• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN HUKUM TERHADAP TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN BERENCANA DALAM PERSPEKTIF KRIMINOLOGI (Studi

B. Analisis Putusan 1. Analisis dakwaan

4) Analisis Putusan

Setelah membaca serta menganalisa Putusan Nomor 123/K/Pid/2019 maka penulis dalam hal ini menyatakan bahwa jaksa maupun hakim yang menanangani perkara tindak pidana pembunuhan berencana dalam putusan tersebut sudah tepat dalam melakukan penerapan hukum yang terdapat dalam ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Terdakwa yaitu ADNAN Bin RAYES telah memenuhi unsur-unsur dalam tindak pidana pembunuhan berencana, dalam hal ini jaksa menuntut terdakwa dengan Pasal 340 KUHP.

Berdasarkan surat dakwaan, Terdakwa ADNAN Bin RAYES didakwakan dengan bentuk dakwaan Subsidairitas, yang mana terdakwa dalam perkara ini dikenakan dakwaan yang terdiri dari dua atau beberapa dakwaan yang disusun dan disejajarkan secara berurutan, mulai dari dakwaan tindak pidana yang terberat sampai kepada dakwaan tindak pidana yang ringan. Jika dakwaan Primair tidak terbukti, maka dakwaan subsidair tidak perlu lagi, Maka dari itu dengan memperhatikan fakta–fakta hukum yang diperoleh bahwa dakwaan Jaksa Penuntut Umum telah sesuai dengan fakta hukum yamg ada dalam persidangan, maka Hakim menetapkan dakwaan primair sebagaimana yang diatur Pasal 340 Kitab Undang–Undang Hukum Pidana. Putusan ini didasarkan pada pertimbangan

hakim terhadap unsur–unsur dari tindak pidana sebagaimana yang diatur dalam Pasal 340 Kitab Undang–Undang Hukum Pidana.

Perbuatan Terdakwa dikategorikan sebagai tindak pidana menghilangkan nyawa dengan direncanakan terlebih dahulu dengan Tuntutan Jaksa Penuntut Umum terhadap terdakwa yaitu 16 tahun penjara. Berdasarkan alat bukti yaitu keterangan saksi yang menguatkan memang Terdakwa melakukan pembunuhan berencana terhadap korban Hendri di luar rumahnya yang mengakibatkan korban kehilangan nyawa, dan juga diikuti dengan pernyataan Terdakwa yang telah membunuh korban kepada teman-temannya.

Hakim dalam amar putusannya ialah sebagai berikut :

1) Menyatakan Terdakwa Adnan Dwi Wahyudi Bin Rayes telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “ Dengan sengaja dan berencana menghilangkan nyawa orang lain secara bersama-sama” ;

2) Menjatuhkan pidana penjara terhadap Terdakwa tersebut diatas dengan pidana penjara selama 20 (dua puluh) tahun ;

3) Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani oleh Terdakwa selama pemeriksaan perkara ini dikurangkan sepenuhnya dengan masa pidana yang dijatuhkan ;

4) Menetapkan Terdakwa tetap ditahan ; 5) Menetapkan barang bukti berupa :

- Sebilah Senjata tajam jenis badik, panjang kurang lebih 35 (tiga Puluh lima) sentimeter dan lebar sekitar 4 (empat) sentimeter dan gagangnya dari kayu dan tanpa sarung ; Dirampas untuk dimusnahkan

Universitas Sumatera Utara

- 1 (satu) unit kendaraan sepeda motor warna putih merk Honda Beat DD 4961 OU milik Terdakwa ADNAN DWI WAHYUDI BIN RAYES ; Dikembalikan kepada Terdakwa ;

- 1 (satu) lembar baju kaos berlumuran darah milik korban. Dikembalikan kepada keluarga korban ;

6) Membebankan kepada Terdakwa membayar biaya perkara sejumlah Rp.2.500,00 (dua ribu lima ratus rupiah) ;

