• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III ANALISIS PSIKOLOGIS TOKOH UTAMA DALAM

3.2 Analisis Psikologis Tokoh Nakahara Sunako

Sunako: Aah. Hanya kamar inilah tempat teramanku… (duduk di dalam kegelapan sambil menonton TV dikelilingi buku buku) Cuplikan:

Kyouhei: “Oi” (Masuk ke dalam kamar Sunako)

Sunako: Di tempat teramanku, ada cahaya yang menyelinap masuk…!! “Aah, ma, makan malam, ya. Aku akan keluar, jadi jangan masuk…”

Angin berhembus dan meniup rambut depan Sunako membuat Sunako bisa melihat Kyouhei dengan jelas yang sedang bertelanjang dada. Di mata Sunako, Kyouhei terlihat sangat menyilaukan.

Sunako: “kya…” (menutup matanya) “KYAAAAAAAAAAAA”

Ranmaru, Yuki dan Takenaga yang sedang minum menyemburkan air karena kaget, dan bergegas ke kamar Sunako.

Takenaga: “(Akhirnya) kau pukul, ya, Kyouhei?!”

Sunako: “Ke, Keluaaar!!” (meringkuk di dekat tempat tidur dan gemetar) “JANGAN MENDEKAAAAT!!”

Ranmaru: “Kyouhei, apa kau melakukan sesuatu yang amoral…” Yuki: “Nggak mungkin ‘kan, ya?”

Kyouhei: (terdiam sesaat)

“Melihat wajah orang lalu menjerit ‘keluar’…?” (menahan amarah) “Kau pikir, kau siapa…?”

“Demi sewa gratis, kami harus pura – pura baik denganmu, tahu!!” Yuki: “Aaah, bodoh!! Jadi ketahuan!!”

Kyouhei: “Kalau bukan karena itu, siapa yang mau bicara denganmu?! Siapa yang mau masuk ke kamar yang menakutkan

beginiiiii!?” Takenaga: “Kamar…”

Ranmaru: “Yang menakutkan…?”

Takenaga, Yuki dan Ranmaru baru menyadari kalau buku – buku yang ada di kamar Sunako berisikan tentang foto mayat, penangkapan penyihir, penyiksaan, dan pembunuhan masal. Di sisi lain kamar ada beberapa boneka yang diberi nama oleh Sunako, boneka anatomi organ dalam manusia bernama Hiroshi, Kerangka tengkorak yang diberi rambut palsu bernama Josephine, dan boneka anatomi syaraf manusia bernama Akira. Layar TV juga menayangkan film horor dengan volume keras.

Kyouhei: “Dasar, kamarnya sama menakutkan dengan orangnya…”

(Volume 1, hal 16-19)

Pada cuplikan di atas, perkataan Sunako yang mengatakan, “Aah. Hanya kamar inilah tempat teramanku…” dan perkataan Kyouhei yang mengatakan, “Kalau bukan karena itu, siapa yang mau bicara denganmu?! Siapa yang mau masuk ke kamar yang menakutkan beginiiiii!?” menunjukkan bagaimana kamar Sunako yang menakutkan bagi orang lain merupakan tempat yang menenangkan bagi Sunako, menjelaskan bahwa id Sunako mendominasi dan mendorong ego Sunako untuk mengabaikan superego, yaitu nilai moral tentang bagaimana hal – hal yang kejam seperti penyiksaan seseorang malah bisa menyenangkan dirinya.

Analisis:

Ego Sunako juga mendukung id Sunako sehingga berteriak dan mengusir Kyouhei yang mengganggu kesendiriannya dalam kegelapan bersama dengan semua hal yang menakutkan di dalamnya.

Sunako tiba-tiba muncul dari belakang keempat pemuda itu, Kyouhei, Yuki, Takenaga, dan Ranmaru yang sedang berusaha membuat makan malam, tapi malah membuat kekacauan di dapur. Keempat pemuda yang kaget dan belum terbiasa dengan penampilan Sunako kaget dan ketakutan.

