• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji Homogenitas

Statistik Levene db1 db2 P

10,667 3 8 0,004

ANOVA

Jumlah kuadrat db Kuadrat Tengah Fhit P

Antar Kelompok 0,013 3 0,004 259,333 0,000

Dalam Kelompok 0,000 8 0,000

Total 0,013 11

Uji Tukey Variabel tak bebas : tingkat kerja osmotik

(I) kalsium (J) kalsium Rata2 perbedaan ׀I-J׀ Tingkat kesalahan P Selang kepercayaan 95% Batas bawah Batas atas

0,00 25,00 0,076* 0,003 0,000 0,066 0,087 50,00 0,083* 0,003 0,000 0,072 0,094 75,00 0,060* 0,003 0,000 0,049 0,070 25,00 50,00 50,00 0,006 0,003 0,264 -0,004 0,017 75,00 0,023* 0,003 0,001 -0,034 -0,012 75,00 25,00 0,016* 0,003 0,005 0,006 0,027

*. Rata-rata adalah berbeda nyata pada taraf 0,05 % Tukey HSDa Kalsium N α= 0,05 1 2 3 50,00 3 0,186 25,00 3 0,193 75,00 3 0,210 0,00 3 0,270 P 0,264 1,000 1,000

Lampiran 17 Analisis ragam dan uji Tukey terhadap tingkat konsumsi oksigen

Uji Homogenitas

Statistik Levene db1 db2 P

9,028 3 8 0,006

ANOVA

Jumlah kuadrat db Kuadrat Tengah Fhit P

Antar Kelompok 1,788 3 0,596 64,375 0,000

Dalam Kelompok 0,074 8 0,009

Total 1,862 11

Uji Tukey Variabel tak bebas : tingkat konsumsi oksigen

(I) kalsium (J) kalsium Rata2 perbedaan ׀I-J׀ Tingkat kesalahan P Selang kepercayaan 95% Batas bawah Batas atas

0,00 25,00 0,670* 0,078 0,000 0,418 0,921 50,00 1,070* 0,078 0,000 0,818 1,321 75,00 0,703* 0,078 0,000 0,451 0,954 25,00 50,00 0,400* 0,078 0,004 0,148 0,651 50,00 75.00 0,366* 0,078 0,007 -0,618 -0,115 75,00 25.00 0,033 0,078 0,973 -0,28 0,218

*. Rata-rata adalah berbeda nyata pada taraf 0,05%.

Tukey HSDa Kalsium N α= 0,05 1 2 3 50,00 3 0,600 75,00 3 0,966 25,00 3 1,000 0,00 3 1,670 P 1,000 0,973 1,000

Lampiran 18 Analisis ragam dan uji Tukey terhadap laju pertumbuhan bobot harian juvenil udang pada tahap II

Uji Homogenitas

Statistik Levene db1 db2 P

0,597 3 8 0,635

ANOVA

Jumlah Kuadrat db Kuadrat Tengah Fhit P

Antar Kelompok 4,626 3 1,542 75,044 0,000

Dalam kelompok 0,164 8 0,021

Total 4,791 11

Uji Tukey Variabel tak bebas : laju pertumbuhan bobot

(I) kalsium (J) kalsium Rata2 perbedaan ׀I-J׀ Tingkat kesalahan P Selang kepercayaan 95% Batas bawah Batas atas

0,00 25,00 0,950* 0,117 0,000 -1,324 -0,575 50,00 1,726* 0,117 0,000 -2,101 -1,351 75,00 0,643* 0,117 0,003 -1,018 -0,268 25,00 50,00 0,776* 0,117 0,001 -1,151 -0,401 50,00 75,00 1,083* 0,117 0,000 0,708 1,458 75,00 25,00 0,306 0,117 0,114 -0,681 0,068

*. Rata-rata adalah berbeda nyata pada taraf 0,05%

Tukey HSDa Kalsium N α= 0,05 1 2 3 4 0,00 3 2,510 75,00 3 3,263 25,00 3 3,446 50,00 3 4,326 P 1,000 1,000 1,000 1,000

