• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV TEMUAN DAN ANALISA DATA

B. Analisis Peran LEMKA dalam Makna Tugas

Sebagai sebuah lembaga yang bergerak dalam dakwah bil qolam, tentunya LEMKA mempunyai tugas-tugas yang harus diamalkan. Salah satunya yaitu dalam kegiatan LEMKA yang utama yakni kursus kaligrafi. Dalam kursus ini pengurus LEMKA harus mengajarkan kepada mad’unya aliran-aliran huruf

12

dengan metode demonstratif dan mengelolanya dalam lukisan dan aneka media. Selain itu juga mendalami pelbagai ayat khat secara detail dari huruf-huruf tunggal, tata letak, komposisi, harmoni, proporsi, unsur garis, cara menggores, dan teknik gubahan.13

Namun di balik semua itu yang terpenting adalah mengajarkan bahwa menulis kaligrafi bukan hanya semata-mata menulis goresan yang indah, tetapi orang yang menulis kaligrafi tersebut harus bisa menanamkan pesan-pesan dakwah di dalam karyanya. Maka dari itu LEMKA juga mempunyai tugas menambah wawasan mad’unya dengan pengajian seni dan mubahasah tafsir Al-

Qur’an. Lalu agar ilmu ini terus diamalkan, maka mad’u juga diajari teknik

mengajar khat supaya kelak bisa ikut berperan aktif dalam kegiatan dakwah bil qolam ini. Tak hanya sampai di situ, LEMKA juga memberikan pelatihan kewirausahaan dan ikut menyalurkan karya-karyanya ke pasaran atau pameran- pameran untuk menyebarkan pesan-pesan dakwah dalam kaligrafi.

Dalam program kerjanya, secara lebih rinci LEMKA mempunyai beberapa kegiatan menjalankan proses dakwah bil qolam, antara lain:

1. Kursus Kaligrafi

Kursus kaligrafi adalah kegiatan utama dari LEMKA. Kursus ini merupakan garda depan untuk membangkitkan selera menulis indah. Materi yang diajarkan antara lain kaidah huruf. Jenjang pendidikan terdiri dari : Basic I (Khat Naskhi), Basic II (Khat Sulus & Khat Riq’ah), Basic III (Khat Diwani & Khat Farisi), dan Basic IV (tatawarna). Kemudian diberikan uraian penjelasannya

13

LEMKA Online “Materi Kursus LEMKA,” diakses pada tanggal 17 Mei 2011 dari http://lemkaonline.blogspot.com/2008/04/pesantren-kaligrafi-Al-Qur’an-lemka_5274.html

seperti komposisi dan susunan huruf. Untuk menambah minat peserta, ditambahkan juga materi pendalaman gaya MTQ (tipe Naskah, Hiasan Mushaf, Dekorasi dan kaligrafi kontemporer).14

Kaligrafi yang diajarkan tentu saja adalah kaligrafi Islam. Materi yang diberikan sebagian besar berasal dari ayat-ayat Al-Qur’an, karena sasaran dan tujuan utama untuk keagungan Al-Qur’an. Tak hanya materi tentang ayat yang diajarkan di LEMKA, karena Al-Qur’an itu mempunyai sayap-sayap pendukungnya, seperti hadits Nabi, qoul ulama, mutiara hikmah, yang intinya juga mempunyai makna dukungan terhadap Al-Qur’an.

Di LEMKA juga diajarkan bagaimana cara menanamkan pesan dakwah dalam sebuah kaligrafi, terutama dalam sebuah kaligrafi kontemporer. Diajarkan bagaimana pemenggalan ayat dan pemilihan tema yang digunakan harus sesuai dengan backgroundnya. Sebagaimana dijelaskan oleh pimpinan LEMKA, Sirajuddin mengatakan:

“Sasaran dan tujuan utama untuk keagungan Alquran, tapi tentu Al-Quran itu mempunyai sayap-sayap pendukungnya, seperti hadits Nabi,

qoul ulama, mutiara hikmah, yang intinya juga mempunyai makna dukungan terhadap Al-Qur’an. Di LEMKA juga diajarkan pemenggalan ayat dan pemilihan tema. Misalnya ketika membuat kaligrafi kontemporer, haruslah sesuai antara background dengan temanya. Jadi kalau ayat itu berbicara tentang kesemarakan ibadah, tentu di situ mungkin

backgroundnya masjid dan orang yang sedang menuju ke masjid.”15 Pesan-pesan dakwah dalam kaligrafi jika ditulis dengan biasa, atau bahkan tidak selaras ayat yang ditulis dengan background yang digunakan, penulis berpendapat pesan-pesan dakwah tersebut akan sulit untuk diterima pesannya

14 “Materi Kursus LEMKA,” diakses pada tanggal 17 Mei 2011 dari

http://lemkaonline.blogspot.com/2008/04/pesantren-kaligrafi-Al-Qur’an-lemka_5274.html

15

bahkan untuk sekedar dilirik oleh mad’u. Akan tetapi sebaliknya, jika pesan-pesan dakwah tersebut ditulis dengan indah maka akan semakin membuat orang-orang akan tertarik untuk melihatnya. Seperti yang sudah dijelaskan, dengan keindahan goresan diharapkan akan menambah rasa cinta terhadap agama itu sendiri, terhadap Islam dan Al-Qur’an.

