Keadaan Umum Percobaan
Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni – Agustus 2011 di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros. Jumlah tanaman yang tumbuh sehat berkisar antara 83.0 – 97.5%. Data klimatologi selama penelitian disampaikan dalam Lampiran 16. Data tersebut diperoleh dari Badan Meteorologi dan Geofisika Panakukkang Maros. Pada saat penelitian, curah hujan tertinggi hanya mencapai 9 mm/bulan di bulan Juni, sedangkan curah hujan terendah yaitu 0 mm/bulan di bulan Agustus. Suhu harian berkisar antara 26.1 – 27.1oC. Berdasarkan data curah hujan hujan tersebut, bulan Juni – Agustus 2011 dapat digolong sebagai bulan kering. Menurut Kartasapoetra (2006), berdasarkan klasifikasi iklim Oldeman, bulan dengan curah hujan lebih dari 200 mm diklasifikasikan sebagai bulan basah, sedangkan bulan dengan curah hujan kurang dari 100 mm diklasifikasikan sebagai bulan kering.
Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang mengganggu selama pertanaman adalah hama, penyakit, dan gulma. Beberapa hama yang menyerang tanaman jagung manis selama penelitian adalah ulat penggerek batang (Ostrinia furnacalis), ulat penggerek tongkol (Heliothis armigera), dan belalang (Valanga nigricornis). Serangan dari ulat penggerek tongkol pada penelitian ini tidak menurunkan kuantitas hasil panen, tetapi menurunkan kualitas penampilan tongkol jagung. Lampiran 17 menunjukkan gambar tongkol yang terserang ulat penggerek tongkol. Penyakit yang menyerang tanaman penelitian yaitu bercak daun yang disebabkan oleh Bipolaris maydis dengan serangan yang tidak parah (Lampiran 18). Gulma-gulma yang tumbuh mendominasi selama pertanaman adalah Digitaria adscendens, Cyperus rotundus, dan Cleome rutidosperm.
Rekapitulasi sidik ragam pada berbagai peubah yang diamati menunjukkan bahwa perlakuan genotipe berpengaruh nyata terhadap tinggi tongkol utama, umur muncul tassel, umur muncul rambut, dan umur panen. Perlakuan genotipe juga berpengaruh nyata terhadap peubah bobot berkelobot per tongkol, panjang tongkol, jumlah baris pada tongkol, jumlah biji per baris pada tongkol, jumlah tongkol per plot, jumlah tanaman menghasilkan per plot, kadar PTT, indeks panen
tongkol berkelobot, dan indeks panen tongkol tanpa kelobot. Perlakuan genotipe tidak berpengaruh nyata terhadap peubah lainnya (Tabel 2). Hasil analisis ragam masing-masing peubah disajikan dalam Lampiran 19 – 26.
Tabel 2. Rekapitulasi Uji F Pengaruh Perlakuan Genotipe terhadap Karakter Kuantitatif dan Kualitatif pada 12 Hibrida Harapan dan Tiga Varietas Pembanding Jagung Manis
No. Peubah KT Genotipe Pr>F KK (%)
1 Tinggi tanaman 928.67tn 0.3588 14.92
2 Tinggi tongkol utama 323.14** 0.0006 9.00
3 Diameter batang 0.02tn 0.2322 5.87
4 Umur muncul tassel 3.74** 0.0005 1.73
5 Umur muncul rambut 2.85** 0.0018 1.73
6 Umur panen 2.52* 0.0427 1.38
7 Bobot berkelobot per tongkol 2978.00* 0.0148 10.12
8 Bobot tanpa kelobot per tongkol 1540.20* 0.0338 10.95
9 Panjang tongkol 2.52** <.0001 3.20
10 Panjang baris biji pada tongkol 2.85** 0.0032 5.52
11 Diameter pangkal tongkol 0.25tn 0.3242 3.08
12 Diameter tengah tongkol 0.02tn 0.2458 2.92
13 Diameter ujung tongkol 0.14tn 0.0606 8.28
14 Jumlah baris 2.70** <.0001 3.57
15 Jumlah biji per baris 43.65** 0.0002 7.96
16 Bobot tongkol berkelobot per plot 2.34tn 0.4682 10.00
17 Bobot tongkol tanpa kelobot per plot 2.12tn 0.0774 10.25
18 Bobot tajuk atas 1.31tn 0.0831 16.15
19 Jumlah tongkol per plot 38.60** 0.0006 7.27
20 Tanaman menghasilkan per plot 134.60** 0.0041 7.52
21 Kadar PTT 2.31** 0.0027 11.71
22 Indeks panen tongkol berkelobot 0.00** 0.0073 9.08
23 Indeks panen tongkol tanpa kelobot 0.00** 0.0034 10.07
24 Produktivitas 9.65tn 0.077 10.25
Keterangan: * = berpengaruh nyata pada taraf 5% ** = berpengaruh nyata pada taraf 1%
tn = tidak berpengaruh nyata
Tinggi Tanaman, Tinggi Tongkol Utama, dan Diameter Batang
Pengamatan tinggi tanaman, tinggi tongkol utama, dan diameter batang dilakukan pada saat tanaman sudah memasuki fase generatif pada umur 8 MST. Hibrida harapan yang diuji tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman. Tinggi tanaman pada 12 hibrida harapan berkisar 191.08 – 209.88 cm, sedangkan pada varietas pembanding, yaitu 167.05 cm (Super Sweet Corn), 199.93 cm (Sweet Boy), dan 219.35 cm (Talenta).
