• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Perbedaan Jenis Kelamin Pegawai Non Sarjana rentang usia 33-44 terhadap Hasil Constructive Thinking Inventory (CTI)

Dalam dokumen 5 HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 43-49)

Setelah diketahui terdapat perbedaan nyata berdasarkan jenis kelamin pada pegawai sarjana dengan rentang usia 21-32 dan 45-56 tahun, maka didapatkan perbedaan nyata yang signifikan pada pegawai non sarjana dengan rentang usia 33-44, khususnya pada sub-skala Naive Optimism. Berikut dijabarkan analisa hasilnya dimulai dengan hasil rataan skor, klasifikasi rentang kriteria hasil uji ANOVA.

1. Hasil Rataan Skor

Tabel 34 menunjukkan nilai rataan dan standar deviasi yang diperoleh pada perhitungan ANOVA. Pada skala global Global Contructive Thinking, sub skala

Behavioral Coping, Emotional Coping dan Naive Optimism, nilai rataan berada

diatas nilai 3 yang menjadi pedoman nilai netral. Sementara untuk sub skala

Personal Superstitious Thinking, Categorical Thinking dan Esoteric Thinking

cenderung mengarah ke nilai 3.

Dengan hasil tersebut maka pegawai laki-laki dan wanita non sarjana berusia 33-44 tahun cenderung berpikir lebih netral pada pengukuran yang menyangkut sikap defensif, cara berpikir yang terpola atau sikap ketidakpercayaan pada orang lain dan cara berpikir logis. Nilai tertinggi diperoleh pada sub skala Behavioral Coping yang menunjukkan bahwa pegawai laki-laki dan wanita non sarjana berusia 33-44 tahun cenderung dapat berpikir positif dan terbuka sehingga cepat mengambil tindakan terhadap rencana yang dibuat. Akan

92

tetapi hasil rataan tersebut belum dapat menjelaskan bagaimana sikap pegawai non sarjana pria dan wanita pada rentang usia 33 – 44 tahun. Hasil rataan dan standar deviasi ANOVA disajikan pada Tabel 34.

Tabel 34 Rataan dan standar deviasi ANOVA berdasarkan Jenis Kelamin pegawai Non Sarjana rentang usia 33-44 tahun

Keterangan: N = jumlah data; Mean = nilai rataan; Std.Dev = nilai simpangan

2. Hasil Klasifikasi Rentang Kriteria berdasarkan skala dari Constructive Thinking Inventory (CTI)

Tabel 35 menunjukkan klasifikasi rentang nilai masing-masing skala dari

Constructive Thinking Inventory (CTI) pegawai pria dan wanita non sarjana

dengan rentang usia 33 – 44 tahun. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pada sub skala Emotional Coping, Personal Superstitious Thinking, Categorical

Thinking, dan Esoteric Thinking jawaban pegawai cenderung masuk klasifikasi

rentang kriteria netral. Artinya kondisi cara berpikir konstruktif di Dinas Kesehatan Kota Bogor yang menunjukkan pikiran terbuka, ofensif, fleksibel, dan berpikir logis dipersepsikan rata-rata oleh pegawai pria dan wanita non sarjana pada rentang usia 33 – 44 tahun, akan tetapi berdasarkan hasil uji statistik selisih nilai sekecil berapapun merupakan perbedaan, selisih nilai sebesar 0,11; 0,11; dan 0, 02 masing-masing pada sub-skala Emotional Coping, Personal Superstitious

Thinking, dan Esoteric Thinking menunjukkan selisih nilai pada pegawai wanita

non sarjana, hal ini mengindikasikan bahwa pegawai wanita non sarjana lebih memiliki sikap terbuka, ofensif dan berpikir logis dibandingkan pegawai pria non

Sub-Skala Tingkat Pendidikan Non Sarjana N Mean Std Deviation Std. Error Mean Global Constructive Thinking Pria Wanita 18 56 3,4234 3,4616 ,13000 ,19701 ,03064 ,02633 Behavoral Coping Pria

