• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. 2. 3 Analisis aktivitas

IV.2.4. Analisis Profitabilitas

1. Rasio marjin laba kotor (gross profit margin)

Tabel 4.14 perbandingan gross profit margin ratio Laba kotor

Penjualan bersih

2006 2005 2004

Sari Husada 44,57 42,29 46,23

Rata-rata industri 16,20 13,54 16,90 Rasio ini mencerminkan atau menggambarkan laba kotor yang dapat dicapai setiap rupiah penjualan.

Rasio margin laba kotor yang dimiliki Sari Husada pada tahun 2004-2006 yaitu 46,23%,42,29% dan 44,57%. Rata-rata industri untuk rasio margin laba kotor adalah 16,90%, 13,54%, 16,20%. Meskipun sama-sama mengalami penurunan pada tahun 2005 dan meningkat kembali pada tahun 2006, rasio Sari Husada memiliki rasio yang jauh lebih baik dibanding rata-rata industrinya.

Penurunan rasio pada tahun 2005 disebabkan oleh meningkatnya penjualan sebesar 28% tetapi laba kotor yang dihasilkan hanya meningkat sebesar17,24%, hal ini disebabkan karena kenaikan pada beban pokok penjualan sebesar Rp 249.561 juta atau naik 37,57% dari tahun 2004.

Pada tahun 2006 perusahaan berhasil menaikkan rasio yang dimilikinya menjadi 44,57%. Hal ini karena laba kotornya berhasil ditingkatkan sebesar Rp 126.252 juta atau 18,86% seiring dengan kenaikan penjualannya sebesar Rp 202.081 juta atau 12,76% dibandingkan dengan tahun 2005. Peningkatan laba kotor ini karena perusahaan dapat menekan kenaikan beban pokok penjualan menjadi lebih kecil dibanding tahun sebelumnya yaitu hanya meningkat sebesar 8,3%.

Dengan rasio yang dihasilkan maka Sari Husada memiliki tingkat keuntungan yang jauh lebih baik jka dibandingkan dengan rata-rata industri.

Perusahaan dapat terus mempertahankan dan meningkatkan gross profit margin dengan memilih pemasok yang memberikan bahan baku berkualitas dengan harga yang paling menguntungkan bagi perusahaan serta meningkatkan produktifitas dan efektivitas pekerja.

2. Rasio margin laba operasi (operating profit margin)

Tabel 4.15 perbandingan operating profit margin Laba usaha

Penjualan bersih

2006 2005 2004

Sari Husada 25,85 25,08 20,23

Rata-rata industri (14,94) (14,34) 6

Rasio ini menunjukkan laba usaha perusahaan relatif terhadap penjualan yang terjadi.

Sari Husada terus meningkatkan rasionya dari tahun 2004-2006, dimana pada tahun 2004 memiliki rasio sebesar 20,23% artinya dari Rp 1 penjualan dapat menghasilkan Rp 0,202 laba usaha, kemudian pada tahun 2005

rasionya meningkat menjadi 25,08% artinya laba usaha yang dihasilkan meningkat menjadi Rp 0,250 dari setiap Rp 1 penjualan yang dilakukan. Pada tahun 2006 Sari Husada memiliki rasio 25,85% yang berarti laba usahanya meningkat kembali dibandingkan tahun 2004 dan 2005 menjadi Rp 0,258 dari Rp 1 penjualan.

Peningkatan rasio margin laba operasi Sari Husada pada tahun 2005 jika dibandingkan dengan tahun 2004 disebabkan oleh meningkatnya laba usaha perusahaan sebesar 58,89% (2004: Rp 249.894 juta, 2005: Rp 397.069 juta). peningkatan laba usaha karena adanya penurunan beban usaha (2004: Rp 321.126 juta, 2005: Rp 272.374 juta) baik itu beban penjualan dan pemasaran yang turun 0,19% ,dan juga beban umum dan operasi yang turun 31,77%. Pada tahun 2006 laba usaha juga mengalami peningkatan sebesar 16,22 % seiring dengan peningkatan penjualan sebesar 12,76% dan menyebabkan rasio margin laba operasinya meningkat pula.

Rasio margin laba operasi pada rata-rata industri periode tahun 2004-2006 yaitu 6%, -13,34%, dan- 14,94%.

Dari rasio yang dimiliki Sari Husada dan yang dimiliki rata-rata industri maka terlihat dengan jelas bahwa sari husada mampu menghasilkan laba usaha yang lebih besar dibandingkan dengan rata-rata industrinya, bahkan rata-rata industri memiliki rasio yang negatif dan ini berarti perusahaan pada rata-rata industri mengalami kerugian pada kegiatan operasi perusahaannnya.

Dengan demikian perusahaan harus mempertahankan dan meningkatkan rasio ini dengan menjaga kestabilan operasi perusahaan, meningkatkan produktivitas dan efektivitas pekerja.

