakan rumah tangganya untuk bersatu maka sudah tidak layak lagi karena sudah melanggar Pasal 3 Kompilasi Hukum Islam (KHI) memberikan keterangan mengenai dasar dan tujuan perkawinan bahwa:
“perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang
sakinah, mawaddah dan warahmah”.
Berdasarkan ketentuan hukum islam maka telah jelas jatuhlah
4
70
Talak satu Raj’i. Yaitu di mana suami memiliki hak untuk merujuk istrinya, sebab akad perkawinannya tidak mempengaruhi hubungannya hak (kepemilikan) dan tidak mempengaruhi hubungannya yang halal (kecuali persetubuhan). Majelis hakim perlu mengetengahkan petunjuk Allah sebagaimana tersebut dalam surat al-Baqarah ayat 229 yang berbunyi:
⌧
☺
☺
⌧
☺
⌧
☺
⌧
)
ةﺮﻘﺒﻟا
/
2
:
229
(
Artinya: Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, Maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya Itulah hukum-hukum Allah, Maka janganlah kamu melanggarnya. Barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka Itulah orang-orang yang zalim. (Q.S Al-Baqarah/2:229)
Dapat ditafsirkan dalam ayat di atas bahwasanya ketika kedua pasangan suami istri tersebut sudah tidak ada lagi kecocokan kembali dan dalam
percekcokan tersebut telah melanggar dari tujuan perkawinan itu sendiri dengan telah diperolehnya suatu fakta yang berkaitan dengan duduk perkara antara pemohon dengan termohon terjadi perselisihan yang tidak mungkin lagi dapat dirukunkan.
Bahwa baik berdasarkan Ketentuan Hukum Islam sebagaimana yang tersebut dalam al-Qur’an surat ar-Rum ayat (21) yang diperjelas oleh Pasal (3) Kompilasi Hukum Islam maupun berdasarkan ketentuan peraturan per Undang-Undangan yang berlaku sebagaimana tersebut pada Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, dinyatakan bahwa Perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah warahmah.5 Dan manakala antara pemohon dan termohon sering terjadi perselisihan dan percekcokan terus menerus, maka kehidupan rumah tangga antara pemohon dan termohon sudah tidak dapat dibina dengan baik dan untuk mencapai tujuan perkawinan sebagaimana tersebut di atas sulit akan tercapai, dan karenanya Majelis berpendapat agar masing-masing pihak tidak lagi lebih jauh melanggar norma-norma hukum, maka perceraian dapat dijadikan satu alternatif untuk menyelesaikan perselisihan rumah tangga antara pemohon dan termohon.
Berdasarkan ketentuan Pasal 89 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 tahun 1989 karena Pemohon yang mengajukan permohonan ke Pengadilan Agama maka mengenai hal isi permohonan maka biaya perkara patut dibebankan kepada
5
72
pemohon. Mengingat segala ketentuan peraturan per Undang-undangan yang berlaku dan kaidah syar’iyyah yang berkaitan dengan perkara ini.
Di samping itu dalam melakukan pertimbangan hukum Hakim di Pengadilan Agama juga mengacu pada undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.6
Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, pengadilan yang dimaksud dalam pasal ini memberikan isyarat bahwa bagi pasangan suami istri dalam melaksanakan perkawinan adalah dengan tujuan mendapatkan kebahagiaan dan ke tentraman hati.
Dengan pertimbangan tersebut maka undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Pasal 1 menegaskan bahwa.
“perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa”.
Pasal 3 Kompilasi Hukum Islam (KHI) memberikan keterangan mengenai dasar dan tujuan perkawinan bahwa:
“perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang
sakinah, mawaddah warahmah”.
Setelah pernikahan dinyatakan sah, maka hak dan kewajiban suami istri secara timbal balik merupakan hak keduanya secara bersama-sama dan sekaligus
6
Bakti A. Rahman, Hukum Perkawinan Menurut Hukum Islam,Undang-Undang Perkawinan Dan Hukum Perdata,(Jakarta, PT. Hidakarya Agung), 1981
merupakan kewajiban suami istri di antaranya saling mencintai dan memberi kasih sayang antara suami istri. Hak dan kewajiban tersebut tidak mungkin dilakukan secara sepihak, sebab keduanya saling membutuhkan dan saling memberi. Hak dan kewajiban inilah yang sebenarnya yang merupakan dasar terjadinya suatu pernikahan.
Selanjutnya tentang alasan mengabulkan permohonan perceraian ke pengadilan Agama berdasarkan pada ketentuan pasal 39 ayat 2 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan yaitu:
“Untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan, bahwa antara suami istri itu tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami istri”.
Alasan juga telah di akui dan ditegaskan oleh intruksi presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam Pasal 116 Huruf f yaitu:
“Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga”.
