ANALISIS PUTUSAN PENGADILAN AGAMA DEPOK NO
A. Analisis putusan pengadilan agama Depok Nomor 2438/Pdt.G/2015/PDpk
Sebagaimana yang telah diuraikan pada bab 2 mengenai teori perceraian serta dasar hukum perceraian itu sendiri, Kemudian pada bab 3 telah di uraikan isi putusan tersebut, kemudian pada bab 4 ini penulis akan menguraikan mengenai analisis putusan pengadilan agama Depok pada perkara No. 2438/Pdt.G/2015/PA.Dpk.
Pada putusan Pengadilan Agama Depok hakim memutus perkara ini dengan pertimbangan hukumnya yaitu “Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan pertimbangan tersebut, Majelis Hakim berpendapat bahwa rumah tangga Penggugat dan Tergugat benar-benar telah pecah serta sulit untuk mewujudkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah warahmah, sebagaimana dikehendaki dalam Al-Qur'an pada Surat Ar-Rum Ayat 21, dan Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 juncto Pasal 3 Kompilasi Hukum Islam, sehingga gugatan Penggugat dinilai telah memenuhi alasan perceraian sebagaimana dimaksud Pasal 39 Ayat (2) Huruf f Penjelasan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 juncto Pasal 19 Huruf f Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 juncto Pasal 116 Huruf f Kompilasi Hukum Islam, Menimbang, bahwa karena Tergugat tidak pernah hadir di persidangan dan tidak pula mengutus wakil atau kuasanya meskipun kepadanya telah dipanggil secara resmi dan patut, sedang ketidakhadiran Tergugat tersebut tidak ternyata disebabkan oleh suatu halangan yang sah sedangkan gugatan Penggugat beralasan dan tidak melawan hukum, sehingga perkara ini dapat diputus secara verstek, sesuai ketentuan Pasal 125 Ayat (1) HIR; Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, gugatan cerai Penggugat pada petitum angka 2 (dua) patut dikabulkan dengan menjatuhkan talak satu ba'in sughra dari Tergugat terhadap Penggugat”.1
Dalam putusan pengadilan agama Depok khususnya pada perkara cerai gugat dalam keadaan hamil terdapat hukum yang tertera di Undang undang harus sesuai dengan alasan
1 Putusan Pengadilan Agama Depok Nomor 2438/Pdt.G/2015/PA.Dpk. hlm 8
34
perceraian yang tertera pada pasal 39 Undang undang Perkawinan Jo Pasal 19 Peraturan Pemerintah No 9 Tahun 1975 tentang Perkawinan dalam pasal 116 Kompilasi Hukum Islam yang mana berbunyi suatu perceraian bisa terjadi karena:
1) salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan
2) salah satu pihak mninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya
3) salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung
4) salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain
5) salah satu pihak mendapat cacat badab atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami atau isteri
6) antara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga
7) Suami menlanggar taklik talak
8) peralihan agama tau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidak rukunan dalam rumah tangga.2
Kemudian pada pasal 22 Peraturan Pemerintah No 9 Tahun 1975 dan pasal 76 Undang undang No. 7 Tahun 1989 pada perkara perceraian ini dapat di kabulkan jika cukup jelas bagi pengadilan agama mengenai:
1) inti dari permasalahannya
2) sifat serta bentuk kadar dalam suatu permasalahan dan ketika di pertimbangkan pada nyatanya benar benar berkesinambungan dan prinsipil bagi suami istri 3) kemudian tidak adanya harapan untuk damai kembali dalam berumah tangga Dari pemaparan mengenai dasar hukum perceraian tersebut pada putusan pengadilan agama Depok No. 2438/Pdt.G/2015/PA.Dpk, yang menjadi suatu titik permasalahan dalam penelitian ini yaitu perceraian yang dilakukan oleh istri yang pada saat itu masih dalam keadaan mengandung anak dari suaminya yang berusia 3 bulan di kandungan. Pada putusan
2 Pasal 19 Peraturan Pemerintah No 9 Tahun 1975 tentang Perkawinan dan pasal 116 Kompilasi Hukum Islam
35
pengadilan agama Depok hakim menjatuhkan perceraian tersebut yang masih dalam keadaan hamil.