Tinggi tongkol utama hibrida harapan IM-12 (114.25 cm), IM-13 (108.45 cm), IM-14 (107.30 cm), IM-23 (104.65 cm), IM-34 (104.50cm), IM-35 (103.95 cm), IM-45 (109.78 cm), dan IM-55 (112.25 cm) mempunyai rataan berbeda nyata lebih tinggi dibandingkan dengan varietas pembanding Super Sweet Corn (82.70 cm), tetapi tidak berbeda nyata dengan varietas pembanding Sweet Boy (104.20 cm) dan Talenta (122.33 cm). Hibrida harapan IM-15 (100.20 cm), IM-16 (97.10 cm), IM-24 (101.58 cm), dan IM-25 (97.43 cm) mempunyai rataan berbeda nyata lebih rendah dibandingkan dengan varietas pembanding Talenta, tetapi tidak berbeda nyata dengan dua varietas pembanding lainnya (Tabel 3).
Tabel 3. Nilai Tengah Ukuran Tanaman 12 Hibrida Harapan dan Tiga Varietas Pembanding Jagung Manis
Genotipe Tinggi Tanaman
(cm)
Tinggi Tongkol Utama (cm) Diameter Batang (cm) IM-12 209.88 114.25a 1.87 IM-13 210.15 108.45a 1.92 IM-14 201.75 107.30a 1.82 IM-15 244.48 100.20c 1.92 IM-16 193.50 97.10c 1.87 IM-23 199.48 104.65a 1.80 IM-24 200.15 101.58c 1.76 IM-25 191.08 97.43c 1.84 IM-34 204.33 104.50a 1.81 IM-35 205.05 103.95a 1.79 IM-45 209.15 109.78a 1.89 IM-55 207.70 112.25a 1.93
Super Sweet Corn 167.05 82.70 1.90
Sweet Boy 199.93 104.20 1.93
Talenta 219.35 122.33 1.98
Keterangan : angka yang diikuti dengan huruf a, b, dan c, berturut-turut berbeda nyata dengan varietas pembanding Super Sweet Corn, Sweet Boy, dan Talenta berdasarkan uji Dunnett taraf 5%.
Johnson et. al. (1986) melaporkan bahwa jagung dengan tinggi tanaman yang lebih pendek dapat ditanam dengan kerapatan yang tinggi dan resiko kerebahan yang lebih kecil. Pengurangan tinggi tanaman jagung dan tinggi tongkol jagung berpengaruh nyata terhadap peningkatan hasil dan indeks panen jagung. Peningkatan hasil dan indeks panen berkaitan dengan kemampuan tanaman mengalokasikan sedikit bahan kering ke batang dan lebih banyak bahan kering dalam proses pembungaan dan pengisian biji saat memasuki fase generatif. Peningkatan indeks panen tidak selalu disebabkan karena tinggi tanaman dan
tinggi tongkol yang pendek karena ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi indeks panen.
Hasil analisis ragam menunjukkan perlakuan hibrida harapan tidak berpengaruh terhadap peubah diameter batang. Menurut Aswidinoor dan Koswara (1982), dengan diameter batang yang tidak berbeda, tanaman yang terlalu tinggi serta tongkol utama yang lebih tinggi nampaknya kurang menguntungkan dalam hal ketahanan terhadap kerebahan oleh angin.
