D. Analisis Data
2. Analisis posisi AFAS sebagai bagian regionlisme
Isu krusial yang difikirkan berkaitan dengan proses integrasi ekonomi adalah kemungkinan diskriminasi terhadap negara yang berada diluar anggota integrasi tersebut. Apalagi integrasi semisal ASEAN yang tidak melalui fase Costum Union. Sehingga terjadi diskriminasi tariff terhadap negara outsiders. Dalam perdagangan barang, hal ini memang hampir mutlak terjadi, Namun, hal ini dapat kita tinjau lebih jauh dalam sektor perdagangan jasa. Mengingat bentuknya, maka jasa ketika memasuki wilayah suatu negara, mode suplai nya tidaklah melalui bea cukai atau pelabuhan pengiriman seperti barang, tetapi melalui 4 moda seperti yang disebutkan pada bab-bab sebelumnya139. Terlebih dahulu kita melihat, Bagaimana negara-negara ASEAN memberlakukan tarif perdagangan jasa, kemudian akan kita bandingkan degan pemberlakuan tariff oleh GATS/WTO.
139( Lihat ) Fandi Tjiptono,Op.cit,hal 2-20
130
Dalam melakukan liberalisasi terhadap perdagangan jasa di ASEAN, AFAS memberikan pendekatan liberalisasi yang dilakukan secara bertahap dan hati-hati sesuai dengan kondisi setiap negara. negosiasi dalam peliberalisasian sektor-sektor jasa dilakukan oleh negara-negara ASEAN dilakukan dalam bentuk putaran yang dilakukan dalam kurun waktu 3 tahun untuk menyepakati sejumlah paket komitmen.
ASEAN telah melaksanakan negosiasi putaran ke-6 yang menghasilkan 8 paket komitmen. Dalam rangkaian negosiasi tersebut, setidaknya ada tiga metode pendekatan yang pernah digunakan. Pada putaran pertama (1996-1998), dengan menggunakan pendekatan permintaan dan penawaran (Request and Offer approach). Mengingat ini adalah putaran pertama, maka pendekatannya dimulai dengan pertukaran informasi antara negara ASEAN tentang komitmen yang telah mereka buat dalam GATS dan rezim perdagangan yang telah mereka berlakukan di negara masing masing 140. Kemudian pendekatan Common sub-sector approach, yakni pendekatan yang didasari pada komitmen yang telah disepakati oleh minimal 4 negara ASEAN, baik dalam GATS maupun AFAS. jika subsektor tersebut telah disepakati oleh minimal 4 negara ASEAN, maka subsektor jasa tersebut harus terbuka dengan memberlakukan prinsip Most Favoured Nation. Pendekatan ini digunakan pada negosiasi putara kedua (1999-2001)
131
Kemudian Modified Sub Sector Aproach, pendekatan ini pada dasarnya sama dengan Common Sub-sector Approach. Pendekatan ini pada dasarnya sama dengan common subsector approach. Pendekatan ini pada dasarnya sama dengan common subsector approach tetapi negara yang berkomitmen dikurangi dari minimal 4 negara menjadi 3 negara. Pendekatan ini mulai digunakan pada negosiasi putaran ke 3 (2002-2004) dan digunakan pada negosiasi putaran selanjutnya. Dalam putaran ke 3 tersebut, ASEAN juga telah mulai menggunakan pendekatan atau formula ASEAN minus X, yaitu 2 negara atau lebih dapat melakukan liberalisasi atas sektor jasa yang telah disepakati bersama, sementara negara-negara lain dapat menyusul setelah mereka siap.
Dari sistem pendekatan liberalisasi bidang jasa oleh AFAS yang telah dipaparkan diatas, terlihat bahwa liberalisasi jasa merupakan sesuatu yang lebih mutlak bila dibandingkan dengan sistem liberalisasi yang dibangun oleh GATS, bila telah ada minimal 3 negara yang menyepakati untuk meliberalisasi sebuah subsektor bidang jasa, maka mau tidak mau sector tersebut harus terbuka diseluruh anggota.