Cuplikan:

Sunako: “Duduk” (mengacungkan pisau) Ranmaru: “…Senjata pembunuhan?” Yuki: (menangis)

Takenaga: (menutup mulut sambil berlinang air mata) Kyouhei: “Si… Siapa dulu yang akan dibunuh, ya…?” Takenaga: “Tenang saja, yang pertama, Kyouhei!” Kyouhei: “eeh”

Sunako memotong kepala ikan dengan pisau hingga kepala ikan itu terbang membuat Kyouhei, Yuki, Takenaga dan Ranmaru terkejut. Kemudian, Sunako membelah ikan itu dan meremas isi perut ikan itu keluar sambil menyeringai hingga menimbulkan suara dan membuat darah ikan itu muncrat ke mana-mana, dan membuat keempat pria itu yang bersembunyi di balik dinding ketakutan. Tapi, tak lama kemudian terdengar suara masakan.

Kyouhei: “A…Apa? Dia… Lagi masak…?” Ranmaru: “Sepertinya, sih, begitu…”

Bau harum masakan membuat perut Kyouhei, Ranmaru, Takenaga, dan Yuki berbunyi bersamaan. Mereka yang bersembunyi di balik dinding mengawasi sosok Sunako yang memakai celemek bibinya. Dan terpesona dengan sosok Sunako, dengan rambutnya yang terikat tampak lehernya yang jenjang dan figurnya yang anggun dari belakang saat memasak.

……… Saat Sunako menghidangkan masakan buatannya Kyouhei, Ranmaru, Takenaga, dan Yuki terpana dengan penampilan makanann tersebut. Awalnya mereka ragu untuk memakannya, tapi setelah mencicipinya sekali mereka langsung melahap habis masakan Sunako.

Yuki: “Benar – benar enak!!” (makan sambil menangis terharu) Takenaga: “Enaak! Enaak!” (makan sambil menangis terharu)

Kyouhei: “Jauh lebih enak dari masakan bibi!!” (makan sambil menangis terharu)

Sunako: (meletakkan tumpukan perekat luka di meja makan)

Kyouhei, Takenaga, Ranmaru, dan Yuki terkejut dan berhenti makan. Sunako: “Anu… …Yang tadi… Maafkan aku…” (berjalan mundur)

(volume 1, hal 31 -35)

Dari cuplikan ” Sunako memotong kepala ikan dengan pisau hingga kepala ikan itu terbang membuat Kyouhei, Yuki, Takenaga dan Ranmaru terkejut. Kemudian, Sunako membelah ikan itu dan meremas isi perut ikan itu keluar sambil menyeringai hingga menimbulkan suara dan membuat darah ikan itu muncrat ke mana-mana”, bisa dilihat bahwa Sunako menyukai darah karena dia menikmati pemandangan berdarah saat memotong ikan, bahkan menyeringai ketika darah itu mengenai wajahnya. Di sini, kita bisa melihat id Analisis:

Sunako muncul ketika dia menyeringai saat melihat darah. Tapi, superego Sunako tetap tidak bisa membiarkan darah yang ada di jari teman-teman serumahnya, dengan memberikan perekat luka untuk mereka. Pada kejadian ini, ego sebagai badan eksekutif berhasil meredam id dan menyeimbangkannya dengan superego.

Dikatakan ego berhasil menyeimbangkan Id dengan superego, adalah karena Ego yang bekerja dengan prinsip realita mampu mewujudkan id yang bekerja dengan prinsip kenikmatan, terlihat dari sikap Sunako yang merasa senang memotong-motong ikan dan menyeringai puas melihat darah ikan, namun tidak menyalahi superego yang bekerja dengan prinsip moral karena yang dijadikan objek id dalam cuplikan di atas adalah ikan yaitu bahan makanan.

Pria bertopeng: (membekap mulut Sunako dari belakang sambil terkekeh, sedang tangannya yang lain mengacungkan pisau ke arah wajah Sunako) “Kalau melawan, bisa terluka”

Cuplikan:

Sunako awalnya terkejut, tapi kemudian menatap pisau yang diacungkan ke arahnya sambil menyeringai dan dilanjutkan dengan tawa yang menyeramkan dan membuat pria bertopeng itu terkejut. Saat pria bertopeng itu lengah, Sunako meraih tangan pria yang memegang pisau itu dan mengarahkannya ke tangan pria itu yang sedang menutup mulutnya. Sunako membuat luka yang dalam dan besar di tangan kiri pria bertopeng itu mengakibatkan darah pria itu muncrat ke segala arah termasuk ke wajah Sunako.