Pada putusan hakim yang mana hakim menjatuhkan perceraian cerai gugat wanita dalam keadaan hamil secara hukum tidak dapat disalahkan dikarenakan sebab sebab yang menjadi alasan penggugat cukup untuk dijadikan alasan keduanya untuk berpisah atau bercerai, mengenai masalah perceraian wanita dalam keadaan hamil 3 bulan hukumnya boleh saja.3 sesuai yang terdapat pada hadist nabi yang berbunyi
ًلِما ح ْو أ ا ًرِها ط ا هْقِ ل طُيِل َّمُث ا هْع ِجا رُيْل ف ُه ْرُم Suruhlah ia supaya (Ibnu Umar) ruju kepadanya, kemudian boleh ia thalaq dia di dalam keadaan suci atau hamil.4
Dari hadist tersebut menjelaskan bahwasannya wanita yang dalam keadaan kotor atau sedang haid tidak diperbolehkan diceraikan atau tidak boleh berpisah, akan tetapi hanya wanita yang dalam keadaan suci saja yang di perbolehkan bercerai atau di talak, sedangkan pada wanita yang sedang hamil tidak memiliki haid yang berarti wanita hamil yaitu wanita yang dalam keadaan suci maka dalam keadaan ini diperbolehkan untuk bercerai.
Sedangkan dalam Undang Undang Perkawinan baik dari Peraturan Pemerintah No 9 Tahun 1975 dan KHI bahwasannya tidak adanya aturan yang mengikat mengenai ini yaitu larangan untuk bercerai dalam keadan hamil, dalam perceraian tersebut sah sah saja secara hukum positif maupun hukum islam, hakim menjatuhkan putusan secara berbeda beda ada yang memutuskan langsung perceraian itu dan ada juga hakim yang memutusnya dengan menunggu sampai anak dari kandungan itu lahir tergantung dari situasi dalam rumah tangga tersebut apakah dari permasalahan dalam rumah tangga itu benar benar parah sehingga tidak bisa menunggu sampai istrinya itu melahirkan, hakim biasanya lebih khawatir apabila perkara tidak di kabulkan akan timbul kemudharatan yang besar, akan tetapi untuk massa iddah wanita tersebut yang masih dalam keadaan mengandung tetap sampai ia melahirkan.5 Kemudian dasar hukum hakim yang memutus perkara tersebut setelah melahirkan ada pada al Quran, Sebagaimana itu terdapat dalam al Quran surat at Thalaq ayat 4 yang berbunyi
3 Wawancara dengan Drs. M Rusli S.h., M. H, 17 November 2021 di Pengadilan Agama Depok
4 Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani, Bulughul Maram Min Adillat Al-Ahkam, (Al-Haromain Jaya Indonesia) hlm 233
5 Wawancara dengan Drs. M Rusli S.h., M. H, 17 November 2021 di Pengadilan Agama Depok
36
نَأ نُهُلَجَأ لاَمأحَ ألْٱ ُتََٰل ۟وُأ َو ۚ َنأض حَي أمَل ى ـََّٰٰٓ لٱَو رُهأشَأ ُةَثََٰلَث نُهُت د عَف أمُتأبَتأرٱ ن إ أمُك ئَّٰٓاَس ن ن م ضي حَمألٱ َن م َنأس ئَي ى ـ ََّٰٰٓ لٱَو ا ًرأسُي ۦ ه رأمَأ أن م ۥُه ل لَعأجَي َ للّٱ ق تَي نَم َو ۚ نُهَلأمَح َنأعَضَي Dan perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.6
Dari ayat menunjukan bahwasannya masa tunggu atau massa iddah wanita yang dalam keadaan hamil yaitu sampai ia melahirkan, jadi perempuan yang sedang hamil boleh bercerai ketika anak itu lahir, begitu juga menceraikan istri dalam keadaan hamil ini terdapat mengenai hadist Ibnu Umar yang menceraikan istrinya dalam keadaan haidh kemudian Rasulullah Saw menyuruh ia menceraikan istrinya dalam keadaan suci atau hamil.
