• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Analisis Sebaran Lokasi SMP Negeri Kaitannya Dengan

2. Analisis Persyaratan Penerimaan Siswa Baru

Ketika kita membahas persyaratan penerimaan siswa baru di SMP Negeri maka terkait dengan aksesibilitas pendidikan siswa untuk bersekolah di SMP Negeri. Persyaratan penerimaan siswa baru pada tahun pelajaran 2013-2014 memiliki kriteria-kriteria yang telah ditetapkan oleh dinas pendidikan daerah. Persyaratan penerimaan siswa baru di tentukan dalam sebuah proses yang disebut dengan penerimaan peserta didik baru (PPDB). Proses penerimaan siswa baru terdapat tahap seleksi berdasarkan kriteria yang ditentukan. Jadi, penduduk yang

baru lulus SD harus melalui proses PPDB yang akan menentukan diterima di SMP Negeri yang diinginkan.

Didalam mengkaji sebaran lokasi SMP Negeri kaitannya dengan aksesibilitas pendidikan di Kecamatan Ciputat Timur, ada beberapa garis besar yang dapat kita ambil dengan menganalisis PPDB sebagai tahapan yang dilalui siswa untuk diterima di SMP Negeri Kecamatan Ciputat Timur dilihat dari persyaratan siswa, berdasarkan data dokumentasi persyaratan dan pelaksanaan penerimaan peserta didik baru tahun pelajaran 2013/2014 bahwa kuota yang ditetapkan oleh dinas pendidikan tahun 2013/2014 menerima calon peserta didik melalui empat jalur, yaitu kuota jalur reguler/umum minimal sebanyak 65%, kuota online jalur prestasi maksimal sebanyak 10%, jalur luar Kota Tangerang Selatan maksimal sebanyak 5% dan kuota jalur ekonomi kurang mampu maksimal sebanyak 20% dari kuota daya tampung yang telah ditetapkan. Keempat jalur tersebut dalam pelaksanaannya bahwa jalur reguler/umum dan jalur luar Kota Tangerang Selatan dalam tahap seleksi mengandalkan rangking hasil nilai ujian nasionala (UN), jalur prestasi dengan menunjukan bukti prestasi akademik dan/atau non akademik minimal setingkat Kabupaten/Kota, ketiga jalur tersebut ternyata masih jauh dari kemudahan aksesibilitas mendapatkan pendidikan.

Kemudian jalur ekonomi kurang mampu yang diperuntukan keluarga kurang mampu dengan persyaratan menunjukkan bukti surat keterangan tidak mampu (SKTM) dari RT dan diketahui oleh Kelurahan (kuota ini khusus peserta didik asal Kota Tangerang Selatan dan atau bertempat tinggal di Tangerang Selatan), sehingga orang tua siswa hanya dengan menunjukan SKTM saja dapat diterima di SMP Negeri. Ketua Panitia penerimaan siswa baru di SMP Negeri 10,

Sukirno, S.Pd mengatakan bahwa “kalo jalur SKTM kebijakan dinas, kita hanya menerima, dia punya SKTM, sekolah berhak menerima”.19

Realitasnya kuota yang di sediakan untuk jalur ekonomi kurang mampu melebihi kuota yang disediakan sehingga harus melalui seleksi yang berdasarkan jarak terdekat ke sekolah dengan mempertimbangkan nilai UN, usia dan waktu

19

Sukirno, S.Pd, Ketua Panitia / Wakasek Humas SMP Negeri 10, Wawancara Pribadi, 04 Maret 2014.

daftar. Ketua Panitia Penerimaan Siswa Baru di SMP Negeri 13, Ade, S.Pd mengatakan bahwa “pertama gini yang terdekat dulu, misalkan tadi walaupun Kecamatan Timur dari Rengas itu mulai terkalahkan dengan yang jarak, kalo itu, kalo itu masih penuh baru ke NIM”.20

Pertimbangan jarak terdekat telah mengacu kepada batas maksimum jumlah penduduk yang dilayani, area pelayanan fasilitas satuan pendidikan SMP dan MTS dan memiliki keterkaitan terhadap sebaran lokasi SMP negeri dengan sebaran penduduk usia sekolah, namun dicantumkannya pertimbangan nilai UN sebagai tolak ukur dalam tahapan seleksi memberikan ruang yang terbatas dalam aksesibilitas siswa untuk mendapatkan pendidikan.