Pria bertopeng: “GYAAAAAAAAAA” (Melepas Sunako karena kesakitan) Sunako: (tertawa) “Itu akibatnya kalau mengganggu natalku”

“hihihihi darah…♥” (mencolek darah yang ada di pipinya) Pria bertopeng: “Si, sial!!” (memegang tangannya yang terluka)

(volume 2, halaman 60-61)

Pada cerita di atas, Sunako Nakahara akhirnya bisa menikmati natalnya sendirian tanpa diganggu oleh teman-teman serumahnya, Kyouhei pergi untuk bekerja dan yang lainnya pergi bersama kekasih mereka masing-masing. Saat itu, di sekitar rumah mereka ada banyak kejadian pemerkosa tapi, Sunako yang keras kepala tetap ingin menghabiskan natalnya sendirian. Di cuplikan di atas, terlihat Sunako yang senang ketika melihat pisau yang diarahkannya. Karena, Sunako adalah salah satu kolektor senjata tajam.

Analisis:

Pada cuplikan tersebut, Id Sunako yang berjalan sesuai dengan prinsip kenikmatan mendapatkan hambatan karena datangnya si pemerkosa. Sehingga ego mengabaikan superego, dan berusaha memenuhi kebutuhan id yang lain (melihat darah). Pada cuplikan di atas, Ego yang bekerja dengan prinsip realita, memenuhi kebutuhan id dengan cara menusuk si pemerkosa sehingga tokoh Sunako bisa menikmati darah yang keluar dari tangan si pemerkosa.

Cuplikan:

Dari kejauhan, Sunako dan Kyouhei melihat Ranmaru yang sedang berlari tergesa – gesa. Kemudian, terdengar teriakan “Tuan Meninggaaaal!!”. Panggung drama selasa suspens kasus pembunuhan di pemandian penuh uap panas.

Sunako: Pe, pembunuhan… Penusukan? Penembakan? Pembunuhan dengan racun? Pemboman? Jangan – jangan, kepalanya dipenggal dengan kapak… (gembira)

Kyouhei: “HEEEEEEEEI” ( memukul kepala Sunako) Sunako: “ah” (tersadar dari lamunannya)

Kyouhei: “Kamuuu! Pasti lagi mikirin yang lain, ‘kan!” (menarik kerah Sunako)

“Ada yang mati, tahu.” dasar bukan manusiaaa Sunako: Tepat sasaran (merasa bersalah)

Kyouhei: “Pokoknya, ayo keluar dulu. Aku mencemaskan Ranmaru” (berjalan keluar)

Sunako: “Ya ♥” (mengikuti Kyouhei) Kyouhei: “Kamu nggak perlu ikut”

Sunako tidak mempedulikan Kyouhei dan berlari mengejarnya, Kyouhei pun akhirnya menyerah dan membiarkan Sunako ikut.

Sunako: Tuhan, maafkan aku. Walau dihina bukan manusia, walau dihina ajaran sesat, ini mayat ASLI korban pembunuhan pertama dalam kehidupan Sunako Nakahara…♥ (mendesah puas)

(volume 3, halaman 4-8)

Pada cuplikan di atas, terlihat bahwa id Sunako mengambil alih dan menjadi dominan. Superego yang hampir muncul setelah mendapat rangsangan dari kata – kata Kyouhei, kalah oleh id Sunako yang terlalu kuat. Ego sebagai badan eksekutif juga lebih mendukung id yang berjalan dengan prinsip kenikmatan, yaitu dorongan untuk memenuhi kebutuhan dengan serta merta (langsung) dan mengabaikan superego yang bekerja dengan prinsip moral.

Analisis:

Cuplikan

Sunako dan Yuki sedang jalan –jalan di taman yang dipenuhi bunga mawar. Jari Yuki terluka ketika ingin memetik bunga mawar.

:

Yuki: “ah” (jarinya berdarah) “aduh…” Sunako: (menyadari darah yang mengalir)

“wah…” (meraih tangan Yuki sambil tersipu) Kyouhei: “Yuki berhasil!!”

Yuki: “Sakiiit! Sakiiit” (menangis) Ranmaru: (membalut tangan Yuki)

Sunako: (tertawa) Rasanya kayak Elizabeth Hardley… Takenaga: “Itu… Itu sikap biasa Sunako…”

Yuki: (berlinang air mata) “Benar – benar bukan anak normal, ya…” Jadi sadar lagi.