Umur Muncul Tassel, Umur Muncul Rambut, dan Umur Panen Perlakuan genotipe berpengaruh nyata terhadap umur muncul tassel, umur muncul rambut, dan umur panen. Umur muncul tassel dan umur muncul rambut dapat menentukan umur panen pada jagung manis. Umur muncul tassel semua hibrida harapan kecuali IM-12, IM-34, dan IM-35 berbeda nyata dengan nilai rataan yang lebih lama terhadap varietas pembanding Super Sweet Corn. Hibrida harapan IM-12, IM-34, dan IM-35 berbeda nyata dengan varietas pembanding Talenta. Semua hibrida harapan tidak berbeda nyata dengan varietas pembanding Sweet Boy (Tabel 4).
Tabel 4. Nilai Tengah Umur Muncul Tassel, Umur Muncul Rambut, dan Umur Panen 12 Hibrida Harapan dan Tiga Varietas Pembanding Jagung Manis
Genotipe Umur Muncul Tassel
(HST)
Umur Muncul Rambut (HST) Umur Panen (HST) IM-12 50.0c 51.0c 70.0c IM-13 50.3a 51.0c 71.0 IM-14 50.3a 51.5 71.0 IM-15 51.3a 51.8a 71.3 IM-16 50.8a 51.5 71.3 IM-23 50.5a 52.0a 71.5 IM-24 51.3a 52.0a 71.8 IM-25 51.3a 52.0a 71.3 IM-34 50.0c 51.0c 70.5 IM-35 50.0c 50.3c 70.3c IM-45 50.5a 51.0c 70.5 IM-55 50.5a 51.3 71.0
Super Sweet Corn 48.3 49.8 70.0
Sweet Boy 50.3 50.8 70.5
Talenta 52.0 53.0 72.5
Keterangan : angka yang diikuti dengan huruf a, b, dan c, berturut-turut berbeda nyata dengan varietas pembanding Super Sweet Corn, Sweet Boy, dan Talenta berdasarkan uji Dunnett taraf 5%.
Umur muncul rambut pada hibrida harapan 15, 23, 24, dan IM-25 berbeda nyata dengan varietas pembanding Super Sweet Corn. Nilai rataan umur muncul rambut hibrida harapan IM-12, IM-13, IM-34, IM-35, dan IM-45 berbeda nyata dengan varietas pembanding Talenta. Umur muncul rambut semua hibrida harapan tidak berbeda nyata dengan varietas pembanding Sweet Boy.
Umur panen semua hibrida harapan, berkisar antara 70 – 72 hari, tidak berbeda nyata dengan dua varietas pembanding, yaitu Super Sweet Corn (70 hari) dan Sweet Boy (70.5 hari). Hibrida harapan IM-12 dan IM-35 berbeda nyata dengan varietas pembanding Talenta (72.5 hari). Menurut Crockett (1978), jagung manis digolongkan menjadi tiga berdasarkan umur panennya, yaitu varietas berumur genjah (65 – 74 hari), varietas berumur sedang (75 – 84 hari), dan varietas berumur dalam (85 – 95 hari). Berdasarkan penggolongan ini, semua genotipe yang diuji termasuk dalam varietas yang berumur genjah.
Bobot Berkelobot per Tongkol dan Bobot tanpa Kelobot per Tongkol
Perlakuan genotipe berpengaruh nyata terhadap bobot berkelobot per tongkol dan bobot tanpa kelobot per tongkol.
Tabel 5. Nilai Tengah Bobot Berkelobot per Tongkol dan Bobot tanpa Kelobot per Tongkol 12 Hibrida Harapan dan Tiga Varietas Pembanding Jagung Manis
Genotipe
Bobot Berkelobot per Tongkol
(g)
Bobot tanpa Kelobot per Tongkol (g) IM-12 348.20 272.55ac IM-13 399.83ac 278.90ac IM-14 323.05 233.10 IM-15 354.45 247.10 IM-16 354.75 259.60 IM-23 389.70ac 268.05 IM-24 351.28 241.83 IM-25 354.58 254.58 IM-34 353.25 251.15 IM-35 354.33 250.68 IM-45 356.75 255.43 IM-55 358.50 259.10
Super Sweet Corn 297.48 213.75
Sweet Boy 327.70 227.55
Talenta 303.08 213.20
Keterangan : angka yang diikuti dengan huruf a, b, dan c, berturut-turut berbeda nyata dengan varietas pembanding Super Sweet Corn, Sweet Boy, dan Talenta berdasarkan uji Dunnett taraf 5%.
