• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

C. Analisis Perusahaan

2.1.3. Analisis Rasio Keuangan

Laporan keuangan merupakan sarana yang penting bagi investor untuk mengetahui perkembangan perusahaan secara periodik. Rasio-rasio keuangan mengenai likuiditas, aktivitas, solvabilitas dan rentabilitas merupakan bidang yang harus dianalisis untuk mengetahui kemampuan manajemen dalam mengendalikan perusahaan. Rasio Profitabilitas dan trend kemajuan perusahaan juga akan dianalisis untuk mengetahui hasil kerja final manajemen atau yang disebut kinerja perusahaan (Samsul, 2007).

Menurut Wild (2005) berbagai rasio dapat dihitung dengan menggunakan laporan keuangan perusahaan. Beberapa rasio memiliki aplikasi umum dalam analisis keuangan, sementara yang lainnya bersifat unik untuk situasi atau industri yang spesifik.

Analisis rasio yang bersifat umum dapat diterapkan pada 3 (tiga) area penting analisis laporan keuangan meliputi:

1. Analisis Kredit (Risiko)

a. Likuiditas. Untuk mengevaluasi kemampuan memenuhi kewajiban jangka pendek.

b. Struktur modal dan solvabilitas. Untuk menilai kemampuan memenuhi kewajiban jangka panjang.

2. Analisis Profitabilitas

a. Tingkat Pengembalian atas investasi (Return on Invesment). Untuk menilai kompensasi keuangan kepada penyedia pendanaan ekuitas dan utang.

b. Kinerja operasi. Untuk mengevaluasi laba dari aktivitas operasi.

c. Pemanfaatan aktiva (asset utilization). Untuk menilai efektivitas dan intensitas aktiva dalam menghasilkan penjualan, disebut pula perputaran (turn over).

3. Penilaian

Untuk mengestimasi nilai intrinsik perusahaan (saham).

Aspek fundamental merupakan faktor-faktor yang teridentifikasi dapat mempengaruhi harga saham, dan untuk melihat kinerja perusahaan tersebut dapat dilakukan melalui analisa rasio. Dari sudut pandang investor, indikator penting untuk menilai prospek perusahaan di masa yang akan datang adalah dengan melihat sejauh mana profitabilitas perusahaan. Indikator ini sangat penting diperhatikan untuk mengetahui sejauhmana investasi yang ditanamkan mampu memberikan return yang sesuai dengan tingkat yang disyaratkan investor. Untuk perusahaan perbankan, dapat dilihat dari beberapa indikator sebagai berikut:

1. Capital Adequacy Ratio (CAR)

Capital Adequacy Ratio adalah rasio modal terhadap aktiva tertimbang menurut

resiko. Rasio ini memperlihatkan seberapa jauh seluruh aktiva yang mengandung resiko ikut dibiayai dari dana modal sendiri bank di samping memperoleh dana dari sumber-sumber di luar bank seperti dana masyarakat, pinjaman dan lain sebagainya. Dengan kata lain, CAR adalah rasio untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung resiko. CAR dapat diformulasikan sebagai berikut (Bank Indonesia, 2004):

Resiko Menurut Tertimbang Aktiva Modal CAR

CAR merupakan indikator kemampuan bank untuk menutupi penurunan aktivanya sebagai akibat dari kerugian yang disebabkan oleh aktiva yang beresiko. Bank Indonesia secara khusus menetapkan bahwa bank harus memiliki rasio CAR minimum sebesar 8% dari aktiva tertimbang menurut resiko. Peraturan Bank Indonesia mengenai tata cara penilaian tingkat kesehatan bank memasukkan rasio CAR sebagai salah satu indikator utamanya.

Jika dihubungkan dengan harga saham, kecenderungan yang terjadi adalah investor cenderung menyukai apabila suatu bank mempunyai CAR yang tinggi.

2. Non Performing Loan (NPL)

Non Performing Loan, sering juga disebut rasio resiko kredit, menunjkkan

pergeseran atau penarikan kredit outstandingnya untuk memenuhi permintaan akan kredit lain. Pinjaman umumnya dipertimbangkan sebagai non performing loan bila pokok atau bunga pinjaman yang telah jatuh tempo dan belum dibayar selama 90 hari atau lebih (periode ini dapat berbeda sesuai peraturan yang berlaku). Bank Indonesia menetapkan batas NPL sebesar 5% sebagai salah satu indikator untuk melihat tingkat kesehatan perusahaan perbankan.