Para siswa dari 30 siswa yang diwawancara bahwa 23 siswa mendapatkan NEM (nilai ebtanas murni) yang disebut saat ini hasil ujian nasional tidak mencukupi untuk bersekolah di SMP Negeri, sehingga tidak diterima di SMP Negeri dan terdapat siswa yang tidak ikut mendaftar karena nilainya sudah tidak mencukupi. Bagi para siswa yang belum berhak menggunakan SKTM maka harus bersaing dengan jalur umum yaitu melalui seleksi SKHUN. Terdapat 4 orang siswa yang bersekolah di luar Kecamatan Ciputat Timur lebih memilih SMP Negeri di Jakarta dengan mempertimbangkan kualitas, fasilitas, sekolah gratis dan terkendala dengan ijzah SD saat bersekolah di Jakarta. Kemudian terdapat 3 siswa yang memlih MTS karena keinginan sendiri, orangtua dan dari sekolah dasar sudah madrsah ibtidaiyah. Wawancara ini dari 30 penduduk Kecamatan Ciputat Timur berusia 13-15 tahun yang tidak bersekolah di SMP Negeri Kecamatan Ciputat Timur diklasifikasikan menjadi dua kelompok, kelompok pertama 15 siswa bersekolah di dalam Kecamatan, dan 15 siswa yang bersekolah di luar Kecamatan.

Hasil dari kelompok pertama, terdapat keinginan siswa bersekolah di SMP Negeri di Kecamatan Ciputat Timur dengan pertimbangan dekat dengan tempat tinggal, sehingga memberikan kemudahan jangkauan dan terdapat pandangan di

20

Ade, S.Pd, Ketua Panitia / Wakasek Humas SMP Negeri 13, Wawancara Pribadi, 04 Maret 2014.

masyarakat bahwa sekolah yang ada merupakan sekolah yang bermutu, dan biaya sekolah yang terjangkau bahkan gratis dibandingkan sekolah lain. Namun keinginan mereka untuk bersekolah di SMP Negeri terkendala oleh persyaratan PPDB yaitu hasil nilai ujian nasional (UN). Alia mengungkapkan tidak ikut mendaftar melalui proses PPDB karena mendapatkan kesulitan untuk bersekolah

di SMP Negeri bahwa “karena nilai hasil ujian nasional kurang”.21

Perihal ini diperkuat oleh data dokumentasi pendaftaran PPDB secara Real Time On Line tahun pelajaran 2013/2014 yaitu melalui persyaratan nilai hasil ujian nasional sebagi seleksi diterima di SMP Negeri. Para siswa dari berbagai wilayah bahwa di SMP Negeri 2 yang mendaftar sebanyak 688 siswa, sedangkan yang diterima 234 siswa, SMP Negeri 3 yang mendaftar sebanyak 912 siswa, sedangkan yang diterima 226 siswa, SMP Negeri 10 yang mendaftar sebanyak 415 siswa, sedangkan yang diterima 164 siswa, dan SMP Negeri 13 yang mendaftar sebanyak 306 siswa, sedangkan yang diterima 203 siswa. Terlihat jelas bahwa 2617 penduduk usia SMP mendaftarkan diri di SMP Negeri Kecamatan Ciputat Timur melalui jalur Real Time On Line, hanya 827 siswa yang diterima di keempat sekolah tersebut.