Adapun tentang alasan-alasan untuk melakukan pengajuan permohonan perceraian yang telah dijadikan pertimbangan hukum dalam memberikan permohonan cerainya oleh Pengadilan Agama, adalah alasan-alasan sebagaimana diatur dalam Pasal 19 Huruf f Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.
74
Untuk dapat mengajukan permohonan ke pengadilan Agama sebagaimana dimaksud Pasal 39 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, harus dipatuhi alasan-alasan sebagai berikut:
1. Salah satu pihak berbuat zina atau pemabuk, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan
2. salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuannya.
3. Salah satu pihak mendapatkan hukuman 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung.
4. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain.
5. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami istri.
6. Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.
Sementara Pasal 116 Kompilasi Hukum Islam menyebutkan 2 (dua) alasan-alasan tambahan di atas, pertama, suami melanggar ta’lik talak. Kedua, peralihan Agama atau murtad yang menyebabkan ketiak rukuanan rumah tangga.7
7
Himpunan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, Depatemen Agama Republik Indonesia,2004
Di samping bisa dipandang sebagai upaya meminimalkan perceraian, ketentuan yang menyangkut keterlibatan Pengadilan Agama alasan-alasan yang bisa dijadikan dasar perceraian tersebut di atas juga merupakan langkah ke arah menumbuhkan kesadaran hukum masyarakat agar setiap perceraian yang terjadi benar-benar sah, bukan perceraian haram. Dan kewajiban-kewajiban yang menjadi konsekuensi logis dari perceraian bisa ditunaikan dengan baik, sehingga tidak ada pihak yang dirugikan.8
Terhadap alasan sebagaimana dimaksud dalam Huruf f serta Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan jo Pasal 3 Kompilasi Hukum Islam, menurut hasil penelitian penulis, Pengadilan Agama telah menggunakan pertimbangan tersebut. Dan terbukti tentang alasan-alasan yang telah diberikan oleh pemohon baik secara tertulis maupun lisan di dalam persidangan, serta di hadapan pejabat yang sah untuk itu.
Al-Qur’an surat An-nisa 4;3
☺
)
ﺎﺴﻨﻟا
/
4
:
3
(
Artinya: Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau
8
76
empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (QS. An-Nisa’/4: 3)
Apabila dalam melangsungkan kehidupan rumah tangga terdapat sengketa atau perselisihan yang terjadi di dalam rumah tangga dan di antara suami istri terus menerus mengalami perselisihan dan tidak ada harapan untuk bisa membangun kembali rumah tangganya. Ini terdapat dalam surat An-nisa/4:35
☺
☺
☯
☺
⌧
☺
)
ءﺎﺴﻨﻟا
/
4
:
35
(
Artinya: Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, Maka kirimlah seorang hakim dari keluarga laki-laki dan seorang hakim dari keluarga perempuan. jika kedua orang hakim itu bermaksud Mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami
isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
(Q.S.An-Nisa/4:35)
Sebagi contoh dalam perkara Noomor.826/Pdt.G/2009/PA Dpk atas nama Herry Karnadi bin Drs. PG Hirwanto dan perkara Nomor.154/Pdt.G/2009/PA.JT atas nama Patah Yasin bin Abu Sujak.yang menyatakan dengan sebab-sebab terjadinya perselisihan atau pertengkaran terus-menerus maka pemohon merasa rumah tangganya tidak dapat lagi dipertahankan kembali dan juga tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam menjalani kehidupan rumah tangga.
Wahbah Az-zuhaili menyatakan, setelah pernikahan dinyatakan sah, lahirlah hak-hak dan kewajiban-kewajiban suami istri secara timbal balik sehubungan ada yang merupakan hak-hak keduanya secara bersama dan sekaligus merupakan hak istri terhadap suaminya, yaitu mahar, nafkah, dan keadilan antara sesama baik istri maupun suami. Ada juga yang hanya merupakan kewajiban istri sekaligus merupakan hak suami semata terhadap istrinya, menjaga kehormatannya, memelihara, mendidik anak-anak serta menjaga harta kekayaan suami.
Adapun yang merupakan hak dan kewajiban keduanya secara bersama-sama adalah saling mencintai dan memberikan kasih sayang antara suami istri. Hak dan kewajiban tersebut tidak mungkin dilakukan secara sepihak, sebab keduanya saling membutuhkan dan saling memberikan. Hak dan kewajiban inilah yang sebenarnya merupakan dasar terjadinya suatu pernikahan.
Apabila itu suami istri tidak saling mencintai lagi maka tidak dapat dipaksakan lagi untuk melanjutkan perkawinannya. Karena cinta dan kasih sayang antara suami istri termasuk salah satu dari sekian tanda-tanda kekuasaan Allah SWT sebagaimana yang tertuang dalam al-Qur’an surat ar-Rum (30) ayat 21.9
Dengan demikian maka Pengadilan Agama yang memeriksa permohonan atau permohonan pemohon tersebut merasa tidak ada kekhawatiran dikarenakan
9
Taufik Abdullah dkk,Ensiklopedi Tematis Dunia Islam (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hove), JIlid 3.h.85
78
pemohon sering terjadi perselisihan dan pertengkaran di dalam rumah tangganya sehingga permohonan pemohon dikabulkan.