3. Rasio marjin laba bersih (net profit margin)

Tabel 4.16 perbandingan net profit margin ratio Laba bersih

Penjualan bersih

2006 2005 2004 Sari Husada 18,99% 18,30% 14,72%

Rata-rata industri (10,18) (4,63) (3) Rasio ini mengukur seluruh laba yang dihasilkan setelah dikurangi dengan beban-beban.

Rasio margin laba bersih yang dimiliki Sari Husada pada periode tahun 2004-2006 adalah 14,72% pada tahun 2004, 18,30% pada tahun 2005 dan 18,99% pada tahun 2006. Dapat dilihat bahwa rasionya meningkat pada tahun 2005, kemudian terjadi penurunan di tahun 2006.

Tingginya rasio jika dibandingkan dengan rata-rata idustri dan peningkatan rasio menunjukkan tingkat perolehan laba bersih yang baik, dimana pada tahun 2004 Sari Husada berhasil menghasilkan laba bersih Rp 0,147 untuk setiap Rp 1 penjualan, di tahun 2005 laba bersih meningkat menjadi Rp 0,183 untuk Rp 1 penjualan dan Rp 0,189 pada tahun 2006.

Pada tahun 2005 dan 2006 terjadi kenaikan rasio margin laba bersih. Penyebab dari kenaikan ini adalah terjadinya peningkatan laba bersih sebesar 59,31% pada tahun 2005 dan 17% pada tahun 2006. karena perusahaan berhasil meningkatkan penjualannya sebesar 28,17% di tahun 2005 dan 12,76% pada 2006, selain itu beban usaha pada tahun 2005 menurun sehingga laba usahanya mengalami kenaikan sebesar 58,89%, meskipun penghasilan lain-lainnya menurun akibat adanya kerugian selisih kurs, tetapi hal ini tidak berpengaruh secara signifikan pada perusahaan. Pada tahun 2006

jumlah beban usaha meningkat sebesar 22,70%, tetapi pada tahun ini terdapat keuntungan dari kejadian luar biasa sebesar Rp 9.265 juta atas klaim asuransi akibat adanya kerusakan aktiva dan persediaan karena gempa yang melanda Yogyakarta pada pertengahan tahun 2006.

rata-rata industri memiliki rasio sebesar -3% pada tahun 2004, pada tahun 2005 rasionya menurun menjadi -4,63%, dan kembali mengalami penurunan pada tahun 2006 menjadi -10,18%.

Rasio marjin laba bersih Sari Husada jika dibandingkan dengan rasio rata-rata industri maka dapat disimpulkan bahwa Sari Husada memiliki rasio yang jauh lebih baik.

Untuk lebih meningkatkan rasio laba bersihnya perusahaan sebaiknya tetap meningkatkan penjualan dengan menerapkan strategi bisnis yang dapat meningkatkan penerimaan pasar, memperluas jangkauan dan meningkatkan efisiensi dari seluruh jaringan distribusi.

4. Rasio operasi (operating ratio)

Tabel 4.17 perbandingan operating margin ratio HPP + biaya operasi

Penjualan bersih

2006 2005 2004

Sari Husada 74,15 66,44 79,77

Rata-rata industry 115,15 82,93 93,96

Rasio operasi mencerminkan tingkat efisiensi perusahaan. Rasio operasi yang tinggi menunjukan keadaan yang kurang baik, karena hal ini berarti bahwa setiap rupiah penjualan yang terserap dalam biaya juga tinggi, dan yang tersedia untuk laba menjadi kecil.

Rasio operasi Sari Husada pada periode tahun 2004-2006 adalah 79,77%, 66,44%, dan 74,15%. Sedangkan untuk rata-rata industri rasio yang dimiliki adalah 93,96%, 82,93% dan 115,15%.

Penurunan operating ratio pada tahun 2005 karena penjualan meningkat sebesar 28,17% sementara jumlah biaya baik itu beban pokok penjualan dan beban usaha meningkat sebesar 11,61% (2004: Rp 985.265 juta, 2005: Rp 1.186.074 juta). Penurunan ini menunjukkan bahwa penyerapan dalam biaya dapat dikurangi sehingga laba bersih yang dihasilkan dari setiap penjualan dapat lebih besar.

Pada tahun 2006 operating ratio yang dimiliki perusahaan mengalami kenaikan. Kenaikan yang terjadi karena jumlah biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan meningkat sebesar 20,38% (2006: Rp 1.323.753 juta), sementara penjualan hanya meningkat 12,76%. Hal ini berarti laba bersih dari setiap penjualan menjadi lebih kecil dari tahun sebelumnya

Jika dibandingkan dengan rata-rata industri maka Sari Husada memiliki rasio yang lebih baik, karena rata-rata industri memiliki rasio yang lebih tinggi sehingga biaya yang terserap lebih banyak dari setiap penjualannya, sehingga laba yang dihasilkan lebih kecil.

