BAB IV ANALISIS PERTIMBANGAN HAKIM TERHADAP
B. Analisis Terhadap Putusan PN
No.82/MEREK/2011/PN.NIAGA.JKT.PST dan Putusan MA No.177K/Pdt.Sus/2012
Dalam kasus MAXIMA melawan MAXISTYLE adapun beberapa hasil analisis dimana diperbandingkan antaraPutusan PN No.82/MEREK/2011/PN.NIAGA.JKT.PST dan Putusan MA No.177K/Pdt.Sus/2012 yaitu dalam hal persamaan pokok. Di dalam putusan Pengadilan Niaga diputuskan bahwasannya adanya persamaan pokok dalam kata MAXIMA dan MAXISTYLE, sedangkan di dalam putusan Mahkamah Agung diputuskan bahwasannya tidak adanya persamaan pokok dalam kata MAXIMA dan MAXISTYLE.
Hasil dari analisis penelitian ini perihal persamaan pada pokoknya adalah dapat kita lihat kriteria-kriteria dari persamaan pada pokoknya yaitu yang dimaksud dengan persamaan pada pokoknya adalah kemiripan yang disebabkan oleh adanya unsur-unsur yang menonjol antara merek yang satu dengan merek yang lain, yang dapat menimbulkan kesan adanya persamaan baik mengenai
bentuk, cara penetapan, cara penulisan atau kombinasi antara unsur-unsur ataupun persamaan bunyi ucapan yang terdapat dalam merek-merek tersebut.
Dilihat dari kriteria diatas sehingga sependapat dengan hasil Putusan Mahkamah Agung bahwasannya adanya perbedaan yang cukup signifikan untuk membedakan kata MAXIMA dengan MAXISTYLE. Disesuaikan dengan kriteria persamaan pada pokoknya bahwasannya ada kemiripan yang disebabkan adanya Unsur yang menonjol antara merek MAXISTYLE dengan merek MAXIMA adalah cara penulisannya bisa dilihat,yaitu terletak dibelakang kata setelah kata MAXI. Bagian kata MAXISTYLE yaitu MAXI dan STYLE, sedangkan dalam merek MAXIMA adalah suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan tidak mempunyai bagian yang menonjol secara terpisah. Bahwa arti kata STYLE dalam bahasa Indonesia adalah gaya. Sedangkan kata MAXI merupakan bagian nama dari nama perusahaan pemohon kasasi. MAXIMA merupakan kata tunggal yang tidak dapat dipisah-pisahkan suku katanya menjadi MAXI dan MA. MAXIMA merupakan kata dalam bahasa Ingrgris yang mempunyai arti “maksimum”.
Dengan demikian merek MAXIMA tidak dapat dipenggal menjadi MAXI+MA untuk dikatakan bahwa MAXI adalah unsur yang menonjol dari merek MAXIMA. Tidak adanya persamaan pada pokoknya juga terlihat dari cara pengucapannya kata MAXIMA dan MAXISTYLE, kedua pelafalannya sudah berbeda, begitu juga dari bunyi pada saat kita medengar kata MAXIMA dan MAXISTYLE, begitu juga dari penampilan dan bentuk dari kata MAXIMA dan MAXISTYLE sudah terlihat perbedaannya terlihat dari logo mereka.
Berikutnya dalam hal itikad tidak baik atau itikad baik dalam pengajuan pendaftaran hak merek. Dalam putusan Pengadilan Niaga Pihak MAXIMA menyatakan perihal bahwa Pihak MAXISTYLE telah melakukan Itikad tidak baik, sedangkan dalam putusan Mahkamah Agung Pihak MAXISTYLE menyatakan tidak ada itikad tidak baik yang dilakukan oleh Pihak MAXISTYLE.
Analisis dari hal diatas sependapat dengan hasil Putusan MA bahwasannya adanya itikad baik dari pihak tergugat/pemohon kasasi yaitu PT.MAXISTAR INTERMODA INDONESIA, dimana permohonan pendaftaran telah diajukan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. MAXISTYLE terdaftar dalam Daftar Umum Merek telah melalui proses hukum yakni melalui proses pemeriksaan Formalitas, Pemeriksaan Substantif yang mengacu pada Undang-Undang No.15 Tahun 2001 Tentang Merek Pasal 4,5,6, Pengumuman dan Sertifikasi, secara hukum pendaftaran merek sengketa atas nama MAXISTYLE sudah melalui mekanisme hukum di bidang merek.