Hukuman yang dijatuhkan hakim kepada terdakwa lebih berat dari hukuman yang dituntut oleh Jaksa Penuntut Umum, dimana Jaksa Penuntut Umum menuntut dengan pidana penjara selama 16 (enam belas) tahun. Sedangkan dalam putusan hakim, terdakwa dijatuhkan hukuman yang berbeda yaitu 20 (dua puluh) tahun penjara, yang mana putusan yang diberikan oleh Hakim ialah ancaman maksimal pada perbuatan pembunuhan berencana karena perlu diketahui tidak ada aturan di KUHAP yang mengatur putusan yang mengharuskan Hakim memutus pemidanaan sesuai rekuisitor penuntut umum. Hakim memiliki kebebasan untuk menentukan pemidanaan sesuai dengan pertimbangan hukum dan nuraninya.

Putusan pengadilan didefinisikan oleh Pasal 1 butir 11 KUHAP sebagi pernyataan Hakim yang diucapkan dalam siding pengadilan terbuka, yang dapat berupa pemidanaan, bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum. Dalam membuat putusan pengadilan hakim dapat saja melakukan kesalahan atau kekeliruan yang dapat mencederai hak asasi manusia, seperti hak setiap orang untuk mendapat hak atas peradilan yang adil dan jujur yang dijamin pada Pasal 2 d UUD RI 1945.

Untuk mengoreksi dan meluruskan kesalahan dalam putusan pengadilan, setiap

orang dapat mengajukan upaya hukum demi tegaknya hukum, kebenaran serta keadilan.158

Terdakwa ADNAN Bin RAYES dalam hal ini mengajukan upaya banding yang diwakili oleh Penasehat hukum Terdakwa. Banding adalah suatu hukum (rechstniddel) yang merupakan hak terdakwa dan hak Jaksa Penuntu Umum untuk memohon, supaya putusan Pengadilan Negeri diperiksa kembali oleh Pengadilan Tinggi. Tujuan dari banding ini adalah untuk memperbaiki kemungkinan adanya kekhilafan pada putusan pertama. Hak memohon ini selalu diperingatkan hakim kepada terdakwa setelah putusan diucapkan, di mana Pengadilan Tinggi dapat membenarkan, mengubah, atau membatalkan putusan Pengadilan.159

Putusan Pengadilan Tinggi Makassar dalam proses banding yang diajukan oleh Penasehat hukum dalam amar putusannya ialah membenarkan putusan dari Pengadilan Negeri Sunguminasa dan tetap menjatuhkan hukuman kepada Terdakwa tanpa ada pengurangan masa tahanan. Dalam hal ini Penasehat hukum Terdakwa kemudian mengajukan kasasi. Kasasi adalah suatu alat hukum yang meupakan wewenang dari Mahkamah Agung untuk memeriksa kembali putusuan-putusan dari pengadilan-pengadilan terdahulu dan ini merupakan peradilan terakhir.160 Pada amar putusan kasasi oleh Mahkamah Agung. Mahkamah Agung dalam amar putusannya memperbaiki putusan Pengadilan Tinggi Makassar mengenai lamanya masa tahanan Terdakwa dari 16 tahun menjadi 20 tahun.

Mengenai pertanggungjawaban tindak pidana pembunuhan berencana yaitu terdakwa ADNAN Bin RAYES yang berdasarkan pertimbangan Majelis Hakim dalam putusan No. 123 K/Pid/2019 bahwa terhadap terdakwa ADNAN

158 Ibid, h.348.

159 Ibid, h.350.

160 Ibid, h.358.

Universitas Sumatera Utara

Bin RAYES tidak ditemukan hal-hal yang dapat menghapuskan pertanggungjawaban pidana, baik sebagai alasan pembenar dan atau alasan pemaaf. Perbuatan terdakwa tidak mencerminkan norma kemanusiaan dan perbuatan yang dilakukan terdakwa meninggalkan luka yang mendalam terhadap keluarga korban.