Tingkat kolektibilitas kredit dapat dikategorikan menjadi lima yaitu kredit lancar (pass), dalam perhatian khusus (watch), kurang lancar (substandard), diragukan (doubtful) dan macet (loss). Yang termasuk sebagai non performing loan adalah tiga kategori terakhir. NPL dapat diformulasikan sebagai berikut:

Kredit Total Macet Diragukan Lancar Kurang Kredit NPL   

Jika dihubungkan dengan harga saham, maka investor cenderung menyukai apabila NPL rendah, semakin rendah NPL semakin baiklah kualitas aset yang dimiliki. 3. Return on Asset (ROA)

Return on Asset juga sering disebut sebagai rentabilitas ekonomis merupakan ukuran

kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan semua aktiva yang dimiliki perusahaan. Dalam hal ini laba yang dihasilkan adalah laba sebelum pajak.

Aktiva Total Pajak Sebelum Laba ROA

Jika dikaitkan dengan harga saham, kecenderungan yang terjadi adalah semakin tinggi ROA suatu perusahaan semakin tinggi pula harga saham perusahaan tersebut, sebab investor akan cenderung menyukai laba yang tinggi karena akan berefek kepada pembagian deviden yang tinggi.

4. Return on Equity (ROE)

Return on Equity mengukur tingkat profitabilitas dari sisi modal investor, dengan

menghubungkan keuntungan perusahaan terhadap modalnya. Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

Modal Pajak Setelah Laba

ROE

Rasio ROE banyak digunakan oleh investor maupun calon investor pasar modal yang ingin melakukan investasi pada suatu perusahaan. Karena ROE dilihat dari cara pandang pemegang saham biasa, maka ROE biasanya dibandingkan dengan

cost of equity. Perusahaan yang memiliki prospek yang baik akan memiliki ROE

lebih tinggi dibandingkan dengan cost of equity nya.

Semakin tinggi ROE menggambarkan semakin tinggi kemampuan modal sendiri menghasilkan laba untuk pemegang saham. Jika dihubungkan dengan harga saham kecenderungan yang terjadi adalah jika ROE meningkat maka harga saham meningkat, karena investor menganggap bahwa perusahaan mempunyai prospek yang baik dalam menciptakan laba.

5. Net Interest Margin (NIM)

Net Interest Margin adalah rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur

kemampuan manajemen bank dalam mengelola aktiva produktifnya untuk menghasilkan pendapatan bunga bersih. Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

Produktif Aktiva Bersih Bunga Pendapatan NIM

Rasio ini dapat berguna untuk mengevaluasi kemampuan bank dalam mengatur resiko tingkat suku bunga. Perubahan tingkat suku bunga akan mengakibatkan perubahan pendapatan bunga dan beban bunga. NIM dalam perkembangannya mengindikasikan apakah posisi asset dan liabilities bank dapat mengambil keuntungan atas perubahan suku bunga.

Calon investor memandang bahwa bank yang mempunyai NIM yang tinggi menunjukkan kemampuan bank untuk menghasilkan pendapatan bunga yang tinggi pula.

6. Biaya Operasional Dibandingkan Pendapatan Operasional (BOPO)

Biaya Operasional Dibandingkan Pendapatan Operasional adalah rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan operasional. Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut: l Operasiona Pendapatan l Operasiona Beban BOPO

Investor yang cenderung menyukai rasio BOPO yang kecil, karena semakin kecil angka rasio BOPO, semakin baik kondisi bank tersebut.

7. Loan to Deposit Ratio (LDR)

Loan to Deposit Ratio merupakan perbandingan antara seluruh jumlah kredit atau

pembiayaan yang diberikan bank dengan dana yang diterima bank. Nilai LDR dapat dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:

Ketiga Pihak

Dana

Kredit LDR 

Rasio ini menggambarkan kemampuan bank membayar kembali penarikan yang dilakukan nasabah deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Semakin tinggi rasio ini semakin baik kemampuan likuiditas suatu bank. Rasio ini sangat penting mengingat karena juga mengambarkan intensitas fungsi intermediary bank dalam menyalurkan kredit kepada masyarakat.

Calon investor cenderung menyukai perusahaan yang memiliki LDR yang tinggi, karena di samping menunjukkan bank tersebut dalam memberikan kredit kepada debitur dengan dana deposan yang ada, juga menunjukkan kemampuan bank untuk membayar kewajibannya. Jika dihubungkan dengan harga saham, kecenderungan yang terjadi adalah semakin tinggi LDR suatu bank maka semakin tinggi pula harga saham bank tersebut.

Dokumen terkait