• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. KONDISI UMUM WILAYAH 4.1 Letak Geografis Wilayah 4.1 Letak Geografis Wilayah

5.2. Analisis Penyebab Longsor di Kabupaten Garut

Analisis penyebab longsor di daerah penelitian dilakukan dengan melihat keterkaitan antara persebaran titik longsor terhadap parameter yang digunakan untuk menilai penyebab longsor, yaitu Kemiringan Lereng, Elevasi, Formasi Geologi, Jenis Tanah, Curah Hujan, dan Penggunaan Lahan. Dalam analisis ini ada tiga aspek yang digunakan untuk mengetahui penyebab longsor, yaitu jumlah titik longsor yang terdapat pada setiap area dari masing-masing parameter, kerapatan titik longsor pada setiap area dari masing-masing parameter, dan kerapatan frekuensi longsor. Seperti yang telah diuraikan pada bab metodologi sebelumnya bahwa dalam penelitian ini perhitungan kerapatan didasarkan pada satuan luas 100 km² (dari setiap area dari masing-masing parameter), sedangkan frekuensi longsor dibatasi untuk kurun waktu sekitar 12 tahun, yaitu antara tahun 2000 sampai tahun 2012.

5.2.1. Hubungan Kemiringan Lereng dengan Longsor a. Persebaran Titik Longsor dan Kemiringan Lereng

Berdasarkan analisis tumpang tindih (overlay) antara titik longsor dengan kemiringan lereng didapatkan hasil bahwa kejadian longsor banyak terjadi pada lereng-lereng dengan kemiringan 25-45%, 15-25%, dan 8-15%, sedangkan pada kemiringan lereng >45% sangat sedikit ditemukan titik longsor. Hal ini disebabakan oleh dua hal, yaitu adanya kendala aksesibiltas pada lereng >45%

sehingga tidak ditemukan titik longsor, atau karena adanya penutup lahan berupa hutan yang mendominasi kelas lereng ini, sehingga tidak ada kejadian longsor karena penutup lahan ini berhasil mengurangi terjadinya longsor.

Persebaran titik-titik longsor pada setiap kelas kemiringan lereng dapat dilihat pada Tabel 9, sedangkan persebaran spasialnya disajikan pada Gambar 19.

Tabel 9. Total Titik dan Kejadian Longsor pada Berbagai Kelas Lereng Kelas Lereng Jumlah Titik Longsor

Ulangan Kejadian

Berdasarkan fakta tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa kemiringan lereng mempunyai pengaruh yang besar sebagai penyebab terjadinya longsor, sehingga pada wilayah dimana mempunyai kelas kemiringan lereng 25-45% maka titik longsor dan ulangan kejadian longsor banyak ditemukan. Pada kemiringan 0-3% dan 3-8% tidak ditemukan titik longsor disebabkan oleh topografi yang datar atau landai, sedangkan pada kemiringan lereng >45% terdapat 1 titik longsor yang teramati dan terdapat 4 total kejadian longsor.

40

Gambar 19. Peta Sebaran Titik Longsor pada Kelas Lereng

40

b. Kerapatan Titik Longsor Terhadap Kemiringan Lereng

Berdasarkan analisis yang dilakukan antara jumlah titik longsor terhadap luasan masing-masing kelas lereng didapatkan beberapa kelas kerapatan titik longsor seperti tersaji pada Tabel 10, adapun secara grafis kerapatan titik longsor tersebut dapat dilihat pada Gambar 20.

Tabel 10. Titik Longsor pada Berbagai Kelas Lereng Kelas

Lereng Luas(ha) Luas(%) Jumlah Titik Longsor

Gambar 20. Hubungan Kerapatan Titik Longsor pada Berbagai Kelas Lereng Berdasarkan Tabel 10 dan Gambar 20 tersebut terlihat bahwa besarnya nilai kerapatan mengikuti besarnya kelas lereng, yaitu untuk kelas lereng >45%

mempunyai kerapatan 6,5, untuk kelas 8-45% sebesar 1,7 dan untuk kelas 0-8%

tidak ada titik longsor. Besarnya angka kerapatan titik longsor pada lereng >45%

lebih banyak disebabkan oleh kecilnya luas kelas kemiringan tersebut di lokasi penelitian, sehingga nilai kerapatan ini dapat menjadi lebih besar lagi jika ditemukan titik-titik longsor yang lain pada wilayah kelas lereng >45%. Hal ini menggambarkan suatu peluang kejadian longsor yang cukup besar pada kelas kemiringan lereng ini.