Lampiran 19 Analisis ragam dan uji Tukey terhadap laju pertumbuhan panjang juvenil udang galah pada penelitian tahap II

Uji Homogenitas

Statistik Levene db1 db2 P

9,178 3 8 0,006

ANOVA

Jumlah Kuadrat db Kuadrat Tengah Fhit P

Antar kelompok 0,486 3 0,162 25.106 0,000

Dalam Kelompok 0,052 8 0,006

Total 0,537 11

Uji Tukey Variabel tak bebas : laju pertumbuhan panjang

(I) kalsium (J) kalsium Rata2 perbedaan ׀I-J׀ Tingkat kesalahan P Selang kepercayaan 95% Batas bawah Batas atas

0,00 25,00 0,273* 0,065 0,013 -0,483 -0,063 50,00 0,523* 0,065 0,000 -0,733 -0,313 75,00 0,083 0,065 0,604 -0,293 0,126 25,00 50,00 0,250* 0,065 0,021 -0,460 -0,040 50,00 75,00 0,440* 0,065 0,001 0,230 0,650 75,00 25,00 0,190 0,065 0,077 -0,400 0,020

*. Rata-rata adalah berbeda nyata pada taraf 0,05%

Tukey HSDa Kalsium N α= 0,05 1 2 3 0,00 3 0,906 75,00 3 0,913 25,00 3 1,120 50,00 3 1,543 P 0,998 1,000 1,000

Lampiran 20 Analisis ragam dan uji Tukey terhadap kelangsungan hidup juvenil udang galah pada penelitian tahap II

Uji Homogenitas

Statistik Levene db1 db2 P

2,566 3 8 0,127

ANOVA

Jumlah Kuadrat db Kuadrat Tengah Fhit P

Antar Kelompok 128,667 3 42,889 2,257 0,159

Dalam kelompok 152,000 8 19,000

Total 280,667 11

Uji Tukey Variabel tak bebas : Kelangsungan hidup

(I) kalsium (J) kalsium Rata2 perbedaan ׀I-J׀ Tingkat kesalahan P Selang kepercayaan 95% Batas bawah Batas atas

0,00 25,00 1,666 3,559 0,964 -13,0639 9,7306 50,00 6,333 3,559 0,348 -17,7306 5,0639 75,00 2,666 3,559 0,875 -8,7306 14,0639 25,00 50.00 4,666 3,559 0,582 -16,0639 6,7306 50,00 75.00 9,000 3,559 0,129 -2,3973 20,3973 75,00 25.00 4,333 3,559 0,634 -15,7306 7,0639 Tukey HSDa Kalsium N α= 0,05 1 75,00 3 89,666 0,00 3 92,333 25,00 3 94,000 50,00 3 98,666 P 0,129

Lampiran 21 Analisis ragam dan uji Tukey terhadap efisiensi pakan pada penelitian tahap II Uji Homogenitas Statistik Levene db1 db2 P 2,575 3 8 0,127 ANOVA

Jumlah Kuadrat db Kuadrat Tengah Fhit P

Antar kelompok 17,244 3 5,748 40,793 0,000

Dalam Kelompok 1,127 8 0,141

Total 18,372 11

Uji Tukey Variabel tak bebas : efisensi pakan

(I) kalsium (J) kalsium Rata2 perbedaan ׀I-J׀ Tingkat kesalahan P Selang kepercayaan 95% Batas bawah Batas atas

0,00 25,00 1,090* 0,306 0,030 -2,071 -0,108 50,00 3,250* 0,306 0,000 -4,231 -2,268 75,00 0,840 0,306 0,096 -1,821 0,141 25,00 50,00 2,160* 0,306 0,000 -3,141 -1,178 50,00 75,00 2,410* 0,306 0,000 1,428 3,391 75,00 25,00 0,250 0,306 0,846 -1,231 0,731

*. Rata-rata adalah berbeda nyata pada taraf 0,05 %

Tukey HSDa Kalsium N α= 0,05 1 2 3 0,00 3 6,896 75,00 3 7,736 7,736 25,00 3 7,986 50,00 3 10,146 P 0,096 0,846 1,000

ABSTRACT

JENNY ABIDIN. The addition of calcium to increase the survival and growth of

juvenile giant freshwater prawn (Macrobrachium rosenbergii de Man)

on the medium salinity. Under direction of D. DJOKOSETIYANTO and TATAG BUDIARDI.