Pada kelompok dua, terdapat siswa yang bersekolah di SMP Negeri luar kecamatan disebabkan karena pertimbangan kualitas sekolah dari segi prestasi, fasilitas di Jakarta lebih baik dan biaya sekolah yang gratis. Umumnya mereka yang bersekolah di Jakarta karena ijazah SD mereka di Jakarta sehingga untuk mendaftar di Tangerang Selatan terhambat dengan administrasi, akhirnya para siswa memanfaatkan kuota luar wilayah. Perihal ini disampaikan oleh Fauzan Firdaus pertimbangannya dari kualitas sekolah, yaitu “karena sekolahnya sebagai unggulan di provinsi Jakarta”.22

Perihal lain disampaikan Wafika Aski Lubis lebih

mempertimbangkan fasilitas bahwa “udah didaftarin sama guru SD udah masuk di

21

Alia, penduduk usia sekolah bertempat tinggal di Rempoa, Kecamatan Ciputat Timur, tidak bersekolah di SMP Negeri, Wawancara Pribadi, 09 Januari 2014.

22

Fauzan Firdaus, penduduk usia sekolah bertempat tinggal di Pisangan, Kecamatan Ciputat Timur, bersekolah di luar Kec. Ciputat Timur, Wawancara Pribadi, 10 Februari 2014.

one, tapi enggak di ambil soalnya udah diterima di Jakarta, kalo Jakarta gimana yah, udah bagus ja fasilitasnya”.23

Selain itu, terdapat juga siswa yang memilih MTs Negeri di luar Kecamatan Ciputat Timur karena ingin melanjutkan sekolah berbasis agama dari jenjang Madrasah ke Tsanawiyah dan tidak terdapat MTs Negeri di wilayah Kecamatan Ciputat Timur. Putri Rizki Amalia menyampaikan memlih MTS

bahwa “enggak berminat masuk SMP Negeri karena pengen jaa masuk MTS Negeri, karena enggak ada di Ciputat Timur pilih di luar”.24 Kemudian, terdapat siswa yang bersekolah swasta di luar wilayah Kecamatan Ciputat Timur karena terkendala oleh persyaratan PPDB yaitu hasil nilai ujian nasional (UN) tidak mencukupi. Perihal ini disampaikan oleh Siti Marisa salah satu siswa yang bersekolah di luar Kecamatan Ciputat Timur bukan negeri bahwa “soalnya NEM nya kurang jadi saya gak diterima di Negeri, jadi saya pilih di sini”.25

Para siswa di Kecamatan Ciputat Timur memiliki harapan dan keinginan untuk dapat bersekolah di SMP Negeri Kecamatan Ciputat Timur, baik dari aspek keberadaan sekolah dekat dengan rumah dan bemutu, para alumni yang telah berhasil dalam proses pembelajaran di sekolah, sehingga memberikan daya tarik, dan biaya yang gratis di bandingkan sekolah swasta. Berdasarkan hasil wawancara beberapa panitia penerimaan siswa baru dari keempat sekolah. Sesuai yang dikatakan oleh Andos Kostaman, S.Pd (Ketua Panitia Penerimaan Siswa Baru di SMP Negeri 2), Indah Puji Rahayu, S.Pd. M.Si (Ketua Panitia Penerimaan Siswa Baru di SMP Negeri 3), Sukirno, S.Pd (Ketua Panitia Penerimaan Siswa Baru di SMP Neger 10) dan Ade Solihin, S.Pd (Ketua Panitia Penerimaan Siswa Baru di SMP Negeri 13) mengatakan bahwa sekolah sangat memperhatikan input siswa dan nilai merupakan hal yang prioritas untuk bersekolah di SMP Negeri. Perihal ini

23

Wafika Aski Lubis, penduduk usia sekolah bertempat tinggal di Pondok Ranji, Kecamatan Ciputat Timur, bersekolah di luar Kec. Ciputat Timur, Wawancara Pribadi, 07 Maret 2014.

24

Putri Rizki Amalia, penduduk usia sekolah bertempat tinggal di Pisangan, Kecamatan Ciputat Timur, bersekolah di luar Kec. Ciputat Timur, Wawancara Pribadi, 10 Februari 2014.