42

c. Kerapatan Frekuensi Longsor Terhadap Kemiringan Lereng

Berdasarkan hasil observasi lapangan didapatkan informasi bahwa pada setiap titik longsor (atau di sekitarnya) dapat terjadi lebih dari satu kali kejadian yang dalam penelitian ini disebut kejadian ulang. Dengan demikian frekuensi kejadian longsor dapat dihitung dalam suatu kurun waktu (dalam penelitian ini kurun waktu = 12 tahun). Frekuensi ini digunakan untuk melihat suatu peluang terhadap kejadian ulang longsor di waktu yang akan datang. Gambaran besarnya nilai frekuensi pada setiap titik longsor disajikan pada Tabel 11 dan gambaran grafisnya pada Gambar 21.

Berdasarkan hasil analisis frekuensi longsor terhadap kemiringan lereng ini diperoleh hasil bahwa pola kejadian yang terjadi mirip dengan hasil analisis pada kerapatan titik longsor, dimana besarnya nilai kerapatan frekuensi longsor mengikuti besarnya kemiringan lereng, sehingga dapat disimpulkan di sini bahwa semakin besar kemiringan lereng akan mempunyai peluang yang besar terhadap terjadinya proses longsor dan terulangnya kejadian tersebut.

Tabel 11. Total Kejadian Longsor pada Berbagai Kelas Lereng Kelas

Lereng Luas(ha) Luas(%) Total Frekuensi Longsor

Gambar 21. Hubungan Kerapatan Titik Longsor pada Berbagai Kelas Lereng

0.0

5.2.2 Hubungan Elevasi dengan Longsor a. Persebaran titik longsor dengan elevasi

Dalam penelitian ini elevasi topografi dibedakan menjadi 5 kelas dengan interval 500 meter. Besarnya interval ini dipilih mengingat bahwa morfologi di daerah penelitian lebih didominasi oleh relief perbukitan dan pegunungan, sehingga diharapkan dengan interval ini dapat dilihat lebih baik pengaruh elevasi terhadap longsor.

Selama melakukan observasi lapangan, elevasi titik longsor diukur atau ditentukan dengan menggunakan alat GPS (Garmin 60Csx), sedangkan hasilnya berupa jumlah titik longsor pada setiap kelas elevasi disajikan pada Tabel 12 dan untuk persebaran spasial disajikan pada Gambar 22.

Tabel 12. Total Titik dan Kejadian Longsor pada Berbagai Kelas Lereng Elevasi Titik Lokasi Longsor Total Kejadian Longsor

0-500m 6 13

500-1000m 29 69

1000-1500m 7 16

1500-2000m 0 0

>2000m 1 4

Berdasarkan Tabel 12 terlihat bahwa persebaran titik longsor terbesar terdapat pada elevasi 500-1000 meter, sedangkan jumlah titik longsor yang besar berikutnya pada elevasi 1000-1500 meter dan 0-500 meter. Untuk elevasi 1500-2000 tidak ditemukan titik longsor, sedangkan pada elevasi >1500-2000 m terdapat 1 titik longsor. Berdasarkan Gambar 22 dan Gambar 12 terlihat bahwa persebaran elevasi 1500-2000 meter berada di lereng tengah gunungapi yang pada umumnya mempunyai penutupan lahan hutan, sehingga sangat wajar jika kejadian longsor jarang terjadi atau tidak ditemukan dalam penelitian ini. Untuk elevasi >2000 m ditemukan 1 titik longsor yang berada pada lereng atas atau puncak Gunungapi Papandayan dengan penutup lahan berupa lahan terbuka. Kondisi yang demikian sering menyebabkan terjadinya longsor.

44

Tinggi kejadian longsor pada elevasi 500-1000 meter ini apabila dilihat dari lokasinya mempunyai kemiringan lereng yang secara dominan berada pada kelas 25-45%, seperti yang terlihat pada Tabel 12, dimana pada tabel ini diperlihatkan hubungan antara persebaran kelas kemiringan lereng terhadap elevasi dan banyaknya titik longsor yang terjadi.

