Setelah data sudah terkumpul data yang diperoleh dari penelitian selanjutnya adalah dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif, yaitu dengan mendeskripsikan data dan fakta yang dihasikan atau dengan kata lain yaitu dengan menguraikan data dengan kalimat-kalimat yang tersusun secara terperinci, sistematis dan analisis, sehingga akan mempermudah dalam membuat kesimpulan dari penelitian dilapangan dengan suatu interpretasi, evaluasi dan pengetahuan umum.Setelah data dianalisis maka kesimpulan terakhir dilakukan dengan metode induktif yaitu berfikir berdasarkan fakta-fakta yang bersifat umum, kemudian dilanjutkan dengan pengambilan yang bersifat khusus.
DAFTAR PUSTAKA
Armansyah, 2008, Korban dalam Konsep Perlindungan Hukum, Jakarta : Bumi
Aksara
Dellyana,Shant.1988,Wanita dan Anak di Mata Hukum. Yogyakarta: Liberty.
Gosita, Arif, Masalah Korban Kejahatan (Suatu Kumpulan Karangan). Cet II,
Akademi Pressindo, Jakarta, 1993
_________. 1995. Bunga Rampai Viktimisasi. Bandung: PT. Eresco
Hawari. Dadang. 1991. Perlindungan Korban Perkosaan. Solo.
Husin, Kadri, Pelaksanaan Penerapan Hak--Hak Tersangka/ Terdakwa Menurut
KUHAP Dalam Proses Peradilan Pidana, Desertasi, Program Pascasarjana UI, Jakarta, 1997
Indrasyah, Muhammad, 2010, Perlindungan Korban Tindak Pidana, Jakarta: Raja
Grafindo
Jafaruddin, 2011, Permasalahan dan Hambatan dalam Advokasi, Bandung: Alumni
Kunarto, Penyadur. 1996. PBB dan Pencegahan Kejahatan Ikhtisar Implementasi
HakAsasi Manusia Dalam Penegakan Hukum. Jakarta: Cipta Manunggal, 1996
Made Sadhi, Astuti. 1997. Pemidanaan Terhadap Anak Sebagai Pelaku Tindak
Pidana, Malang: IKIP.
Santoso, Topo, Seksualitas dan Hukum Pidana, Cet. I, Ind-Hill-Co, Jakarta, 1997
Soegiono, 2009, Tindak Pidana Sedarah, Bandung : Alumni
Soekito,Wiratmo Sriwidyowati.1989,Anak dan Wanita dalam Hukum. Jakarta:
LP3ES.
Soerjono Soekanto. 2004,Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegeakan Hukum
Cetakan Kelima.Jakarta : Raja Grafindo Persada
Soerjono Soekanto.1986 ,Pengantar Penelitian Hukum.Jakarta: UI-Press.
Undang-Undang
1. Undang Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak
2. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 Tentang PemberantasanTindak
V. PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penemuan dalam penelitian ini pendampingan yang ditempuh oleh Lembaga Advokasi Perempuan Damar Lampung tergantung dengan permintaan dan kebutuhan dari korban maupun pihak keluarga korban, dari hasil penelitian ini penulis dapat menyimpulkan bahwa ada beberapa hal yang berkaitan dengan hasil penelitian yaitu:
1. Peran Lembaga Advokasi sebagaimana di atur di dalam pasal 18 UU No 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak, di atur bahwa “setiap anak yang menjadi korban atau pelaku tindak pidana berhak mendapatkan bantuan hukum atau bantuan lainnya” dan Lembaga Advokasi Perempuan Damar
Lampung dalam mendampingi korban incest menggunakan teori peranan
ideal, hal itu terlihat melalui pendampingan pendampingan yang dilakukan
Lembaga Advokasi Damar Lampung terhadap perempuan korban incest
dengan cara yaitu :
Memberikan konsultasi hukum yang mencakup informasi mengenai hak hak korban dan proses pradilan, Mendampingi korban di tingkat penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan dalam sidang pengadilan dan membantu korban
untuk secara lengkap memaparkan tindakan pemerkosaan incest yang di alaminya
dan, Melakukan koordinasi dengan sesama penegak hukum, relawan pendamping, dan pekerja sosial agar proses peradilan berjalan sebagai mestinya.
49
Selain itu, perlindungan hukum terhadap korban tindak pidana perkosaan juga dilakukan selama proses peradilan yang dapat dilihat dalam uraian sebagai berikut:
1. Sebelum Sidang Pengadilan
Perlindungan hukum yang diberikan terhadap korban tindak pidana perkosaan, pertama kali diberikan oleh polisi pada waktu korban melapor. Saat ini Polri telah membentuk Unit perlindungan perempuan dan anak. Unit perlindungan hukum dan anak adalah sebuah unit khusus yang tertutup, dimana perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan atau pelecehan seksual dapat melaporkan kasusnya dengan aman kepada Polwan yang empatik, penuh pengertian dan profesional.