Jatuhnya perceraian istri yang masih dalam keadaan mengandung tetap masih dalam tanggung jawab mantan suaminya ini merupakan suatu tanggung jawab bagi seorang lelaki sampai massa iddahnya itu berakhir, maka dari itu selama massa iddahnya itu, seorang mantan istrinya masih berhak memperoleh tempat tinggal, nafkah, serta pakaian dari mantan suaminya, dan juga ketika anak itu lahir tetap menjadi tanggung jawab bapaknya atau mantan suaminya termasuk biaya pendidikan, kesehatan, dan Nafkah terhadap anaknya.7
Merujuk pada pertimbangan hukum hakim diatas hakim menggunakan perspektif mashalihul mursalah yaitu menjaga kemashlahatan terhadap apa yang sedang dialami oleh istri dalam keadaan mengandung, akan sangat dikhawatirkan apabila timbul kemudharatan yang akan berdampak pada istri dan anak dalam kandungannya itu.
Menurut penulis alangkah lebih baiknya pada perkara cerai gugat istri dalam keadaan mengandung baiknya hakim mengabulkan gugatannya setelah melahirkan, dengan tujuan mengulur waktu sampai wamita itu melahirkan, serta mampu berfikir kembali akan dampak anak dalam kandungannya dan akan lebih baik lagi jika kedua pasangan itu tidak jadi bercerai, pada fase mengandung wanita yang dalam keadaan hamil membutuhkan perhatian seorang suaminya dalam hal kesehatannya dan hal yang lainnya agar tidak berdampak negative seperti kematian pada wanita saat ingin melahirkan ataupun kematian anak dalam
6 https://tafsirweb.com/10984-surat-at-talaq-ayat-4.html diakses tanggal 22 November 2021
7 Wawancara dengan Drs. M Rusli S.h., M. H, 17 November 2021 di Pengadilan Agama Depok
37
kandungannya atau gugur. Pada kasus ini juga sering terjadi atas kelalaian suaminya terhadap istri yang akan segera melahirkan sehingga terjadi kematian baik dari wanita itu ataupun bayi tersebut.8 Maka dari itu akan lebih baik jika hakim mengulur waktu sampai melahirkan terlebih dahulu agar tidak terjadi hal yang dirugikan baik terhadap perempuan maupun kandungannya, sebagaimana upaya pemerintah untuk menekan angka kematian anak dan meningkatkan kesehatan ibu pada Perda Kota Depok No. 2 Tahun 2015 tentang kesehatan ibu, bayi baru lahir, bayi dan anak balita. Pada peraturan ini peran suami sangat penting agar tercapainya kesehatan wanita setelah melahirkan.9
B. Analisis putusan pengadilan agama Sawahlunto Nomor 18/Pdt.G/2013/PA.Swl.
Setelah peneliti pelajari terhadap putusan pengadilan agama Sawahlunto Nomor 18/Pdt.G/2013/PA.Swl beserta pertimbangan pertimbangan hakim tersebut peneliti menemukan alasan terjadinya penolakan terhadap putusan pada perkara ini yang menyangkut cerai gugat yang dilakukan oleh istri dalam keadaan mengandung.
Pada perkara ini dimana penggugat menyatakan bahwasannya penggugat belum dikaruniai anak, dan juga tergugat telah mengabaikan hak hak suami terhadap istri, tergugat juga meninggalkan tempat kediaman bersama sejak itu mereka tidak hidup 1 rumah selama 1 tahun lamanya dan juga tergugat tidak memberikan nafkah sehingga dalam perlakuannya tersebut penggugat merasa teraniaya lahir dan bathinnya sehingga pada permasalahan ini tergugat juga benar benar mengabaikan kewajibannya sebagai seorang suami, tergugat juga telah melanggar perjanjian taklil talak yang mana suatu talak yang dijanjikan oleh suami apabila dalam perjanjian dan syarat itu dilanggar oleh suaminya maka penggugat atau istri mempunyai kesempatan untuk bercerai karena suami melanggar janjinya.10 Dalam perjanjian taklil talak suami mengatakan bahwasannya:
“Sewaktu waktu saya”
1) Meninggalkan isteri saya 2 (dua) tahun berturut turut
2) Atau saya tidak memberikan nafkah wajib kepadanya 3 (tiga) bulan lamanya 3) Atau saya menyakiti badan/jasmani isteri saya
4) Atau saya membiarkan (tidak memperdulikan) isteri saya 6 (enam) bulan lamanya
8 “Suami Abaikan Istri Hamil Bakal Dihukum”, Republika, 13 Januari 2022