Selanjutnya kita akan melihat sistem liberalisasi jasa yang dibangun oleh GATS/WTO, dimana sistem ini merupakan sistem yang berlaku di hamper seluruh dengan cakupan yang sangat luas, karena mencakup seluruh anggota WTO.
Dalam sistem GATS/WTO, kita mengenal istilah Schedule of Commitments (SOC). SOC ini dibuat oleh masing-masing negara peserta,
132
yang secara eksplisit menyatakan komitmen negara-negara peserta pada sektor jasa tertentu. SOC yang merupakan bagian integral dari perrjanjian, menyantumkan secara eksplisit sektor-sektor yang terbuka serta jenis-jenis transaksi yang boleh dilakukan oleh Foreign Service Provider atau pemasok jasa asing.
Dalam hal ini, setiap negara memiliki kewajiban untuk mencantumkan sektor-sektor mana saja yang ingin diliberalisasi oleh negara tersebut kedalam SOC yang mereka ajukan ke WTO tanpa adanya pemberlakuan prinsip resiprositas. Olehnya dikenal istilah positive list. Yaitu hanya bidang bidang yang diajukan saja yang dianggap disetujui untuk dibuka atau akan dibuka terhadap pemasok jasa asing sedang sektor yang tidak diajukan dalam SOC dianggap tidak disetujui oleh pihak untuk dileberalisasi dalam rangka perjanjian GATS ini. begitupun jika suatu negara ingin melakukan pembatasan-pembatasan terhadap pemasok jasa asing, maka negara tersebut wajib untuk mencantumkan secara eksplisit pembatasan-pembatasan tersebut kedalam SOC nya. Bila pembatasan tersebut tidak dicantumkan dalam SOC, maka dianggap tidak ada pembatasan atau larangan.
Namun secara riil, suatu negara dapat membuka sektor lebih banyak dari apa yang tercantum dalam Schedule of Commitment. Akan tetapi untuk sektor tersebut, negara yang bersangkutan tidak terikat oleh perjanjian putaran Uruguay sehingga dapat mengubah aturan tanpa kontroversi dalam WTO.
133
Dari pemaparan mengenai dua sistem diatas, kita dapat melihat bahwa regulasi yang ditetapkan dalam AFAS sesuai dengan apa yang diamanatkan dalam tujuan AFAS sebagai aturan perdagangan jasa regional. Pendekatan regulasi untuk meliberalisasi sektor-sektor jasa di ASEAN terlihat lebih dalam. Aturan AFAS terlihat lebih menekan negara-negara yang ada di ASEAN untuk lebih membuka sektor jasa mereka, meskipun pada dasarnya dalam membuka bidang-bidang jasa terkait masih mempertimbangkan kesiapan dan kemampuan negara-negara. Sedang dalam GATS, regulasi yang diterapkan lebih lunak, hal ini kita lihat dari sistem schedule of Commitment. Praktis tidak ada tekanan yang berarti untuk suatu negara dalam konteks WTO untuk membuka sector jasa mereka baik itu tekanan dari segi target tenggang waktu membuka sektor tertentu, maupun target lainya. Semua bergantung terhadap bagaimana keinginan dan kerelaan negara tersebut membuka sektor jasa tertentu terhadap penyedia jasa asing pada perdagangan mereka.
Dalam konteks umum dan dalam konteks barang pada khususnya, telah banyak dibahas mengenai perkembangan regionalisasi ekonomi yang mengarah pada berkembangnya FTA pada regional-regional ekonomi, sehingga memunculkan kondisi terjadinya diskriminasi terhadap negara-negara yang berada diluar anggota regional ekonomi yang bersangkutan atau disebut sebagai negara outsiders. Hal ini karena perbedaan tarif yang ditawarkan antara sesama negara dalam suatu daerah regional bila
134
dibandingkan negara diluar perjanjian regional dianggap tak terhindarkan. Dalam tulisan ini telah kami kemukakan sebelumnya teori-teori mengenai hal tersebut.
