BAB IV HASIL PENELITIAN
B. Analisis Perhitungan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21
Berdasarkan self assessment maka perusahaan diberi kepercayaan dan tanggung jawab untuk menghitung, memotong, menyetor dan melaporkan besarnya jumlah pajak yang harus dipotong dan disetorkan atas penghasilan orang pribadi sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan.
Perusahaan menghitung Pajak Penghasilan Pasal 21 untuk tahun 2009 dengan cara perhitungan pajak penghasilan pasal 21 masa tahunan adalah pajak penghasilan pasal 21 dalam perhitungannya, tunjangan, uang lembur, gratifikasi, jasa produksi, THR, diperhitungkan kedalam penghasilan bruto untuk menghitung beberapa pajak penghasilan pasal 21 tahunan.
Perhitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 mulai bulan Januari sampai dengan bulan bulan Desember 2009 untuk tahun takwim 2009 dapat dilihat pada tabel 1 perhitungan pajak penghasilan pasal 21 dengan metode yang digunakan dalam perhitungan pajak penghasilan pasal 21 terutang yang ditanggung oleh karyawan yang dilakukan PT. (Persero) Pelabuhan Indonesia I Medan atas penghasilan karyawan sepanjang tahun 2009 adalah sebagai berikut (data di lampirkan).
1. Drs. Hari Sutanto
Gaji Pokok (Rp. 39.058.300 x 12) Rp. 468.700.000,- Tunjangan lainya, uang lembur Rp.223.000.000,- Tantiem, bonus, gratifikasi, jasa produksi, THR
Penghasilan Bruto setahun Rp. 975.750.000,- Rp. 284.050.000,-
Pengurangan:
Biaya jabatan (
Penghasilan Neto setahun Rp. 969.750.000,- Rp. 6.000.000,-)
PTKP setahun (K/2) (Rp.
19.800.000,-Penghasilan Kena Pajak setahun Rp. 949.950.000,- )
PPh Pasal 21 terutang setahun
5% x Rp. 50.000.000,- = Rp. 2.500.000,- 15% x Rp. 200.000.000,- = Rp. 30.000.000,- 25% x Rp. 250.000.000,- = Rp. 62.500.000,- 30% x Rp. 449.950.000,- = PPh Pasal 21 terutang Rp. 229.985.000,- Rp. 134.985.000,-
PPh yang kurang setor
PPh Pasal 21 yang kurang setor NIHIL
RP. 229.985.000,-
Analisa 1 :
Drs. Hari Sutanto adalah Direktur Utama dari PT. (Persero) Pelabuhan Indonesia I Medan, dengan status menikah dan memiliki dua anak. Hari dikenakan biaya jabatan sebesar Rp. 6.000.000,- setahun. Perhitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 yang dipotong perusahaan telah sesuai dengan ketentuan pajak yang berlaku.
2. Indra Pamulihan, SE
Gaji Pokok (Rp. 3.753.791,083,- x 12) Rp. 45.054.493,- Tunjangan, uang lembur, dan sebagainya Rp. 27.348.000,- Tantiem, bonus, gratifikasi, jasa produksi, THR
Penghasilan Bruto setahun Rp. 118.325.032,- Rp. 45.832.539,-
Pengurangan:
Biaya jabatan (Rp. 5.911.752,-)
Iuran pensiun (
Penghasilan Neto setahun Rp.111.713.248,- Rp. 610.032,-)
PTKP setahun (K/1) (Rp.
18.480.000,-Penghasilan Kena Pajak setahun Rp. 93.233.248,- )
PPh Pasal 21 terutang setahun
5% x Rp. 50.000.000,- = Rp. 2.500.000,- 15% x Rp. 41.874.000,- =
PPh Pasal 21 terutang
Rp. 6.281.100,-
PPh yang telah disetor Rp. 8.781.100,- Rp. 8.781.100,-
PPh Pasal 21 yang kurang setor NIHIL
Analisa 2 :
Indra Pamuliha SE, adalah karyawan staf biro keuangan dari PT. (Persero) Pelabuhan Indonesia I Medan dengan status menikah dan memiliki satu anak. Indra membayar iuran pensiun sebesar Rp. 610.032,-. Perhitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 yang dipotong perusahaan atas penghasilan Indra telah sesuai dengan ketentuan pajak yang berlaku.
3. Sri Rahayu, SE
Gaji Pokok (Rp.2.849.166,917,- x 12) Rp. 34.190.003,- Tunjangan, uang lembur, dan sebagainya Rp. 21.236.800,- Tantiem, bonus, gratifikasi, jasa produksi, THR
Penghasilan Bruto setahun Rp. 92.389.381,- Rp. 36.962.578,-
Pengurangan:
Biaya jabatan (Rp. 4.619.469,-)
Iuran pensiun (
Penghasilan Neto setahun Rp. 87.017.850,- Rp. 752.062,-)
PTKP setahun (TK/0) (Rp.
15.840.000,-Penghasilan Kena Pajak setahun Rp. 71.177.850,- )
PPh Pasal 21 terutang setahun
5% x Rp. 50.000.000,- = Rp. 2.500.000,- 15% x Rp. 21.874.000,- =
PPh Pasal 21 terutang Rp. 5.676.550-
Rp. 3.176.550,-
PPh yang telah disetor
PPh Pasal 21 yang kurang setor NIHIL
Rp. 5.676.550,-
Analisa 3 :
Sri Rahayu merupakan karyawan staf keuangan dari PT.(Persero) Pelabuhan Indonesia I Medan. Sri Rahayu membayar iuran pensiun sebesar Rp. 752.062,- Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) untuk Sri Rahayu digabungkan dengan pajak suami, sehingga hanya ada PTKP untuk wajib pajak. Perhitungan Pajak
Penghasilan Pasal 21 yang dipotong perusahaan atas penghasilan Sri Rahayu selaku karyawan telah sesuai dengan ketentuan pajak berlaku.