Berikutnya dalam hal merek terkenal atau tidak terkenal. Dalam putusan Pengadilan Niaga Pihak MAXIMA menyatakan bahwasannya merek MAXIMA adalah merek terkenal, sedangkan dalam putusan Mahkamah Agung Pihak MAXISTYLE menyatakan bahwasannya merek MAXIMA bukanlah merek terkenal.
Analisis dari hal diatas sependapat dengan hasil Putusan MA bahwasannya merek MAXIMA bukan merupakan merek terkenal, berpedoman dengan Undang-Undang Merek No 15 Tahun 2001 Tentang Merek Pasal 6 Ayat (1) Huruf (b) mengenai keterkenalan suatu merek, dimana memperhatikan pengetahuan umum
masyarakat mengenai merek tersebut di bidang usaha yang bersangkutan, reputasi merek terkenal yang diperoleh karena promosi yang gencar dan besar-besaran, investasi di beberapa negara di dunia yang dilakukan oleh pemiliknya, bukti pendaftaran merek tersebut di beberapa negara. Terlihat dari peraturan yang disebutkan diatas tidak ada satupun yang sesuai dengan merek MAXIMA.
Berikutnya dalam hal kedaluwarsa merek. Dalam putusan Pengadilan Niaga tidak ada hal mengenai hal kedaluwarsa merek, sedangkan dalam hal putusan Mahkamah Agung ada hal mengenai bahwasannya merek MAXIMA telah kedaluwarsa hak atas mereknya.
Analisis dari hal diatas sependapat dengan hasil Putusan MA bahwasannya merek MAXIMA bukan merupakan merek terkenal, berpedoman dengan Undang-Undang Merek No 15 Tahun 2001 Tentang Merek Pasal 6 Ayat (1) Huruf (b) mengenai keterkenalan suatu merek, dimana memperhatikan pengetahuan umum masyarakat mengenai merek tersebut di bidang usaha yang bersangkutan, reputasi merek terkenal yang diperoleh karena promosi yang gencar dan besar-besaran, investasi di beberapa negara di dunia yang dilakukan oleh pemiliknya, bukti pendaftaran merek tersebut di beberapa negara. Terlihat dari peraturan yang disebutkan diatas tidak ada satupun yang sesuai dengan merek MAXIMA.
Tabel No 1 Perbandingan antara Putusan PN dan MA dalam Kasus adalah suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan tidak mempunyai bagian
yang menonjol secara terpisah. Bahwa arti kata STYLE dalam bahasa Indonesia
adalah gaya. Sedangkan kata MAXI dari bunyi pada saat kita medengar kata
MAXIMA dan MAXISTYLE, begitu juga dari penampilan dan bentuk dari kata MAXIMA dan MAXISTYLE sudah terlihat perbedaannya terlihat dari
logo mereka.
2 Adanya Etikad mekanisme hukum di bidang merek.
3 - Tahun 2001 Tentang Merek Pasal 6
Ayat (1) Huruf (b) mengenai besar-besaran, investasi di beberapa negara di
dunia yang dilakukan oleh pemiliknya,
4 - Kedaluwarsa Merek
Sependapat dengan putusan MA yang menyatakan adanya kedaluwarsa merek
sehingga berakhir juga waktu perlindungan merek MAXIMA. Pada
tahun 2005 seharusnya dilakukan perpanjangan hak atas merek MAXIMA, tetapi sampai pada jatuh
temponya si pemilik merek tidak memperpanjannya, tetapi sih penggugat
yang memperpanjang, padahal sih penggugat belum memiliki hak untuk
memperpanjang hak merek tersebut.
Sehingga sesuai ketentuan Undang Undang merek yang berlaku saat itu, bahwasannya tidak ada perpanjangan
waktu untuk si empunya merek memperpanjangnya lagi jika sudah habis
lewat dari jatuh tempo untuk memperpanjang.