Gambar 22. Peta Sebaran Titik Longsor pada Kelas Elevasi

45

46

b. Kerapatan Titik Longsor Terhadap Elevasi

Berdasarkan hasil pemetaan persebaran titik longsor terhadap elevasi dan masing-masing luasan kelas elevasi didapatkan suatu nilai kerapatan nilai longsor seperti yang tersaji pada Tabel 13 dan gambaran secara grafis hubungan tersebut pada Gambar 23.

Tabel 13. Titik Longsor Pada Berbagai Kelas Elevasi Elevasi Luas(ha) Luas(%) Jumlah Titik

Longsor

Gambar 23. Hubungan Kerapatan Titik Longsor pada Berbagai Kelas Elevasi Berdasarkan Tabel 13 dan Gambar 23 di atas terlihat bahwa kerapatan titik longsor mempunyai nilai yang semakin besar seiring dengan meningkatnya kelas elevasi. Hal ini menunjukan bahwa semakin bertambahnya elevasi akan mempunyai peluang semakin besarnya kejadian longsor. Fenomena ini cukup wajar dikarenakan semakin bertambahnya elevasi maka peluang keberadaan kelas kemiringan lereng, terutama dari miring hingga terjal, semakin besar dan begitu pula umumnya terhadap peluang meningkatnya curah hujan. Pada Tabel 14 disajikan hubungan antara elevasi, kelas kemiringan lereng, dan jumlah titik

0.0

longsor, dimana pada tabel tersebut diterlihat bahwa kejadian longsor banyak terjadi pada lereng 15-45% dan pada elevasi dari 500-2000 meter.

Tabel 15. Hubungan Sebaran Titik Longsor pada Berbagai Elevasi Berdasarkan Kelas Lereng

Elevasi Kelas Lereng Titik Lokasi Longsor Persentase (%)

0-500m 0-8% 0 0

c. Kerapatan Frekuensi Longsor Terhadap Ketinggian

Hubungan antara frekuensi longsor terhadap elevasi dari hasil analisis yang dilakukan menunjukkan hasil seperti yang tersaji pada Tabel 15. Dari tabel tersebut terlihat bahwa besarnya kerapatan frekuensi longsor berbading lurus dengan meningkatnya kelas elevasi. Kondisi ini secara grafis disajikan pada Gambar 24, dan terlihat bahwa peluang terulangnya longsor pada lokasi yang sama semakin meningkat seiring dengan meningkatnya elevasi. Hal ini dimungkinkan karena kondisi biogeofisik di sekitar titik longsor (kemiringan, curah hujan, penutup lahan) relatif sama.

Tabel 15. Kejadian Longsor pada Berbagai Kelas Elevasi Elevasi Luas(ha) Luas(%) Total Frekuensi

Longsor

48

Gambar 24. Hubungan Kerapatan Kejadian Longsor pada Berbagai Kelas Elevasi 5.2.3 Hubungan Formasi Geologi dengan Longsor

a.Persebaran titik longsor dengan formasi geologi

Berdasarkan Peta Geologi skala 1:100.000 Lembar Garut dan Lembar Pameumpeuk, daerah penelitian tersusun dari 5 Formasi Geologi utama dimana nama dari masing-masing formasi tersaji pada Tabel 16. Formasi geologi digunakan sebagai parameter longsor dikarenakan formasi geologi mencerminkan jenis-jenis litologi yang menyusun atau yang membentuk tanah-tanah di daerah penelitian, disamping itu proses longsor tidak hanya membawa material permukaan (tanah) akan tetapi juga termasuk batuan induk yang ada di bawahnya.

Dengan demikian aspek formasi geologi (karakterisitik litologi) sangat menentukan mudah tidaknya terhadap proses terjadinya longsor.