4. Santi Saptari
Gaji Pokok (Rp. 3.514.281,- x 3 ) Rp. 10.542.843,- Tunjangan, uang lembur, dan sebagainya Rp. 6.855.540,- Tantiem, bonus, gratifikasi, jasa produksi, THR
Penghasilan Bruto setahun Rp. 21.101.383,- Rp. 3.703.000,-
Pengurangan:
Biaya jabatan (Rp. 1.055.069,-)
Iuran pensiun (
Penghasilan Neto setahun Rp. 19.864.693,- Rp. 181.621,-)
Pengh. Neto masa sebelumnya utk peg. Pindahan Rp. 67.332.780,-
PTKP setahun (TK/0) (Rp.
15.840.000,-Penghasilan Kena Pajak setahun Rp.67.397.473,- )
PPh Pasal 21 terutang setahun
5% x Rp. 50.000.000,- = Rp. 2.500.000,- 15% x Rp.17.397.473,- =
PPh Pasal 21 terutang Rp. 5.877.550,-
Rp. 3.377.660,-
PPh yang telah disetor
PPh Pasal 21 yang kurang setor NIHIL
Analisa 4 :
Santi Saptari adalah karyawan staf hukum dari PT. (Persero) Pelabuhan Indonesia I Medan dengan status menikah dan memiliki satu anak. Santi Saptari merupakan karyawan mutasi dan memiliki periode kerja tiga bulan, sehingga perhitungan Pajak Penghasilannya di akumulasi dengan periode kerja sebelum mutasi. Santi membayar iuran pensiun sebesar Rp. 181.621,-. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) untuk Santi digabung dengan pajak suami, sehingga hanya ada PTKP untuk wajib pajak saja. Perhitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 yang dipotong perusahaan atas penghasilan santi telah sesuai dengan ketentuan pajak berlaku.
5. Kuswoyo, SE
Gaji Pokok (Rp. 1.915.150,- x 12) Rp. 22.981.739,- Tunjangan, uang lembur, dan sebagainya Rp. 19.304.240,- Tantiem, bonus, gratifikasi, jasa produksi, THR
Penghasilan Bruto setahun Rp. 66.605.899,- Rp. 24.319.921,-
Pengurangan:
Biaya jabatan (Rp. 3.330.295,-)
Iuran pensiun (
Penghasilan Neto setahun Rp. 62.795.565,- Rp. 480.039,-)
PTKP setahun (K/3) (Rp.
21.120.000,-Penghasilan Kena Pajak setahun Rp. 41.675.565,- )
PPh Pasal 21 terutang setahun
5% x Rp. 41.675.565,- = Rp. 2.083.750,-
PPh yang telah disetor
PPh Pasal 21 yang kurang setor NIHIL
Rp. 2.083.750,-
Analisa 5 :
Kuswoyo, SE adalah karyawan staf biro hokum dari PT.(Persero) Pelabuhan Indonesia I Medan dengan status menikah dengan empat anak. Kuswoyo membayar iuran pensiun sebesar Rp. 480.039,-. Penghasilan Tidak Kena Pajak untuk Kuswoyo yang diperhitungkan adalah untuk wajib pajak, kawin, istri, tanggungan tiga anak. Perhitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 yang dipotong perusahaan atas penghasilan Kuswoyo selaku karyawan telah sesuai dengan ketentuan pajak yang berlaku.
6. Susilawati
Gaji Pokok (Rp. 2.568.170,- x 12) Rp. 30.817.971,- Tunjangan, uang lembur, dan sebagainya Rp. 20.357.560,- Tantiem, bonus, gratifikasi, jasa produksi, THR
Penghasilan Bruto setahun Rp. 84.390.450,- Rp. 33.214.920,-
Pengurangan:
Biaya jabatan (Rp. 4.219.523,-)
Iuran pensiun (
Penghasilan Neto setahun Rp. 79.626.065,- Rp. 544.863,-)
PTKP setahun (K/2) (Rp.
19.800.000,-Penghasilan Kena Pajak setahun Rp. 59.826.065,- )
PPh Pasal 21 terutang setahun
15% x Rp. 9.826.065,- = Rp. 1.473.900,-
PPh Pasal 21 terutang Rp. 3.973.900,-
PPh yang telah disetor
PPh Pasal 21 yang kurang setor NIHIL
Rp. 3.973.000,-
Analisa 6 :
Susilawati adalah karyawan staf biro logistik dari PT. (Persero) Pelabuhan Indonesia I Medan dengan status menikah dan memiliki dua anak. Susilawati membayar iuran pensiun sebesar Rp. 544.863,-. Bedasarkan surat keterangan Pemda tempat Susilawati bertempat tinggal diketahui bahwa suami Susilawati telah meninggal. Sehingga Susilawati memiliki tanggungan yang harus diperhitungkan. Perhitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 yang dipotong perusahaan atas penghasilan Susilawati selaku karyawan telah sesuai dengan ketentuan pajak berlaku.