Berdasarkan Tabel 5, pada peubah bobot berkelobot per tongkol, semua hibrida harapan tidak berbeda nyata dengan varietas pembanding Sweet Boy. Hibrida harapan IM-13 dan IM-23 berbeda nyata dengan varietas pembanding Super Sweet dan Talenta. Pada peubah bobot tanpa kelobot per tongkol, semua hibrida harapan tidak berbeda nyata dengan varietas pembanding Sweet Boy. Hibrida harapan yang berbeda nyata dengan varietas pembanding Super Sweet Corn dan Talenta adalah IM-12 dan IM-13.
Panjang Tongkol, Panjang Baris Biji pada Tongkol, dan Diameter Tongkol
Perlakuan genotipe berpengaruh nyata terhadap panjang tongkol dan panjang baris biji pada tongkol jagung manis, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap diameter tongkol (pangkal, tengah, dan ujung). Nilai rataan panjang tongkol hibrida harapan yang diuji berkisar antara 20.23 – 21.26 cm. Panjang tongkol hibrida harapan IM-13, IM-15, IM-16, IM-23, IM-24, IM-25, IM-35, dan IM-45 berbeda nyata dengan nilai rataan panjang tongkol tiga varietas pembanding, yaitu Super Sweet Corn (19 cm), Sweet Boy (19.34 cm), dan Talenta (18.95 cm), sedangkan hibrida harapan yang hanya berbeda nyata dengan dua varietas pembanding Super Sweet Corn dan Talenta adalah hibrida harapan IM-12, IM-34, dan IM-55.
Panjang baris biji pada tongkol hibrida harapan yang diuji berkisar 16.76 – 18.24 cm. Nilai rataan panjang baris biji pada tongkol hibrida harapan 13, IM-15, IM-16, IM-23, IM-25, IM-34, dan IM-55 berbeda nyata lebih panjang daripada varietas pembanding Super Sweet Corn (16.07 cm) dan Talenta (16.09 cm). Namun, semua hibrida harapan tidak berbeda nyata dengan varietas pembanding Sweet Boy (17.98 cm). Lampiran 27 menunjukkan adanya korelasi positif antara peubah panjang baris tongkol dengan panjang baris biji pada tongkol. Hal ini berarti semakin panjang ukuran tongkol, maka semakin panjang pula ukuran baris biji pada tongkol.
Ukuran diameter pangkal tongkol pada hibrida harapan yang diuji berkisar antara 4.53 – 4.95 cm dan pada varietas pembanding berkisar antara 4.53 – 4.80 cm. Ukuran diameter tengah tongkol pada hibrida harapan yang diuji berkisar antara 4.66 – 4.85 cm, sedangkan pada varietas pembanding berkisar 4.55 – 4.78
cm. Diameter ujung tongkol pada hibrida harapan yang diuji berkisar 3.23 – 4.00 cm dan pada varietas pembanding berkisar antara 2.97 – 3.28 cm (Tabel 6).
Tabel 6. Nilai Tengah Tongkol 12 Hibrida Harapan dan Tiga Varietas Pembanding Jagung Manis
Genotipe Panjang Tongkol (cm) Panjang Baris Biji pada Tongkol (cm) Diameter Pangkal Tongkol (cm) Diameter Tengah Tongkol (cm) Diameter Ujung Tongkol (cm) IM-12 20.47ac 17.47 4.61 4.66 3.48 IM-13 20.94abc 18.28ac 4.73 4.85 4.00 IM-14 20.23 16.76 4.53 4.67 3.23 IM-15 21.19abc 18.41ac 4.68 4.65 3.54 IM-16 21.26abc 18.26ac 4.71 4.75 3.55 IM-23 21.10abc 18.25ac 4.71 4.82 3.90 IM-24 20.93abc 18.04 4.64 4.68 3.51 IM-25 20.85abc 18.31ac 4.78 4.75 3.55 IM-34 20.63ac 18.13ac 4.64 4.75 3.53 IM-35 20.98abc 17.45 4.95 4.66 3.54 IM-45 20.75abc 17.62 4.74 4.79 3.57 IM-55 21.22ac 18.94ac 4.70 4.70 3.59
Super Sweet Corn 19.00 16.07 4.53 4.55 2.97
Sweet Boy 19.34 17.98 4.64 4.63 3.28
Talenta 18.95 16.09 4.80 4.78 3.03
Keterangan : angka yang diikuti dengan huruf a, b, dan c, berturut-turut berbeda nyata dengan varietas pembanding Super Sweet Corn, Sweet Boy, dan Talenta berdasarkan uji Dunnett taraf 5%
Lopez-Reynoso dan Hallauer (1998) menjelaskan bahwa tongkol yang lebih pendek meningkatkan ukuran diameter tongkol dan jumlah baris pada tongkol secara nyata. Sebaliknya, tongkol yang lebih panjang menurunkan ukuran diameter tongkol dan jumlah baris pada tongkol jagung secara nyata.