25

Siti Marisa, penduduk usia sekolah bertempat tinggal di Pondok Ranji, Kecamatan Ciputat Timur, bersekolah di luar Kec. Ciputat Timur, Wawancara Pribadi, 11Februari 2014.

memperkuat bahwa pertimbangan nilai UN sebagai tolak ukur dalam tahapan seleksi memberikan ruang yang terbatas dalam aksesibilitas siswa untuk mendapatkan pendidikan.

Padahal negara menjamin setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan artinya setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan tanpa diskriminasi, yaitu membedakan kemampuan kognitif, ekonomi, atau kekurangan dalam perkembangan ataupun pertumbuhan peserta didik. Jenjang pendidikan SMP merupakan satu kesatuan program wajib belajar sembilan tahun, maka para penduduk usia sekolah 13-15 tahun yang melanjutkan dari jenjang sekolah dasar dapat bersekolah di SMP Negeri sampai lulus. Berdasarkan standar sarana dan prasarana pendidikan tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 24 Tahun 2007 batas maksimum jumlah penduduk yang dilayani, dan area pelayanan fasilitas satuan pendidikan SMP dan MTS bahwa standar jarak tempuh bagi peserta didik yang berjalan kaki maksimum 6 km melalui lintasan yang tidak membahayakan. Realitasnya ketentuan penerimaan siswa baru di Kecamatan Ciputat Timur secara real time pertimbanagan yang mendominasi adalah nilai hasil ujian nasional dan secara online berdasarkan hasil nilai ujian nasional. Itu artinya hanya mengedepankan faktor kognitif. Para siswa dengan kemampuan kognitif tinggi atau hasil nilai ujiannya tinggi akan bersekolah di sekolah yang berkualitas, maka sekolah yang mendapatkan input tersebut setiap tahunya akan menjadikan sekolah pilihan pertama unggul di Kecamatan Ciputat Timur. Sedangkan sekolah pilihan kedua atau ketiga akan menerima para siswa yang nilai hasil ujiannya relatif rendah. Perihal ini akan menimbulkan diskriminasi antara sekolah dan kualitas sekolah yang tidak merata. Begitu juga mobilitas siswa dan orang tua untuk menuju sekolah akan menuju ke berbagai arah yang menyebabkan keramaian lalu lintas dan kemacetan.

Berdasarkan penjelasan dia atas, bahwa sebaran lokasi SMP Negeri terdapat keterkaitan yang belum maksimal dengan aksesibilitas untuk bersekolah di SMP Negeri dengan memperhatikan persyaratan penerimaan siswa baru, karena yang menjadi penentuan akhir sebagian besar berdasarkan nilai hasil ujian nasional.

BAB V

KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan analisis pada bab sebelumnya, dapat dikemukakan kesimpulan mengenai analisis sebaran lokasi SMP Negeri kaitannya dengan aksesibilitas mendapatakan pendidikan di Kecamatan Ciputat Timur dalam penelitian ini bahwa :

1. Sebaran lokasi SMP Negeri belum dapat terwujud secara merata di wilayah Kecamatan Ciputat Timur. Hal ini terjadi dikarenakan sebaran jumlah sekolah menengah pertama negeri yang ada belum dapat mengikuti batas minimal kuantitas penduduk yang dilayani. Perihal yang sama ditinjau dari pola tersebarnya SMP Negeri bahwa sekolah yang ada berpola gerombol sehingga area pelayanan fasilitas satuan pendidikan mendekati wilayah kecamatan lain sebagai skala pelayanan kota. Berdasarkan aspek jangkauan pelayanan SMP Negeri juga belum dapat dijangkau dengan baik karena hanya dari waktu tempuh bagi siswa yang bertempat tinggal di Kecamatan Ciputat Timur saja yang sudah cukup baik sedangkan dari tingkat situasi dan kondisi jalan sebagai sarana penghubung transportasi, serta waktu tempuh siswa yang bertempat tinggal di luar Kecamatan Ciputat Timur masih belum baik karena belum sepenuhnya memenuhi standar atau ketentuan yang berlaku.