Wanita 18 56 3,9246 3,9605 ,19824 ,31825 ,04673 ,04253 Emotional Coping Pria

Wanita 18 56 3,3156 3,4257 ,25846 ,24138 ,06092 ,03226 Personal Superstitious Thinking Pria Wanita 18 56 2,8241 2,9315 ,31557 ,37575 ,07438 ,05021 Categorical Thinking Pria

Wanita 18 56 2,9167 2,8750 ,33349 ,29242 ,07860 ,03908 Esoteric Thinking Pria

Wanita 18 56 2,9167 2,9315 ,19386 ,24777 ,04569. ,03311 Naïve Optimism Pria

Wanita 18 56 3,5074 3,6702 ,26973 ,31229 ,06358 ,04173

93

sarjana pada usia tersebut, pada sub-skala Categorical Thinking didapat selisih nilai sebesar 0,04 lebih tinggi pada pegawai pria non sarjana, artinya pegawai pria non sarjana memiliki sikap lebih fleksibel daripada pegawai wanita non sarjana pada usia tersebut. Sementara itu sub-skala Behavioral Coping dan Naive

Optimism masing-masing memiliki selisih nilai sebesar 0,04 dan 0.17 lebih tinggi

pada pegawai wanita non sarjana usia 33 – 44 tahun, hal ini mengindikasikan bahwa pegawai wanita non sarjana lebih dapat bersikap antusias dan optimis dari pada pegawai pria non sarjana dalam melakukan pekerjaan dan menyelesaikan masalah yang dihadapi. Sedangkan skala Global Constructive Thinking lebih tinggi pada pegawai wanita non sarjana usia 33 – 44 dengan selisih nilai statistik sebesar 0,04 tahun, artinya pegawai wanita non sarjana pada usia tersebut lebih berpikir konstruktif daripada pegawai pria non sarjana

Sikap tersebut akan membantu pegawai untuk mengatasi stres kerja, terutama dengan kecenderungan pekerjaan yang monoton, perlu dijaga sikap antusiasme terhadap pekerjaan. Apalagi di Dinas Kesehatan Kota Bogor, pekerjaan yang dilakukan cenderung bertemu dengan banyak pasien, maka sangat perlu untuk menjaga tingkat optimis agar pegawai terus mampu melayani pasien dengan baik. Hasil pengukuran yang menunjukkan bahwa sikap optimis itu telah tinggi akan sangat membantu pihak manajemen untuk memikirkan cara terbaik untuk terus mempertahankan kondisi tersebut sehingga kinerja pelayanan dapat terjaga dengan baik.

Tabel 35 Hasil Klasifikasi Rentang Kriteria dari CTI pegawai pria dan wanita Non Sarjana rentang Usia 33-44 tahun

Skala Rentang Nilai dan Arti

Pria Wanita

Global Constructive Thinking (GCT) 3,42 konstruktif 3,46 konstruktif

Behavioral Coping (BC) 3,92 antusias 3,96 antusias

Emotional Coping (EC) 3,31 netral 3,42 terbuka

Personal Superstitious Thinking (PST) 2,82 netral 2,93 netral

Categorical Thinking (CaT) 2,91 netral 2,87 netral

Esoteric Thinking (ET) 2,91 netral 2,93 netral

Naïve Optimism (NaO) 3,50 optimis

unrealistis 3,67

optimis unrealistis

94 3. Hasil Perhitungan ANOVA

Tabel 36 menunjukkan hasil ANOVA dimana terdapat perbedaan nyata yang signifikan terhadap hasil Constructive Thinking Inventory (CTI) antara pegawai pria dan wanita bergelar non sarjana dengan rentang usia 33-44 tahun, khususnya skala Naive Optimism dimana didapatkan nilai p dibawah 0,1 yaitu sebesar 0,051 sehingga tolak hipotesis nol. Hasil ini mengandung arti bahwa pegawai pria dan wanita bergelar non sarjana dengan rentang usia 33-44 tahun memiliki perbedaan pandangan tentang cara mereka menghadapi suatu permasalahan. Nilai yang lebih tinggi diperoleh oleh pegawai wanita (Tabel 35) yang menunjukkan bahwa wanita non sarjana dengan rentang usia 33-44 tahun cenderung lebih berpikir optimis namun mengarah ke hal yang tidak realistis. Tabel 36 Hasil ANOVA perbedaan Jenis Kelamin pada pegawai Non Sarjana