Jumlah Baris dan Jumlah Biji per Baris
Jumlah baris dan jumlah biji per baris merupakan salah satu komponen hasil dalam produksi jagung manis. Perlakuan genotipe berpengaruh nyata terhadap jumlah baris dan jumlah biji per baris pada tongkol jagung manis. Jumlah baris pada 15 genotipe jagung manis berkisar antara 15.85 – 16.50 baris. Semua hibrida harapan yang diuji memiliki nilai tengah yang lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan varietas pembanding Super Sweet Corn
(14.35 baris) dan Talenta (13.60 baris), tetapi tidak berbeda nyata dengan varietas pembanding Sweet Boy (15.80 baris). Jumlah biji per baris pada 12 hibrida harapan yang diuji memiliki nilai tengah antara 41.63-44.85 biji/baris dan tidak berbeda nyata dengan varietas pembanding Sweet Boy (42.93 biji/baris). Dari 12 hibrida harapan yang diuji, hanya hibrida harapan IM-14 (38.23 biji/baris) yang tidak berbeda nyata dengan varietas pembanding Super Sweet Corn (33.95 biji/baris) dan Talenta (34.43 biji/baris), sedangkan 11 hibrida harapan lainnya berbeda nyata dengan nilai rataan jumlah biji/baris yang lebih tinggi daripada varietas pembanding Super Sweet Corn dan Talenta (Tabel 7).
Tabel 7. Nilai Tengah Jumlah Baris dan Jumlah Biji per Baris 12 Hibrida Harapan dan Tiga Varietas Pembanding Jagung Manis
Genotipe Jumlah Baris Jumlah Biji per Baris
IM-12 15.80ac 43.45ac IM-13 16.38ac 44.85ac IM-14 16.20ac 38.23 IM-15 16.18ac 41.65ac IM-16 15.85ac 43.35ac IM-23 16.30ac 42.95ac IM-24 16.00ac 41.63ac IM-25 16.05ac 42.10ac IM-34 16.40ac 43.35ac IM-35 16.45ac 43.43ac IM-45 16.50ac 42.50ac IM-55 16.40ac 43.48ac
Super Sweet Corn 14.35 33.95
Sweet Boy 15.80 42.93
Talenta 13.60 34.43
Keterangan : angka yang diikuti dengan huruf a, b, dan c, berturut-turut berbeda nyata dengan varietas pembanding Super Sweet Corn, Sweet Boy, dan Talenta berdasarkan uji Dunnett taraf 5%
Produksi per Plot
Hasil rekapitulasi analisis ragam pada peubah nilai tengah bobot tongkol berkelobot per plot, bobot tongkol tanpa kelobot per plot, dan bobot tajuk atas menunjukkan bahwa perlakuan genotipe tidak berpengaruh nyata terhadap tiga peubah tersebut. Perlakuan genotipe berpengaruh nyata terhadap peubah jumlah tongkol per plot dan persentase tanaman menghasilkan per plot.
Bobot tongkol berkelobot per plot pada hibrida harapan harapan yang diuji berkisar antara 14.26 – 16.47 kg/plot, sedangkan pada varietas pembanding bernilai 14.73 kg/plot (Super Sweet Corn), 15.71 kg/plot (Sweet Boy) dan 13.69 kg/plot (Talenta). Nilai rataan bobot tongkol tanpa kelobot per plot bernilai 9.74 – 11.69 kg/plot pada hibrida harapan yang diuji, sedangkan pada varietas pembanding memiliki rataan bobot tongkol tanpa kelobot 9.41 kg/plot (Super Sweet Corn), 10.67 kg/plot (Sweet Boy), dan 9.77 kg/plot (Talenta). Bobot tajuk atas yang diamati pada seluruh genotipe yang diuji berkisar antara 4.81 – 7.00 kg (Tabel 8).