Berdasarkan hasil observasi lapangan (Tabel 16) didapatkan bahwa titik longsor terbanyak terdapat pada fomasi geologi “Anggota Tufa dan Breksi” (23 titik) yang selanjutnya banyak pula terjadi pada fomasi geologi “Batuan Gunungapi Muda”, demikian pula dengan ulangan terjadinya longsor. Secara lengkap sebaran formasi geologi menurut tipe batuan diperlihatkan pada Tabel Lampiran 3

Tabel 16. Sebaran Titik dan Kejadian Longsor pada Formasi Geologi

Formasi Geologi Titik Longsor Ulangan Kejadian Longsor Endapan Remah Lepas Gunung Muda Tak

Terurai 1 1

Endapan Piroklastik 4 9

Breksi Hasil Batuan Gunungapi Tua 4 6

Batuan Gunungapi Muda 11 29

Anggota Tufa dan Breksi 23 57

Melihat angka-angka pada tabel tersebut, tampak bahwa lapisan tufa yang tersusun dari material abu vulkanik bersifat kedap terhadap air dan menjadi licin pada saat hujan, sehingga lapisan ini dapat bertindak sebagai bidang luncur terhadap batuan breksi dan tanah yang terbentuk di atasnya. Dengan demikian cukup wajar jika pada formasi geologi ini banyak terjadi proses longsor. Selain itu perlu diketahui pula bahwa berdasarkan peta geologi yang digunakan, Formasi

“Anggota Tufa dan Breksi” ini terbentuk pada zaman Tersier. Hal ini menyiratkan bahwa proses pelapukan pada formasi ini telah berjalan cukup lama, atau dengan kata lain material hasil pelapukan yang siap dilongsorkan sudah mempunyai ketebalan yang mencukupi. Pemikiran ini senada dengan pernyataan Barus (1999), yang menyatakan bahwa hubungan litologi dengan longsor terlihat jelas di daerah dimana longsor terbanyak berasal dari material sedimen berumur Tersier. Peta sebaran titik longsor untuk daerah penelitian pada berbagai formasi geologi dan kelas lereng disajikan pada Gambar 25.

50

Gambar 25. Peta Sebaran Titik Longsor pada Formasi Geologi

50

b. Kerapatan Titik Longsor Terhadap Formasi Geologi

Berdasarkan hasil analisis kerapatan titik longsor terhadap formasi geologi didapatkan beberapa nilai kerapatan titik longsor seperti tersaji pada Tabel 17.

Adapun gambaran grafis dari kerapatan titik longsor tersebut disajikan pada Gambar 26.

Tabel 17. Titik Longsor pada Berbagai Formasi Geologi

Formasi Geologi Luas(ha) Luas(%) Titik Longsor Kerapatan (titik/100km²)

Gambar 26. Hubungan Kerapatan Titik Longsor pada Berbagai Formasi Geologi Data tersebut di atas menunjukan bahwa nilai kerapatan titik longsor atau peluang terjadinya longsor di daerah penelitian terutama berada pada Formasi Anggota Tufa dan Breksi, kemudian pada Formasi Breksi Hasil Gunungapi Tua, dan pada Formasi Batuan Gunungapi Muda. Hal ini menyiratkan bahwa peluang terjadinya longsor di daerah penelitian banyak ditentukan oleh tipe batuan atau litologi yang mempunyai komposisi adanya bahan piroklastik halus (tufa) yang

0.0

52

dapat bertindak sebagai bidang luncur dan juga umur geologi (batuan) yang menggambarkan cukup lamanya proses pelapukan telah berlangsung pada batuan.

Peluang ini untuk daerah peneltian diperbesar lagi oleh besarnya kemiringan lereng. Hal ini terlihat pada Tabel 18 dimana pada kemiringan lereng 15 hingga 45% terdapat sebanyak 20 titik longsor.

Tabel 18. Hubungan Sebaran Titik Longsor Pada Berbagai Formasi Geologi Berdasarkan Kelas Lereng

c. Kerapatan Frekuensi Longsor Terhadap Formasi Geologi

Menurut hasil analisis yang telah dilakukan, frekuensi longsor terhadap formasi geologi di daerah penelitian seperti tersaji pada Tabel 19, sedangkan gambaran grafis dari hubungan tersebut dipaparkan pada Gambar 27.

Tabel 19. Kejadian Longsor pada Berbagai Formasi Geologi

Formasi Geologi Luas

Gambar 27. Hubungan Kerapatan Frekuensi Longsor pada Berbagai Formasi Geologi

Berdasarkan tabel dan grafik tersebut di atas terlihat bahwa peluang terulangnya kejadian longsor pada lokasi yang sama mempunyai pola yang sama dengan persebaran titik longsor terhadap formasi geologi. Hal ini mengindikasikan bahwa banyaknya titik longsor pada formasi geologi tertentu sekaligus menunjukan peluang terulangnya kejadian longsor pada formasi tersebut.

