• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS POLA PEMANFAATAN RUANG TERBUKA

4.3 Analisis Pola Pemanfaatan Ruang Terbuka Publik

4.3.3 Analisis Pola Pemanfaatan Ruang Jalur Sirkulas

Pemanfaatan ruang terbuka publik kawasan sebagai jalur sirkulasi pejalan kaki merupakan jenis pemanfaatan sebagai pemenuhan akan kebutuhan ruang pejalan yang memisahkan ruang pejalan dengan ruang sirkulasi kendaraan kawasan demi meminimalisasi konflik kepentingan yang dapat mengakibatkan ketidaknyamanan pejalan kaki maupun pengguna jalan yang lain (pengendara). Namun dalam perkembangannya, ruang-ruang di tepi jalan ini mengalami pergeseran fungsi ruang menjadi lokasi aktivitas PKL, sehingga kemudian pejalan

kaki harus menjatuhkan pilihannya untuk berjalan melalui jalur lambat dan sebagian badan jalan untuk mencapai tujuan dalam pergerakannya.

Pola pemanfaatan ruang terbuka publik Kawasan Bundaran Simpang Lima sebagai ruang sirkulasi pedestrian dibentuk oleh arah pergerakan pejalan yang dipengaruhi oleh tujuan dalam melakukan perjalanannya:

1. Pemanfaatan Berdasarkan Tujuan Melakukan Perpindahan Antarbangunan Pola pemanfaatan ruang terbuka publik Kawasan Bundaran Simpang Lima dengan tujuan untuk melakukan pergerakan perpindahan antarbangunan membentuk pola ”menerus yang melingkar” dikarenakan arah pergerakan pejalan yang menerus pada sepanjang ruang trotoar di muka bangunan kawasan mengikuti pola sirkulasi utama kawasan yang membentuk loop. Pola pemanfaatan yang ”menerus” ini disebabkan oleh kontinuitas pergerakan pejalan kaki kawasan dalam melakukan perpindahan antar- bangunan formal (perdagangan modern) pada ruang-ruang trotoar sebagai ruang penghubung antaraktivitas formal kawasan. Pola pergerakan pejalan kaki yang menerus ini merupakan bangkitan dari tarikan aktivitas perdagangan dan jasa formal kawasan yang menjadi alasan pengunjung melakukan pergerakan berpindah antarbangunan.

Pergerakan pejalan yang ”menerus” ini juga dipengaruhi oleh keberadaan aktivitas PKL di sepanjang ruang trotoar kawasan yang memberi kehidupan menerus pada ruang-ruang ini. Pergerakan menerus dilakukan oleh pejalan kaki kawasan secara linier pada tepi jalan mengikuti pola jaringan jalan

utama kawasan dan memanjang menuju lokasi pencapaian tujuan pergerakan.

Pola pemanfaatan ruang yang ”melingkar” disebabkan oleh pencapaian tujuan pada bangunan perdagangan modern kawasan secara memutar. Sistem pencapaian bangunan formal (perdagangan) yang memutar ini dipengaruhi oleh sistem sirkulasi utama kawasan yang memiliki muara pada Jalan Simpang Lima (Lapangan Pancasila) dan membentuk loop, dimana dalam bentuk pencapaian yang loop ini diperlukan waktu untuk mencapainya karena harus melewati banyak persimpangan-persimpangan yang merupakan simpul-simpul bertemunya arus lalu lintas dari kelima ruas jalan kawasan pada muaranya di Jalan Simpang Lima.

2. Pemanfaatan Berdasarkan Tujuan Berbelanja pada PKL di Sepanjang Trotoar Kawasan dan Tepi Lapangan Pancasila

Pola pemanfaatan ruang terbuka publik Kawasan Simpang Lima dengan tujuan untuk berbelanja pada PKL di sepanjang trotoar kawasan, kurang lebih sama dengan pola pemanfaatan ruang dengan tujuan melakukan perpindahan antarbangunan formal kawasan yaitu membentuk pola ”menerus yang melingkar” sepanjang ruang-ruang trotoar pada muka bangunan formal kawasan mengikuti pola jaringan jalan utama kawasan. Pola pemanfaatan ruang terbuka publik oleh aktivitas PKL pada sepanjang trotoar kawasan dipengaruhi oleh penataan display berbagai jenis barang dagangan PKL yang ditata sedemikian rupa berderet secara linier pada muka bangunan dan memanjang mengikuti bentukan ruang trotoar, sehingga

mempermudah calon pembeli baik oleh pejalan kaki maupun pengguna jalan yang lain (pengendara) untuk melihat dan memilih jenis-jenis barang yang diinginkan.