9 Perda Kota Depok No. 2 Tahun 2015 tentang kesehatan ibu, bayi baru lahir, bayi dan anak balita
10 Sayuti Thalib, Hukum Keluarga Indonesia, (Jakarta: Yayasan Penerbit VI, 1974), hlm 119
38
Akan tetapi tergugat dalam sidang tersebut mengajukan keberatan dalam gugatan perceraian tersebut, tergugat juga memberikan jawaban atas tuntutan penggugat yang mana tergugat menyampaikan bahwasannya benar tergugat pernah mengucapkan taklil talak, akan tetapi tergugat meninggalkan tempat kediaman bersama dikarenakan tergugat di usir oleh orang tua penggugat dengan dalih orang tua penggugat menuduh tergugat berselingkuh, tergugat juga sudah dua kali berupaya membawa penggugat ke rumah orang tua tergugat akan tetapi orang tua penggugat menjemput dan membawa paksa penggugat, walaupun penggugat dan tergugat telah pisah tempat tinggal akan tetapi mereka sering bertemu di rumah orang tua tergugat dikarenakan tempat kerja penggugat berdekatan, tergugat juga menyatakan bahwasannya selain sering bertemu mereka juga masih melakukan hubungan suami istri dan mengenai nafkah tergugat masih memberikan nafkahnya tersebut yang diterima oleh penggugat sendiri terakhir sekitar 2 bulan yang lalu, tergugat juga keberatan untuk bercerai dikarenakan tergugat masih mencintai penggugat apalagi pada saat kondisinya yang sekarang ini sedang mengandung. Dari pernyataan tersebut penggugat juga membenarkan dan mengakui apa yang dikatakan oleh tergugat dan penggugat mengakui bahwasannya penggugat telah hamil 3 bulan.11
Kemudian pada putusan ini hakim menolak gugatan tersebut dengan pertimbangan dikarenakan penggugat masih sering bertemu di rumah orang tua tergugat, penggugat juga masih menerima uang dari tergugat, dan juga penggugat dan tergugat masih melakukan hubungan suami istri bahkan setelah penggugat mengajukan gugatan mereka masih melakukan hubungan suami istri dan juga penggugat mengakui bahwa dia telah hamil 3 bulan berdasarkan pemeriksaan kandungan.
Dalam sengketa di atas mengenai nafkah tersebut sudah jelas tergugat masih memberikan nafkah kepada penggugat walaupun sekitar 2 bulan yang lalu, jika di kaitkan dalam ikrar taklil talak tersebut yang mana apabila tergugat tidak memberikan nafkahnya selama 3 bulan secara berturut turut baik di sengaja atau karena kelalaiannya maka talak itu sah namun pada kenyataannya tidak demikian penggugat mengakui tergugat masih memberikan nafkahnya yang terakhir 2 bulan yang lalu dan uang tersebut di terima dan di pergunakan oleh penggugat, berdasarkan fakta tersebut tergugat tidak melanggar perjanjian taklil talak.
11 Putusan pengadilan agama Sawahlunto Nomor 18/Pdt.G/2013/PA.Swl, hlm 2-7
39
Kemudian dalam permasalahan dalam taklil talak yang mana menyatakan bahwasannya atau saya tidak memperdulikan istri saya enam bulan lamanya, dalam point ini substansinya terletak pada suami tidak memperdulikan hak istri yang bersifat bathiniah seperti hak untuk menggauli, mencintai dan kasih sayang, bimbingan dan perlindungan dari suami yang mana dimaksud dalam pasal 77 Ayat 2 yang berbunyi “Suami isteri wajib saling cinta mencintai, hormat menghormati, setia dan memberi bantuan lahir bathin yang satui kepada yang lain”.12 Dan pasal 80 ayat 1 dan 2 yang berbunyi “Suami adalah pembimbing terhadap isteri dan rumah tangganya, akan tetap mengenai hal-hal urusan rumah tangga yang penting-penting diputuskan oleh sumai isteri bersama. Suami wajib melidungi isterinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya”.13 Jika dikaitkan dengan ikrar talak yang mana suami tidak memperdulikan istri selama 6 bulan adalah tidak sah karena pada faktanya yang terjadi di pengadilan bahwasannya tergugat masih memperdulikan istrinya dan memberikan hak nya berupa bathiniah yang belum berlangsung lama selama 6 bulan lamanya.
