PENGATURAN HUKUM TERKAIT ANAK KORBAN SALAH TANGKAP DIINDONESIA
PERTIMBANGAN MAJELIS HAKIM MAHKAMAH AGUNG DALAM PUTUSAN MA NO 131.PK/Pid-Sus/2015
A. Kasus Posisi
1. Analisis Putusan Pengadilan Negeri yang dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi
Dalam Hukum Pembuktian Acara Pidana Majelis Hakim Mahkamah Agung pada perkara aquo tidak memeriksa terkait substansi dari Memori Kasasi yang disampaikan. Oleh karena itu, Majelis Hakim yang memeriksa perkara ini menggali dan mendalami seluruh berkas-berkas yang timbul selama proses persidangan tahap Judex Facti maupun Judex Juris, agar keadilan hakiki/materil yang sama-sama kita cari ditemukan dan ditegakkan. Putusan Pengadilan Nomor 1131/Pid.An/2013/PN.Jkt.Sel juncto Nomor 360/PID/2013/PT.DKI juncto Nomor 188 K/Pid.Sus/2014 menyatakan bahwa Para Pemohon terbukti secara sah dan meyakinkan secara bersama-sama menghilangkan nyawa KORBAN. Namun, Putusan pemidanaan terhadap Para Pemohon tersebut diberikan dengan kekhilafan atau
kekeliruan yang nyata dalam menilai dan menerapkanhukum pembuktian acara pidana.
Adanya kekeliruan atau kekhilafan yang nyata sebab Majelis Hakim yang menangani perkara ini menyandarkan kebenaran materil bukan berdasarkan fakta persidangan tetapi berdasarkan Berita Acara Pemeriksaan Polisi. Dalam menjatuhkan putusannya, Majelis Hakim yang menangani perkara ini menjadikan keterangan-keterangan para saksi maupun Para Terdakwa/Para Pemohon yang ada di BAP Polisi sebagai bukti dalam persidangan, padahal keterangan BAP tersebut bertentangan dengan fakta yang terungkap dalam persidangan. Adapun dalam BAP Polisi jelas-jelas berdasarkan keterangan SAKSI III, SAKSI II maupun Saksi SAKSI I maupun Para Terdakwa, menyatakan bahwa mereka yang melakukan pembunuhan secara bersama-sama terhadap KORBAN. Namun seluruh keterangan dalam BAP tersebut diberikan para saksi dan Para Terdakwa dibawah intimidasi, penyiksaan, tidak ada pendampingan Kuasa Hukum, sehingga keterangan tersebut terpaksa dikarang dan tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya, yang mana hal ini telah disampaikan dihadapan persidangan ketika mereka mencabut keterangan dalam BAP Polisitersebut. Seharusnya Majelis Hakim yang menangani perkara ini berpegangan kepada Pasal 185 ayat (1) KUHAP yang menegaskan bahwa keterangan saksi dijadikan sebagai alat bukti bila keterangan tersebut dinyatakan di sidang pengadilan, begitu juga Pasal 189 ayat (1) KUHAP yang menegaskan bahwa keterangan Terdakwa adalah apa yang Terdakwa nyatakan di sidang. Maka dari itu, khilaf dan keliru lah jikalau Majelis Hakim perkara aquo menjadikan keterangan dalam BAP
sebagai alat bukti untuk memenjarakan Para Pemohon, sebab jelas-jelas seluruh keterangan para saksi, maupun Para Terdakwa/Para Pemohon telah dicabut dengan alasan yang sah dan dapat dibuktikan. Jika seandainya Majelis Hakim Pengadilan Negeri berpegangan pada fakta persidangan bukan pada BAP Kepolisian, maka bukan putusan pemidanaan yang akan dijatuhkan kepada Para Pemohon.