Dari hasil pemeriksaan perkara dan pertimbangan hukum hakim dengan merujuk pada Pasal 34 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974. Maka permohonan pemohon dikabulkan oleh hakim dengan demikian perimbangan hukum hakim mempunyai dasar yang cukup kuat berdasarkan peraturan per Undang-Undangan yang berlaku.
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang terdahulu penulis mengangkat beberapa kesimpulan bahwa:
1. Mengenai persoalan ketidaksanggupan suami dalam melunasi hutang istri sebagai sebab pengajuan perceraian yang ditangani oleh pengadilan Agama Depok Dan Pengadilan Agama Jakarta Timur sepanjang tahun 2009. Menjadi faktor penyebab masalah perselisihan yang diakibatkan dari faktor ketidaksanggupan suami dalam melunasi hutang istri.Dalam kompilasi hukum Islam (KHI) Pasal 80 ayat 2 dan 4 dinyatakan bahwa kewajiban suami terhadap istri dalam hal:
Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu kehidupan berumah tangga sesuai kemampuannya meliputi:
a. Nafkah, kiswah dan tempat tinggal bagi istrinya.
b. Biaya berumah tangga, biaya perawatan dan biaya pengobatan bagi istri dan anak.
c. Biaya pendidikan bagi anak.
Berdasarkan ayat dan pasal tersebut, penulis dapat menyimpulkan bahwa kurangnya pemahaman, dan penghayatan dari tujuan perkawinan itu sendiri untuk membina rumah tangga yang rukun masih lah kurang, juga kurangnya pemahaman dalam Agama.
79
2. Pertimbangan Majlis Hakim dalam memutus perkara Nomor 826/Pdt.G/2009/PA Dpk dan perkara Nomor 154/Pdt.G/2009/PA.JT. Awalnya adalah untuk mendamaikan kedua belah pasangan suami istri yang bercerai sesuai PERMA ( Peraturan Mahkamah Agung) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2008 Tentang Mediasi, keterlibatan Pengadilan Agama sebagai alasan yang dapat dijadikan dasar perceraian merupakan langkah ke arah menumbuhkan kesadaran hukum masyarakat agar setiap perceraian yang terjadi benar-benar sah, sehingga tidak ada lagi yang dirugikan. Dan Majlis Hakim pun dalam melakukan pertimbangan mengacu pada Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan jo Pasal 3 Kompilasi Hukum Islam (KHI) memberikan keterangan mengenai dasar dan tujuan perkawinan bahwa: “perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah”.
Dan yang terakhir adalah surat An-Nisa ayat 35. Oleh karena itu demi kemaslahatan bersama maka perceraian pun dapat dikabulkan oleh Majlis Hakim.
3. Bahwa talak adalah menghilangkan ikatan perkawinan sehingga setelah ikatan perkawinan itu istri tidak halal lagi bagi suaminya, dan ini terjadi dalam hal talak Raj’i, sedangkan dalam arti mengurangi pelepasan ikatan perkawinan ialah berkurangnya hak talak bagi suami yang mengakibatkan berkurangnya jumlah talak yang menjadi hak suami dari tiga menjadi dua, dan dua menjadi satu menjadi hilang hak talak itu talak merupakan pemutus hubungan suami
dan istri serta hilanglah pula hak dan kewajiban sebagai suami istri. Meskipun dalam pengucapan talak menggunakan lafal-lafal tertentu, namun penekanannya dimaksudkan bertujuan yang sama yaitu untuk berpisahnya suami istri, dalam arti putusnya hubungan perkawinan.
B. Saran
Berdasarkan kenyataan yang sudah di uraikan di atas, maka penulis menyarankan:
1. Kepada lembaga pengurus perkawinan yakni Kantor Urusan Agama (KUA) terutama kepada Badan Penasihat Pembinaan Pelestarian Perkawinan (BP4) supaya lebih mengintensifkan kembali tentang pemahaman berumah tangga kepada para calon pengantin yang ingin mendaftarkan pernikahannya di Kantor Urusan Agama, agar dapat menghayati perlunya membina rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah yang merupakan tujuan dari kehidupan berumah tangga itu sendiri.
2. Hak suami istri perlu perlu di sosialisasikan melalui khotib jum’at, kualiah subuh, jurnal dan lain-lain
3. Hak suami istri tersebut di berikan kurikulum kepada anak-anak madrasah tsanawiyah dan aliyah dengan kurikulum ilmu Fikih.