Jumlah tongkol per plot yang dihasilkan oleh 12 hibrida harapan yang diuji berkisar antara 37.0 – 48.5 tongkol/plot. Hibrida harapan IM-13 berbeda nyata dengan nilai tengah (37.0 tongkol/plot) yang memiliki nilai rataan lebih rendah bila dibandingkan dibandingkan dengan dua varietas pembanding, yaitu Sweet Boy (49.3 tongkol/plot) dan Talenta (48.8 tongkol/plot). Pada tanaman menghasilkan per plot, hanya hibrida harapan IM-13 yang berbeda nyata dengan tiga varietas pembanding. Nilai rataan jumlah tanaman menghasilkan dari IM-13 (76%) juga lebih rendah bila dibandingkan dengan Super Sweet Corn (96.5%), Sweet Boy (95%), dan Talenta (99.5%).
Jumlah tongkol yang dipanen dapat berbeda-beda di masing-masing plot. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya tanaman steril (tanaman tidak menghasilkan/tanaman barren) dan sifat prolific (menghasilkan >1 tongkol/tanaman) pada tanaman (Purnomo, 1988).
Tabel 8. Nilai Tengah Komponen Produksi per Plot 12 Hibrida Harapan dan Tiga Varietas Pembanding Jagung Manis Genotipe
Bobot Tongkol Berkelobot per Plot
(kg)
Bobot Tongkol tanpa Kelobot per Plot
(kg)
Bobot Tajuk Atas (kg)
Jumlah Tongkol per Plot
Tanaman Menghasilkan per Plot
(%) IM-12 16.13 11.34 5.50 46.0 96.0 IM-13 14.08 9.74 5.50 37.0bc 76.0abc IM-14 15.53 11.22 4.90 48.5 97.0 IM-15 15.33 10.99 6.04 45.0 89.5 IM-16 16.47 11.61 5.01 46.5 92.5 IM-23 15.56 10.76 5.15 44.0 89.5 IM-24 15.41 11.69 5.31 45.0 93.0 IM-25 15.23 10.73 4.81 42.5 87.0 IM-34 14.26 9.97 4.85 43.0 88.5 IM-35 15.72 10.21 5.11 46.0 90.0 IM-45 15.69 11.48 5.18 44.0 89.5 IM-55 15.46 10.56 5.42 42.5 85.5
Super Sweet Corn 14.73 9.41 4.92 42.8 96.5
Sweet Boy 15.71 10.67 7.00 49.3 95.0
Talenta 13.69 9.77 5.73 48.8 99.5
Keterangan : angka yang diikuti dengan huruf a, b, dan c, berturut-turut berbeda nyata dengan varietas pembanding Super Sweet Corn, Sweet Boy, dan Talenta berdasarkan uji Dunnett taraf 5%
Indeks Panen dan Produktivitas
Genotipe berpengaruh nyata terhadap peubah indeks panen tongkol berkelobot dan indeks panen tongkol tanpa kelobot, tetapi tidak terdapat pengaruh nyata genotipe terhadap peubah produktivitas. Indeks panen menunjukkan proporsi bobot panen dari bobot tanaman secara keseluruhan (Johnson et. al., 1986). Nilai indeks panen menurun apabila kerapatan populasi tanaman jagung meningkat. Hal ini dikarenakan akumulasi biomassa yang lebih besar pada bagian vegetatif tanaman (Dobermann et. al., 2002). Semakin tinggi nilai indeks panen, maka semakin tinggi kemampuan tanaman untuk mengalokasikan bahan kering ke tongkol jagung.
Indeks panen pada jagung hibrida bernilai ± 0.5 (Dobermann et. al., 2002). Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan indeks panen tongkol berkelobot pada hibrida harapan IM-16 (0.41), IM-35 (0.42), dan IM-45 (0.41) berbeda nyata dengan varietas pembanding Sweet Boy (0.33). Hibrida harapan IM-13 (0.43), IM-23 (0.43), IM-25 (0.42), dan IM-34 (0.43) memiliki nilai tengah indeks panen tongkol berkelobot yang berbeda nyata dengan dua varietas pembanding, yaitu Sweet Boy dan Talenta (0.35). Semua hibrida harapan tidak berbeda nyata dengan varietas pembanding Super Sweet Corn (0.38).