2. Aksesibilitas mendapatkan pendidikan dalam hal ini SMP Negeri bagi penduduk usia sekolah menengah pertama yang bertempat tinggal di Kecamatan Ciputat Timur masih terbatas untuk bersekolah di SMP Negeri. Hal ini disebabkan oleh dua faktor, yaitu persyaratan penerimaan siswa di keempat sekolah bahwa nilai hasil ujian nasional sebagai penentu yang mendominasi dengan kuota yang besar, dan kedua lokasi sekolah mendekati wilayah kecamatan lain sebagai skala pelayanan kota yang memiliki daya tarik kepada siswa di wilayah lain, sehingga terjadi proses kompetitif. Padahal kebutuhan di wilayah Kecamatan Ciputat Timur

belum dapat terpenuhi dengan baik dan minat penduduk usia sekolah untuk bersekolah di SMP Negeri Kecamatan Ciputat Timur melebihi kuota yang disediakan.

3. Sebaran lokasi SMP Negeri kaitannya dengan aksesibilitas mendapatkan pendidikan di Kecamatan Ciputat Timur bahwa sebaran lokasi SMP Negeri terdapat keterkaitan dengan aksesibilitas mendapatkan pendidikan di Kecamatan Ciputat Timur. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat kesempatan aksesibilitas bersekolah di SMP Negeri dengan pertimbangan jarak terdekat tempat tinggal siswa sebagai persyaratan penerimaan siswa baru walaupun kuota yang disediakan untuk saat ini 20 persen melalui kuota jalur ekonomi kurang mampu. Hasil wawancara secara langsung kepada siswa yang bersekolah di SMP Negeri Kecamatan Ciputat Timur sebanyak 23 siswa, beragam pertimbangan dalam memilih sekolah, terdapat 11 siswa yang menyampaikan lokasi sekolah dekat dengan rumah sebagai pertimbangan untuk bersekolah. Kemudian, pertimbangan kualitas, alumni, teman, dan orang tua juga sebagai pertimbangan memilih sekolah.

B. Implikasi

Penelitian ini telah menunjukkan bahwa sebaran lokasi SMP Negeri memiliki keterkaitan yang erat sebagai pertimbangan dalam rangka aksesibilitas penduduk usia SMP mendapatkan pendidikan di SMP Negeri Kecamatan Ciputat Timur. Dengan demikian teori lokasi yang terkait didalamnya yaitu, jarak, waktu tempuh, biaya transportasi, kondisi dan situasi jalan, menjadi pertimbangan untuk mewujudkan aksesibilitas bersekolah di SMP Negeri. Dalam hal ini juga diperkuat dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh dinas pendidikan.

Proses penerimaan siswa baru menunjukan bahwa terdapat kesempatan aksesibilitas bersekolah di SMP Negeri dengan pertimbangan jarak terdekat tempat tinggal siswa sebagai persyaratan penerimaan siswa baru walaupun kuota yang disediakan untuk saat ini terbatas, penduduk usia SMP lebih memandang

bahwa keterkaitan lokasi SMP Negeri dengan aksesibilitas mendapatkan pendidikan untuk bersekolah di SMP Negeri terdapat 11 dari 23 siswa yang diwawancara bahwa faktor jarak sekolah dekat, waktu tempuh cepat, dan mudah dijangkau berjalan kaki sebagai pertimbangan bersekolah di SMP Negeri. Lain hal dengan hasil wawancara yang dilakukan terhadap penduduk usia SMP dari luar Kecamatan Ciputat Timur, bahwa bersekolah di SMP Negeri faktor dari segi mutu, alumni dan memiliki program percepatan kelas yang menjadi minat siswa dengan biaya terjangkau, untuk faktor jarak cukup jauh, waktu tempuh lebih lama, dan menggunakan transportasi kendaraan seperti sepeda motor, angkutan atau mobil pribadi. Perihal ini mengindikasikan bahwa lokasi SMP Negeri kaitannya dengan aksesibilitas mendapatkan pendidikan lebih mudah didapatkan oleh siswa yang bertempat tinggal di Kecamatan Ciputat Timur sedangkan peluang diterima dengan pertimbangan lokasi tempat tinggal terbatas.