2. Selama Sidang Pengadilan
Selama proses sidang pengadilan, korban dalam memberikan kesaksian didampingi oleh anggota LBH/LSM supaya korban dapat lebih tenang dan tidak merasa takut dalam persidangan. Apalagi dalam persidangan, korban harus dipertemukan lagi dengan pelaku yang dapat membuat korban trauma sehingga akan mempengaruhi kesaksian yang akan diberikan dalam persidangan.
50
Kendala utama yang di hadapi oleh Lembaga Advokasi Permpuan Damar
Lampung dalam menangani tindak pidana pemerkosaan incest ada 4 (empat)
faktor yaitu :
1. Faktor Budaya : budaya diartikan sebagai pikiran, akal budi atau adat-
istiadat. Secara tata bahasa, pengertian kebudayaan diturunkan dari kata budaya yang cenderung menunjuk pada pola pikir manusia. Dapat dikatakan bahwa walaupun sekarang ini masyarakat Lampung sudah banyak yang memiliki kesadaran hukum namun dalam hal pemerkosaan incest, budaya yang berkembang dan tetap tertanam bahwa keluarga yang terlibat merasa malu untuk melaporkan nya karna akan menjadi aib keluarga,
2. Faktor Penegak hukum : penegak hukum adalah orang yang melakukan
upaya untuk tegaknya atau berfungsinya norma-norma hukum secara nyata menurut aturan yang berlaku sebagai pedoma hubungan-hubungan hukum namun dalam kehidupan bermasyaraka masih ada aparat penegak hukum yang tidak memiliki perspektip terhadap korban perempuan yaitu cara pikir aparat penegak hukum khusus nya polisi yang memandang sebelah mata karena korban dan pelaku yang masih memiliki ikatan keluarga dekat.
3. Faktor Sumber Daya Manusia : sumber daya manusia merupakan potensi
yang terkandung dalam diri manusia untuk mewujudkan perannya
sebagai makhluk sosial yang adaptif dan transformatif yang mampu
mengelola dirinya sendiri serta seluruh potensi yang terkandung di alam menuju tercapainya kesejahteraan kehidupan dalam tatanan yang seimbang
51
dan berkelanjutan. Dalam pengertian praktis sehari-hari, SDM lebih dimengerti sebagai bagian integral dari sistem yang membentuk suatu organisasi menurut sofyan jumlah tenaga ahli di dalam menangani kasus Incest tidak sebanding bahkan sangat kurang dengan jumlah korban yang
ada, sehingga penanganan kasus tindak pidana pemerkosaan incest
menjadi sangat penting untuk dapat diperhatikan penanganannya.
4. Faktor Masyarakat : masyarakat adalah sekelompok orang yang
membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana
sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada
dalam kelompok tersebut. Menurut Syaikh Taqyuddin An-Nabhani,
sekelompok manusia dapat dikatakan sebagai sebuah masyarakat apabila memiliki pemikiran, perasaan, serta sistem/aturan yang sama. Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudian berinteraksi sesama mereka berdasarkan kemaslahatan. Dalam hal ini Sofyan berpendapat bahwa masyarakat masih memiliki paradigma salah yang menyatakan
pelaku dan korban tindak pidana incest merupakan tindakan yang
dilakukan suka sama suka sehingga dapat terjadi begitu lama namun disisi
lain masyarakat tidak mengetahui bahwa korban dari pelaku incest berada
dibawah tekanan atau ancaman yang diberikan oleh pelaku incest.
B. Saran
Setelah melihat kesimpulan di atas maka penulis akan memberikan saran saran sebagai berikut
52
1. pemerintah seharusnya membuat peraturan undang undang yang jelas menganai
korban tindak pidana incest yang biasanya dilakukan oleh seorang ayah kepada
anak perempuannya sehingga jelas hukuman dan efek jera yang diterima oleh
para pelaku incest, seperti yang di sebutkan di dalam Islam bahwa perilaku
incest dapat diancam dengan hukuman mati berdasarkan hadits Nabi :
.فاق ت ل ه محرم ذا ت عل
ق ع م ن
Artinya : Barang siapa melakukan hubungan seksual dengan seorang yang masih ada hubungan kemahraman (yang dilarang untuk dikawini), maka pidana matilah ia.
2. Perlu ditingkatkan lagi upaya upaya yang dilakukan oleh Lembaga Advokasi Perempuan Damar Lampung dalam menjalankan kontribusinya untuk
membantu korban incest, sehingga dapat menekan atau mengurangi jumlah
korban incest. Salah satunya adalah dengan mengadakan penelitian dan
pelatihan tentang isu kekerasan yang berbasis gender.
3. Lembaga Advokasi Perempuan Damar Lampung harus lebih efektif dalam
melakukan monitoring dalam kasus-kasus Incest yang belum terungkap karna
korban takut untuk melapor. Trmasuk mengadakan sosialisasi kepada
masyarakat terutama yang mengalami perkosaan incest agar jangan ragu lagi