Mineral calcium plays a role in the process of osmoregulation and the formation of the exoskeleton of shrimp. This study aimed to determine the optimal calcium levels that can support the survival and growth of prawns and evaluate the role of calcium for the survival and growth of prawns on the medium salinity. The study consisted of two steps, the first to determine the range of calcium concentrations. The next steps evaluated the role of calcium on the frequency of molting, osmotic work rate, oxygen consumption rate, growth rate, survival and feed efficiency. This study used a completly randomized design with

four treatments and three replications (A.salinity of 4 ppt + 0 mg/L Ca(OH)2

B. salinity of 4 ppt + 25 mg/L Ca(OH)2, C.salinity of 4 ppt + 50 mg /L Ca(OH)2

and D. salinity of 4 ppt + 75 mg/L Ca(OH)2 ). Results showed that adding calcium

to the medium salinity can decrease levels of osmotic work and oxygen consumption and increasing the frequency of molting, growth rate, survival rate and feed efficiency. The addition of calcium to the medium salinity with a concentration of 50 mg/L Ca(OH)2) is the best medium for growth of juvenile

giant freshwater prawn.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Udang galah (Macrobrachium rosenbergii de Man) merupakan komoditas perikanan yang bernilai ekonomis tinggi, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun ekspor. Produksi udang galah diperkirakan kurang lebih 10.000 ton/tahun, yang relatif kecil jika dibandingkan dengan total produksi udang yang

mencapai 200.000 ton/tahun (DKP 2006). Nilai jual yang relatif tinggi (Rp 40.000,00/kg) telah mendorong perkembangan budidaya udang galah. Spesies

ini dapat dibudiyakan di kolam air tawar, danau, bahkan di muara-muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut. Namun kenyataan menunjukkan bahwa kelangsungan hidup dan pertumbuhannya relatif lambat. Hal ini disebabkan pengelolaan kondisi lingkungan terhadap sintasan dan pertumbuhan yang belum optimal.

Walaupun udang galah mampu hidup pada lingkungan air tawar dan air payau, namun masalah yang dihadapi oleh semua organisme akuatik adalah upaya mempertahankan tekanan osmotik cairan tubuh agar tidak berbeda jauh dengan tekanan osmotik medianya. Dalam kondisi demikian udang melakukan proses osmoregulasi dengan menggunakan energi yang cukup tinggi.

Pengaruh tekanan osmotik media terhadap pertumbuhan dapat terjadi melalui budget (pembelanjaan) energi dan tingkat energi yang dikonsumsi (konsumsi pakan). Jika energi yang digunakan untuk proses osmoregulasi tinggi maka porsi energi untuk pertumbuhan makin berkurang. Penggunaan energi untuk keperluan osmoregulasi berkaitan erat dengan tingkat kerja osmotik yang dilakukan dalam upaya melakukan respon terhadap perubahan tekanan osmotik medianya. Tingkat kerja osmotik yang semakin rendah menyebabkan semakin sedikitnya energi yang digunakan untuk osmoregulasi sehingga porsi energi untuk pertumbuhan makin besar.

Faktor fisik kimia air yang sangat menentukan kelangsungan hidup dan pertumbuhan diantaranya adalah salinitas dan alkalinitas. Salinitas berhubungan erat dengan tekanan osmotik dan ionik air, baik air sebagai media internal maupun eksternal. Agar sel-sel pada organ tubuh dapat berfungsi dengan baik, maka sel-

sel tersebut harus berada dalam cairan media dengan komposisi dan konsentrasi ionik yang sesuai dengan kebutuhannya.