54

5.2.4 Hubungan Jenis Tanah dengan Longsor a. Persebaran titik longsor dengan jenis tanah

Peta Tanah Jawa Barat (PUSLITANAK, 1988) skala 1:250.000 menunjukkan bahwa wilayah Kabupaten Garut mempunyai sebaran jenis tanah yang beragam. Mengingat skala peta pada tingkat tinjau, maka informasi terkait jenis tanah tidak menunjukan informasi yang detail. Namun berdasarkan hasil pengamatan titik-titik longsor selama observasi lapangan di dapatkan hasil bahwa titik longsor banyak ditemukan pada empat satuan peta tanah, yaitu (1) kompleks Regosol dan Litosol, (2) Latosol Coklat, (3) kompleks Podsolik Merah Kekuningan, Podsolik Kuning dan Regosol, dan (4) Asosiasi Andosol Coklat dan Regosol Coklat. Hubungan titik-titik longsor terhadap satuan peta tanah tersebut disajikan pada Tabel 20 dan Gambar 28. Secara Lengkap sebaran jenis tanah di Kabupaten Garut disajikan dalam Tabel Lampiran 4.

Tabel 20. Sebaran Titik dan Kejadian longsor pada Jenis Tanah

Jenis Tanah Titik Longsor Frekuensi

Longsor

Latosol Coklat 2 4

Komplek Regosol dan Litosol 1 5

Asosiasi Andosol Coklat dan Regosol Coklat 15 30 Komplek Podsolik Merah Kekuningan,Podsolik

Kuning,dan Regosol 25 63

Melihat persebaran seperti pada tabel tersebut terlihat bahwa satuan peta tanah “Kompleks Podsolik Merah Kekuningan, Podsolik Kuning, dan Regosol”

mempunyai jumlah titik longsor terbanyak. Kompleks tanah ini secara geografis tersebar di Kabupaten Garut bagian Selatan yang mempunyai bahan induk Tufa dan Breksi berumur Tersier, sehingga kompleks tanah ini mempunyai lapisan tanah yang relatif dalam (karena proses pelapukan sudah lanjut) dan mempunyai lapisan kedap air yang berfungsi sebagai bidang luncur, yaitu yang berasal dari bahan induk tufa. Dengan demikian jika pada kompleks tanah ini terjadi banyak longsor menjadi cukup logis karena sangat terkait dengan bahan induk yang berasal dari bahan induk tufa dan breksi berumur Tersier.

Gambar 28. Peta Sebaran Titik Longsor pada Berbagai Jenis Tanah

55

56

b. Kerapatan Titik Longsor Terhadap Jenis Tanah

Berdasarkan hasil analisis titik-titik longsor terhadap luasan pada masing-masing jenis tanah didapatkan nilai kerapatan titik longsor seperti tersaji pada Tabel 21. Adapun gambaran grafis mengenai kerapatan titik longsor tersebut disajikan pada Gambar 29.

Tabel 21. Titik Longsor pada Berbagai Jenis Tanah

Jenis Tanah Luas

Asosiasi Andosol Coklat dan Regosol

Coklat 76688 24.8 15 2.0

Gambar 29. Hubungan Kerapatan Titik Longsor pada Berbagai Jenis Tanah Berdasarkan fakta tersebut di atas terlihat bahwa nilai kerapatan titik longsor atau peluang terjadinya longsor berada pada dua satuan peta tanah, yaitu Assosiasi Andosol Coklat dan Regosol Coklat dan Kompleks Podoslik Merah Kekuningan, Podsolik Kuning, dan Regosol, dengan nilai kerapatan yang hampir sama yaitu 2,0 dan 1,9. Untuk Asososiasi Andosol Coklat dan Regosol mempunyai bahan induk dari Formasi Breksi Hasil Gunungapi Tua dan Formasi Endapan Piroklastik. Dari kondisi ini terlihat pada wilayah ini pelapukan sudah

0.0

Latosol Coklat Komplek Podsolik Merah Kekuningan,Podsolik

berjalan lanjut, disamping itu material piroklastik itu sendiri merupakan produk gunungapi yang lebih mudah terlapukan di bandingkan dengan produk lain seperti aliran lava atau breksi vulkanik muda. Berdasarkan hal ini, maka peluang terjadinya proses longsor di wilayah ini cukup logis jika tinggi, dikarenakan bahan yang siap dilongsorkan sudah cukup tersedia (solum tanah dalam), apalagi di tunjang oleh kondisi toporgrafi berupa perbukitan dan pegunungan yang pada umumnya kaya dengan lereng yang miring hingga terjal. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 22, dimana pada kemiringan lereng 15 % hingga 45 % terdapat banyak titik longsor.