Kini Pertanyaan utamanya adalah benarkah sistem perdagangan jasa yang dibangun melalui AFAS berpotensi atau dapat memberikan dampak diskriminasi terhadap negara-negara lain yang berada diluar lingkup ASEAN, utamanya negara yang berada tergabung dalam WTO.
Terlebih dahulu kita melihat bagaimanakah negara-negara ASEAN memberlakukan tarif terhadap bidang jasa, mengingat bentuk jasa yang berbeda. Karena bentuknya pemberlakuan tarif terhadap jasa berbeda dengan barang dikarenaka bentuknya. Ketika penyedia jasa asing masuk kedalam pasar suatu negara, melalui 4 moda bergantung dari jenisnya, sehingga sulit untuk melakukan pemberlakuan tarif.
Sebagaimana yang dijelaskan dalam bab-bab sebelumnya, sistem hambatan perdagangan yang ada dalam perdagangan jasa karna bentuknya berbeda dari perdagangan barang. Bila barang yang masuk dalam suatu wilayah negara, maka ia melewati sebuah destination port dan bisa dikenakan tarif. Namun untuk perdagangan jasa karna bentuknya, maka sistem penghambat akses pasar dilakukan dengan pembatasan jumlah penyedia jasa, volume transaksi, jumlah operator,jumlah tenaga kerja. Juga hambatan dalam bentuk perlakuan nasional, seperti peraturan yang dianggap diskriminatif untuk persyaratan pajak, kewarganegaraan, jangka
135
waktu menetap, perizinan, standar kualifikasi, kewajiban pendaftaran, serta batasan kepemilikan property dan lahan.141
Mari kita melihat bagaimana negara-negara ASEAN berinteraksi dalam perdagangan jasa dibawah AFAS.
Sebaga contoh, kita akan mulai melihat bagaimana Indonesia sebagai salah satu negara asean dalam menjalankan komitmennya di AFAS dan GATS. Dalam AFAS, komitmen negara-negara Asia Tenggara terhadap perdagangan jasa dapat dilihat melalui paket skedul komitmennya yang dicapai pada setiap putaran negosiasi142. Namun yang perlu dimengerti bahwa Skedul komitmen perdagangan jasa lebih sulit dimengerti daripada skedul tarif yang ada di perdagangan barang. Jika skedul tarif hanya mencantumkan satu tingkat tarif bagi masing-masing produk, maka skedul komitmen mencantumkan sedikitnya delapan item untuk setiap sektor: komitmen untuk akses pasar dan national treatment (perlakuan nasional) bagi empat moda penyediaan jasa143.
Saat ini negosiasi bidang jasa di asean telah memasuki menyelesaikan paket 7 pada 2009, dan saat ini pada tahap penyelesaian akhir pada beberapa negara tersisa untuk menyelesaikan negosiasi paket 8 AFAS. Untuk Indonesia sendiri, salah satu sektor yang diajukan pada negosiasi paket 7 adalah sektor telekomunikasi. Hal ini merupakan tindak lanjut dari pengajuan sektor yang sama pada negosiasi pake 6 sebelumnya
141
Aida s Budiman (Dkk),Op.cit, Hal 29
142 Saat tulisan ini ditulis, negosiasi Paket 7 Skedul Komitmen AFAS telah dicapai pada Putaran Kelima Negosiasi AFAS yang berjalan antara tahun 2007 hingga 2009, dan paket 8 sedang disusun dan dinegosiasikan
136
untuk lebih ditingkatkan komitmennya. Untuk lebih jelasnya, maka kami akan membahas skedul komitmen Indonesia dibidang telekomunuikasi pada paket 7 AFAS144.