BAB II TINJAUAN PUSTAKA
F. Analisis Permohonan Kredit
Berdasarkan pendekatan teknis, antara bank yang satu bisa berbeda dengan bank yang lainnya dalam hal menganalisis permohonan kredit calon debitur, namun hakekatnya dasar dan tujuan analisis sama diantara bank-bank tersebut.
Pada umumnya langkah yang dilakukan bank sampai dengan menganalisis permohonan kredit menurut Abdullah (2005:90) sebagai berikut :
20
1. Permohonan kredit
Tahap pertama dalam proses pemberian kredit adalah pengajuan permohonan kredit oleh calon debitur. Permohonan ini bisa diajukan secara tertulis tetapi dalam praktiknya lebih banyak dilakukan secara lisan. Pada tahapan ini bank (account office), berkenalan dengan calon debitur, terutama apabila calon debitur tersebut bukan merupakan nasabah bank.
Pada kontak awal ini masing-masing pihak saling berkenalan. Calon debitur mengemukakan maksudnya secara sekilas. Apabila calon debitur sama sekali baru bagi bank, ia menceritakan secara singkat usahanya (apabila ia seorang pengusaha) atau tentang pekerjaannya (apabila ia seorang karyawan). Pada saat ini juga calon debitur mengajukan jumlah kredit yang ia ingin peroleh dari bank serta tujuannya.
2. Pengumpulan data dan pengamatan jaminan
Apabila permohonan kredit di nilai layak maka pihak bank dalam hal ini petugas Account officer (AO) akan melakukan pengumpulan data lapangan baik menyangkut data pribadi maupun reputasi dan hal-hal lain yang berkaitan dengan bisnis calon debitur, antara lain :
a. Identitas calon debitur
b. Bidang usaha, lokasi, dan lama usaha
c. Daftar supplier (seperti nama dan alamat) untuk usaha tersebut dan sistem pembelian, apakah pembelian dilakukan secara tunai (cash) atau secara kredit. Apabila pembelian dilakukan dengan sistem kredit, bagaimana kebijakan kredit tersebut (sistem pembayaran).
21
d. Data keuangan seperti omset, laba dan lain-lain. Apabila ada, AO (account officer) akan meminta laporan keuangan calon debitur (baik yang telah di
audit atau yang belum) meliputi laporan rugi atau laba neraca untuk memperoleh gambaran mengenai struktur keuangan calon debitur.
e. Apabila ada, AO (account officer) juga akan meminta fotokopi rekening koran beberapa bulan terakhir. Apabila calon debitur memiliki fasilitas kredit di bank lain, ia juga akan mencari tahu tentang kondisi kredit tersebut seperti jenis kredit, jumlah fasilitas, suku bunga, dan kondisi lainnya.
f. Untuk jumlah kredit yang besar umumnya dimintakan suatu studi kelayakan (feasibility study) untuk mengetahui kemungkinan keberhasilan usaha.
Untuk calon debitur yang merupakan seorang karyawan murni tentu saja data yang dikumpulkan tidak akan sekompleks seperti yang diuraikan di atas, untuk karyawan, biasanya data yang dikumpulkan adalah:
a. Nama perusahaan tempat ia bekerja, lamanya ia bergabung dengan perusahaan tersebut, serta jabatan calon debitur.
b. Besarnya penghasilan per bulan yang biasanya dibuktikan dengan surat keterangan gaji.
c. Sumber dan jumlah penghasilan tambahan apabila ada d. Jumlah tanggungan seperti jumlah anak.
e. AO (account officer) juga perlu mengetahui apakah karyawan tersebut memiliki kredit yang lain. Hal ini perlu diketahui karena umumnya kredit yang diminta oleh karyawan adalah kredit konsumsi (seperti KPR) sehingga
22
jika ia memiliki kredit ditempat lain (yang dilakukan secara cicilan), hal tersebut langsung mempengaruhi kemampuan mengangsur kredit.