Tabel 22. Hubungan Sebaran Titik Longsor Pada Berbagai Jenis Tanah Berdasarkan Kelas Lereng

Kekuningan,Podsolik Kuning,dan Regosol 0-8% 0 0

8-15% 3 10

15-25% 8 30

25-45% 14 60

>45% 0 0

Asosiasi Andosol Coklat dan Regosol

Coklat 0-8% 0 0

8-15% 2 10

15-25% 5 40

25-45% 8 50

>45% 0 0

c. Kerapatan Frekuensi Longsor Terhadap Jenis Tanah

Menurut hasil analisis yang telah dilakukan untuk kerapatan frekuensi longsor terhadap jenis tanah didapatkan hasil seperti tersaji pada Tabel 23 dan gambaran grafis hubungan antara frekuensi longsor dengan jenis tanah tersebut tersaji pada Gambar 30.

58

Tabel 23. Kejadian Longsor pada Berbagai Jenis Tanah

Jenis Tanah Luas

Gambar 30. Hubungan Kerapatan Kejadian Longsor pada Berbagai Jenis Tanah Berdasarkan tabel dan grafik tersebut di atas terlihat bahwa peluang terbesar terulangnya longsor pada lokasi yang sama terjadi pada satuan peta tanah Kompleks Podsolik Merah Kekuningan, Podoslik Kuning, dan Regosol, disusul oleh Assosiasi Andosol Coklat dan Regosol sedangkan pada satuan peta tanah yang lain mempunyai peluang yang paling kecil. Hal ini menandakan bahwa kaitan antara bahan induk, umur formasi geologi (proses pelapukan), dan jenis tanah yang terbentuk mempunyai kaitan yang erat sebagai pemicu terjadinya longsor, apalagi terdapat pada lahan yang mempunyai kemiringan yang besar.

Namun secara umum bahan induk pada kombinasi jenis tanah relatif sama, sehingga perbedaan peluang terulang tidak terlalu jauh sepeti terlihat pada Tabel 23.

Latosol Coklat Komplek Regosol dan Litosol

5.2.5. Hubungan Curah Hujan dengan Longsor a. Persebaran titik longsor dengan curah hujan

Data curah hujan yang digunakan pada penelitian ini diambil dari data atribut Peta Land System (RePPProT, 1987) yang selanjutnya dilakukan proses tumpang tindih (overlay) tdengan persebaran titik longsor. Berdasarkan hasil analisis ini diketahui bahwa daerah dengan curah hujan 1500-2000 mm/tahun tidak terdapat titik longsor sedangkan pada kelas curah hujan yang lain ditemukan beberapa titik longsor. Hal ini disebabkan pada kelas curah hujan 1500-2000 mm/tahun berada pada lahan yang datar (dataran antar pegunungan) yang terdapat di Bagian Utara Kabupaten Garut.

Berikut disajikan persebaran titik longsor (jumlah dan frekuensi) terhadap kelas curah hujan (Tabel 24).