Pada cuplikan di atas, ego sebagai badan eksekutif mengabaikan superego yang bekerja dengan prinsip moral dan lebih cenderung mendukung id yang bekerja dengan prinsip kenikmatan.

Analisis:

Orang-orang mulai mengerumuni Sunako yang masih bertekad untuk mencari mayat yang menurutnya dikubur di sekitar pohon sakura.

Cuplikan:

Pria: “Nona… Di sini nggak akan keluar apa-apa.” wanita tua: “Kenapa jadi lupa diri begitu?”

mereka semua bingung dengan tingkah Sunako yang sangat bersemangat menggali tanah.

Sunako: “Kenapa..?” (terdiam sesaat lalu mengangkat kepalanya) “Karena aku suka mayat.” (tegas)

Mereka yang mendengar penjelasan singkat Sunako terpana dan takjub. Kemudian terdengar suara tepukan tangan. Lalu kemudian satu – persatu orang – orang yang ada memberi dukungan pada Sunako dengan berlinang air mata. Pria berdasi: “Benar juga…”

Gadis muda: “Memang benar. Kalau manusia sudah suka, akan maju terus walau terluka”

Pria gemuk: “Maju terus tanpa memikirkan yang nggak perlu. Itu namanya laki – laki”

Ibu muda: “Benar… Itu benar”

Wanita: “Aku juga akan temui orang itu sekali lagi”

Pria tua: “oke, semuanya” (melambaikan tangan) “Sebagai langkah awal memperbaiki hidup. Ayo, kita bantu nona ini!”

Ranmaru, Yuki dan Takenaga hanya diam terpana melihat perubahan situasi yang sangat cepat. Apalagi, ketika orang – orang mulai dengan semangat menggali tanah yang ada untuk membantu Sunako mencari mayat yang terkubur. (volume 8, halaman 120-122)

Pada cerita ini, diceritakan Sunako dan teman-temannya yang pergi ke taman untuk melihat bunga sakura (ohanami). Saat sampai di tempat ohanami, Sunako mulai menggali tanah yang ada di dekat pohon sakura. Sunako terinspirasi dari buku yang baru saja dibacanya, yaitu tentang mayat yang dikubur di bawah pohon sakura. Sikap Sunako pun membuat panik teman-teman dan orang-orang yang ada di sana.

Analisis:

Pada cuplikan ““Kenapa..?” (terdiam sesaat lalu mengangkat kepalanya)

“Karena aku suka mayat.” (tegas)” dijelaskan bagaimana tokoh Sunako yang hanya berpikir bagaimana untuk memuaskan kebutuhannya akan kenikmatan (id)

dan tidak memperdulikan superego walaupun, kumpulan orang mempertanyakan sikapnya.

Sunako: “Aku nggak akan pulang, karena gaji per jam di sini tinggi.” Cuplikan:

Kyouhei: “Aku nggak peduli itu, buego!!” (menarik tangan Sunako) Aku bisa dibunuh bibi, tau!

Yuki: “Sunako, nggak kumpul uang sebanyak itu pun, kamu masih bisa bayar uang sewa sekarang, ‘kan?”

Sunako: “Habis, kalau nggak banyak uang. Jadi nggak bisa sewa rumah yang ditinggali semuanya.”

Yuki: “Ka… Kamu… Memikirkan kami?”

(volume 18, halaman 34 – 35)

Karena suatu kesalahpahaman Sunako, Kyouhei dan teman – teman mereka mengira bahwa mereka tidak bisa pulang ke rumah sewa milik bibi Sunako lagi. Ranmaru, Takenaga, dan Yuki tinggal di hotel milik keluarga Ranmaru. Sedangkan, Kyouhei dan Sunako tinggal di sebuah apartemen kecil. Pada cuplikan di atas, Sunako bekerja sebagai tukang bersih – bersih di sebuah klub kabaret, dan dipaksa pulang oleh Kyouhei, Takenaga, Ranmaru dan Yuki. Analisis:

Cuplikan dialog “Habis, kalau nggak banyak uang. Jadi nggak bisa sewa rumah yang ditinggali semuanya.”, menunjukkan ego Sunako yang ingin bekerja demi teman – temannya.

