Salah satu program awal pemberdayaan yang dilakukan oleh Desa wisata Nglanggeran berfokus untuk memberdayakan perbaikan lingkungan. Dengan perbaikan pendapatan (ekonomi) yang dilakukan sebelumnya diharapkan berdampak dapat memperbaiki lingkungan, karena kerusakan lingkungan sering terjadi dikarenakan oleh kemiskinan atau pendapatan yang terbatas. (Theresia,.2015: 153-154).
Kelompok petani kakao di Nglanggeran awalnya hanya petani kakao biasa yang menanam kakao lalu ketika panen hasilnya mereka jual ke pasar. Namun itu berubah semenjak kelompok sadar wisata khususnya mas Sugeng Handoko dan kawan – kawan memberikan pemberdayaan kepada kelompok petani kakao. Mereka petani kakao diintegrasikan kedalam paket wisata yang ada di desa wisata Nglanggeran. Yaitu, dengan cara menjadikan mereka pemandu di kebun pertanian kakao mereka untuk memberikan nilai edukasi kepada wisatawan yang datang.
64 (Gambar 4.1 Kelompok Kakao)
Kelompok petani kakao juga tidak hanya menggantungkan penghasilannya saat mereka musim panen. Namun dengan mereka menjadi pemandu yang memberikan edukasi kepada wisatawan yang datang mereka bisa mendapatkan penghasilan. Kelompok sadar wisata nglanggeran juga membuat sebuah pemberdayaan yang mengintegrasikan antara petani cokelat dan sebuah tempat atau toko yang menjual hasil olahan kakao. Jadi hasil pertanian kakao juga dijual di toko ini atau yang mereka namakan Griya Cokelat. Griya Cokelat merupakan hasil program pemberdayaan desa wisata Nglanggeran dimana didalamnya mereka memberdayakan ibu - ibu warga desa Nglanggeran.
Hal ini selaras dengan teori pemberdayaan menurut Theresia, yang mengatakan bahwa sebuah pemberdayaan harus sustainable untuk jangka waktu yang lama hasil bisa dirasakan oleh masyarakat dan pemberdayaan yang
empowering yaitu masyarakat diberi potensi untuk bisa mereka kembangkan.
Seperti halnya petani kakao yang diberdayakan sejak lama lalu mereka sekarang terlibat dalam program desa wisata dan hasil panen kakao mereka dijadikan bahan untuk membuat aneka olahan coklat di Griya Coklat yang saat ini menjadi toko oleh – oleh pertama produk khusus Desa Nglanggeran.
65 (Gambar 4.2 Konsumen Olahan Kakao Desa Nglanggeran)
2. Ekonomi
Program pemberdayaan yang meningkatkan ekonomi di desa wisata Nglangeran hampir seluruh aspek yang ada di desa wisata Nglanggeran mendongkrak perekonomian. Karena kelompok sadar wisata selalu mengemas atau menggali potensi nilai jual apa yang ada dalam sebuah kelompok. lalu mereka membuatkan paket wisata yang bisa dinikmati atau dipilih oleh wisatawan yang hadir.
(Gambar 4.3 Griya Coklat Nglanggeran)
Dalam kelompok petani kakao dimana kelompok sadar wisata memberikan keterlibatan secara langsung agar petani kakao menjadi pemandu dalam paket wisata yang ditawarkan oleh Desa wisata Nglanggeran. Hal ini membuat petani kakao dapat meningkatkan nilai ekonomi atau pendapatan mereka bukan hanya dari penjualan buah kakao saja, tetapi juga mendapatkan pendapatan ketika mereka menjadi pemandu yang menjelaskan tentang proses penanaman,
66 perawatan, sampai proses pengambilan buah kakao kepada wisatawan yang datang.
Selain itu hasil panen buah kakao yang ada di desa Nglanggeran juga diolah sendiri oleh ibu-ibu di Griya Cokelat. Griya Cokelat merupakan salah satu produk pemberdayaan yang ada di desa Nglanggeran. Pembangunan griya cokelat bertujuan agar pemberdayaan dari hasil kakao bisa berkelanjutan, dengan menjadikan produk olahan kakao menjadi produk olahan asli dari desa Nglanggeran. Produk olahan kakao yang dihasilkan dijual dan dapat menjadi oleh – oleh bagi para wisatawan lokal maupun asing yang datang. Hal ini menjadi salah satu pendongkrak pendapatan ekonomi masyarakat akibat adanya proses pemberdayaan buah kakao dari penanaman hingga menjadi produk olahan kakao asli desa wisata Nglanggeran.