Implikasi terhadap aksesibilitas pendidikan oleh penduduk usia SMP yaitu lokasi sekolah yang mudah di jangkau, memberikan kenyamanan dan keamanan dengan berpedoman jarak, waktu tempuh, biaya transportasi, kondisi dan situasi jalan sebagai pelayanan optimal.

C. Saran

Mengacu pada kesimpulan yang didasarkan pada temuan penelitian, maka saran yang ditawarkan dalam analisis sebaran lokasi SMP Negeri Kaitannya dengan aksesibilitas mendapatkan pendidikan di Kecamatan Ciputat Timur adalah:

1. Dalam mewujudkan pemerataan akan fasilitas SMP Negeri di wilayah Kecamatan Ciputat Timur, hendaknya dimulai penambahan unit-unit sekolah baru yang harus dibangun pemerintah Kota Tangerang Selatan di Kecamatan Ciputat Timur dengan memprioritaskan pembangunan fasilitas di kelurahan yang paling banyak tingkat kebutuhan penduduknya dan memperhatikan jangkauan siswa. Selain itu, diperlukan juga penambahan unit-unit sekolah baru pembangunan fasilitas di setiap kecamatan yang paling banyak tingkat kebutuhan penduduknya dan memperhatikan

jangkauan siswa, karena tempat tinggal para siswa di SMP Negeri Kecamatan Ciputat Timur didominasi dari luar wilayah Kecamatan Ciputat Timur yaitu, kecamatan di Tangerang Selatan. Sehingga dengan terbangunnya fasilitas SMP Negeri nantinya akan mengurangi penduduk usia SMP lintas kecamatan sehingga penduduk pun akan lebih mudah menjangkau dan terbatasnya mobilitas siswa serta orang tua siswa yang mengantar dan menjemput anaknya.

2. Agar persyaratan penerimaan siswa baru memberikan kemudahan dalam aksesibilitas bersekolah di SMP Negeri maka seleksi penerimaan siswa baru hendaknya dilakukan berdasarkan gugus sekolah atau rayonisasi, sehingga sekolah mudah dijangkau dengan lingkungan tempat tinggal, dan SMP merupakan satu kesatuan program wajib belajar lanjutan dari SD.

3. Agar sebaran lokasi SMP Negeri memberikan pemanfaatan terhadap keberadaan SMP Negeri kaitannya dengan akasesibilitas penduduk usia SMP di Kecamatan Ciputat Timur, maka yang perlu dilakukannya adalah memberikan peluang kuota yang besar diterima di SMP Negeri bagi para penduduk usia sekolah yang tempat tinggalnya di Kecamatan Ciputat Timur. Jadi, seluruh penduduk usia SMP yang bertempat tinggal dekat dengan sekolah dengan penentuan area pelayanan pendidikan dapat mendapatkan peluang yang besar.

4. Peran serta pemerintah daerah dan pusat sebagai pengambil kebijakan sangat diperlukan. Pemerintah daerah sebagai ujung tombak peningkatan pelayanan pendidikan untuk masyarakat di daerah. Begitu juga halnya dengan lembaga pendidikan, dan masyarakat atau stakeholder pada umumnya turut serta mendukung kemudahan untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang dinginkan oleh seorang anak sehinggga tercapainya cita-cita Bangsa Indonesia yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, Abu dan Cholid Narbuka. Metodologi Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara, 2002.

Adisasmita, Rahardjo. Pengembangan Wilayah Konsep dan Teori. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2008.

Ahmadi, Abu dan Nur Uhbiyati. Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta, 1991. Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta:

Rineka Cipta, 2010. Cet. 14.

Daldjoen, N.. Geografi Baru Organisasi Keruangan dalam Teori dan Praktek. Bandung: Alumni, 1992.

Damanik, Jayadi. Perlindungan dan Pemenuhan Hak Atas Pendidikan. Jakarta: Komnas HAM, 2005.