Pengaturan tekanan osmotik media dapat dilakukan dengan pengaturan salinitas dan juga pengaturan kadar kalsium. Jika kandungan kalsium di perairan tidak mencukupi maka mekanisme osmoregulasi terganggu yang akhirnya berdampak pada pertumbuhan (Tseng 1987). Dalam pembentukan eksoskeleton pada udang, sangat diperlukan mineral kalsium. Dengan adanya penambahan kalsium dapat mempercepat proses pergantian kulit udang. Kalsium atau mineral lainnya selain berasal dari pakan juga didapatkan udang melalui pertukaran ion dari media hidupnya (Dall 1965 diacu dalam Kaligis 2005).

Ion kalsium dengan konsentrasi 20-80 mg/L dapat meningkatkan kelangsungan hidup Paranephops zealandicus (Hammond et al. 2006). Mineral kalsium Ca(OH)2 mampu mempercepat lama waktu ganti kulit pada udang

(Zaidy 2007). Selain itu dapat digunakan dalam pengelolaan tanah asam, sebagai bahan alkali untuk menggantikan natrium hidroksida. Pengaturan kadar mineral kalsium Ca(OH)2 pada media diharapkan dapat meningkatkan kelangsungan hidup

dan pertumbuhan akibat terpenuhinya kebutuhan mineral. Sehubungan dengan pentingnya peranan mineral kalsium pada media bersalinitas terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan udang galah maka penelitian ini perlu dilakukan.

Perumusan Masalah

Masalah yang dihadapi dalam pemeliharaan udang galah adalah kelangsungan hidup dan pertumbuhan yang masih rendah. Rendahnya tingkat kelangsungan hidup dan pertumbuhan antara lain disebabkan belum optimalnya kondisi lingkungan dalam mendukung kehidupannya. Udang galah yang dipelihara pada media dengan salinitas di luar kisaran isoosmotik ideal akan melakukan kerja osmotik yang berat. Pada kondisi demikian maka proses-proses fisiologi dalam tubuh tidak maksimal termasuk di dalamnya proses metabolisme. Laju metabolisme menurun maka pasokan pakan ke dalam tubuh berkurang sehingga pasokan energi ke dalam tubuh juga berkurang. Energi dibutuhkan

untuk keperluan osmoregulasi. Makin tinggi tingkat kerja osmotik maka energi yang dibutuhkan untuk osmoregulasi makin besar.

Upaya yang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah dibutuhkan

pengaturan tekanan osmotik untuk keseimbangan antara tubuh udang dan lingkungannya. Pengaturan tekanan osmotik ditentukan oleh salinitas dan

mineral kalsium di lingkungan. Mineral kalsium pada lingkungan budidaya mempunyai peranan dalam osmoregulasi. Sediaan kalsium dalam air media yang optimal akan memperlancar proses fisiologis, pemanfaatan pakan optimal sehingga kelangsungan hidup dan pertumbuhan udang meningkat.

Tujuan dan Manfaat

Penelitian ini bertujuan menentukan kadar kalsium optimal yang dapat mendukung kelangsungan hidup dan pertumbuhan udang galah serta mengevalusi peranan kalsium bagi kelangsungan hidup dan pertumbuhan udang galah. Hasil penelitian ini diharapkan dapat diterapkan dalam kegiatan budidaya dan dijadikan acuan untuk penelitian lanjutan.

Hipotesis

Jika penambahan kadar mineral kalsium tepat maka metabolisme dan konsumsi pakan meningkat sehingga kelangsungan hidup dan pertumbuhan juvenil udang galah akan meningkat.

TINJAUAN PUSTAKA

Biologi Udang Galah

Sebagian besar udang air tawar termasuk dalam famili Palaemonidae dan genus Macrobrachium yang merupakan genus paling banyak jenisnya. Udang galah merupakan salah satu jenis dari genus Macrobrachium yang paling banyak dikenal karena ukurannya yang besar.

Udang ini juga mempunyai beberapa nama lokal, misalnya giant freshwater shrimp dan giant freshwater prawn di Amerika, golda chingri dan mocha chingri di India dan Bangladesh, bharo chingri atau bara chingri, chooan chingri, mota chingri, shala chingri di Bangladesh, udang satang dan udang duri di pulau Jawa,

udang falah di Malaya dan pulau Kalimantan, serta koong yai di Thailand.