Cuplikan:

Kyouhei: “Kalau berhasil berdansa sampai musik selesai, kita bisa meyakinkan mereka.”

Terus, aku bisa pulang

“Cukup satu lagu, tahan sebentar.” (menatap Sunako) “Kamu masih ingat latihan intensif kita, kan?”

Sunako: (berkeringat) “Begitu selesai berdansa satu lagu… Bibi nggak akan malu?”

Sunako teringat kata-kata bibinya, “Aku punya Sunako. Aku ingin

menunjukkan padanya, kalau aku bisa membesarkan keponakanku dengan baik”. Sunako memantapkan dirinya, dan menggenggam tangan Kyouhei.

Sunako: Bibi, lihatlah aku akan berdansa sampai selesai satu lagu. Walau tubuhku harus membusuk.

(volume 24, halaman 135)

Pada cuplikan di atas, Ego mengabaikan id dan lebih cenderung mendukung superego. Superego Sunako yang ingin agar semua orang bisa menerima dirinya sebagai seorang lady demi bibinya (nurani) memaksanya untuk Analisis:

mengabaikan id yang sebenarnya merasa sangat tidak nyaman harus bersentuhan dan bertatapan dengan Kyouhei selama berdansa dengannya.

Sunako: “Ibumu… Pasti sangat menyayangimu.” Cuplikan:

Kyou: “Hah?” Kamu dengar ceritaku nggak, sih?

Sunako: Uwa, tampangnya bikin kesal kalau menoleh begitu. “Saking sayang… Dan cemasnya… Ibumu jadi marah.”

Kyou: “Nggak mungkin!”

Sunako: “Anak kecil takkan bisa mengerti.”

Kyou: “Jangan memperlakukanku seperti anak kecil!”

Sunako: “Nggak bisa mengerti perasaan ibu… Itulah anak kecil.” “Dengarkan kata – kata orang yang lebih tua.”

(volume 29, halaman 131)

Pada cuplikan di atas, Sunako bertemu dengan seorang anak kecil yang mirip Kyouhei yang dibencinya, anak bernama Kyou itu juga sering diculik seperti Kyouhei. Sunako yang saat itu sedang melarikan diri dari Kyouhei awalnya kesal karena disuruh untuk menjaga seorang anak kecil yang mirip dengan Kyouhei di saat ingin melarikan diri darinya. Namun, setelah mengetahui Analisis:

bagaimana Kyou berpikir bahwa ibunya membenci dirinya, Sunako malah memberikan sedikit nasihat moral pada anak kecil itu.

Cuplikan di atas, menunjukkan superego Sunako yang tidak bisa membiarkan anak kecil itu sendirian, dan membiarkannya Kyou berpikir bahwa ibu Kyou membenci anaknya sendiri. Walaupun, Sunako membenci Kyou di mana hal tersebut menyalahi id, namun, Ego Sunako jauh lebih mendukung superego daripada id.

2. Dinamika Kepribadian (Naluri kematian, Kecemasan, Pertahanan Ego) Cuplikan:

Takenaga: “Kyouhei, sudah empat mangkok, lho.”

Yuki: “Kyouhei!”

Ranmaru: “Kalau jadi gendut, memalukan, lho.”

Kyouhei: “Habis, waktu terserang flu, aku tak makan apa – apa sih.” Yang boleh di makan cuma bubur dan udon.

Takenaga: “Dia bahkan tahu kalau hampir terbunuh…” Itu benar – benar menakutkan.

Benar, sewaktu Kyouhei yang sudah mengatasi flu makan dengan lahapnya. Sunako mengurung diri di kamarnya, dan menuju kegilaan.

Sunako: “Mau bunuh dengan cara apa, ya?” (bergumam sambil membaca buku)

“Kalau hanya dengan satu tusukan pisau saja, membosankan…”

Lihat saja, makhluk menyilaukan. Sebelum aku meleleh, membusuk, dan mati karena sinarmu. Akan kubuat kau jadi mayat tertampan di dunia.

Sunako berdebar – debar membayangkan mayat tampan Kyouhei yang dibalut oleh kain dan dikelilingi mawar. Tapi, kemudian kain dan mawar itu lama kelamaan pudar dan menghilang dan pikiran Sunako hanya memperlihatkan sosok Kyouhei yang telanjang. Sejak Sunako melihat Kyouhei waktu telanjang, sepertinya bayangan itu tak bisa lepas dari ingatan Sunako.