2. Pengajian kitab kuning

Di LEMKA juga diajarkan pengajian kitab kuning yang berjudul Nashih Al-Khaththathin. Kitab yang ditulis sendiri oleh Sirajuddin ini berisi tentang nasehat-nasehat tentang adab maupun etika dalam menulis kaligrafi kepada calon atau mereka yang sudah mahir menulis kaligrafi. Sebagaimana Sirajuddin mengatakan:

“Di LEMKA juga diajarkan pengajian kitab kuning, yang judulnya Nashih Al-Khaththathin. Kitab ini mengajarkan tentang akhlak tolabul ilmi, termasuk di dalamnya ilmu menulis. Diajarkan bagaimana prilaku

khattat itu ketika seseorang sedang belajar kaligrafi.”16

Kitab ini, walaupun terlihat sederhana, mempunyai fungsi dan peranan yang cukup penting bagi para penulis kaligrafi. Hal ini terutama dalam membentuk karakter seorang penulis kaligrafi yang mampu menghasilkan karya seni bernilai tinggi dan memiliki integritas spiritual yang mumpuni.17

3. Pergelaran seni dan pameran kaligrafi

Dengan pameran kaligrafi ini LEMKA berharap dapat menarik minat masyarakat (objek dakwah) untuk mencintai Al-Qur’an lewat huruf-huruf yang indah. Dengan menampilkan lukisan di pameran, diharapkan objek dakwah

16

Wawancara Pribadi dengan D. Sirajuddin AR, Ciputat, 22 April 2011

17

Syahruddin el-Fikri, “Nashih Al-Khaththathin, Nasihat untuk penulis kaligrafi,” Republika, 12 Desember 2010, h. B9

tertarik hatinya kepada Al-Qur’an lewat huruf-huruf yang indah. Kalau dakwah lewat qori itu lewat suara-suara yang merdu yang melantunkan Al-Qur’an, sedangkan lewat kaligrafi diharapkan ayat yang tampil di dalam lukisan itu menggugah dan membangkitkan perasaan individu sehingga dia menjadi orang yang shaleh, bersemangat hidup. Sebagaimana pimpinan LEMKA, Sirajuddin mengatakan:

“Dengan ayat-ayat yang digoreskan dalam huruf itu, yang di dalamnya ada tema-tema, maka masyarakat akan tergiring, diajak kepada tujuan tema itu. Misalnya kalau ditampilkan di situ ayat tentang rezeki, diharapkan ayat itu memberikan pelajaran kepada penonton dan penikmat kaligrafi bahwa rezeki itu dari Allah. Sehingga segala tenaga itu dikeluarkan demi Allah, dan meyakini dari Allah semua rezeki itu dikeluarkan. Dan lain-lain masih banyak lagi.”18

Dengan keindahan kaligrafi ini, LEMKA berusaha mengajak masyarakat agar mempelajari Islam dengan dakwah yang indah. Sirajuddin kembali menjelaskan:

“Jadi dengan keindahan huruf dengan ilmu, maka (diharapkan) masyarakat akan tertarik. Karena kalau ditampilkan dengan huruf jelek, walaupun mengajak tetapi akan kelihatan ogah-ogahan. Tetapi jika keindahan itu digunakan untuk membalut, membalut dakwah, dakwah itu menjadi indah. Sama dengan keindahan untuk membalut sholat melalui tasawuf, misalnya khusyu. Khusyu itu tidak wajib, tetapi itu adalah pembalut sholat yang akan membuat terasa indah. Berarti keindahan itu harus disebarkan ke setiap relung-relung kehidupan ibadah. Lalu jika berpuasa Ramadhan, maka pembungkus supaya puasa itu indah adalah adalah aktivitas di luar itu, misalnya diisi dengan mengaji. Demikian pula dengan Al-Qur’an tadi.”19

Selain itu, pameran juga dimaksudkan untuk pelampiasan atau apresiasi pengetahuan menulis para kru penulis di LEMKA.

