• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Potensi Sektoral dengan Model Tipologi Klassen

Dalam dokumen KAJIAN FISKAL REGIONAL (Halaman 89-92)

KEUNGGULAN DAN POTENSI EKONOMI SERTA TANTANGAN FISKAL REGIONAL

A. KEUNGGULAN DAN POTENSI EKONOMI REGIONAL

1. Analisis Potensi Sektoral dengan Model Tipologi Klassen

71

BAB V

KEUNGGULAN DAN POTENSI EKONOMI SERTA TANTANGAN

FISKAL REGIONAL

A. KEUNGGULAN DAN POTENSI EKONOMI REGIONAL

1. Analisis Potensi Sektoral dengan Model Tipologi Klassen

Keterbatasan sumber daya adalah masalah klasik yang di hadapi oleh semua pemerintah daerah karena itu perlu membuat prioritas kebijakan agar pembangunan daerah dapat berjalan sesuai rencana. Penentuan prioritas kebijakan tersebut dapat diwujudkan salah satunya dengan menentukan

sektor-sektor prioritas atau unggulan, penentuan prioritas tidak hanya dilakukan pada tingkat sektoral saja, tetapi juga pada tingkat subsektor, usaha, bahkan tingkat komoditi yang layak untuk dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang ada. Untuk menentukan sektor, subsektor, usaha, atau komoditi prioritas tersebut dapat

digunakan beberapa alat analisis. Salah satu alat analisis yang relatif sering digunakan adalah alat analisis Tipologi Klassen. Tipologi Klassen dapat digunakan melalui dua pendekatan, yaitu daerah

72

maupun sektoral. Data yang biasa digunakan dalam analisis ini adalah data Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB). Dalam Kajian Fiskal Regional Provinsi Sulawesi Selatan data yang digunakan dan dianalisis adalah Laju Pertumbuhan PDRB dan Distribusi PDRB Sulawesi Selatan Tahun 2014 s.d 2018 sedangkan Laju Pertumbuhan dan Distribusi PDB Nasional Tahun 2014 s.d 2018 sebagai acuan atau pembanding kemudian diambil rata-rata dari jangka 5 tahun.

Dimana:

g = Laju pertumbuhan per sektor dalam PDB

secara Nasional

gi = Laju Pertumbuhan per sektor dalam

PDRB di Provinsi Sulawesi Selatan

s = Distribusi (kontribusi) per sektor dalam

PDB secara Nasionaln

si = Distribusi (kontribusi) per sektor dalam

PDRB di Provinsi Sulawesi Selatan.

Hasil analisis Tipologi Klassen dengan pendekatan sektor menghasilkan empat klasifikasi dengan karakteristik yang berbeda yaitu:

(1) Sektor yang maju dan tumbuh dengan pesat (Kuadran I). Kuadran ini

merupakan kuadran sektor dengan laju pertumbuhan PDRB Provinsi Sulawesi Selatan (gi) yang lebih besar dibandingkan pertumbuhan PDB secara nasional (g) dan memiliki distribusi atau kontribusi terhadap PDRB Provinsi Sulawesi Selatan (si) yang lebih besar dibandingkan distribusi atau kontribusi sektor tersebut secara nasional (s). Klasifikasi ini biasa dilambangkan dengan gi > g dan si > s. Sektor dalam kuadran I dapat pula diartikan sebagai sektor yang potensial karena memiliki kinerja laju pertumbuhan ekonomi dan pangsa yang lebih besar daripada secara nasional.

(2) Sektor maju tapi tertekan (Kuadran II). Sektor yang berada pada kuadran

ini memiliki nilai pertumbuhan PDRB Provinsi Sulawesi Selatan (gi) yang lebih rendah dibandingkan pertumbuhan PDRB daerah yang menjadi acuan atau secara nasional (g), tetapi memiliki distribusi atau kontribusi terhadap PDRB Provinsi Sulawesi Selatan (si) yang lebih besar dibandingkan kontribusi nilai sektor tersebut secara nasional (s). Klasifikasi ini biasa

73

dilambangkan dengan gi < g dan si > s. Sektor dalam kategori ini juga dapat dikatakan sebagai sektor yang telah jenuh.