Kemudian berdasarkan fakta yang terungkap di pengadilan bahwasannya tergugat berpisah bukan karena kemauannya melainkan karena di usir oleh orang tua penggugat, atau setidaknya karena mempunyai hubungan yang kurang harmonis terhadap orang tua penggugat, kepergian suami terhadap istri bukan berarti meninggalkan tanggung jawab dan kewajiban sebagai seorang suami, tergugat juga melakukan upaya dua kali untuk menjemput dan membawa penggugat untuk hidup bersama dengan penggugat di rumah orang tua tergugat ini sebuah indikasi yang kuat bahwasannya tergugat punya itikad baik untuk mempertahankan rumah tangganya, namun meskipun pada akhirnya mereka berpisah tempat tinggal akan tetapi mereka masih menjalin hubungan yang baik seperti sering bertemu, memberikan nafkah sekitar 2 bulan yang lalu, bahkan sering melakukan hubungan layaknya suami istri, maka dari itu dalam putusan ini hakim menolak gugatannya dikarenakan sang suami masih memberikan hak dan kewajibannya dan juga suami masih memberikan perhatiannya terhadap istrinya.14
C. Perbandingan putusan pengadilan agama Depok No. 2438/Pdt.G/2015/PA.Dpk dengan putusan pengadilan agama Sawahlunto No. 18/Pdt.G/2013/PA.Swl.
12 Kompilasi Hukum Islam bab XII mengenai Hak dan Kewajiban Suami Istri Bagian ke satu umum pasal 77 ayat 2
13 Kompilasi Hukum Islam bab XII mengenai Hak dan Kewajiban Suami Istri Bagian ke tiga kewajiban suami pasal 80 ayat 1 dan 2
14 Putusan pengadilan agama Sawahlunto Nomor 18/Pdt.G/2013/PA.Swl, hlm 18-22
40
Berdasarkan kedua putusan tersebut yakni pada putusan pengadilan agama Depok Nomor 2438/Pdt.G/2015/PA.Dpk dan putusan pengadilan agama Sawahlunto Nomor 18/Pdt.G/2013/PA.Swl. Memiliki kesamaan dan perbedaan pada permasalahan ini, persamaan dalam perkara yaitu mengenai perceraian yang dilakukan oleh istri yang masih dalam keadaan mengandung, kemudian terdapat perbedaan di kedua putusan ini yaitu berupa keputusan hakim dalam menetapkan putusannya ada yang mengabulkan gugatan tersebut dan adapula yang menolak gugatan tersebut.
Dari kedua putusan tersebut yang membedakan hakim dalam memutus perkaranya yakni dimana pada putusan pengadilan agama Depok Nomor 2438/Pdt.G/2015/PA.Dpk.
para kedua pihak sama sama tidak bisa mempertahankan rumah tangganya sehingga terjadinya perselisihan yang terus menerus yang dikarenakan tergugat meninggalkan tempat kediaman bersama, tidak terbuka mengenai keuangan, dan juga tergugat sering menjelekkan penggugat di depan keluarga tergugat sehingga setelah itu terjadinya puncak permasalahan yang mana penggugat di usir oleh tergugat dan telah pisah ranjang dan sudah tidak melakukan hubungan layaknya suami istri.15 Pada putusan ini hakim mengabulkan gugatan tersebut dikarenakan kedua belah pihak sudah benar benar tidak bisa di damaikan sehingga jalan satu satunya yaitu bercerai kemudian hakim mengabulkan gugatan nya dengan berdasarkan pada pasal 39 Undang undang Perkawinan Jo Pasal 19 Peraturan Pemerintah No 9 Tahun 1975 tentang Perkawinan dalam pasal 116 Kompilasi Hukum Islam yang mana berbunyi suatu perceraian bisa terjadi karena:
1) salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan
2) salah satu pihak mninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya
3) salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung
4) salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain
5) salah satu pihak mendapat cacat badab atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami atau isteri
15 Putusan pengadilan agama Depok Nomor 2438/Pdt.G/2015/PA.Dpk. hlm 2
41
6) antara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga
7) Suami menlanggar taklik talak
8) peralihan agama tau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidak rukunan dalam rumah tangga.16
Dari permasalahan tersebut telah terbukti dan sah secara hukum dan agama untuk bercerai dikarenakan pada perkara ini yang mana suami meninggalkan kewajibannya sebagai seorang suami dan tidak bertanggung jawab sebagai seorang suami terhadap istrinya dan dari kedua belah pihak sudah benar benar tidak bisa di damaikan, suami tidak memberikan nafkah serta meninggalkan tempat kediaman bersama maka dari itu hakim berhak memutus perkara tersebut dengan menjatuhkan amarnya dalam pernyataan mengabulkan gugatan tersebut.