3. Analisis kredit
Tahap yang paling menentukan dalam analisis dan pengambilan keputusan pemberian kredit adalah penentuan layak atau tidak permohonan kredit calon debitur. Disini pihak bank, khususnya AO (account officer) dituntut objektif dan konsisten atas hasil analisis dengan berpegang pada prinsip-prinsip kelayakan kredit.
Menurut Arthesa dan handiman (2006:171), mengemukakan bahwa prinsip dasar dalam menganalisa kredit yang lazim dikenal dengan prinsip 5C, yaitu sebagai berikut :
a. Character
Analisis watak dari peminjam sangat penting untuk diperhatikan. Hal ini karena kredit adalah kepercayaan yang diberikan kepada peminjam sehingga peminjam haruslah pihak yang benar-benar dapat dipercaya dan beritikad baik untuk mengembalikan pinjaman.
b. Capacity
Tujuan analisis kemampuan adalah untuk mengukur kemampuan membayar.
Kemampuan tersebut dapat diuraikan ke dalam kemampuan manajerial dan kemampuan finansial.
23
c. Capital
Analisa modal ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam memikul beban pembiayaan yang dibutuhkan dan kemampuan dalam menanggung beban risiko yang mungkin dialami.
d. Collateral
Jaminan hendaknya melebihi jumlah kredit yang akan diberikan. Jaminan juga harus diteliti keabsahan dan kesempurnaannya.
e. Condition of Economy
Dalam menilai kredit hendaknya juga dinilai kondisi ekonomi, sosial, dan politik yang ada sekarang dan prediksi untuk dimasa yang akan datang.
Dengan melihat penjelasan di atas, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa setidaknya kredit diberikan kepada debitur bank harus mengadakan suatu proses yang namanya analisis kredit. Tujuan analisis ini adalah agar bank yakin bahwa kredit yang diberikan benar-benar aman.
Sebagaimana dikemumkakan Dendawijaya (2005:91), bahwa “analisis kredit adalah kajian yang dilakukan untuk mengetahui kelayakan dari suatu permasalahan kredit”. Melalui analisa kredit ini, dapat diketahui apakah usaha nasabah layak dan dapat menguntungkan serta dapat dilunasi tepat pada waktunya. Sehingga pengendalian dapat berfungsi dan tujuan bank dapat tercapai, yaitu menghindari terciptanya kredit bermasalah.
Selain itu, sehubungan dengan rumusan masalah yang akan dibahas sebelumnya. Berikut ini dipaparkan pemberian kredit menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 7 Tahun 1992 pasal 11 :
24
1. Bank Indonesia menetapkan ketentuan mengenai batas maksimum pemberian kredit, pemberian jaminan, penempatan investasi surat berharga, atau hal lain yang serupa, yang dapat dilakukan oleh bank kepada peminjam atau sekelompok yang terkait termaksud kepada perusahaan-perusahaan dalam kelompok yang sama dengan bank yang bersangkutan.
2. Batas maksimum sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) tidak boleh melebihi 30% (tiga puluh perseratus) dari modal bank yang sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
3. Bank Indonesia menetapkan ketentuan mengenai batas maksimum pemberian kredit, pemberian jaminan, penempatan investasi surat berharga, atau hal lain yang serupa yang dapat dilakukan oleh bank kepada:
a. Pemegang saham yang memiliki 10% atau lebih dari modal disektor bank b. Anggota dewan komisaris
c. Anggota direksi
d. Keluarga dari pihak sebagaimana dimaksudkan dalam huruf a, huruf b, dan huruf c
e. Pejabat bank lainnya, serta
f. Perusahaan-perusahaan yang di dalamnya terdapat kepentingan dari pihak-pihak sebagaimana dimaksudkan dalam huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, dan huruf e
4. Batas maksimum sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (3) tidak boleh melebihi 10% dari modal bank yang sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
25
5. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) dan ayat (3) wajib dilaporkan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.