Seperti udang lain pada umumnya, badan udang galah terdiri dari ruas-ruas yang ditutup dengan kulit keras. Bagian kulit tersebut cukup keras, tidak elastis dan terdiri dari zat chitin yang tidak dapat mengikuti pertumbuhan dagingnya. Badan udang galah terdiri dari tiga bagian yaitu bagian kepala dan dada yang bersatu membentuk satuan kepala-dada (cephalothorax), bagian badan (abdomen) dan bagian ekor (uropoda). Morfologi udang galah ditampilkan pada Gambar 1.

Daur hidup udang galah menempati daerah perairan payau dan perairan tawar. Udang betina yang siap memijah bermigrasi ke payau untuk melakukan pemijahan, daerah ini juga digunakan untuk perkembangan larva. Pasca larva hingga dewasa udang akan bermigrasi kembali ke perairan tawar (Ismael & New 2000). Pada perairan payau larva udang galah bersifat planktonis yaitu hidup melayang-layang di dalam air. Dalam kehidupannya sebagai larva yang rata-rata membutuhkan waktu 45 hari udang mengalami 11 kali metamorfose. Setelah melewati stadia 11 kemudian udang berubah bentuk menjadi juvenil (post larvae). Pada saat itu bentuknya sudah menyerupai udang dewasa tetapi ukurannya lebih kecil.

Peranan Salinitas

Salinitas adalah salah satu faktor abiotik penting dalam akuakultur. Beberapa jenis krustase memiliki sifat euryhaline dimana salinitas optimum dapat

membantu proses pertumbuhan, kelangsungan hidup dan efisiensi produksi (Roscue et al. 2004).

Salinitas berhubungan dengan tekanan osmotik dan ionik air, baik sebagai media internal maupun eksternal. Tekanan osmotik media selain menentukan pengaturan tekanan osmose cairan tubuh juga mempunyai pengaruh terhadap metabolisme, tingkah laku, kelangsungan hidup, pertumbuhan dan kemampuan reproduksi. Pengaruh salinitas pada metabolisme Panaeus monodon biasanya untuk penyesuaian konsumsi energi yang disebabkan oleh perbedaan tekanan osmotik lingkungan dan cairan tubuh udang (Ye et al. 2009).

Pada umumnya organisme akuatik di laut mempunyai osmolaritas darah (tekanan osmotik cairan internal) berkisar antara 380 – 450 mOsm, sedangkan tekanan osmotik di luar media berkisar antara 800 – 1200 mOsm sehingga air dalam tubuh akan berdifusi keluar (Wilder et al. 2009).

Laju pertumbuhan udang secara internal bergantung pada kelancaran proses ganti kulit dan tingkat kerja osmotik. Pertumbuhan larva dan pasca larva udang merupakan perpaduan antara proses perubahan struktur melalui metamorfosis dan ganti kulit, serta peningkatan biomas sebagai proses transformasi materi dan energi pakan menjadi masa tubuh udang. Pertumbuhan

udang bersifat diskontinu karena setiap ganti kulit sebagian masa hilang sebagai eksuvia (Allen et al. 1984).

Juvenil udang galah dapat tumbuh dengan baik pada salinitas optimum 4 ppt (perlakuan 0, 2, 4, 6 dan 8 ppt). Pada kisaran salinitas 4 ppt, tekanan osmotik media mendekati isoosmotik sehingga pemanfaatan energi untuk osmoregulasi sedikit dan porsi energi untuk pertumbuhan udang lebih banyak (Hamzah 2002). Penentuan konsentrasi kalsium berdasarkan Zaidy (2007) bahwa kisaran konsentrasi kalsium 15-60 ppt dapat meningkatkan laju konsumsi pakan harian dan pertumbuhan udang galah.