(3) Sektor potensial atau masih dapat berkembang dengan pesat (Kuadran III). Kuadran ini merupakan kuadran untuk sektor yang

memiliki nilai pertumbuhan PDRB Provinsi Sulawesi Selatan (gi) yang lebih tinggi dari PDB nasional (g),tetapi distribusi atau kontribusi sektor tersebut terhadap PDRB Provinsi Sulawesi Selatan (si) lebih kecil dibandingkan nilai distribusi atau kontribusi sektor tersebut secara nasional (s). Klasifikasi ini biasa dilambangkan dengan gi > g dan si<s. Sektor dalam Kuadran III dapat diartikan sebagai sektor yang sedang booming. Meskipun pangsa pasar daerahnya relatif lebih kecil dibandingkan rata-rata nasional.

(4) Sektor relatif tertingggal (Kuadran IV). Kuadran ini ditempati oleh sektor

yang memiliki nilai pertumbuhan PDRB (gi) yang lebih rendah dibandingkan pertumbuhan PDRB daerah yang menjadi acuan atau secara nasional (g) dan sekaligus memiliki distribusi atau kontribusi tersebut terhadap PDRB (si) yang lebih kecil dibandingkan nilai distribusi atau kontribusi sektor tersebut secara nasional (s).

Hasil pengolahan data BPS diperoleh bahwa terdapat klasifikasi 4 sektor yang sesuai dengan analisis tipologi Klassen yaitu sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan, Konstruksi, Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor, Informasi dan Komunikasi, Real Estate, Adminsistrasi Pemerintahan, Jasa Pendidikan, Jasa Kesehatan dan Kegiatan sosial masuk kedalam kuadran I sektor yang maju dan tumbuh dengan cepat. Artinya bahwa sektor tersebut memiliki laju pertumbuhan PDRB atau perekonomian yang lebih tinggi dari laju pertumbuhan nasional dan kontribusi yang lebih besar terhadap PDRB atau perekonomian daerah bila dibandingkan dengan kontribusi sektor tersebut di tingkat nasional. Sektor Pengadaan Air adalah yang masuk dalam kuadran II yatitu sektor yang maju namun tertekan. Sektor ini dimana laju pertumbuhan PDRB atau perekonomian daerah lebih kecil dari laju pertumbuhan di tingkat nasional namun distribusi atau kontribusi sektor tersebut dalam PDRB atau ekonomi daerah relatif lebih tinggi dari distribusi atau kontribusi sektor tersebut di tingkat Nasional, dapat pula dikatakan sektor pengadaan air telah jenuh. Sektor Pertambangan dan Penggalian, Industri Pengolahan, Pengadaan Listrik dan Gas, Transportasi dan Pergudangan, Penyediaan akomodasi dan

74

Makan, Jasa Keuangan, Jasa Lainnya masuk dalam kuadran III yang merupakan sektor dimana laju pertumbuhan PDRB atau ekonomi daerah yang lebih tinggi dari laju pertumbuhan PDB atau ekonomi nasional namun distribusi atau kontribusi sektor tersebut relatif lebih rendah dari distribusi atau kontribusi sektor yang sama di tingkat Nasional atau PDB. Sektor ini merupakan sektor yang potensial dan dapat berkembang dengan pesat dimasa yang akan datang.

Sedangkan sektor Transportasi dan Pergudangan serta Jasa Perusahaan masuk kedalam sektor yang relatif tertinggal atau kuadran IV yang artinya sektor ini baik laju pertumbuhan PDRB atau ekonomi daerah dan distribusi atau kontribusi pada PDRB atau ekonomi daerah dua-duanya relatif lebih rendah dari laju pertumbuhan dan distribusi pada PDB. Kedua sektor tersebut perlu mendapat perhatian khusus agar dimasa yang akan dating menjadi lebih berkembang.

Dalam dokumen KAJIAN FISKAL REGIONAL (Halaman 89-92)