Djojodipuro, Marsudi. Teori Lokasi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI, 1991.

Fitria, Putri. Kamus Geografi Istilah dan Penjabaranya. Bandung: Nuansa Cendekia, 2013.

Hargito. “Integrasi Sebaran Lokasi SMP dan Sebaran Permukiman Di Kota Pati,” Tesis pada Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro,

Semarang, 2009.

Herdiansyah, Haris. Metodelogi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: Salemba Humanika, 2010.

Hermawan, Iwan. Geografi Sebuah Pengantar. Bandung: Private Publishing, 2009.

Katalog BPS, Kecamatan Ciputat Timur Dalam Angka, Ciputat Timur District in Figure 2012, Cipuat Timur:BPS Tangerang Selatan, 2012.

Katalog BPS, Tangerang Selatan Dalam Angka, Tangerang Selatan District in Figure 2012, Tangerang Selatan:BPS Tangerang Selatan, 2012.

Manroe, Inda Putri. Kamus Bahasa Indonesia Lengkap. Surabaya: Gresinda Press Surabaya.

Maryati, Sri “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Preferensi Masyarakat Dalam Memilih Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) di Kota Semarang,” Tesis: pada Program Pasca Sarjana Universitas Diponogoro,

Semarang , 2009, h.1, tidak dipublikasikan

Miarsih, “Kajian Penentuan Lokasi Gedung SD-SMP Satu Atap di Kabupaten Demak,” Tesis: pada Program Pasca Sarjana Universitas Diponogoro, Semarang , 2009, tidak dipublikasikan.

Moleong, Lexy J.. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosda Karya. 2013.

Nazir, Moh. Ph.D., Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia, 2003.

Panduan Pemasyarakatan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Sesuai dengan Urutan Bab, Pasal, dan Ayat. Jakarta:Sekretariat Jenderal MPR Rim. 2010.

Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 1 Tahun 1987 tentang Penyerahan Prasarana Lingkungan, Utilitas Umum dan Fasilitas Sosial Perumahan kepada Pemerintah Daerah.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No : 24 tahun 2007, Standar Sarana dan Prasarana Untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah enengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTS), Dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA).

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia no: 19 tahun 2005, tentang standar Nasional Pendidikan, Citra Umbara: Bandung.

Porwardarminta, Wjs., Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, Cet. V, 1976.

Profil Kecamatan Ciputat Timur, Kecamatan Ciputat Timur:2012.

Purwanto, Ngalim. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1995.

Sitorus, Lambok Ford Irwan Satari, “Analisis Sebaran Sekolah Menengah Dalam Upaya Peningkatan Aksesibilitas Pendidikan Di Kota Tebing Tinggi,”

Tesis pada Program Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, Medan, 2009, h.11-12, tidak dipublikasikan.

Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif dan kualitatif Dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2012.

Sumaatmadja, Nursid. Studi Geografi Suatu Pendekatan dan Analisa Keruangan. Bandung : Alumni, 1981.

Supeno, Hadi. Menyelamatkan Anak. Jakarta: Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), 2010.

Tarigan, Robinson. Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi. Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2005.

Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 Tahun 2003 tentang UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2008 Tentang Wajib Belajar, Bandung:Citra Umbara, 2008.

Usman, Husaini, Metodolgi penelitian sosial. Jakarta: CV Pedoman Jaya, 1944. Uyoh Sadulloh, Pedagogik, Bumisiliwangi: Cipta Utama. 2007.

Willy, I Markus dan M. Dikkie. Kamus Inggris Indonesia, Indonesia Inggrs. Surabaya: Arkola.Cet. 1. 1997.

Windiarti “Kebutuhan dan Jangkauan Pelayanan Pendidikan Di Kecamatan Bandongan Kabupaten Magelang,” Tesis: pada Program Pasca Sarjana Universitas Diponogoro, Semarang, 2008, h1, tidak dipublikasikan

Yasin, Moh.. Dasar-Dasar Demografi, Jakararta: Lembaga Demografi Fakultas

Dokumen terkait