(volume 1, halaman 123-124)

Pada cuplikan di atas, menjelaskan bahwa Sunako merencanakan pembunuhan Kyouhei karena merasa kelangsungan hidupnya terancam dengan keberadaan Kyouhei.

Analisis:

Seperti teori Freud, bahwa “di balik” dan “di samping” insting kehidupan terdapat insting kematian. Pada tokoh Sunako, insting kehidupan itu juga mendorong munculnya insting mati. Hanya saja, insting mati itu ditujukan ke luar diri sendiri yaitu tokoh Kyouhei.

Sunako: “Hiroshi… Akira…” (merobek sofa dengan pisau di tangannya) “Di sini juga nggak ada…”

Yuki: “Su, su, su, Sunako!” Ranmaru: “Sunako! Bertahanlah!” Takenaga: “Bertahanlaaah!”

Sunako mengarahkan pisau pada Yuki, Ranmaru dan Takenaga. Setelah mereka menghindar. Sunako lalu menusuk – nusuk dinding dengan pisau. Yuki: “Kyouhei! Kyouhei! Lakukan sesuatu!”

Kyouhei: “Nggak mauuu. Nggaak.” (menjulurkan lidah)

“Dia cewekku. Sebagai cowoknya, aku mau biarkan dia berbuat seenaknya…”

Ranmaru, Takenaga, dan Yuki bersujud sambil meminta maaf pada Sunako.

Takenaga: “Maaf kami sudah berbuat seenaknya, Sunako.”

Ranmaru: “ Padahal, Sunako jadi terlibat gara-gara masalah uang sewa kami.” Takenaga: “Tapi”

Yuki: “ kami ingin Sunako percaya diri.” Ranmaru: “Iya, kami juga ingin Sunako jatuh cinta”

(volume 4, halaman 100-104)

Pada cuplikan di atas, teman-teman Sunako menyembunyikan semua benda-benda kesayangan Sunako agar Sunako mau dijodohkan sesuai dengan Analisis:

perintah bibinya. Tapi, Sunako yang menolak dijodohkan protes dengan cara menghancurkan kamarnya (insting merusak). Bahkan, ketika teman-temannya mencoba membujuk Sunako dengan cara lembut, Sunako malah berusaha untuk bunuh diri (insting mati) dengan cara mengiris pergelangan tangannya.

Insting mati pada tokoh Sunako di sini muncul karena, Sunako merasa bahwa sikap protes yang dilakukannya sia-sia dan tidak didengar oleh teman- temannya. Sehingga, dia merasa satu-satunya jalan keluar adalah bunuh diri.

Cuplikan:

Kyouhei, Takenaga, Ranmaru dan Yuki yang sedang makan mie instan di ruang santai, kaget ketika melihat Sunako lewat.

Sunako: “Selamat pagi. Aku lapar, mie instan, ya” Ranmaru: “Su, su, Sunako!?”

Yuki: “Kau terkapar selama tiga hari tiga malam, lho. Kau baik-baik saja?”

Takenaga: “Nggak ada yang terasa aneh?”

Sunako: ah, yukata… (menyadari dia memakai yukata) “Padahal, seharusnya aku ada dalam kegelapan..” aneh (Menuangkan air ke dalam gelas)

Yuki: “I, ini amnesia!” Takenaga: Dia syok berat, sih!

Kyouhei: haup haup (makan mie)

Ranmaru: “Dia lupa, tentang ciuman itu!”

Begitu mendengar kata-kata Ranmaru, Sunako tiba-tiba pingsan dan membuat kaget semua orang.

Takenaga: “A, a, ada apa, tiba – tiba…?” Sunako: (tersadar) “Hah? Barusan aku…?” Yuki: “kyaa kyaa” (berlari ketakutan) Kyouhei: (gemetar ketakutan)

(volume 3, halaman 46-47)

Pada cuplikan di atas, Sunako yang mengalami kecemasan neurotik tingkat tinggi karena peristiwa berciuman dengan Kyouhei pingsan selama tiga hari. Lalu, melupakan kejadian itu seperti yang ditunjukkan dalam cuplikan tapi setiap kali ada yang mengungkit soal ciuman itu Sunako akan pingsan dan “mereset” kembali ingatannya

Analisis:

Ketika ego yang berada di antara id (yang bekerja berdasarkan prinsip kenikmatan serta menghindari rasa sakit atau tegangan) dan superego (yang bekerja dengan prinsip moral dan nurani, sehingga dapat diterima oleh masyarakat) merasa terancam dan dikuasai oleh kedua elemen tersebut. Maka, ego akan berusaha mempertahankan diri dengan cara memblokir, menciutkan, ataupun mengubah dorongan-dorongan yang ada.