Besarnya rasio operasi tidak hanya disebabkan oleh faktor internal yang dikendalikan manajemen saja, tetapi juga dari faktor eksternal misalnya harga bahan baku yang tidak bisa dikendalikan. Oleh sebab itu perusahaan harus melancarkan strategi bisnisnya untuk mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar, salah satunya adalah penerapan harga yang kompetitif dan akurat serta pengembangan produk-produk inovatif.

5. Pengembalian investasi

a. Pengembalian atas total aktiva (return on assets/ ROA) Tabel 4.18 perbandingan return on assets Laba bersih

Total aktiva

2006 2005 2004

Sari Husada 27,12 26,65 14,90

Rata-rata industry 2,59 11,70 (1,3) Hasil pengembalian total aktiva menunjukkan performa manajemen dalam menggunakan aktiva perseroan untuk menghasilkan laba.

Hasil pengembalian total aktiva Sari Husada terus memperlihatkan peningkatan dari tahun 2004-2006, masing-masig rasionya adalah 14,90%, 26,65%, 27,12%.

Pada tahun 2004 rasio pengembalian total aktiva Sari Husada adalah 14,90% artinya perseroan dapat mengembalikan atau membagikan kepada para pemegang saham biasa Rp 0,149 untuk Rp 1 dari modal yang diinvestasikan dalam satu tahun. Pada tahun 2005 rasio ini mengalami peningkatan menjadi 26,65% artinya perseroan dapat mengembalikan atau membagikan kepada para pemegang saham biasa Rp 0,2665 dari Rp 1 modal yang diinvestasikan untuk satu tahun.

Peningkatan yang terjadi pada tahun 2005 disebabkan peningkatan laba bersih sebesar 59,31% (2004: Rp181.878 juta, 2005: Rp 289.768 juta). Peningkatan laba bersih disebabkan peningkatan penjualan perusahaan sebesar 28,17% serta adanya penurunan pada beban usaha sebesar 15,18%. Peningkatan laba bersih tidak diiringi dengan peningkatan pada aktiva, pada tahun ini total aktiva menurun 10,88% akibat penurunan pada jumlah kas

dan setara kas karena besarnya arus kas keluar pada aktivitas investasi dan pendanaan, kemudian penurunan piutang usaha dari pihak yang mempunyai hubungan istimewa dan penurunan piutang lain-lain serta penurunan aktiva tetap.

Peningkatan rasio pada tahun 2006 juga disebabkan peningkatan laba bersih sebesar 17% (2006: Rp 339.042 juta) disebabkan oleh tingkat penjualan bersih yang meningkat sebesar 12,76% dari tahun sebelumnya kemudian bertambahnya pendapatan bunga sebesar Rp 12.362 juta atau 73,38%, adanya keuntungan penjualan aktiva tetap sebesar Rp 676 juta dan penghasilan lain-lain sebesar Rp 2.332 juta. Kemudian pada tahun 2006 perusahaan menerima keuntungan atas kejadian luar biasa sebesar Rp. 9.265 juta dari klaim asuransi akibat adanya gempa yang mengguncang Yogyakarta yang menyebabkan kerusakan aktiva tetap dan persediaan. Pada tahun 2006 juga jumlah aktiva meningkat tetapi tidak sebesar peningkatan pada laba bersihnya yaitu hanya sebesar 14,08%, dengan demikian Return on Assets (ROA) Sari Husada meningkat menjadi 27,12%.

Rata-rata industri memiliki rasio yang jauh berada dibawah rasio Sari Husada yaitu -1,3%, 11,70% dan 2,59%.

Jika dibandingkan antara rasio pengembalian atas total aktiva Sari Husada dengan rata-industri pada tahun yang sama maka sari Husada bisa dikatakan efektif dalam memanfaatkan sumber-sumber dayanya.

Return on Assets (ROA) Sari Husada menunjukkan peningkatan setiap tahunnya, hal ini menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan

menghasilkan laba bersih untuk mengembalikan investasi pada aktivanya terus meningkat.

b. Pengembalian atas ekuitas (Return On Equity/ROE) Tabel 4.19 perbandingan return on equity Laba bersih

Total ekuitas

2006 2005 2004

Sari Husada 34,40 30,70 17,80

Rata-rata industri 14,88 152,15 3,52 Rasio ini mengukur sejauh mana perseroan mengelola modal sendiri secara efektif, mengukur tingkat keuntungan dari investasi yang telah dilakukan pemilik modal sendiri atau pemegang saham perseroan.