Dengan pemidanaan terhadap para terdakwa , diharapkan dapat menjadi salah satu upaya sebagai perbaikan terhadap dirinya menjadi manusia yang baik dan menyesali perbuatannya saat berada dalam lembaga permasyarakatan, juga setelah keluar diharapkan terdakwa berbaur kembali ke dalam masyarakat dan menjadikan terdakwa menjadi seorang yang taat kepada hukum dan menjunjung tinggi nilai – nilai moral, sosial dan agama sehingga dapat tercapainya kehidupan masyarakat yang tertib dan damai.

Pendapat Majelis Hakim telah cermat dan tepat dalam memutus perkara ini dan penulis menyatakan bahwa penerapan hukum yang terdapat dalam putusan 123 K/Pid.2019 telah sesuai dengan ketentuan hukum yang ada.

118 A. Kesimpulan

Berdasarkan permasalahan yang telah diteliti oleh penulis, maka penulis menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1. Pertanggungjawaban tindak pidana pembunuhan, yang dilakukan dengan berencana tidak dapat dilepaskan dalam pertanggungjawaban dalam hukum pidana yang selalu dikaitkan dengan masalah pertanggungjawaban dalam tindak pidana menghilangkan nyawa, kesengajaan maupun kealpaan tidak ada alasan pemaaf bagi tindak pidana pembunuhan berencana. Ketentuan pasal 340 KUHP berlaku bagi tindak pidana pembunuhan berencana.

Dalam delik ini yang menjadi subjeknya ialah barangsiapa dan bagian inti delik yaitu dengan sengaja merampas nyawa orang lain dengan rencana terlebih dahulu. Pembunuhan berencana dalam pembagian tindak pidana menghilangkan nyawa yaitu dikatakan delik yang berdiri sendiri karena dalam perbuatannya pelaku harus diniatkan dahulu dan dalam pelaksanaan niat itu ialah wujud dari kesadaran batin untuk melakukan pembunuhan berencana, dalam hal melakukan pembunuhan berencana, pelaku harus memutuskan niat dalam keadaan tenang dan tidak dalam paksaan, pelaku tidak dalam keadaan terburu-buru dan juga tidak dalam pengaruh emosi yang tinggi, segala sesuatu untuk memulai delik ini harus dipersiapkan terlebih dahulu dan memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi nantinya.

Universitas Sumatera Utara

Kemudian ada tenggang waktu yang cukup antara permulaan kehendak sampai pelaksanaan kehendak tersebut. Juga tidak ada batasan waktu kapan pelaku akan melakukan kehendaknya itu. Jika pelaku dalam kondisi waktu yang terlalu singkat bisa jadi pelaku tidak bisa mempersiapkan kehendaknya dengan matang, juga sebaliknya jika pelaku mengambil waktu yang terlalu lama, pelaku kemungkinan akan mengurungkan niatnya untuk melakukan delik.

2. Faktor yang menyebabkan terjadinya pembunuhan berancana antara lain sebagai berikut :

a. Faktor intern

Faktor ini bisa dilihat dari individu dan pelaku yang mengalaminya, yakni sedari kecil bisa dilihat mengalami peubahan-perubahan pola pikir serta kecenderungan yang tidak stabil dalam jasmani, faktor ini dapat menyebabkan terjadinya pembunuhan apabila individu tidak dapat mengatasi permasalahan itu. Dapat dilihat dari sisi dalam diri pelaku yang menyebabkan pelaku melakukan pembunuhan berencana bisa dilihat dari Selain itu bisa dilihat dari sisi psikologis si pelaku, yakni pelaku yang memiliki mental yang lemah cenderung kerap melakukan perbuatan tindak pidana tanpa memilik keyakinan dan kekuatan psikis yang baik.

b. Faktor ekstern

Salah satu dari faktor ekstern ialah faktor ekonomi, faktor ekonomi yang tidak tetap ialah sebagian besar kerap terjadinya kejahatan, pola hidup yang konsumtif menjadikan pelaku melakukan kejahatan yang menjadikan tingkat kriminalitas tinggi.