dengan rentang Usia 33-44 tahun

Skala

Hasil

Hipotesis t-value

≥ 1,96 df p

Global Constructive Thinking (GCT) -0.774 72 0.442 Terima H0

Behavioral Coping (BC) -0.450 72 0.654 Terima H0

Emotional Coping (EC) -1.656 72 0.102 Terima H0

Personal Superstitious Thinking (PST) -1.094 72 0.277 Terima H0

Categorical Thinking (CaT) 0.508 72 0.613 Terima H0

Esoteric Thinking (ET) -0.233 72 0.817 Terima H0

Naïve Optimism (NaO) -1.985 72 0.051 Tolak H0

Keterangan: t-value = nilai uji-t; df = derajat kebebasan; p = nilai kemungkinan

Dari sisi positif, pegawai wanita tersebut akan cenderung memiliki semangat tinggi dan disukai banyak orang, namun sisi negatifnya adalah ketidak-inginan pegawai tersebut untuk menghadapi kegagalan atau kenyataan yang tidak menyenangkan. Pada rentang usia tersebut wanita memang cenderung lebih berpikir optimis terutama dalam menghadapi permasalahan hidup, namun juga sering tidak realistis. Sikap tersebut dikarenakan wanita cenderung lebih mengutamakan menggunakan perasaan dibandingkan pria yang lebih mengutamakan akal sehat. Pemikiran wanita lebih cenderung dikuasai hati dan perasaan, hal ini yang menyebabkan seringkali tidak realistis. Selain itu akan berefek negatif jika wanita berselisih pendapat terutama dengan rekan sekerja yang menyebabkannya cenderung tidak tahan menghadapi kenyataan yang tidak menyenangkan sehingga berpotensi timbulnya stres kerja. Hasil tersebut jika

95

terjadi sisi positif akan bertolak belakang dengan penelitian Beena dan Poduval, (1992) sedangkan jika terjadi sisi negatif hasil tersebut didukung oleh hasil penelitian Beena dan Poduval (1992) yang mengatakan bahwa wanita akan mengalami stres yang lebih tinggi daripada pria dikarena perubahan pekerjaan dan tanggung jawab yang lebih besar.

Perbedaan hasil yang diperoleh melalui pengukuran rentang nilai dan ANOVA disebabkan perbedaan dalam pengukuran statistik. Pada rentang nilai dimaksudkan untuk melihat kecenderungan responden dalam berpikir konstruktif sehingga dapat diketahui responden masuk pada klasifikasi rentang kriteria seperti apa. Namun jika responden masuk pada rentang nilai yang sama tidak berarti memiliki kecenderungan yang sama dalam berpikir, perbedaan nilai sedikit saja dapat mempengaruhi hasil perhitungan ANOVA, karena secara statistik, perbedaan nilai sekecil apapun dapat berakibat perbedaan hasil yang diperoleh.

5.4 Implikasi Manajerial

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diketahui tingkat pemikiran konstruktif pada pegawai Dinas Kesehatan Kota Bogor secara keseluruhan menunjukkan kemampuan berpikir yang sudah konstruktif dan bersikap antusias, terbuka, ofensif, fleksibel, berpikir logis dan optimis baik berdasarkan perbedaan jenis kelamin, usia maupun tingkat pendidikan sehingga dari hasil tersebut dapat memiliki beberapa implikasi yang dapat diterapkan oleh pihak manajemen Dinas Kesehatan Kota Bogor. Hal ini dimaksudkan agar pihak manajeman tetap mempertahankan bahkan meningkatkan kemampuan bersikap dan berpikir konstruktif tersebut pada pegawai, sehingga tetap memiliki motivasi yang tinggi dalam bekerja, terhindar dari stres kerja dan berkorelasi dengan peningkatan produktifitas kerja.