88
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan atas rumusan masalah ditambah penjelasan bab-bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
1.
Perbandingan hukum atas masa kedaluwarsa dalam perpanjangan pendaftaran merek di Indonesia berdasarkan Undang-Undang No. 15 Tahun 2001 tentang Merek dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, yaitu dalam hal perpanjangan pendaftaran merek di Indonesia jikalau sudah kedaluwarsa berdasarkan Undang-undang No. 15 Tahun 2001 tentang merek yaitu sudah tidak bisa dilakukan perpanjangan hak atas merek lagi, sehingga hak atas merek tersebut sudah tidak bisa dipakai lagi, harus didaftarakan ulang kembali jika ingin menggunakan hak atas merek tersebut. Sedangkan dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2016 tentang merek dan indikasi geografis perpanjangan pendaftaran merek di Indonesia masih bisa diperpanjang sekalipun sudah kedaluwarsa.2. Kepastian hukum atas kepemilikan hak merek yang telah kedaluwarsa perbandingan antara Undang-Undang No.15 tahun 2001 tentang Merek dengan undang-undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, yaitu perpanjangan merek di Indonesia, yang dipakai saat ini adalah Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 Tentang
Merek dan Indikasi Geografis dimana jangka waktu perlindungan dapat diperpanjang setiap 10 tahun. Permohonan perpanjangan dapat diajukan secara elektronik dan non-elektronik dalam bahasa Indonesia oleh pemilik merek atau kuasanya dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sebelum dan sesudah berakhirnya jangka waktu perlindungan bagi merek yang terdaftar tersebut dan dikenai biaya.
3. Pertimbangan hukum hakim atas gugatan kedaluwarsa merek bagi pembatalan merek yang memiliki persamaan pada pokoknya dalam Putusan PN No. 82/MEREK/2011/PN.NIAGA.JKT.PST dan Putusan No. 177K/Pdt.Sus/2012 adalah keputusan akhir dimenangkan oleh MAXISTYLE, sehingga satu-satunya pemilik merek MAXISTYLE hanya PT.MAXISTAR INTERMODA. Sedangkan merek MAXIMA harus dibatalkan. Hasil putusan hakim menyatakan bahwasannya adanya perbedaan antara MAXIMA dengan MAXISTYLE. Begitu juga hasil dari analisis penulis yaitu dari cara pengucapannya kata MAXIMA dan MAXISTYLE, kedua pelafalannya sudah berbeda, begitu juga dari bunyi pada saat kita medengar kata MAXIMA dan MAXISTYLE, begitu juga dari penampilan dan bentuk dari kata MAXIMA dan MAXISTYLE sudah terlihat perbedaannya terlihat dari logo mereka.
B. Saran
Berdasarkan rumusan masalah dan kesimpulan yang telah dipaparkan, ada beberapa saran yang disampaikan sebagai berikut:
1. Pihak yang berwenang seperti Dirjen HaKI diharapkan mensosialisasikan serta menyuluhkan perihal segala sesuatu yang berhubungan dengan kepemilikan Hak Merek, pengaturan atas masa kedaluwarsa serta perpanjangan pendaftaran merek kepada masyarakat.
2. Pihak yang ingin mendaftarkan merek maupun yang sudah memiliki hak atas mereknya, agar lebih memahami dan mengerti akan kepastian hukum atas kepemilikan hak merek yang telah kedaluwarsa serta supaya bisa lebih memahami dan mengetahui atas pengaturan atas masa kedaluwarsa dalam perpanjangan pendaftaran merek di Indonesia dimana sesuai dengan Undang-undang No.20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis.
3. Pihak yang berwenang seperti hakim. Peran hakim sangat penting ketika memutuskan putusan dalam tahap Pengadilan Negeri maupun Mahkamah Agung diharapkan dapat memberikan penilaian atau ukuran yang jelas sehingga tidak terjadi perbedaan penerapan hukum.
91
DAFTAR PUSTAKA
A. Buku
Agus Riswandi, Budi., dan dkk. 2008.Hak Kekayaan Intelektual dan Budaya Hukum, Raja Grafindo, Persada.
Ambadar, Jacki, dan dkk. 2007.Mengelola Merek. Jakarta:Yayasan Bina Karsa Mandiri.