Mineral Kalsium

Mineral merupakan komponen dari eksoskeleton dan kofaktor beberapa jenis enzim, serta berperan dalam osmoregulasi dan aktivitas saraf. Kalsium mempunyai peranan penting dalam pembentukan jaringan tubuh terutama tulang atau eksoskeleton. Hal ini disebabkan 99 % kalsium dalam tubuh terdapat dalam jaringan eksoskeleton atau tulang. Sumber kalsium bagi udang dapat berasal dari pakan dan media hidupnya. Penyerapan kalsium dalam rongga usus memerlukan

energi yang bergantung pada enzim ATP-ase. Kalsium tidak terdapat dalam bentuk bebas, namun berupa kation yang bermuatan positif (Piliang 2005).

Wicknis dan Lee (2002) mengatakan bahwa adanya kandungan kapur yang tinggi di perairan dapat mempengaruhi pertumbuhan ikan. Pengapuran pada kolam budidaya bertujuan untuk menetralkan ion Al, Fe, H, dan Mn serta menambah unsur Ca dan Mg ke dalam perairan. Pada perairan laut dan tawar yang banyak mengandung kalsium dan magnesium potensial berpengaruh pada pH perairan. Mineral karbonat dalam perairan ini dapat berfungsi sebagai cadangan bikarbonat yang sangat potensial untuk mengionisasi dan menetralisir peningkatan ion hidrogen dalam air. Kelarutan mineral karbonat sangat dipengaruhi oleh ketersediaan karbon organik atau desolve organic carbon (DOC). Magnesium dan DOC bersifat menghambat pengendapan mineral karbonat dalam air.

Mineralisasi kalsium pada eksoskeleton udang selama siklus molting merupakan fenomena umum pada kepiting biru (C.sapidus) (Perry et al.

2001), lobster air tawar (P. zealandicus) (Hammond et al. 2006) dan udang air tawar (M. nipponense) (Wang et al. 2003)

Penambahan mineral Ca(OH)2 mampu meningkatkan kadar kalsium

media dan kulit udang. Kisaran kadar kalsium optimum 0 – 30 mg/L dapat mempercepat lama waktu postmolt udang galah yaitu dari 17 hari menjadi 12 hari. Hal ini disebabkan pertukaran antara kalsium media dan kalsium kulit berlangsung terus-menerus (Zaidy 2007).

Dalam osmoregulasi, keseimbangan osmotik antara cairan tubuh dan air media sangat penting bagi kehidupan organisme air. Laju pertumbuhan udang secara internal tergantung pada kelancaran proses ganti kulit dan tingkat kerja osmotik (Hartnoll 1982). Fungsi biokimia mineral seperti ion Ca, Na dan Cl pada organisme air sama dengan organisme teresterial. Ion-ion secara aktif diserap tubuh melalui insang ketika terjadi proses penyerapan air. Kebutuhan energi untuk pengaturan ion secara umum akan lebih rendah pada lingkungan yang mendekati isoomotik, dengan demikian energi yang disimpan cukup substansial untuk meningkatkan pertumbuhan (Imsland et al. 2003). Penambahan kalsium 20 mg/L dapat menurunkan tingkat konsumsi oksigen benih ikan balashrak (Balanthiocheilus melanopterus) sehingga jumlah energi yang digunakan untuk metabolisme lebih sedikit dan energi untuk pertumbuhan makin besar (Kadarini 2009).

Pengambilan Kalsium dari Air ke dalam Tubuh Udang

Pengambilan kalsium dari media di pengaruhi oleh pH air. Pengambilan kalsium oleh udang penaid mulai terhambat pada pH di bawah 5,75. Transfer kalsium dari media dipengaruhi oleh kandungan karbonat di media eksternalnya. Meskipun pH air menurun, penyerapan kalsium dalam proses kalsifikasi masih dapat berlangsung jika kandungan karbonat di air tidak terlalu tinggi (Wickins 1984). Hasil percobaan Cameron (1985b) menunjukkan bahwa laju masuk kalsium dan laju keluar H+ pada kepiting sangat terhambat oleh penurunan kadar Ca2+ lingkungan, HCO3- atau pH. Proses transfer kalsium media ke dalam

tubuh/hemolim melalui insang dengan mekanisme transport pasif, sedangkan dari hemolim ke kulit dengan cara transport aktif yang memerlukan energi.