Kemudian pada perkara yang sama dengan amar yang berbeda terjadi pada putusan pengadilan agama Sawahlunto Nomor 18/Pdt.G/2013/PA.Swl yang mana pada putusan ini hakim menolak gugatan seorang istri yang sedang mengandung dengan alasan kedua belah pihak masih berhubungan baik, kemudian tergugat dikatakan melanggar taklil talak namun dalam putusan tersebut hakim memeriksa perkara tersebut dan menyatakan tidak adanya pelanggaran taklil talak yang dilakukan oleh tergugat, tergugat meninggalkan tempat kediaman bersama bukan dengan kemauan tergugat akan tetapi dikarenakan tergugat di usir oleh orang tua penggugat dengan dalih tergugat berselingkuh dengan perempuan lain, tergugat juga telah berupaya dua kali untuk membawa penggugat ke tempat kediaman orang tua tergugat akan tertapi orang tua penggugat membawa paksa penggugat, sehingga permasalahan pada perkara ini bukan terjadi perselisihan yang tidak bisa di damaikan antara penggugat dan tergugat melainkan hubungan yang kurang harmonis terhadap orang tua penggugat, tergugat juga masih menjalankan kewajibannya sebagai layaknya seorang suami terhadap penggugat atau istrinya yang mana sang istri ataupun penggugat masih diberikan nafkah uang belanja yang diberikan pada 2 bulan terakhir yang lalu dan penggugat menerima dan dipergunakannya uang tersebut, dan juga pada perkara ini tergugat juga masih memberikan nafkah bathin kepada penggugat.
16 Pasal 19 Peraturan Pemerintah No 9 Tahun 1975 tentang Perkawinan dan pasal 116 Kompilasi Hukum Islam
42
Maka dari itu pada perkara ini tergugat tidak melanggar syarat ketentuan sahnya perceraian jika di tinjau dari segi agama Islam dan pasal 39 Undang undang Perkawinan Jo Pasal 19 Peraturan Pemerintah No 9 Tahun 1975 tentang Perkawinan dalam pasal 116 Kompilasi Hukum Islam yang mengatakan bahwa:
1) salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan
2) salah satu pihak mninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya
3) salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung
4) salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain
5) salah satu pihak mendapat cacat badab atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami atau isteri
6) antara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga
7) Suami menlanggar taklik talak
8) peralihan agama tau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidak rukunan dalam rumah tangga
Kemudian jika dilihat pada pasal 22 Peraturan Pemerintah No 9 Tahun 1975 yang menyatakan bahwa “Gugatan perceraian karena alasan tersebut dalam Pasal 19 huruf f, diajukan kepada Pengadilan di tempat kediaman tergugat. Gugatan tersebut dalam ayat (1) dapat diterima apabila telah cukup jelas bagi Pengadilan mengenai sebab-sebab perselisihan dan pertengkaran itu dan setelah mendengar pihak keluarga serta orang-orang
Kemudian jika dilihat pada pasal 22 Peraturan Pemerintah No 9 Tahun 1975 yang menyatakan bahwa “Gugatan perceraian karena alasan tersebut dalam Pasal 19 huruf f, diajukan kepada Pengadilan di tempat kediaman tergugat. Gugatan tersebut dalam ayat (1) dapat diterima apabila telah cukup jelas bagi Pengadilan mengenai sebab-sebab perselisihan dan pertengkaran itu dan setelah mendengar pihak keluarga serta orang-orang