Tabel 24. Sebaran Titik dan Kejadian longsor pada Curah Hujan

Curah hujan mm/tahun Titik Longsor Total Kejadian Longsor

1500-2000 0 0

2000-2500 8 14

2500-3000 15 36

3000-3500 8 22

3500-4000 12 30

Dari Tabel tersebut terlihat bahwa jumlah titik longsor banyak terdapat pada kelas curah hujan 2500-3000 mm/tahun dan 3500-4000 mm/tahun, masing-masing sebesar 15 dan 12 titik longsor dan dengan frekuensi kejadian longsor masing-masing 22 dan 30. Berdasarkan Gambar 31 terlihat bahwa persebaran kedua kelas curah hujan di atas berada di wilayah bagian Selatan Kabupaten Garut. Pola persebaran curah hujan yang demikian tampaknya lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi topografi, dimana perbukitan dan pegunungan di wilayah Selatan ini menyebabkan terjadinya hujan orografis yang berlimpah di bagian Selatan. Seperti diketahui bahwa curah hujan adalah anasir yang bersifat sebagia pemicu terjadinya longsor, apalagi terhadap tanah-tanah yang berusia lanjut di wilayah tersebut. Hal ini sejalan dengan pendapat Suryaatmojo dan Seodjoko (2008), bahwa curah hujan bersifat meningkatan kadar air tanah, sehingga mengakibat menurunnya ketahanan material tanah/batuan, dan menyebabkan terbentuknya bidang gelincir sebagai pemicu tanah longsor.

60

Gambar 31. Peta Sebaran Titik Longsor pada Kelas Curah Hujan

60

b. Kerapatan Titik Longsor Terhadap Curah Hujan

Berdasarkan hasil pemetaan persebaran titik longsor terhadap curah hujan dan masing-masing luasanya didapatkan suatu nilai kerapatan titik longsor seperti yang tersaji pada Tabel 25 dan Gambar 32.

Tabel 25. Titik Longsor pada Berbagai Curah Hujan Curah hujan

mm/tahun Luas(ha) luas(%) Titik Longsor Kerapatan (titik/100km²)

1500-2000 36851 11.95 0 0

2000-3000 172930 56.1 23 1.3

3000-4000 98466 3.94 20 2.0

Gambar 32. Hubungan Kerapatan Titik Longsor pada Berbagai Curah Hujan Berdasarkan Tabel 25 dan Gambar 32 di atas terlihat bahwa peluang terjadinya longsor berbading lurus dengan besarnya curah hujan. Berhubung persebaran curah hujan yang tinggi di Kabupaten Garut berada di Bagian Selatan, maka wialayh Selatan ini perlu mendapat perhatian atau kewaspadaan tersendiri terhadap longsor terutama pada lereng-lereng yang curam. Tabel 26 menunjukan kejadian longsor pada masing-masing kelas curah hujan yang banyak terdapat pada kelas kemiringan lereng 25-45%.

Hasil analisis di atas memperlihatkan bahwa peluang terjadinya longsor di daerah penelitian memperlihatkan kecenderungan bahwa semakin besar curah hujan maka semakin besar pula peluang terjadinya longsor seperti yang

0 0.5 1 1.5 2 2.5

1500-2000 2000-3000 3000-4000

Titik/100km²

Curah hujan(mm/tahun)

Density

62

ditunjukkan oleh banyaknya titik longsor pada wilayah dengan curah hujan yang tinggi.

Pernyataan ini diperkuat oleh pendapat Zakaria (2011) bahwa curah hujan mempengaruhi kadar air dan kejenuhan air sehingga memicu terjadinya longsor.

Hujan dapat meningkatkan kadar air dalam tanah dan menyebabkan kondisi fisik tubuh lereng berubah-ubah. Kenaikan kadar air tanah akan memperlemah sifat fisik-mekanik tanah yang mempengaruhi kondisi internal tubuh lereng dan menurunkan faktor keamanan lereng.

Tabel 26. Hubungan Sebaran Titik Longsor pada Berbagai Curah Hujan Berdasarkan Kelas Lereng

Curah hujan

mm/tahun kelas Lereng Titik Longsor Persentase (%)

c. Kerapatan Frekuensi Longsor Terhadap Curah Hujan

Dari hasil analisis yang dilakukan untuk mengetahui hubungan antara frekuensi longsor terhadap curah hujan didapatkan hasil seperti yang tersaji pada Tabel 27 dan gambaran grafis dari hubungan tersebut pada Gambar 33. Dari tabel dan gambar tersebut terlihat bahwa besarnya kerapatan frekuensi longsor berbading lurus dengan meningkatnya kelas curah hujan tahunan. Hal ini mengindikasi bahwa peluang terulangnya longsor pada lokasi yang sama semakin meningkat seiring dengan meningkatnya curah hujan.

Tabel 27. Frekuensi Longsor pada Berbagai Curah Hujan

Tabel 27. Frekuensi Longsor pada Berbagai Curah Hujan

Dokumen terkait