Rasio pengembalian atas ekuitas Sari Husada periode tahun 2004 adalah 17,80%, pada tahun 2005 sebesar 30,70% dan untuk tahun 2006 sebesar 34,40% .

Kenaikan Return on Equity (ROE) pada tahun 2005 disebabkan oleh kenaikan laba bersih sebesar 59,31% seperti yang dijelaskan pada rasio sebelumnya, kemudian terjadi penurunan jumlah ekuitas sebesar 2,85% (2004: RP 1.023.647 juta, 2005: Rp 944.519 juta). Penurunan jumlah ekuitas terjadi karena adanya modal saham diperoleh kembali (treasury stock) sebanyak 101.717.910 lembar saham dengan nilai Rp 199.876 juta.

Pada tahun 2006 kembali terjadi kenaikan pada tingkat pengembalian atas ekuitas (ROE) perusahaan. Kenaikan ini karena adanya kenaikan pada laba bersih sebesar 17% yang telah dijelaskan pada rasio sebelumnya.

Rasio pengembalian atas ekuitas rata-rata industri pada tahun yang sama 2004-2006 yaitu 3,52%, 152,15%, dan 14,88%.

Jika dibandingkan dengan rata-rata industri maka pada tahun 2004 rasio Sari Husada jauh lebih tinggi, dimana Sari Husada memiliki rasio 17,80% sedangkan rata-rata industri hanya memiliki rasio 3,52%. Pada tahun 2005 Sari Husada berada jauh dibawah rata industri dimana rata-rata industri memiliki rasio 152,15% dan Sari Husada hanya 30,70%, meskipun demikian Sari Husada berhasil meningkatkan rasionya dibandingkan tahun 2004. Pada tahun 2006 Sari Husada kembali berhasil meningkatkan rasionya dan berhasil menempatkan rasionya lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata industri yaitu 34,40%, rata-rata indutri 14,88%.

Perusahaan harus mempertahankan peningkatan rasio yang sudah ada dengan meningkatkan penjualan, meningkatkan produktivitas dan efektivitas para pekerja sehingga laba bersih dapat terus ditingkatkan.

c. Laba per lembar saham (Earning Per Share/ EPS) Tabel 4.20 earning per share Laba bersih

Saham biasa yang beredar

2006 2005 2004

Sari Husada 181 154 95

Laba per lembar saham Sari Husada terus mengalami peningkatan dari tahun 2004-2006. Rasionya adalah Rp 95 per lembar saham untuk tahun 2004, Rp 154 per lembar saham untuk tahun 2005, dan Rp 181 perlembar saham untuk tahun 2006.

Peningkatan earning per share (EPS) pada tahun 2005 disebabkan oleh meningkatnya laba bersih sebesar 59,31% jika dibandingkan tahun 2004

yaitu dari Rp 181.878 juta meningkat menjadi Rp 289.768 juta. Peningkatan ini juga disebabkan oleh berkurangnya jumlah saham yang beredar, hal ini disebabkan oleh adanya modal saham diperoleh kembali (treasury stock) sebesar 101.717.910 saham dari jumlah saham yang beredar sebanyak 1.973.520.000 saham. Pada tahun 2006 Earning per Share (EPS) kembali mengalami peningkatan menjadi Rp 181 per lembar saham. Peningkatan laba bersih menjadi faktor terpenting dalam peningkatan earning per share (EPS) pada tahun 2006. laba bersih Sari Husada pada tahun 2006 yaitu sebesar Rp 339.042 atau meningkat sebesar 17% jika dibandingkan dengan tahun 2005.

Untuk mempertahankan kondisi ini perusahaan harus terus meningkatkan penjualannya dengan strategi-strategi bisnis untuk memperluas pangsa pasar yang sudah ada dan juga memperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi laba perusahaan misalnya adalah kerugian akibat selisih kurs. d. Dividen per lembar saham (Dividen per share/ DPS)

Tabel 4.21 dividen per share Dividen yang dibayarkan kepada

pemegang saham biasa Saham biasa yang beredar

2006 2005 2004

Sari Husada 160 150 111

Dividen per lembar saham Sari Husada tahun 2005 mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2004 menjadi Rp 150 per lembar saham. Pada tahun 2004 rapat umum pemegang saham, pemegang saham menyetujui pembagian dividen tunai perlembar saham sebesar Rp 111 (rupiah penuh) per lembar saham dengan jumlah Rp 214.425 juta dari laba

bersih konsolidasian tahun 2004. Pada tahun 2006, dividennya mengalami kenaikan menjadi Rp 160 per lembar saham dengan jumlah Rp 280.770 juta dari laba bersih konsolidasian tahun 2005.

Kondisi ini dapat dipertahankan dengan mempertahankan dan meningkatkan tingkat penjualan sehingga laba bersih dan pembagian dividen dapat ditingkatkan.

Dokumen terkait