Pada nilai tengah indeks panen tongkol tanpa kelobot, hibrida harapan IM-13 (0.34), IM-14 (0.32), IM-16 (0.34), IM-23 (0.34), IM-24 (0.32), IM-25 (0.35), IM-34 (0.34), IM-35 (0.33), IM-45 (0.33), dan IM-55 (0.33) berbeda nyata dengan varietas pembanding Sweet Boy (0.25), tetapi tidak berbeda nyata dengan dua varietas pembanding lainnya, yaitu Super Sweet Corn (0.31) dan Talenta (0.28).
Produktivitas pada 12 hibrida harapan yang diuji memiliki kisaran nilai tengah antara 20.78 – 24.93 ton tongkol tanpa kelobot/ha. Nilai tengah produktivitas ketiga varietas pembanding, yaitu Super Sweet Corn (20.07 ton tongkol tanpa kelobot/ha), Sweet Boy (22.77 ton tongkol tanpa kelobot/ha), dan Talenta (20.85 ton tongkol tanpa kelobot/ha) (Tabel 9).
Tabel 9. Nilai Tengah Indeks Panen dan Produktivitas 12 Hibrida Harapan dan Tiga Varietas Pembanding Jagung Manis
Genotipe Indeks Panen Tongkol Berkelobot Indeks Panen Tongkol tanpa Kelobot Produktivitas (ton tongkol tanpa kelobot/ha)
IM-12 0.39 0.31 24.18 IM-13 0.43bc 0.34b 20.78 IM-14 0.40 0.32b 23.93 IM-15 0.37 0.29 23.46 IM-16 0.41b 0.34b 24.77 IM-23 0.43bc 0.34b 22.97 IM-24 0.40 0.32b 24.93 IM-25 0.42bc 0.35b 22.88 IM-34 0.43bc 0.34b 21.27 IM-35 0.42b 0.33b 21.77 IM-45 0.41b 0.33b 24.49 IM-55 0.40 0.33b 22.53
Super Sweet Corn 0.38 0.31 20.07
Sweet Boy 0.33 0.25 22.77
Talenta 0.35 0.28 20.85
Keterangan : angka yang diikuti dengan huruf a, b, dan c, berturut-turut berbeda nyata dengan varietas pembanding Super Sweet Corn, Sweet Boy, dan Talenta berdasarkan uji Dunnett taraf 5%.
Tanaman Terserang Bulai per Plot
Berdasarkan hasil pengamatan serangan bulai tanaman jagung manis pada stadia vegetatif, tidak ditemukan adanya serangan bulai pada keseluruhan tanaman jagung manis yang dievaluasi. Hal ini dapat dipengaruhi dari kondisi lingkungan yang tidak mendukung perkembangan bulai. Selain itu, adanya tindakan pencegahan selama pertanaman, yaitu dilakukannya perendaman benih dan penyemprotan tanaman dengan fungisida berbahan aktif Metalaxyl 35%.
Wakwan dalam Burhanuddin (2011) melaporkan penyebab penyakit bulai pada tanaman jagung dilaporkan ada 10 spesies cendawan yang tergolong dari tiga genera, yaitu genus Peronosclerospora, genus Scleropthora¸dan genus
Scleropohora. Hingga tahun 2006, dari genus Peronoslcerospora terdapat tiga spesies penyebab penyakit bulai pada tanaman jagung berdasarkan bentuk konidianya yang tersebar di Indonesia, yaitu Peronoslcerospora maydis,
Peronoslcerospora philippinensis, dan Peronoslcerospora sorghi. Di Kabupaten Maros, spesies yang ditemukan yaitu Peronoslcerosporaphilippinensis.
Metalaxyl yang dikenal dengan rumus kimia sebagai methyl N-2-methoxyacetyl)-N-(2,6-xylyl)–DL–alaninate adalah fungisida sistemik untuk
mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh Oomycetes. Fungisida ini tersedia dalam berbagai merek dan formulasi yang diaplikasikan baik untuk perlakuan benih (seed treatment) maupun disemprotkan ke tanaman. Metalaxyl mampu bertahan dalam tanaman jagung selama 29 hari setelah perlakuan benih (Reddy et al., 1990)
Kadar Padatan Terlarut Total
Salah satu kriteria penentu kualitas jagung manis adalah kadar padatan terlarut total. Hasil rekapitulasi analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan genotipe berpengaruh nyata terhadap kadar PTT. Pada Tabel 10 terlihat bahwa nilai tengah kadar PTT hibrida harapan IM-13 (8.25 oBriks), IM-14 (7.25 oBriks), IM-15 (7.75 oBriks), IM-16 (8.13 oBriks), IM-24 (8.50 oBriks), IM-25 (7.50
o
Briks), IM-34 (7.38 oBriks), IM-35 (7.25 oBriks), dan IM-55 (7.25 oBriks) berbeda nyata dengan varietas pembanding Sweet Boy (5.38 oBriks). Namun, kadar PTT semua hibrida harapan tidak berbeda nyata dengan varietas pembanding Super Sweet Corn (8.25 oBriks) dan Talenta (7.75 oBriks).