Faktor lingkungan keluarga berperan besar dalam membentuk karakter seseorang, pelaku kejahatan yaitu pembunuhan berencana layaknya sedari kecil memiliki lingkungan keluarga yang tidak harmonis,kejahatan terjadi disebabkan juga kurangnya bimbingan dan arahan dari kedua orangtua, serta pelaku mencari pelarian dan masuk dalam lingkungan luar yang negatif. Lingkungan sosial yaitu pergaulan juga merupakan faktor terbesar menjadikan seseorang berwatak baik atau buruk tergantung dimana lingkungan itu memberikan efek positif atau sebaliknya, kita sadari bahwa manusia ialah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri untuk menciptakan hubungan, namun apabila dalam hubungan pertemanan dalam lingkungan sosial menjurus kearah negatif juga dengan lingkungan pergaulan yang terlalu bebas serta terlebih lagi tanpa bimbingan orangtua menjadikan seseorang melakukan perbuatan kearah kriminal.

Penanggulangan terhadap tindak pidana pembunuhan berencana

Dalam proses penanggulangan terhadap tindak pidana pembunuhan berencana bisa dilalui dalam cara penal atau sarana pidana yaitu dengan menerapkan sanksi hukuman terhadap pelaku tindak pidana pembunuhan berencana melalui proses persidangan peradilan, juga penanggulangan tindak pidana ini bisa dilalui dengan cara non-penal yaitu pencegahan agar tidak terjadinya peristiwa yang mengakibatkan korban nyawa.

3. Penerapan hukuman oleh hakim terhadap tindak pidana pembunuhan berencana putusan No. 123 K/Pid/2019 Pelaku tindak pidana pembunuhan berencana yaitu terdakwa Adnan Dwi Wahyudi dinyatakan bersalah dan melanggar Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan

Universitas Sumatera Utara

menyebabkan kematian korban Hendri, dan dengan vonis hukuman penjara 20 Tahun. Hukuman yang diberikan Hakim kepada Terdakwa lebih berat dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum yaitu 16 tahun. Dan Hakim tidak melihat ada hal-hal yang meringkan kepada Terdakwa.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan yang telah diperoleh dari penulisan skripsi ini maka dirumuskanlah beberapa saran, yakni

1. Kasus pembunuhan masih saja terjadi dewasa ini, perlunya peran pemerintah untuk menyadarkan masyarakat pentingnya kesadaran hukum. Dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat dan pemahaman bahaya tindak pidana pembunuhan dan ancaman sanksinya bila terjadi.

2. Diperlukan adanya penataan ekosistem lingkungan yang baik, dimulai dari lingkungan keluarga dengan menanamkan norma-norma hukum yang ada dalam masyarakat agar individu tidak terjerumus dalam pergaulan buruk dan pikiran yang menjurus kedalam hal negatif layaknya seperti pembunuhan berencana. Untuk menghindari terjadinya tindak pidana pembunuhan, masyarakat setempat perlu turut andil dan berpatisipasi untuk mengatasi kasus seperti ini. Misalnya, dengan segera melaporkan ke pihak yang berwajib apabila melihat kejadian pembunuhan di sekitarnya, atau bahkan menghalangi pelaku sebisa mungkin agar tidak terjadi korban yang mengakibatkan kehilangan nyawa.

3. Sanksi yang diberikan kepada terdakwa kiranya memberikan efek jera bagi Terdakwa tindak pidana pembunuhan dan juga menjadi upaya preventif kepada

aparat penegak hukum untuk mengurangi kejahatan yang ada di dalam masyarakat.

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR PUSTAKA