Peningkatan kadar kalsium di jaringan sebesar 3% dapat meningkatkan biomas crayfish sebesar 20%. Kadar kalsium yang disimpan di jaringan crayfish dewasa lebih tinggi dibandingkan crayfish muda. Pengaruh proses molting pada kadar kalsium dalam hemolim meningkat sejalan dengan pertambahan umur crayfish. Hubungan tingkat ganti kulit dengan umur dan kadar kalsium dalam hemolim adalah sebesar 0,653 (Adegboye 1983). Lama periode perkembangan postlarva udang ditentukan oleh waktu antara ganti kulit yang disebut juga intermoult (Sastry 1983). Transfer kalsium ke tubuh udang berpengaruh terhadap

konsumsi pakan yang akibatnya pertumbuhan udang meningkat. Laju pertumbuhan individu yang tinggi dapat mempercepat periode siklus

molting. Laju pertumbuhan udang yang tinggi merupakan konsekuensi dari rata- rata tingkat konsumsi pakan yang tinggi. Selain berpengaruh terhadap laju pertumbuhan juvenil udang galah, penambahan kalsium 30 mg/L juga menunjang peningkatan biomas (Zaidy 2007).

Pertumbuhan udang bersifat diskontinyu yang terjadi hanya setelah ganti kulit yaitu saat kulit luarnya belum mengeras sempurna. Pada saat ganti kulit terjadi kalsifikasi yaitu proses penyerapan kalsium secara osmotik dari lingkungan. Selanjutnya kalsium yang terserap dari media dan kulit lama akan terakumulasi di organ hepatopankreas dan gastrolith. Ganti kulit pada udang secara sederhana mengikuti alur proses sebagai berikut (Merick 1993):

a. Intermoult akhir: terjadinya mobilisasi dan akumulasi cadangan metabolik seperti Ca, P dan bahan organik lainnya ke dalam hepatopankreas.

b. Premoult: kalsium (Ca) dari kulit lama diserap kembali dan disimpan dalam gastrolith. Lalu diikuti pembentukan kulit baru.

c. Moult : mulai terjadi pelepasan kulit lama diikuti dengan absorbsi air dari media eksternal dalam jumlah besar.

d. Postmoult : terjadi pengapuran dan pengerasan kulit baru dengan kalsium yang berasal dari cadangan material organik dan anorganik dari hemolim dan hepatopankreas serta sebagian dari media eksternalnya yang terjadi saat periode sesudah ganti kulit.

e. Intermoult : merupakan periode sesudah ganti dan awal antar ganti kulit dengan terjadinya pertumbuhan jaringan somatik pada tubuh udang.

Fisik Kimia Air

Faktor fisik kimia air sangat berperan dalam kelangsungan hidup udang. Udang sering mengalami gangguan karena faktor lingkungan yang kurang baik seperti kekurangan oksigen, suhu yang terlalu tinggi dan adanya penimbunan gas H2S, NH3 yang menyebabkan pertumbuhan terhambat meskipun makanan cukup.

Suhu berpengaruh terhadap proses fisik, kimia, biologi badan air dan juga kehidupan biota yang ada didalamnya. Peningkatan suhu mengakibatkan peningkatan reaksi kimia, viskositas dan evaporasi. Selain itu, peningkatan suhu juga mengakibatkan penurunan kelarutan gas dalam air. Dekomposisi bahan organik dalam perairan oleh mikroba juga menunjukkan peningkatan dengan meningkatnya suhu. Peningkatan suhu perairan sebesar 10oC menyebabkan terjadinya peningkatan konsumsi oksigen oleh organisme akuatik ± 2-3 kali lipat (Boyd 1982). Larva udang dapat tumbuh dengan baik pada kisaran suhu optimum 24 - 31 oC. Pada suhu di bawah 24 – 26oC larva udang tidak dapat tumbuh dengan baik dan waktu metamorfosis lebih panjang. Perubahan suhu secara drastis akan menyebabkan kematian pada larva udang, akan tetapi perubahan secara bertahap tidak banyak berpengaruh terhadap kehidupan larva udang. Suhu tinggi cenderung menyebabkan kadar oksigen terlarut menurun. Suhu dan kalsium merupakan variabel untuk mengontrol pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang (Holdich 2002).