Anna Freud menyebut kasus pada cuplikan di atas sebagai represi yaitu ketidakmampuan untuk mengingat kembali situasi, orang atau peristiwa yang menakutkan, dalam kasus Sunako peristiwa ciuman antara dirinya dengan Kyouhei. Represi adalah salah satu mekanisme pertahanan ego yang bekerja dengan cara memblokir dorongan-dorongan yang ada. Dengan tidak adanya dorongan (peristiwa ciuman) tersebut, maka id (yang berusaha menghindari tegangan) dan superego (yang bekerja dengan prinsip moral) juga tidak akan memberikan tekanan pada ego.

Sunako: Aku tidak percaya, aku, aku.. Aku melakukan hal seperti itu!!

Sunako: Bukan, itu cuma pertolongan darurat! Benar, itu sama seperti pernapasan buatan dari mulut ke mulut.

(volume 25, halaman 44-45)

Ego yang berusaha menjaga kestabilan antara kenyataan, id dan superego terancam oleh kecemasan neurotik tingkat tinggi atas suatu kejadian yang menyebabkan Sunako terpaksa harus mencium Kyouhei yang dapat dilihat pada cuplikan “Aku tidak percaya, aku, aku.. Aku melakukan hal seperti itu!!”, sehingga kemudian ego melakukan sistem pertahanan diri yang pada kasus di Analisis:

atas disebut melawan diri sendiri. Pada cuplikan di atas, Sunako menjadikan dirinya sendiri sebagai target pengganti untuk pelampiasan rasa benci, dan marah terhadap kejadian antara dirinya dan Kyouhei.

Cuplikan:

Sunako: Hentikan! Padahal aku sudah lupa

Sunako teringat kejadian dua tahun lalu temannya waktu itu.

……… Sunako: “Coba aku secantik Nakaizumi kelas 3” (menatap cermin)

Teman Sunako:“Hahahaa.. Dia kan cewek paling cantik di sekolah, aku juga mau” “Karena nggak bisa, makanya kita berjuang begini”

Sunako: Benar!! Bakal mengkilap kalau dipoles

……… Sunako: Jangan perlihatkan! Jangan ingatkan! Jangan perlihatkan

kenyataan padaku!! (berlari ke kamarnya dan memeluk Hiroshi, boneka kerangka kesayangannya)

(volume 15, halaman 17)

Pada cuplikan di atas, menjelaskan penyebab sikap Sunako selama ini. Selama ini, Sunako menggunakan mekanisme pertahanan ego yang disebut Analisis:

isolasi, yaitu mengalihkan emosi dari kenangan yang menakutkan. Sunako berusaha untuk melupakan perasaan yang dialaminya saat dirinya ditolak dengan kata kata kasar itu. Hal ini dapat dilihat pada cuplikan Sunako berteriak agar jangan memperlihatkan kenyataan padanya, bukan berarti dia melupakan kejadian itu, tapi dia hanya melupakan perasaan yang dialaminya saat kejadian itu terjadi. Inilah yang membedakan isolasi dengan represi.

Sunako: Jangan perlihatkan.. Cuplikan:

Ranmaru: “Sunako, kamu nggak boleh ada di sini. Sayang sekali kalau kamu menghabiskan masa muda yang berharga di tempat begini.” (menarik tangan Sunako)

Sunako: Hentikan

Takenaga: “Ayo pakai baju yang manis, dandan yang cantik, dan keluar” Sunako: Aku nggak mau melakukan apa-apa lagi

Yuki: “Banyak sekali hal yang menyenangkan” Sunako: Aku nggak mau melakukan apa apa lagi

Takenaga: “Lihat! Rambutmu kusut begini, harus disisir biar cantik.” Yuki: “ah, jerawat!”

Dokumen terkait