Tabel 10. Nilai Tengah Kadar Padatan Terlarut Total 12 Hibrida Harapan dan Tiga Varietas Pembanding Jagung Manis
Genotipe Kadar PTT (oBriks) IM-12 7.00 IM-13 8.25b IM-14 7.25b IM-15 7.75b IM-16 8.13b IM-23 6.88 IM-24 8.50b IM-25 7.50b IM-34 7.38b IM-35 7.25b IM-45 7.13 IM-55 7.25b
Super Sweet Corn 8.25
Sweet Boy 5.38
Talenta 7.75
Keterangan : angka yang diikuti dengan huruf a, b, dan c, berturut-turut berbeda nyata dengan varietas pembanding Super Sweet Corn, Sweet Boy, dan Talenta berdasarkan uji Dunnett taraf 5%
Kadar PTT pada 15 genotipe yang diamati memiliki kisaran nilai antara 5.38 – 8.50 oBriks. Nilai rataan kadar PTT ini tergolong cukup rendah bila dibandingkan dengan potensi kadar PTT varietas pembanding Sweet Boy yang pada deskripsi varietas bernilai 12.1 oBriks (Kemtan, 2005). Rendahnya kadar PTT pada evaluasi yang dilakukan, diduga disebabkan oleh beberapa hal.
Dosis pemupukan kalium yang digunakan dalam percobaan yaitu 45 K2O kg/ha. Dosis ini tidak mencapai setengah dosis pupuk rekomendasi pada budidaya jagung manis. Suminarti (1999) melaporkan bahwa pemupukan jagung manis dengan dosis pupuk kalium sebesar 94.5 K2O kg/ha, 189 K2O kg/ha, dan 283.5 K2O kg/ha berturut-turut menghasilkan kadar gula reduksi sebesar 15.00 oBriks, 15.39 oBriks, dan 15.11 oBriks. Kalium terlibat langsung dalam sistem energi tanaman pada dua sisi penting produksi dan penggunaan energi yaitu dalam proses fotosintesis dan transpirasi. Fotosintesis akan berlangsung lambat jika tanaman kahat unsur K dengan cara mempengaruhi keseimbangan muatan elektrik yang diperlukan untuk pembentukan ATP dalam kloroplas. Fotosintesis yang berlangsung lambat menyebabkan terhambatnya transportasi hasil fotosintesis dari daun ke tempat-tempat yang membutuhkan baik digunakan untuk pertumbuhan maupun disimpan dalam organ penyimpan seperti tongkol.
Kadar PTT 15 genotipe diukur pada saat hari panen, yaitu 18 – 23 hari setelah hari berbunga. Menurut Kaukis dan Davis (1986), kadar gula tertinggi terdapat pada jagung manis yang dipanen saat berumur 16 hari setelah berbunga. Penundaan panen dapat menyebabkan turunnya kadar gula.
Kadar PTT jagung manis juga diduga menurun setelah panen karena hasil panen hanya diletakkan pada kondisi suhu ruang. Pengukuran kadar PTT dilakukan ± 7 jam setelah panen pada hari yang sama. Thompson dan Kelly (1957) menyatakan bahwa penurunan kadar gula pada jagung manis mencapai 25% (dari kadar gula awal) pada suhu penyimpanan 20oC dan 50% (dari kadar gula awal) pada suhu penyimpanan 30oC dalam kurun waktu 24 jam.
Korelasi antar Karakter Tanaman
Korelasi atau hubungan antar karakter tanaman dalam perakitan hibrida unggul perlu diketahui. Hal ini akan mempermudah untuk mengetahui pengaruh suatu karakter terhadap karakter lainnya apabila dilakukan seleksi pada suatu karakter tertentu pada jagung manis. Produktivitas, kadar PTT, dan hari panen merupakan beberapa karakter penting dalam seleksi jagung manis. Nilai korelasi antar karakter hari panen, produktivitas, dan kadar PTT dengan karakter lainnya terdapat pada Tabel 11. Rekapitulasi koefisien korelasi antar seluruh karakter