Ashshofa, Burhan. 1996. Metode Penelitian Hukum. Jakarta: Rineka Cipta.
Budi Maulana, Insan, dan dkk. 1994.Perlindungan Bisnis Merek di Indonesia.Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
_________________. 1999. Perlindungan Merek Terkenal di Indonesia dari Masa ke Masa. Bandung: Citra Aditya Bakti.
Casavera. 2009.Delapan Kasus Sengketa Merek di Indonesia Suatu Tinjauan Yuridis. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Djumhana, M., dan dkk. 2003. Hak Milik Intelektual. Bandung: Citra Aditya Bakti.
Gautama, Sudargo.1989. Hukum Merek Indonesia.Bandung: Citra Aditya Bakti.
_________________, dan dkk. 1993. Hukum Merek Indonesia. Bandung: Citra Aditya Bakti.
H Soemitro, Ronny. 1982. Metodologi Penelitian Hukum. Jakarta: Ghalia Indonesia.
H.S, Salim. 2010. Perkembangan Teori Dalam Ilmu Hukum. Jakarta: Rajawali Press.
Hadi Darmanto,Lukman.2007. Metode Penelitian Hukum. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Hadjon, Philipus M. 2007. Perlindungan Hukum bagi HaKI di Indonesia. Edisi Khusus Penerbit Peradaban.
Hanitijo Soemitro, Rony. 1990. Metodelogi Penemuan Hukum. Jakarta: Ghlmia Indonesia.
Hasibuan, Abdurrozaq. 2003. Metode Penelitian. Medan: Multi Grafika.
Janed, Rahmi. 2015. Hukum Merek (Trademark Law) Dalam Era Global &
Integrasi Ekonomi. Jakarta: Kharisma Putra Utama.
Kamelo, Tan. 2002. Perkembangan Lembaga Jaminan Fidusia, Suatu Tinjauan Putusan Pengadilan dan Perjanjian di Sumatera Utara. Medan: Disertasi, PPs-USU
Kamus Besar Bahasa Indonesia
Komaruddin., dkk. 2000. Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah. Jakarta: Bumi Aksara.
L. Cohen, Morris., dkk. 2000. Legal Research. In A Nutshell, West Group, ST.
Paul, Minn. America: Printed in The United States of America.
Lubis, M.Solly. 1994. Filsafat Ilmu dan Penelitian. Bandung: Mandar Maju.
M. Marzuki, Peter. 2010. Penelitian Hukum. Jakarta: Kencana Prenada Media.
M Ramli, Ahmadi.2004. Cyber Law dan HAKI dalam Sistem Hukum Indonesia.Bandung: Refika Aditama.
Mahmud Marzuki, Peter. 2009. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: Prenada Media Group.
____________________. 2011. Penelitian Hukum. Jakarta: Kencana.
____________________. 2014. Penelitian Hukum Edisi Revisi. Jakarta: Kencana.
Margono, Suyud. dan dkk. 2002.Pembaharuan Perlindungan Hukum Merek, Jakarta: Novindo Pustaka Mandiri.
Miru, Ahmad. 2005. Hukum Merek Cara Mudah Mempelajari Undang-Undang Merek. Jakarta: Raja Grasindo Persada.
___________. 2007. Hukum Merek Cara Mudah Mempelajari Undang-Undang Merek. Jakarta: Raja Grasindo Persada.
Munandar, dkk. 2009. Mengenal HAKI, Hak Kekayaan Intelektual Hak Cipta, Paten, Merek, dan seluk-beluknya. Erlangga Esensi.
Moleong, Lexy J. 1994. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Rahardjo, Satjipto. 2012. Ilmu Hukum, Editor Awaludin Marwan. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.
Remy Sjahdeni, Sutan. 1993. Kebebasan Berkontrak Dan Perlindungan Yang Seimbang Bagi Para Pihak dalam Perjanjian Kredit Bank di Indonesia.
Salman, H.R.Otje S., dkk. 2005. Teori Hukum. Bandung: Refika Aditama.