Homestay sebagai salah satu pondasi berjalannya sebuah desa wisata, memiliki peran penting dan menjadikannya juga sebagai pendapatan tambahan bagi masyarakat desa wisata Nglanggeran. Homestay yang ada di desa Nlanggeran sekarang tersebar di seluruh desa. meskipun pada awalnya sangat sulit untuk mengajak masyarakat untuk menjadikan rumahnya sebagai tempat menginapnya.
3. Sosial Budaya
Desa Wisata Nglanggeran memiliki homestay yang menjadi salah satu penunjang bergeraknya kegiatan pariwisata di desa wisata Nglanggeran. Pada awalnya pemilik homestay hanya warga yang bekerja sebagai petani, tugas pertama yang harus dilakukan kelompok sadar wisata sebagai fasilitator pemberdayaan adalah bagaimana mereka masyarakat mau menjadikan rumahnya sebagai tempat menginap para wisatawan dan hal tersebut tentu tidak mudah karena mereka harus merubah cara pandang target masyarakat agar mau mengikuti program pemberdayaan tersebut. Lalu mereka mengadakan studi banding dan mengajak masyarakat untuk melihat ke desa wisata yang sudah lebih
67 dulu ada homestay. Disana mereka jadi paham bahwa rumah mereka memiliki potensi yang besar apabila mereka jadikan homestay.
(Gambar 4.4 Homestay Desa Wisata Nglanggeran)
Adanya homestay di desa wisata Nglanggeran tidak serta merta mengajak studi banding lalu warga masyarakat mau mengikuti semuanya. pada awalnya hanya ada tiga warga yang bersedia membiarkan rumahnya dijadikan homestay karena banyak warga yang masih berfikiran mereka tidak mau rumahnya ditempati wisatawan. Namun, seiring dengan berjalannya waktu 3 orang yang dari awal menjadikan rumahnya itu sebagai homestay, ternyata mereka mendapatkan nilai ekonomi dalam artian pendapatan yang lebih, lalu masyarakat yang tadinya tidak mau setelah melihat hal tersebut mereka justru menawarkan diri dengan sendirinya
68 Dengan sebagian besar tamu yang datang dan terjadinya pertukaran informasi dan budaya antara tamu yang datang ke Desa wisata Nglanggeran dengan masyarakat lokal. Hal ini menjadi kebanggaan dan memotivasi masyarakat untuk terus melestarikan budaya lokal yang mereka miliki. Dengan begitu secara tidak langsung membantu masyarakat dalam melestarikan budaya lokal yang telah ada dengan cara mempromosikan dan mengenalkan budaya tersebut keluar.
Desa wisata Nglanggeran juga tidak melupakan nilai sosial dan budaya apa saja yang mereka miliki. salah satunya adalah mereka tetap berusaha melestarikan adat budaya yang dulu pernah luntur bahkan sempat hilang. Dengan majunya desa wisata Nglanggeran hal ini dimanfaatkan untuk melestarikan budaya yang mereka punya. Desa wisata Nglanggeran melestarikan kebudayaannya dengan cara memasukan budaya mereka sebagai paket wisata sehingga memiliki nilai jual. sehingga pelaku budaya selain mereka melestarikan kebudayaannya juga mereka akan mendapatkan nilai ekonomi dari hal tersebut secara tidak langsung.
4. Dana Operasional
Pemberdayaan yang ada di Nglanggeran mereka menyebutnya dengan pemberdayaan yang swadaya masyarakat. Mereka berusaha mencari dana secara swadaya atau secara bersama. Salah satu contoh pembangunan yang ada di desa Nglanggeran yang mengunakan dana dari hasil swadaya masyarakat adalah pembangunan bangunan yang sekarang dipakai oleh Griya Cokelat.
69 Namun ada juga dana yang asalnya dari pemerintah yaitu dana yang terkait untuk infrastruktur dan juga pelatihan. Kerjasama dengan pemerintah juga pernah menghasilkan dana yang dialokasikan untuk membangun toilet di setiap homestay agar memiliki standart yang sama Selain itu dana dari hasil jasa pelayanan di desa wisata juga mereka gabungkan dengan dana swadaya masyarakat untuk kepentingan pemberdayaan di desa wisata Nglanggeran.