Pola pemanfaatan ruang terbuka publik dengan tujuan berbelanja pada PKL yang berjualan di tepi Lapangan Pancasila, membentuk pola ”linier yang melingkar” mengkuti sistem sirkulasi utama kawasan yang membentuk loop dengan muara sirkulasi pada lapangan. Pola pemanfaatan yang linier dipengaruhi oleh penataan display barang dagangan yang ditata sedemikian rupa secara linier pada tepi Lapangan Pancasila (trotoar lapangan) berhadap- hadapan dengan sirkulasi pengunjung PKL yang berada pada tengah ruang trotoar sebagai ruang yang tersisa dari kedua sisi ruang yang digunakan oleh PKL.

Pola pemanfaatan ruang yang ”melingkar” dipengaruhi oleh bentukan ruang yang persegi membulat dengan trotoar sebagai pembingkai ruang lapangan. Pemanfaatan yang melingkar ini dibentuk oleh pergerakan pengunjung PKL yang menerus tanpa terputus pada ruang trotoar tepi Lapangan Pancasila. 3. Pemanfaatan Berdasarkan Tujuan Melakukan Aktivitas Olahraga, Rekreasi

dan Hiburan, Berbelanja Pada PKL di Tengah Lapangan Pancasila

Pola pemanfaatan ruang Lapangan Pancasila dengan tujuan untuk melakukan aktivitas olahraga, rekreasi dan hiburan, serta berbelanja pada PKL yang berjualan di tengah Lapangan Pancasila, memiliki pola pergerakan ”curvelinier”. Aktivitas-aktivitas ini cenderung dilakukan secara berkelompok mengingat daya tampung ruang lapangan yang cukup besar,

sehingga memungkinkan untuk pergerakan yang bebas dan santai dengan suasana rekreatif dengan arah pergerakan yang tidak beraturan dikarenakan tanpa adanya bentukan fisik pembatas antaraktivitas/ kegiatan.

Aktivitas olahraga yang seringkali dilakukan menempati ruang Lapangan Pancasila adalah olahraga sepak bola, dimana olahraga ini biasa dilakukan secara berkelompok dengan pergerakan yang tidak beraturan pada ruang. Sedangkan pergerakan aktivitas rekreasi dan hiburan yang juga cenderung dilakukan secara berpasangan/berkelompok ini dipengaruhi oleh tujuannya untuk melihat-lihat pemandangan/suasana kawasan, sehingga membentuk pola pergerakan yang tidak beraturan dan berkelok-kelok dengan sesekali berhenti untuk mengagumi view atau sekedar untuk mengobrol.

Pola pergerakan pejalan kaki pada ruang Lapangan Pancasila dengan tujuan untuk berbelanja pada PKL di tengah lapangan mempunyai pola pergerakan ”curvelinier”, dipengaruhi oleh bentukan ruang lapangan yang persegi membulat dengan daya tampung ruang cukup besar dan sistem sirkulasi pengunjung yang memungkinkan arah pergerakan dengan bebas. Aktivitas PKL yang memiliki kecenderungan berkelompok berdasarkan jenis barang yang diperdagangkan ini berdampak pada penataan display barang, sehingga sistem sirkulasi pengunjung PKL pun pada akhirnya mengikuti pola pemanfaatan ruang oleh aktivitas PKL dengan pergerakan yang tidak beraturan pada ruang (curvelinier) dengan suasana rekreatif dan santai.

Dengan adanya pergerakan pejalan kaki Kawasan Bundaran Simpang Lima yang ”menerus dan melingkar” membentuk linkage, seyogyanya pejalan kaki diberikan ruang yang layak demi keamanan dan kenyamanan pejalan dan pengguna jalan yang lain. Dengan kecenderungan sifat manusiawi pejalan yang enggan melakukan perjalanan dengan permukaan yang naik atau menaik, solusi yang ditawarkan tentu tidak bisa berupa jembatan penghubung antarbangunan. Sebab selain memerlukan biaya yang tidak sedikit, dapat menghalangi pandangan/view suatu kawasan, berpotensi menggunakan sebagian ruang terbuka publik itu sendiri, dan keengganan pejalan berjalan pada permukaan yang naik sebagai sifat dasar pejalan kaki; maka alangkah lebih baiknya apabila solusi yang ditawarkan sebagai ruang untuk pejalan kaki kawasan di luar konteks teknologi adalah berupa subway yaitu ruang publik untuk pejalan kaki yang dibangun di bawah tanah yang menjadi penghubung antarbangunan dengan karakteristik berupa terowongan di bawah tanah, bebas dari sirkulasi kendaraan kawasan, bebas dari kebisingan akibat intensitas lalu lintas kawasan yang cukup tinggi, mampu menjadi alternatif ruang untuk PKL dan parkir off street kawasan sekaligus sebagai jalur pedestrian kawasan.