Sidharta Arief, Meuwissen. 2007.Tentang Pengembanan Hukum, Ilmu Hukum, Teori Hukum dan Filsafat Hukum.Bandung:Refika Aditama.
Sutedi, Adrian. 2009. Hak atas Kekayaan Intelektual. Jakarta: Sinar Grafika.
Soekanto, Soerjono. 1986. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta: UI Press.
__________________. 1995. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
_________________. dkk. 1995. Penelitian Hukum Normatif, Suatu Tinjauan Singkat. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
_________________. 2008.Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta:Universitas Indonesia.
Syahputra, Imam. 2000. Hukum Merek Baru Indonesia Seluk Beluk Tanya Jawab dikutip dari Ridwan Khairandy, Kapita Selekta Hak Kekayaan Intelektual I,Jakarta:Pusat Studi Hukum UII Yogyakarta bekerjasama dengan Yayasan Klinik HAKI.
Usman, Rachmadi. 2003. Hukum Hak atas Kekayaan Intelektual, Perlindungan dan Dimensi Hukumnya di Indonesia. Bandung: PT.Alumni
Wirantha, I Made. 2005. Pedoman Penulisan Usulan Penelitian, Skripsi Dan Tesis. Yogyakarta: Andi Offset.
Wuisman, J.J.J.M. 1996. Penelitian Ilmu-ilmu Sosial, Jilid I asas-asas, Jakarta:
FE UI.
Yahya, M Harahap, 1996, Tinjauan Merek Secara Umum dan Hukum Merek di Indonesia Berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1992. Bandung:
PT. Citra Aditya Bakti.
B. Jurnal Nasional
Fence M. Wantu. 2012. Mewujudkan Kepastian Hukum, Keadilan Dan Kemanfaatan Dalam Putusan Hakim Di Peradilan Perdata.Jurnal Dinamika HukumVol. 12 No. 3 September 2012.
C. Peraturan Perundang-undangan
Undang-undang No. 15 Tahun 2001, Tentang Merek
Undang-undang No. 20 Tahun 2016, Tentang Merek dan In dikasi Geografis D. Makalah, Majalah, dan Artikel.
Moh.Mahfud. MD. 2011. Peran Mahkamah Konstitusi Dalam Penegakan Hukum Di Indonesia, Jakarta: Makalah Pada FGD Tentang Penegakan Hukum Yang Diselenggarakan Oleh Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, Dan Keamanan Pada Rabu, 12 Oktober 2011 Di Hotel Sari Pan Pasific.
Soetandyo Wignjosoebroto, Terwujudnya Peradilan Yang Independen Dengan Hakim Profesional Yang Tidak Memihak, Sebuah risalah ringkas, dimaksudkan untuk rujukan ceramah dan diskusi tentang “Kriteria dan Pengertian Hakim Dalam Perspektif Filosofis, Sosiologis dan Yuridis” yang diselenggarakan dalam rangka Seminar Nasional bertema “Problem Pengawasan Penegakan Hukum di Indonesia” diselenggarakan oleh Komisi Yudisial dan PBNU-LPBHNU di Jakarta, 8 September 2006.
Surinda, Yuoky.Perlindungan Hukum Terhadap Pemegang Merek Di Indonesia (Studi Kasus Sengketa Rokok DAVIDOFF dan REEMSTMA), Skripsi Fakultas Hukum, Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia. 2007.
E. Internet
Bolmer Hutasoit, Artikel Politik Hukum : Tujuan Hukum Menurut GustavRadbruch.https://bolmerhutasoit.wordpress.com/2011/10/0 7/artikel-politik-hukum-tujuan-hukum-menurut-gustav-radbruch.html
Ngobrolinhukum, Memahami Kepastian dalam
Hukum.https://ngobrolinhukum.wordpress.com/2013/02/05/memahamikepastian-dalam-hukum/
Panitia Khusus RUU Tentang Merek.(2016). Laporan Singkat Panitia Khsusus (Pansus) RUU Tentang Merek, Rapat ke-5, http://www.dpr.go.id
Tri Jata Ayu Pramesti, Arti Persamaan pada Pokoknya dalam UU Merek,HukumOnline,
:http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt560aad4d30945/arti-persamaan-pada-pokoknya-dalam-uu-merek.