Hasil lain, secara umum masih terdapat perbedaan pandangan antara pegawai pria dan wanita dalam berpikiran konstruktif. Hal ini sangat wajar terjadi seperti diulas pada beberapa penelitian yang telah dilakukan. Hal ini akan sangat berpengaruh pada kondisi kerja jika berkaitan dengan konflik kepentingan penempatan jabatan tertentu. Pihak manajemen khususnya pimpinan harus tetap mempertahankan asas persamaan hak antara pegawai pria dan wanita dalam

96

menempati suatu jabatan tertentu. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kecemburuan yang dapat memicu stres kerja. Pegawai pria dan wanita memiliki hak yang sama untuk dipilih dalam menempati posisi tertentu. Keputusan atasan dalam penempatan itu harus diprioritaskan dengan penilaian secara objektif yaitu memperhitungkan hasil kerja dan loyalitas terhadap institusi.

Perbedaan tingkat pendidikan juga menyebabkan terdapat perbedaan persepsi mengenai cara berpikiran konstruktif di kalangan pegawai DKK Bogor. Menyingkapi hal itu maka pihak atasan atau manajemen Dinas Kesehatan Kota Bogor perlu mempertimbangkan kesesuaian tingkat pendidikan dengan posisi yang ditawarkan dalam merekrut pegawai baru. Hal ini akan berpengaruh pada kesiapan pegawai baru dalam menyesuaikan diri dengan pekerjaannya. Latar belakang pendidikan yang sesuai akan membantu pegawai baru dalam menanggung beban pekerjaan yang diberikan. Semakin cepat pegawai baru dalam beradaptasi dengan pekerjaan dan lingkungan kerja, maka stres kerja dapat dihindari seminimal mungkin.

Selain itu terdapat perbedaan persepsi juga berdasarkan tingkatan usia terhadap cara berpikiran konstruktif. Hal ini berkitan dengan cara komunikasi antara atasan dan bawahan di Dinas Kesehatan Kota Bogor. Perbedaan usia cenderung mempengaruhi cara komunikasi atasan terhadap pegawai berusia tua dan muda. Pihak pimpinan perlu membedakan cara komunikasi terutama dalam memberikan tugas terhadap pegawai berbeda usia. Perbedaan persepsi dalam menerjemahkan tugas atau pekerjaan yang diberikan dapat disebabkan oleh perbedaan kemampuan dalam menggunakan peralatan teknologi yang semakin berkembang, seperti penggunaan software pada komputer. Untuk pegawai berusia muda akan lebih terbiasa dengan perkembangan teknologi tersebut, sebaliknya pada pegawai berusia lebih tua, pihak pimpinan harus lebih bersabar dalam menjabarkan perintah yang berhubungan dengan penggunaan alat-alat berteknologi canggih. Kesabaran ini diperlukan untuk menghindari terjadinya kesenjangan sikap diantara kedua kelompok pegawai tersebut. Jika hal ini dapat diterapkan oleh pihak pimpinan di Dinas Kesehatan Kota Bogor, maka kondisi stres akibat terjadinya kesenjangan tersebut dapat dihindari. Selain itu pihak pimpinan juga dapat menanamkan sikap selalu berpikiran positif pada

97

bawahannya terkait dengan pekerjaan yang dibebankan. Khususnya pegawai berusia tua akan lebih percaya diri dalam mengerjakan tugas-tugas yang menggunakan peralatan dengan teknologi yang lebih tinggi jika sebelumnya dilakukan sosialisasi pada perubahan teknologi tersebut

Dalam dokumen 5 HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 43-49)