Adanya kekeliruan ataupun kekhilafan yang nyata sebab Majelis Hakim yang menangani perkara ini mengesampingkan fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan yang membuktikan ketidakbersalahan Para Pemohon. Majelis Hakim pada perkara aquo melakukan kekhilafan ataupun kekeliruan dengan mengesampingkan kebenaran hakiki/material yang terbukti dalam persidangan.
Berdasarkan keterangan saksi-saksi (selain saksi verbalisan atau Polisi Penangkap) terbuktilah bahwa yang melakukan pembunuhan terhadap KORBAN bukanlah Para Pemohon, namun Iyan Pribadi alias IP, Brengos dan Jubai. Motif pembunuhan sesungguhnya juga bukanlah karena rebutan lapak ngamen ataupun tidak senang dengan keberadaan korban sebagaimana dituduhkan dalam dakwaan, namun karena korban memiliki motor Mio Soul warna merah sehingga Iyan Pribadi alias IP, Brengos dan Jubai menghabisi nyawa KORBAN. Sedangkan saat terjadinya tindak pidana Para Pemohon beserta beberapa saksi sedang tidak berada di TKP, tetapi sedang berada di Parung Bogor. Hal ini terbukti ketika pagi harinya saat Para Pemohon maupun beberapa saksi pulang dari Parung Bogor, dan langsung mendatangi TKP, dan ternyata ditemukan KORBAN sudah dalam keadaan terkapar,
kritis, sehingga Para Pemohon dan rekannya membantu korban dengan memberikan air putih maupun makanan mie, dan bahkan mengusulkan agar korban dibawa ke rumah sakit, namun pada waktu itu korban menolak.Setelah korban meninggal tidak tertolong, Para Pemohon dan rekan-rekannya justru memberitahukan hal ini kepada Satpam maupun beberapa orang yang berada diatas jembatan, namun malang bagi mereka, Polisi menyiksa dan menyeret mereka menjadi Tersangka. Sesungguhnya anak-anak malang yatim piatu ini adalah korban salah tangkap, korban dari ketidakseriusan dan ketidakprofesional Penyidik dalam ungkapkan perkara ini, dan hal ini didukung oleh Jaksa Penuntut Umum yang hanya menyandarkan bukti berdasarkan BAP Polisi saja, begitu juga Majelis Hakim yang memidana.
Adanya kekeliruan ataupun kekhilafan yang nyata sebab Majelis Hakim yang menangani perkara ini memidana Para Pemohon tanpa memenuhi Prinsip Minimum Pembuktian yang diatur dalam Pasal 183 KUHAP. Dalam Pasal 183 KUHAP, sangat tegas diatur bahwa seorang Hakim dilarang keras memutus seseorang bersalah jikalau tidak ada minimum dua alat bukti yang sah dan berdasarkan minimum 2 alat bukti yang sah tersebut Majelis Hakim memperoleh keyakinan bahwa seseorang tersebut bersalah.
Dalam perkara ini, jelas-jelas berdasarkan fakta yang terungkap dalam persidangan tidak ada satupun alat bukti yang terungkap dalam persidangan yang membuktikan bahwa benarlah secara sah dan meyakinkan Para Pemohon membunuh KORBAN. Yang ada hanya keterangan dalam BAP yang penuh dengan manipulatif/karangan dari para saksi maupun Para Pemohon sebab didera derita
penyiksaan yang sudah tak tertahankan lagi. Sedangkan bukti Visum et Repertum mayat korban tidak dapat berdiri sendiri, sebab tidak dapat membuktikan bahwa Para Pemohon lah yang melakukan pembunuhan terhadap korban. Selain itu, tidak ada juga bukti ilmiah lainnya seperti sidik jari maupun DNA yang seyogyanya membuat terang kasus ini. Maka dari itu, jelaslah MajelisHakim pada perkara aquo telah melakukan kekhilafan ataupunkekeliruan yang nyata dalam menerapkan prinsip minimumpembuktian yang ditegaskan dalam Pasal 183 KUHAP.