18

Wawancara Pribadi dengan D. Sirajuddin AR, Ciputat, 22 April 2011

19

4. Diskusi wawasan seni budaya

Diskusi ini dimaksudkan untuk menambah pengetahuan anggota LEMKA, baik tentang seni Islam secara umum maupun seni kaligrafi lebih khusus. Biasanya diskusi ini diadakan ketika ada event-event lomba kaligrafi maupun ketika LEMKA sedang mengadakan suatu acara lainnya.

5. Safari seni budaya

Safari seni ini untuk dapat menikmati keindahan di wilayah-wilayah hiburan yang menarik, misalnya di alam terbuka. Dengan berangkat ke tempat- tempat sambil melukis atau menulis maka rasa senang terhadap kaligrafi akan bertambah. Bagi LEMKA, bahwa sekolah itu bukan gedung, sekolah itu bukan bangunan, sekolah itu bukan ruangan, tetapi sekolah itu adalah suasana. Maka melukis di alam terbuka, dengan mengajak santri LEMKA untuk melukis di kebun teh, melukis di gunung, melukis di sawah, melukis di tepi sungai, melukis di pantai sehingga pelajaran itu bersuasana rekreatif. Jadi, menulis sekaligus melukis karena LEMKA mencanangkan pelajarannya dengan nuansa rekreatif sehingga apa yang diajarkan itu bernuansa menyenangkan. Sebenarnya itu bukan tujuan utamanya, akan tetapi hal itu merupakan salah satu alat untuk mempercepat dan mempermudah dakwah bil qolam tersebut. Selain itu sering juga diadakan diskusi di tempat rekreatif tersebut sambil melihat kanan kiri sehingga bukti-bukti keindahan alam itu bisa dibicarakan.

6. Kegiatan pengembangan usaha

Untuk mewujudkan salah satu misinya yaitu memasyarakatkan kaligrafi, di tanah Air, tentunya para kaligrafer LEMKA harus pintar-pintar mencari pasar

untuk menyebarkan pesan-pesan dakwah dalam kaligrafi. Maka dari itu LEMKA juga menyalurkan karya-karya peserta, entah ke toko atau pusat-pusat pameran, diadakan show-show karya, dan atas dasar pesanan-pesanan.

Tugas-tugas tersebut merupakan tugas yang harus dilakukan LEMKA dalam perannya pada dakwah bil qolam. Sebagaimana salah satu metode dakwah

bil qolam adalah melalui teknik penulisan gambar atau lukisan kaligrafi. Dengan memberikan pelajaran dan pemahaman pada khattat-khattatnya, diharapkan kaligrafi yang digoreskan dapat menyampaikan makna dan pesan-pesan dakwah Islam dengan baik dan benar.

Dakwah yang dilakukan LEMKA ini cukup unik karena menggunakan berbagai media dalam membuat pesan-pesan dakwahnya pada sebuah kaligrafi. Sebagaimana pimpinan LEMKA Sirajuddin mengatakan:

“Di LEMKA itu menggunakan aneka media. Dari mulai kertas, kanvas, kaca, kayu, kemudian unsur-unsur kolase, seperti dedaunan, pelepah pohon, kain, benang-benang, bulu, serat-serat, pasta poalam, pasir, batu-batu dan lain lain. Kemudian dengan bantuan cat yang juga bermacam-macam, seperti cat akrelik, cat minyak, tinta. Sedangkan semua instrumen penulisnya semua digunakan. Dari mulai pensil, pulpen cair, handam, bambu, pelepah aren, batang kayu, kuas, kemudian instrumen air beras, bahkan sampai sikat gigi untuk memantulkan cipratan digunakan. Itulah alat-alat melukis yang biasa disebut material tools.”20

Sirajuddin menambahkan:

“Jadi Kaligrafi adalah seni arsitektur spiritual, yang lahir melalui perabot kebendaan. Tetapi nilai spiritual isi kandungan ayat itu yang jadi tujuannya. Jadi keindahan yang LEMKA pegang itu dua, pertama keindahan fisik, yaitu sosok lukisan itu indah, dengan menggunakan alat- alat yang tadi. Lalu yang kedua keindahan non fisik, yaitu pesan-

pesannya.”21

20

Wawancara Pribadi dengan D. Sirajuddin AR, Ciputat, 22 April 2011

21

Pada dasarnya dakwah dapat menggunakan berbagai media yang dapat merangsang indera-indera manusia serta dapat menimbulkan perhatian untuk menerima dakwah. Semakin tepat dan efektif media dakwah yang dipakai maka semakin efektif pula upaya pemahaman ajaran Islam pada masyarakat yang menjadi sasaran dakwah.

Dokumen terkait