Nilai pH mencirikan keseimbangan antara asam dan basa dalam air dan merupakan pengukuran aktifitas ion hidrogen dalam larutan. Derajat keasaman merupakan salah satu sifat kimia yang secara langsung berpengaruh terhadap laju pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang. Kisaran pH optimal 7 - 8 berperan dalam aktifitas enzim ATP-ase pada juvenil Litopenaeus vannamei (Pan et al.

2007).

Kandungan oksigen terlarut sangat mempengaruhi metabolisme tubuh ikan. Kadar oksigen yang terlarut bervariasi tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi dan tekanan atmosfer (Boyd 1982). Rendahnya kandungan oksigen

terlarut dalam air dapat menyebabkan organisme akuatik menjadi stres. Organisme akuatik menggunakan energinya untuk bertahan pada kondisi stres sehingga energi untuk pertumbuhan berkurang. Stres meningkat cepat ketika batas daya tahan organisme terlewati. Dampak stres ini mengakibatkan daya tahan tubuh menurun dan sejalan dengan kematian (Zonneveld et al.1991). Kandungan oksigen terlarut dengan kisaran 5,93 – 6,34 mg/L masih dalam rentang yang layak untuk mendukung kehidupan dan mampu menjaga suasana oksidatif pada habitat udang (Zaidy 2007).

Kesadahan adalah konsentrasi ion logam bervalensi dua dalam air yang dinyatakan dalam miligram per liter ekivalen kalsium karbonat. Kesadahan kalsium dengan konsentrasi di atas 50 mg/L baik untuk budidaya udang air tawar (Boyd 1990). Alkalinitas merupakan kemampuan untuk menyangga asam atau kapasitas perairan untuk menerima proton pada perairan alami, berhubungan dengan konsentrasi karbonat(CO32-), bikarbonat(HCO3-) dan hidroksida (OH-)

(Wheaton 1977 diacu dalam Budiardi 1998).

Faktor lain yang menghambat pertumbuhan udang adalah amoniak (NH3)

NH3 merupakan senyawa nitrogen yang pada kondisi tertentu bersifat toksik

terhadap organisme perairan. NH3 yang terdapat dalam air merupakan hasil

penguraian bahan organik yang berasal dari hasil metabolisme udang ataupun dari sisa pakannya. Kadar NH3 merupakan racun bagi organisme perairan karena

dapat merusak jaringan insang sehingga fungsinya sebagai alat pernafasan akan terganggu dan menyebabkan kematian bagi ikan (Cholik et al. 1986). Konsentrasi amoniak sebesar 0,09 mg/L dapat menurunkan pertumbuhan udang galah dan 0,45 mg/L menyebabkan penurunan pertumbuhan udang penaeid (Boyd 1990).

METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat

Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai bulan Mei 2011 di Laboratorium Lingkungan Akuakultur Departemen Budidaya Perairan,

Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Institut Pertanian Bogor. Bahan dan Alat

Wadah Percobaan

Wadah percobaan yang digunakan adalah akuarium kaca berukuran 50 cm x 30 cm x 30 cm yang diisi air sebanyak 30 liter. Masing-masing wadah

ditutup dengan plastik hitam yang bertujuan untuk mengkondisikan sesuai dengan sifat udang yang nocturnal sehingga merangsang udang dapat makan pada waktu siang. Selain itu dilengkapi shelter yang terbuat dari potongan pipa paralon yang diletakkan di dalam wadah.

Media Percobaan

Sebagai media percobaan adalah penambahan kalsium Ca(OH)2 dengan

konsentrasi berbeda dan masing-masing dicampur dengan air salinitas 4 ppt. Konsentrasi salinitas 4 ppt yang digunakan mengacu pada Hamzah (2002). Untuk mendapatkan salinitas media 4 ppt dilakukan pengenceran air laut dengan air

Dokumen terkait